GARDA: Evanescent

Por Potawwto

15.4K 1K 73

❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya sem... Más

1. Mizor
2. Dia
3. Brengsek
5. LDR
6. Sengit
7. Korban
8. Nasi Kuning
9. Egois
10. Jumpa Lagi
11. Sakit
12. Mustahil
13. Goyang
14. Derita Tak Berujung
15. Nasi Goreng
16. Kawan Lama
17. Gemas
18. Homo
19. Bukan Lagi
20. Tak Harus Memiliki
21. Iri Bilang Bos
22. Ragu
23. Agustus
24. Kelinci Percobaan
25. Membentang Jarak
26. Prioritas
27. Kembali Asing
28. Liburan
29. Labirin
30. Sebuah Akhir

4. Muka Dua

701 52 9
Por Potawwto

Hope you like it
and
Happy reading~

----oOo----

Dua manusia itu kini saling tatap. Yang satu dengan tatapan sinis, yang satunya lagi dengan tatapan tengil dan senyuman mengejek. Sudah sekitar 2 menit mereka berada di posisi ini. Orang lain yang melihat hanya lewat, tidak peduli. Mungkin jika sudah menarik, mereka akan menonton, bukan melerai.

"Lo udah buang waktu gue tau nggak, sih?" Aerin benar-benar jengah. Hormon Ghrelin pada tubuhnya mulai bekerja, membuat perutnya itu meronta untuk diisi makanan. Aerin ingin segera pergi ke kantin, meninggalkan laki-laki menyebalkan yang kini berdiri menjulang tinggi di depannya ini.

"Punya waktu juga ternyata," ujar Garda, menyenderkan punggungnya tembok. "gue kira waktu lo cuma buat main ke klub aja," lanjutnya.

"Heh!" Aerin menunjuk wajah Garda dengan jari telunjuknya. Menggertakkan giginya tanda kesal. "jangan asal ngomong, ya! Gue bukan cewek kayak gitu."

Garda menegakkan tubuhnya, kemudian menurunkan tangan gadis di depannya. "Gimana kalo gue liat lo masuk ke dalem klub dengan mata kepala gue sendiri? I have the proof, Aerin," Garda memberi tatapan menantang pada Aerin. "pindah ke sini cuma mau ngelonte. Dasar muka dua!"

"Emang lo tau apa, sih, Gar? Kalo gue bilang nggak main ke sana, ya nggak! Kalo iya pun, lo nggak ada hak buat ngurusin hidup gue, kan?" Aerin berseru kesal. "Jangan ikut campur! Ngerti lo?"

"Kalo gitu gue punya hak itu mulai detik ini," Garda tersenyum meremehkan. "dan lo nggak akan bisa ngerubah hak itu."

"Yakin lo punya bukti kalo gue main ke klub? Kalo ngomong tuh disaring dulu! Asal ceplos kayak cabe-cabean aja," Aerin memutuskan kontak mata dengan Garda, melipat kedua tangannya di depan dada.

Garda memiringkan kepalanya, "lo sebut apa gue tadi?" tanya Garda penuh intimidasi.

"Cabe-cabean! Budek, kuping lo? Apa perlu pake terompet sangkakala biar satu dunia denger?" Aerin kembali menunjuk wajah Garda dengan tatapan kesalnya. Beradu argumen dengan laki-laki seperti Garda sangat membuang waktu, tenaga, dan hampir membuat bibir jontor.

Murid lain yang sebelumnya tampak acuh, kini sepertinya mulai tertarik dengan perdebatan antara putra sang pemilik sekolah dan si siswi baru. Berdiri melingkar menghambat jalan dan tentunya menantikan titik perang.

Garda menepis kasar jari tangan Aerin yang menunjuk wajahnya kemudian berkata, "jangan nunjuk muka gue pake tangan kotor lo itu!"

Aerin mencoba untuk bersabar dan tetap santai. Menarik kedua tangannya ke belakang yang sebenarnya sudah ingin mencabik-cabik wajah menyebalkan Garda. Lantas membalikkan tubuhnya, berjalan pergi dari hadapan Garda.

Cewek sialan!, batin Garda.

Garda menoleh ke arah murid-murid yang melingkar dan memperhatikannya sedari tadi.

"Ngapain lo semua berdiri di sini? Seru nontonnya? Mana pada tegang semua mukanya, kayak orang kebelet boker aja. PERGI!" usir Garda yang membuat murid-murid tadi sontak bubar dan memberi jalan untuk Garda.

Laki-laki tinggi semampai itu berjalan dengan angkuh sembari merapikan dasi sekolahnya yang sedikit berantakan. Berdebat dengan seorang gadis ternyata butuh tenaga juga. Dan kini Garda benar-benar merasa haus. Namun mengurungkan niatnya karena Aerin juga pergi ke sana.

"Sialan," umpatnya lagi.

----oOo----

"Garda oh Garda, kenapa kamu monyong?" tanya Vano dengan nada lagu yang ada di kartun bocah botak kembar.

"Monyong? Kuda kali monyong. Hahaha," gelak Geni.

Namun kali ini Garda tampak tak bereaksi dan bersikap biasa saja seolah-olah tidak mendengar ejekan yang Geni lontarkan. Terkadang kan, Garda akan ice moci jika diejek. Bahkan Geni saja sampai bingung dengan Garda yang tidak merespon sama sekali.

"Mikirin apaan sih, Gar? Tumben-tumbenan lo nggak mukulin Geni. Apa karena Tante Gita?" tanya Elang yang hanya mendapat gelengan dari Garda.

"Kevin?" tebak Geni yang ikut mendapatkan gelengan kepala dari Garda.

"Wah, gue tau ...," Vano menyunggingkan senyumannya. "lo mikirin gue kan, Gar? Halahhh ngaku aja!"

"Si Garda masih normal kali Van," ujar Gading seraya menoyor kepala Ezi.

"Bisa aja dia udah belok gara-gara jomblo melulu," balas Vano yang mendapat pelototan dari Elang.

"Apa karena papa lo?" kini Gading yang giliran menebak.

"Bukan," jawab Garda singkat.

Mereka semua saling menebak siapa orang yang dipikirkan oleh Garda. Astaga ... untung saja Garda sabar untuk menjawab tebakan teman-temannya walaupun hanya dengan gelengan.

Namun tiba-tiba Gading menyebutkan sebuah nama yang membuat Garda membisu.

"Aerin?"

"HAH!" mereka semua ternganga kecuali Garda dan juga Gading. Terkejut akan seseorang yang dipikirkan oleh Garda ternyata si anak baru, Aerin.

"Gar, Gar ... Nggak gini juga kali caranya. Belom puas lo setelah bikin Vanya keluar dari sekolah? Kasihan, Gar, dia itu cewek," ujar Geni yang mengingatkan Garda tentang cewek bernama Vanya yang keluar dari sekolah karena diusik oleh Garda.

"Iya kasihan, mana cakep lagi," sahut Vano. "sepatutnya cewek kayak Aerin itu disayang, Gar, bukan dikasarin. Ya kan?" mereka mengangguk setuju.

"Gue cuma ngingetin lo doang nih, Gar. Kalo ngomong sama cewek jangan pake urat. Ngeri juga lama-lama deket lo. Cewek-cewek juga pasti takut buat deket sama lo," nasihat Elang yang bergidik ngeri.

"Tapi cewek modelan Aerin tuh cukup menantang, bro ...," Vano menengadahkan kepalanya sembari bertumpu tangan di atas meja warkop yang ada di luar sekolah. "apalagi body -nya, beuh ... Patut diacungi jempol," ucapnya seraya mengacungkan jempol kedua tangannya.

"Lambemu!" Geni mendelik tidak suka, tapi diam-diam ikut menyetujui.

Sedangkan Vano hanya cengar-cengir tidak jelas sembari memohon ampun. Geni kalau sedang kesal tampak mengerikan juga ternyata, haha...

"Adelyn kalo digituin sama Garda, udah nangis-nangis pasti," ucap Vano yang mengingat bahwa Adely, pacar Gading yang sangat cengeng itu.

"Dibilangin ada cabe nyangkut di gigi aja dia nangis apalagi dibentak Van hahaha ...," mereka semua tertawa mendengar penuturan Elang yang memang benar adanya, termasuk Garda yang juga ikut tertawa.

----oOo----

Malam itu, suasana MB benar-benar ramai karena Elang memanggil anggota Mizor dari sekolah lain untuk datang berkumpul. Sudah 3 bulan lamanya mereka tidak berkumpul seperti ini sejak peristiwa tawuran besar-besaran antar geng motor di Blitar.

"Gue denger lo dapet sasaran baru Bang. Emang iya?" tanya Wildan, anggota Mizor dari SMAKAR 7, menepuk bahu Garda dan duduk di karpet bersama laki-laki itu.

Mereka berdua berjabat tangan seperti halnya teman yang sudah lama tidak bertemu.

"Apa kabar lo?" Garda balik bertanya. "Masih sering bolos?"

"Ya ... gitu dah. Gimana? Emang bener lo dapet sasaran baru? Cakep nggak anaknya?"

"Cakep, banget malah," bukan Garda. Itu Vano yang datang dan tiba-tiba nyeletuk. Tangan kirinya memegang toples berisi kacang atom. Sedangkan giginya bergemelatuk susah payah mengunyah. Lalu ikut duduk di karpet bersama keduanya.

"Yang bener?" Wildan menatap Vano dengan pandangan tidak percaya.

"Yeuh dibilangin nggak percayaan lo," Vano melempari Wildan dengan kacang atomnya. "selebgram, Dan, ya cakep lah."

"Hah?"

"Hah heh hoh mulu lo. Aerin Tranaraya, tau nggak lo? Selebgram Jogja ..."

Wildan menjentikkan jarinya, "inimah cakepnya nggak ada lawan, Bang. Kalo gini caranya, gue pindah aja ke SMAKAR 2."

"Lo pindah ke sana pun, dia nggak bakal nanggepin lo, kali ...," ledek Vano.

"Sembarangan," jengkel Wildan. "Eh, tapi rumornya dia udah punya pacar."

Garda yang sebelumnya acuh dengan arah pembicaraan mereka dan fokus dengan hpnya, kini mendongak merasa penasaran. "Siapa?" pertanyaan itu refleks keluar dari mulutnya.

"Al ... Alif, eh bukan. Oh iya, Alan Adi Sadewa. Ketua basket SMA Perwira Bangsa 3 Yogyakarta yang jadi pemenang tingkat nasional tahun lalu, kalo kalian nonton pasti tau," jelas Wildan. "Tapi itu masih rumor, belom ada bukti kebenarannya."

"Bukan main," Vano berdecak kagum.

"GARDA! WOY! YUHUUUU," Geni berteriak dari arah depan. Kepalanya melongok ke sana kemari mencari keberadaan Garda. Kemudian tersenyum lebar saat matanya berhasil menangkap sosok Garda. "DISURUH ELANG BONDOL BELI CEMILAN. NGGAK PAKE LAMA KATANYA!"

"KENAPA NGGAK LO AJA SIH, BAHLUL?!" sahut Garda balas berteriak.

"LO YANG DISURUH, CONGEK!"

Garda berdecak kesal, namun akhirnya bangkit juga. Minimarketnya memang tidak jauh dari sini, mungkin 100 meter dari MB, jadi tidak masalah jika dirinya berjalan kaki.

Di dekat MB kebetulan ada klub yang lumayan besar dan ternama, di depan minimarket lebih tepatnya. Sehingga mereka yang sedang berada di MB seringkali bertemu dengan orang-orang teler yang keluar dari klub.

Tak jarang pula saat mereka khilaf, mereka akan masuk ke dalam tempat jahanam itu. Garda pernah masuk ke sana, tapi hanya dua kali. Dia tidak terlalu suka keramaian. Apalagi mabuk-mabukan, dia saja tidak kuat minum alkohol.

Mungkin yang sering masuk ke sana adalah Elang dan Vano. Kalau Gading ... Duh, jangan ditanya. Laki-laki itu walaupun tubuhnya kekar dan penuh otot, dia tidak pernah masuk ke sana. Kedua orang tuanya dokter, tentu saja aturan kesehatan sangat ketat di dalam keluarganya.

Saat Garda hendak membuka pintu minimarket, matanya tidak sengaja menangkap tubuh gadis yang dikenalinya berlari terbirit-birit setelah turun dari motor ojol dengan hanya mengenakan pakaian tidur. Karena rasa penasarannya, Garda mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam minimarket dan memerhatikan gadis itu dari balik pohon cemara.

Garda menyeringai, mengambil hpnya dari saku celana dan mulai mengabadikan hal tak terduga itu lewat kamera hpnya.

"Mampus lo."

----oOo----

Wisanggeni Cipto

Bersambung ...

Blitar,
17 Januari 2021.

Seguir leyendo

También te gustarán

373K 22.6K 67
-Mengenalmu adalah suatu kebersamaan yang sempurna- Rafael Luccero. Cowo berparas tampan yang menjadi salah satu orang yang disegani di SMA Nusantara...
170K 13.7K 61
[S Q U E L - A R S E N A] Selamat membaca cerita Samudra Dharma Gausty dan Beby Rezsya Shalise❤❤ ***** Beby, gadis dengan segala tingkah menyebalkann...
337K 15.7K 62
15-05-2019 #68 in teenfiction 15-05-2019 #79 in fiksiremaja 18-8-2021 #26 in fiksiremaja Benci dan cinta itu beda tipis jadi hati hati kalo benci sam...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas