Alroy mengarahkan kekuatannya kearah Yan dan Arthur. Ia kini sedang melatih Yan dan Arthur sedangkan Tian, ia menemani Mia pergi mencari tanaman obat yang langka dekat tebing.
Alroy memiliki firasat jika akan ada masalah besar yang melibatkan mereka semua.
"Jangan lengah," ucap Alroy dengan serius, ia terus mengarahkan kekuatannya kearah Yan dan Arthur secara bersamaan.
"Ini dinamakan pembunuhan berencana," ucap Arthur dengan heboh ia terus mengelak dari serangan Alroy.
Yan berubah menjadi elang, ia pun mengibaskan sayapnya dengan kuat membuat angin ribut yang kuat yang langsung menyerang kearah Alroy.
Alroy yang melihat itu, ia pun langsung melompat kearah dahan pohon yang tinggi di dekatnya.
"Lumayan," gumam Alroy sambil memegang dahan pohon sambil bersimpuh dengan satu kakinya.
Ia menatap Yan dan Arthur dari jauh sambil mengumpulkan kekuatannya di tangan. "Sekali lagi," ucap Alroy sambil menyerang dengan kekuatannya yang dahsyat.
Arthur berubah menjadi naga langsung mengeluarkan api yang panas dari mulutnya.
Bomm'
Krakk-
Krakk-
Alroy tersenyum tipis sambil menghindar dengan santai sambil mengeluarkan pedang yang tersimpan di tangannya. Tanah yang di pijakinya pun sudah retak karena kekuatan Arthur.
"Sekali lagi," Alroy memejamkan matanya sesaat kemudian membukanya saat membuka mata, bola matanya berubah menjadi merah seperti darah, begitu pekat.
"Ini gila," gumam Arthur. Ia kembali ke wujud manusia nya. Lalu menatap Yan yang masih berubah menjadi elang terlihat sudah begitu lelah karena hampir seharian mereka mengeluarkan kekuatannya dalam wujud hewan.
"Aku tidak yakin kita akan istirahat dengan tenang," ucap Yan dengan pelan melihat Alroy yang siap untuk menyerang mereka berdua lagi.
"Cepatlah kembali," gumam Arthur, ia berharap tuannya kembali lebih cepat atau mereka berdua akan mati dengan mengenaskan karena kelelahan.
"Lagi!" teriak Alroy sambil berlari kencang kearah mereka berdua sambil mengibaskan pedangnya di udara.
Trang'
Arthur menahan pedang Alroy dengan tongkat besi miliknya.
"Oh God!" umpat Arthur dalam hati.
∆∆∆
Mia nampak berjalan dengan riang saat berada di hutan tersebut. Tian menggelengkan kepalanya melihat tingkah tuannya yang seperti anak kecil di matanya.
"Apa ini?" tanya Mia yang sibuk menatap kearah bunga bewarna ungu dengan benang sari bewarna merah darah dan daunnya yang panjang dengan warna hijau terang.
"Itu tanaman dewa, Lyli spider," ucap Tian. "Tanaman tercantik, namun mematikan," sambungnya.
"Jangan sentuh!" Tian menahan Mia saat tangan perempuan itu ingin menyentuh tanaman mematikan tersebut.
"Kenapa?" tanya Mia bingung.
"Tanganmu bisa melepuh," ucap Tian. Ia membuat sebuah gelembung dari tangannya lalu gelembung tersebut terbang menuju tanaman Lily Spider dan membuat tanaman tersebut terangkat hingga akar-akar nya.
Mia menatap takjub. "Lalu apa kegunaannya?" tanyanya.
Tian memasukan tanaman tersebut ke dalam keranjang ayaman. "Membuat tunduk siluman," ucapnya. "Tanaman ini biasa digunakan untuk membuat pasukan siluman. Karena wangi bunga ini benar-benar memabukkan," sambungnya.
"Termasuk kau?" tanya Mia.
Tian menggeleng. "Aku adalah hewan roh. Bukan seorang siluman seperti orang orang yang berada di pulau seberang," ucap nya sambil mengumpulkan rumput-rumput obat di sekitarnya.
Tian menatap Mia yang sibuk bermain dengan hewan-hewan kecil di sekitarnya. "Tuanku. Jika kau dalam bahaya saat berada di kota siluman. Gunakan Lily Spider untuk jaga-jaga," ucapnya.
"Karena siluman tidak ada yang baik," ucap Tian dengan serius
∆∆∆
Mia sampai di tempatnya kembali, ia menatap terkejut saat melihat halaman seperti terkena ombak kencang. Hancur, porak-poranda bahkan tanah di sekitar nya retak.
"Astaga! Apa terjadi gempa bumi disini?!" ucap Mia tidak percaya.
Sebuah tangan memeluk pinggang Mia sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terbentuk. "Kau sudah kembali sayang," bisik Alroy yang langsung muncul sambil memeluk Mia dari belakang.
Mia mengangguk. "Dimana Yan dan Arthur?" tanyanya heran karena tidak melihat kedua orang itu.
"Ekhem!" suara dehaman membuat Mia menatap keatas. Ia terkejut saat melihat Yan dan Arthur yang tergantung di sisi dahan pohon.
"Astaga! Apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Mia.
"Itu hukuman untuk mereka. Ayo masuk!" ucap Alroy sambil memeluk pinggang Mia.
"Ta-tapi mereka--" Mia menatap khawatir kearah Yan dan Arthur yang masih menggantung.
"Mereka tidak akan mati. Percaya padaku," ucap Alroy sambil membawa Mia masuk ke dalam meninggalkan Tian yang menatap penasaran kearah dua orang tersebut.
"Posisi yang bagus untuk mengambil gambar," ucap Tian.
Yan dan Arthur mendengus dengan posisi menggantung terbalik. Mereka di hukum Alroy karena tidak fokus dengan latihan mereka.
"Jadi, berapa lama kita disini?" tanya Arthur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Yan mengangkat bahunya acuh. Yan terdiam seketika membuat Arthur menoleh.
"Kenapa?" tanya Arthur heran. Tian yang menatap dari bawah pun ikut menatap Yan dengan bingung.
"Aku punya firasat buruk," gumam Yan. Ia pun turun dari dahan yang menggantungnya, begitu pula dengan Arthur.
"Kau mencium sesuatu?" tanya Yan pada Tian.
Pria itu langsung berubah menjadi seekor rubah putih yang begitu besar sambil terus mengendus.
"Bau darah," ucap Tian. Yan dan Arthur ikut merubah wujudnya. Dan pergi kearah bau darah yang begitu menyengat.
Mereka bertiga pun pergi dengan sangat cepat, hanya butuh beberapa detik untuk sampai. Mereka pun berhenti saat sekumpulan serigala perak dengan mulut penuh darah menatap mereka dengan pandangan membunuh.
"Ah, ada yang mengendalikan mereka," ucap Arthur, Yan membalas dengan anggukan kepala.
"Kita selesaikan bersama. Setelah itu kembali," ucap Yan. Tian mendesis dengan wujud rubahnya.
Yan terbang sambil menatap dingin kearah ribuan kelompok serigala perak tersebut. Ia melebarkan sayapnya yang begitu besar.
"Serang dan Habisi. Lalu temukan orang yang mengendalikan mereka semua!" teriak Arthur.
Mereka bertiga pun menyerang sekumpulan serigala liat itu.
"Matilah!"
∆∆∆
TBC
Halo apa kabar hehe..
Rearofy opmem ada yang mau masuk? Langsung DM kasih no nanti aku masukin grub wa