FILL ME - Koo Junhoe & Kim J...

By mostlyjb

25.9K 1.8K 467

Sebuah cerita cinta sederhana. Dimana yang satu berusaha menjadi yang terbaik, dan yang satu berusaha mati-m... More

KOO JUNHOE
KIM JIWON
Chapter 1 - Who is He?
Chapter 2 - Where are You?
Chapter 3 - Turned On
Chapter 4 - Be Mine 🔞
Chapter 5 - Being Selfish
Chapter 6 - A Reason
Chapter 7 - Then What?
Chapter 8 - My Sacrifice 🔞
Chapter 9 - People Change
Chapter 10 - Come and Go
Chapter 12 - Tear Us Apart
Chapter 13 - It's You
Chapter 14 - The Sweetest Thing 🔞
Chapter 15 - New Journey
Special Chapter - Jealousy
Special Chapter 2 - Big Baby
FILL ME - sequel

Chapter 11 - It's Called a Regret

922 85 33
By mostlyjb

Bobby merebahkan dirinya diatas tempat tidur megah di salah satu hotel mewah dalam rangka memenuhi amanatnya dari kantor pusat. Sudah hampir satu minggu ia menempati kamar ini. Ia memejamkan matanya sejenak, merasakan kepalanya yang sedikit berdenyut. Banyak yang harus ia pikirkan. Pembukaan retail baru yang sudah dapat dipastikan akan berlangsung dua hari lagi. Dan juga... June.

Ia sadar sekali belakangan sudah menjadi pacar yang tidak bertanggung jawab. Terlalu besar kepala, seakan June menganggapnya satu-satunya didalam hidupnya- walaupun itu memang benar adanya. Namun ia melupakan bagian hidup June yang sudah terbiasa sendiri. Walaupun di sisi lain ia benar-benar tidak ingin June merasa sendiri lagi. Terlebih dengan kehadirannya sekarang.

Egois. Bahkan ia sendiri sangat ikhlas kalau-kalau June meneriakinya seperti itu. Tapi ia tahu betul bagaimana June. Seberapapun ia menyakiti hati laki-laki manis itu, June tetap akan menerimanya dengan tangan terbuka.

Bobby lalu menggapai ponselnya di atas nakas, menekan chatroomnya bersama dengan June, membaca ulang pesan-pesan mereka yang sebenarnya sangat menyakitkan, terlebih untuk dirinya pribadi. Jelas sekali disitu June selalu menanyakan tentang kabarnya, selalu mengingatkannya untuk jangan lupa makan, jangan banyak-banyak minum kopi, jangan hanya makan fastfood saja mengingat Bobby sangat gemar memakan hamburger dan pizza untuk mengganjal perutnya yang kosong, namun terkadang pesan June tidak terlalu ia hiraukan. Ia lebih memilih untuk membalas sekedarnya.

Namun terkadang ada saat dimana ia ingin bermanja-manja pada kekasihnya itu, dan June akan senantiasa tetap meladeninya walau mungkin ia sedang banyak pekerjaan. Seperti kapan lalu saat ia ada di lantai dua di ruangan kantornya dan June sedang asyik mendisplay barang yang baru datang, ia tiba-tiba merengek minta dibelikan pizza dan June membalasnya dengan sedikit sengit.

Sudut bibirnya terangkat walau hanya sedikit. Ini merupakan senyum pertamanya setelah ia menginjakkan kakinya disini.

Tok! Tok! Tok!

Bobby tersadar dari lamunannya sebentar, lalu beranjak membuka pintu.

Ciara.

Sejak kemarin Bobby sudah dikagetkan dengan kehadiran wanita ini sebagai tenaga perbantuan dari pusat untuk acara dua hari lagi.

"Aku bawa makan malam untuk kita. Kulihat kamu belum makan apapun dari pagi. Hanya americano, cola dan chips." wanita itu lalu masuk ke kamar hotelnya tanpa permisi. Satu hal yang ia sangat sadari adalah, dirinya tidak pernah bisa menolak apapun yang dilakukan Ciara terhadapnya. Dan ini sungguh-sungguh salah.

"Kamu enggak perlu repot-repot. Dan lagi, aku enggak makan pizza untuk sekarang-sekarang ini." jawabnya sambil lalu untuk mengambil air mineral yang sudah disediakan oleh hotel.

Ciara mengerutkan keningnya, "ini makanan kesukaanmu, Bob." katanya.

"June bilang itu enggak menyehatkan buatku yang kerja enggak tahu waktu."

Ciara lalu terdiam dan memperhatikan gerak gerik Bobby yang tidak nyaman berada didekatnya. Ia lalu kemudian mendekati laki-laki yang sedang memunggunginya dan langsung memeluk tubuh kekar itu. Jantungnya benar-benar berdegup tidak tahu aturan. Ia tidak pernah mendapati dirinya seperti ini. Betapapun dulu ia pernah mengkhianati cinta tulus Bobby tidak pernah sedikitpun ia melupakan bahwa Bobby sangat mencintainya dan pernah berjanji bahwa hanya ada namanya, selamanya.

Ciara mendapati dirinya terlanjur menyesali kehilangannya atas Bobby yang memilih pergi dari Virginia dan dari dirinya. Maka dari itu ia berakhir disini mencoba memperbaiki semuanya. Dan mendapati Bobby sudah tidak terlalu memberikan atensi penuh kepada dirinya. Apalagi saat ia sadar ada beberapa orang yang dekat dengan Bobby, salah satunya Donghyuk, laki-laki manis dengan kepribadian hangat dan ramah kepada siapa saja. Membuat Ciara cukup gampang mendekatinya dan secara gamblang memberitahu siapa sebenarnya dirinya.

Ternyata tidak sampai disitu saja, Bobby malah bertemu dengan laki-laki manis lainnya. Tidak seperti Donghyuk yang gampang ia dekati, June malah terkesan dingin terhadapnya. Mereka hampir tidak pernah mengobrol walau kebetulan satu shift. June seperti menjaga jarak dan Ciara sepertinya mengerti bahwa laki-laki itu mungkin cemburu dengan keberadaannya.

Dengan kata lain, upayanya mendekati Bobby berhasil bukan? Terbukti sekarang ia tahu bahwa hubungan kedua sejoli itu sedang tidak baik-baik saja.

"Jangan begini, ra." kata Bobby berusaha melepaskan pelukan Ciara. "Kembali ke kamarmu. Aku mau istirahat, besok masih banyak yang harus-"

Ciara mendekatkan wajah mereka tanpa izin, menempelkan belah bibirnya yang dulu dinilai sensual oleh laki-laki itu, matanya menutup perlahan seperti meminta Bobby untuk melanjutkan apa yang ia mulai.

Nihil. Tubuh Bobby tidak menunjukkan reaksi apapun, balas memeluknya pun tidak. Tangan Bobby malah mencengkram kedua pundak Ciara dengan sedikit kasar.

Bobby memandangi wajah wanita cantik itu dengan rahang yang mengeras, "Setelah apa yang kamu perbuat dulu, menghancurkan segalanya lalu sekarang kamu datang. Mau coba kamu hancurkan lagi??" wajahnya memerah, urat-uratnya terlihat jelas, dan ini sangat menyeramkan. Ciara tidak pernah melihat Bobby yang seperti ini. "Apa yang kamu mau sebenarnya, ra?" intonasinya yang tinggi tadi berubah jadi lemah.

"Please forgive me..." kata Ciara memohon, demi Tuhan hanya itu yang ia mau sekarang.

"I do forgive you, Ciara. Aku udah maafin kamu. Dari dulu. Bahkan sebelum aku memutuskan kesini dan melupakan semuanya." kata Bobby menatap lekat-lekat pada bola mata hazelnut dihadapannya.

Dulu, hanya dengan memandang bola mata itu saja ia seakan mampu menghadapi permasalahan keluarganya. Orang tuanya yang terlilit hutang, mengakibatkan mereka benar-benar harus bekerja berpuluh-puluh kali lipat untuk melunasi hutang sekaligus membiayai sekolahnya dan saudaranya. Belum lagi debtcollector yang setiap sore menyambangi kediamannya dan memukuli ayahnya hingga babak belur.

Dan ia akui, yang terus ada menenangkannya, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja adalah wanita yang sedang menangis dihadapannya sekarang. Sebelum akhirnya ia memergoki wanita itu tidur dengan Sahabatnya, membuatnya menyadari bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan walau mereka memang sudah resmi menjadi sepasang kekasih.

Ciara tidak pernah benar-benar mencintainya. Selama ini mungkin yang wanita itu rasakan hanya belas kasihan. Entahlah...

"I love you..." kata wanita itu lagi mulai terisak.

"But i don't love you anymore, Ciara."

Ciara sudah tahu akan seperti apa jawaban Bobby, namun ia ingin memastikannya sendiri. Mungkin ini yang Bobby rasakan saat itu, ketika laki-laki itu mencintainya dengan tulus namun dibalas dengan sebuah pengkhianatan. Bahkan saat ini Bobby tidak dalam posisi mengkhianatinya sama sekali. Bobby hanya sudah mendapatkan cintanya yang baru. Yang membuat perhatiannya teralihkan. Yang membuat Ciara cemburu karena yang ia yakini hingga sekarang adalah Bobby hanya mencintainya.

"Dulu sekali, aku memang mencintaimu. A lot. Too much sometimes. Tapi sekarang, sudah ada seseorang yang tidak peduli bagaimana egois dan keras kepalanya aku. Aku yang malah menyakitinya, sok tersakiti dengan masa laluku yang sebenarnya tidak lebih berharga dari apapun."

Masa lalu yang tidak lebih berharga dari apapun.

Kalimat sederhana yang sangat menyakitkan untuk Ciara. Bobby benar-benar menghempaskannya, sama ketika dulu ia tidak terlalu mengindahkan perasaan laki-laki itu.

"I am in love with someone else, Ciara. And He is too precious. Enggak ada yang bisa gantiin dia dikepalaku. Bahkan kamu."

Ciara lalu melepaskan dirinya dari cengkeraman bahu Bobby yang makin menyakitinya. Dan ia pun berlalu keluar dari kamar hotel itu dengan air mata yang masih berderai.

Bobby terduduk di ujung tempat tidurnya. Kepalanya semakin ingin meledak. Namun begitu, satu masalah sudah selesai, malah sedikit membuka matanya tentang arti June di hidupnya.

Tok! Tok! Tok!

Siapa lagi sih?!

"Bob?" seseorang menyembulkan kepalanya dari daun pintu yang tadi dibiarkan Ciara terbuka saat ia berlari pergi.

"Dongi??"

***

Donghyuk dan Bobby sedang menenggak sebuah minuman yang disediakan oleh bartender di hadapan mereka. Bukan minuman yang keras, hanya champagne yang sengaja dibuka Bobby untuk menemani acara mengobrol mereka. Bobby butuh teman berbagi, dan bersyukur Donghyuk yang kebetulan memiliki job design disalah satu restoran bintang lima di kota ini, yang letaknya benar-benar hanya memakan waktu tidak lebih dari lima belas menit dari hotel tempat Bobby menginap. Mereka memang sudah mengatur pertemuan hanya untuk bertukar pikiran. Sudah lama mereka tidak melakukannya mengingat kesibukan mereka masing-masing.

Ah tidak, kesibukan Bobby lebih tepatnya.

Awalnya seperti itu. Sebelum akhirnya Donghyuk memarahinya habis-habisan tentang ia yang tidak hadir pada acara kelulusan June, membiarkan June merasa tidak diinginkan dan masih banyak lagi.

Sepertinya kepalanya akan benar-benar pecah sekarang.

Ia bukan tidak mau, kalau ia mampu rasanya sekarang pun ia akan terbang pulang demi memohon maaf kepada laki-laki manis yang telah membuatnya bertekuk lutut itu, bersujud bila perlu. Namun ia juga masih memiliki tanggung jawab disini. Ia berusaha rasional. Dan memilih untuk bertahan sedikit lagi saja.

***

Pembukaan retail baru yang Bobby bawahi sukses besar. Grand Opening yang dihelat sebagai penanda baru saja didirikan sebuah retail yang mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga dihadiri banyak orang ternama dan pengunjung sebagai customer baru mereka, promo marketing yang disediakan sangat memanjakan, omset yang dicapai juga tidak main-main membuat Bobby banyak menuai pujian, dinilai bertangan dingin, mengingat retail manapun yang bergerak dibidang apapun selalu mencapai goal dengan waktu singkat ketika dibawah arahannya, itu salah satu hal yang membuatnya menjadi rebutan banyak perusahaan besar.

Namun bisa dipastikan sebenarnya hati dan otaknya sudah tidak berada di tubuhnya sekarang. Ia gatal ingin segera pamit undur diri dan lalu pulang. Banyak yang harus ia selesaikan.

Ciara sudah tidak terlihat batang hidungnya dari kemarin, ia pamit sebagai tenaga perbantuan dengan alasan masalah keluarga yang mengharuskannya untuk segera pulang.

Lalu dirasanya ponselnya berdering

Kim Hanbin is calling.....

"Congratulation, Bob!" ucapnya sedetik setelah Bobby menyapanya.

"Thanks, man. Lo enggak kesini?"

"Banyak yang harus gue selesaikan disini sebelum akhirnya resign."

Bobby lalu ingat beberapa waktu lalu Hanbin menghubunginya dan meminta semacam saran. Ada satu perusahaan yang menawarinya kedudukan lebih tinggi dan tentu salary yang sangat sesuai. Lalu Bobby mengatakan, kalau memang yakin- kemampuan Hanbin juga tidak bisa dibilang sepele, ia pasti bisa berkembang tidak hanya disini. Tidak ada salahnya sahabatnya itu untuk keluar dari zona nyaman.

"Gue teringat June, karyawan dan, ehem, pacar lo itu." ada seperti banyak kupu-kupu yang berlomba berterbangan didalam perut Bobby rasanya ketika Hanbin menyebutkan June sebagai pacarnya. "Rencananya mau gue coba ajak kerja di tempat yang baru- Ini diluar persetujuan lo memang, hanya sebagai ajakan biasa, karena itu tergantung dia mau apa enggak, jadi tolong jangan komplen dulu, oke?"

Bobby menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan kata makian untuk sahabatnya itu, "tapi kata Jinan, dia sudah resign, Bob. Benar?"

"Apa?"

Resign?

Bobby diam seribu bahasa. Kupingnya tentu tidak tuli. Namun apa yang didengarnya seperti sebuah kekeliruan. Lalu ia mencoba bertanya lagi untuk menegaskan apapun yang ia dengar tadi. "Resign?"

"Tolong jangan bilang lo enggak tau- Ya Tuhan, Bob."

Apa sih yang ia tahu tentang laki-laki manis itu setelah ia mengacaukan segalanya? Sok tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan June padahal dia sendiri tidak lebih menyebalkan dari itu.

***

Continue Reading

You'll Also Like

5.3K 608 29
(2) "Kita berpikir sudah baik, tapi Tuhan belum tentu beranggapan demikian, Mas..." "Maksudnya, Lingga?" "Aku mencintai Seseorang yang enggak balas m...
3.7K 340 14
Daksa dan Swara memiliki Ibu yang luar biasa bawel. Sering sekali komplen ketika mereka berdua tengah sangat sibuk disebabkan pekerjaan masing-masin...
730K 66.6K 42
[bxb][mpreg][jaeyong][18🔞] WARNING ⚠️⚠️ Homophobic harap menyingkir cerita ini mengandung cerita bxb atau berbau yaoi Taeyong seorang penari bar di...
11.3K 1.1K 25
Sad story' -----Junhoe terus menangis dalam diamnya dia merasa hancur namun kehancurannya tidak boleh di rasakan oleh Jinhwan, perinya harus bahagia...
Wattpad App - Unlock exclusive features