Memberi penjelasan dan lamaran?
*****
Matahari masih bersinar terang diatas sana, walau jam sudah menunjukan pukul empat sore. Diki dan Fiza baru sampai cafe, keasikan mengelilingi mall mereka sampai lupa waktu, hingga keluar dari mall pukul tiga sore, dan karena macet di jam pulang kantor, mereka harus ikut barmacet ria dulu bersama para pengendara lain yang ingin pulang kerumah masing-masing
Fiza turun dari dalam mobil Diki lalu mulai melangkah bersama menuju pintu masuk cafe.
"Gue dapetin bibit bunga itu dengan penuh perjuangan Ki, gue harus menyeberangi lautan, mendaki gunung, dan melewati berbagai rintangan" Diki berhenti saat mereka sudah hampir sampai pintu utama cafe, saat mendengar celotehan sahabatnya ini.
Fiza pun ikut berhenti dan menatap Diki, belum sempat Fiza bertanya, Diki sudah mengapit kepalanya dan menguyel rambutnya.
"Huhhh sejak kapan sahabat gue jadi sealay ini hmmm?!" Diki menguyel puncak kepala Fiza hingga rambut Fiza yang memang tidak tertutup topi menjadi berantakan.
"Diki!! Rambut gue berantakan!!" Seru Fiza mencoba lepas dari pitingan Diki.
Diki tertawa puas, tak lama ia pun melepaskan Fiza dari pitingan tangannya.
Fiza membuang napas panjang karena merasa sesak, lalu ia memukul bahu Diki bertubi-tubi.
"Ngeselin banget" ujarnya gregetan dengan gigi bergemelutuk.
Diki tak menghindar dari pukulan Fiza, malah ia tertawa geli.
Lalu Fiza bergerak merapikan rambutnya, saat sudah rapi Diki menyelipkan anak rambut yang tidak masuk kedalam kunciran Fiza.
"Yuk masuk" ajak Diki, Fiza mengangguk.
Namun baru dua langkah mereka berjalan, suara dari belakang menghentikan langkah mereka.
"Za!" Panggilan suara yang sangat Fiza kenali.
Fiza dan Diki berbalik serempak menatap manusia dengan balutan kemeja putih sedang berdiri menatap datar mereka berdua.
Diki mengepalkan tangannya saat melihat siapa yang memanggil sahabatnya.
"Mau ngapain Luh?!" Dari suara Diki, ia seperti menahan amarah. Lalu tangannya secara refleks menarik Fiza dan menyembunyikan nya dibalik punggungnya.
"Aku mau bicara" ujar Rey tak menggubris pertanyaan Diki.
Diki mendengus karena pertanyaan nya diabaikan.
"Gak gue izinin, ayo Za masuk" ujar Diki hendak berbalik membawa Fiza pergi dari hadapan Rey.
"Anda siapa melarang?" Tanya Rey menahan emosi.
"Gue? Gue sahabatnya" tekan Diki berbalik menatap murka Rey. "Dan gue gak suka sahabat gue deket sama cowok yang gak punya pendirian dan tidak setia" Diki menekankan setiap kata dalam nada bicaranya.
Rey menatap jengkel Diki, namun ia malas jika harus meladeni Diki. "Lima menit Za" ujar Rey menatap Fiza.
"Luh budek? Gue bilang gak bisa ya gak bisa. Masuk Za" Diki kembali hendak menarik Fiza, namun Rey menahannya dengan berujar.
"Saya tidak ada perlu dengan anda, dan apa hak anda melarang saya bicara dengan Fiza?!" Ujar Rey dingin dan sangat menusuk.
"Gue-"
"Ki" ucapan Diki mengapung karena Fiza menyela. Diki menoleh kebelakang, ia dapat merasakan Fiza menarik ujung kaus nya.
Fiza tersenyum dan mengangguk.
"Tapi Za-" Fiza menggeleng. Mengisyaratkan bahwa ia harus menyelesaikan masalahnya.
Diki menghela napas, lalu berbalik kembali menatap Rey.
"Sampai Luh bikin sahabat gue nangis lagi, gue gak segan-segan buat bikin perhitungan sama Luh" Diki menekan dada Rey dengan telunjuknya.
Rey tidak menyahut, ia hanya memberikan wajah datar tanpa ekspresi nya.
Diki tersenyum remeh. Kemudian ia berlalu sebelumnya ia sudah mengelus rambut sahabatnya.
Rey menatap Fiza, begitupun sebaliknya, hingga Rey memberikan isyarat kepada Fiza untuk jalan terlebih dahulu. Dan Fiza pun langsung berjalan menuju taman.
Mereka duduk dengan damai ditaman tanpa ada yang mau memulai pembicaraan.
"Aku ada salah?" Tanya Rey membuka pembicaraan di antara mereka.
Fiza masih diam memandang bunga yang sangat indah tersorot langit sore.
"Za" panggil Rey menatap sisi wajah Fiza.
Fiza menoleh sekilas. "Za mundur" sahutnya.
Rey mengerutkan alisnya. Fiza yang tahu Rey kebingungan dengan perkataan nya, kembali melanjutkan.
"Sebenernya niat Bang Rey deketin Za selama ini tuh apa sih?" Fiza menatap dalam mata Rey.
Rey semakin mengerutkan alisnya. Kenapa Fiza bertanya lagi, bukan sudah jelas bahwa ia mendekati Fiza, karena ingin menjadikan Fiza pasangan hidupnya. Pikir Rey.
"Kalo niat Bang Rey deketin Za cuma buat main-main Za rasa cukup sampai disini. Za gak mau disebut perusak hubungan orang, Za gak mau jadi alesan orang lain sakit hati Bang, Za gak mau jadi orang ketiga, Za perempuan jadi Za tau gimana rasanya kalo orang yang kita sayang tapi main api dibelakang kita. Za gak mau nyakitin hati orang lain Bang" ujar Fiza yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Rey nampaknya mulai paham kemana arah pembicaraan Fiza. Kenapa bahas itu lagi, sudah jelas-jelas Iren itu cuma mantan istri sepupunya gak lebih. Pikir Rey frustasi.
"Kenapa bahas itu lagi, kan aku udah bilang Za Iren cuma mantan istri almarhum Kakak sepupu aku" jelas Rey mengambil tangan Fiza.
Tapi Fiza menepisnya. "Bang Rey gak usah bohong, jelas-jelas dia calon istri Bang Rey dan dia lagi hamil anaknya Bang Rey!!" Teriak Fiza marah.
"Harus berapa kali aku bilang dia istri almarhum Kakak sepupu aku, dan anak yang dia kandung juga anak Bang Azka" sahut Rey lelah atas tuduhan Fiza. Selalu ini dalam beberapa waktu terakhir yang Fiza permasalahkan.
Bahkan sudah dengan jelas ia menegaskan bawa Iren bukan istrinya dan anak yang di kandung pun anak Azka.
Rey menarik napasnya pelan. "Apa yang membuat kamu berpikiran seperti itu sayang? Jika ada yang berbicara seperti itu tentang aku dan Iren itu semua bohong Za" Rey menagkup kedua pipi Fiza, menyorot dalam mata indah itu, dan mengelus lembut pipi yang terasa sudah mulai chubby kembali.
"Terus Mama nya Bang Rey bohong?" Tanya Fiza menyorot tajam, mata teduh itu.
Usapan ibu jari Rey terhenti mendengar perkataan Fiza. "Mama?" Beo nya bertanya.
"Iya, Mama nya Bang Rey tadi sore kesini dan jelasin semuanya ke Za" jelas Fiza.
Rey menghela napasnya lagi.
Kemudian ia menarik tangan Fiza menuju mobilnya.
"Mau kemana? Za harus balik kerja" Fiza bingung Rey menarik tangannya dan langsung memasukkan nya kedalam mobil laki-laki itu.
"Kamu libur satu hari gak bakalan bikin cafe temen kamu itu bangkrut" sahut Rey mulai menjalankan mobilnya.
Fiza mengerucutkan bibirnya kesal kearah Rey.
"Kenapa juga gue bisa cinta sama boneka salju, yang otoriter kaya dia sih?" Gerutu Fiza kesal.
Rey terlihat hendak menelpon seseorang.
"Dimana?"
"…"
"Villa sekarang"
"…"
"Hmm"
Rey melepaskan bluetooth dari telinganya.
Fiza hanya diam menatap Rey.
Beberapa menit akhirnya mereka sampai di villa keluarga Rey. Villa yang sangat indah dengan view hamparan kebun teh, dan gunung.
"Ayo" ajak Rey menggenggam erat tangan Fiza, dan menariknya kedalam.
Rey memasuki villa itu, dan terlihat di ruang keluarga ada Mama Papa Rey, kemudian Iren dan Ray dengan Hanna.
"Rey" sapa Ray yang terlebih dahulu menyadari kedatangan kembarannya.
Semua menoleh, nyonya Xavier dan Iren menatap sinis Fiza yang tangannya masih digandeng oleh Rey. Tuan Xavier hanya mengangkat alisnya, tanda bertanya.
Rey menarik Fiza semakin mendekat kearah keluarganya.
Rey berdiri dihadapan keluarganya dengan tangan yang menggenggam erat jemari Fiza. Sementara Fiza hanya menunduk.
Iren menatap Fiza dengan raut kebencian yang sangat kentara, apa lagi melihat tangan Rey dan Fiza yang saling bertautan. Nyonya Xavier pun menatap Fiza dengan raut ketidak sukaan. Sedangkan tuan Xavier yang memang belum mengenal Fiza menatap tak mengerti namun tatapan menilainya akan penampilan Fiza juga tidak bisa di tutupi.
Rey menyadari itu semua, menyadari tatapan sinis serta ketidak sukaan dari kedua orang tuanya terhadap Fiza.
"Siapa dia Rey?" Tanya tuan Xavier memulai pembicaraan.
"Calon istri Rey" sahut Rey cepat dan lugas.
Fiza mendongak menatap wajah Rey dari samping yang terlihat sangat tampan dengan hidung mancung yang lelaki itu miliki.
Nyonya Xavier dan Iren melotot mendengar jawaban Rey.
"Apa-apaan kamu!!" Sergah nyonya Xavier. Rey menatap Mama nya datar.
"Mama tidak setuju!" Dengan tegas nyonya Xavier menolak.
Rey terus menatap Mama nya tenang dan datar.
"Bagai mana bisa perempuan seperti dia menjadi calon istri kamu Rey? Kita dan dia berbeda, kamu tidak malu mempunyai calon istri hanya pelayan cafe?" Ujar nyonya Xavier.
"Pelayan cafe?" Tuan Xavier tidak yakin.
"Kenapa dengan pelayan cafe?" Suara Rey masih sangat tenang.
"Kamu tanya kenapa?" Nyonya Xavier bertanya tak percaya. "Rey kita dan dia tidak setara, apa nanti pendapat rekan bisnis Papa, jika anaknya yang seorang dokter ahli bedah menjalin hubungan dengan seorang pelayan cafe, mau ditaruh mana muka Mama dan Papa?" Papar nyonya Xavier tanpa memikirkan perasaan Fiza.
Rey mengeratkan genggaman tangannya dengan jemari Fiza. Ia tau gadisnya tengah merasakan sakit mendengar perkataan Mama nya. Bahkan mereka masih berdiri berhadapan dengan kedua orang tua Rey yang duduk di sofa mahal itu.
"Lagi pula Mama dan Papa kan sudah bilang kamu harus menikahi Iren saat ia sudah melahirkan nanti!!" Tegas nyonya Xavier.
"Rey tetap menolak, jika bukan Fiza yang menjadi istri Rey maka tidak ada satu perempuan pun yang akan Rey nikahi" tapi dak ada keraguan dalam suara Rey, semuanya terdengar tegas dan tulus.
Ray yang menyaksikan itu bersama calon istrinya tersenyum senang.
Perkataan Rey membuat nyonya Xavier dan tuan Xavier emosi.
Iren pun sudah mengepalkan tangannya mendengar suara Rey yang penuh keyakinan.
"Hey gadis miskin kamu apakan anak saya hingga sangat tergila-gila pada mu?" Tanya tuan Xavier menyorot Fiza.
Fiza hanya diam, namun ia tidak menghindari sorot mata tuan Xavier yang menghunus langsung bola matanya.
"Papa gak ada hak buat bilang seperti itu kepada Fiza" desis Rey marah.
"Ada yang salah dengan perkataan Papa?" Sahut tuan Xavier dengan sinis.
Rey mencoba mengontrol amarahnya. Lalu ia berdehem untuk menghilangkan rasa kesal yang bersarang di dada nya.
"Rencana nya Rey mau membawa Fiza ke Garut untuk Rey perkenalkan pada Mama dan Papa. Tapi karena Mama dan Papa sedang berada disini jadi Rey sekalian mau bilang.." Rey menatap yakin mata kedua orang tuanya.
"Rey mau menikahi Fiza setelah Kak Ray menikah" tegas Rey dengan satu tarikan napas.
Tubuh Fiza menegang mendengar ucapan Rey yang sangat yakin.
Begitupun tuan dan nyonya Xavier, yang tidak percaya anaknya akan mengatakan itu semua.
Iren bahkan berusaha menahan laju air matanya. Hey ia benar-benar mencintai Rey, jadi rasanya sangat menyakitkan mendengar Rey melamar gadis itu secara tidak langsung dihadapannya.
Lain dengan Ray dan Hanna yang malah tersenyum senang.
Pernikahan Hanna dan Ray akan di selenggarakan dalam waktu satu bulan lagi.
"Reyhan kamu apa-apaan hah?!" Tuan Xavier sampai berdiri dari duduknya. Diikuti oleh nyonya Xavier.
"Ada yang salah?" Alis Rey mengerut.
"Jelas salah, kamu meminta izin menikahi gadis seperti dia?" Tuan Xavier menatap dari atas hingga bawah penampilan Fiza yang hanya mengenakan kemeja dan jeans. "Penampilan nya saja seperti berandal kamu yakin dia bisa mengurus kamu?"
"Kenapa dengan Fiza? Lagi pula Rey mencari istri bukan pengasuh" sahut Rey masih sangat sangat tenang.
"Kamu?" Fiza yang merasa Papa Rey berbicara padanya mengangkat wajahnya dan menatap wajah tuan Xavier. "Kamu masih kuliah?"
Fiza menggeleng. "Saya hanya tamatan SD Om" sahut Fiza tanpa malu.
Tuan dan nyonya Xavier melotot.
"SD!!" Seru mereka bersamaan. Tuan Xavier menarik napasnya.
"Orang tua kamu bekerja apa?" Kembali pertanyaan terlontar dari bibir tuan Xavier.
"Ayah Ibu saya hanya petani teh" sahut Fiza lagi.
Tuan Xavier memijat pelipisnya.
"Papa tidak setuju kamu menikah dengan dia Rey, dan keputusan Papa kembali kepada yang awal kamu harus tetap menikah dengan Iren!!" Ujar tuan Xavier menolak tegas.
Rey semakin mengeratkan genggaman tangannya. Bukan mengeratkan lebih tepatnya mencengkeram, Fiza merasakan tangannya kebas.
"Hanya karena Fiza lulusan SD, Fiza hanya anak pekebun teh biasa Papa dan Mama menolak?" Rey menyorot dingin kedua orangtuanya. "Rey tegaskan, Rey mencari istri bukan pegawai yang butuh ijazah atau gelar sarjana, Rey mencari istri yang bisa menjadi tempat Rey pulang saat Rey lelah akan kerasnya dunia, bukan hiasan yang di pemerkan kepada semua orang"
Orang tua Rey bungkam, anak mereka yang tidak pernah bicara banyak, kini berbicara sangat panjang dan mau berdebat hanya karena membela gadis yang memang harus mereka akui sangat manis dan memiliki wajah teduh.
"Hey gadis miskin, kamu itu orang susah, sedangkan kami orang terhormat, saya menginginkan anak saya bersanding dengan orang yang berpendidikan tinggi bukan orang seperti kamu, harus nya kamu ngaca Rey tidak pantas bersanding dengan gadis seperti kamu" Nyonya Xavier menyorot tajam Fiza.
"Cukup Mah!!" Seru Rey yang tidak tahan dengan cemoohan Mama nya terhadap Fiza. Namun nampaknya nyonya Xavier belum puas dengan hinaan nya.
Fiza yang masih kaget akan ucapan Rey tadi masih bungkam.
"Kamu hanya ingin harta anak saya saja kan? Di rumah mu tidak ada kaca? Seharusnya kamu ngaca siapa kamu dan siapa Rey. Upik abu yang berharap menjadi tuan putri, tcih" Fiza memejamkan matanya menahan rasa nyeri dan emosi mendengar cibiran Ibu Rey.
"Cukup Ma!" Suara Rey sangat datar dan tegas.
"Tidak seharusnya Mama bicara seperti itu kepada Fiza" tegas Rey.
Cukup sudah ia mendengar penghinaan yang keluar dari mulut kedua orang tuanya untuk Fiza.
"Setuju atau tidak, kalian merestui atau tidak, Rey akan tetap menikahi Fiza setelah pernikahan Ray" Rey tidak pernah mengalihkan sedikitpun tatapannya kepada kedua orang tuanya. "Rey permisi, selamat malam"
Rey menarik tangan Fiza keluar villa yang ditempati oleh kedua orang tuanya.
_______________________
TBC
#LS