Muñeca ⋮ Kim Seungmin

Oleh Winisepooh

4.9K 372 260

[SLOW UPDATE] SMA Changseo sedang diramaikan oleh tren gantungan boneka kayu bernama Muñeca. Kim Seungmin men... Lagi

02 :: Kain Merah
03 :: Mata Kaca
04 :: Half Human
05 :: Just a Trend
06 :: Nama di Kakinya
07 :: Tak Diinginkan
08 :: Darah Pertama
09 :: Scars of Transformation
10 :: Di luar kebiasaan
11 :: Off Air
12 :: Can We Talk?

01 :: Kunci Jawaban

1.2K 65 48
Oleh Winisepooh

Ujian Tengah Semester di SMA Changseo hampir berakhir. Tinggal satu hari lagi sebelum para murid benar-benar bisa bernapas lega. Bangku-bangku disusun renggang dengan jarak yang cukup lebar, membuat setiap siswa duduk terpisah satu sama lain.

Kim Seungmin menoleh ke bangku kosong di sebelahnya, di sana hanya ada sebuah tas yang tergeletak tanpa si pemilik. Ia mengetuk layar smartwatch yang hampir menunjukkan pukul 08.30, ujian akan segera dimulai tapi Jeongin entah pergi kemana.

"Hei, Jeongin. Sini lo!" teriak seorang siswa di bangku belakang.

Semarak obrolan para siswa di kelas itu menghilang, semua tatapan tertuju pada Jeongin yang datang tergesa dari balik pintu kelas. Beberapa roti selai yang masih terbungkus plastik terjatuh, membuatnya buru-buru memungutnya kembali ke dalam pelukannya.

"Nunduk," suruh Lai Bowen, salah satu siswa yang tak luput dari perhatian sekolah. Dia memiliki tubuh atletis sebagai perenang, dengan bahu bidang dan postur yang terlatih.

Dengan ragu, Jeongin mendekat dan mulai menundukkan kepalanya.

Tok!

Bunyi tumpul itu terdengar singkat saat pukulan mendarat di atas kepala Jeongin, refleks bahunya sedikit terangkat.

"Mana roti gue, anjing. Gue udah laper banget!" umpat Bowen keras, seisi kelas tidak ada yang peduli, pemandangan itu sudah menjadi hal biasa.

"Ma-maaf!" Jemari Jeongin mengencang di sekitar roti yang ia bawa.

"Nggak becus! Gue cuma nyuruh lo beli sarapan lima belas menit!" bentak Bowen. Ia merampas roti-roti itu dengan kasar, lalu melemparkan satu per satu ke teman-temannya di sekitar seolah itu hak mereka.

Bowen beserta teman-temannya bersamaan membuka plastik roti, bertepatan dengan itu bel masuk berbunyi. Mereka berdecak kesal karena telah melewatkan waktu sarapan.

Sedari tadi Seungmin memperhatikan, tapi tetap diam tanpa melakukan pembelaan. Jeongin duduk di kursinya, lalu melirik ke arah Seungmin yang sudah lebih dulu menatapnya.

Mereka saling diam, sampai akhirnya pandangan itu terputus ketika sebuah roti yang sudah digigit terlempar, mengenai lengan Jeongin sebelum jatuh ke lantai.

"Jeongin, itu jangan cuma diliatin. Bawa pulang buat makan sama keluarga lo sekalian," ucap Bowen santai.

Beberapa orang tertawa pelan, yang lain hanya menonton tapi tak ada yang menghentikan. Tiba-tiba kelas berubah tegang saat pengawas ujian datang, saatnya mereka bertempur dengan soal-soal ujian itu.

━━━━━━ M u n e c a━━━━━━

Sebagai ketua kelas, sudah menjadi biasa Seungmin keluar masuk ruang guru. Di sana tanpa sengaja ia kerap mendengar kabar yang dibicarakan para guru. Karena itu, ia sering mengetahui sesuatu lebih dulu daripada murid lain.

Kali ini, kabar yang sampai ke telinganya membuat bahunya menegang. Jari-jemarinya tanpa sadar meremas lembar-lembar tugas di genggamannya.

Dengan postur tubuhnya yang tegak Seungmin berjalan masuk ke kelas, cahaya matahari dari jendela memantul di kacamatanya ketika ia berdiri di depan mimbar. Kelas riuh setelah ujian untuk hari ini selesai, mereka hanya menunggu bel pulang.

"Hari ini, kumpul di aula," usulnya singkat, seperti biasa dengan tatapan dinginnya.

Mendadak suara bising di kelas itu terhenti. Tersisa kesunyian dan wajah tanda tanya orang-orang sekelas.

"Bukannya pulang?"

"Kalau mau pulang, ya pulang aja. Semua orang bisa berkumpul di aula tanpa lo." Balasan yang datar itu membuat Riel menganga, lalu menatap Seungmin sinis saat berjalan ke bangkunya untuk mengambil tas.

Benar saja, suara bel penanda bahwa seluruh murid berkumpul di aula mengalun panjang. Deretan kursi aula yang menjulang ke atas dipenuhi murid. Bisik-bisik mereka menyatu menjadi dengungan samar.

Di kursi depan, Seungmin tak bisa duduk dengan nyaman. Keringat dingin sudah membasahi pelipis, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.

Suara mikrofon yang di hidupkan membuat suara bising obrolan itu mengecil. Seorang pria dengan balutan pakaian rapi berdiri di atas panggung, sementara layar besar di belakangnya menyala, menampilkan tulisan Yayasan Pendidikan Changseo sebagai latar.

Sebagian besar murid duduk dengan tegang, pengeras suara itu sudah berada di depan mulut kepala sekolah mereka.

"Saya akan bicara langsung ke point," katanya yang terdengar nyaring lewat pengeras suara.

Semua orang menunggu kelanjutannya, nyaris semua tatapan tertuju ke panggung.

"Sistem akademik sekolah kita telah diretas, data yang diambil adalah bank soal Ujian Tengah Semester yang sedang kalian kerjakan minggu ini," ujar Lai Yuchen selaku kepala sekolah SMA Changseo tanpa memulai basa-basi.

"Apa! soal ujian?"

"Seriusan bocor?"

Suara bisik-bisik terdengar memenuhi aula, para siswa saling lempar tatap dan berbicara dengan teman-temannya. Tuan Lai mengangkat tangan menyuruh diam, tidak memberi waktu lama untuk reaksi itu tumbuh liar.

"Sebelum ditangkap, pelaku sempat menyebarkan bank soal dalam bentuk file digital. Sebagian file bahkan dicetak dan diperjualbelikan secara diam-diam. Dari hasil penyelidikan, sekolah mengidentifikasi sepuluh siswa yang menerima dan menggunakan soal tersebut sebelum ujian berlangsung."

Kali ini tidak ada yang berani bersuara keras, bisik-bisik berubah menjadi dengungan pelan yang dipenuhi kecemasan. Di atas panggung Tuan Lai menatap lurus ke depan, sebelum kembali berbicara dia menghela nafas panjang.

"Kami memiliki data lengkap. Waktu akses, riwayat distribusi, dan identitas penerima." Kalimat itu seperti menutup semua celah untuk berbohong.

"Ujian akan tetap dilanjutkan hingga selesai. Hasil akhirnya akan menunjukkan siapa saja yang terlibat. Sepuluh siswa tersebut akan otomatis ditempatkan di peringkat terbawah saat pengumuman nilai," ujar Tuan Lai sebelum mengakhiri penyampaiannya.

Beberapa siswa terlihat bingung ketika suara mikrofon perlahan diturunkan, lampu panggung dimatikan setelah suara langkah sepatu itu terdengar jauh.

Kursi aula satu persatu mulai di tinggalkan saat kepergian Tuan Lai. Pada hari itu, tidak ada yang benar-benar pulang dengan tenang.

Bisik-bisik mengenai bocoran soal terus terdengar di sepanjang lorong sekolah, bahkan sampai halaman parkir. Diantara obrolan itu, Seungmin tetap berjalan lurus seolah tidak mendengar apa pun.

━━━━━━ M u n e c a━━━━━━

Langit sudah gelap saat Seungmin pulang dari bimbelnya. Awan hitam perlahan menelan cahaya bulan satu per satu, membuat komplek perumahan itu terlihat semakin sunyi.

Mobil berhenti tepat di depan rumah. Tanpa berkata apa-apa, Seungmin turun lalu memasukkan kode pada panel di samping pintu.

Bunyi bip pelan terdengar sebelum kunci otomatis terbuka, menyambutnya dengan rumah yang gelap dan hening seperti biasa.

Seungmin menaruh sepatunya rapi di rak dekat pintu masuk. Jemarinya bergerak melonggarkan simpul dasi yang sejak tadi terasa menekan leher, sementara kancing paling atas seragamnya ia buka satu.

Kakinya naik menuju lantai dua, dimana letak kamarnya berada. Ruangan itu remang saat pintu terbuka, hanya lampu meja di sudut kamar yang menyala redup.

Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika sadar ada seseorang di dalam sana, tengah membelakanginya di depan meja belajar.

"Tutup pintunya," ucap orang itu tanpa emosi.

Seungmin akhirnya menutup pintu kamar pelan, bahunya sedikit kaku. Tatapannya langsung tertuju pada ranjangnya yang berantakan. Sprei kusut dan bantal yang bergeser itu terasa asing di tengah kebiasaan kamarnya yang selalu rapi.

Saat itulah Seungmin sadar, lembaran kertas yang kini ada di tangan orang itu lepas dari tempat persembunyian.

"Darimana Bunda dapatkan itu?" tanya Seungmin dengan napas memburu.

Wanita yang di panggil Bunda itu lantas membalikkan seluruh tubuhnya menghadap Seungmin. Kepalanya miring, senyum di bibirnya terasa menekan.

"Kamu menyembunyikan ini di bawah kasur, lalu bertanya seolah Bunda yang salah karena menemukannya," balas Kim Mira dengan nada cepat.

Sorot tatapan tajam itu langsung bertemu dengan mata Seungmin. Ekspresi wajahnya tetap tenang, justru itu yang membuat tengkuk Seungmin perlahan menegang.

"Kembalikan!"

Seungmin langsung melangkah mendekat. Dengan gerakan cepat, ia berusaha merebut beberapa lembar kertas di tangan Bundanya itu. Namun, Mira lebih cepat menarik tangannya ke belakang.

"Ini soal ujian, kan?" tanyanya.

Rahang Seungmin mengeras. "Itu dari Bu Lim."

Untuk pertama kalinya ekspresi Mira berubah. Alisnya sedikit terangkat, lalu wanita itu tertawa pendek tanpa kehangatan.

"Guru les privatmu?" ulangnya pelan.
Mira langsung meraih ponsel di atas meja belajar. Jemarinya bergerak cepat membuka layar kontak, membuat napas Seungmin berubah tidak teratur.

"Bunda, jangan telpon dia!"

"Bunda ingin dengar sendiri penjelasannya."

Nada suara Mira tetap tenang, langkahnya tegas saat mulai menekan layar ponsel. Seungmin refleks meraih pergelangan tangan wanita itu saat hendak pergi, sehingga tarikan mendadak itu membuat ponsel di tangan Mira terlepas.

Brak!

Benda itu menghantam lantai lebih dulu sebelum tergelincir ke bawah meja. Bunyi retak tipis terdengar saat layar ponsel pecah di salah satu sisinya.

Tatapan Mira perlahan turun ke arah ponsel yang rusak, lalu kembali menatap Seungmin. Kali ini wajahnya benar-benar menunjukkan kemarahan yang tertahan.

"Kamu pikir Bunda nggak tahu apa yang terjadi di sekolahmu hari ini?" tanya Mira tajam, emosi yang tertahan di dalamnya mulai terdengar jelas.

Pandangan Seungmin mulai tampak mengilap di balik kaca mata yang sedikit turun di batang hidungnya

"Bunda nggak percaya sama aku? Itu bahkan belum tentu soal bocoran."

Mira mendengkus pelan sambil membuang wajah, lalu mengangkat beberapa lembar kertas di tangannya.

"Kalau memang bukan, kenapa kamu menyembunyikannya di bawah kasur?" tanyanya dingin, Seungmin bungkam seribu bahasa. "Kenapa kamu kelihatan panik sejak masuk ke kamar ini?"

Napas Seungmin terdengar berat, matanya terasa memanas. Kepalanya mulai tertunduk dengan jemari yang perlahan mengepal sampai buku-bukunya memutih.

"Awalnya Bunda juga ingin percaya kalau putra Bunda nggak mungkin melakukan hal seperti ini. Makanya Bunda naik ke kamar untuk memastikan sendiri," lanjut Mira lirih, tatapannya turun sesaat pada kertas-kertas itu dengan penuh kekecewaan.

Raut Seungmin kini terlihat kacau penuh frustasi, wajah pucat itu tampak semakin sayu.

"Sekolah nelpon Bunda, kan?" tanyanya pelan.

Kali ini Mira terdiam, tangannya tergenggam kuat sampai kertas itu mengerut pelan.

"Mereka bilang aku termasuk sepuluh siswa itu?"

Cahaya kilat sesekali memantul samar di jendela kamar, diiringi suara hujan yang mulai memenuhi malam. Sudut bibir Seungmin bergetar tipis, sebelum akhirnya ia tertawa hambar.

"Mereka nggak salah, aku memang bagian dari mereka," lanjut Seungmin memejamkan matanya sejenak, tenaganya seperti terkuras habis.

"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Mira.

Ponsel yang retak itu masih tergeletak di lantai. Layar pecahnya memantulkan cahaya redup dari lampu meja, sementara ruangan di antara mereka dipenuhi ketegangan yang terasa sesak.

Suara hujan di luar sana semakin terdengar deras, menambah suasana mencekam.

"Aku cuma..." tenggorokan Seungmin terasa kering. "Aku cuma nggak mau gagal."

"Takut gagal?" Mira menekan pelipisnya sendiri. Untuk pertama kalinya malam itu, raut wajahnya terlihat benar-benar lelah.

"Ya," ucap Seungmin pelan, sambil menganggukkan kepala. "Aku pikir kalau aku tahu soal ujiannya, aku bisa belajar lebih cepat."

"Jadi itu alasanmu?" balas Mira sambil membuang napas panjang, ia merapikan rambutnya ke belakang dengan gerakan frustrasi yang jarang terlihat darinya. "Orang tuamu ini bayar mahal pendidikan kamu dan kamu memilih versi murahnya."

"Oh, ya?" Seungmin terkekeh pelan, "Maaf karena hasil mahal yang kalian beli ternyata nggak sesempurna itu."

Wanita itu mengusap wajahnya, berusaha mengembalikan ketenangannya. "Kamu tahu apa yang paling merepotkan dari semua ini?"

Untuk sesaat Seungmin hanya berdiri diam, enggan menjawab. Tatapannya kosong menembus lantai, seolah terlalu lelah untuk bereaksi terhadap kalimat itu.

"Bukan soal bocornya." Mira kembali bersuara, dia menggantung kalimatnya. "Tapi bagaimana Bunda harus menjelaskan semua ini pada Ayahmu."

Nama itu langsung membuat rahang Seungmin mengeras. Sementara, Mira melangkah mendekat dengan blouse satin berwarna abu gelap dan rok hitam yang jatuh rapi hingga bawah lutut.

Penampilannya terlihat sempurna seperti biasa, tetapi tatapan matanya kini jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.

"Kamu pikir Ayahmu akan peduli kalau kamu takut gagal?" Mira mengangkat dagunya sedikit. "Dia nggak akan dengar alasanmu, Seungmin. Jadi setidaknya, turuti Bunda sebelum semuanya jadi lebih buruk."

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Mira merapikan lipatan blouse di lengannya sebelum berbalik meninggalkan kamar. Langkahnya tetap tenang dan teratur, percakapan barusan hanyalah bagian kecil dari rutinitas yang melelahkan.

Suara hak sepatunya menjauh menyusuri lorong lantai dua, lalu perlahan menghilang bersama deru hujan di luar sana.

Seungmin masih berdiri mematung di tengah kamar.

Pandangannya tertahan pada pintu yang sudah tertutup, tetapi pikirannya terasa kosong. Dada Seungmin naik turun pelan, rahangnya mengeras sampai otot di pipinya menegang.

Rasanya kamar yang biasanya terasa aman justru terasa asing. Jemarinya perlahan terangkat mencengkeram kuat tali tas yang tersampir di bahunya.

Brak!

Tas itu terlempar keras ke lantai hingga isinya berguncang di dalam. Sebuah buku keluar setengah dari resleting yang terbuka, sementara Seungmin menundukkan kepala sambil mengusap wajahnya kasar.

Semarah apa pun dirinya, yang tersisa setelah Mira pergi hanyalah rasa lelah yang menumpuk diam-diam di dadanya.

tbc.

Teruskan Membaca

Anda Juga Akan Suka

37K 2.6K 35
Seokmin itu seorang penjual cilok gerobak keliling, paras wajahnya tampan dan indah. Pembeli-pembelinya pun sering kali menghadiahi dirinya pujian at...
3.4K 1K 12
Aku tertegur membacanya, kulihat Jung Ho Seok dengan santainya tersenyum ringan kepadaku. Bahkan matanya ikut tersenyum saat dia memamerkan barisan g...
8.4K 669 5
Evanescence; Time Spent Walking Through Memories (( Kim Minjeong x Yoo Jimin )) GxG | WINTOP | FRIENDSHIP | ROMANCE | MELODRAMA . BLURB ---- kenangan...
991 91 9
ⓘ Tidak ada hubungannya dengan tokoh asli. ⓘ 100% Fiction ⓘ This book contains profanity Genre: Komedi - Friendship - Romcom - Misteri - Semi horor...
Apl Wattpad - Buka kunci ciri eksklusif