About S

By anufa_dillah

8.6K 586 1K

TAMAT Ketika Jodohmu Adalah Idolamu Genre : Fiksi/Fanfiction Jadi, semua adegan di cerita ini hanya merupakan... More

Prolog
1. Perjodohan
2. Berita Baru
3. Muslim?
4. Siapa?
5. The S Ring
6. What?
7. Karena Kecewa
9. My Husband?
10. With You
11. My Sweetheart
12. Because Saree
13. Do You Love Me?
14. Islam Dan Hindu
15. Hubby Ve Ruuhii
16. Meet Up
17. Siddharth Nigam Vs Arshaka Nigam
18. Pengganggu
19. Promise
20. Love And Tragedy
21. Remember Me, Please
22. Lost Of Love
23. It's You, Siddharth
24. The Meaning?
25. I'm Your Father
26. Dasar Ceroboh!
27. Perindu Senja
28. Haruskah Aku Pergi?
29. SIDDHARTH!
30. Lost Of Everything
31. Permainan Skenario
32. Dosa?
33. Fake
34. I Love You?
35. Seriously?
36. One Wish
37. Divorced
38. Back When Gone
39. Please Forgive Me
40. Gerhana Untuk Berlian
41. Pergi Atau Kembali
42. Keputusan
Epilog
Ekstra Part
Info New Story
Ekstra Part 2

8. Akad

232 17 27
By anufa_dillah

Hanya karena satu kalimat, status kita berubah. Aku menjadi istrimu, dan kau menjadi suamiku.
~~~

Eksklusif acara akad Syafa sama calon suaminya!🤗 Happy reading!😁

••
Sesuai rencana dan permintaan Syafa, Syan dan Sreya benar-benar telah mempercepat persiapan pernikahan Syafa. Bahkan mereka memulainya hari itu juga.

Mereka tidak melakukannya sendiri, semua saudara dan para tetangga satu persatu berdatangan demi menyiapkan semua keperluan acara pernikahan Syafa dengan calon suaminya.

Banyak hal yang mereka lakukan. Mulai dari menyiapkan tenda pernikahan dan dekorasinya, membuat banyak makanan, menyebarkan undangan, dan masih banyak lagi.

Semua orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, namun sang calon pengantin wanita rasanya tak begitu antusias melihat kemeriahan yang mulai memenuhi seluruh rumahnya.

Sejak dua hari ini, Syafa terus berdiam diri di kamarnya. Bukan karena ritual pingitan, namun ia sengaja mengurung dirinya sendiri di dalam kamar.

Jujur saja, masalah tentang Siddharth dan Rhea itu selalu saja mengganggu pikirannya. Padahal Syafa sangat ingin melupakannya dan memfokuskan pikirannya kepada pernikahannya, namun ternyata tak semudah itu.

Syafa terus saja dibayang-bayangi dengan rasa kecewa. Bahkan amarah itu selalu muncul saat dengan terpaksa ia harus kembali mengingat kejadian tiga hari yang lalu.

'Pliss Syafa, lupain dia. Sekarang dia udah jadi calon suami orang lain. Dan lo sendiri juga udah jadi calon istri orang lain.' Batin Syafa pada dirinya sendiri.

•••

Hari yang ditunggu telah tiba. Mentari baru yang akan mengantarkan Syafa kepada hubungan barunya telah muncul di ufuk timur. Semua orang berbahagia menyambut hari ini. Sebuah senyuman terukir indah di setiap bibir semua orang. Kecuali satu orang.

Sang pemilik acara. Orang yang akan menjalin suatu hubungan dan kehidupan yang baru. Wajahnya tetap sama seperti dua hari terakhir ini. Hanya sebatas senyuman tipispun tak kunjung hadir menghiasi bibirnya. Seolah masalah itu benar-benar telah merenggut kebahagiaannya. Bahkan di hari yang sangat bersejarah ini.

Pukul 07:30, semuanya sudah siap. Gaun pengantin berwarna putih nan elegan sudah melekat dengan sempurna di tubuh Syafa beserta pernak-pernik lainnya.

Make up telah terpoles dengan indah di wajah cantiknya. Rambutnya ditata sedemikian rupa dengan indah. It's so simple. But, penampilan Syafa hari ini benar-benar terlihat sangat sempurna.

Kini Syafa tengah terduduk menghadap sebuah cermin besar di hadapannya. Di belakangnya tampak seorang gadis yang sejak tadi tak henti-hentinya terus memuji penampilan Syafa hari ini.

"Syafa, sumpah lo cantik banget hari ini. Gue yakin, siapapun bisa jatuh cinta saat liat penampilan lo yang kaya gini." Di akhir kalimatnya, ia memeluk Syafa dari belakang dengan manja.

Mendengar ucapannya yang sedikit heboh, Syafa hanya mampu memberikan senyuman tipisnya dan menatap bayangan gadis itu dari pantulan cermin dengan tak habis fikir.

"Gue gemes bett dah. Senyuman lo ini bikin wajah lo keliatan tambah cantik. Kalo gue cowo, fix gue bakal langsung jatuh cinta sama lo." Di akhir kalimatnya ia harus mendapatkan tepukan kecil di pipinya oleh Syafa, membuatnya meringis pelan.

"Mana mungkin lo jatuh cinta sama gue? Kan lo cewe." Refleks Syafa menggelengkan kepalanya tak habis fikir.

"Ya makanya." Ucapnya konyol yang kemudian diiringin kekehan kecil yang akhirnya keluar dari mulut Syafa.

Rishfa. Akhirnya gadis itu berhasil mengembalikan senyuman Syafa yang selama dua hari ini lenyap bak di telan bumi.

Rishfa adalah saudara sepupu Syafa yang juga seumuran dengannya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, dan kini mereka bisa saling bicara kembali di hari spesial untuk Syafa ini.

"Oh ya Syafa. Lo tau? Lo itu cewe yang bener-bener beruntung menurut gue." Ucap Rishfa sembari melepaskan pelukannya terhadap Syafa.

"Euu.. Bukan menurut gue doang sih. Gue yakin semua orang pasti akan nganggep lo cewe yang paling beruntung. Karna lo bakal dinikahi sama cowo kaya S-- Euu maksud gue kaya calon suami lo itu."

Hampir saja ia akan menyebutkan nama dari calon suami Syafa, namun ia segera meralat ucapannya. Dan ucapannya kali ini sukses membuat dahi Syafa mengerut, bingung.

"Kenapa lo bisa ngomong kaya gitu? Emangnya lo tau siapa calon suami gue?" Tanya Syafa.

"Pasti gue tau dong. Kan gue yang bagiin undangan pernikahan lo. So, gue tau siapa calon suami lo." Refleks Syafa bangkit dari duduknya saat mendengar ucapan Rishfa yang satu ini.

Syafa membalikan tubuhnya menghadap Rishfa dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Pandangannya tampak melebar. Sementara Rishfa hanya tersenyum dan menatap Syafa dengan lekat.

"Lo serius tau siapa calon suami gue?" Tanya Syafa yang hanya disambut oleh anggukan kecil dari Rishfa.

"Siapa?" Tanya Syafa lagi.

Sejenak Rishfa terdiam. "Euu.. No no no! Gue gak akan kasih tau lo." Ucapnya seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Heh? Kenapa gitu?" Dahi Syafa semakin mengerut saat berujar demikian.

"Karna om Syan sama tante Sreya ngelarang gue buat ngasih tau lo." Jawab Rishfa seadanya.

Syafa menatap Rishfa jengah. "Tuh kan gak adil. Semua orang tau siapa cowo yang akan nikahin gue. Sementara gue? Gue sama sekali gak tau siapa calon suami gue." Ucap Syafa yang mulai kesal kembali.

Melihat Syafa yang demikian, Rishfa justru malah terkekeh jahil.

"Udah, jangan cemberut. Nanti cantiknya ilang loh." Ujar Rishfa yang justru malah menggoda Syafa.

Syafa mendengus kesal. "Nyebelin!" Ujarnya yang lagi-lagi membuat Rishfa terkekeh mendengarnya.

"Lo gak usah khawatir. Nanti juga lo bakal tau siapa calon suami lo." Ujar Rishfa saat berhasil menyadari raut wajah Syafa yang mulai dikuasai oleh kecemasan dan kegelisahan.

Syafa menatap Rishfa dengan jengah. 'Iyalah, kalo nanti, pasti gue bakal tau. Tapi kan gue mau taunya sekarang.' Batin Syafa.

"Syafa!" Panggil seseorang yang sukses mengalihkan perhatian Syafa, begitupun dengan Rishfa.

"Kenapa, Kak?" Ujar Syafa.

Dev. Pemuda itu berjalan mendekati Syafa. Tatapannya lekat menatap Syafa dan Rishfa secara bergantian.

Seperti Rishfa, Dev juga merupakan saudara sepupu Syafa. Hanya saja usianya dua tahun lebih tua dari Syafa. Untuk itu Syafa memanggilnya dengan sebutan kakak.

"Gue mau ngasih tau lo, keluarga calon suami lo udah dateng. Penghulu juga udah siap." Mendengar ucapan Dev, refleks Syafa melebarkan pandangannya.

Dalam sekejap, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak akibat sempat tersentak. Frekuensi detak jantungnya mulai tak terkendali, begitupun dengan laju pernafasannya. Syafa mulai merasa gelisah kembali. Hingga ia tak mampu menampakan reaksi dan mengatakan apapun.

Lain halnya dengan Syafa, Rishfa justru terlihat lebih antusias. Pandangannya yang melebar tampak berbinar.

'Kok malah gue sih yang gak sabar mau liat calon suaminya Syafa? Ah, dasar gue.' Batin Rishfa. Rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha menahannya.

"Dan gue disuruh om Syan buat jemput lo untuk dateng ke pelaminan." Lanjut Dev yang membuat perasaan Syafa semakin tak karuan.

Jujur, tanpa sadar Syafa merasakan bercak-bercak kebahagian. Namun rasa takut, cemas, dan kegelisahannya sukses mengalahkan kebahagiaannya. Suhu tubuh Syafa tiba-tiba terasa turun drastis. Telapak tangannya terasa dingin sekali.

"Yaudah, tunggu apa lagi? Ayo!" Ujar Rishfa begitu sangat antusias.

"Tunggu sebentar." Ujar Dev yang sukses membuat senyuman Rishfa refleks menyusut.

"Kenapa?" Dahinya tampak mengerut saat bertanya demikian.

Syafa juga tampak mengerutkan dahinya dan menatap Dev dengan bingung. Terlebih saat Dev mulai melangkahkan kakinya mendekati lemari baju Syafa. Dev membuka lemari Syafa dan mengambil sesuatu di dalamnya. Kemudian ia segera menghampiri Syafa kembali.

"Lo harus pake ini saat lo keluar." Ujar Dev yang membuat pandangan Syafa langsung tertuju pada kerundung panjang berwarna putih transparan yang berada dalam genggamannya.

'Heh? Sejak kapan benda ini ada di lemari gue?' Batin Syafa bingung. Pasalnya ia merasa benda itu bukan miliknya. Dan ia pun tak menyadari sejak kapan benda itu berada dalam lemarinya.

Rishfa mengerti mengapa Dev menyuruh Syafa untuk menutupi wajahnya dengan kerudung itu. Untuk itu Rishfa segera mengambil alih kerudung panjang itu dari tangan Dev.

"Yaudah sini, biar gue yang pakein."

Syafa tak menolak saat Rishfa memakaikan kerudung itu di kepalanya. Kerudung panjang itu menutupi wajah Syafa seperti kebanyakan pengantin ala India. You know, guys? Hanya saja busananya yang berbeda.

"Ayo kita keluar," Ujar Dev setelah Rishfa memasangkan kerudung itu dengan sempurna.

Rishfa menggandeng tangan Syafa dan menuntunnya untuk segera melangkahkan kakinya. Kepala Syafa tampak tertunduk saat ia keluar dari kamarnya, membuat wajahnya benar-benar tersembunyi di balik kerudung putihnya.

•••

Pandangan Syafa tertunduk, menatap lantai bernuansa putih itu. Langkahnya yang perlahan, diiringin oleh langkah Rishfa dan Dev yang berada di sebelahnya.

Ketika Syafa menuruni anak tangga yang langsung menuju ruang tamu dimana ia akan melakukan sumpah pernikahan bersama calon suaminya, pandangan semua orang yang hadir disana langsung tertuju pada Syafa.

Pemuda itu. Yang kini sudah duduk di hadapan bapak Penghulu. Tatapan tajamnya mengikat sosok sang calon istri yang semakin mendekat.

Senyuman indah nan manis perlahan hadir menghiasi bibirnya. Sudah sejak lama ia menunggu pertemuan ini, dan hari ini akhirnya semua terjadi sesuai dengan apa yang telah direncanakannya.

Sebenarnya, Syafa bisa saja mengangkat pandangannya untuk melihat wajah calon suaminya. Bahkan ia bisa melihatnya di balik kerudungnya yang transparan. Karena kini wajah itu tidak tertutup apapun, dan tentu bisa diliat dengan sangat jelas. Namun entah kenapa, Syafa memilih untuk tetap menundukan kepalanya.

Semula ia memang sangat ingin mengetahui siapa calon suaminya, namun saat ini seolah kegelisahannya itu berhasil membuatnya tidak berani untuk mengangkat pandangannya untuk menatap wajah calon suaminya itu.

"Ayo duduk, sayang." Ujar Sreya setelah Syafa telah sampai di dekatnya.

Syafa tak menolak saat Sreya dan Rishfa menuntunnya untuk segera duduk di kursi yang bersebelahan dengan pemuda yang sejak tadi terus menunggu kehadirannya.

Bak sebuah magnet, pandangan pemuda itu tak bisa lepas dari sosok Syafa. Sepertinya ia benar-benar mengagumi sosok sang calon istrinya itu.

"Sumpah, aku iri deh sama Syafa."

"Beruntung banget ya jadi Syafa?"

"Aku jadi pengen ada di posisi Syafa deh."

Bisik-bisik tetangga mulai terdengar oleh Syafa. Mendengar itu, Syafa segera menutup matanya rapat-rapat. Seberuntung apapun dirinya menurut orang lain, tiba-tiba saja justru Syafa merasa belum siap berada di posisi ini.

Padahal, sebelumnya ia meminta agar acara ini dipercepat secepat mungkin. Namun ketika ia sudah sampai di momen ini, justru ia merasa ragu.

Patah hatinya yang membuatnya demikian. Lagi-lagi wajah Siddharth harus menguasai pikirannya saat ia harus menutup matanya rapat-rapat.

Sial! Didetik-detik terakhir ini, mengapa Syafa harus mengingat Siddharth kembali? Apakah semuanya akan berjalan dengan lancar jika Syafa sendiri tak bisa mengusir bayang-bayang Siddharth di dalam fikirannya? Jujur saja Syafa pun tak tahu akan hal itu.

"Sebelum dimulai. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada kedua mempelai." Ucap Penghulu membuka acara.

Suasana sakral itu mulai semakin terasa dengan jelas. Semua orang tampak serius, namun senyuman masih menghiasi bibir semua orang. Pandangan sang mempelai pria sudah teralih menatap bapak Penghulu, sementara sang mempelai wanita masih enggan mengangkat pandangannya.

"Calon mempelai pria, apakah kau menerima nak Syafa Rien Naura sebagai istrimu?" Tanya sang Penghulu dengan ramah dan penuh dengan senyuman.

Tak ada jawaban melalui suara. Namun sang mempelai pria segera menganggukan kepalanya dengan perlahan tanda ia menerima Syafa sebagai istrinya kelak. Sebuah senyuman semakin mengembang dengan bebas di bibirnya.

"Sumpah, senyumannya manis banget sih?" Bisikan tetangga kembali berhasil sampai di telinga Syafa.

Mengapa semua orang seolah sangat kagum terhadap calon suami Syafa? Sepertinya Syafa masih tak mau peduli akan hal itu. Syafa masih sibuk mengendalikan perasaannya yang terasa semakin tak karuan.

Setelah mendapatkan jawaban pasti dari sang mempelai pria, pandangan Penghulu mulai teralih kepada Syafa. Sementara Syafa masih tetap tertunduk.

"Nak Syafa, apakah kau akan menerima calon suamimu nanti? Siapapun dia dan bagaimanapun keadaannya?"

Lihatlah, sepertinya Penghulu pun ikut andil dalam rencana perjodohan ini. Sebelumnya beliau menyebutkan nama Syafa di hadapan sang mempelai pria. Namun saat bertanya kepada Syafa, justru beliau tidak menyebutkan nama sang mempelai pria. Bahkan pertanyaannya pun tampak berbeda.

Pandangan sang mempelai pria kembali terarah pada Syafa. Menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Syafa. Sejenak Syafa terdiam.

Seperti calon suaminya, Syafa hanya menganggukan kepalanya perlahan demi menjawab pertanyaan Penghulu. Membuat senyuman indah di bibir sang mempelai pria semakin mengembang.

"Alhamdulillah," Sambut sang Penghulu saat mendapatkan jawaban dari Syafa, begitupun dengan Syan dan Sreya.

Syan dan Sreya benar-benar merasa lega setelah mendapatkan persetujuan dari Syafa. Mereka benar-benar bahagia atas keputusan Syafa itu.

Sebelum melakukan akad, ada satu hal lain yang harus dilakukan. Yaitu penandatanganan semua berkas-berkas dan buku pernikahan.

(Sebenernya urutannya nggak kaya gini. Harusnya penandatangan buku nikah itu setelah ijab kabul pernikahan. Tapi, mungkin hanya di About S yang urutannya berbeda.😁 Karna gimanapun, sekali lagi ingatlah, cerita ini hanya berupa fiktif belaka. Okay?😉)

Sebenarnya, ini kesempatan besar bagi Syafa untuk mengetahui siapa nama calon dari suaminya. Karena seperti yang sudah diketahui, nama kedua mempelai pengantin pasti sudah tertera dengan jelas di buku pernikahan dan berkas-berkas lainnya.

Namun entah kenapa Syafa masih belum berani untuk mengetahuinya. Bahkan saat ia menandatangani semua berkas dan buku pernikahan itu, ia sama sekali tak melirik ke arah nama calon suaminya, meskipun hanya sekilas.

Syafa merasa, mengetahuinya sekarang atau nanti, itu akan sama saja. Ia akan tetap menjadi istri dari pemuda yang kini berada di sampingnya. Bahkan sebelum sah, ia merasa tak akan bisa menolaknya lagi.

"Baiklah, semuanya sudah selesai. Mari kita lanjutkan ke acara inti. Yaitu akad pernikahan." Ungkap sang Penghulu setelah semua berkas telah ditandatangani oleh kedua mempelai pengantin beserta walinya.

"Nak, mari jabat tangan saya." Penghulu mengulurkan tangannya ke arah mempelai pria dan langsung mendapatkan jabatan.

Di balik kerudungnya, Syafa kembali menutup matanya rapat-rapat saat Penghulu mulai mengucapkan kalimat ijab terhadap sang mempelai pria.

Saat Penghulu menggerakan tangannya sebagai tanda, mempelai pria segera menyeru melengkapi kalimat sumpah pernikahan itu.

"SAYA TERIMA NIKAHNYA SYAFA RIEN NAURA BINTI SYANDANA ANDREAS DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI."

Mendengar kalimat itu keluar secara lancar dari mulut calon suaminya, refleks Syafa membuka matanya. Syafa merasa tersentak bukan main saat menyadari satu hal.

Seolah ada aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhnya dan berakhir tepat di dinding hatinya. Wajah Syafa menyiratkan rasa syok dengan jelas.

'Suaranya.. Kenapa suaranya..' Hanya membatin saja Syafa tak bisa melanjutkan kalimatnya. 'Gak mungkin. Gue kan baru pertama kali denger suaranya.' Batin Syafa lagi.

"Bagaimana para saksi? Sah?" Tanya Penghulu.

"Sah!" Mata Syafa kembali tertutup saat mendengar seruan semua orang yang menyaksikan akad pernikahannya.

"Alhamdulillah. Barakallah....." Penghulu melanjutkannya dengan kalimat doa pernikahan dan sebagainya juga. Yang kemudian langsung di-amin-kan oleh semua orang.

Begitupun dengan kedua mempelai pengantin, keduanya menengadahkan kedua tangannya dan berdoa untuk perjalanan rumah tangganya kelak.

'Tuhan, jadi begini rasanya ada di posisi ini?' Batin Syafa. Hanya dalam sekejap, Syafa merasakan perbedaannya. Hanya karena satu kalimat, kini statusnya telah berubah. Kini ia telah menjadi istri dari seseorang, membuatnya telah diberikan tanggung jawab yang baru dan begitu besar.

———

Duh gambarnya😂 Jomblo tahan, jombs😁

Buat peran Rishfa dan Dev, no visual cast ya? Soalnya mereka cuma cast kilat doang, kaya Daehan. Lagipun, males nyarinya.🤣

Gimana, seru gak ceritanya? Atau masih penasaran? Jgn khawatir, hari Senin up lagi ko😄 Oke deh, thx ya dah baca and see you next part!🤗😍

Continue Reading

You'll Also Like

124K 7.6K 48
Aku terjebak dalam satu kondisi, di mana raga ku bersama mu, namun hatiku menjadi miliknya. Haruskah ku terima kamu dengan lapang? Sedang hatimu pun...
51.2K 2K 75
Mencintaimu adalah hal terindah Merindukanmu sudah pasti kurasa Memilikimu hanya impian semata Bersamamu adalah harapanku juga ~Rianty Febriana~ Ini...
84.2K 6.8K 41
aku mencintainya dan dia mencintaiku kami menikah seperti layaknya pasangan saling mencintai. terlihat hangat di luar tapi terasa sakit di dalam. itu...
3.4K 552 18
Fani gadis bar bar dengan intelegensi di bawah rata-rata, namun ceria dan juga pantang menyerah. Farel laki-laki terpintar di atas rata-rata, dingin...
Wattpad App - Unlock exclusive features