ZERA

De curahsemi

1.7K 1.2K 3.6K

Kita bisa, cuma nggak gerak aja. Bolak-balik antara Jerman dan Indonesia ternyata tidak mudah. Hamburg adalah... Mais

Bab 2- Empat Bulan : Teori
Bab 3- Lukisan
Bab 4- Kertas Usang
Bab 5- Lebih Baik Tidak Tahu
Bab 6- Pergi dan Sedikit Sean Ghaida
Bab 7- Ternyata Masa Lalu Belum Berakhir
Bab 8- Pergi dan Menolak Bukan Berarti Menghindar
Bab 9- Gelang dan Hari Kesedihan
Bab 10- Kedatangan Hal Baru
Bab 11- Pembicaraan Buruk
Bab 12- Teka dan Teki
Bab 13- Stasiun Yogyakarta
Bab 14- Tentang 'Gapapa'
Bab 15- Segelintir Cuplikan
Bab 16- Aku Tak Menyambutmu
Bab 17- Memilih Pulang Atau Tidak
Bab 18- Pertemuan yang Dinanti
Bab 19- Scene Kacau
Bab 20- Will dan Everhart yang Membingungkan
Bab 21- Pilihan dan Pilihan
Bab 22- Penghuni Langit Malam
Bab-23 Matahari dan Bulan
Bab 24- Kembali Lagi

Bab 1- Sekolah, Martabak, dan Kedai

360 170 450
De curahsemi

Ini lembar pertama perjalanan hidupku.

***

Dari hari sebelumnya, akhir-akhir ini sekolahku tengah di gemparkan permainan unik yang bisa di mainkan hanya menggunakan kertas. Kertas? Iya kertas, kita menulis beberapa nama orang di kertas itu. Lalu melakukan cara-cara yang menjadi jalan permainan ini, nanti akan ada satu orang yang dijadikan sebagai kekasih kita. Hanya untuk bersenang-senang. Camkan itu!

"Gin,"

"Iya?"

"Pengen ke Magic Shop deh."

"Magic Shop? Tempat apa tuh?"

"Tempat paaaaaling nyaman," Ghaida merentangkan tangannya dihadapanku. Ah, hampir saja aku lupa memperkenalkannya pada kalian. 

Ghaida Ana Putri Kaniraras. Ghaida, gadis cantik yang memiliki seratus persen darah Jawa itu adalah teman kecilku. Ah tidak, jangan berpikir kami sudah berteman sejak orok, itu salah. Aku menganggapnya teman kecil karena sifatnya yang kadang kala membuat dirinya tidak ingat sudah berumur 17 tahun. Kami baru saja berteman sejak satu tahun yang lalu. Tepatnya, saat bencana alam besar melanda kota kelahiran Ghaida. 

Sangat-sangat menyedihkan. Para kesayangan Ghaida harus bertemu lebih cepat oleh Sang Maha Pencipta secara bersamaan. Kebetulan saat itu, aku dan ibuku menemukan Ghaida tengah duduk di atas pohon mangga memainkan kakinya yang mungil nan putih itu sembari menatap orang-orang yang berlalu lalang sedang mencari korban meninggal dan luka gempa bumi saat itu. Heran, kenapa tidak seorang pun yang menegur Ghaida yang saat itu duduk di pohon mangga, meliriknya saja sepertinya tidak ada. Awalnya, sempat aku pikir Ghaida adalah hantu. Haha, konyol sekali bukan?

Keputusan akhir, aku dan ibuku membawanya pulang ke rumah. Bahkan sampai saat ini aku dan Ghaida tidur di ranjang yang sama. 

"Magic Shop itu tempat paling tersembunyi dimana kita bisa istirahat dengan enak, dan ga akan ada yang ganggu kita." Ucap Ghaida.

"Ohh, maksud kamu alam kubur?" 

"Heh! astagfirullahalazim Gina," Ghaida berdiri dan langsung menatapku horor.

"A-apa? Ada yang salah emangnya?"

"Ya kalo ada di dunia, coba aja kamu naik ojol ke, ke mana tuh? Magic Shop ya?" Sambungku. Oh astaga, sepertinya aku salah bicara lagi. 

"Huuup..fyuhhh. Gina,"

"Iya?" 

"Magic Shop itu memang ada, tapi sayangnya gak nyata."

***

Pulang sekolah, dengan tiba-tibanya aku dipanggil Bu Kasih ke kantor. Oh astaga sepertinya ini kabar buruk bagiku. Bu Kasih dulu terkenal dengan kesederhaannya dibanding dengan guru lain, tapi lihat dia sekarang, make up tebal, jilbab dengan punuk unta sepuluh centimeter, sepatu tinggi hitam dan dipadu dengan warna emas dibagian belakangnya. Sepatu macam apa itu? 

Hembusan angin malam telah membawakan suasana hangat di bale belakang rumahku. Kejadian sore tadi, sepertinya akan membuatku tidak tidur malam ini. Padahal hanya masalah kecil.

***

"Apa kamu punya masalah keluarga lagi?" Ujar Bu Kasih, tidak kasar memang, tapi cukup menyakitkan. 

Tidak usah dipertanyakan kenapa Bu Kasih lagi-lagi membawa kata keluarga, toh, bukannya guru itu bisa melihat keadaan Ghaida dan bisa tahu sedang ada tidaknya masalah dikeluargaku? Tidak, sebaiknya buang prasangka itu jauh-jauh. Bu Kasih tidak mengetahui tentang Ghaida dan keluargaku. Itu akan menjadi privasi dan terus akan privasi.

"Nilai kamu lagi-lagi turun Gina."

"Apa kamu tidak malu dengan teman-temanmu karena mendapat ranking terakhir saat pembagian raport lalu?" Ucap Bu Kasih menyelesaikan kalimatnya.

"Tidak. Untuk apa saya malu?" 

"Hanya karena nilai, saya jadi malu? Maaf, itu bukan prinsip hidup saya, Bu." Kuangkat jari telunjuk saat itu dan mengarahkannya ke arah diriku sendiri. 

"Saya tidak peduli dengan itu!" Tangkas Bu Kasih sambil melemparkan tatapan tajam ke padaku. Jelas saat itu aku langsung terdiam, keringat dingin mulai terasa di telapak tangan, dan bibir terasa begitu kelu. Ah, apa setelah ini Bu Kasih akan melayangkan satu pukulan untukku?

Sebelum suasana benar-benar memanas, saat itu aku berpikir sebaiknya aku meminta maaf lebih dulu.

"Maaf," 

"Maaf lagi?" Ucap Bu Kasih dengan nada bicara yang tidak berteman. Jelas saat itu aku juga kembali terpancing emosi. Ada apa sebenarnya dengan guru itu? 

"Saya bosan dengan kata maaf kamu Gina. Bahkan saya tidak suka mendengarnya." 

Aku tersenyum sebentar, "Itulah orang-orang sekarang-" Ucapanku berhasil membuat Bu Kasih menoleh. 

"Kata maaf itu tidak ada harganya lagi. Memang, kata maaf itu benar-benar sulit diartikan. Maaf hanya datang ketika ada seseorang melakukan kesalahan, setelah itu hilang dalam sekejap. Sebenarnya mengucapkan kata maaf itu percuma, jika kesalahan yang dilakukannya kembali terjadidi  hari esok. Belum lagi, orang minta maaf pasti akan di pandang losser. Miris sekali jaman ini," 

Tanpa pamit, Bu Kasih beranjak dan pergi meninggalkanku seorang diri didalam ruangan ber-AC yang entah akan menyala dua puluh empat jam atau tidak. Setelah terdiam sejenak, aku bergeser sedikit hingga menampakkan baju yang berantakan nan lusuhku di kaca. Apa kamu ini punya kekuatan rahasia kalau sedang bicara, Gin? Jangankan Bu Kasih, Oneng, si kucing tetangga sebelah saja bisa langsung nge-cancel buang kotorannya jika aku berbicara pelan di depannya. 

"Keren gak sih kalo aku ngomong sok puitis kayak begitu?"

"Ah, apaan sih Gin, orang keren banget gitu."

Ayo cepat pulang sebelum sekolahnya tutup, ayo cepat pulang sebelum langit disana gelap, ayo cepat pulang sebelum tidak ada angkot yang berlalu, ayo cepat pulang sebelum kamu ketemu jambret Gina, kalimat itu terus melintas dipikiran Gina saat sedang berjalan di koridor sekolah. 

"Kamu saya drop out." 

Aku jelas sangat tersentak. Karena aku adalah makhluk biasa seperti manusia pada umumnya, kepo itu tidak dilarang bukan? Baru saja ingin mendekati ruangan yang ku duga adalah sumber suara tadi, seorang pria berpakaian putih abu-abu dengan jaket hitamnya tiba-tiba menampakkan dirinya keluar dari ruangan itu. Ia berlalu begitu saja bak tidak melihat keberadaan Gina. 

"Loh, Gina?" 

"Eh i- iya pak?"

Kenalkan, ia adalah Pak Entis, anak dari ketua yayasan sekaligus pengurus bidang kurikulum disekolah ini. Suara tadi, sepertinya memang suara beliau.

"Kamu ngapain masih disini?"

"Ini saya mau pulang kok, Pak." 

Guru itu hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkanku, persis seperti Bu Kasih tadi. Menyebalkan.

***

Ibu menyondorkan uang kepadaku yang sedang mendengarkan air hujan yang disertakan gemuruh dibelakang rumah. Ibu sudah memang sangat mengenalku, haha iyalah kan ibu kamu Gin. Saat hujan seperti ini, spot utama dan ternyaman yang aku kunjungi memang adalah belakang rumah. Tidak ada yang menarik disana, melainkan hanya ada bale dengan atap sederhana di atasnya. 

"Ibu mau dibeliin apa? Martabak lagi?"

Senyum malu mewarnai wajah wanita yang berumur menginjak kepala empat itu. "Iya nanti Gina beliin pas hujannya udah reda," 

"Gina suka banget sama air hujan deh. Ya, sukanya tuh emang suka banget gitu. Andaikan air hujan itu bisa di sewa, pasti Gina setel terus tiap hari." 

"Kamu pikir lagu? Main setel-setel aja," Sahut Ibu. 

 Aku langsung terdiam. Membuat air hujan menjadi milik sendiri itu memang mustahil, bahkan monyet saja tahu akan hal itu. Sebenarnya tidak ada yang tahu kapan hujan itu turun. Hujan itu sudah terjadwal. Terjadwal untuk datang kepada orang-orang yang membutuhkannya. Ya, seperti aku misalnya.

Seperti yang aku janjikan tadi, aku pergi ke seperempat jalan yang tidak jauh dari rumah. Ghaida tidak bisa mengantar karena ada urusan penting. Katanya...

Sambil menunggu giliran, Gina duduk tepat didepan toko ikan hias yang lumayan banyak dikunjungi orang-orang entah membeli atau sekedar mencuci mata melihat ikan-ikan.

"Pak, dimana roko Agung di dieu?" Ucap seorang bocah kepada ayahnya, si penjual martabak.

Ah, miris sekali. Dilihat dari postur tubuhnya, anak itu masih berumur berkisaran sembilan atau sepuluh tahun. Tapi kenapa ia mencari-cari benda mematikan macam itu? Aku terus memperhatikan gerak-geriknya yang masih sibuk mencari rokok.

"Ha- hay," 

Anak itu menoleh dan menampakkan wajah songongnya kepadaku. 

"Kamu lagi cari apa?" 

Ya ampun, kenapa berbicara kepada anak ini terasa begitu sulit dibanding berbicara dengan guru BK di sekolah. 

"Abdi milarian roko."

Aku mengangguk, "Hm, adek tau nggak?" 

Anak itu menggeleng. Gina berusaha menjelaskannya pelan-pelan dan memberi tahu betapa berbahaya nya benda itu untuk kesehatan manusia. Bersamaan dengan itu, Gina sempat melirik sekilas ke arah seorang pria yang datang dan memesan martabak ke ayahnya Agung. Bahkan ia juga melirik ke arah Gina. Cukup lama.

"Daripada adek konsumsi benda kayak gitu, mending adek makan-" 

Ah sial sekali, padahal seingatku, ada segagang permen rasa coklat di kantung jaket. Nahasnya, saat ku coba cari lagi, tidak membuahkan hasil. Permen itu hilang entah kemana. 

"Makan naon?" 

Jujur saja, aku seperti orang yang sedang berhadapan dengan seorang penjahat hingga membuatku sedikit gugup terhadap anak ini. Ah, tenang Gina, cuma anak kecil kok. Masa badan sampe gemeteran gini sih.

"Makan ini aja,"

Seorang laki-laki hadir di hadapan kami berdua dan memberikan es krim cup berukuran kecil kepada anak kecil berslogat sunda yang bernama Agung. Anak dari penjual martabak itu langsung mencabik es krim dan membawanya kabur tanpa berterima kasih. Tanpa berpikir, Gina langsung menghampiri sang penjual. Ya, sebenarnya menghindar dari pria itu juga. 

"Ini neng pesenannya, hatur nuhun.

"Iya pak sama-sama."

Entah apa yang membuat Gina tetap berada disamping bapaknya Agung ini. 

"Pak?" 

"Eh iya neng, kenapa? Ada yang kurang ya?"

"Bukan,"

"Bilangin Agung ya pak, jangan ngerokok, bahaya." Ucapku pelan. 

"Iya neng, saya sudah bilangin Agung buat nggak ngerokok, tapi ya gitu. Semenjak ibunya pergi, Agung jadi bandel banget neng, buat dengerin omongan saya juga begitu, hese pisan.

Sehabis berbincang singkat tentang Agung, Gina langsung pamit pulang, khawatir orang rumah menunggu. Tapi saat perjalanan menuju rumah, laki-laki di warung martabak tadi terlihat berjalan di belakangnya. Gadis berhoodie hitam itu masih berusaha untuk berpikir positif, siapa tahu saja rumah pria itu searah dengan rumahnya.

"Eh, tunggu!"

Ya, Tuhan, cobaan apalagi ini? Kenapa lagi-lagi engkau mengirimkan orang yang tak kunali sama sekali dan datang di waktu tak terduga ke padaku? Ku harap, scenario kali ini indah.

"Kamu cewe yang tadi disekolah, bukan?" Ujar pria itu dan membuat Gina tercengang sebentar. 

"Kalo emang aku cewenya, berarti kamu cowo yang pake jaket hitam keluar dari ruangan dan bablas gitu aja lewat depan aku?" 

"Iya,"

Hey, jarang sekali kutemukan seorang pria yang nada bicaranya lembut seperti ini. Ah, kamu nih kebanyakan baca novel, jadinya ya begini, halunya kebawa ke dunia nyata. Gina tidak pernah segugup ini sebelumnya, bahkan melebihi rasa gugup terhadap Agung tadi.

"Aljazee Aghuna,"

Aku tidak langsung membalas uluran tangannya. Ya dengan alasan karena aku memang tidak mengenalnya. Aku tidak suka pertemuan. Lebih baik aku tidak merencanakan untuk mengenalnya lebih jauh. Aku ingin menciptakan kisah baru yang indah. Bukan, aku bukan menuduhnya akan menciptakan kisah buruk untuk kehidupanku kedepannya. Tapi perasaanku saat ini sangat berbeda, biasanya aku langsung merasakan ini baik untukku dan ini buruk untukku. Tapi ini, tidak. Aku tidak bisa menebaknya. Bahkan menyerah...

"Gina Ayusha," 

"Gina?" Ucap pria itu. 

Aku mengangguk. Ingin menyebut namanya juga, tapi sulit sekali.

"Zera," 

Biar ku jelaskan, Zera terlihat seperti pria yang baik-baik, badannya sehat bugar, memiliki tubuh yang tinggi, warna kulliltnya tidak hitam dan tidak putih juga, gaya pakaian yang cukup fashion-able, bibirnya merah, ah orang ini pasti tidak pernah merokok. Eh kenapa aku berbicara tentang bibirnya? Konyol sekali!

"Kelas 11?"

"Iya,"

"Semangat belajar nya."

"Ha?" Beo Gina.

"Ya, ga usah kamu bilangin juga aku udah tau kali,"

Zera mengiyakan ucapan Gina. Biar cepat. Sama-sama tidak sadar, keduanya sudah berjalan tak tentu arah. Perlu beberapa menit hinga sampai di depan rumah Gina dengan diiringi alunan ocehan Zera yang tak kunjung henti. Padahal sepanjang itu tidak ada kalimat yang pas dengan keadaan keduanya saat ini.

Ini pertemuan yang tidak jelas, tapi nyata. 

"Zera, aku mau pulang." 

"Yaudah tinggal pulang,"

"Lah kamu sendiri, buat apa kamu masih disini?" 

Zera terdiam sebelum beralih memandangi sekitarnya. "Aku lupa pulang,"

***

Seperti orang pemilik indera ke enam, tanpa bertanya langsung terhadap ibu, Gina bisa melihat tanda tanya besar di benak sang wanita yang tengah memakai daster lengan panjang berwarna coklat tua itu. Zera duduk terdiam disamping Gina saat ibu menatap kearahnya. Pintu rumah terbuka dan menampakkan Ghaida dengan pakaian serba hitam.

"Siapa, Gin?"

"Gak tahu. Gak kenal juga,"

"Tapi tadi kita udah kenalan," Sahut Zera.

"Ya, kita emang udah kenalan. Tapi baru kan? Aku gak kenal kamu, Zera." 

Ke-empatnya terdiam, membiarkan suara air hujan yang menyelimuti. Tiba-tiba, Zera, pria yang baru Gina temui saat disekolah tadi pergi dan menerobos hujan deras diluar. Ga ada yang harus aku lakuin kan? Pria itu memang tidak seharusnya disini.

"Dia siapanya kamu sih, Gin?" 

Gina melemparkan tatapan mautnya ke Ghaida, "Heh! Dia? Siapa nya aku? Aku sama dia aja baru ketemu tadi pas di sekolah, terus baru kenalan pas beli martabak." 

"Kok bisa masuk ke kandang kita?"

"Ngepet kali,"

***

Aku  memandang secangkir cappuccino, membiarkan orang-orang menatapku, karena bajuku yang basah. Mungkin. Gina, seseorang yang sangat aku harapkan menjadi penyemangat, ternyata sama saja seperti yang lain. Kenapa? Kenapa Kau harus mentakdirkan orang-orang membenciku? Apa yang Kau mau? Ingin aku mewujudkan keinginan Bunda? Melanjutkan pendidikan di Jerman sekaligus nyusul Ayah disana? Ah, bagaimana bisa, aku melakukan kesalahan kecil saja di drop out dari sekolah.

Haduh, hampir 2 jam Zera duduk di kursi yang berada di sudut kedai coffe ini. Ya, kerjaannya cuma diam dan menatap balik orang-orang yang menatap ke arahnya. Waspada lebih baik daripada Curiga. Tertulis, Zera, 13 November.

"Mas, masih lama ya minumnya?" 

"Iya,"

"Mas nya gak pulang? nanti di cariin istrinya loh," Ucap barista laki-laki itu blak-blakan.

"Istri?" Sahut Zera sembari mengerutkan alisnya

"Saya masih bujang, enak aja dibilang udah punya istri."

Gelagat si pelayan menjadi kaku. "Ya, ya sudah, intinya masnya mau pulang gak? Kedainya mau tutup." 

"Tapi, kalau mau nginep disini sih gapapa," Sambung barista itu dengan nada pelan. Tapi percuma saja, toh, Zera memiliki telinga yang normal dan tentu mendengar ucapan lelaki dengan pakain berwarna coklat muda itu. Bensen . Zera melirik name tag nya.

"Boleh,"

"Boleh apa?" Spontan Bensen langsung menyahut.

"Tadi situ nawarin saya nginep disini kan? Oke, saya mau."

Bensen langsung kembali pergi masuk kedalam ruangan kerja. Tak lama, ia kembali dengan pakaian yang berbeda. Menjadi sosok yang bukan seperti barista, justru sama seperti Zera, sebagai pelanggan.

"Beneran mau nginep disini?" 

"Iya."

Bensen merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan beberapa kunci. Ia menaruh kunci-kunci itu di hadapan Zera. "Ini kuncinya. Nanti tungguin beberapa karyawan aja, bentar lagi juga pada pulang kok. Terus nanti jangan lupa pasang rante di parkiran, biar ga ada yang parkir sembarangan, dan yang terpenting jangan lupa juga gembok pintu dari dalem. Oke, Bro?" 

Zera mengangguk. "Oke,"

"ID line?" Bensen menyondorkan ponselnya.

"Belum download, lupa" 

"Kalo gitu, nomor telfonnya."

"Nomor telfon gue, masih nomor telfon Jerman."

***

Ada orang bilang, "Seseorang yang baru kita temui itu akan sulit dilupakan daripada orang yang setiap waktu kita lihat". Hey, aku tidak percaya, tapi malah menjadi kenyataan. Sial!

"Gin, hari ini kayak biasa ya."

"Kenapa? Pulang telat?"

"Iya,"

Gina lantas tersenyum mendengar jawabannya. Ya, seperti biasa. Ghaida itu orang yang superaktif, tapi tersembunyi. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Gina tanyakan pada gadis berdarah Jawa itu. Tetapi tidak, Ia juga sadar akan posisinya di kehidupan Ghaida. Satu tempat tinggal dengan orang lain, belum tentu kita menjadi hal penting bagi orang itu.

Kini, Gina duduk diam sambil melanjutkan menulis karangan cerita yang sudah di buatnya dari 2 tahun lalu. Suasana di kelas yang sejenak menjadi sunyi membuatnya teringat sesuatu. Ah, bukan sesuatu, melainkan seseorang. Zera. Iya pria itu. Gadis berumur 17 tahun itu tak sadar dan terbawa dalam suasananya. 

Di sisi lain, Ghaida melihat Gina yang melamun di pojok kelas membuatnya tertawa pelan. Tumben banget nih anak ngelamun. Beberapa menit berlalu, Ghaida duduk disamping Gina yang masih pada posisi awal. Sepertinya gadis ini sudah hanyut dalam pikiran yang kosong. Apa aku kagetin aja ya? Tapi kasihan, nanti capek. Jantungnya.

"Gin?"

Gina bergumam. "Hm, iya? Kenapa?"

Ghaida terdiam sekaligus terkejut bukan main. Ya iyalah, bayangkan, dari tadi kalian melihat orang yang benar-benar diam tak bergerak seperti tak bernyawa, hembusan nafas saja bahkan tidak terdengar, lalu kalian panggil dia. Dan dia, menyahut. 

"Kamu ngelamun apa gimana sih? Bikin bingung aja,"

Gadis disamping Ghaida itu tersenyum. "Ga ngelamun kok,"

"Cuma, tiba-tiba ada orang yang singgah di pikiranku, kita saling menyapa sebentar, setelah itu dia hilang." 

Ghaida tercengang, tak paham. Kalau Gina sudah berbicara dengan bahasa puitisnya seperti itu, rasa-rasa ingin tenggelam dari bumi itu ada. 

"Aku ga paham,"

"Nasib."

Hadirnya Pak Wiyoto membuat perbincangan keduanya terhenti. Dengan Ghaida yang masih bingung dengan kalimat yang di ucapkan Gina, dan Gina yang masih tersenyum tipis mengingat wajah seorang pria.

Pulang sekolah, Gina memutuskan untuk pergi ke kantin membeli es batu titipan Ibu. Tadi pagi mereka merencanakan akan membuat es cappuccino dan pizza, tapi versi lebih irit dan murah.

Selepas keluar dari kantin, aku mendapati seorang gadis yang sepertinya blasteran asing, berjalan ke arahku sambil membawa beberapa buku di tangannya.

"Nama kamu, Gina ya?"

Aku mengangguk, sembari melindungi plastik berisi es batu dari sinar matahari yang sedang melekat siang ini. "Ada apa ya?"

"Ah ini, kebetulan kamu kan jurusan IPA, aku boleh minta tolong?"

"Minta tolong apa?"

"Ajarin aku materi tentang simbiosis dong,"

Aku terkejut, benar-benar terkejut. Bagaimana bisa aku mengajari seseorang kalau namaku saja berada di paling bawah dalam urutan ranking kelas? 

"Aku emang anak IPA. Tapi, IPA nya ya, IPA begitu. Ga ngerti apa-apa," 

"Masa sih? Jangan bohong, kamu keliatannya pinter banget kok."

Dari sini aku semakin mengerti, orang-orang memang selalu melihat kita dari sampul, bukan dari jati diri sebenarnya. Pantas saja sekarang-sekarang ini  banyak korban php. Ya itu, karena mereka hanya pintar menilai seseorang dari penampilan, tidak pintar dalam mengetahui sifat dan wujud asli seseorang yang sebenarnya. 

"Mau ya ajarin aku?"

Belum sempat  menjawab, aku ditarik paksa oleh gadis yang belum aku ketahui namanya itu. Dia berjalan tergesa-gesa membawaku ke ruang kelas di lantai dua. Di dalam kelas, dia langsung duduk dan aku mengikutinya saja. 

"Nama aku Aya," Ujarnya sembari membuka buku IPA Biologinya di hadapanku.

Setengah jam lebih kami saling bertukar obrolan tentang materi. Tadinya kupikir Aya benar-benar tidak paham dengan materinya. Ternyata dia sudah sangat paham, bahkan pahamnya di luar kepala. Kalau begini, untuk apa dia membutuhkanku? 

Sambil memerhatikan Aya yang sedang mengerjakan latihan soal, bola mataku mendadak membesar dua kali lipat dari biasanya. Karena apa? Iya, karena melihat es batu yang kubeli di kantin, sudah tumpah di lantai kelas. Ah, sepertinya tadi tergores sesuatu tanpa sepengetahuanku, jadinya bocor dan sekarang airnya berantakan kemana-mana. 

"Aya?"

"Iya- Eh! Ini air apa?"

Gina tertawa hampa. Beberapa detik setelahnya, Aya langsung mengemas semua barang-barang yang ada di meja membuat mata Gina terus memerhatikan gerak geriknya.

"Mau kemana?"

"Gin, ayo kabur!"

"Hah?"

Kami berdua benar-benar kabur dari kelas. Di sela-sela itu, "Kamu kenapa ngajak aku kabur?" Ucap Gina pada Aya masih berlari disampingnya. 

Setelah sampai di pos satpam sekolah, dengan nafas seadanya Gina kembali bertanya. "Aya?" 

"Ha? Iya?" Ternyata nafasnya keduanya masih tersengal-sengal.

"Kamu kenapa ngajak aku kabur?"

"Bahaya, Gin."

"Bahaya apa?"

"Kayaknya tadi air pipisnya babi ngepet deh,"

***

Gina melambaikan tangannya ke arah Aya yang tengah duduk di motor ojek online sambil memakai helm. Perasaan Gina saat ini campur aduk, antara senang bisa berkenalan dengan Aya, seorang gadis berblasteran yang ternyata memiliki sifat konyol, dan disisi lain Gina khawatir akan ibunya yang pasti tengah menunggunya di rumah. 

"Langsung beli cappuccino nya yang asli aja deh," 

Aku melanjutkan langkah, memaksakan pergi ke kedai coffe seorang diri di tengah-tengah awan yang mulai gelap, diselingi dengan angin dingin yang langsung membuat bulu kudukku berdiri. Mendekati kedai coffe,suara riuh dari jalanan bertambah ramai. Tak sedikit pengguna motor yang menggunakan kecepatan diatas rata-rata. Mungkin khawatir akan turun hujan yang deras. 

Di hadapanku kini berjejer rapih menu-menu sederhana dari dessert yang tersedia. Ku tunjuk menu cappuccino yang harganya hanya sepuluh ribu rupiah satu porsinya.

"Atas nama siapa, Kak?"

"Gina,"

"Kaka tunggu meja nomor tiga ya, nanti kami antar ke sana,"

Ya, namanya juga manusia irit ngomong, Gina hanya mengangguk sembari memberikan senyuman tipis kepada sang kasir. Sepuluh menit berlalu, suara derap orang berjalan mendekati Gina.

"Pesanan tiga cappuccino atas nama Kak Gina, ya?" 

"Iya,"

Saat aku mendongakkan kepala, bertepatan mata kami bertemu. Sama-sama merasa tidak asing antar keduanya.  

"Loh, Gina?"

"Zera?"

"Kamu yang mesen ini?"

"Iya,"

Zera memberikan pesanan Gina dengan hati-hati. Canggung. Sangat canggung. 

"Yaudah aku langsung pamit pulang ya," 

Di saat yang bersamaan, tubuh tinggi milik Zera menghalangi Gina yang hendak pergi. 

"Ngobrol sebentar dulu gimana?"

Pilihannya cuma dua, tidak ngobrol bersama Zera, tapi sampai rumah dengan cepat dan bisa bawakan cappuccino untuk Ibu atau ngobrol bersama Zera, tapi membiarkan Ibu yang menunggu lama kepulangannya. 

"Hm, kayaknya aku langsung aja deh, Zer. Soalnya udah di tungguin sama Ibu,"

"Gitu ya?"

Melihat kekecewaan yang terpancar dari wajah Zera, membuat Gina kembali berpikir.

"Oke. Lima menit,"

Keduanya kembali duduk. Tapi nyatanya, tidak ada yang membuka obrolan, membuat Gina malah merasa tak nyaman. Apalagi, sorot mata Zera yang kini terus memandangnya.

"Katanya tadi mau ngobrol?"

"Gak tahu. Bawaannya beda aja gitu pas duduk sama kamu disini, Gin."

"Sisa satu menit,"

"Besok, janji  kesini lagi ya, Gin. Aku mau masuk dulu,"

Gina melihat punggung Zera yang menjauh.

Dirinya mengangguk, setuju.

***

Continue lendo

Você também vai gostar

432K 17.7K 49
#542 in Teenfiction [27 Maret 2019] #749 in Teenfiction [31 Juli 2018] Elvira Syakira, gadis pindahan dari Yogyakarta. Hidupnya sangat tercukupi, bah...
90.6K 5.6K 30
Minim konflik CERITA FIKSI!!! JANGAN DIBAWA KE DUNIA NYATA maaf kalo tulisannya gak bagus,jalan ceritanya gak menarik dan gak nyambung. Masih belaj...
35.4K 2K 18
Memiliki tuntutan orangtua untuk menjadi unggulan di seluruh mata pelajaran, sedikit membuat Reva kewalahan dalam menyeimbangi kapasitas otaknya. Mem...
191K 8.3K 19
Dua ketua geng motor yang sebelumnya RIVAL kini diharuskan menjadi satu kesatuan untuk mengusut pembunuh sahabat mereka masing-masing. Namun sayang...
Wattpad App - Desbloqueie funcionalidades exclusivas