Jangan lupa tekan bintang dan beri komentar di setiap line ya.
[Warning 17+]
***
Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung
"There's a baby." Beo Gisel lagi sambil mengelus perutnya yang sudah sangat jelas masih rata disana.
"And then?" Akhirnya Sera menanggapi sedikit, namun masih dengan rasa acuh.
"Leave him."
Sera menyeringai pelan. Ia berjalan kearah Gisel dengan menggenggam pisau. Diarahkannya benda tajam itu pada wajah wanita dihadapannya.
Mengaku soal anak? Ia bisa pusing sendiri jika itu betulan terjadi. Banyak orang yang harus ia selesaikan jika anak itu betulan ada. Keluarga, teman-teman, perusahaan, belum lagi wartawan yang haus darah informasi. Persetan dengan netizen yang akan bergosip. Ia akan abaikan mereka, tapi dengan empat tadi dia bisa jadi gila.
Tapi kalau dipikir lagi, komen warga net juga tak bisa diabaikan. Saham akan turun seiring berita negatif itu terus berselancar di internet dan mulut-mulut manis manusia. Opini publik sedikit menyeramkan untuk grafik di bursa efek. Tuh kan, membayangkan bagaimana itu akan terjadi saja sudah membuat Sera memikirkan banyak hal.
Pisau yang tadinya mengarah pada wajah Gisel turun ke perut, tepat pada bagian bawah dimana rahim tersimpan. Gisel jadi sedikit mundur dari posisinya. Nafasnya tercekat. Matanya mengisyaratkan rasa takut tapi berusaha untuk tidak diperlihatkan.
Gisel jadi takut Sera akan melukai dirinya. Niat hati akan mengguncang si penyandang status istri, ia malah jadi kena getahnya sendiri.
"Mau ngapain lo?" Katanya dengan suara sedikit bergetar.
Sera terus mendekati Gisel dan berseringai jahat. Sementara Gisel mundur sedikit demi sedikit. Kemudian ekspresi Sera berubah datar dengan mata menusuk tajam.
Sera dipuaskan oleh mata tunangan Sehun yang bergetar takut namun wajah yang mencoba tenang. Ia senang dengan pemandangan itu. Baginya, hanya dengan begitu saja sudah dapat dipasti bahwa ia akan menang sampai akhir pertandingan nanti.
"Sinting." Bisik Sera tepat ditelinga Gisel saat wanita itu sudah tak bisa bergerak mundur lagi. Setelahnya dia langsung pergi ke atas.
Gisel menghembuskan nafasnya kuat setelah kepergian Sera.
"Kamu kenapa, Sel?" Tanya Sehun yang sudah kembali dengan kantong kresek bawaannya dan melihat Gisel menghela nafas.
Gisel tak menjawab. Ia mencoba menjernihkan pikirannya dulu. Ia kira Sera wanita yang mudah disingkirkan. Dugaannya salah, bahkan Sera semenakutkan tadi.
"Aku liat kamu sama Sera tadi. Dia abis ngomong apa sama kamu?"
"Engg? Eh engga kok."
"Bener?" Sehun masih penasaran.
Gisel tersenyum, kemudian menghampiri Sehun. "Hmmm, aku disuruh jauhin kamu masa?"
Air muka Sehun nampak tak bersahabat. "Apaan sih tu cewek."
"Bercanda sayang." Gisel terkekeh melihat reaksi Sehun.
"Serius?" Wajah Sehun terlihat serius. Gisel mengangguk.
"Dia cuma bilang aku sinting aja."
"Hah? Dia kali yang sinting. Emang butuh dikasarin ya tu cewek!"
"Udah sih yang ga usah emosi, biarain aja. Aku juga ga masalah kok."
"Tapi dia udah ngomong kasar sama kamu."
Gisel tahan lengan Sehun yang berniat pergi menyusul Sera. Ia minta prianya membiarkan hal itu.
"Kalau dia ngapa-ngapain kamu bilang ya?" Pesan Sehun. Lagi, Gisel mengangguk sambil senyum.
Sementara Sehun dan Gisel yang cekakak cekikik di lantai bawah, Sera menahan marah di lantai atas kamarnya.
Kepalan tangannya menguat. Ia berpikir keras soal apa yang dikatakan Gisel. Meski ingin mengabaikannya, Sera tetap saja memikirkan hal itu. Ia lebih baik menyiapkan segala kemungkinan mulai dari sekarang daripada harus pusing tujuh keliling nantinya.
Sera mengambil kunci mobil di nakas sebelah tempat tidur. Menghubungi seseorang dan meminta bertemu. Malas juga diam di rumah dengan keadaan sekarang.
Starbucks - Dago, North Bandung
"Udah nunggu lama?"
"Setengah jam." Sahut Sera melirik jam tangannya.
Chandra terkekeh kemudian duduk di sofa hadapan Sera. "Sorry, tadi ketahan sama Ayana."
"Dia lagi di Bandung?"
Chandra mengangguk.
Tadinya Sera ingin bertemu para pengawal setia. Chandra dan Brian. Tapi pria tampan yang tempo hari ia temui di hotel itu tak bisa datang karena sedang ada di luar kota. Seperti biasa, memonitor digital star up baru yang akan launching sebentar lagi.
"Bukannya kamu baru sampe rumah?" Tanya Chandra.
"Bosen, pengen keluar."
Chandra jadi tertawa karena jawaban Sera yang terkesan sekenanya. Karena sepengetahuan Chadra, bukan kebiasaan Sera jika ia pergi dari rumah ketika baru saja pulang. Setidaknya ia harus diam dulu selama tiga jam, baru pergi lagi.
"Tumben. Pasti ada apa-apa. Berantem sama Sehun?"
Chandra mengambil cookies didepannya. Menunggu Sera memberi jawaban atas satu pertanyaan yang ia ajukan.
"Kapan sih dia ga minta berantem sama gue?"
"Kali ini kepancing emosi?"
"Kelas meditasi gue gagal dong kalau gitu."
"Berarti engga?"
Sera hanya diam. Dia bingung ingin menceritakan kejadian tadi atau tidak. Tapi dia juga malas memendam beban pikiran sendirian. Ia butuh partner untuk berkeluh kesah. Dan selama ini orang yang sering ia repotkan adalah Brian dan Chandra.
"Lo kenapa sih?"
Sera menghela nafasnya cukup kasar. Tak menjawab kekepoan Chandra yang kadang suka berlebihan seperti Banyu.
Tahu kalau dirinya tak akan dijawab, Chandra memutuskan untuk pergi memesan minum.
"Kambing conge, tunggu gue persen dulu." Ledek Chandra lalu angkat kaki.
---
"Menurut lo pernikahan itu apa?" Tanya Sera random ditengah perbincangannya dengan Chandra.
"Ikatan komitmen orang yang saling mencintai. Tapi akhir-akhir ini gue nemuin banyak pernikahan yang ga saling cinta."
"Jadi?"
"Jadi?" Chandra mengulangi pertanyaan Sera dengan heran.
"Jadi menurut lo gimana kalau ada pernikahan yang ga saling cinta?"
"Hmm menurut gue sih banyak faktor kenapa itu bisa kejadian. Kalau kasusnya kaya si Lara dan Raihan, sebenernya bisa aja membangun cinta diantara mereka. Karena dua-duanya juga ga terikat atau tertarik sama orang lain. Sama-sama jomblo yang disatuin dua orang tua." Kata Chandra panjang lebar.
"Kalau Deril sama Neta gimana?" Sera merujuk pada pernikahan yang hampir sama dengan dirinya. Tapi disini Neta lah yang punya kekasih, sedangkan Deril tukang gonta ganti pasangan.
"Tergantung. Mereka mau berubah atau engga."
"Kalau ada kemungkinan terburuk. Lo mau gimana?"
"Kemungkinan terburuk tuh banyak macamnya. Emang seburuk apa?"
"Hamil anak orang lain?" Sera berujar polos.
Chandra yang sedang minum greentea lattenya jadi tersedak. "Si Neta hamil anak Dikdik?!" Tanyanya kaget setelah terbatuk-batuk.
Sera and Sehun's House - Dago, North Bandung
Sera baru sampai rumah jam sebelas lewat, namun ternyata lampu tengah masih menyala pun dengan TV nya. Sedikit kaget karena melihat adegan yang mestinya tak perlu dipertontonkan pemilik rumah.
Dengan panas Sehun dan Gisel bercumbu disana. Sofa ruang TV. Singgasana Sera untuk selonjoran. Suara pintu saja tak mereka dengar saking fokusnya menikmati setiap sentuhan.
Meskipun belum sampai dipenyatuan antara dua tubuh, kepala Sehun yang laknat itu sudah ada dibawah sana. Pusat dari segala pusat kenikmatan. Memang kurang ajar.
Sera senggol dengan sengaja guci besar yang ada disebelahnya. Bunyi pecahan nyaring diseluruh ruangan beradu sebentar dengan desahan setan. Memang biadab.
Dua pelaku di sofa nampak terkejut dan melihat kearah sumber suara. Sehun lebih terkejut setelahnya. Melihat sosok Sera yang tak berekspresi hengkang begitu saja melewati mereka. Berasa kepergok berselingkuh oleh istri. Tapi itu tadi memang benar selingkuh dari istri sendiri. Aduh Sehun yang tak pernah tahan dan hati-hati kalau soal birahi.
Kalau Sera seperti tadi entah kenapa Sehun justru malah jadi merasa aneh. Ada perasaan yang sedikit mengganjal. Sehun mengutuk dirinya yang sudah berbuat dosa didepan tuhan dan istri. Bodoh memang.
Ya bagaimana lagi sudah tak tahan. Jadi keblangblasan. Sayangnya belum sampai ke tujuan. Kalau saja tak ada suara guci pecah mungkin keduanya udah mencapai gelombang tertinggi melayang sampai ke awan.
Buru-buru pula Sehun berpakaian, padahal Gisel sendiri terlihat santai. Mungkin dirinya merasa menang. Kali ini dia bisa menyeimbangkan skor setelah Sera berlaku padanya saat di dapur waktu lalu.
"Udah jam 11 lebih kamu pulang ya?" Sehun masih meminta baik Gisel.
"Kok gitu? Ga dilanjut?"
DUAR!
Wanita itu terlalu polos dan tak tahu situasi atau memang nakal sengaja ingin menghancurkan hubungan orang?
"Yuk pulang. Aku antar." Kata Sehun final.
***