hai, update cepet nih :)
🦋
Mesin motor terdengar dari halaman rumah, sang pemilik rumah yang tak lain adalah Guanlin kini berdiri menatap dua orang dari balik jendela rumahnya. Bagus, anaknya sudah berani melanggar ya.
Masih dengan raut wajah yang kesal, Guanlin melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah. Lalu menatap putrinya dan satu laki-laki tengah berbagi senyuman indah di depannya.
"Bagus, kamu udah berani melawan rupanya."
"P-papah? K-katanya papah lagi di luar negeri—"
"Masuk! Papah ga mau kamu keluar sama anak pembunuh!"
"Pah! Nathan bukan anak pembunuh! Dan tante Natta juga baik sama Nada pah! Papah kenapa sih?!"
"Papah bilang masuk! Ya masuk!"
Nada menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu menatap Nathan dengan tatapan redup. Sedangkan Nathan hanya tersenyum tipis, mengisyaratkan kepada Nada bahwa ia harus menuruti keinginan papahnya.Mau tidak mau Nada menurut, lalu berjalan lemah menuju rumahnya.
Bugh!
Setelah mendengar satu pukulan, Nada menoleh ke belakang dan mendapati Nathan yang sudah tersungkur di dekat pagarnya. Nada ingin sekali membantu Nathan, tapi kesialan tengah menimpanya malam itu.
Karena anak buahnya Guanlin udah lebih dulu narik Nada masuk ke dalam rumah. Nada jelas memberontak, namun sia-sia. Pasti kalian tau, tenaganya tidak sebanding.
"Ternyata kamu, yang sering bawa putri saya keluar rumah."
Sret!
Bugh!
"Arkh..."
"Mau menghasut putri saya? Iya?"
Brak!
"Atau mau mengambil putri saya?"
"Kamu punya mulut tidak?!"
Plak!
"S-saya tidak pernah sekalipun mempunyai pikiran seperti itu kepada putri anda."
"Kamu pikir saya bodoh? Ternyata benar ya, kamu benar-benar mirip dengan bunda mu yang urakan! Berandalan! Tidak tau diri—!"
"Cukup! Anda tidak berhak mengatai bunda saya!"
Bugh!
"Papah! Nathan! Berhenti!"
Di dalam rumah Nada berteriak sekeras mungkin, berharap keduanya mau mendengar ucapannya. Namun nampaknya percuma, mereka masih dalam mode adu debat antara satu sama lain.
Guanlin menyeka darahnya yang mengalir habis itu berdiri di hadapan Nathan. Seketika Guanlin tersenyum sarkas kepada Nathan. Guanlin jadi ingin merobek masa lalunya Natta.
"Kamu tau tidak? Bunda mu dulu seperti apa? Tidak kan? Malahan saya tau bagaimana sifat luar dalemnya bunda kamu Nathan."
"Cukup... Saya bilang cukup." Tekan Jaemin lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dulu sih bunda mu pernah kabur dari rumah, sering ikut balapan liar ikut ngumpul sama laki-laki setiap malam. Kami ga tau? Oh kasian sekali."
"Dan kamu tau? Bunda kamu pernah dirawat sama Hyunjin. Ayahnya Mahesa..."
"Brengsek!"
Bugh!
Brak!
Nathan menarik kerahnya Guanlin kasar, bajingan! Bisa-bisanya Guanlin memancing emosi Nathan sampai seperti ini!
"Tch, asal kamu tau. Saya hafal betul latar belakang keluarga kamu. Termasuk, kegiatan mereka sehari-hari. Oh ya jangan lupakan satu lagi, saya juga tau kegiatan kamu Nathan."
Sudah cukup.
Nada tidak sanggup lagi melihat wajah Nathan yang memerah. Sekuat tenaga, Nada memberontak lalu keluar dari rumahnya untuk menarik Nathan pergi dari hadapan papannya.
Papahnya benar-benar gila.
"Nath! Ayo, kita pergi! Dia bukan papah aku! Ayo!"
Nathan tidak bergeming sama sekali, tatapannya hanya menuju pada Guanlin dengan tatapan meredup. Seperti bertanya kenapa dia bisa tau semuanya?
"Sudah saya bilang, saya tidak bodoh Nathan Devandra."
"A-apalagi yang anda tau tentang keluarga saya?!"
"Cukup banyak, yeah bunda mu pernah mengalami kecelakaan misalnya?"
"Cukup! Kita pergi dari sini sekarang juga!"
Nada menarik tangan Nathan untuk pergi dari rumahnya. Untungnya mereka tidak berani mengejar, hanya melihat lalu kembali pada posisi semula.
"Nath, are u okay? Look at me!"
"Kenapa? Kenapa papah lo tau banyak tentang keluarga gue?"
•••
"Nghh..."
"Udah bangun hm?"
Nada membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit, lalu saat ia membuka matanya lebar-lebar. Nada mendapati sosok Nathan yang tengah berbaring dengan tangan yang dijadikan alas bantal olehnya.
Sebentar ini kan?
"Gue ga tau ini dimana, tapi pas gue bangun gue liat lo tidur di karpet bawah. Ya udah gue angkat lo ke sini, dan ternyata gue ketiduran juga."
Nada masih diam, menjernihkan otaknya sejenak. Tadi bukan mimpi kan?
"Sekarang jam berapa?" Tanya Nada dengan suara seraknya.
"Jam dua malam, kenapa hm?"
Ah, berarti bukan. Tadi kan mereka bertengkar hampir jam delapan malam, ini sudah hampir pagi berarti semuanya nyata.
"Nathan..."
"Ya?"
"Maaf, gue, gue juga ga tau bokap gue kaya gitu. Sekali lagi gue cuma minta maaf."
"Sssh, ga perlu minta maaf. Gue emang harus nerima faktanya. Gue ga papa, lo tau? Dengan bicaranya bokap lo kaya gitu, kita bisa cari tau apa yang terjadi."
Nada tersenyum lemah diiringi anggukan kecil olehnya. Tiba-tiba, Nathan mengusap kepala Nada pelan membuat Nada nyaman dengan perlakuan Nathan.
"Ngomong-ngomong ini dimana? Lo ga akan dicariin kan sama bokap lo?"
"Ini rumah gue yang dulu, bokap gue jual tapi gue juga yang beli lagi. Hebat ya?"
"Banget, udah tidur lagi ya."
Lagi dan lagi Nada menggeleng, jujur posisi ini agak... kurang enak. Apalagi wajah polos Nathan yang keliatan galak padahal engga, dari sorot mata, alis, hidung hingga ke bibirnya...
"Kenapa lagi sih hm?"
"Em... a-anu... kamu ga dicariin bunda?"
Seketika kekehan kecil tercipta dengan begitu cepat, Nada bertanya-tanya. Kenapa? Memangnya dia salah bertanya?
"Engga, aku ga dicariin. Aku bilang sama bunda, lagi nginep di rumah Rian. Rian sih oke-oke aja. Yakin mau aku-kamu? Ga terlalu romantis emang?"
Nada memalingkan wajahnya seketika, oh shit Nada salah bicara.
"Hey, wajahnya ga usah dipalingin gitu dong. Wajah merahnya ga keliatan soalnya."
"A-apaan sih Na."
Nathan cuma senyum terus tangannya beralih untuk menekan tengkuk Nada agar lebih dekat dengannya. Nada sedikit mengeraskan tengkuknya, menyadari tangan Nathan yang bergerak di belakangnya.
"M-mau apa sih?"
"Mau kamu."
Oh, tolonglah Nathan. Kata-kata mu ga baik buat hati serius deh.
"Nath— gue mau minum. Lepas dulu."
"Kenapa ga pake aku?"
"Rrrr— Nath, tenggorakan gue kering. Bibir gue juga ga liat?"
"Bibir lo kering? Mana? Basahin jangan?"
"Nathan... Lo mabuk ya?"
"Mabuk cinta mu."
Nada tidak tersenyum, melainkan dia panik setengah mati. Apalagi posisi mereka yang mendukung banget buat ciuman... Oh astaga Nada harus bagaimana?
Nathan sedikit mengendurkan pelukannya, membiarkan Nada terlepas dengan aman.
"Ya udah, minum gih. Biar ga serak suaranya."
Menganggukkan kepalanya perlahan Nada mulai beranjak dari duduknya. Pergi ke dapur untuk meminum segelas air putih untuk ia teguk. Jujur, detak jantungnya kali ini tidak beraturan.
"Huh, tenang Nad. It's okay, dia Nathan bukan orang jahat ko dia juga anaknya bunda Natta."
"Kenapa?"
"Astaga, bikin kaget aja."
"Sorry, kirain kenapa."
"Bukan apa-apa, ayo tidur lagi besok sekolah."
"Ga mau pulang, maunya sama kamu." Ujar Nathan sambil memeluk Nada dari belakang. Padahal Nada lagi nyimpan gelas ke atas nakas.
"Mana Nathan yang bad boy sih? Ko jadi manja udah dong tidur ya. Lo di sofa, gue di karpet bawah. Bye ah."
Nathan melepaskan pelukannya begitu saja, oh kenapa sih Nada ga peka? Padahal Nathan ga pernah semanja ini sama cewek lain, kecuali dengan bundanya.
"Nad, di atas. Dingin, gue di bawah deh."
"Nanti lo yang kedinginan dong, udah ya tidur ngantuk."
"Ya udah gue juga di sini."
"Haa? Apa? Hey—"
Terlambat, Nathan udah lebih dulu rebahan di deket Nada. Nada pasrah, setidaknya kalo Nathan udah tidur, Nada bisa pindah ke sofa. Gimana ya, tidur dengan lawan jenis agak kurang gimana gitu.
Apalagi mereka masih anak SMA.
"Nada madep lagi kaya tadi coba,"
"Mau ngapain?"
"Sebentar aja. Ga akan lama ko."
"Okay, tapi langsung tidur ya?"
"Iyaaaa."
Nada membalikkan badannya sekilas lalu mulai menatap mata Nathan yang menyejukkan. Perasaan itu datang lagi kan.
Tidak lama kemudian, Nathan mulai mendekatkan tangannya ke sisi-sisi wajah yang ada di hadapannya.
Mata favoritnya dan tentu saja bibir pink yang selalu Nathan tahan-tahan agar tidak kelepasan. Tapi kali ini, entahlah.
"Nada? Boleh ga?"
Nada menggeleng sekuat tenaga, dan merapatkan bibirnya rapat-rapat. Oh tentu saja, itu sudah keterlaluan.
"Boleh ya..."
"Jangan Nath, please..."
Nathan tidak menghiraukan ucapan Nada sama sekali, kali ini Nathan mempersempit jarak diantara keduanya. Lalu menahan tengkuk Nada agar tidak memberontak sama sekali.
Perlahan namun pasti, Nathan meyakinkan Nada jika ini tidak akan kenapa-kenapa. Namun, kali ini akal sehatnya menang lagi. Nathan hanya bisa mencium kening Nada secara perlahan.
Tidak, bibir masih aset berharga bagi Nada.
To be continued
.
.
.
aset berharga ya guys heheʕっ•ᴥ•ʔっ
asik up lagi seneng ga? kalo seneng allhamdulilah setidaknya karya aku bisa menghibur orang lain hehe...
cium jauh dari aku nih, muah~
—na.jaemin2020