Hari ini cuaca sangat dingin. Langit terlihat mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Sekarang aku lagi duduk di kursi mobil sambil lihat kendaraan lain yang berlalu-lalang. Hampir semua orang terlihat khawatir akan terguyur hujan, apalagi pengendara motor.
Aku melihat banyak pejalan kaki yang sedikit berlarian untuk sampai ke tempat tujuan tanpa terkena air hujan. Pandanganku terfokuskan oleh anak seorang nenek yang hendak menyebrang. Ia terlihat ragu untuk melangkah. Tak lama terlihat seorang pemuda datang menghampirinya dan membantu nenek itu menyebrang. Aku tersenyum melihat perlakuan seorang pemuda itu. Sesuatu hal yang kecil bagi kita, namun sangat berarti banyak untuk nenek itu.
"Aurora," panggil ayah.
Aku menoleh. "Kenapa yah?"
"Sekolah kamu sudah libur-," kalimat ayah terpotong.
"Kenapa yah?"
"Dengerin ayah dulu,"
"Oke, hehe."
"Jadi kita bakalan ke Korea,"
"Lah, ngapain?"
"Ya ke rumah nenek sama kakek kamu, lah."
"Oh iya, ya. Kapan?"
"Mungkin besok lusa,"
"Lusa?! Kenapa ayah baru bilang sekarang?"
"Maaf, ayah lupa, hehe."
Aku menghela napas mendengar kata-kata ayah. Bisa-bisanya ayah lupa bilang ke aku kalau mau ke Korea.
Hujan benar-benar turun. Hujan itu turun sangat deras, hingga membuat kaca jendela mobil menjadi gabur. Orang-orang yang sibuk berlarian memilih untuk mencari tempat berteduh. Ada beberapa orang yang sedang menelepon, sepertinya untuk memberi tahu orang yang di seberang sana bahwa ia sedang terjebak hujan.
"Ra, kamu kangen gak sama sepupumu itu?" tanya ayah tiba-tiba.
"Hah? Ya kangen lah, yah. Apa lagi masakan Bang Seonghwaaa... Gak sabar lagi deh!"
"Haha, kalau kamu udah ketemu sama San dan Wooyoung, bisa ancur rumah,"
"Gak gitu juga kali, yah."
Kami sudah sampai di rumah. Aku langsung teriak manggilin ibu.
"Buu, aku pulaaang,"
"Gak usah teriak juga ibu udah tau. Sana mandi terus bantuin ibu!"
"Aaah, aku males tapi buu."
"Anak cewek gak boleh males-malesan, sana cepet mandi."
Aku gak bisa ngapa-ngapain selain nurutin kata-kata ibu. Aku lari ke kamar. Sebenernya tujuanku ke kamar hanya untuk meletakkan tasku dan mengambil bajuku. Tapi aku gak bisa untuk tidak memainkan HPku.
"Main bentar gak ada masalahnya, kan?"
Aku langsung nyalain tuh HP, terus muncul suara notifikasi yang bikin aku kaget. Banyak banget notifikasinya. Aku mulia bukain satu-satu.
Waktu aku buka aplikasi Whatsapp, ribuan chat muncul. Pesan yang masuk kebanyakan dari grup, dari teman-temanku yang minta jawaban PR padahal udah libur, dari sahabatku Naya.
Tunggu, aku terfokuskan dengan satu pesan. Itu dari Bagas. Kenapa dia gangguin aku terus sih? Bagas itu cowok yang naksir aku. Orangnya ganteng sih, dia juga jadi murid populer di sekolah. Nah itu masalahnya, karena murid populer, pasti banyak juga yang suka sama dia. Jujur aja aku nggak mau diserang sama penggemar Bagas yang banyak. Mungkin hampir semua siswi di sekolah ini ngidolain Bagas. Aku juga sebenernya gak suka sama dia.
Aku membaca pesan yang dikirimin Bagas. Dia ngajakin aku jalan-jalan besok. Ih, siapa anda ngajakin saya jalan-jalan?
Bagas
|Hai
|Besok ada acara?
|Kalau gak ada, kita jalan2 yuk
Maaf ya Bagas keknya gak bisa|
|Kenapa?
|Ada acara?
Gak kok|
|Kamu sakit?
Gak juga|
|Terus kenapa ra?
Aduh, aku pusing mau jawab apa. Kalau aku jujur, pasti Bagas tersinggung. Kalau aku bohong, aku gak punya alasan yang masuk akal. Aku males bangeeet!!!
"AURORAAA!!" aku kaget sampai HP yang aku pegang jatuh.
Oh tidak, ada emak datang. Mana suaranya menggelegar lagi. Pasti ibu lagi bawa senjata mematikan, yaitu sapu.
Suara kaki ibu makin kedengeran jelas. Aku beneran panik.
Aurora, telinga kamu harus siap-siap mendengar kata-kata mutiara dari ibu.
Benar tebakanku. Ibu datang dengan wajah marahnya. Di tangan ibu sudah tergenggam sebuah sapu legendaris.
"Hmm, ditunggu dari tadi gak dateng-dateng. Bagus." kata ibu dengan mata menatap ke arahku yang lagi nunduk.
"Disuruh mandi malah main HP. Mau ibu sita HPnya?" ibu tatap aku pake mata yang lagi nahan emosi.
"N-nggak b-bu..," aku tetap nunduk.
"Sekarang kamu mandi, habis itu kamu cuci piring!"
Aku hanya pasrah. Habis mandi aku langsung ngelakuin perintah dari ibu. Aku takut nanti diomelin lagi sama ibu. Malu sama tetangga.
Habis cuci piring, aku balik main HP lagi. Aku belum balas pesan dari Bagas.
Bagas
|Ra
|Aurora
|Kenapa gak dibales?
Maaf bagas, aku abis bantuin ibu|
Keknya aku gak bisa deh|
Soalnya aku mau siap-siap untuk|
besok lusa
Aku harus pulang kampung|
|Oh gitu
|Oke deh, selamat berlibur❤
Ih, apa maksudnya lope-lope ini? Ih, gak banget!
Dari pada mood aku tambah buruk gara-gara dia, aku pindah ke pesan yang lain.
Eh, ada pesan dari Bang San.
Bang San🗻
|Raa
|Halo
|Kamu mau ke Korea?
Iya bang|
Kata ayah kita berangkatnya besok|
lusa
|Wah, benarkah?
|Aku harus beri tahu yang lain
Hehe, iya bang|
|Ditunggu kedatangannya ya
Aurora🙌
Okey bang🙌|
Habis chatingan sama Bang San, aku makin gak sabar pengen ke Korea. Aah, ayo besok lusaa. Aku gak sabar lagi.
●●●
Sekarang kami lagi makan malam. Suasana masih hening. Belum ada satupun yang mau mulai ngobrol.
"Ehm, yah, bu, tadi Bang San ada chat aku," kataku.
"Oh ya?" tanya ayah.
"Iya, dia bilang nunggu kedatangan kita,"
"Oh ya, tadi sore kenapa berisik?" tanya ayah.
"Itu yah, Aurora disuruh mandi malah main HP. Kayaknya itu HP harusnya dijual aja, biar dia gak terlalu sibuk sama HP," sahut ibu.
"Ibu, maafin aku, yaa. Hehe,"
"Udah, Aurora pilih barang yang mau kamu bawa ke Korea nanti," ujar ayah.
"Kan masih ada besok, yah." aku nolak kata-kata ayah.
"Aurora, kamu harus nurut kata orang tua," ibu menyela.
"Iya bu, iya,"
Akhirnya aku membereskan barang-barang yang akan aku bawa besok lusa. Selain membawa keperluan, aku bawain titipan sepupu-sepupuku, yaitu mie instan. Mereka suka banget sama makanan yang satu ini. Setiap aku balik ke Korea, aku selalu bawain mereka ini. Mereka bilang di Korea mahal.
Ya, gak papa lah. Penting mereka bahagia. Hehe. Kan, aku adik yang baik.
●●●
Hai-hai
Terima kasih yaa yang udah baca.
Terima kasih banyak yang udah vote dan comment.
Maaf kalau ada typo dan kesalahan.
▶Sepupu-sepupu Aurora ngomong pake Bahasa Korea ya. Tapi aku ngetiknya pake Bahasa Indonesia.
Hehe...