Happy reading ^^
.
.
.
.
.
.
Setelah menempuh dua jam perjalanan Seoul - Tokyo. Choi Hyunsuk merenggangkan tubuhnya penat. Menuju terminal memesan taksi, tak lupa memberikan alamat yang dituju.
Kepergian Hyunsuk jauh - jauh bukan tanpa alasan, Ia datang ke negeri sakura untuk kejutan dihari spesial kekasih. Well, perkenalkan Watanabe Haruto pemuda berdarah jepang yang resmi bertunangan dengan pemuda Choi. Mereka sudah menjalin asmara selama setahun terakhir.
Hyunsuk datang tanpa memberi tahu sang tunangan. Ia ingin kejutannya kali ini terlihat berkesan, juga sebuah kado berwarna merah ditangannya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama kini taksi yang ia tumpangi berhenti di distrik fukuoka.
Kini Hyunsuk di depan pintu rumah bergaya khas jepang. Dengan penuh semangat ia mengetuk pintu cukup keras.
Tok
Tok
Tok.
Hening.
Hyunsuk masih mencoba.
Tok
Tok
Tok.
Dengan melihat kanan kiri Hyunsuk mencoba membuka pintu, tak terkunci. Menyusuri luar rumah, Hyunsuk tak menemukan tanda kehidupan didalamnya.
Hingga, derap suara sepatu bergesekan mengalihkan atensinya. Belum sempat ia menoleh, seseorang membekapnya dengan sapu tangan bius.
.
.
.
.
.
.
Boy Meets Evil
.
.
.
.
.
.
"Ugh!"
Hyunsuk mengerjapkan matanya 'gelap' .Setelah tersadar dari tidurnya, ia mengedarkan pandangannya pada sekitarnya.
"Tempat apa ini?" Hyunsuk terkejut, merasakan tangan dan kakinya terikat.
"Tolong... Siapapun Tolong aku! Haruto....!?"
"Ah kau sudah sadar rupanya" Suara asing masuk kependengarannya. Tak lama derap langkah kaki terdengar menjauhi ruangan.
Detik berikutnya sinar cahaya dari lampu menerangi seisi ruangan.
Mata Hyunsuk kini melebar, melihat Haruto juga diikat sama dengannya. Hanya saja ia diikat di kursi sedang haruto dilantai.
"Ha-Haruto!!! Haruto apa yang terjadi!?" Haruto hanya diam tanpa bersuara. Mulutnya tersumpal oleh kain, Ia hanya memandangi Hyunsuk dengan mata sendu.
Hyunsuk terlalu shock hari ini, seharusnya ia merayakan ulang tahun tunangannya dengan damai.
"Haru-"
Langkah dibelakangnya semakin mendekat.
"Long time no see baby..."
Hyunsuk membeku suara itu yang terdengar cukup familiar baginya. 'Park Jihoon? Hyunsuk tak salah dengarkan?'
"Kau tak salah dengar baby" seolah mengerti apa yang pemuda mungil itu pikirkan. Kini pemuda yang Hyunsuk sebut Park Jihoon berada tepat dihadapannya.
"Jihoon?"
"Yes, baby" Kini Jihoon duduk saling berhadapan dengan Hyunsuk.
"Apa yang lakukan disini?"Hyunsuk masa bodoh dengan panggilan sayang untuknya. Saat ini Hal yang terpenting adalah apa yang Jihoon lakukan dirumah tunangannya. Wajah penasaran Hyunsuk tak luput dari pandangan Jihoon.
"Aku sedang mengunjungi Watanabe-san" Kedua pasang mata saling beradu pandang. Tak lama Hyunsuk mengalihkan pandangan beralih pada Haruto.
"Apa kau yang melakukan semua ini? Untuk apa kau melakukan semua ini Jihoon!?"
Hyunsuk menatap nyalang pria di depannya.
"Watanabe-san berhutang padaku, tapi ia tidak mampu membayar hutangnya-"Jihoon duduk sambil menyilangkan kedua kakinya.
"-Lama tidak bertemu kau semakin cantik Hyunsuk" sambungnya.
Hyunsuk mengabaikan kalimat terakhir.
"Aku akan membantu melunasi hutangnya! Sekarang bisa kau lepaskan kami Jihoon?" Hyunsuk mencoba untuk bernegosiasi.
"Membantunya melunasi hutangnya? Baby, Kau tidak akan mampu" Jihoon berdiri dari duduknya. Berjalan mendekat kemudian ia membuka paksa kain di mulut Haruto. Ia menarik paksa rambut kepala Haruto.
"Ahhh.. Aku mempunyai sebuah penawaran yang terbaik untukmu Watanabe-san" Jihoon menyeringai dihadapan pemuda mungil yang sedang melihat apa yang akan ia lakukan pada tunangannya.
"Hutang keluarga watanabe-san akan ku anggap lunas.... Jika-
-kau memberikan tunanganmu padaku"
Ucap Jihoon tak melepaskan pandangan dihapadannya. Ia menunggu reaksi pemuda mungil itu.
"A-Aapa!??" Hyunsuk terkejut, Jihoon tak waras.
"KAU! BENAR - BENAR GILA! Haruto! Jangan dengarkan pria brengsek itu!"
"Kau benar, aku memang sudah gila" balas Jihoon enteng.
"Bajingan!! Haruto ku mohon jangan terhasut ucapannya. Kumohon aku akan membantu melunasi hutang keluargamu Haruto" Jujur saja Hyunsuk cukup cemas dengan diamnya Haruto.
"Kau bilang mau membantuku melunasi hutang ayahku kan Hyung?" Haruto memantapkan hatinya, menutup matanya menahan gejolak sakit di dadanya. Hari ini ia tahu ia akan menyesalinya kehilangan sesosok yang berarti dihidupnya.
"Kau menang.... Aku menyetujui tawaranmu" Haruto berucap mantap, namun matanya berusaha menghindar dari Hyunsuk yang kini menatapnya tak percaya.
"Watanabe-san anda pintar, sekarang hutang ayahmu sudah ku anggap lunas" ucap Jihoon puas. Ia membawa surat perjanjian kini telah usai.
"Senang berbisnis dengan anda Watanabe-san" bawahan atau bodyguard milik Jihoon bergegas melepaskan ikatan pada Haruto.
"Bawa Hyunsukku ke mansion utama" Semua bawahannya menuduk hormat.
"Sialan! Bajingan! Lepaskan aku Jihoon brengsek!" Hyunsuk meronta. Dengan terpaksa para bawahan Jihoon membius Hyunsuk.
.
.
.
.
.
.
.
Boy Meets Evil
.
.
.
.
.
.
.
Flashback......
"Hei, kau lihat siswa pindahan baru itu?"
"Ya kenapa memangnya?"
"Aku lihat dia kemarin berani mendekati Jihoon"
"Benarkah? Aku tak percaya!!"
"Hei! Itu benar, aku melihatnya sendiri.. Dia memaksa Jihoon berjabat tangan dengannya"
"Woahh... Aku yakin anak itu belum tahu siapa Jihoon yang sebenarnya"
"Kau benar, tak lama lagi ia akan mati ditangan anak ketua gangster"
.
.
.
HwangJu High School di Busan. Sekolah Terkenal dengan anak - anak kalangan keluarga dunia bawah tanah. Namun mereka semua menutupi identitas asli keluarga mereka.
Namun tidak bagi Park Jihoon, Anak ketua gangster juga mafia atas tersohor di Jepang dan Korea. Tak ada yang berani berteman atau hanya sekedar mengusik kehidupannya. Ia terasingkan.
Bukan keinginan Jihoon untuk menjadi orang yang paling ditakuti. Namun nama ayahnya lah yang berperan penting dalam kehidupannya. Ia tidak diatur untuk menjadi buas dan kejam, lemah ataupun merasa dikasihani. Ia menjadi dirinya sendiri.
Hingga seorang siswa pendatang baru mengusik kehidupannya. Anak yang tak takut dengan ancaman yang ia berikan.
"Hei! aku hanya ingin berkenalan denganmu"
Bocah baru itu tak pantang menyerah.
"Pergilah bocah idiot, atau kau mau mati ditanganku?" Jihoon hanya menggertak saja, toh ia tak pernah membuat orang benar - benar mati ditangannya, mungkin hanya sekarat.
"Baiklah... Aku akan pergi jika kau mau menyebut namamu atau sekedar berjabat tangan denganku"
Bocah itu tersenyum hambar. Ia hanya ingin berteman dengan teman sekelasnya. Semua anak dikelas sudah ia ketahui.
"Jihoon, aku tahu kalau kau sudah mengetahui namaku. Bukankah teman - teman barumu sudah memperingatkan mu?" kini kali pertama Jihoon bertanya.
"Maaf, tapi aku tidak akan mendengarkan peringatan yang tidak masuk akal. Kau hanya manusia biasa sama sepertiku, apa yang perlu ku takutkan"
Kali ini Hyunsuk memaksa tangan Jihoon berjabat tangan dengannya.
"Jadi, Aku Choi Hyunsuk... Senang berkenalan denganmu Jihoon-ssi" Hyunsuk tersenyum bangga.
"Baiklah cukup perkenalan kita, Semoga kita saling berteman akrab dengan baik Jihoon-ssi... Aku permisi~" melepaskan jabatan tangannya, Hyunsuk berlalu meninggalkan Jihoon mematung dirooftop sekolah.
"Teman ya?"Jihoon mengangkat tangan kanan melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Jihoon tak pernah merasakan arti teman yang sesungguhnya. Namun ia percaya, sesuatu telah terjadi dalam kehidupannya.
"Choi Hyunsuk mari berteman.....
Selamanya"
__________________
Kini Hyunsuk terbaring dalam kamar milik Jihoon. Mengamati tidur sang pemuda Choi dengan damai. Ia menyukai setiap inchi wajah damainya begitu polos.
"Kali ini, aku takkan melepasmu baby.
Setelah lama kau menghilang dari radarku,
Tapi maaf... Aku tak bermaksud untuk menyakitimu-
Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku"
.
.
.
.
.
.end?
Original story Naabinnie
Btw.... Aing kobam ama ini tatapan ini T_T
Astaga.... Momen cuma tatapan secuil tapi bikin ambyar >3<
.
.
Maapkeun kalo aneh gaje binti typo bertebaran :v
Vote and comment lur ^^
Kritik dan saran pula lur...
19.10.20