Rebirth of the Phoenix [END]

By Vanilatte733

1.7M 156K 5.9K

[Bukan Novel Terjemahan] #1-fantasi:22/05/2020 #1-clasic:17/05/2020 #1-politik:22/02/2020 #1-newlife:22/02/20... More

Blurb
cast
Chapter. 1
Chapter.2
Chapter.3
Chapter.4
Chapter.5
Chapter.6
Chapter.7
Chapter.8
Chapter.9
Chapter.10
Chapter.11
Chapter.12
Chapter.13
Chapter.14
Chapter.15
chapter.16-april mop
Chapter.16
Chapter.17
Chapter.18
Chapter.19
Chapter. 20
Chapter. 21
Chapter.22
Chapter. 23
Chapter. 24
Chapter. 25
Chapter. 26
Chapter. 27
Chapter. 28
Chapter. 29
Chapter. 30
Chapter. 31
Chapter. 32
Chapter. 33
Chapter. 34
Chapter. 35
Chapter. 37
Chapter. 38
Chapter. 39
Chapter. 40
Chapter. 41
Chapter. 42
Chapter. 42, bagian 2
Chapter. 43
Chapter. 44
Chapter. 45
Chapter. 46
Chapter. 47
Chapter. 48
Chapter. 49
Chapter. 50
Chapter. 51
Chapter. 52
Chapter. 53
Chapter. 54
Chapter. 55
Chapter. 56
Chapter. 57
Chapter. 58
Chapter. 59
Chapter. 60
Chapter 61
Chapter. 62
Chapter. 63
Chapter. 64
Chapter. 65
Chapter. 66
Chapter. 67
Chapter. 68
Chapter. 69
Chapter. 70
Chapter. 71
Chapter.72
Chapter. 73
Chapter. 74
Chapter. 75
Chapter. 76
Chapter. 77
Chapter. 78
Chapter. 79
Chapter. 80 END

Chapter. 36

20.7K 2.3K 98
By Vanilatte733

_o0o_

Tiga hari sudah Li Yue bersantai di kediamannya tanpa ada gangguan dari para selir, kedua adik Kaisar, dan tentu saja sang Kaisar. Walau di hari pertama tidak seperti itu.

Hidup Li Yue selama beberapa hari terakhir benar-benar tentram. Waktu seminggu yang diberikan sang Kaisar untuk beristirahat sangat ia manfaatkan.

Kini tersisa empat hari lagi. Walau tengah beristirahat, Li Yue tetap mengatur Istana Harem. Ini keinginannya sendiri karena Li Yue tak ingin kepemimpinannya di Istana Harem berpindah walau sementara waktu.

Liu Ri dan para selir tingkat tinggi lainnya pun sudah mengajukan diri, tetapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Li Yue. Kata-kata manis yang mereka keluarkan saat mengajukan diri membuatnya muak. Mereka berkata bahwa mereka tak sanggup dan sedih melihat Li Yue kelelahan karena mengurus Istana Harem.

Dalam hati, Li Yue mencibir. Detik selanjutnya, ia langsung memanggil prajurit untuk mengusir mereka. Setelah itu, ia membuat pengumuman dengan menyatakan bahwa siapa pun yang datang lagi berarti telah melanggar perintah Kaisar untuk tidak mengganggunya sementara waktu.

Kini, dengan perut yang terisi dan badan yang sudah mewangi, Li Yue duduk malas di ranjangnya. Ia tengah menunggu kedatangan Xing He dan yang lainnya.

Menurut Li Yue, ini adalah waktu yang tepat untuk memulai rencananya. Ia sudah mempunyai Xing He, ditambah bonus pemuda yang dibelinya dulu.

"Selamat pagi, Permaisuri," ujar Xing He dan yang lain ketika mereka tiba.

Tiga hari tinggal di kediaman Li Yue membuat tampilan mereka berubah. Luka yang ada pada Xing He dan pemuda tersebut sudah hilang berkat salep yang diberikan Li Yue.

Lin Meng dan Lin Jiang pun kini terlihat sangat bersih. Tidak ada kotoran atau debu lagi yang menempel pada keduanya.

"Permaisuri, saya mendengar bahwa Anda telah diserang di kediaman Yang Mulia Kaisar. Seharusnya Anda beristirahat sekarang."

"Kondisiku sudah membaik. Lagipula, kau tidak lupa dengan yang aku ucapkan tiga hari lalu, kan?" ujarnya lalu meminum teh hijau yang ada.

"Saya tidak melupakannya, Permaisuri."

"Baguslah. Ye Lin, ajak mereka bermain di taman."

Setelah mendengar perkataan Li Yue, Ye Lin langsung mengajak kedua anak kecil tersebut pergi bermain bersamanya.

Tanpa jeda setelah kepergian ketiganya, suasana di ruangan bernuansa merah itu langsung berubah menjadi serius.

"Duduk."

"Langsung saja. Xing He, aku ingin kau membeli sebuah rumah yang tidak terlalu kecil maupun besar. Kemudian, kau harus mencarikan aku lima puluh orang yang memiliki kemampuan bertarung yang baik. Entah itu bandit, perompak, pengemis, pria, wanita, anak-anak, atau orang dewasa, aku tidak peduli. Intinya, mereka harus bisa bertarung. Mengerti?" ujar Li Yue, langsung mengutarakan perintahnya pada Xing He.

Baru saja Xing He ingin berbicara, sekantong koin emas dilemparkan Li Yue ke meja yang ada di depannya.

"Permaisuri, ini?"

"Itu untuk membeli rumah. Dan ini," kembali Li Yue melemparkan sebuah kantong yang kali ini berukuran lebih kecil dari sebelumnya, "ini untuk biaya merekrut orang-orang itu. Setelah kau mendapatkan mereka semua, tempatkan mereka di rumah yang kau beli."

Raut wajah Xing He terlihat penuh dengan tanda tanya. Sekarang pikirannya dipenuhi dengan rencana Li Yue. Kenapa seorang permaisuri membutuhkan orang yang bisa bertarung? Jika alasannya adalah keamanan, mengapa tidak memakai prajurit istana saja?

Di sisi lain, Li Yue menatap datar Xing He yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Li Yue paham bahwa saat ini Xing He tengah berpikir tentang tujuan perekrutan orang-orang tersebut. Sayangnya, saat ini Li Yue tengah malas menjelaskan.

"Aku sudah mengatakan tujuanku padamu, dan sekarang," Li Yue memiringkan posisinya sedikit, "adalah giliranmu, Huo Li."

Xing He serta pemuda yang dibeli Li Yue langsung menegakkan kepala mereka kala mendengar nama itu.

"H-Huo Li? Tu-Tuan Muda dari keluarga Perdana Menteri Huo?" Xing He tergagap. Matanya melotot saking terkejutnya. Berulang kali ia menatap Li Yue dan pemuda di sampingnya, berharap mendapat penjelasan.

"I-itu... Permaisuri... Anda tidak..."

"Tanya padanya." Li Yue menunjuk pemuda yang masih diam memandangnya dengan dagunya. "Putra satu-satunya dari mantan Perdana Menteri Huo Gui, Huo Li."

Tangan pemuda itu terkepal. Matanya memerah, serta tubuhnya bergetar kuat.

"Darimana kau tahu?" Kalimat pertama yang pemuda itu ucapkan terdengar pelan.

Xing He kini membuka mulutnya takjub. Jadi, selama ini ia tinggal dengan putra satu-satunya dari mantan Perdana Menteri Kekaisaran Feng.

"Kau bisa membodohi semua orang dengan penampilanmu yang tidak terurus serta bungkamnya lisanmu. Tapi aku tidak," kata Li Yue lancar seakan itu adalah hal yang tidak penting.

Li Yue bersikap seperti itu karena yakin bahwa ia benar. Sebelum mengatakan ini, ia sudah mendapat sedikit informasi dari para pelayan dan prajurit yang ada di kediamannya.

Mereka mengatakan bahwa keluarga Huo dihukum karena mengkhianati Kekaisaran Feng dengan cara bekerja sama dengan musuh serta menggelapkan uang rakyat.

Keluarga yang dulunya dihormati oleh setiap rakyat Kekaisaran Feng kini hanya tinggal nama saja.

"Keluar," kata Li Yue kepada Xing He.

"Ba-Baik, Permaisuri. Saya permisi."

Dengan langkah tersendat-sendat, Xing He keluar dari ruangan. Berulang kali kepalanya menengok ke belakang, saking penasarannya dengan situasi yang ada.

"Jadi... Huo Li. Kau harus membayar jasaku karena telah menyelamatkanmu dari pelelangan. Kau tahu, aku menghabiskan banyak sekali uang untuk itu," ujar Li Yue kala Xing He sudah keluar dari ruangan.

"Saya tidak mau, karena saya tidak meminta untuk diselamatkan."

Kedua alis Li Yue terangkat. Rupanya, pemuda di depannya ini adalah tipe orang yang menjunjung tinggi harga diri. Dan Li Yue menyukainya.

"Kau memang tidak meminta untuk diselamatkan, tetapi karena aku sudah terlanjur menyelamatkanmu, bukankah kau harus membalasnya? Ingat, manusia hidup untuk saling memanfaatkan."

Kalimat terakhir yang Li Yue ucapkan terdengar ironis. Manusia hidup untuk saling memanfaatkan. Jika tidak bermanfaat, maka manusia itu akan ditinggalkan.

"Lagipula, apa kau tidak ingin membalaskan dendam keluargamu? Ayah, ibu, serta orang-orang yang ada di kediamanmu? Apa kau tidak ingin membalas kematian mereka?"

Suara halus Li Yue terdengar merdu, meski makna dari kata-katanya bukanlah sesuatu yang baik.

"Keluargamu mati, tempat tinggalmu sudah rata dengan tanah. Dan lihat kondisi tubuhmu sebelum aku menyelamatkanmu—kurus, kering, tidak terurus, bagaikan mayat hidup. Kau dan keluargamu begitu menderita, sedangkan pelaku utama kejadian yang menimpamu saat ini sedang bersenang-senang."

Li Yue memajukan tubuhnya, lalu berbisik pada Huo Li.

"Xi Longfei."

Begitu mendengar nama itu disebut, tangan Huo Li langsung mencengkeram kuat meja kayu di depannya. Matanya yang tadi memerah kini semakin memerah. Air mata membendung di pelupuk matanya, dan tatapannya sarat akan kebencian.

_o0o_

"Huuuh!"

Helaan napas kasar kembali terdengar di tepi kolam kediaman Putri Kekaisaran Feng. Kaki putihnya mengayun pelan di dalam air, sementara tangannya melempar batu kecil yang berada di dekatnya.

"Bosan." Satu kata terucap dari bibir mungilnya.

Belasan pelayan berbaris rapi di belakang perempuan berhanfu biru muda itu.

"Aku bosan. Bangun, mandi, makan, belajar, tidur. Ituuuu saja." Lu Si mengeluh. Setelah kakaknya memberikan titah agar tidak ada yang mengganggu istirahat kakak iparnya, kegiatannya hanya sebatas yang ia sebutkan tadi.

Baru tiga hari, dan Lu Si sudah lelah dengan itu. Ia ingin bertemu dengan kakak iparnya, berjalan-jalan di taman, melihat berbagai macam bunga yang memanjakan mata.

Semakin mengingatnya, Lu Si semakin ingin bertemu dengan Li Yue. Kakaknya memang keterlaluan memberikan titah yang sangat sulit untuk ia jalani.

Saking hanyutnya dalam pikiran yang berisi gerutuan tentang kakaknya, sang Kaisar, Lu Si sampai tidak sadar jika ada tangan yang akan menyentuhnya.

"Hey!!!!"

Tepukan serta seruan keras dari pemilik tangan berhasil membuat Lu Si terkejut dan langsung bangun dari duduknya.

"Kau!! Kau membuatku terkejut, tahu!! Bagaimana jika aku terjatuh ke kolam? Memangnya kau mau menyelamatkanku?!" sembur Lu Si pada kembarannya, yang dengan tidak tahu malu datang lalu menepuk keras bahunya.

"Aku menyelamatkanmu? Tentu saja tidak mau." Huang Ji memutar bola matanya seraya membalas perkataan adiknya.

Tak ayal, jawaban dari Pangeran Kekaisaran itu membuat belasan pelayan yang ada di sana sekuat tenaga menahan tawa mereka yang hampir meluncur. Memang, tak butuh waktu lama bagi kedua saudara kembar itu untuk bertengkar.

"Sudahlah, saat ini aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Katakan, apa tujuanmu kemari? Dan untuk apa pula kau mengajak Jenderal Ling-Ling?"

Zhao Ling, yang sedari tadi diam, langsung menegakkan kepalanya saat mendengar Putri Kekaisaran Feng masih memanggilnya Ling-Ling. Demi Tuhan, Zhao Ling ingin mengubur diri kala mendengar nama itu.

Di sisi lain, senyum Huang Ji mengembang. Ia tahu bahwa saat ini adiknya pasti tengah bosan karena tidak bertemu dengan kakak ipar mereka—sama sepertinya.

"Aku ingin mengajakmu bersenang-senang. Kau mau kan?"

"Bersenang-senang?"

"Iya," seru Huang Ji antusias. Tangannya bergerak mengisyaratkan agar Lu Si mendekat.

Dengan wajah penuh rasa penasaran, Lu Si berjalan mendekati kembarannya itu.

"Apa?"

Huang Ji mendekatkan kepalanya ke telinga kanan sang adik, lalu membisikkan rencana 'bersenang-senang' yang ia rancang sejak tadi pagi.

"Bagaimana?"

Mata Lu Si berbinar. Rencana bersenang-senang yang diusulkan oleh kakaknya itu terdengar sangat menarik.

"Aku mau!"

_o0o_

Continue Reading

You'll Also Like

193K 18.2K 44
[Original Karya Saya] Yelin Anastasya tidak pernah menyangka dia benar-benar bertransmigrasi ke era dinasti imajiner kuno karena jatuh dari tangga da...
6.4K 325 134
Judul: 唐宫奇案 (Táng gōng qí àn)/Kasus Aneh di Istana Tang Penulis: 森林鹿 (Sen Lin Lu) Sinopsis Pada tahun kesembilan Periode Zhenguan di Dinasti Tang, L...
149K 9.1K 46
Note: Ini cerita murni karangan author dan bukan cerita terjemahan!!! **** "Jika aku masih dibiarkan hidup sekali lagi,maka aku bersumpah akan memba...
4.4M 559K 94
[Bukan Novel Terjemahan] [Semua Chapter belum author revisi] Chapter masih lengkap, ya, Dears. Adapun Extra part author kasih ke versi cetak❤️ Sela...
Wattpad App - Unlock exclusive features