My Perfect Husband

By wiwisw98

1.8M 95.9K 6.9K

Perjodohan yang sudah ada sejak lahir, sepasang sahabat menjodohkan anak mereka jika mereka sudah bertumbuh d... More

CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CAST 'MPH'
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
CHAPTER 31
CHAPTER 32
CHAPTER 33
CHAPTER 34
CHAPTER 35
CHAPTER 36
CHAPTER 37
CHAPTER 38
CHAPTER 39
CHAPTER 40
CHAPTER 41
CHAPTER 42
CHAPTER 43
CHAPTER 44
CHAPTER 45
CHAPTER 46
CHAPTER 47
CHAPTER 48
CHAPTER 50
CHAPTER 51
CHAPTER 52
CHAPTER 53
CHAPTER 54
CHAPTER 55
CHAPTER 56
CHAPTER 57
CHAPTER 58
CHAPTER 59
CHAPTER 60
CHAPTER 61
CHAPTER 62
CHAPTER 63
CHAPTER 64
CHAPTER 65
CHAPTER 66
CHAPTER 67
CHAPTER 68
CHAPTER 69
CHAPTER 70
CHAPTER 71
CHAPTER 72
CHAPTER 73
CHAPTER 74
CHAPTER 75
CHAPTER 76
CHAPTER 77
CHAPTER 78
CHAPTER 79
CHAPTER 80
CHAPTER 81
CHAPTER 82
CHAPTER 83
CHAPTER 84
CHAPTER 85
CHAPTER 86
CHAPTER 87
CHAPTER 88
CHAPTER 89
CHAPTER 90
CHAPTER 91
CHAPTER 92
CHAPTER 93
CHAPTER 94
CHAPTER 95
CHAPTER 96

CHAPTER 49

18.8K 1K 128
By wiwisw98

Andin melihat tangannya yang digenggam oleh Rafa menuju kelasnya. Ia juga kaget ketika Rafa menariknya dan membawanya pergi ketika Gladys datang. Di dalam hatinya ia juga merasa senang karena seperti biasa Rafa bersikap acuh dan menghindari gadis itu.

Entah kenapa ia juga merasa aneh dengan dirinya. Entah bagaimana ia merasa kesal ketika kedatangan Gladys. Dulu, ia merasa tidak perduli ketika Gladys mendekati Rafa, atau bahkan menempel seperti ulat, tetapi sekarang berbeda. Ketika Gladys hendak mendekati Rafa saja ia sudah mulai jengkel. Sepertinya ia memang sudah mencintai Rafa, kembali.

Kembali? Ya, ia memang dulu mencintai Rafa hanya saja ia selalu berkilah dan memendam perasaannya dalam-dalam dan menganggap Rafa sudah seperti saudaranya sendiri karena Rafa selalu ada untuk dirinya.

Perasaan yang dulu ia pendam dan ia kubur dalam-dalam meletup kembali ke permukaan. Bagaikan letusan gunung merapi yang larvanya berlumuran kemana-mana.

"Udah sana masuk, gue juga harus ke kelas," perintah Rafa kepada Andin sambil mengelus puncak kepala Andin begitu mereka sampai depan kelas.

Sebenarnya Rafa melakukan hal yang tidak biasa dia lakukan ke gue sadar nggak sih. Maksud gue, dia sadar, atau nggak dengan apa yang dia lakukan ke gue, batinnya.

Andin bertanya-tanya didalam hatinya sambil setia melihat Rafa yang masih mengelus puncak kepalanya.

"Hmm." Andin mengangguk tersenyum senang atas ucapan Rafa yang membuat Rafa tersenyum geli yang dimana ia masih mengelus puncak kepala Andin.

Andin mendongak. "Tapi Raf, tadi seharusnya lo nggak usah anterin gue ke kelas." Andin merasa tidak enak kepada Rafa.

Ya, semenjak kuliah Andin berusaha keras untuk tidak selalu bergantung kepada Rafa, karena sewaktu kecil hingga remaja Rafa selalu bersamanya dan menolongnya. Maka dari itu ia mencari pacar agar tidak selalu bergantung kepada Rafa, tetapi justru ia merasa tidak ada perubahan. Setelah berpacaran dengan Reza, masih tetap saja Rafa yang ia andalkan. Mungkin ia sudah terbiasa akan Rafa didekatnya.

Rafa menggelengkan kepalanya atas ucapan Andin. "Nggak apa-apa. Gue emang lagi menghindari Gladys. Gadis itu benar-benar gila. Ckk!"

Andin tertawa. "Bwahaha nggak pernah berubah. Pasti ada aja satu cewek sakit yang ngejar-ngejar lo dari dulu. Waktu SMA ada Mon..."

Andin yang awalnya tertawa menjadi diam atas ucapan terakhirnya. Bahkan ia sampai tidak menyebutkan nama Mona, tetapi ia menjedanya karena ia tidak sanggup menyebutkan nama gadis itu.

Rafa yang melihat perubahan Andin terdiam dan ia mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap Andin dalam diam.

"Ekhem," dehem Andin sambil membenarkan rambutnya gugup, "u-udah sana Raf, ke kelas lo. Nanti lo telat masuk karena kita beda gedung."

Andin berusaha mengusir Rafa dengan mendorong badannya untuk menjauh dan segera pergi dari kelas Andin, tetapi Rafa masih saja diam dan tidak ada niatan untuk pergi.

"Rafa..." panggil Andin.

Rafa berjalan ke arah Andin dan memeluknya erat sambil menaruh dagunya di bahu Andin. "Apa lo masih kepikiran tentang pertemuan kita dengan Mona di supermarket waktu itu?"

"Heh! Apa?" kerjap Andin, tetapi tidak lama ia dibuat panik atas perlakuan Rafa. Bagaimana tidak, kelasnya tidak jauh dari lift dan disana sedang banyak orang yang sedang mengantri untuk naik keatas dan lebih parahnya mereka melihat Andin dan Rafa yang sedang berpelukan.

"Ra-rafa... Malu, kita lagi di kampus sekarang." Andin berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafa, tetapi Rafa justru semakin memeluknya erat.

"Lupakan semua tentang Mona karena gue nggak mau melihat lo sedih dan menangis lagi."

"A-apa?" Andin yang awalnya berontak dan berusaha melepaskan pelukan Rafa, kini terdiam atas ucapan Rafa.

Kini Andin dibawa kepelukan Rafa dan Rafa menaruh kepala Andin ke dadanya. Ia mengelus lengan Andin. "Melihat lo menangis gue merasakan sakit."

Andin yang ingin mendongak dan menatap Rafa tiba-tiba kepalanya ditahan oleh Rafa, jadi ia tidak bisa melihat wajah Rafa.

"Ya, seperti gue dicuekin sama lo waktu itu dan gue nggak suka."

Andin terdiam kembali atas ucapan Rafa dan tentu saja ia masih ingat tentang dirinya mencueki Rafa hanya karena ia berciuman dan tidak menyadari bahwa ia sudah duduk dipangkuan Rafa. Karena malu dengan apa yang Andin lakukan pada saat itu ia memilih kabur ke kamar menghindari dan mencuekinya.

Rafa melepaskan pelukannya dari Andin. Ia menangkup wajah Andin dengan kedua tangannya dan mendekatkan dirinya ke wajah Andin dan hal itu membuat Andin meneguk salivanya. Wajah Rafa semakin dekat yang membuat dirinya tanpa sadari mejamkan matanya. Tidak lama ia merasakan sesuatu yang basah di dahinya. Ia merasa hangat dan nyaman.

"Andin, woy! Masuk. Kenapa di luar aj..."

Lisa datang yang hendak menyuruh Andin masuk tidak melanjutkan ucapannya karena ia terlalu terkejut atas apa yang ia lihat. Didepan sana sahabatnya yaitu Andin, sedang dicium dahinya oleh Rafa.

Sebenarnya bukan hanya Lisa. Semua yang berada di sana juga terkejut. Suara bisik-bisik mulai terdengar.

"Apa itu yang disebut sahabat? Sahabat kok cium dahi."

"Eh, dia bukannya pacarnya dari Reza yang anak kedokteran itu kan ya?"

"Aduh... Potek hati dd."

Bagian wanita yang bisik-bisik menatap Andin tidak suka, tetapi banyak yang mendukung Andin dengan Rafa. Lalu, ada juga yang merasa sedih dan patah ketika melihat apa yang dilakukan Rafa lakukan kepada Andin. Ada sebagian juga mengangkat bahu acuh.

Rafa melihat orang-orang yang berada di lift dengan tatapan tajam yang membuat semua yang berada disana salah tingkah dan menunduk takut. Tentu saja, ia mendengar suara orang yang berbisik membicarakan Andin.

"Udah sana masuk," kata Rafa setelah melepaskan ciumannya do dahi Andin.

"Eh!"

"Semangat untuk ulangannya."

Rafa tersenyum hangat dan sebelum pergi ia mengelus puncak kepala Andin kembali yang membuatnya terdiam.

"Duluan Lis." Rafa menyapa Lisa yang dimana gadis itu terdiam mematung tidak jauh darinya dan sepertinya Andin belum menyadari akan kedatangan Lisa.

"Eh! I-iya..." Lisa tersadar dari keterkejutannya dan ia melihat Rafa pergi meninggalkan dirinya, tetapi sebelum pergi ia melihat Rafa tersenyum kepada Andin yang dimana sahabatnya itu masih diam mematung. Ia menyenggol bahu Andin dengan keras untuk menyadarkan sahabatnya itu.

"Ciyee... Yang dahinya habis dicuim sama Rafa." Lisa menggoda Andin dengan senyum menggoda.

"Aigoo... Pagi-pagi sudah melihat keuwuan lo sama Rafa." Lisa heboh sendiri yang membuat Andin salah tingkah ketika mengingat kejadian tadi.

"Oh, astaga... Astaga... Rafa bikin anak orang jantungan. Ndin, jantung lo masih sehat, kan?"

"Heh! A-apa?" kerjap Andin dan tanpa Lisa sadari. Ia diam-diam memegang dadanya untuk mengetahui bagaimana keadaan jantungnya dan ternyata jantungnya berdetak tidak seirama yang dimana jantungnya berdetak sangat kencang.

Ini baru pertama kalinya Rafa memeluk dan mencium dahinya di depan umum karena bisanya Rafa hanya melakukannya disaat hanya ada mereka berdua, tetapi seorang berbeda.

"Anak-anak kelas kita harus lihat juga dengan apa yang gue lihat. Aw..." Lisa berteriak heboh kembali.

Andin membelalakkan kedua bola matanya atas ucapan Lisa. "A-apa? Ja-jangan!" Ia mencegah Lisa untuk tidak memberitahukan kepada teman-teman sekelasnya. Ia tidak ingin dijauhi dan dikucilkan kembali oleh teman sekelasnya. Cukup waktu jaman sekolah saja.

Sepertinya Lisa tidak menghiraukan ucapan Andin. Ia menarik Andin masuk kedalam kelas dengan semangat yang membuat Andin terseok untuk mengikuti langkah sahabatnya itu.

"Lis, gue mohon. Jangan kasih tahu anak-anak yang la-"

"WOY! GUYS! LO SEMUA HARUS TAHU TENTANG APA YANG RAFA LAKUKAN KEPADA ANDIN."

Kelas yang awalnya tenang dimana mereka sedang belajar kembali untuk mengikuti ujian pagi ini. Kini aktivitas mereka terhenti atas teriakan Lisa.

"Nggak, jangan percaya sama Lisa." Andin melambaikan tangannya kepada teman-temannya panik.

"Ada apa sih?"

"Rafa? Sahabat lo itu Ndin?"

"Rafa si cogan kampus?"

Kelas menjadi ramai dan pertanyaan datang bertubi-tubi yang membuat Andin gelisah. Sementara ketiga temannya hanya diam mendengarkan dibalik kursi tempat duduknya.

Seketika Andin dan Lisa sudah dikerumuni oleh teman-teman sekelasnya. Mereka sangat penasaran akan Andin dan Rafa.

"Si Rafa habis aja mencium dahi Andin di depan kelas dan gue mempergoki mereka," seru Lisa.

"APA?"

Semua teman-teman sekelas Andin terlihat kaget atas ucapan Lisa. Sementara Andin memejamkan matanya dan ketiga temannya yaitu Kayla, Sarah dan Sherly saling tatap dan tidak lama mereka tersenyum.

"Coba lo semua bayangin. Orang yang terkenal jutek dan dingin tiba-tiba berubah sweet gitu meleleh nggak lo semua?" Lisa menatap teman sekelasnya satu persatu.

"Apa? Wah... Beruntung banget lo Ndin."

"Gue juga mau dong."

"Ndin, Lo beruntung banget." Teman-teman Andin menarik pergelangan tangannya yang membuat Andin meringis.

Senyuman tidak pernah pudar dari ketiga teman wajah cantik Andin, ketika mereka mendengar penjelasan dari Lisa tentang apa yang Rafa lakukan kepada Andin.

"Tapi Lis, Andin bukannya udah punya pacar ya?"

"Iya, Ndin, Lo bukannya sudah punya pacar ya?"

Baru saja Andin ingin menjawab ucapan temannya. Lisa sudah menyebar duluan. "Udah putus mereka dan Rafa menjadi suaminya sekarang."

"APA?"

Entah untuk yang keberapa teman-teman sekelasnya sepot jantung.

"Mereka di jodohin guys," celetuk Sarah yang duduk anteng di kursi duduknya.

"Apakah masih ada jaman Siti Nurbaya di era modern ini?" celetuk salah satu teman Andin.

"Iya, dan mereka contohnya," Kayla membenarkan ucapan teman sekelasnya itu dan diangguki oleh ketiga teman Andin. Andin hanya diam.

"Jahat benar lo nggak undang kita-kita."

Semua teman sekelas Andin mendesah kecewa. Andin yang melihatnya terlihat tidak enak.

"Benar banget. Gue aja nggak diundang sama dia." Lisa menunjuk Andin malas yang membuat Andin meringis.

"Bukan seperti itu. Kalian harus tahu karena pada saat itu gue punya pacar. Oleh karena itu, kita nggak go public."

Semua terdiam atas ucapan Andin dan tidak lama mereka mengangguk setuju. Mereka berusaha mengerti akan posisi Andin pada saat itu.

"Jadi maafin gue. Gue nggak bermaksud seperti itu." Andin menatap teman sekelasnya dengan perasaan tidak enak.

"Nggak apa-apa santai aja Ndin, kita semua mengerti."

Andin tersenyum ketika mendengar salah satu jawaban teman sekelasnya itu dan ia menatap ketiga temannya yang duduk ateng di kursinya dan mendapat acungan jempol dari ketiganya. Lalu, ketika ia melihat Lisa temannya itu mengangguk dan tersenyum juga.

Setelah itu teman-teman sekelasnya memberi Andin selamat atas pernikahannya dengan Rafa yang membuat Andin terkejut. "Kok kalian beri gue selamat? Kalian nggak marah kalau gue menikah sama Rafa?"

"Bwahahha lo lucu baget sih."

"Bwahaha Andin... Andin..."

Seluruh teman-teman sekelasnya tertawa atas ucapan Andin yang menurut mereka lucu itu.

"Ngomong apa sih lo. Kita semua emang suka sama Rafa dan bukan berarti kita semua membenci lo."

"Apa?"

"Ingat! Jangan samakan kita sama anak-anak abg labil yang dimana harus memiliki lelaki yang kita suka apapun caranya."

Ia jadi mengerti sekarang. Mungkin jaman SMA adalah masa remaja yang dimana jaman masih labil-labilnya dan masa kuliah adalah mereka yang sudah dewasa untuk selalu berpikir kritis.

Mungkin itu sebabnya Mona dulu bersikap seperti itu kepadanya karena ia masih labil dan belum dewasa. Waktu di supermarket ia bertemu dengan Mona dan Mona meminta maaf kepadanya. Sebenarnya ia sudah memaafkannya sejak dulu. Hanya saja ia masih belum siap untuk bertemu Mona kembali.

"Ndin, woy! Kenapa melamun?" tegur Lisa dan teman-teman sekelasnya juga menatap Andin yang terdiam.

"Eh! Gu-gue? Nggak apa-apa he..." Andin menyengir atas ucapannya yang membuat teman-temannya menggelengkan kepalanya.

"Eh, sebentar. Kita emang nggak marah, tapi Gladys berbeda. Lo harus hati-hati sama dia." Salah satu teman Andin memperingatkan dirinya.

"Betul, bukan rahasia umum ya, ntuh cewek ngejar-ngejar Rafa," kata teman Andin yang satunya.

Andin terdiam. Sebenarnya ia juga takut apa yang terjadi jika Gladys tahu status Rafa sekarang. Kenapa ia tiba-tiba menjadi paranoid seperti ini.

"Yuhuu... Sudah bel guys. Bubar... Bubar... Silahkan kembali ke tempat duduk kalian masing-masing. Sebentar lagi dosen akan datang."

Sarah datang menyelinap di tengah-tengah yang dimana Andin dan teman-temannya sedang mengelilingi Andin. Ia menyuruh Andin beserta teman-temanya untuk duduk ke bangku mereka masing-masing.

Suara desahan kecewa terdengar di mulut teman-temannya yang membuat Sarah tertawa.

"Lo nggak usah khawatir. Kalau cewek nggak tahu malu itu berbuat jahat sama lo, tenang ada gue," kata Sarah sambil menepuk dadanya.

"Hey... Ada kita kita juga. Jangan lupakan," ralat Sherly sambil menunjuk Kayla dan Lisa, yang membuat Sarah mengangguk dan menjentikkan jarinya setuju atas ucapan Sherly.

"Ya, ada laki lo juga dan gue yakin Rafa nggak akan diam kalau lo kenapa-kenapa. Oh ya, dan jangan lupakan Diki, Raka, Brian, Firman dan Rizky. Mereka juga pasti akan membantu lo," kata Kayla sambil memegang tangan Andin.

Andin mengangguk dan tanpa terasa air matanya terjatuh yang membuat semuanya panik.

"Sorry, gue hanya terharu." Andin tersenyum dan menghapus air matanya yang membuat keempat temannya tersenyum.

"Ingat, lo nggak sendirian. Ada teman-teman lo yang siap membantu lo kapanpun dan gue harap lo jangan terbayang-bayang teman-teman lo yang bersikap buruk sama lo sewaktu remaja. Kita semua jelas berbeda."

Andin mengangguk-angguk mengerti atas ucapan Sarah, tetapi ketika mendengar ucapan terakhir Sarah ia menatap Sarah syok. "Sar, bagaimana lo..."

"Eh, a-anu... Aduh... Kay, gue belum belajar. Gimana ini?! Sebentar lagi dosen masuk lagi."

Andin melihat Sarah dengan cepat meninggalkan dirinya dan duduk dikursi tempat duduknya meninggalkan Andin yang masih berdiri di depan papan tulis. Ia berpikir bagaimana Sarah bisa tahu tentang masa lalunya. Apakah Firman yang memberitahunya? Tidak mungkin juga kan ia tahu sendiri.

Tidak lama dosen mereka masuk dan mereka mengerjakan ulangan dalam diam dan tenang, tetapi sesekali teman-teman Andin menggoda dirinya ketika dosen sedang lengah.

----

"Gimana, ketemu?"

Andin menggelengkan kepalanya dan menghela napas kasar. Ia menelungkupkan kepalanya diatas meja.

Memang, setelah ulangan selesai ia dengan cepat ke kelas Reza hanya ingin menjelaskan sekali lagi dan ia ingin mengembalikan kalung yang waktu itu Reza kasih kepadanya. Lagi pula, ia merasa mereka putus tidak secara baik-baik.

"Gue udah berpikiran seperti ini dan akhirnya terjadi juga. Reza menghindari gue."

Ya, Andin memang sudah mewantinya jauh-jauh hari dan akhirnya kekhawatiran itu menjadi kenyataan.

"Lo udah cari ke perpus, atau tidak ke BEM. Dia anggota BEM juga kan?"

Reza memang anggota BEM yang dimana ia wakil dan Rizky ketuanya. Andin saja baru tahu ketika mereka pacaran, tetapi Reza tidak sesibuk Rizky, pacar Sherly.

"Hmm, gue juga udah kesana, tapi katanya Reza nggak kesini dan ada yang bilang juga bahwa Reza udah pulang duluan begitu ulangan selesai."

"Seriously?"

"Hmm." Andin mengangguk tidak semangat.

"Sejak kapan?"

"Udah lama katanya."

Keempat teman Andin terdiam atas ucapan Andin.

"Lo semua tahu kan gue bela-bela in ulangan pulang duluan berharap bisa bertemu Reza, tetapi malah dapat zonk." Sherly dan Lisa menahan tawa atas ucapan Andin.

"Semoga aja gue nggak ngulang semester ini." Andin menghela.

"Jangan dong! Masa iya harus ngulang lagi. Berfikirlah positif beb," kata Sarah kepada Andin dan diangguki oleh ketiga temannya.

"Kalau Rafa tahu gimana ini? Dia bisa marah lagi sama gue."

"Jujur aja bahwa Reza udah pulang duluan dan lo nggak ketemu dia." Kayla mengusap bahu Andin yang terlihat gelisah itu.

"Kalau Rafa nggak percaya gimana? Kalau dia mikirnya gue ngulur waktu lagi? Guys... Rafa serem kalau marah."

Keempat teman Andin terdiam atas ucapan Andin.

"Percaya gue yakin. Jadi tenang saja ya"

Andin mengamini ucapan Kayla di dalam hatinya.

"Lebih baik sekarang lo cerita bagaimana bisa lo ke kelas bareng sama Rafa?"

Andin menceritakan kembali tadi pagi yang dimana mereka kedatangan Gladys dan Amel yang tiba-tiba datang dan menghampiri mejanya dan dengan cepat Rafa membawanya ke kelas ia sengaja ingin menghindari Gladys.

"Lalu cium dahi? Ayo... Ndin, penasaran aku tuh." Lisa menarik pergelangan tangan Andin.

"Nggak tahu tiba-tiba Rafa mendekat dan mencium dahi gue. Meleleh nggak tuh."

Seketika keempat teman Andin heboh.

"Gue aja yang melihatnya meleleh apalagi Andin. Kya..." Lisa menjerit yang membuat Andin menggelengkan kepalanya.

"Jika diperhatikan Rafa semakin sweet ya?"

"Hmm." Andin mengangguk dan tersenyum atas ucapan Sherly.

"Aigoo... Ndin, kalau gue jadi lo udah bengek kali," kata Lisa yang membuat Andin, Sherly dan Kayla tertawa.

"Bukan hanya lo, mungkin gue juga." Sarah menimpali ucapan Lisa.

"Oh ya, Lis, bagaimana lo bisa memergoki Rafa yang sedang mencium dahi Andin dan juga... Bagaimana lo bisa yakin kalau itu Andin? Emang pada saat itu lo lagi ngapain?" tanya Kayla kepada Lisa. Andin juga penasaran. Bagaimana bisa Lisa tiba-tiba udah ada berada disampingnya.

"Tadi kan gue lagi ngobrol dibelakang sama yang lain dan gue nggak sengaja ngelihat lo dari penampilannya. Gue yang kesal melihat lo nggak masuk-masuk kelas masih diluar aja berinisiatif menghampiri lo dan betapa terkejutnya gue ketika melihat Rafa yang sedang mencium dahi lo dan gue melihat lo juga merem seakan sedang meresapi kehangatan dari ciuman Rafa. Kya..." Lisa heboh sendiri ketika menjelaskan diakhir ucapannya yang membuat ketiga temannya tersenyum.

"Ini sangat jarang terjadi. Rafa tipikal orang yang pendiam, dingin dan cuek bebek sangat jarang menunjukkan keromantisan mereka di depan umum. Biasanya orang yang seperti itu akan melakukan skinship jika sedang berdua."

Semua terdiam atas ucapan Sherly. Begitu pula, dengan Andin. Ia juga setuju atas ucapan Sherly.

"Gue tanya sekarang sama lo. Apa yang gue katakan itu benar?"

"Hmm, dan ini untuk pertama kalinya Rafa melakukan skhinsip di depan umum."

Keempat teman Andin berteriak heboh atas jawaban Andin.

"Ndin, lo udah sejauh mana sama Rafa?" Lisa menarik pergelangan tangan Andin.

"Lo semua tahu kan arti ciuman di dahi yang di mana ciuman itu untuk mewakili rasa kasih sayang, bangga, atau sedang kagum kepada orang yang dicintai. Apalagi lelakimu mencium keningmu di depan banyak orang, ternyata dia ingin menunjukkan kesungguhannya terhadap hubungan kalian. Right? Seperti apa yang Rafa lakukan kepada lo tadi pagi. Huwa... Aku teh semakin iri sama kamu." Sarah semakin menarik pergelangan tangan Andin. Sampai badan Andin ikut bergoyang terbawa oleh gerakan Sarah.

"Dan itu artinya Rafa benar-benar serius sama lo dan ingin menunjukkan siapa lo sebenarnya kepada orang-orang," kata Sarah kembali.

Andin menahan senyum atas ucapan panjang Sarah. Ia jadi tahu artinya sekarang.

"Ya, gue juga pernah baca seperti itu. Diki juga pernah melakukan seperti itu ke gue yang membuat gue merasakan hangat dan nyaman. Ya, serasa dilindungi gitu." Kayla setuju atas acapan Sarah.

"Ya, gue juga setuju." Sherly setuju atas ucapan Kayla dan Andin juga diam-diam setuju atas ucapan sahabatnya itu. Ia juga merasakan hangat dan nyaman ketika Rafa mencium dahinya.

"Terus saja membanggakan pasangan kalian di depan gue, gue kuat kok." Andin dan kedua temannya tertawa atas ucapan sindiran Lisa.

"Sar, lo masih kuat kan? Apalah daya kita yang masih menunggu hilal datang."

"Kenapa lo bawa-bawa Sarah, dia mah bentar lagi mau jadian sama Firman. Lah lo, kapan Lis? Haha."

"Apa? Sarah, apa itu benar? Huwa... Berarti hanya gue yang sendirian jomblo dan akan menjadi bulan-bulanan kalian karena status gue."

Semua tertawa atas ucapan Lisa.

"Jangan percaya karena itu nggak akan terjadi. Gue jadian sama Firman? Iyuh... Gue nggak suka cowok yang suka mengoleksi cewek. Lagi pula, pacar gue kan Shawn Mendes! Gimana sih lo!"

"Udah gue peringatkan hati-hati karma."

Rafa
Udah selesai ulangannya?

Laper 👉👈

Rafa
Dimana?

Taman


Rafa
Tunggu, nanti gue kesana bawa makanan

Asik... Terimakasih suamiku

Andin tersenyum tiada henti ketika membalas ucapan pesan dari Rafa dan ia tertawa sendiri ketika ia membalas pesan terakhir dari Rafa. Ia jadi malu sendiri.

Tidak lama pesan kembali masuk dari Rafa.

Rafa
Hmm.

"AKH...." Andin menjerit ketika membaca pesan balasan dari Rafa. Ia pikir Rafa tidak akan membalasnya. Ternyata dugaannya salah.

Keempat temannya menatap Andin aneh dan Sherly dengan cepat menyambar ponsel Andin dan membaca pesan terakhirnya yang membuat dirinya terkejut sekaligus kesal.

"Sialan Andin akan dibawain makanan sama Rafa, atuh gue juga mau woy!"

"Mana?"

Seketika ketiga teman Andin mengelilingi Sherly dan membaca pesan dari Rafa.

"Rafa sepertinya tidak marah ketika Andin memanggilnya dengan sebutan suami. Gue tidak melihat kata decakan di pesan Rafa."

Semua mengangguk setuju. "Benar juga."

"Cepat balas lagi. Bawa makanan yang banyak gitu. Masa Andin makan kita nggak." Sherly menangguk atas ucapan Kayla.

Baru saja ia ingin mengetik pesan di ponsel Andin, Andin sudah menyambar dan merebut ponselnya kembali yang membuat keempat temannya berdecak kesal.

"Eits... Tidak bisa. Kalian telepon saja sendiri ayang mbeb kalian. Hihi." Andin terkikik geli atas ucapannya.

Keempat temannya menghela napas kesal. "Kenapa nggak sekalian aja sih?! Hargai gue tolong! Kalian semua enak sudah punya pasangan. Sementara gue? Au ah gelap."

"Gue juga nggak ada Lis," Sarah memegang lengan Lisa.

"Bacot. Lihat aja nanti juga Firman bawa makanan buat lo."

Andin tidak berhenti tertawa ketika melihat wajah kesal Lisa. Entah kenapa yang menurutnya lucu itu.

****

Yuhuuu author yg cantik suaminya Lay, pacarnya Kai, selingkuhannya Sehun comeback uwuuuu 😙🤣

Kangen aku tak?
Readers belike: hilihhh siapa lo? Bhaks....

Maaf ya aku menghilang dan nggak up, cuz aku hibernasi manteman. Yang dimana mengistirahatkan hati dan pikiran 😵

Jangan lupa voment 😋😋
Sorry for typo

Sampai ketemu di chapter selanjutnya 😙😙

Sankyu 😙😂

Continue Reading

You'll Also Like

168K 4.9K 67
#1 highest rank category of couples "Ketika kisahku dan kisahmu berubah menjadi kisah kita, Ada benang kusut yang tak kasat mata antara kamu dan juga...
614 88 17
Ada kisah yang memang tak diungkap, itu bukan berarti kisahnya tak menarik. Dan itu menjadi 'keharusan' ku untuk menutupi segala yang tak kau ketahui...
1.4M 35.8K 60
CERITA LENGKAP-HAPPY END BELUM REVISI "sumpah capek banget astaga, PENGEN NIKAH AJA. huff" Omongan adalah doa. Putri tunggal dari perusahaan terkaya...
50.7K 1.3K 62
"Kamu akan papah jodohkan" begitulah ucapan dari seorang laki laki paruh baya yang membuat Ilalang langsung terkejut "Maksudnya?" "Iya sayang kamu a...
Wattpad App - Unlock exclusive features