Soufflé (FIN)

Por K_ambara17

18.2K 1.6K 510

"There's no such a thing as perfect Soufflé, and so are our life." Soufflé, sejenis kudapan manis nan ringa... Más

Salam Dari Penulis
1. Lima Purnama Lalu
2. Perantauan
3. Moleskine
4. Lembar-lembar
5. Shibuya
6. Fold it
7. Urusan
8. Dia
9. Yang Baru
10. Kala Itu
11. Tetangga
12. Prasangka
13. Outer Market
14. Raindrop
15. Petunjuk
16. Setagaya
17. Pahit
18. Wajar
19. Yama-zakura
20. Hanagasumi
21. Di Sini
22. Hampir
23. Hilang
24. Pulang
25. Tokyo
26. Hanami
27. Terpisah
28. Bertemu
30. Lensa
31. Kencan
32. Pra
33. Singgah
34. Ruang
35. Ayah
36. Jakarta
37. Cantik
38. Aster
39. Kenangan
40. Konser
41. Sebentar Lagi
42. Kembali
43. Sudut Ingatan (END)
Penutup Dari Penulis

29. Dekap

286 30 2
Por K_ambara17

"Ka, pindah jalur. Sekarang."

"Ha? Gimana?"

"Kita ke Akihabara sekarang."

"Dri, tapi—"

Pada beberapa jam sebelumnya, itulah yang dikatakan Adriana pada Saka selepas mereka menjumpai satu peristiwa rumit di Stasiun Iidabashi. Kala itu, tanpa pikir panjang, Adriana langsung saja menarik tangan Saka, keluar dari peron Jalur Namboku dan malah menunggu kereta di Jalur Chuo.

Dari menjelajah rentetan game center, menyusuri berbagai toko elektronik serta toko figurin dan manga, sampai balapan Go-kart. Sepanjang tengah hari hingga menjelang sore, Adriana tak henti membawa langkah Saka menikmati semua keseruan gila apa pun yang mereka bisa dapatkan di Akihabara.

Kala itu, Saka paham jika semua benang kusut yang memenuhi pikirannya dan Adriana, memang perlu diurai. Ia pun mampu membaca jika gadis itu juga sama-sama terpukulnya. Namun, ia hanya ingin memberi sedikit jeda pada gelombang yang baru saja tercipta agar lebih dulu tenang. Ia membiarkan Adriana membawanya ke mana pun. Saka bahkan belum ingin bertanya pada Adriana mengenai segala duduk perkara yang sesungguhnya telah terjadi di antara mereka.

Belum puas selepas menggila di Akiba, Adriana lalu berlanjut membawa Saka melebur pada keramaian Shibuya. Gadis itu membuat Saka menyusuri berbagai pertokoan dan makan segala jajanan manis yang ia temui sampai kepalanya pening dan tingkahnya jadi sedikit hiperaktif karena glukosa berlebih. Ingar-bingar meretas sejenak segala lara dan risau. Memang, bukan sebuah obat yang tergolong manjur. Namun, setidaknya bisa jadi pereda nyeri sesaat bagi luka yang masih begitu baru.

Shibuya scramble, atau sebutlah Perempatan Shibuya, bukan sebuah rahasia lagi kalau belum pernah ada perempatan pejalan kaki di belahan dunia lain yang bisa lebih sibuk darinya. Pemegang rekor dunia masihlah disabet oleh perempatan Shibuya. Tiap harinya, terhitung jutaan orang akan menyebrangi perempatan tersebut, dan setiap 3,3 menit akan ada 2500 lebih orang yang menyebrang di sana.

Senja mulai tiba, kemiringan sempurna sinaran surya pun menimpa puncak-pucak gedung di tengah belantara beton, membuat kaca-kacanya berkilau-kilau. Puncak kepadatan di areal penyebrangan Shibuya telah tiba, semua mata hanya menatap pada satu titik—lampu lalu lintas yang akan berubah hijau di seberang sana.

Sedari tadi mereka berpergian bersama, Saka memang tak lepas dari kamera. Benda itu setia menggelantung di leher. Siap sedia tiap kali Saka ingin memotret sekelilingnya. Sebelum lampu lalu lintas berubah hijau pun, pria itu bakan masih sempat-sempatnya memotret keramaian yang mengepung.

Tungkai Saka berderap, melewati leret-leret garis hitam-putih penyebrangan besar Shibuya. Berbagai bentuk rupa manusia menyemut dan menyebar bersamaan dari segala penjuru, sama-sama menyeberang. Sesuatu kemudian menarik atensi Saka ketika Adriana terlihat lebih dahulu memacu langkah. Beberapa saat kemudian, gadis itu tampak terhenti sejenak, memandangi langit dan rentetan gedung di sekelilingnya.

Pada momen itu, detik yang bergulir seolah membeku sejenak. Saka dengan insting juru fotonya yang impulsif, mendadak membidik wajah belia itu lewat lensa. Air mata tampak jelas telah jatuh di atas pipi meronanya, tertangkap pada gerak lensa dan bukaan diafragma yang meloloskan cahaya. Di sana, ada sendu yang terbersit meski hanya dalam beberapa detik.

You're the worst liar I've ever met, Dri, cibir Saka.

Sepanjang siang itu, paras Adriana memang tak lepas dari tawa, tampak seperti topeng pertunjukan sandiwara yang sempurna. Namun, kala luapan perasaan itu terpatri jelas mengaliri pipi gadis itu, segalanya malah terasa kian pelik dalam sanubari Saka. Dalam sunyi, dalam detik yang seolah bergulir lambat, Saka telah mengabadikan wajah itu beberapa kali. Tanpa diketahui Adriana, Saka kemudian melepas bidikannya.

Gadis itu pun lalu tampak berjalan kembali hingga tiba di trotoar seberang jalan. Saka tak ingin menyinggung apa pun tentang tangisan sesaat itu, kemudian memilih kembali berjalan beriringan dengan Adriana.

"Yuk, cabut! Enaknya kita ngapain lagi, ya, sekarang?"

Adriana menukas, berusaha tampak riang dan antusias. Air mata sudah dihapusnya entah sejak kapan. Wajah itu pun dibuat berseri lagi, seperti tidak terjadi apa-apa.

Saka tak lantas menanggapi, sontak menghentikan langkah. Ditatapnya punggung mungil itu dalam nanar. Ia tahu kalau Adriana hanya sedang berusaha tegar.

"Adriana!" seru Saka dari arah belakang, membuat gadis itu menoleh. "Saya harus balik, Dri," sambungnya.

Adriana terhenti, sorotnya sekilas tampak menebar sendu. Namun kemudian, ia berusaha tersenyum dan mengangguk tipis.

"Saya ada kerjaan di Nakameguro. Teman-teman saya sebentar lagi sampai," jelas Saka.

Adriana kemudian terlihat mengangguk lagi. "Kita jalan sambil ngobrol saja, ya? Nakameguro sudah dekat dari sini."

-:-:-

"Saya harap kamu bisa mengerti, Fara."

Suara Christoff terdengar tenang.

"Christoff, saya—" Fara menatap sendu. Kalimatnya menggantung.

"Saya mohon, Fara. Sudah, jangan lagi hidup dalam kenangan lama."

Nada suara pria itu pun berganti, terdengar semakin penuh penekanan.

Keduanya tertawan sunyi. Entah sudah berapa lama mereka sama-sama meregang rasa, tersangkut lara. Dua cangkir cappuccino yang mulai mendingin terpaksa menjadi hakim garis di antara mereka. Dari balik kaca-kaca jendela lantai dua, rentetan gerbong-gerbong kereta tampak melintas cepat di jalur Hibiya. Lampu-lampu kota tampak mulai berpendar menggantikan sinaran surya yang telah pulang ke peraduan. Onibus, kafe kecil di Nakameguro—yang menyajikan pemandangan estetik lintasan kereta rel listrik dari ruang lantai duanya—menjadi latar perbincangan serius Christoff dan Fara.

Fara dan Christoff telah sama-sama mengemukakan duduk perkara dari gumpalan benang kusut persoalan yang memenuhi hari mereka. Satu per satu, kisah pun terurai dari masing-masingnya.

"Dulu saya pikir ketika saya akhirnya membuka hati untuk orang lain, saya benar-benar sudah lepas dari kenangan lama. Tapi nyatanya enggak, Chris. Ketika Tuhan kasih saya kesempatan untuk ketemu lagi sama kamu, rasa itu masih sama. Hati saya nggak bisa bohong. Nggak ada yang bisa menahan."

Pengakuan Fara kembali membuat batin Christoff terombang ambing dalam pusaran rasa yang begitu kencang.

"Dengar, Fara," Christoff seraya menatap sejuk sepasang bola mata indah di hadapannya, "saya nggak ingin kamu terlibat apa-apa lagi di dalam dunia saya."

"Apa lagi, Chris? Kamu cuma mau bilang kalau ini semua tentang kondisimu yang sekarang?" cecar Fara, tidak terima. Christoff terdiam, ragu untuk menjawab.

"Kamu hanya ingin jadi orang egois yang berpikir kalau dunia ini hanya tentang kamu? Padahal sebenarnya kamu juga paham kalau di antara kita memang ada rasa yang lebih, 'kan? Saya tahu kamu juga sadar, Chris." Tidak peduli dengan semua penolakan, Fara kukuh dengan perasaan terdalamnya.

Ya, tidak salah. Christoff sepenuhnya sadar dan paham jika apa yang diucapkan gadis itu adalah murni fakta. Ia hanya berlagak layaknya orang dungu yang masih saja bertingkah pura-pura tak tahu jika tabir rasa di antara mereka memang sudah sama-sama tersingkap.

"Sekali lagi, saya minta maaf karena sudah membuka celah itu," mohon Christoff, yang kembali terdengar menyakitkan di telinga Fara.

Wanita itu tak mampu lagi membendung jatuhan air mata. Fara tahu jika ia sudah cukup gila karena hatinya tersekap oleh binar masa lalu yang dibawa oleh sosok Christoff. Namun di satu sisi, ia juga masih belum melepas sepotong hati yang sudah mengisi hari-harinya meski terhalang jarak. Ikatan dengan Saka masih tersimpul, walaupun kini telah berada pada titik nadir.

"Saya nggak butuh maafmu, Chris. Dan jangan sebut-sebut kalau kamu pernah nyakitin saya. Saya pribadi juga nggak ingin munafik. Saya mengakui kalau saya juga masih ada rasa dengan kamu," tekan Fara sekali lagi.

"Ya terus apa, Ra? Kita sudah sama-sama nggak rasional. Baik saya maupun kamu nggak berhak untuk lebih jauh lagi. Paham?"

Semakin ia menyanggah omongan Fara, lara justru semakin menawan batin Christoff. Rasional? ia jelas-jelas tahu kalau yang namanya merajut rasa dan cinta, kerap kali takkan mengenal kata rasional dan akal.

"Saya harap kamu mengerti. Ini semua hanya perkara perasaan sesaat yang nggak ada esensinya, Ra. Hanya tentang ego kita."

Christoff pun akhirnya tak ingin berhenti menjejal segala pahit pada gadis itu, menyadarkannya untuk lepas dari segala permainan batin yang berbahaya.

"Saka sudah jauh-jauh datang ke sini, hanya untuk kamu. Dia pria yang benar-benar baik dan peduli dengan kamu. Jangan sakiti orang lain. Selama ini, Saka yang selalu ada untuk kamu."

Christoff lagi-lagi mengungkit segala hal yang sulit ditepiskan oleh nurani. Fara pun kembali dibuat membisu, lidahnya sampai kelu.

"Saka adalah orang yang sudah mengisi hari-hari kamu, 'kan? Sampai akhirnya sekarang kamu ada di titik ini? Hm?"

Dalam sanubarinya, Fara hanya terus menepis segala anggapan itu. Getar pada bibir pantai hatinya, mungkin bukan lagi yang akan memanggil Saka untuk berlabuh. Dia tahu bahwa rasa itu tak sama lagi seperti hari-hari silam.

"Tapi nyatanya, cuma kamu yang bisa mengisi kesepian saya, Chris," pungkas Fara, tak mampu menemukan kalimat sanggahan lainnya.

Dengan penuh kecewa dan kesakitan di rongga dada, Christoff menggeleng samar. "Sudah, Ra. Lupain," ucapnya setengah tidak tega.

Untuk terakhir kali, Christoff daratkan sentuhan jemarinya pada puncak kepala Fara, mengelusnya sayang. Ia menatap lembut sang pemilik paras jelita sembari batinnya tak henti menampik segala rasa yang ada.

"Selamanya, Ra. Selamanya kamu tetap akan selalu menjadi sahabat terbaik saya."

Meski berat, senyum sepihak yang dilontarkan Christoff itu akhirnya mengakhiri perjumpaan, menutup segala temu yang pernah terjalin dalam hari-hari baru.

Mentari telah sepenuhnya redup di luar sana, berganti dengan pendar-pendar lampu kota kian terang menyala. Ada banyak rasa yang tak mampu terkata di antara keduanya, menumpuk di sudut hati. Biru, Tokyo tidak pernah terasa sebiru dan sedingin ini ketika luapan emosi Fara kembali jatuh dan menggenangi pipi. Sepi menyergap, keduanya sama-sama tahu jika telah menggores luka yang akan sulit diterobati.

Kamu bukan seseorang yang secara egois bisa saya miliki. Dan sejujurnya, kamu juga bukan seseorang yang bisa dicari versi lainnya, Ra.

-:-:-

"Dri, makasih buat hari ini," ucap Saka tulus, diiringi senyum hangat. Adriana kemudian hanya membalas sekilas.

Keduannya kembali menatap ke arah sungai yang membentang di depan jembatan. Nakameguro bersolek cantik di malam itu. Lampion-lampion kertas tampak telah digantung-gantung, menerangi sepanjang sisi sungai yang dinaungi pohon-pohon sakura yang bersemi semarak. Keramaian menggeliat, ribuan orang memadati areal tersebut untuk menikmati yozakura[1]. Tiap tahunnya, daerah sungai Meguro memang selalu jadi antraktan paling utama bagi para warga lokal dan turis yang ingin menikmati pemandangan sakura di malam hari.

"Ka."

"Ya?"

"Maafin Kak Chris, ya. Aku juga minta maaf soal pacarmu."

Mendengar Adriana menyinggung hal tersebut, batin Saka sontak serasa tersentil. Sepanjang perjalanan menuju Nakamaeguro tadi, Adriana sesungguhnya telah menceritakan segala duduk perkara yang ada. Diceritakan pula tentang Christoff yang tadi terlihat pergi bersama Fara. Saka pun akhirnya mampu mengurai beberapa helaian benang kusut antara ia dan kekasih hatinya itu.

Semua memang terasa rumit dan mereka seperti disatukan dalam dunia yang begitu sempit. Semua perasaan bercampur tak karuan. Amarah, cemburu, sakit hati, dan segala yang negatif memang lebih mendominasi.

"Kamu ngomong apa, sih?" tanggap Saka dengan nada agak kesal. "Ini nggak ada hubungannya dengan kamu, Dri. Buat apa kamu minta maaf ke saya. Ini cukup jadi urusan saya dan Fara."

"Tapi, Ka. Kakak saya—" Ucapan Adriana menggantung, rautnya tampak lesu.

Saka sekilas terlihat mengusap wajah frustasi. "Dri, kamu nggak perlu minta maaf ke saya. Semua ini murni urusan pribadi saya dan Fara. Tentang kakakmu, itu bisa kami bicarakan nanti. Dan saya rasa, kamu ini adalah orang yang seharusnya dapat permintaan maaf dari kakakmu," peringat Saka penuh penekanan dan nada kecewa.

"Si Christoff itu yang harusnya minta maaf ke kamu. Kamu, adiknya, sudah datang sejauh ini, hanya untuk ketemu. Tapi dia malah seenaknya ninggalin kamu, nggak peduli kayak gitu. Dia yang harusnya sadar, Dri."

si Juru Foto mulai terdengar tidak sabaran.

"Kak Chris mungkin punya alasan, Ka," ucap Adriana. Sorot matanya mulai gelisah.

"Alasan apa? Kamu itu keluarganya dekatnya, Dri," protes Saka lagi, mulai tidak bisa terima pembelaan Adriana yang kurang logis.

"Kak Chris mungkin masih membenci keluarganya, termasuk saya."

Alasan pamungkas itu seketika membuat Saka terdiam. Ia pun berpikir dua kali jika ranah pribadi tak seharusnya lebih jauh disinggung lagi.

Sementara, pikiran Adriana kembali melayang pada hari-hari lampau. Ia masih mengingat bagaimana sang ayah sering kali selalu menuntut Christoff untuk menjadi seorang kakak yang bisa melindungi adiknya. Adriana pun merasa bersalah akan bagaimana perhatian ayahnya—semenjak kematian mengenaskan sang ibu—sebagaian besar hanya tercurah padanya, ketimbang Christoff. Apresiasi dari Haris—ayahnya—seperti merupakan hal yang jauh dari pandangan Christoff. Justru, yang kerap kali didapat pemuda itu dari sang ayah, hanyalah tuntutan. Kerap kali, semua itu hanya berupa tempaan yang keras dan menyakitkan dalam berlatih musik.

Adriana memang bisa dibilang tidaklah peka di bidang akademik. Namun, secara emosional dan mental, ia jelas-jelas tak mampu menyanggah bagaimana beratnya melihat ketimpangan perlakuan ayahnya pada ia dan Christoff. Beban emosional dan mental yang lama dipikul, akhirnya sering kali membuat Adriana menyalahkan diri sendiri yang dulu telah lahir dengan disleksia.

Obrolan singkat lainnya kemudian menutup perjumpaan Adriana dan Saka di hari itu. Saka sudah terlihat buru-buru karena harus menemui rekan-rekannya yang juga sudah tiba di Nakameguro. Adriana pun tak mampu menahannya lebih lama lagi.

"Dri," sergah Saka sebelum Adriana sempat melangkah jauh.

"Buat kamu." Pria itu lalu menyodorkan buket bunga yang dibelinya tadi siang.

"Ka, saya—" Adriana tampak bingung, lalu menggeleng tipis.

"Please, saya nggak tahu lagi mau kasih ini ke siapa," ungkap Saka, terdengar sedikit menyedihkan.

Satu kali lagi saka memaksa, Adriana pun akhirnya mau menerima buah tangan tak terduga itu meski dengan perasaan bingung dan tidak enak. Perjumpaan keduanya kemudian ditutup dengan lambai-lambai tangan. Saka berlalu dan terlihat menyusul kawan-kawannya untuk liputan.

Dengan perasaan kebingunan, Adriana termenung sejenak di areal jembatan. Tak lama, ia tampak mengeluarkan telepon genggam. Segala rasa yang telah berpunca, akhirnya kembali membuat dorongan dalam batinnya merebak kian kuat. Ia pun menekan tombol pembuat panggilan. Selepas, empat kali mencoba, telepon itu baru diangkat oleh orang di seberang sana.

"Moshi moshi."

"Halo, Kak Ghaza?" balas Adriana.

"Halo, maaf ini dengan siapa?"

"Kak, ini aku, Adriana."

"Adriana? Nomormu kok—"

"Kak, aku di Jepang," sela Adriana buru-buru.

"Hah! Gimana?"

Di ujung sana, Ghaza yang ada sontak dibuat tercengang.

"Kak, kita bisa ketemu sekarang?" desak Adriana. Lagi-lagi, Adriana terdengar semakin tidak sabaran.

"Sebentar, Dri, sebentar. Kamu ini ngomong apa? Bisa jelasin dulu sebentar ke Kak Ghaza? Kamu di Jepang? Di mana?"

Ghaza agak terbata, kesulitan mengurai kalimat yang terdengar koheren. Sungguh, adik sepupunya ini terdengar seperti orang melantur saja.

"Kak, pokoknya kita harus ketemu di Nakameguro. Sekarang," tuntut Adriana, betul-betul merasa tidak perlu untuk berargumen panjang-lebar.

"Aku tunggu Kak Ghaza di festival. Ada yang harus aku tanyakan soal Kak Chris."

-:-:-

Christoff melangkah berat. Tatkala lorong itu membawanya makin mendekat ke unit apartemen, pandangannya mendadak tersita oleh seraut wajah yang dari kejauhan telah mampu ia kenali.

"Kak Chris." Suara itu terdengar lirih menyapa.

Christoff masih tercenung di tempat, berhadapan dengan Adriana yang entah sejak kapan sudah menunggu di depan pintu apartemen. Bekas jejak perasaan yang jatuh di pipinya masih jelas tampak basah. Sebuah bukti jika Christoff tidak bisa lagi lari dari segala salah dan gundah.

Ia menatap baik-baik sang adik kecil yang kini telah tumbuh begitu dewasa. Garis-garis kelembutan nan feminin menghiasi wajah yang terbingkai rambut berpotongan pendek. Mata itu, indahnya memang sama seperti mata sang ibu. Persis. Ya, dan Christoff takkan pernah melupa jika Adriana memang mewarisinya.

"Adriana?" sapa Christoff, terdengar pelan dan ragu.

Rindu merebak di dada ketika Christoff menyebut namanya, sampai sesak dan tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Adriana hanya mampu menatap lekat sepasang mata yang dinaungi sepasang alis lebat nan tegas itu. Tidak ada yang berubah, sorot mata sang kakak masihlah sama seperti hari silam, terlihat dalam dan sejuk. Mirip sekali dengan mata ayahnya. Paras itu sekarang semakin terlihat dewasa dengan gurat-gurat maskulin yang tegas.

"Adriana."

Sekali lagi Christoff memanggil. Sentuhan jemarinya mendarat pelan di atas ubun-ubun Adriana, mengusap sayang helaian rambutnya.

"Kak Chris." Tak kuasa menahan laju emosi, Adriana pun membiarkan air matanya lolos begitu saja.

"Aku kangen Kakak," ungkap Adriana gemetar. Ia lantas melingkarkan lengan, mendekap erat tubuh kakanya.

"Adriana, Kak Ghaza harap kamu bisa mengerti keadaan Christoff yang sekarang. Christoff memang dari luar kelihatannya seperti nggak pernah ngeluh. Tapi Kak Ghaza yakin, di dalam, sebetulnya dia butuh dukungan, Dri. Terutama dari keluarga dekatnya." "Christoff itu memang agak keras kepala, Dri. Susah sekali dibilangin. Dia pikir dengan nggak cerita ke siapa-siapa, dia nggak akan ngerepotin orang lain."

"Jangan dulu mengungkit yang sudah lalu. Jangan dulu menyinggungg apa pun tentang sakitnya. Kamu cukup ada di samping dia. Temani dia. Kamu juga harus kuat, Dri. Bantu Christoff untuk melewati ini semua."

Kata-kata Ghaza—kakak sepupunya—mendadak kembali terngiang dalam ingatan Adriana. Ia memang telah mendengar semua cerita tentang Christoff, termasuk perihal kondisi khusus yang kini sedang disembunyikan olehnya.

"Oke, saya terima keputusanmu. Kamu boleh memilih untuk lupain semua hal yang sudah kita lewati. Tapi saya mohon, jangan tepis kehadiran orang-orang terdekatmu. Janji sama saya, Chris. Jangan pernah kamu merasa sendirian dan kesepian lagi. Jangan egois."

Ucapan Fara yang terakhir kali sebelum akhirnya mereka berpisah, kembali terbersit dalam benak Christoff, membuat kerinduan akan hangatnya sebuah surga kecil yang bernama keluarga, kian meluap-luap.

Getar rasa dalam hati akhirnya membuat Christoff merengkuh balik tubuh mungil Adriana, membawanya dalam dekap yang lebih erat. Sudah lama sekali rasanya, ia bahkan hampir lupa betapa hangatnya sosok adik perempuannya itu.

"Kakak juga, Dri," ungkap Christoff sendur. "Kakak juga kangen sekali sama kamu."

-:-:-

Catatan kaki

[1] Yozakura: Pemandangan pohon-pohon sakura yang dihiasi penerangan dan lampu-lampu pada malam hari.

Seguir leyendo

También te gustarán

3.8K 559 47
Judul awal: I See What You Can't See Judulnya diganti ya, karena banyak yang ngira ini cerita horor. Enjoy my story and thank you for reading! "Berar...
TOPENG [END] Por abbrie

Novela Juvenil

28.4K 2.5K 64
"Jadi pacar gue." "Gamau!" "Kasi gue alasan kenapa." "Lo galak." 🎭 Tumpahan susu coklat memang menjadi aw...
42.1K 1.6K 25
"Adalah mereka yang merangkum kisahnya di atas rasa." Bagi Mahawira Hasta (Hasta), sanubari milik Rainaya Sukma Wibisono (Naya) adalah selayaknya lau...
1.2K 206 15
Amazing cover by @AfrinaPutri27 #2 atar [17 April 2020] #10 tere [20 April 2020] #17 songkang [21 April 2020] #1 hiroshi [21 April 2020] #2 geewonii...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas