Aku tiba di rumah ketika hari sudah gelap. Aku diantar Reza. Tadinya dia sudah janji akan bermain PS dengan Kak Kiki. Tetapi berhubung Kak Kiki belum pulang kuliah, jadwal mereka diundur, hanya diundur dan tidak dibatalkan. Reza akan ke rumahku sekitar jam 7. Jadi sekarang dia bisa beristirahat di rumah selama satu setengah jam.
“Assalamualaikum,” aku mengucap salam meskipun di rumah tidak ada orang. Ku kunci pintu dan segera naik ke ke kamarku. Ku lemparkan tas dan ku empaskan tubuhku di atas kasur. Hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Semua acara berjalan dengan sangat baik. Aku puas melihat Kak Adit tadi seperti terpukul karena acaraku berjalan dengan sukses.
Aku segera bangkit dan menarik handuk di gantungan. Aku berjalan dengan malas menuju kamar mandi. Aku segera mandi. Akhirnya, rasa lelahku hilang. Fiuh!
~
Aku terbangun ketika mendengar teriakan-teriakan dari bawah. Kemudian aku melihat jam di meja belajarku. Jam 7.15. Berarti Reza sudah di sini? Huh! Ganggu orang tidur aja. Namun, aku segera bangun karena aku teringat sesuatu. Besok adalah hari pertama aku duduk di kelas 11 SMA! Dan aku sekelas dengan Reza! Aku memang belum pernah sekelas dengan Reza, tapi aku selalu mendengar informasi tentang dia yang selalu menjadi bintang kelas. Yah, sepertinya dia akan menjadi sainganku.
Aku segera bangkit dari kasur dan mengambil beberapa buku. Ku tempelkan stiker yang bertuliskan nama, kelas dan mata pelajaran tertentu. Ku tempelkan juga stiker yang lain ke semua buku yang akan ku pakai di kelas 11 ini. Kemudian ku masukkan beberapa buku ke dalam tas biruku sesuai dengan jadwal. Tak lupa ku siapkan peralatan menulis dan notes kecil. Aku selalu membawa notes kecil untuk mencatat rumus atau hal-hal penting.
Setelah merapikan peralatan sekolah, ku rapikan kamarku. Beberapa hari ini karena sibuk, kamarku sedikit berantakan. Apalagi tadi pagi aku bangun kesiangan sehingga aku tidak sempat membersihkan kamarku. Ku rapikan semua yang berserakan dan segera ku sapu lantai kamarku. Setelah semua selesai ku lihat kamarku yang sudah rapi dan tersenyum puas. Aku mendengar teriakan-teriakan lagi dari bawah. Mereka ini main PS apa lagi hidup di hutan sih dari tadi teriak-teriak mulu? Namun kekesalanku hilang ketika mendengar ponselku berdering. Segera ku sambar dari meja belajar. Mama menelepon! Segera ku angkat.
“Halo, Ma. Assalamualaikum,” salamku duluan.
“Waalaikumsalam, Sayang. Kamu lagi sibuk?” jawab Mama dari seberang.
“Enggak kok, Ma. Baru selesai beres-beres kamar nih. Mama sama Papa gimana kabarnya?” baru ditinggal dua hari aku sudah begitu merindukan kedua orang tuaku.
“Mama sama Papa baik kok. Kamu sama Kak Kiki gimana? Kak Kiki masih sering pulang telat?”
“Syukurlah. Aku sama Kak Kiki juga baik kok. Enggak, Ma. Dua hari ini Kak Kiki pulang tepat waktu. Kan sekarang ada temennya main PS,”
“Lho siapa?” tanya Mama penasaran.
“Sama Reza, Ma. Tuh di bawah suaranya teriak-teriak,”
“Ya syukurlah kalo kakakmu itu nggak pulang telat. Untung Reza mau ya nemenin kakak main PS. Jadinya kan Kak Kiki lebih kerasan di rumah,” Mama menjawab lega.
“He-eh,” aku mengangguk.
“Tadi pagi kamu sarapan sama apa?” tanya Mama.
“Tadi dibuatin Kak Kiki sarapan, Ma. Oh iya, Kak Kiki kemaren waktu Mama tanya soal siapa yang masak jawabnya gimana?” tiba-tiba aku teringat bahwa Kak Kiki belum bercerita padaku tentang hal ini.
“Dia milih masak sendiri aja. Atau kalau bosan kalian beli makan di luar. Emangnya tadi siang Wawa nggak makan?”
“Tadi siang aku makan di sekolah, Ma. Biasa, konsumsi OSIS,” aku meringis.
“Oh, ya sudah. Sudah dulu ya, Sayang. Besok Mama telepon lagi, sebentar lagi Mama ada meeting. Kamu sama Kak Kiki jaga kesehatan, ya. Jangan bandel. Assalamualaikum!” salam Mama mengakhiri pembicaraan.
“Iya, Ma. Waalaikumsalam!” jawabku sebelum akhirnya menutup telepon.
~
Entah jam berapa Reza pulang tadi malam. Aku tidak keluar dari kamar semalaman. Aku hanya mencoret-coret notesku yang memang biasa ku gunakan ketika aku bosan. Aku mencoret hampir semua halamannya. Aku benar-benar bosan semalaman.
Pagi ini aku memasak nasi goreng untukku dan Kak Kiki. Hari ini Kak Kiki ada kuliah pagi. Aku sudah membangunkannya sejak selesai shalat Subuh tadi. Tapi baru jam 6 dia benar-benar selesai mandi dan menata perlengkapannya. Ketika ia turun dari kamarnya, ia langsung duduk di meja makan.
“Masak apa kamu, Wa?” tanyanya disusul dengan menguap.
“Nih masak nasi goreng,” aku membawa semangkuk besar nasi goreng ke meja makan. Aku juga memasak telur mata sapi.
“Pedes nggak nih?” tanyanya ragu melihat masakanku. Aku mengerutkan kening. Bukankah ia tahu kalau semua orang di rumah suka pedas?
“Kenapa masih tanya?”
“Ya, kali aja kamu nggak mau makan pedes-pedes jadinya bikin nasi goreng nggak pedes,” tandasnya seraya menuangkan air putih ke dalam gelas.
“Dicoba dulu dong. Baru komentar!” protesku. Dengan malas Kak Kiki menyendokkan nasi dari mangkuk besar ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian matanya terbuka lebar-lebar.
“Gini dong kalo masak, Wa. Pedes gilaaaa!” kemudian mengambil nasi dan meletakkan di piringnya. Dia mengambil seporsi besar. Tak lupa dengan telur mata sapinya.
“Makanya jangan komentar dulu kalo belum nyobain,” aku segera mengambil nasi goreng dan menaruhnya di piringku. Keluargaku memang paling suka makanan yang pedas-pedas. Terutama aku dan Kak Kiki. Kalo Mama dan Papa sih masih dalam batas wajar. Maklum, usia membuat mereka tak sanggup makan makanan yang terlalu pedas.
“Kamu berangkat sama siapa hari ini?” tanya Kak Kiki memecahkan kesunyian.
“Ya sendiri lah. Mau sama siapa?” jawabku dengan mulut penuh makanan.
“Nggak sama Reza lagi?” tanyanya lagi.
“Enggak lah, Kak. Kasian dia harus muter-muter. Rumah kita sama rumah dia kan nggak sejalur,” kemudian aku meneguk air putih di dalam gelas yang masih penuh. Kak Kiki hanya manggut-manggut.
“Kakak nggak nambah lagi?” tanyaku ketika menyadari masakanku masih bersisa satu porsi. Kak Kiki mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya kemudian menjawab.
“Kan aku tadi ngambilnya udah banyak. Buat bekal aja deh, nanti makan sama Reza,” katanya dan segera menghabiskan makanannya. Benar juga. Porsi ini terlalu banyak jika harus ku makan sendiri. Nanti ku bagi dengan Reza, ah. Tapi dia suka pedas nggak ya?
“Tenang aja, Reza doyan makanan pedes kok. Semalem cari makan sama gue terus dia pesen makanan pedes. Nanti dia juga bakal ngabisin nasi goreng lo itu meskipun pedesnya bikin nangis,” katanya seakan bisa membaca pikiranku. Kak Kiki segera mengakhiri sarapan dan berangkat duluan.
“Gue berangkat dulu, Wa. Assalamualaikum!” pamitnya sambil menyalakan mesin motor.
“Waalaikumsalam!” jawabku setengah berteriak. Segera ku masukan nasi goreng yang ada di mangkuk besar ke dalam kotak makananku. Kemudian ku bereskan piring dan juga gelas kotor dan aku segera berangkat ketika jam menunjukkan pukul 06.30.
~
“ZAHWAAA!” aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh ke asal suara tersebut.
“Elo jalannya...cepet banget...siiih?!” cerocos Rima ketika sampai di sebelahku. Sepertinya dia berlari mengejarku hingga akhirnya ngos-ngosan seperti ini.
“Lha emangnya lo tadi di mana? Kayaknya gue tadi nggak denger ada yang manggil-manggil deh,” jawabku sambil berjalan menyusuri koridor.
“Ya emang aku barusan sih manggilnya, hehehe,” jawabnya terkekeh. Aku meninjunya pelan. Kami berdua tertawa sambil menyusuri koridor.
“Eh, kita sekelas kan, ya?” tanya Rima akhirnya.
“He-eh. Elo duduk sama siapa?” tanyaku sambil membenarkan letak tasku.
“Nggak tau. Elo sendiri mau duduk sama siapa?” tanya Rima balik. Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
“Kita duduk bareng aja, yuk?!” tawar Rima.
“Ayo!!” aku menjawabnya dengan semangat. Kemudian kami bergegas memasuki kelas baru kami, XI IPS 2.
~
Aku dan Rima memilih duduk di barisan nomor dua. Selain tidak terlalu di depan, juga nyaman karena berada di tengah-tengah. Teman-teman baruku mulai banyak yang memasuki kelas. Yah, mungkin ada lah yang tampangnya seperti malas sekali untuk sekolah. Tapi aku yakin mereka akan menjadi teman yang baik untukku.
“Hai, aku boleh duduk di sini nggak?” tanya seorang cewek yang rambutnya terurai panjang. Dia menunjuk bangku di belakangku. Aku dan Rima mengangguk sambil tersenyum.
“Makasih,” ujarnya kemudian duduk di bangku belakangku. Aku berbalik menghadap meja cewek itu.
“Hai, namamu siapa?” aku mengulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman. Aku memang sering melihat cewek ini, tetapi aku tidak tahu namanya.
“Hai, namaku Nada. Kamu Zahwa, kan?” dia membalas uluran tanganku.
“Iya, kamu kok tau?” aku mengernyitkan kening. Dari mana dia tahu namaku?
“Yaelah, Wa. Di sekolah ini siapa sih yang nggak tau kamu? Anggota OSIS yang katanya jadi rival terberat Kak Adit. Anak basket yang tahun ini dijadiin kandidat kapten. Dan kamu juga kan yang kemarin ikut olimpiade ekonomi se-Malang Raya?” Nada menjelaskan panjang lebar. Aku benar-benar takjub. Sebegitu hebatnyakah aku hingga Nada mengetahui hal mendetail terutama dalam prestasiku?
“Kamu tau dari mana coba berita kayak gitu? Aku nggak pernah pamer di sosmed loh,” aku tertawa. Nada dan Rima ikut tertawa.
“Ya siapa yang nggak tau. Banyak kok yang ngomongin kamu karena prestasi kamu,” puji Nada. “Oh iya, kamu Rima ya? Anggota OSIS juga. Ikut ekskul KIR kan?” Nada melanjutkan.
“Iya. Kamu anak PMR kan ya?” Rima menebak.
“Hehehe, iya. Kamu tau dari mana?” pipi Nada bersemu merah.
“Ya tau lah, tiap upacara hari Senin kan kamu selalu siaga di belakang barisan,” Rima terkekeh. Nada tersenyum simpul. Aku ikut tersenyum. Sepertinya Nada akan menjadi teman yang baik.
“Hai, Nada! Gue boleh duduk di sini nggak?” sapa seorang cewek kepada Nada.
“Eh, elo! Ya boleh dong. Sini-sini!” Nada begitu ceria menyapa cewek berkacamata tipis di depanku.
“Kenalin temen-temen. Namanya Mila. Dulu waktu kelas sepuluh, kita berdua sekelas. Tapi nggak duduk berdua sih, hehehe,” jelas Nada.
“Hai, aku Mila. Kamu Zahwa kan? Cewek perfect di sekolah ini?” Mila menunjuk hidungku.
“Dan kamu Rima anak KIR yang kemarin juara 3 di lomba penulisan esai kan?” Mila ganti menunjuk Rima.
“Eh, kok tau?” aku dan Rima memekik bersamaan.
“Ya iyalah. Siapa sih yang nggak tau kalian? Apalagi kamu, Wa. Seisi sekolah juga kenal sama kamu. Kamu juga sering nyapa aku kan, meskipun kamu nggak tau namaku? Itu yang bikin kamu dikenal banyak orang,” jelas Mila. Aku benar-benar kagum kepada teman-teman baruku yang begitu up to date tentang beritaku.
“Kamu ikut ekskul apa, Mil?” tanyaku menghilangkan kegugupanku karena dipuji dua orang sekaligus pagi ini.
“Aku ikut ekskul Pramuka. Tahun ini mau nambah ikut KIR. Rima mohon bantuannya ya,” Mila menggenggam tangan Rima memohon. Rima mengangguk. Kami berempat tertawa.
“Kayaknya kita bisa jadi temen akrab deh?” tiba-tiba Rima nyeletuk.
“Geng?” aku mengernyitkan kening.
“Yaps! Begitulah. Kayaknya kita bisa nyambung kalo ngobrol,” jelas Rima.
“Iya sih. Tapi apa kalian nggak nyesel jadiin kita geng? Kita nggak setenar kalian loh. Takutnya nanti ke depannya kita malah nggak cocok,” Nada menimpali.
“Nad, dalam persahabatan tuh nggak butuh yang namanya tenar. Kita cuma butuh yang namanya saling percaya. Kalo emang ada ketidakcocokan di antara kita, itu hal wajar. Nggak ada orang yang sama di dunia ini, orang kembar sekalipun mereka punya perbedaan kan? Jadi kita jalin pertemanan dengan baik. Kita nggak perlu nutup-nutupi apapun satu sama lain. Itu kalo kalian mau kita nggak musuhan,” jelasku panjang lebar.
“Aku setuju deh sama kamu, Wa,” Mila mendukungku. Rima dan Nada mengangguk sepakat. Kami berempat ber-tos bersama, kemudian tertawa. Kemudian dari ekor mataku ku lihat Reza memasuki kelas dan sepertinya menuju tempat dudukku.
“Eh, Rim. Kok elo sih yang di sini? Harusnya gue dong,” Reza mulai menggoda Rima. Reza cengengesan melihat Rima melotot ke arahnya.
“Enak aja. Kan gue duluan yang dateng. Tadi juga Zahwa maunya duduk sama gue, bukan sama elo!” Rima menjulurkan lidah. Reza malah mengacak rambutku dan berlalu.
“Loh? Aku kan nggak ikut-ikut? Kok aku yang kena sih. Za?” protesku. Tapi Reza tak menghiraukan.
“Itu Reza anak Pramuka kan ya?” tanya Mila.
“Iya, kamu pasti kenal, kan?” aku bertanya balik.
“Siapa coba yang nggak kenal cowok seramah dan sekeren dia. Kak Adit mah lewat,” Mila mengibaskan tangannya.
“Kayaknya kamu deket banget ya sama si Reza itu? Kok kalian keliatan akrab banget, padahal kelas sepuluh kemaren kan kalian nggak sekelas?” tanya Nada penasaran.
“Ya iyalah mereka kenal. Bokap mereka itu partner bisnis yang klop. Sama-sama konglomeratnya. Nah, Reza sama Zahwa ini kenal waktu pertama masuk sekolah ini. Kalo Reza kan asli Malang, kalo Zahwa aslinya Bandung. Mereka berdua tuh selalu nyambung. Pokoknya kalo dalam suatu proyek ada mereka berdua, dijamin, hasilnya bakalan keren. Yang satu jago di konsep, yang satunya lagi jago banget bikin dekorasi yang super duper kreatif. Keren kan?” Rima bercerita sambil berapi-api. Aku menginjak kakinya.
“AUW! Sakit,Wa!” erangnya.
“Kamu tuh kalo cerita ati-ati ya. Nggak usah ngebesar-besarin gitu deh. Biasa aja,” aku setengah berbisik berbicara pada Rima dan mendelik. Rima malah cengengesan.
“Wih, keren banget ya kalian berdua. Sama-sama kaya, sama-sama populer, sama-sama pinter. Sama-sama suka organisasi. Ck ck ck. Keren banget!” pekik Nada seraya mengacungkan kedua jempolnya.
“Iya, apalagi kalo kalian pacaran. Beh, pasti so sweet banget!” ujar Mila manja. Aku hanya menelan ludah. Apa-apaan sih mereka?
“Eh, udah dong jangan gitu. Elo sih Rim, ember banget,” aku menjitak kepala Rima. Kami cekikikan. Tak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi. Kami kembali ke posisi duduk masing-masing dan segera menyiapkan buku untuk pelajaran pertama.
~
Bel istirahat berbunyi saat aku mencatat nama buku yang bisa menjadi bahan belajar.
“Mau beli?” tanya Rima sambil membaca tulisanku.
“Kayaknya sih enggak, soalnya seingetku Kak Kiki punya buku-buku ini,” kemudian ku tutup bukuku dan ku masukkan ke dalam tas. Aku melihat kotak makanku di dalamnya. Ku keluarkan dan ku timang-timang.
“Bawa bekal,Wa?” tanya Mila saat melihat aku memegang kotak makan.
“Iya. Kalian mau? Tapi agak pedes sih,” aku ragu mereka akan mau memakannya, karena nasi goreng ini pasti sangat pedas untuk mereka.
“Eh, jangan jangan! Ini pasti pedes banget. Aku kasih tau ya. Zahwa itu pedes maniak, dia tuh ratunya pedes. Kalo kita kan tiga cabe gitu udah kerasa pedes. Kalo ini anak enggak. Sepuluh cabe aja baru pemanasan!” Rima seperti polisi yang sedang mewanti-wanti pengguna jalan. Mila dan Nada melotot mendengarnya. Aku hanya terkekeh.
“Ya udah kalo kalian nggak mau. Gue kasih ke Reza aja,” aku beranjak dari tempat dudukku.
“Kita ke kantin duluan ya. Elo mau pesen apa?” ujar Nada.
“Gue beliin coklat panas aja ya,” kataku tanpa menoleh kepada mereka bertiga. Aku berjalan menuju bangku Reza.
“Za, nih!” aku mengulurkan kotak makananku yang berwarna biru cerah. Reza mengernyitkan kening. Aku mendengus.
“Tadi pagi aku masak nasi goreng. Tapi sisa banyak. Sama Kak Kiki suruh bawa ke sekolah sapa tau kamu doyan. Temen-temenku nggak ada yang mau soalnya pedes. Oh iya, kata Kak Kiki kamu suka pedes ya? Kok aku nggak tau?” aku duduk di bangku sebelah Reza yang kosong.
“Makasih ya!” Reza menarik kotak makanku dan membukanya. “Iya aku doyan pedes. Sebenernya sih yang pedes banget. Tapi aku emang jarang makan pedes kalo di sini. Takutnya kalian semua syok liat aku makan pedes,” Reza tertawa. Kemudian disuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Ini masakan kamu sendiri?”
“Ya iya lah. Mau masakannya siapa?”
“Kali aja Kak Kiki,” dia sudah memakan hampir separohnya. Aku hanya menelan ludah. Gila, ternyata dia sama holicnya kayak aku kalo makan pedes!
“Eh, kamu nggak ke kantin?” tanyanya saat menyadari aku belum pergi dari sampingnya.
“Iya ini mau ke kantin. Duluan ya, Za!” aku segera berdiri dan hendak beranjak. Tetapi Reza memegangi tanganku. Aku menoleh.
“Makasih ya, Wa!” dia tersenyum lembut seraya menatapku. Aku tersenyum seraya mengangguk. Kemudian aku segera berlari menuju kantin.
~
“Nih, coklat panas elo” Mila menyerahkan pesananku.
“Makasih, ya. Berapa nih?” tanyaku sambil menyeruput coklatku yang mulai hangat.
“Lima ribu,” ujar Mila seraya membuka telapak tangannya. Ku rogoh kantong kemejaku dan ku keluarkan selembar uang lima ribuan. “Nih!”
“Makasih!” kemudian memasukkannya ke kantong kemejanya. “Eh, Wa. Elo kan pinter nih, kenapa kok masuk IPS? Kok nggak milih IPA aja?” lanjut Mila. Aku menghabiskan coklat panasku dan bersiap menjawab.
“Emang nggak boleh?” aku bertanya balik. Semua mendengus.
“Ya boleh. Tapi aneh aja. Kan biasanya anak pinter itu maunya masuk IPA doang. Mereka mana mau masuk IPS. Gengsi kelees!” Nada menimpali. Aku cekikikan.
“Ya, karena menurut aku, IPS itu lebih seru. Ya, biarpun menurut kalian aku pinter, tapi aku lebih milih di IPS. Aku pingin kerja jadi staf keuangan nantinya. Atau minimal di bank lah,” aku mengulum senyum.
“Lah? Nggak pengen jadi dokter gitu? Atau apa kek di jurusan IPA?” Nada tak percaya dengan jawabanku.
“Enggak. Aku pinginnya emang di IPS aja. Menurut gue sih IPA terlalu serius. Kalo gue masuk IPA, gue nggak bakalan kenal sama kalian dong!” aku merangkul ketiga temanku. Dan kami tertawa.
“Eh, tapi bukannya elo nanti bisa langsung kerja di kantor Papa lo ya? Kan kantor Papa lo di mana-mana?” Mila nyeletuk. Aku menggeleng.
“Gue nggak mau terlalu bergantung sama Papa. Gue pingin usaha sendiri. Nanti kalo emang bener-bener nggak bisa, ya minta bantuan Papa,” jelasku. “Lagi pula yang bakalan gantiin Papa nantinya Kak Kiki. Dia lebih cocok jadi pemimpin. Sebenernya Papa udah ngasih jabatannya ke Kak Kiki, tapi Kak Kiki nggak mau. Dia masih mau kuliah dulu. Dia juga mau usaha sendiri dulu. Lagian kan Papa juga masih bisa menjalankan usahanya, jadi nanti-nanti aja Kak Kiki gantiin, gitu katanya,” lanjutku. Ketiga temanku hanya manggut-manggut. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi.
“Eh, masuk yuk!” ajak Rima. “Yuk!” kami bertiga menjawab serempak.