Re:I'am [END]

By Printsuuu

47.9K 4.2K 919

Terkadang, seseorang jauh lebih tahu tentang kita, dibandingkan diri kita sendiri. Dan semua itu terjadi pada... More

Prolog
01. Perkara Mirip
02. Line - Start!
03. D-day Sunday
04. Serupa Tapi?
05. Teman Lama
06. Jalan-jalan (a)
07. Jalan-jalan (b)
08. Bohong?
09. Layaknya Harapan
10. 18.00
11. Terulang
12. Alibi
13. Pelampiasan
14. Yang Aku Ingin
15. Kebetulan
16. Putus?
17. Selesai
18. Curhat
19. Kembali Datang
20. On The Way
22. Bertemu (b)
23. Lagi Dan Lagi
24. Main
25. Mau Atau Ngga?
26. Pilihan
27. Maaf!
28. Obrolan Malam (a)
29. Malam ke Pagi
30. Sah? Sah!
31. Dua Pilihan
32. Miss Komunikasi
33. Pesta?
34. Akhir Pesta
Edisi Kangen

21. Bertemu (a)

1.1K 111 23
By Printsuuu

itsmevny


itsmevny Kayangan? Ya. Itu tempat dia.

❤️ Liked by graciia_sh, _ranindhita, ldy.dju and 8.084 others.

View all 1.250 comment.

graciia_sh Ecieeeeee

_ranindhita @shaniin_

ldy.dju Gas lah capt!

vvyona_ Jangan kasih kendor!

shaniin_ itu siapa ka? 😶

sinka_jl Inyiiiiiii aku lagi di Indonesia lho, berani2nya main dibelakang aku🙃

Jen.hanna kapini pacar baru?

shanju.shan Eum, cakep! Kayak aku kenal nih kapini

saktiaokt_ Ya Allah capt. Jangan di dustain yang ini mah :) nanti elu malah bernasib sama kayak gue :)

beby__csr @saktiaokt_ dih curhat. Korban kamu tuh! @shanju.shan

ldy.dju hmm aku suka pergelutan rumah tangga ini @vvyona_ @beby__csr @shanju.shan @saktiaokt_

vvyona_ kenapa lo ngetag gue sih? @ldy.dju

ldy.dju Gue kan cuma ngasih tau elah, baper amat. Gue juga tau elu jomblo, gak usah sensian gitu lah

itsmevny @beby__csr @saktiaokt_ @shanju.shan terimakasih sudah membuat pertikaian di kolom komentar saya. Selamat menikmati pergelutannya, kami hanya menonton.






Viny tersenyum tipis saat ada banyak notifikasi instagramnya masuk begitu banyak. Bahkan salah satunya ada Shani. Gadis yang berada di foto tersebut.

Gadis itu pun mematikan layar ponselnya, menyimpannya di atas meja, kemudian menatap gadis yang duduk dihadapannya. Tatapannya menyaratkan banyak hal. Entah, sungguh sulit diartikan, sampai Shani pun merasa seseorang sedang memperhatikannya.

Shani menatap Viny. Terdiam saat tatap mata Viny benar-benar meneduhkan. Detak jantungnya sungguh tidak dapat membuatnya tenang. Shani pun merapihkan rambutnya, yang menurutnya tidak nyaman dalam posisi tersebut.

Gadis yang duduk disebelah Viny, menatap Shani dan Viny secara bergantian. Dia menjatuhkan tatapan terakhirnya pada seorang gadis berambut pendek di depannya. Tersenyum penuh arti.

"Tatap teross," seru Gracia sambil menatap Anin.

Viny yang mendengar hal itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Ngobrol kali. Aku tau, tatap-tatapan itu juga bentuk dari komunikasi ke batinan, tapi kurang-kurangin lah," ucap Anin. Gracia yang duduk dihadapannya mengangguk mantap.

"Betul! Kak Viny kan ngerti. Kasian tuh ci Shani jadi bahan di kolom komentar postingan kakak," ejek Gracia.

"Ge, ih!"

Gracia tertawa puas melihat keprotesan Shani di depan kakaknya.

"Kalian kenapa sih?" tanya Viny dan Shani bersamaan. Keduanya saling tatap lalu terdiam. Hingga sedetik kemudian..

"Cieeee.." ejek Gracia dan Anin.

Mungkin hari ini adalah hari terbaik bagi Gracia dan Anin. Karena pasalnya, mereka akan bertengkar jika sedang berdua, tapi kali ini mereka akan sangat puas mengejek kedekatan Shani dan Viny.

Viny menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Dia menutupnya dengan kedua telapak tangannya.

Melihat hal itu, Shani menarik tangan Viny untuk digenggam. Sedangkan dua sejoli disampingnya nampak sangat menikmati. Mereka berdua pun beranjak bangun, pamit ke toilet terlebih dulu.

"Kak.."

Shani semakin mengeratkan genggamannya pada Viny. Masker yang semula dia pakai, dia lepaskan perlahan.

"Muka kamu merah," ucap Shani sedikit mengejek.

"Ck. Shan.."

"Hahaha aku bercanda. Tapi beneran merah loh," senyum Shani.

"Udahlah." Viny melepaskan genggaman tangan Shani padanya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Melihat hal itu, Shani tertawa pelan. Dia beranjak bangun. Berjalan memutar, lalu duduk disamping Viny. Setelah itu dia duduk menghadap gadis berambut sebahu itu. Menarik pelan wajah Viny dengan tangan yang menangkup diwajahnya.

Shani tersenyum manis.

"Shan.."

"Uuuuu~" Shani terus mencubit gemas pipi Viny.

"Aku malu ih!" Viny menarik paksa tangan Shani dari wajahnya. Lalu beralih digenggam olehnya.

Shani tersenyum manis.

Dia pun memperlihatkan layar ponselnya yang menampakan komentar seseorang di postingan Viny sebelumnya.

"Kenapa?" tanya Viny.

"Dia siapa?"

"Siapa?" lanjut tanya Viny.

"Ini. Masa gak keliatan sih?"

Viny mengambil ponsel Shani dari sang empunya. Kemudian tersenyum tipis.

"Sinka."

"Iya dia siapa?"

"Kamu mau tau?"

Shani mengangguk pelan.

"Yakin?"

"Iya kakak.."

"Dia orang yang suka sama aku,"

"Terus?"

"Dia selalu ngejar-ngejar aku,"

Shani menganggukan kepalanya. "Terus, terus?"

"Dia setia sama aku," lanjut ucap Viny.

Shani terus menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Viny.

"Dan dia adalah prioritas aku." ucap Viny dalam satu tarikan napas.

Mendengar hal itu, Shani terdiam. Netra pekatnya menatap Viny penuh tanya. Senyuman di kedua sudut bibirnya perlahan memudar. Tangan yang semula di genggam oleh Viny, kini dia lepaskan begitu saja.

Harusnya dia tidak mendengar penjelasan singkat tadi.

"Sinka itu siapa?" tanya Anin yang masih memicingkan matanya saat melihat perubahan raut wajah Shani. Pendengarannya cukup baik untuk mendengarkan percakapan Viny dan Shani tadi. Sedangkan Gracia hanya terdiam saat mendengar penjelasan Viny.

Sungguh,

Bukan hanya Shani saja yang terdiam dan terkejut, melainkan sang adik dan juga Anin yang berada tidak jauh darinya.

"Ge!"

"Hm?"

"Sinka siapa?" kesal Anin yang tak kunjung mendapatkan jawaban

Gracia menghela napas kasar. Bola matanya dia alihkan pada Anin yang sudah menampakan raut wajah kesalnya.

"Temen deket kak Viny yang sampe sekarang masih ngejar-ngejar dia," Anin mengerutkan keningnya bingung.

"Lo kenal?"

Gracia mengangguk.

"Sedeket apa?"

Hembusan napas kasar kembali keluar dari bibir Gracia.

"Gue gak tau sekarang mereka gimana. Yang pasti, mereka yang dulu adalah kita yang sekarang."

"Maksud lo?"

"Kak Sinka adalah prioritas kak Viny saat itu, tapi gue gak tau kalo sekarang,"

"Lo lagi gak bohong kan?"

Kepala Gracia mengangguk.

Kedua gadis itu kembali menjatuhkan pandangan mereka pada gadis di hadapannya saat ini. Gracia pun kembali menatap Anin penuh arti.

Anin yang melihat itu menaikan sebelah alisnya. Menatap bingung Gracia.

"Inget rencana kita ngajak mereka?"

"Kenapa?"

"Lupain masalah kak Sinka, karena menurut gue, ci Shani pasti ngerti kenapa kak Viny ngomong gitu. Dan lo harus support sama apa yang gue bilang, oke?"

"Kenapa gue harus support lo?" tanya Anin.

"Karena gue selalu benar,"

Anin berdecak sebal. "Enggak, kata siapa."

"Yaudah.." Gracia menghela napas pelan. Tangannya yang menganggur mulai menarik lembut tangan Anin. "Percaya sama gue karena gue pacar lo,"

"Tap-"

"- dan juga adik kandung kak Viny yang pastinya lebih tau."

"Tapi Ge-"

"Udah, jangan banyak kecot," kesal Gracia.

Setelah melalui perdebatan tidak penting dan diakhiri oleh Anin yang kalah telak, kini mereka berdua pun sama-sama tersenyum manis. Kembali melancarkan misi yang belum terlaksanakan sejak tadi.

***

Viny berjalan lebih dulu dari Shani, Gracia dan Anin. Mereka berempat kini menuju timezone yang berada di Mall sana. Padahal, tujuan selanjutnya yang sangat Viny inginkan adalah toko buku.

Bahkan, dia sudah merencanakannya akan datang bersama Shani, tetapi sang adik dan juga kekasih menyebalkannya itulah yang mengajak Shani lebih dulu untuk pergi ke timezone. Sampai membuat Viny harus mengalah.

Kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku jaket yang dikenakannya, pun masker yang menutupi sebagian wajahnya, dari bagian mulut hingga hidung, juga hoodie yang dia pakai guna menutupi kepalanya, membuat Viny semakin terlihat dingin dan cuek.

Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa Viny benar-benar dingin. Bahkan terlihat jelas dari sorot pandangnya yang lurus ke depan sana.

Anin, Gracia juga Shani yang menatap Viny dari belakang hanya bisa menghela napas kasar.

"Kakak lo tuh," bisik Anin.

"Gue gak ngerti lagi kenapa dia bisa kayak gitu," gumam Gracia yang di denger dengan jelas oleh Shani.

Shani hanya terus menatap Viny dalam diam. Dari belakang saja, Viny masih terlihat keren. Shani bahkan sangat bersyukur, kalau Viny memang benar-benar cuek dan dingin di muka publik. Sedangkan saat bersamanya, Viny akan menjadi sosok yang sangat menggemaskan baginya.

"Aku suka dia yang kayak gitu," seru Shani membuat Gracia dan Anin menoleh secara bersamaan. Mereka menatap Shani penuh tanya, membuat gadis yang ditatapnya ikut menatap mereka secara bergantian. "Kenapa?" tanya Shani pelan.

"Ci Shani gak salah ngomong gitu?" titah Anin.

Shani menggelengkan kepalanya.

"Tapi iya juga sih," kini, Gracia mulai angkat bicara mengenai sang kakak. "Dia emang cuek dan dingin, bukan cuma di muka publik, tapi ke aku juga.." Gracia berdalih sesuai dengan apa yang dia rasakan. Senyuman tipis pun mulai terlihat dikedua sudut bibirnya. "Aku seneng pas tau ternyata dia punya sosok yang dia cintai, sampe buat dirinya benar-benar harus bertemu sama si sosok itu. Dan aku, jelas bener-bener seneng ketika tau, sosok tercinta yang kak Viny maksud adalah teman aku sendiri, ci Shani." jelas Gracia.

Gracia menggenggam tangan Shani dengan lembut.

"Ci.."

"I-iya?"

"Aku mohon.. Tolong, buat kak Viny bahagia.." seru Gracia penuh harap.

Bug!

"Aww-"

Shani, Gracia dan Anin menghentikan langkahnya saat mereka menabrak punggu Viny yang tiba-tiba saja terhenti.

"Kak, kalau jalan tuh liat-liat do-"









"Sinka.." gumam Viny.

Gadis bernama Sinka itu tersenyum lebar saat dia sudah berdiri dihadapan Viny. Matanya yang berbinar membuay Viny mengerut bingung.

Bola mata tajam milik Sinka pun perlahan menatap kepada tiga gadis yang berdiri dibelakang Viny, lalu dia menghentikannya pada sosok gadis yang berada di postingan Viny.

Shani.

Mereka saling tatap dalam diam. Tapi, tatapan yang diberikan Sinka cukup mengerikan untuk diartikan.

Tangan Viny mulai menggenggam tangan Shani dengan kencang. Saling menautkan jari-jari tangannya yang membuat Shani jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Detak jantungnya benar-benar membuat Shani sulit bernapas. Tatapan mata Sinka benar-benar menyeramkan baginya. Padahal, wajah Sinka ini sangat lucu. Tetapi, mengapa gadis itu memiliki mata yang tajam?

Shani menghembuskan napas pelan.

"Mau apa?" dingin Viny.

Sinka tersenyum manis.

"Ayo kita jalan, Inyii," seru Sinka seraya menarik tangan Sinka.

Viny menepis pelan tangan Sinka, lalu sedikit menjauh dari gadis itu. Dia pun semakin mengeratkan genggamannya pada Shani.

"Aku gak bisa,"

"Aaah, kenapa?"

Viny menarik napas pelan. "Aku lagi jalan sama mereka. Jadi jangan ganggu aku, ya?"

Sinka kembali menatap Shani penuh tanya. Membuat Shani lagi-lagi harus menetralkam detak jantungnya.

"Tenang aja. Aku disini," bisik Viny.

"Yaudah kalo gitu.." Sinka menghentikan ucapannya. Masih dengan tatapannya pada Shani.

"Aku mau ngobrol berdua sama Shani, boleh kan?"

***

"Aku kangen kapini pake banget," -Shani, 2020.

Continue Reading

You'll Also Like

80.3K 5.8K 36
Menceritakan sebuah persahabatan antara 4 pemuda berandal dan seorang gadis manis. Apakah akan ada cinta di antara mereka? ataukah akan ada gadis-gad...
30.3K 4.6K 33
Pacaran belum tentu happy ending Sendiri belum tentu sad ending Semua punya porsi masing-masing Cerita lanjutan dari Almost Masih sama, Vivi sama Chi...
14K 300 8
"mencintai yang paling menyakitkan adalah ketika kamu berada di dekatnya namun dia sedang mempertahankan oranga lain. itu sakit tapi tak berdarah. p...
26.3K 1.8K 17
Cerita seorang pemuda yang harus beradaptasi dengan keluarga baru yang berisi 5 orang adik barunya dan semuanya WANITA #DONT BRING TO REAL LIFE
Wattpad App - Unlock exclusive features