Happy reading~~~
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?"tanya jevan pada dokter yang juga salah satu sahabatnya itu, Regan Demian.
"Aku baru tau bahwa kau memiliki wanita lain selain ella, siapa dia?"kata demian menatap tajam pria yang ia anggap adiknya ini.
Sejak dulu Demian yang natobennya sahabat jevan tau bahwa pria itu anti wanita tapi sekarang dia malah memiliki dua wanita sekaligus, yang satu istrinya dan satunya lagi entah siapa demian pun tidak tau.
"Dia lisa... istriku"
"APA? Kau menyelingkuhi ella? Demi tuhan jev istrimu sedang hamil muda dan kau tega menyelingkuhinya"ucap demian tak habis pikir, dengan nada terlampau sinis.
"Kak nanti kujelaskan, tapi tidak sekarang. Aku perlu tau keadaan istriku dulu"
"Kau terlihat lebih mencintai dia dari pada ella. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, istrimu dia pingsan beberapa saat lalu tapi sudah sadar dan sekarang sedang tidur, dia mengalami strees berat. Jujur Sebenarnya aku bukan dokter kandungan tapi ku pikir...istrimu sedang hamil"
"Benarkah? kau tidak bercandakan? Ya tuhan aku akan menjadi seorang ayah"pekik jevan tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan diwajahnya.
padahal seingat Demian yang juga sempat ikut acara keluarga Abraham saat pengumuman kehamilan istri jevan, jevan tidak sebahagia ini, cendrung biasa saja tapi sekarang pria itu terlihat seperti orang paling bahagia di dunia, entahlah Demian tidak ingin berprasangka buruk.
"Sebegitu bahagianya kau jev? ella juga mengandung anakmu"
"Itu berbeda, aku mencintai lisa lebih dari diriku sendiri, lebih dari siapapun. Aku bisa gila jika dia pergi"ucap jevan dengan lirih terdengar sangat tulus membuat demian terenyuh.
"Bagaimana dengan ella dia juga istrimu?"
"Aku tahu, aku memperlakukannya layaknya istri tapi aku tidak bisa mencintainya seperti lisa. Bagiku lisa adalah segalanya"
"Aku benar-benar penasaran bagaimana wanita ini bisa membuatmu begitu mencintainya? Dan lagi jev, sampai kapan kau akan menyembunyikan statusmu dengan wanita ini. Kau tidak kasihan dengannya?"
"Kau tau sendiri bagaimana ibuku? Jika dia mengetahui keberadaan lisa sebagai istriku, ibu tidak akan segan-segan untuk mencelakainya"
"Ceritakan semuanya nanti padaku tanpa terkecuali, aku tau kau tidak pernah mencintai wanita sampai sedalam ini"
"Ya. Tapi bisakah aku melihat keadaan istriku dulu?"
"Hm. Jangan sungkan jika kau butuh bantuan, sebisaku akan kubantu. karena dia hamil aku tidak memberikannya obat dulu, mungkin sebentar lagi dia akan bangun"
"Terima kasih dem"
Demian berlalu pergi meninggalkan tempat tinggal jevan, sedangkan pria itu langsung memasuki kamar sang istri.
Jevan mengecupi telapak tangan sang istri yang ia genggam, sedangkan istrinya itu tertidur lelap setelah beberapa jam yang lalu mengamuk.
Beberapa jam yang lalu.
Jevan pov.
Aku berlari dengan tergesa-gesa setelah pamit dengan thomas sekretaris ku, karena perasaanku yang tidak nyaman, pikiran ku selalu berpusat pada lisa fakta bahwa ia tidak mengangkat satupun panggilanku membuatku khawatir setengah mati.
Sebelum memasuki mobilku, aku sempat melihat ella yang keluar dari mobil lain mungkin dia ingin menemuiku, sungguh melihatnya aku merasa bersalah tapi perasaan khawatirku pada lisa lebih besar dari rasa tanggung jawabku pada ella.
Tanpa pikir panjang aku memacu mobilku dengan kecepatan di atas rata-rata, aku tidak peduli apapun lagi bahkan diriku sendiri sekalipun aku hampir menabrak pengendara lain.
Hanya dalam kurun waktu 20 menit aku sudah sampai di apartemen minimalis yang biasa kusinggahi, aku langsung keluar dari mobil yang kuparkir sembarang menuju pintu.
Aku menekan beberapa digit angka untuk membuka kunci pintu apartemen kami, setelah terbuka bertapa terkejutnya aku menemukan begitu kacaunya apartemen yang biasanya rapi itu.
"Sayang... kau dimana? Sayang..." kupanggil istriku berkali-kali namun aku tidak mendengar suara sahutannya.
Aku berlari menuju kamar milik kami berdua, setelah kubuka daur pintu kudapati istriku tengah meringkuk di atas ranjang.
Yang membuat ku lebih terkejut lagi adalah kedua kakinya yang terbalut kaos putih itu tampak ternodai dengan warna merah pekat, darah aku yakin itu. Aku langsung menghampirinya.
"Sayang, hei... sadarlah"kataku dengan pelan.
"Kau... jevan...?"gumamnya pelan dengan mata setengah terbuka, kulihat kelopak matanya membengkak dan dibawah matanya terdapat gurat kehitaman pertanda dia tidak tertidur dalam kurun waktu cukup lama.
"Ya sayang, aku jevan, suamimu"jawabku melangkah menjauh mencari kotak obat.
"Kau jevan?"tanyanya lagi membuatku mengernyit heran.
"Hei ada apa denganmu? aku jevan"kataku menatapnya sekilas lalu mengambil kotak obat dan kembali menuju ke arahnya.
Setelah aku duduk didepan kedua kakinya, lisa membangunkan tubuhnya yang semula berbaring.
"Berbaringlah, aku akan mengobatimu"kataku berupaya selembut mungkin, aku belum berniat menanyakan apapun pada istriku.
"Pergi"katanya membuatku terkejut.
"Sayang hey...ini aku suamimu"
"Ku bilang pergi... pergi!!?!"
"Aku tidak bisa, kau terluka"ungkapku cepat.
"Aku bisa mengobati diriku sendiri. Tolong pergilah... tinggalkan aku sendiri" bentaknya dengan suara serak.
"Tidak"jawabku dengan nada final, dia menatapku tajam setelah mendengar jawabanku.
Kami saling bertatapan sejenak karena beberapa saat kemudian dia berteriak mengusirku dengan tangan yang tiba-tiba melempariku dengan benda yang berada didekatnya.
Sebisa mungkin aku menghindarinya, sampai dia lengah karena menjangkau benda lain untuk ia lempar aku segera menghampirinya dan memelukanya erat, dia memberontak terus memukuliku tapi aku tidak berniat melepaskan pelukannya kendati beberapa bagian tubuhku terasa sakit karena pukulannya.
Cukup lama kami berpelukan sampai kurasakan tubuhnya melemah aku terkejut.
"Sayang bangunlah hey... jangan menakutiku"kataku menepuk pelan pipinya, tapi ia tidak merespon apapun. Lisa tidak pernah seperti ini sebelumnya demi tuhan dia membuatku ketakutan setengah mati.
Aku segera merogoh jas ku tapi tidak menemukan ponselku, aku ingat sebelum masuk aku sempat melihat ponsel istriku diruang tamu aku segera berlari kesana setelah meletakan tubuhnya pelan di atas ranjang.
Satu-satunya nomor yang ku ingat hanya nomor ponsel thomas aku segera menghubunginya.
"Halo si__"
"ini aku jevan, kirimkan nomor dokter regan padaku"potongku segera, aku menarik nafasku tidak beraturan terdengar seperti orang yang habis berlari.
"Tunggu jevan? Kau kecelakaan? Kau dim__"
"Jangan bertanya apapun dan jangan katakan pada siapapun termasuk ella, kirimkan segera nomor dokter regan ke nomor ini"potongku lagi tidak peduli ia yang belum selesai berbicara. Biarkan saja dia mengomeliku nanti pokoknya sekarang perasaanku tak karuan.
'Tuuut'
Kurang dari tiga detik setelah ponselku mati dia sudah mengirimkan nomor dokter regan, aku segera menghubungi dokter regan dan memintanya segara datang dia bahkan belum merespon perkataanku aku sudah mematikan panggilan telpon dan mengiriminya alamat apartemen milik kami.
Dia datang setengah jam kemudian, dan aku memarahinya dari pintu masuk sampai kamar istriku, dia yang awalnya ingin bertanya apa yang terjadi dengan aprtemen kami tak jadi setelah mendengar omelanku.
End jevan pov.
Jevan tidak tau apa yang membebani pikiran lisa, istrinya ini tidak pernah membentaknya hingga pingsan seperti ini.
Perlahan kelopak mata yang membengkak itu berkedip berusaha menyesuaikan dengan bias cahaya matahari dari jendela yang terbuka.
"Sayang kamu sudah sadar? Syukurlah"ucap jevan mengecup berkali-kali kening istrinya.
"Jevan?"gumam lisa pelan, matanya terasa lengket namun dia paksakan untuk terbuka dan menatap manik gelap sang suami.
"Ya aku disini sayang, ada apa? Ada yang sakit? Kau ingin apa?"tanya jevan dengan raut wajah campur aduk antara khawatir dan bahagia.
jevan melihat sang istri yang kembali memejamkan matanya erat lalu membukanya lagi, istrinya itu menatap teduh kearahnya.
"Ayo bercerai"
Bak disambar petir jevan tidak pernah membayangkan sang istri akan mengatakan hal itu, kata-kata yang tak pernah ingin ia dengar sampai mati.
.
.
.
.
.
Tbc.
See yaa***