happy reading
........................
Izza mengarahkan wajahnya pada Izzu yang berdiri di ambang pintu. Gadis berjilbab itu berusaha bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Eh, udah dari tadi berdiri di situ bwank?" Izza menyapa Izzu dengan nada sangat akrab.
Izzu tak menjawab. Lelaki tampan itu melangkah masuk ke dalam kamar tanpa membaca salam. Menatap tajam pada Izza dan Naya. Benar-benar tatapan yang mengintimidasi.
Izza pucat. Perutnya mulas. Naya jangan ditanya, rasanya ia ingin memiliki kemampuan Elsa saat itu juga, membuat tembok es tebal agar Izzu tak bisa mendekat.
Tapi dua wanita itu tak bisa mengelak. Izzu menang banyak, mendapati ciwi-ciwi berghibah tentang dirinya di depan mata tanpa rekayasa, mudah bagi Izzu untuk menggelar pengadilan saat itu juga. Mana ghibahannya sangat-sangat nista dan rendahan lagi. Kecoak disangka kurma? Celana dalam anak perempuan pakai telinga? Apa-apaan itu. Mereka berdua seenaknya meruntuhkan karisma Izzu tanpa izin.
Izza memegang lututnya, duduk di pinggir ranjang sambil berkata pelan pada Naya, "Kak, Izza kayaknya bakalan direndang nih. Kakak lindungin ya? Please!"
Izzu semakin dekat.
"Kakak akan coba semampu kakak." Naya balik berbicara pada Izza.
"Rayu aja kak, bang Izzu itu nggak tahan kalau digoda." Izza menimpali.
Naya menggeleng.
"Kenapa kakak menggeleng?" Izza bertanya heran.
"Izzu lebih ahli kalau soal menggo..." Naya menahan kalimatnya karena ia melihat Izzu telah lebih dulu memegang pundak Izza.
Seperti yang Izza takutkan, Izzu menatap dirinya dengan tatapan dingin ala Hitler jaman now.
"Izza masih belum wisuda, Bang. Belum nikah, belum pernah nonton konser bities live, belum namatin seri Bumi-nya om Tere Liye, belum sempat ke Rinjani, belum bisa masak tempe bacem, belum pernah kirim surat cinta, belum bisa nari saman dengan gerakan yang benar, belum tuntasin level 35 Worms Zone... kasihani Izza, Bang." Izza berkata tanpa rem saat menyadari genggaman tangan Izzu semakin mengeras dibahu kanannya.
Izzu hanya diam, tapi bibirnya tersungging kejam. Seperti Joker yang hampir mendekati kemenangan.
"Bwaaaaank...." Izza merengek.
"Kamu takut?" Izzu akhirnya bersuara.
Izza mengangguk.
"Kamu tak usah takut. Abang baik ini akan menawarkan pilihan yang gampang untuk adik satu-satunya." Izzu menyeringai masam.
"Haaa?" Izza cengo. Diikuti Naya yang juga tercengang menatap si ustad.
"Izza maunya pakai lutut apa pakai jempol?" Izzu masih mengulur waktu, membiarkan Izza berpikir keras.
"Ma-maksud abang apaan? Abang mau nendang Izza?" Izza bertanya heran.
"Jangan aneh-aneh deh, Tad." Naya memotong.
Izzu seketika menatap Naya, "kamu belum diperkenankan bersuara. Kalau kamu sayang bibirmu, maka diam saja. Kalau kamu ikut campur, jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada bibirmu."
Glup! Naya merinding seketika.
Lalu Izzu kembali mengalihkan pandangannya pada Izza, "pakai lutut, berarti kamu harus jalan jongkok keluar dari kamar ini. Dan pakai jempol berarti kamu harus jinjit keluar dari sini. Setelah tiba di luar, renungkan kesalahanmu. Beristighfar banyak-banyak dan berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak lagi ember."
Menurut Izzu, dua wanita itu pantas untuk dihukum. Membicarakan dirinya dengan bahan pembicaraan yang na'uzubillah sangat memalukan, tidakkah itu bisa dijerat pasal pencemaran nama baik? Plus pemberatan dengan unsur nepotisme karena mereka berdua adalah kerabat.
Setelah mendengar tawaran Izzu, Izza otomatis mengurut dadanya sambil berkata pada Naya, "Izza aman, Kak. Nggak jadi direndang, Alhamdulillah."
Lalu gadis itu berdiri dari bibir ranjang, menatap Izzu dan berkata sok tak bersalah, "kalau begitu Izza pilih jempol."
"Berarti kamu harus jalan jinjit sampai luar." Izzu menimpali tanpa perasaan.
"Aye kapten." Izza membalas cepat. Berjinjijt lalu meninggalkan Izzu dan Naya hanya berdua di kamar itu. Namun belum seutuhnya menghilang dari ambang pintu, Izza berkata dingin sambil membelakangi Izzu, "memaafkan itu adalah perbuatan terpuji, Bang. Allah menyayangi hambaNya yang senantiasa membuka pintu maaf. Sulit memaafkan, memendam rasa kesal adalah ciri-ciri cacat mental yang harus diwaspadai, Bang. Izza tidak menyindir, hanya mengingat materi perkuliahan minggu lalu. Semoga abang selalu dalam lindungan Allah."
Izzu tersenyum mendengar ucapan panjang adiknya. Tapi tak bisa manampakkan senyum itu. Metode pertahanan diri Izza tidak kaleng-kaleng.
Naya yang mendengar Izza berkata seterus terang itu langsung menggulung lidah. Berdecak kagum dalam hati. 'Oh my oh my... aku padamu ZAAA!'
Izza sudah berlalu. Meninggalkan Izzu dan Naya dalam keheningan di kamar itu.
Masih pada posisi awal, Naya berbaring dan Izzu berdiri di samping ranjang memegang sebuah nampan, keduanya tak ada yang mau memulai membuka mulut.
Izzu meletakkan nampan berisi mangkuk dan gelas itu di nakas samping kiri, lalu mendekat dengan jarak yang sangat dekat ke arah Naya.
Mengetahui bahwa dirinya kini menjadi satu-satunya tersangka, Naya mengambil selimutnya dan menutupi dirinya utuh dari ujung kaki hingga kepala. Membungkus rapi. Bersembunyi.
Izzu yang mengamati tingkah Naya hanya bisa berdecak pelan. Istrinya benar-benar bocah.
"Kamu pikir dengan sembunyi dibalik selimut, semuanya selesai?" Akhirnya Izzu bersuara setelah memastikan Naya selesai membungkus dirinya.
Naya tak menjawab. Pura-pura pingsan.
"Kamu harus tanggung jawab, Nay." Izzu kembali melanjutkan kalimatnya, "aku kecewa padamu. Kamu tertawa dalam deritaku." Entah dapat ilmu dari mana, akhir-akhir ini Izzu benar-benar ahli bersandiwara.
Naya masih tak peduli. Bodo amat Izzu mau kecewa apa tidak. Kecoak disangka kurma dan celana dalam anak perempuan dengan telinga jauh lebih mengasyikkan untuk diingat dalam keadaan bersembunyi saat ini.
"Ada bubur nasi dan air hangat aku bawakan. Aku letakkan di sampingmu. Silakan makan jika kamu mau. Aku keluar dulu." Izzu berkata tanpa basa-basi.
Naya masih tak bersuara dari balik selimutnya, tapi hatinya ribut berkata-kata, 'keluar aja, Tad. Pergi sana, pergi. Bagus. Gue suka gaya lo kalau kayak gitu. Pergi aja, Tad. Tinggalin gue di kamar sendiri. Gue masih mau bayangin celana dalam dengan telinga kelinci yang lo pake. Muehehehe.'
"Di luar masih ada ustad Hanif dan rombongannya." Izzu mulai memainkan rencananya yang ia yakin seribu koma seribu persen akan berhasil, "aku mau berbincang dulu dengan mereka. Juga sekalian mau mengenal Hafsah, kebetulan kami belum saling kenal sampai saat ini."
Deg! Naya berdebar. Dalam keadaannya yang seperti ini, Izzu malah dengan entengnya menyiram air asam dilukanya yang masih merah.
Usai berkata demikian, sebenarnya Izzu tak benar-benar pergi. Ia hanya menepi sedikit. Tetap berdiri di ruangan itu menunggu reaksi Naya.
Sepuluh detik berlalu, Naya tak juga menampakkan respon apa-apa.
Izzu semakin menjauh, mencari dinding kamar untuk bersandar. Lelaki berwajah teduh itu melipat dua lengannya ke bagian dada. Menanti tanggapan Naya.
Di luar prediksi Izzu, Naya ternyata masih terlihat tenang. Tak keluar dari selimutnya, berteriak marah atau memanggil namanya. Memaki atau mengejarnya.
Izzu sedikit merasa tak enak. Mulai sadar kalau ucapannya sedikit kelewatan.
Tapi tak lama bersandar, Izzu mendengar isakan pelan dari Naya. Benar-benar pelan, seolah ditahan agar tak keluar.
Tubuh dara bermata jeli itu bergetar hebat. Dari atas hingga bawah. Selimut yang Naya kenakan ikut bergetar. Naya membekap mulutnya agar suara tangisnya tak keluar. Kata-kata Izzu barusan sukses membuat Naya merasa seperti ditikam di bekas luka yang sama. Tak tahu bahwa suaminya hanya memancing agar ia keluar dari selimutnya.
Naya memilin dua betisnya, menahan sesak dalam dada sambil terus berderaian air mata. Kepala Naya terasa pusing, rahangnya sakit karena ia tekan dengan telapak tangannya. Perut Naya terasa teraduk, seperti harapan untuk bisa bangkit dari luka seolah hilang terbawa angin.
Lagi-lagi melibatkan Hafsah? Ayolah, Naya jelas tak berdaya jika berhadapan dengan hal itu. Ibunya baru saja berpulang, dan kini Izzu menambah dukanya terasa semakin menyedihkan. Naya seketika merasa sebatang kara. Benar-benar tak punya tempat untuk bersandar. Tawanya dengan Izza, seketika Izzu ganti dengan air mata.
Mendapati segala halnya di luar dugaan, Izzu tak lagi menunggu dengan bersandar. Cepat, lelaki berwajah teduh itu menghampiri ranjang dan merenggut selimut Naya hingga terlepas dari tubuh dara bermata jeli itu.
Ternyata dibawahnya Naya meringkuk menyedihkan.
Izzu yang menatap bahwa istrinya kini kembali menangis tiba-tiba merasa sangat menyesal. Tak bersuara, Izzu duduk di samping Naya.
"Maaf Naya. Maaf." Izzu berkata penuh penyesalan.
Naya masih membekap mulutnya. Mendapati Izzu mengetahui keadaannya yang menyedihkan saat ini benar-benar sangat memalukan.
"Aku tadi hanya bercanda, aku pikir... aku pikir dengan aku berkata seperti itu kamu akan... kamu akan..." Izzu bingung harus melanjutkan kalimatnya dengan kata-kata seperti apa.
Tapi Naya, tak peduli apa yang akan Izzu katakan langsung membawa tubuhnya bangun dari ringkukannya, menghadap Izzu dan memeluk lelaki tampan itu tanpa bersuara terlebih dahulu.
Pelukan Naya terasa amat kuat, begitu pun isakan tangisnya.
Rangkulan Naya terasa begitu mengikat, air matanya banjir membasahi dada Izzu.
Tentu saja Izzu yang diperlakukan seperti itu merasa sangat-sangat menyesal. Tak menyangka niat bercandanya benar-benar membuat sedih hati istrinya.
Izzu membalas rangkulan dara bermata jeli itu, matanya ikut beruap. Memeluk tak kalah eratnya.
Naya terisak, tapi sekuat tenaga ia mencoba membuka mulutnya untuk bersuara, "lo boleh bilang apa pun yang lo suka, Tad. Lo boleh ngata-ngatain gue. Lo boleh marah. Lo boleh nggak suka kalau gue ketawain lo... tapi gue mohon, Tad. Gue mohon..." Naya kesulitan meneruskan kata-katanya. Napasnya tersengal karena saking perihnya rasa yang ia tanggung.
Izzu sudah tak lagi bisa menahan uap dimatanya. Air itu akhirnya tumpah juga setelah mendengar isakan Naya.
"Tapi gue mohon... jangan bawa-bawa Hafsah dan bandingin dia dengan gue, TAD. Jangan..." Naya berkata apa adanya sambil menambah erat genggaman jemarinya dipunggung Izzu.
Izzu tak tahu harus membalas dengan kata-kata seperti apa. Ia kini tengah menyesal, aksinya ternyata sudah kelewatan, membuat Naya menangis tak karuan.
Naya tak lagi berusara, tapi dalam hatinya, dara itu tak berhenti berkata-kata, 'saat lo nyinggung Hafsah, gue sakit, Tad. Hati gue rasanya perih. Gue takut, Tad. Gue takut kalau ternyata lo memang akan ninggalin gue dan pergi sama dia. Gue takut, Tad. Sekarang gue nggak punya siapa-siapa lagi. Gue takut, Tad. Takut.'
Merasakan bahwa rengkuhan Naya bertambah erat dan tangisannya semakin dalam, Izzu tak bisa lagi menahan apa pun. Diambilnya lengan dara itu, direnggutkannya tubuh mereka hingga terpisah, lalu dibawanya wajah Naya tepat ke hadapannya sambil berkata lirih, "maaf, Nay. Aku kelewatan. Maksudku hanya ingin membuatmu keluar dari selimut. Aku salah, Nay. Seharusnya aku tak gunakan cara itu. Maafkan aku, Naya."
Naya menatap Izzu sambil terus berderaian air mata. Tampang dara itu kini sangat kusut tak karuan. Naya menggeleng pelan sambil mengeluarkan suara memohonnya, "jangan tinggalin gue, Tad. Gue mohon jangan tinggalin gue."
Naya, untuk pertama kalinya benar-benar memohon dihadapan seorang pria dengan sangat tidak berdaya. Tak peduli lagi dengan harga diri. Tak hirau lagi dengan martabat.
"Izzu... Muhammad Hafizzul Akbar yang sangat gue cinta, yang satu-satunya gue punya, gue mohon... dengan sangat... jangan pernah tinggalin gue. Gue takut, gue takut kalau lo pergi dari hidup gue." Naya berkata apa adanya sambil menatap Izzu tanpa berkedip.
Izzu, usai melihat bagaimana Naya saat ini dan mendengar seluruh kata-kata memohon dara itu benar-benar merasa sangat menyesal. Dirinya menjadi penyebab wanitanya menangis.
"Aku benar-benar minta maaf, Nay." Izzu berusaha memperbaki kondisi hati Naya.
"Jangan tinggalin gue, Tad." Naya merespon berbeda. Ia tak peduli dengan permintaan maaf Izzu. Satu-satunya hal yang ia takut saat ini adalah Izzu pergi meninggalkannya.
Izzu melepaskan tangannya dari lengan Naya dan menaruhnya di pipi dara bermata jeli itu sambil terus mengusap air mata Naya yang tumpah. "Tidak akan, aku tidak akan kemana-mana. Jika aku harus pergi, maka aku akan membawamu bersamaku. Dimana aku, di situ harus ada kamu, Nay."
Naya menatap Izzu dengan tatapan tak berdaya. Membiarkan lelaki itu mengusap lembut pipinya.
"Naya... Zanaya Pranandia yang sangat aku cinta, yang satu-satunya aku punya." Izzu meniru kata-kata Naya sebelumnya, "aku minta maaf atas kata-kataku, dan kamu harus tahu, tidak ada yang lain Nay. Hanya kamu yang aku mau."
Naya masih tak bersuara. Ia gamang. Perasaannya sulit untuk dijelaskan.
"Aku menyesal, Nay. Benar-benar menyesal." Izzu masih berusaha untuk membuktikan bahwa ucapannya hanya sekedar canda, tak ada maksud apa-apa, "aku tidak akan pernah mengulanginya lagi, Nay. Aku janji. Demi Allah, aku tak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan berkata seperti itu lagi."
Naya ikut meletakkan dua telapak tangannya di pipi Izzu, lalu membalas pelan, "Tad... gue nggak tau gimana jadinya hidup gue kalau lo benar-benar pergi."
Izzu mengambil telapak tangan halus itu dan menggenggamnya erat, lalu membalas lembut, "aku tak akan pergi. Tidak akan pernah, Nay."
"Janji?" Naya menuntut.
"Janji." Izzu merespon.
Mereka berdua kembali berpelukan. Lagi dan lagi. Lama dan erat.
Setelah dirasa cukup, Naya terlebih dahulu melepaskan rangkulannya. Kemudian disusul Izzu yang juga melepaskan rangkulannya beberapa saat setelah Naya.
Kini di pinggir ranjang mereka saling duduk berhadapan. Mata merah, hidung meler, tapi saling senyum. Menatap hangat satu sama lain. Diam tanpa suara.
Lima belas detik berlalu, akhirnya Izzu mengangkat suara, membuka topik baru agar mereka tak kembali nangis-ngangisan, "kau mau kusuapkan buburnya?"
Naya menggeleng.
"Kenapa?" Izzu bertanya heran.
"Gue nggak nafsu makan." Naya menimpali cepat.
"Kamu harus makan, Nay. Kamu jangan sampai jatuh sakit." Izzu menyanggah kalimat Naya.
"Tapi gue nggak bisa makan, Tad." Naya berusaha ngeles.
"Harus." Izzu mengultimatum, "aku membuatkannya khusus untukmu."
"Lo yang buat?" Naya bertanya sambil membelalak.
Izzu mengangguk.
"Bukan dibeli di warung simpang?" Naya kembali bertanya.
Izzu menggeleng, "aku yang buat. Dibumbui dengan sepenuh cinta, dimasak penuh kasih sayang, dan disajikan seikhlas jiwa agar kamu merasa bahagia saat menyantapnya."
Naya tersipu, lalu mencubit jempol kakinya sendiri sambil berkata manja, "dasar ustad tukang tambal ban."
Izzu mengerutkan alisnya usai mendengar kata-kata Naya barusan, "kok?"
"Udah bocorin hati adek sampai potek, seenaknya nambal seolah tak pernah bocor." Naya merespon cepat.
Izzu tertawa mendengar kata-kata Naya barusan, "kalau hati adek potek gara-gara abang ini, maka adek boleh hukum abang ini sesuka hati."
"Beneran?" Naya mendadak sumringah.
Izzu mengangguk.
Harusnya Naya yang dihukum Izzu seperti Izzu menghukum Izza. Tapi tak tahu kenapa, untuk Naya keadaan tiba-tiba saja berbalik, kini Izzu yang dengan pasrah menyerahkan diri untuk dihukum.
"Kalau begitu rasain hukuman dari gue, Tad." Naya berkata penuh semangat.
Izzu tak menjawab, ia siap jika Naya menamparnya, menonjoknya, mencaci makinya, menggigit tangannya, atau bahkan menendangnya sampai jatuh dari tempat tidur. Izzu benar-benar sudah menyiapkan diri.
Naya berdiri dengan lututnya, membuat posisinya lebih tinggi sejengkal dari Izzu. Lalu medekat ke arah lelaki tampan itu dan berkata datar, "terima hukuman lo, Tad."
Izzu menahan debar, mencoba membayangkan salah satu tindak kekerasan yang akan menyapa dirinya.
Tanpa aba-aba, Naya yang sudah dekat dengan Izzu langsung mengecup lembut kening si ustad sambil memegang erat bahu Izzu. Kecupan itu tidaklah lama, hanya tiga detik, tapi itu sukses membuat Izzu merasakan jantungnya hampir meledak.
Naya memisahkan kembali wajah mereka, lalu menatap Izzu penuh kemenangan.
Tapi Izzu malah merespon di luar dugaan Naya, "hukum aku sekali lagi, Nay."
Naya, "............."
"Jika tidak mau, maka biarkan aku yang menghukummu." Izzu melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum manja.
Naya, "............"
"Siapkan dirimu, Nay. Terima hukuman dariku." Izzu mendekatkan wajah mereka.
"YA IZZU!" Naya gelagapan
.
.
TBC
10/9/20
-zerryizka-
.
semoga suka
terima kasih masih setia