BAGIAN EMPAT PULUH SATU
My Playlist - Gosh Town by Chloe George
________________________
jantung Vero berpompa begitu kecang ketika melihat Vanya hampir kehilangan keseimbangan disaat hendak menengok ke arah dirinya. Vero menghembuskan nafasnya dalam dalam berusaha untuk tidak terlihat panik di depan Vanya, ia berjalan menuju Vanya dan mengulurkan tangannya
"apa yang kau lakukan? ayo turun, disitu bahaya" ucap Vero tenang, ia melihat ke arah mata Vanya dan melihat mata yang memerah dan pipi yang terlihat bekas air matanya.
"kenapa kau disini?"
"Vanya ayo turun dulu baru kita berbicara" Vanya terdiam sebentar sembari menatap uluran tangan Vero sebelum memutuskan untuk menggapainya dan turun dari pembatas rooftop. baru saja Vanya hendak berbicara, Vero memotongnya dengan cara memeluknya, ia bahkan bisa merasakan degupan jantung Vero yang masih memompa begitu pun nafasnya yang tersengal senggal.
"aku menyayangi mu Vanya, jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi, kau membuat ku takut"
jantung Vanya hendak berhenti dari tempatnya mendengar ucapan Vero, ia membeku di tempatnya tidak tahu apa yang harus di katakan. di saat yang bersamaan air mata Vanya turun mengalir deras namun Vanya segara menghapusnya
Vanya melepas pelukannya untuk menatap Vero, ia meneguk air liurnya susah payah "jangan bilang kau berpikir jika aku akan melompat" ucapnya membuat kening Vero berkerut
"siapa yang tidak berpikir seperti itu jika kau berdiri di pembatas rooftop lantai lima dengan mata kemerahan?" Vero menatap heran Vanya, tangannya bergerak untuk menghapus jejak air mata di pipinya.
"a-aku hanya mencari angin" Vero memutar bola matanya sembari menghela nafasnnya lalu menarik Vanya kedalam dekapannya lagi. Apa pun yang sudah terjadi yang terpenting Vanya disini, didalam dekapannya. Vanya pun memeluk Vero, memeluknya cukup lama dan erat erat seakan akan mereka telah lama tidak bertemu. "Mau bolos?"
***
Bibir Vanya berkedut meledek menatap kedua orang tuanya yang duduk diruangan keluarga, ia hendak melewati keduannya namun suara Indrianti membuatnya harus terhenti.
"Mengapa tidak bilang jika Vero datang kemari?" Indrianti berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Vanya dan Vero.
"Hi Dad" sapa Vanya mengabaikan mamanya itu sebelum ia berjalan mendekati lift rumahnya. Pintu terbuka dan ia pun masuk kedalam lift menatap Vero dari tempatnya. "kau ingin tinggal disitu?"
Vero yang sedari tadi hanya diam menatap ke arah indrianti dan Jeremy yang duduk di sofa "saya permisi dulu" melihat anggukan dari kedua orang tua Vanya, Vero pun berjalan masuk ke dalam lift.
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, mengapa dia tinggal dan Daddy tidak mengatakannya pada ku" Vero memilih diam menatapnya dan mengikuti lagi langkah Vanya hingga mereka sampai pada kamarnya. Vero tahu kabar perceraian kedua orang tua Vanya yang masih berlangsung hingga sekarang dan terlihat jelas jika Vanya memilih Jeremy ketimbang Indrianty.
"Dia mama mu, untuk apa dia butuh bilang hanya datang kerumahnya?" Ucap Vero sembari duduk di sofa milik Vanya. Vanya yang sedang mencopot heels redah yang ia pakai kesekolah pun terhenti untuk menatap Vero dengan tatapan datarnya.
"No. she is not, she is not my mom and this is not her home" Ucapanya sebelum kembali melanjutkan membuka sepatunya setelah ia berjalan menuju Closetnya untuk berganti bajunya dengn baju santai lalu berjalan kesalah satu ruangan lain yang berada dikamarnya tempat ia menyimpan buku untuk mengambil buku pelajarannya.
Kening Vero mengkerut melihat buku tebal yang Vanya taruh di meja "buku? Untuk apa?"
"Bukannya kau ingin belajar?" jawab Vanya membuat Vero menatapnya kecewa
"Kau bilang kita bolos? aku sudah belajar tiga jam tadi kepala ku benar benar akan pecah" Vanya terkekeh melihat Vero yang menunjukan ekspresi barunya.
"Yang benar saja, kita di sekolah harus belajar enam jam Vero" Vanya mulai membuka buku yang ia bawa, mencari halaman yang menunjukan beberapa soal sedangkan Vero yang tidak berniat belajar pun menatap Vanya dari diamnya. mengapa Vanya biasa saja di saat ia mengungkapkan perasaanya? apa kurang romantis? mengapa Vanya seakan akan melupakannya?
"Ayo belajar Vero satu bulan lagi ujian-" suara Vanya terpotong mendengar ketukan pintu, tak lama Vanya melihat Beberapa pelayan yang membawakan ranjang snack di temani oleh Rangga. Lagi lagi Vanya terkekeh melihat pandangan Vero berubah seketika menjadi tajam melihat kehadiran Rangga.
"Snack anda Miss" ucap Rangga dengan sopan tak lupa dengan lirikan mautnya pada Vero lali keluar dari kamar Vanya setelah mendapatkan ucapan trimakasih
"Ah!" Vanya menatap heran ke arah Vero di sampingnya "mata Rangga menusuk ku, membuat ku malas belajar saja" ucap Vero asal, menyadarkan badannya pada sofa
"Buatlah alasan yang lebih masuk akal agar kau tidak belajar-"
"Alasa yang lebih masuk akal ya" potong Vero membuat Vanya menyesalkan ucapannya "bagaimana jika karena aku ingin mencium mu?"
"Vero!!" Kesal Vanya sembari menjaga jarak duduknya dari Vero sedangkan Vero tertawa pelan.
"Hug?" Tanya Vero membuat kening Vanya mengkerut
"Vero kau memeluk ku dua kali hari ini—Vero.." Vanya menghela nafasnnya disaat Vero lebih cepat memeluknya sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Senyumannya tidak bisa terkontrol sehingga ia tidak bisa menahannya "apa aku terlalu gemuk sehingga kau sering memeluk ku?"
"Aku tadi mencari mu keseluruh sekolah dan sekarang aku butuh tenaga lagi untuk belajar" ucap Vero sembari menenggelamkan wajahnya pada curuk leher Vanya. Vero tidak bohong, memeluk Vanya merupakan hal yang ia butuhkan setiap saat. Terlebih lagi sehabis kejadian di sekolah, walaupun Vanya sudah memeluknya tetap saja itu belum cukup untuk memulihkan tenanganya.
"Tunggu, kau mencari ku keseluruh sekolah?"
Vero berdeham pelan tanpa melepas pelukannya "semua orang mencari mu, kau pergi tanpa memberitahu teman teman mu. mereka pikir kau dengan ku"
"Maaf, aku tidak berniat membuat kalian khawatir" cicit Vanya. Vero pun melepas pelukannya dan menatap Vanya dalam dalam.
"Sudah berlalu tidak apa" Vanya tersenyum, ia bergerak mengambil permen lolipop bulat yang berada di ranjang Snack yang di bawa maid nya dan memakannya "Kenapa kau suka sekali makanan manis?"
Senyum Vanya memudar "Permen cukup untuk menghilangkan emosi ku, menangis, marah atau apa pun itu. aku sedang mencoba berhenti sekarang tapi sepertinya aku tidak bisa"
"Kenapa kau ingin berhenti? Maksud ku itu memang tidak sehat tapi kalau kau menyukainya tidak apa untuk memakan permen permen itu" tanya Vero sembari memain mainkan rambut Vanya sedangkan Vanya hanya terdiam, ia kembali mengingat hal bodoh yang ia lakukan.
"Kau ingat disaat kita bertemu disupermarket? disaat aku bertemu dengan Rihana?" Tanya Vanya yang di jawab dengan anggukan oleh Vero "hari itu aku titip Develyn untuk membelikan permen sebelum mereka menyusul ku dirumah sakit dengan Reyhan tapi disaat mereka sampai, mereka lupa dengan permen ku"
Vero terdiam, ia memasang wajah seriusnya untuk mendengarkan ucapan Vanya "aku sangat butuh permen disaat itu jadi aku pergi membelinya sendiri sebelum aku pergi Reyhan meminta ku untuk tetap di sampingnya dan memintaku menyuruh Mr.Steel untuk membelinya tapi aku keras kepala dan memilih pergi sendiri lalu kita bertemu disitu"
Vanya menghela nafasnya sebentar menatap kakinya "tapi disaat kita bertemu, Vannesa mengubungi ku membuatku segera berlari menghampiri Reyhan. disaat aku sampai, Reyhan sudah pergi.." kepala Vanya terangkat menatap Vero dengan senyum simpulnya "aku bahkan tertawa disaat meninggalkan Reyhan"
Mata Vero terus menatap kedua bola mata Vanya yang menampilkan mata sendu dan ia tetap memilih diam "bagaimana dengan mu? Apa kau pernah kehilangan seseorang?"
"Tentu, kau datang sendiri ke makam mommy ku" kekeh Vero mencoba mencairkan suasana.
Vanya meringis pelan, ia lupa jika Mommy Vero telah meninggal dan dia bertingkah seakan akan dirinyah yang paling menyedihkan "apa yang terjadi?"
Vero terdengar menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya dari Vanya "Mommy ku meninggal karena overdoses. Dia setres tahu Daddy berselingkuh. Aku tidak tahu apa Daddy benar benar selingkuh atau hanya Mommy yang berpikiran negatif tapi aku mempercayai Mommy dan mulai membenci Daddy. di tambah lagi Daddy yang tidak ingin membantu bisnis ku sendiri"
Vero mendengus "tapi bagaimana pun juga, hingga saat ini aku belum pernah melihat Daddy berdekatan dengan wanita lain selain Mommy... Walaupun begitu, aku tetap tidak terlalu menyukai Daddy karena dia menolak proposal ku untuk bekerja sama agar dia mau mebiayai segala kekurangan peru-"
"Dia ingin kau menjadi lebih baik, Vero" kekeh Vanya "coba saja kau kerjakan bisnis mu sendiri aku yakin Daddy mu akan membantu mu jika melihat mu sungguh sungguh bekerja keras" lanjutnya membuat senyum Vero mengembang
"Kau benar" ucap Vero sembari mengusap pelan rambut Vanya. Vanya berdeham sebentar, sepertinya ia merasa percakapan mereka terlalu menyedihkan dan ia harus mengganti topik sebelun ada air matanya yang menurun.
"Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu pada mu" alis Vero terangkat melihat Vanya yang menatapnya lekat "apa hari itu benar benar ciuman pertama mu?"
"Kenapa? Kau suka yang baru baru?"
"Bukan itu maksud ku, bodoh—"
"Wow kau meledek ku bodoh" kekeh Vero membuat Vanya mengerucutkan bibirnya.
"Maaf"
Vero menggeser badannya agar ia memposisikannya dirinya menghadap Vanya dengan tatapan seriusnya "ku beritahu, berhati hati lah disaat kabar itu menyebar. Semua wanita akan mencoba untuk menyingkirkan mu karena sudah merebut ciuman pertama ku"
Vanya berdecak sebal, dia ini Thomas tidak akan ada yang berani menyingkirkannya. Siapa pun yang mencoba menyingkirkannya, akan Vanya singkirkan terlebih dahulu. Mata Vanya melirik ke arah bibir Vero, tidak mungkin bibir menggoda itu tidak pernah mencium wanita selain dirinya. terlebih lagi ini Vero dan ini Australia bukan negara yang taboo untuk melihat seseorang berciuman.
"hanya perasaan ku atau memang sejak pertama kali kita bertemu kau selalu menatap bibir ku?"
Damn,
"I guess.." Vero menggerakan bibirnya, memamerkan senyum miringnya melihat Vanya yang membulatkan matanya seakan akan tertangkap basah dengan apa yang Vero ucapkan
"A-aku tidak pernah-"
"Kau bisa memintanya jika kau menginginkannya, Vanya" potong Vero membuat Vanya semakin gelagapan
"Apa maksud mu? Menginginkan apa?"
"This" Vero segera mendekatkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Vanya membuat Vanya terkjut dan menahan nafasnya merasakan bibir kenyal Vero yang terdiam di dibibirnya sebelum bergerak menciumnya secara pelan dan dalam.
Jantung Vanya berdegup kencang, matanya masih membulat menatap Vero yang menutup matanya sembari terus menciumnya, tangan Vero bergerak untuk memegang rahang Vanya dan dari situ Vanya mulai menutup matanya dan membalas ciuman Vero. Cukup lama mereka berciuman sebelum Vero melepasnya dan mulai turuh menuju leher Vanya untuk membuat tanda kepemilikan di lehernya.
Tapi apakah Vanya salah dengan ini? Setelah beberapa minggu meninggalnya Reyhan ia justru menikmati ciuman bersama pria lain di kamarnya, melupakan semua pikirannya tentang Reyhan dan hanya terfokus pada Vero.
To Be Continued
______________
Vero Arsinio Cassanovas
Vanyary Aiden Thomas
*
*
*
*
*
*
*
Jangan Lupa Vote dan Comment 👉🏻👈🏻
Follow me On Wattapad and Instagram
Wattpad : You Can Click On My Profile
Instagram : vanyamalzudith
Salam Hangat
V
See You in the next part!!🥰🥰🥰