•••
Nayla baru saja memasuki gerbang dengan langkah santai dan ia juga sesekali tersenyum saat teman, satpam, kakak kelas mendahului nya. Perempuan dengan cardigan hitam dan juga memakai jam kecil warna hitam itu terpekik kaget saat sebuah mobil langsung menyalip nya.
Ia menyipitkan mata nya untuk memperjelas mobil berwarna silver yang menyalip nya itu.
Mata nya seketika jengah saat tiga orang yang sangat ia kenali baru saja turun dari mobil nya.
Ketiga perempuan itu menghampiri Nayla yang masih terus berjalan dan sampai di koridor. Mereka terus berteriak memanggil nama Nayla, namun cewek itu enggan untuk berhenti.
"Nay! Nayla!!"
"Nayla berhentiii!!!"
"NAYLA SHALETTA!"
Dengan berat hati, Nayla berhenti dan membalikkan badan nya untuk menatap ketiga perempuan yang berlari dengan senang menghampiri nya.
"Capek gue Nay..." Ucap Fia dengan napas ngos-ngosan.
"Lo kenapa sih, Nay? Kita panggilin bukan nya berhenti malah jalan terus." Dumel Safira yang masih mengantuk napas nya.
"Gue udah dandan yang cantik nih Nay tapi gara-gara lari ngusulin Lo, gue keringetan." Ucap Niara, mengelap dahi nya. "Luntur deh bedak gue."
Nayla memutar bola mata nya malas mendengar ocehan dari para sahabat nya ini. "Siapa suruh nyalip gue pas masuk gerbang tadi?"
Mereka semua terdiam namun detik berikut nya saling melempar pandang. "Safira tuh yang bawa mobil, Nay."
Safira menyengir, "gak sengaja, Nay." ucap Safira pada Nayla.
Nayla hanya menanggapi dengan deheman. Membuat ketika teman nya mendekat dan merangkul Nayla. "Kuylah ke kelas." ajak Fia.
Mereka semua mengangguk lalu baru beberapa langkah suara deruman motor terdengar di telinga mereka. Dengan refleks mereka semua menoleh ke arah gerbang, ralat bukan hanya mereka saja tapi hampir murid yang sudah datang menatap nya.
Beberapa motor sudah memasuki gerbang. Satu motor di depan sebagai leader itu adalah Langit. Langit dengan jaket hitam nya itu berhasil membuat semua siswa atau siswi menatap nya.
Banyak dari mereka yang berbisik-bisik melihat anggota Alderious dengan gagah sama seperti Langit.
"Sa itu bukan nya Kak Gathan ya? Lo sama dia udah putus?" tanya Niara yang menatap Gathan sedang berboncengan bersama Selly.
Safira menggeleng, "belum. Tapi kok Gathan malah boncengin Kak Selly sih, gue aja yang pacar nya belum pernah tuh di anter ke sekolah." dumel Safira.
"Hah? Serius lo?! Gila sih ini, di depan pacar nya sendiri aja berani boncengin cewek lain, gimana di belakang lo Sa." tukas Fia semakin membuat Safira menahan emosi nya.
Nayla yang juga menatap itu mendadak kesal. "Gue bilang apa Sa. Cowok kayak Kak Gathan gak mungkin bisa bertahan sama satu cewek."
"Untung aja Kak Erick naik motor nya sendiri." gumam Fia saat melihat Erick memakai hodie serta gelang hitam di tangan kiri nya.
"Dasar cowok." cibir Niara.
Niara mendekat dan merangkul Safira, "udah gak usah galau. Cowok banyak, misal nya Kak Gathan nyakitin lo, gue maju paling depan."
Safira tersenyum paksa, ia kembali melirik Gathan yang tertawa seperti sedang menggoda Selly.
"Sa ayo ke kelas." ajak Nayla mencoba mengurangi rasa cemburu Safira yang masih menatap Gathan dan Selly.
Keempat cewek itu akhirnya melangkahkan kaki nya dari koridor menuju ke kelas sepuluh bahasa1. Sambil sesekali mencoba menghibur Safira yang masih saja bete dan hampir saja menangis.
•••
"Nayla ada gak?" tanya cowok yang kerah nya berdiri, tampak berantakan.
Ditto yang berada di depan pintu sambil bermain game mendongak, ia terkejut karna melihat kakak kelas nya. "Ada, Bang. Di dalem lagi sendirian."
Cowok itu langsung masuk tanpa banyak bicara lagi.
Ia menelisir pandangan nya hingga bertemu dengan sosok yang ia cari duduk sendiri. tanpa banyak omong ia langsung berjalan dengan cepat menghampiri cewek itu.
"Nay, di cari sama Langit." ucap cowok dengan mulut yang mengunyah permen karet.
Nayla tersentak saat melihat cowok di hadapan nya itu, "Kak Ragas? Ngapain kesini?"
"Gue disuruh sama si Bos, nyampein pesan. Dia nyuruh lo ke rooftrop sekarang." kata Ragas.
Nayla mengerutkan kening nya, "ngapain? Kenapa gak dia aja yang bilang sendiri?" tanya Nayla.
"Lo gak percaya? Gue ngomong serius, Bos Langit suruh lo kesana. Suer deh, kalau gue boong pasti udah di gantung gue. " ujar Ragas dramatis.
Cewek itu memainkan jari-jari nya bingung. Antara takut dan tidak percaya jika Langit memanggilnya.
"Ayo, Nay." ajak Ragas pada Nayla.
Akhirnya Nayla mengangguk dan berdiri. Ia mengikuti Ragas dari belakang nya menuju Rooftrop. Tempat yang kata nya ada Langit disana.
Sesampai disana, Nayla memang melihat Langit yang sedang berdiri sambil menghisap rokok nya membelakangi Nayla dan Ragas. Satu langkah demi langkah, mereka mendekati Langit.
"Bos." panggil Ragas pada Langit yang masih tidak menyadari akan kehadiran Nayla dan Ragas disini.
Langit menoleh ke belakang. Ia masih dengan sempat menghisap rokok nya, "lo boleh pergi, entar pulang sekolah di warung Mang U'U gue yang bayar."
"Siap Bos!" ucap Ragas lalu pergi meninggalkan Langit dan Nayla berdua di Rooftrop.
"Sini." kata Langit pada Nayla. Nayla justru menatap rokok yang terselip di jari-jari Langit.
Cewek itu menggeleng, "gue disini aja Kak. Kak Langit mau ngomong apa?" Tanya Nayla to the point.
Putung rokok Yang sedikit pendek itu Langit jatuhkan dengan berat hati dan menginjak nya. "Udah gue buang rokok nya, sini dulu."
Nayla menghela napas berat dan langsung menghampiri Langit, "ada apa, Kak?" Tanya Nayla mulai jengah.
Langit menatap Nayla lekat, "kalau gue bilang, gue nyaman sama Lo gimana?" Ucap Langit dengan suara serak.
Perempuan itu langsung mematung atas ucapan Langit pada nya. Bibir nya terasa kelu saat ingin menjawab bahkan kaki nya terasa lemas saat ditatap dalam seperti itu oleh Langit.
"Biasa aja kali muka nya." celetuk Langit tersenyum geli.
Nayla mengerjab pelan, "tadi maksudnya apa, Kak?"
"Gue lagi di fase nyaman sama kehadiran lo, untuk perasaan seperti suka kayak nya belum sampe fase itu." ucap Langit menatap lurus.
Nayla diam, ia tidak menjawab dari pernyataan Langit barusan. Ia menunduk dan memainkan jari-jari nya.
"Pulang sekolah kalau gue belum ada depan gerbang, lo samperin gue di warung Mang U'U aja."
"Emang Kak Langit mau ngomong apa sih? Kenapa gak disini aja?" tanya Nayla pada Langit.
Cowok itu menoleh dan menatap Nayla, "gue cuman mau kasih tau tempat berharga gue, dan cuman lo yang gue ajak kesana."
•••
Cewek dengan memakai cardigan hitam nya sedang berjalan dari UKS menuju gerbang sekolah. Sudah lebih dari empat puluh menit kurang lebih yang lalu, bel sekolah sudah berbunyi. Sesampai di depan gerbang, Nayla menengok-nengok kekiri dan kekanan seperti sedang mencari sesuatu.
Ia sesekali melirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan nya.
"Gue nunggu apa gak ya? Kalau gue nunggu juga percuma, dia bilang gue suruh nyamperin. Kalau gue pulang entar yang ada dia marah-marah lagi sama gue. Tapi kalau gue kesana, pasti ada Kak Selly." kata Nayla bergumam sendiri.
Setelah menunggu hampir sepuluh menitan, Nayla tak kunjung melihat Langit menghampiri nya.
Ia menghela napas berat dan berjalan menuju Warung Mang U'U dengan perasaan was-was.
•••
Nayla berhenti di jalan saat ia sudah melihat Warung tongkrongan Anak Alderious. Disana ia dapat melihat jelas banyak anak laki-laki yang sedang duduk sambil merokok dan juga ada yang bermain ponsel. Perasaan tidak yakin membuat Nayla diam berdiri.
Cewek itu menepuk dahi nya saat mengigat sesuatu. Ia langsung mencari ponsel nya di tas.
Saat ponsel itu berhasil ditemukan, Nayla langsung menyalakan ponsel nya dan mencari kontak Langit yang kemarin lusa sempat ia simpan.
Langit. Satu nama yang Nayla kirimkan pesan.
Tidak butuh waktu sampai lima menit, pesan itu telah dibaca dan juga telah dibalas.
Nayla Shaletta : Kak? Gue udah sampe depan Warung. Kak Langit dimana?
Langit Putra Alghifarry : sini. Gue lagi makan.
Nayla Shaletta : tapi Kak, banyak anak cowok nya.
Langut Putra Alghifarry : ada gue. Cepet kesini!
Nayla mendesah berat, dengan penuh keberanian ia menggengam ponsel nya kuat dan melangkahkan kaki nya ke Warung Mang U'U. Kurang berapa langkah anak cowok yang berada disana sudah menatap nya dari atas sampai bawah.
Membuat Nayla merasa kurang nyaman.
"Neng cantik, cari siapa?" tanya cowok berkepala botak yang sedang merokok.
"Sini sama Abang, jangan sama si Botak. Bau tanah." celetuk yang duduk di sebelah nya.
"Lo Nayla Shaletta anak kelas sepuluh yang punya body bagus kan?" ucap cowok bermata sipit dengan seringai diwajah nya.
Ponsel yang Nayla genggam ia pegang dengan erat, tangan nya pun berkeringat saat cowok-cowok itu menggoda nya. Namun sebelum ingin menjawab suara berat tiba-tiba terdengar.
"Ngapain lo semua?" tanya Cowok bertubuh besar dengan jaket kebanggan yang sangat pas melekat ditubuh nya.
Mereka semua langsung diam saat cowok itu datang.
"Gue nanya di jawab! Bisu lo semua?" sentak Cowok itu.
Nayla yang menyadari akan terjadi pertengkaran langsung mendekat dan memegangi lengan cowok itu. "Kak Langit udah.. Mereka gak ngapa-ngapain kok."
"Sekali lagi gue liat kalian godain cewek ini. Lo semua gue keluarin dari Alderious." ucap Langit tegas.
Ia langsung menggandeng Nayla masuk ke dalam.
Sesampai di dalam, Nayla langsung ditatap oleh Selly, Ochi, Jessy dan juga Maura yang berada di sana. Disana juga ada Gathan, Erick, Ragas, Andra dan Ezra.
"Wiih gercep juga lo Bos." celetuk Andra yang sedang bermain kartu bersama Ezra dan Ragas.
"Gas lah Bos jangan kasih kendor!" ucap Ragas.
"Sikat bos! Hajar langsung!" timpal Andra membuat Nayla jadi canggung.
"Eh ada Neng Nayla, sini duduk deket Abang." kata Gathan dengan tampang menyebalkan.
Nayla hanya menatap sekilas, ia sangat kesal sama Kakak kelas nya itu.
Kakak kelas yang dimaksud Nayla adalah playboy bernama Gathan itu sedang duduk berdekatan dengan Maura dan Selly.
Ia bertambah kesal, saat melihat Gathan menggoda cewek lain apalagi Gathan masih bersama sahabat nya Safira. Bisa sakit hati Safira jika melihat ini.
Langit mengambil kunci motor nya lalu menggandeng Nayla namun sebelum melangkahkan kaki nya, suara Selly dan Maura terdengar.
"Kamu mau kemana, Ngit?" tanya Selly, lembut.
"Kak, mau kemana? Aku kan kesini mau ngobrol sama Kak Langit." timpal Maura, "kenapa pergi sama cewek itu?"
"Bukan urusan kalian." setelah mengucapkan itu Langit langsung membawa Nayla keluar. Membuat Gathan, Ragas, Andra dan Ezra menertawai nya.
"Sini sama aku aja sayang." ucap Gathan pada Maura dan Selly, genit.
"Akhlak kalian benerin dulu, kalau mau Langit suka sama lo pada." celetuk Ragas dengan tawa nya.
"Sini sama gue, Yang." Ucap Andra yang langsung dapat tatapan tajam dari Ezra.
"Kata nya setia." cibir Ezra.
"Andra cap playboy sawangan. Titisan Gathan Tenggara yang bau bawang." Timpal Ragas.
"Lambemu, gue wangi. Safira aja demen cium ketek gue." Kata Gathan, sombong.
"Anjing lo Gath. Safira lo pelet kali." Celetuk Andra.
"Iye gue pelet, pelet gue tiap malem doa di sepertiga malem." Ucap Gathan.
"Bangsat, kalau praktek agama aja lo bolos." Ucap Ragas. Ikut membully.
"Pembohong, kau pembohong." Timpal Andra dengan tampang bego nya sambil menunjuk Gathan.
"Tai lo Gath." Kata Ezra, emosi.
Disaat semua asik membully Gathan, Selly, Maura dan Jessy saling pandang dan tau apa yang akan mereka perbuat untuk Gadis tidak tau diri itu. Siapa lagi jika bukan Nayla?
Sedangkan Ochi sibuk menatap lekat Erick yang diam dengan memainkan ponsel nya. Erick yang memakai gelang hitam di tangan kiri nya itu hanya diri nya yang malas ikut nimbrung.
Apalagi teman-teman nya gak ada akhlak semua.
•••
Vote ya!
See u next part!
Akhirnya bisa up lagi..