Rely On You

By duniadaniaa

51 0 0

Kehidupan Shanindya Maharani (22) sudah cukup pelik. Apalagi setelah masalah lain muncul membuat gadis itu pu... More

1. Unexpected Moment

24 0 0
By duniadaniaa

Shanin menghembuskan napasnya setelah melihat pesan yang berasal dari benda pipih digenggamannya. Jika tahu begini gadis itu memilih pulang dari tadi, hampir setengah jam ia menunggu dosen pembimbingnya terkait masalah skripsi yang Shanin kerjakan dan ternyata berakhir sia-sia.

Gadis berkuncir kuda itu berjalan menuju tempat parkir dan segera beranjak meninggalkan kampus menggunakan motor matic miliknya. Hari ini Shanin harus mencari pekerjaan baru, karena beberapa hari lalu ia diberhentikan sebagai waiters di cafe dekat kosnya hanya karena ia terlambat datang ketika pengunjung sedang ramai-ramainya. Sebagian hati kecil Shanin bersyukur karena ia tidak harus menghadapi bosnya yang super galak, namun merasakan betapa sulitnya mencari pekerjaan membuat sedikit menyesal. Ah seandainya saja mendapatkan perkerjaan semudah membalikkan telapak tangan.

Shanin tenggelam dalam lamunannya dan seketika ia tersadar saat melihat mobil berhenti dengan jarak kurang dari 5 meter, mata gadis itu membulat dengan bibir terbuka menyadari motornya masih melaju dengan cepat. Bagaimana bisa ada orang yang parkir mobil sembarangan seperti itu? Dan ketika jarak semakin dekat pintu mobil itu terbuka, Shanin berusaha menekan klakson berkali-kali dan kedua tangannya menarik rem kuat-kuat. Oh tidak! Tetap saja hal ini tidak bisa dihindari.

BRAKKK!!

***
Mobil keluaran terbaru Nissan Leaf berwarna putih itu berhenti didepan sebuah toko bunga kecil yang ada dipinggir jalan. Sang pengemudi bernama Mario iku berdecak singkat, jika bukan perintah ibunya ia tidak akan mau membeli bunga ditempat ini. Selain kecil dan sempit toko bunga didepannya ini tidak memiliki sedikit space untuk memarkirkan mobil. Ah seharusnya Mario ingat bahwa hari ini peringatan kematian neneknya dan menyiapkan bunga sejak awal agar tidak terjadi hal dadakan seperti ini.

Ponsel mahal pria itu berdering. Tanpa melihat siapa penelfon itu pun Mario sudah tau bahwa itu mamanya. Tak menunggu lama Mario langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Halo Ma, ini Mario masih cari bunga."

"..."

"Iya bentar lagi sampe sana kok, "

"..."

"Mario kan sudah bilang Ma, Mario nggak akan jual apartemen itu."

"..."

"Iya secepatnya Mario cari pengganti." Pria itu memindahkan ponsel ke tangan kiri sedangkan tangan satunya berusaha mencari earphone yang mungkin terjatuh pada bagian bawah kabin mobil.

"Iya Mario paham, Ma. Mario juga nggak bisa pilih orang sembarangan buat jagain apartemen itu." Jawab Mario, ekor matanya melirik jam tangan bermerk Tudor Heritage Blackbay yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Seharusnya ia sampai di rumah orang tuanya saat ini, mengingat jadwal hari ini cukup padat. Seusai acara keluarga nanti Mario bersama dengan Mas Andre-Manager pribadinya akan bertemu dengan beberapa kru dan sutradara terkait film yang akan dibintangi oleh Mario nanti.

"Ya sudah Mario tutup dulu Ma, nanti di bahas lagi disana." Masih fokus dengan ponsel di genggaman tangannya, Mario membuka pintu mobil tanpa melihat jalanan belakang yang tentu saja banyak orang berkendara. Bahkan pintu mobil Mario belum sepenuhnya tertutup tetapi di belakang sana sebuah motor matic melaju cepat dengan pengendara yang memasang wajah panik. Ini pertanda buruk! Niat hati ingin menghindar tetapi sepertinya gerakan Mario terlalu lambat, hingga kemudian kejadian yang tidak di inginkan keduanya pun terjadi.

BRAKKK!!

Tabrakan itu cukup membuat Mario terpental, entah bagaimana pemotor itu baik-baik saja malah sebaliknya. Mario tidak sanggup memikirkan hal tersebut kepala Mario terasa pening melihat keadaan sekitar yang dikerumuni banyak orang, tangan kanannya terasa panas hingga detik berikutnya pria itu tidak sadarkan diri ketika orang-orang berusaha menolongnya.

Beralih pada kerumunan lain yang berada tak jauh dari tempat itu, seorang gadis yang menjadi pelaku tabrakan tersebut pingsan walau hanya memiliki beberapa luka kecil. Orang sekitar membawanya ke toko kecil di depan sana. Wanita paruh baya yang tak lain pemilik toko itu mengolesi minyak kayu putih dan melepas sepatu yang dikenakan Shanin.

Tak butuh waktu lama Shanin tersadar dan langsung meneguk segelas air putih yang diberikan oleh wanita tadi. Seketika Shanin teringat kejadian beberapa menit lalu dan sesegera mungkin bertanya.

"Bu bagaimana keadaan pria yang saya tabrak tadi?" tanya Shanin dengan nada khawatir yang terdengar jelas.

"Saya tadi nggak liat lebih jelasnya, soalnya keburu dibawa ke rumah sakit, Nak."

"Kira-kira rumah sakit mana ya, Bu?"

"Kemungkinan rumah sakit Cempaka Putih. Apalagi yang kecelakaan tadi Mario yang sering nongol di tv itu." Jawab wanita paruh baya tersebut dengan enteng namun berdampak besar pada Shanin yang seketika merasakan pening. Gadis itu paham betul bahwa Cempaka Putih bukan rumah sakit yang di tempati orang biasa. Selain fasilitas yang lengkap dan terjamin, biaya di sana tidak bisa dikatakan murah.

"Mario?" Shanin tertegun sesaat. Aduh bagaimana ini? Shanin baru saja menabrak pria yang tentu saja bukan orang biasa. Bagaimana jika masalah ini dibesar-besarkan media dan wajahnya terpampang di televisi, apa reaksi orang tuanya di kampung nanti?

Shanin merutuki kebodohannya sesaat. Sepertinya ia harus segera mengecek keadaan pria itu, sebelum orang-orang menyebutnya tidak bertanggung jawab. Meskipun Shanin tidak sepenuhnya salah karena Mario sendiri tiba-tiba membuka pintu mobil tanpa melihat ke belakang. Iya benar, Shanin tidak perlu merasa takut.

"Bu, boleh saya minta antar ke sana?" tanya gadis itu setelah melihat kondisi motornya yang mengenaskan. Ya Tuhan berapa banyak masalah yang dihadapinya kali ini?

"Oh iya biar saya panggilkan anak saya sebentar ya."

"Maaf ya Bu, merepotkan." Shanin berkata dengan sungkan. Sedangkan wanita itu tersenyum seolah hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting.

***
Bangunan kokoh berwarna putih terlihat ramai, beberapa tenaga medis tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Begitu banyak ekspresi yang tergambar di wajah orang-orang sekitar sini. Ada yang bahagia mendengar kabar dari orang tercinta sembuh dari penyakit. Ada yang khawatir ketika menunggu informasi dari dokter. Dan yang paling menyakitkan adalah, ekspresi sedih saat kehilangan orang terdekat.

Dari berbagai macam ekspresi itu, Shanin tidak tau apa yang ia rasakannya kini. Setelah bertanya resepsionis, Shanin berjalan menuju ICU dan mendapati seorang pria berpakaian rapi duduk di samping pintu yang juga menjadi tujuannya. Tidak mudah untuk sampai pada tempat ini mengingat di luar sana begitu banyak wartawan yang berusaha mendapatkan berita dari sang artis yang kini masih dalam penanganan medis. Bahkan Shanin sempat tidak diperbolehkan masuk tetapi setelah berkata pada security bahwa ia adalah si pelaku, Shanin langsung mendapat tatapan kasihan.

Pria itu mengerutkan kening ketika mendapati seorang gadis yang menghampirinya. "Maaf, ada keperluan apa?" Ia berdiri ketika Shanin kini berada di hadapannya.

Shanin bingung harus menjawab apa. Apakah dia benar-benar disebut pelaku? Atau korban yang bahkan dirinya tidak memiliki luka parah di bagian tubuh? Ah sejak kapan menjawab pertanyaan orang menjadi sesulit ini bagi Shanin.

Belum sempat Shanin menjawab, seorang wanita berpenampilan modis diikuti dengan pria yang menggunakan jas begitu rapi berjalan mendekat. Tatapan khawatir tergambar jelas pada keduanya.

"Andre bagaimana keadaan Mario? Apa begitu parah?" tanya wanita itu tanpa menunggu sampai di depan pria yang ternyata bernama Andre.

"Masih dalam penanganan dokter, Bu."

"Kamu tau bagaimana kronologinya? Setidaknya kita bisa menuntut orang yang mencelakai Mario." sahut pria paruh baya itu sukses membuat Shanin terkejut bukan main. Hal itu membuat dua orang tua yang baru saja datang menyadari seseorang asing yang berada di antara mereka bertiga.

Tatapan menilai Shanin dapatkan dari ketiga orang penting di hadapannya. Pasalnya Shanin yang hanya memakai jeans dan cardigan biasa tak lupa sepatu putih lusuhnya sangat tidak pantas berdiri didaerah ini.

"Maaf saya tidak bermaksud mencelakai Mario, memang saya yang salah berkendara sambil melamun. Saya tidak tahu ada mobil berhenti dan tiba-tiba pintunya terbuka, dan hal tersebut tidak bisa saya hindari." Shanin hanya bisa berkata seperti itu dan tentu saja dengan menundukkan kepala.

Detik berikutnya semua perhatian tertuju pada ruangan di depan sana ketika seorang dokter keluar dengan memasang wajah serius. Tanpa menunggu aba-aba mereka menanyakan hal yang sama yaitu tentang bagaimana keadaan Mario.

"Bisa bicara di ruangan saya sebentar?" Ketiga orang berpengaruh itu saling pandang hingga akhirnya pasangan paruh baya tersebut yang berjalan menuju ruangan dokter.

Andre kembali mendudukkan tubuhnya. Sempat terjadi keheningan beberapa saat namun akhirnya pria itu membuka suara bertanya pada Shanin yang hanya menunduk meremas ujung cardigannya. Gadis iku tampak gelisah, kepalanya di penuhi pertanyaan berawalan kata bagaimana.

"Jadi-" Andre menjeda kalimatnya, mencoba mencari kalimat yang pas. "Kecelakaan itu murni ke tidak sengajaan?" Ucapan itu sukses membuat Shanin sempat terperangah seraya menatap Andre. Bagi Shanin kejadian saat ini adalah musibah, bagaimana mungkin orang lain bisa menganggapnya di sengaja. Hah sepertinya dunia mulai terbalik atau mungkin memang sudah.

"Kehidupan saya sudah cukup rumit, tidak mungkin saya mempunyai niat untuk mempersulit keadaan saya sendiri." jawan Shanin dengan lugas.

Andre berdeham kemudian melanjutkan perkataannya. "Menjadi tokoh publik itu sulit. Apalagi saat ini Mario sedang di atas langit. Banyak sekali haters atau bahkan juga orang-orang yang fanatik dengan dia, sampai terkadang saya tidak bisa membedakan hal yang murni atau memang disengaja mencari perhatian Mario."

Shanin berani bersumpah selama 22 tahun hidupnya, ia tidak pernah mempunyai rencana konyol seperti itu. Masih banyak hal penting lain yang bisa Shanin lakukan. Gadis biasa sepertinya tidak mempunyai waktu untuk mengejar atau bahkan mengemis perhatian orang lain, apalagi untuk seorang bintang seperti Mario. Lihat betapa realistisnya hidup Shanin.

Andre menatap gadis didepannya yang terdiam, membuat pria itu merasa tidak enak hati. Mungkinkah kata-katanya terlalu jahat? Tetapi bukankah itu salah satu cara demi kebaikan Mario? Hah kenapa jadi dia yang repot sendiri. "Maaf jika kalimat saya terkesan menuduh." ujar Andre pada akhirnya setelah terlibat perdebatan kecil dalam batin.

"Tidak apa-apa, saya mengerti." Shanin menjawab dengan senyuman tipis.

Beberapa kemudian sepasang orang tua yang tadinya di panggil ke ruangan dokter, kini kembali dengan wajah murung. Tanpa mengatakan apa-apa mereka melewati Shanin begitu saja dan langsung menuju tempat Mario dirawat begitu pula dengan Andre yang ikut berjalan menyusul. Gadis itu menghembuskan napas berat, bahkan ia sempat mendapat tatapan tidak bersahabat dari wanita yang dia yakini sebagai ibu Mario. Shanin seratus persen yakin bahwa ada sesuatu yang buruk menimpa Mario, walaupun dalam hatinya merapal sebuah doa agar hal tersebut tidak terjadi.

***

Continue Reading

You'll Also Like

509K 22.7K 35
Yuk follow dulu sebelum baca :) 🔞 Ternyata cara Tuhan menjaga itu sangat istimewa. Dimana diberi patah hati untuk kemudian dikuatkan. Dijatuhkan un...
481K 49K 24
Sudah cetak selfpub ISBN 978-602-489-913-4 Malika kembali ke negara asalnya dua tahun setelah perceraian itu terjadi. Perceraian yang mematahkan hat...
1.3M 139K 45
Ada Kale Arsana Malik, si almost expired tampan kembaran Dylan Sprouse versi brewokan. Ditanya perihal kapan menikah sebenarnya bukan masalah besar u...
38.3K 3.1K 32
-Reading list WattpadRomanceID edisi bulan Maret 2022. -E book tersedia di Google play. Janice Prameswari, seorang artis terkenal harus menerima perj...
Wattpad App - Unlock exclusive features