TRUE COLORS || JENLISA

Por nomnomart_

630K 52K 4.1K

I SEE YOU SEE ME Ranks #1 jenlisa (04/11/2020 - 09/11/2020) Thank you my beloved readers. Love you all :) Más

1. Day One
2. Welcome
3. Festival
5. Birthday Party
6. Birthday Party II
7. Are You Serious ?
8. I Don't Care About Them
9. Familiarize Yourself
10. My Protector
11. Because I care
12. You Deserve It!
13. Babo-yaa
14. Quality Time With You
15. Quality Time With You II
16. Gotcha!
17. Misunderstand ?
18. Who ?
19. Bad Feeling
20. Exercise
21. Protect You
22. Was Revealed
23. A Decision
24. I Miss You (Seulrene)
25. New Page
26. Protect
27. Girls Time
28. Girls Time II
29. Who Is He, Mom ?
30. Lie
31. Social Distancing
32. Blessing
33. Threat
34. Long Time No See
35. Plan
36. Halloween
37. Search
38. Angry Cat
39. First Time
40. Happy New Year
41. Sad And Happy
42. Stuck With You
43. Stuck With You II
44. Accepting
45. Jennie's Nightmare
46. Daddy Kim
47. Choice
48. Fake Friend
49. Make A Wish
50. True Colors

4. Feeling

18.3K 1.4K 47
Por nomnomart_

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan tempat, nama, dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan

Author : Nom

Vote & Comment jangan lupa ya sayang..

Happy reading :)

Malam ini hujan turun sangat deras membasahi indahnya kota Seoul. Banyak pejalan kaki yang berlari hendak berteduh agar tubuhnya tak terkena buliran air hujan serta kedinginan sebab angin malam yang cukup kencang. Bahkan pengendara motor terpaksa berhenti ke tepi untuk menutupi tubuhnya menggunakan mantel.

Biasanya jika hujan turun deras seperti ini, sebagian warga Korea memilih berkunjung ke restoran atau cafe terdekat untuk menikmati minuman hangat atau mengisi perut dengan semangkuk sup. Tujuan mereka sekadar untuk menghangatkan tubuh sembari menikmati indahnya kota Seoul meski diguyur hujan.

Setelah festival berakhir sesuai dengan ajakan Jennie pada Lisa, ia membawa adik kelasnya menuju restoran yang ada di pusat kota. Sebelum meninggalkan halaman sekolah, Lisa hendak mengambil mobil namun niatnya dicegah oleh Jennie dengan alasan akan lebih baik jika berada dalam satu mobil.

Ide yang cukup masuk akal bagi Lisa, tetapi gadis itu tak rela meninggalkan mobilnya sendirian di rumah kosong. Takut ada orang jahat yang 'mengerjai' mobilnya. Oh ayolah.. harga mobil itu cukup mahal. Jennie mengerti kekhawatiran Lisa, dengan cepat ia meminta salah satu penjaga sekolah untuk memantau mobil Lisa. Hendak melayangkan alasan lagi tapi Jennie lebih dulu memberinya peringatan. Mau tak mau Lisa menuruti Jennie meski hati Lisa sedikit gusar.

"Kau ingin makan apa, Lisa?" Jennie bertanya seraya melihat menu yang ada ditangannya.

"A-aku.. sudah kenyang, sunbae".

Mendengar jawaban Lisa, gadis bermata kucing itu menengadah menatapnya. "Kenyang? Apakah makanan yang ada didalam perutmu masih tersisa sampai sekarang?".

Lisa tidak langsung menjawab. Alhasil ia berpikir keras mencari jawaban yang cocok dan masuk akal. Ketika hendak membuka mulut untuk menjawab, Jennie meletakkan menu diatas meja dengan kasar. Lisa tersentak dan melihat seniornya berdiri dari tempat duduknya. Lisa menatapnya heran.

"Kita cari restoran lain saja".

"T-tapi kenapa?".

"Aku tahu kau tidak suka dengan makanan disini" jawab Jennie memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan kasar. "Ayo pergi!".

Oh ayolah.. bukan ini yang Lisa mau. Kata kenyang itu hanya sebuah alasan klasik karena ia belum terbiasa makan bersama orang lain apalagi seniornya sendiri. Soal makanan? Restoran yang mereka kunjungi adalah restoran berbintang dan tak mungkin Lisa tidak suka dengan menunya.

Ingatkan Jennie bahwa Ayah Lisa seorang chef terkenal yang selalu memasak makanan berkelas.

"Sunbae, duduklah.." ucap Lisa dengan lembut. "Kita tetap makan disini dan aku akan memesan makanannya, oke?".

Jennie bergeming. Beberapa detik kemudian barulah ia duduk dan meletakkan tasnya kembali dikursi sebelah. Lisa memberitahukan pesanannya pada pelayan yang sejak tadi berdiri menatap bingung kearah mereka. Setelah mencatat pesanan mereka, si pelayan undur diri ke belakang untuk memberikan pesanan kepada si juru masak.

Ponsel Lisa tiba-tiba saja berdering. Ia melirik sekilas ke layar ponsel tertera nama Seulgi disana. Gadis bermata monolid itu menanyakan keberadaannya. Lisa tersentak baru menyadari kalau ia tidak memberitahu kepergiannya pada Seulgi. Sedari tadi Seulgi mengirimkan banyak pesan bahkan panggilan darinya pun hampir mencapai dua puluh.

Karena Jennie sunbaenim aku jadi mengabaikan panggilanmu. Mianhae beruang.

"Ekhm.."

Lisa mendongak menatap Jennie yang telah memandangnya. Merasa aneh dengan tatapan itu, Lisa menyimpan ponselnya di saku seragam setelah ia membalas pesan dari Seulgi.

"Sepertinya kau sangat serius dengan ponselmu. Apa dari seorang yang spesial?".

Lisa mengernyit tertahan, pertanyaan Jennie sulit untuk dipahami namun ia paham maksudnya. "T-tidak sunbaenim, itu hanya pesan dari Seulgi, teman kelasku" Lisa berusaha menghilangkan rasa gugupnya.

"Oh begitu.. aku pikir dari kekasihmu" suara Jennie mulai pelan di akhir kata berharap Lisa tidak mendengarnya.

Hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu dari pengunjung restoran dan juga rintikan hujan yang masih membasahi jalanan.

Lisa memilih untuk diam, tak ingin memulai percakapan lebih dulu sebab ia tak begitu dekat dengan seniornya. Meski ia ingin. Lisa bukannya tidak sopan, hanya saja ia tak tahu apa yang harus dibicarakan. Takut salah ngomong, Lisa memilih menatap hujan dari balik jendela.

Tanpa ia sadari Jennie terus memandangi wajahnya. Meskipun hanya menatap dari samping, ia begitu jelas dan menikmati pemandangan didepannya. Bentuk wajah Lisa terlihat mengagumkan. Dimulai dari kedua alis matanya yang rapi, bulu matanya yang lentik, hidung mancung terbilang sempurna dan terakhir bibir tebal Lisa yang berisi serta berwarna merah muda.

Seutas senyuman terukir dibibir Jennie, tanpa berkedip sedikitpun ia tak ingin melewatkan cantiknya wajah seseorang yang belum ia kenal.

"Permisi.."

Lisa mengalihkan atensinya dari jendela, kemudian ia menoleh kearah pelayan yang datang dengan membawa beberapa makanan. Jennie menghelakan napas kasar, ia merasa terganggu atas kehadiran si pelayan.

Jika bisa, Jennie ingin memarahi si pelayan itu karena telah merusak suasana.

"Selamat makan, sunbae" Jennie mengangguk dan membalas senyuman Lisa.

Keduanya makan dalam diam. Jennie menyuapkan satu potongan kecil beef steak ke dalam mulut sementara Lisa terlihat menyantap makanannya dengan terburu-buru. Entah apa yang akan dikejar oleh gadis berponi ini namun yang jelas ia cukup menggemaskan bagi Jennie.

Jennie kembali menikmati pemandangan indah di hadapannya. Bahkan ia tidak peduli jika makanannya mulai dingin. Jennie masih setia melihat wajah cantik Lisa, sampai-sampai panggilan Lisa pun tidak ia dengar.

"Sunbae?".

Jennie masih menatap lurus ke depan sambil mengunyah daging yang sejak tadi belum habis didalam mulutnya.

"Jennie sunbaenim?".

Lisa terus memanggil Jennie mungkin sudah kelima kalinya, sedangkan yang dipanggil pun belum juga menyahut. Lisa menghela napas panjang. Gadis bermata kucing itu akhirnya tersadar ketika tangan Lisa menyentuh wajahnya. Jennie sedikit menunduk, mendapati Lisa sedang membersihkan noda makanan disudut bibir dengan ibu jarinya.

Jennie terbuai akan sentuhan yang diberikan Lisa. Ia berpikir mengapa adik kelasnya sampai sejauh ini, padahal dimeja telah tersedia kotak tisu bahkan tak jauh dari jangkauan. Harusnya, Lisa tinggal bilang saja, bukan? Tapi.. hei, apakah Jennie tidak sadar jika sedari tadi Lisa memanggilnya?.

Lantas siapa yang salah?.

"Sunbae, kenapa kau melamun saat makan? Lihatlah, ada noda di sudut bibirmu dan kau--" Lisa menghentikan ucapan juga aktivitas tangannya. Kedua mata Lisa membelalak, mulai tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Jennie menahan tangan Lisa saat gadis itu hendak menarik tangannya menjauh dari wajahnya. "Terima kasih" Jennie tersenyum, sedangkan Lisa mulai gugup takut jika seniornya ini marah karena tindakan lancangnya.

"M-maaf, sunbae.. aku tidak bermaksud, a-aku hanya--"

"It's okay".

Lisa terdiam sejenak lalu setelah itu ia mengangguk. Dengan perlahan Lisa menarik tangannya dari genggaman Jennie. Kini suasana kembali canggung.

"Lisa?"

"Ne?".

Jennie menyudahi makannya merasa kenyang. Ia meneguk jus apel hingga setengah gelas, lalu menyeka bibirnya dengan tisu. Lisa menunggu Jennie hingga selesai, ingin tahu mengapa seniornya memanggil.

"Besok, datanglah ke rumahku".

"M-mwo? Ke rumahmu?" Jennie mengangguk dengan cepat. "Memangnya ada apa, sunbae?".

"Mommy ku ulang tahun, jadi ada perayaan kecil dirumah" Lisa hendak membuka suara namun dengan cepat Jennie menyela. "Bawalah temanmu juga".

"Tapi sunbae--"

"Tidak ada penolakan, Lalisa Manoban"



***

"Yerim-ah.. maafkan Eonni, ne? Eonni tidak bermaksud membentakmu tadi".

Ini sudah kesekian kalinya Joohyun membujuk Yerim dengan berbagai cara. Gadis mungil itu terus saja menangis bahkan tak melepas pelukannya dari Chaeyoung. Joohyun sungguh merasa bersalah pada si bungsu, berkat emosi yang tak bisa ia kontrol malah melampiaskannya kepada Yerim sehingga adik kesayangannya menangis kencang.

"Yerim-ah, Irene Eonni tidak sengaja. Berhentilah menangis".

Chaeyoung ikut membantu Joohyun membujuk Yerim begitu juga dengan Jisoo. Ketiganya tahu persis jika Yerim menangis kencang seperti ini maka sangat sulit untuk mendiamkan Yerim.

Kecuali...

"Eonni akan membelikanmu ponsel dan tas baru yang kau inginkan" dan saat itu juga tangisan Yerim mulai mereda setelah Joohyun berkata demikian.

"Eonni serius?".

Joohyun mengangguk tanpa berpikir dua kali "Tentu saja, asal kau mau memaafkan Eonni".

"Ne, aku sudah memaafkan Eonni".

Chaeyoung dan Jisoo memutar bola matanya malas. Adik kecil mereka ini sangat mudah sekali di sogok. Tidak jadi masalah memang, tapi permintaannya tak tanggung-tanggung.

Dulu, Yerim pernah meminta pada Jennie untuk membelikannya Porsche Cayman MT sebagai hadiah ulang tahun dan tanpa berpikir panjang Jennie mengabulkan permintaan gila itu.

The Rich Kim.

"Kalau begitu, give me hug".

Yerim langsung mendekap tubuh Joohyun dengan erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher kakak tertuanya. Joohyun mengusap punggung Yerim dengan lembut seraya mencium puncak kepala si bungsu.

"Aku lapar.." Jisoo merengek mengusap perut ratanya.

"Baby-nya aku mau makan apa, hm?" Chaeyoung mengelus rambut Jisoo dengan sayang. Mendapat perlakuan lembut dari sang kekasih membuatnya semakin cinta pada gadis bermarga Park itu.

"Aku mau--"

"Helloooo..."

Ucapan Jisoo terhenti. Ia menoleh kearah pintu ketika mendengar suara seseorang dari luar. Jisoo pun bergegas keluar dari kamar diikuti Chaeyoung, Joohyun dan Yerim yang sudah melepas pelukannya.

"Yaa! Dari mana saja kau Jendeuk?!".

Jennie sungguh ingin menyumpal mulut kakak keduanya itu. Ia selalu saja berteriak membuat jantung Jennie hampir lompat karena ulahnya yang tiba-tiba.

"Aiishh.. Jisoo-yaa, sudah berkali-kali aku bilang berhentilah membuatku terkejut!. Oh God..."

Jennie mengusap-usap dadanya sedangkan gadis berbibir hati itu tertawa lepas merasa tak berdosa "Mian.. mian, kami khawatir karena ponselmu tidak bisa dihubungi. Aku tadi menelepon Mommy Tiff menanyakan keberadaanmu tapi Mommy bilang kau tidak ada dirumah".

Jennie baru sadar, semenjak pergi makan bersama Lisa sampai ia mengunjungi basecamp ia tidak memeriksa ponsel. Jennie mengambil ponselnya dari dalam tas dan dilihatnya layar ponsel itu sudah gelap. Mati total.

"Astaga.. ponselku habis baterai" Jennie bergegas mengisi daya ponsel didekat nakas. Menghidupkan tombol power hingga ponselnya bernyawa meski hanya sedikit. Tiffany pasti khawatir karena seharian penuh Jennie belum mengabari wanita kesayangannya itu.

"Kau membawa apa, Eonni?" Chaeyoung memeriksan plastik besar berwarna putih diatas meja.

"Oh itu, aku tadi membeli makanan untuk kalian. Pasti kalian belum makan, 'kan?".

"Tepat sekali" jawab Chaeyoung dengan mata yang berbinar. Sudah ada makanan dihadapannya, ia merasa hidupnya kembali berwarna.

"Memangnya kau sudah makan?" Jisoo bertanya sambil duduk di samping Chaeyoung. Gadis itu menatap Jennie sedang sibuk dengan ponselnya.

"Sudah, Eonni.."

"Tumben tidak mengajak kami" gumam Jisoo cukup heran. "Makan dengan siapa?".

"Teman" jawabnya lagi tanpa menoleh.

"Teman yang mana?".

"Lisa"

Mata keempat gadis itu melebar bahkan kimbab yang hendak masuk ke dalam mulut Chaeyoung terjatuh ke lantai setelah mendengar jawaban spontan dari kakak sepupunya.

Jennie merasa ada yang aneh karena tak mendengar komentar apa-apa. Ia meletakkan ponselnya diatas nakas setelah mengirim pesan kepada Tiffany lalu berbalik mendapati keempat gadisnya sedang menatap kearahnya dengan mulut setengah terbuka.

"A-ada apa dengan kalian?".

Keempatnya masih dalam posisi yang sama, bahkan Jennie bisa melihat potongan kimbab jatuh didekat kaki Chaeyoung.

"S-sejak kapan?" tanya Joohyun membuat dahi Jennie berkerut.

"Sejak kapan apanya, Eonni?".

"Kau dan Lisa, sejak kapan kalian--"

Barulah Jennie menyadari ekspresi keempat gadisnya. Ya Tuhan.. kenapa mulut ini tidak bisa di rem?. Jennie susah payah menelan ludahnya sendiri berusaha menghilangkan rasa gugupnya tetapi percuma.

"Jennie-yaa.. bisakah kau menjelaskan itu semua kepada kami?" Joohyun mendesak meminta penjelasan.

"A-aku dan Lisa.. kami hanya.. hanya makan malam biasa, Eonni" baru kali ini Jennie terlampau gugup. Biasanya ketika ia makan bersama teman wanita atau pria, Jennie terlihat santai bahkan bisa menjawab setiap pertanyaan dari Eonni-nya dengan cepat.

"Bukan itu yang ku maksud" sanggah Joohyun menatapnya seriu. "Tapi.. sejak kapan kau dekat dengan adik kelas, bahkan kau belum pernah bertegur sapa dengannya, 'kan?".

Jennie meremas sudut nakas dengan kedua tangannya. Ia merasa ada yang aneh pada dirinya sendiri. Semenjak mengantarkan Lisa kembali ke sekolah untuk mengambil mobil, Jennie tak pernah berhenti tersenyum hanya karena perlakuan manis dari Lisa.

Membersihkan noda makanan disudut bibir adalah hal paling romantis menurutku...

"Yaa, Jennie Kim! Kenapa kau hanya diam saja?".

"Aiishhh Eonni, kau sama saja dengan Jisoo Eonni. Astagaa..." gerutunya duduk disamping Yerim yang sedang menikmati makanan bersama Chaeyoung.

Baiklah, sepertinya dua gadis ini tak begitu tertarik dengan pembicaraan ini.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Cepat katakan, sejak kapan kau dekat dengan Lisa?".

Jennie menghela napas dengan kasar. Kemudian ia menatap Jisoo dan Joohyun bergantian. "Aku tidak dekat dengannya Eonni.. aku hanya mengajaknya makan malam. Itu saja".

"Benarkah? Tapi kenapa harus dengan Lisa sedangkan masih banyak adik kelas lainnya. Dan yang ku tahu sampai sekarang, kau tidak pernah mengajak teman kelasmu untuk makan bersama" Jennie terdiam untuk sesaat. Ucapan Joohyun benar adanya, ia tak pernah sekalipun melakukan itu. "Sepertinya ini bukan sekedar makan malam biasa, tapi--".

"Yaa, Eonni!. Aku berkata jujur".

"Aku tidak bilang kau berbohong, tapi itulah kenyataannya. Ini bukan sifat aslimu, Jennie. Maksudku, kau sangat sulit mendekatkan diri pada orang asing bahkan kau lebih suka menghabiskan waktumu bersama kami daripada teman sekelasmu".

Gotcha!. Jennie tertegun. Kalimat Joohyun sukses menghantam argumennya.

Seakan Joohyun adalah arwahnya yang tak terlihat, semua yang diucapkan gadis bermarga Bae itu benar. Selama Jennie bersekolah di SOVPA, ia tak pernah dekat dengan siapapun bahkan teman kelasnya sendiri. Padahal teman-temannya berusaha mendekatkan diri agar Jennie mempunyai teman dikelas. Tetapi Jennie tetaplah Jennie si gadis pendiam dan dingin tak peduli dengan omongan orang.

"Yaa, Jennie Kim! Mau kemana kau?" Jisoo berujar, menatap Jennie mulai menjauh dari hadapan mereka.

"Kamar. Aku lelah Eonni.. besok saja kita lanjutkan, ne?".

"Kau selalu menghindar jika membahas seseorang yang kau sukai, Eonni.."

Langkah Jennie terhenti. Itu bukanlah pernyataan dari Joohyun, Jisoo ataupun pemilik suara merdu, Chaeyoung melainkan si bungsu yang dengan santainya mengunyah beef steak.

Jisoo dan Joohyun menatap bingung kearah Yerim, sedangkan dirinya dan Chaeyoung masih terus menikmati makanan lezat yang dibawakan oleh Jennie tadi.

"Apa maksudmu, Yerim?" tanya Jisoo.

Yerim berujar tanpa menoleh. "Apa Eonni tidak sadar, selama ini Jennie Eonni selalu menghindar jika sedang membahas seseorang. Dan yang kita tahu ternyata Jennie Eonni menyukai orang itu. Seperti yang terjadi saat ini" jelas Yerim antusias seraya menepuk tangannya.

"Ne.. Yerim benar" sahut Chaeyoung tak kalah antusias "Whoaa.. selera Jennie Eonni memang luar biasa!" lanjutnya lalu menggigit kecil kimbab yang ia capit dengan sumpit.

Ah ya, Jennie melupakan satu analisis gelagat selain Yerim. Kedua adiknya ini sangat mudah menebak seseorang hanya dari raut wajah. Oke lupakan pendapatnya tentang Yerim dan Chaeyoung yang tidak tertarik dengan topik pembicaraan mereka. Diam-diam ternyata keduanya sedang menyimak pembicaraan tadi.

Jennie berharap kedua Eonni-nya tidak menyadari hal itu. Namun dugaannya salah.

"Yaa! Jendeuk, kenapa kau tidak memberitahu kami??".

Jennie tidak menjawab, ia menghela napas panjang lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar membuat Jisoo mendengus kesal.

"Sudahlah, Eonni.. biarkan Jennie Eonni meyakinkan hatinya dulu. Aku tahu pasti Jennie Eonni bisa menentukan pilihannya sendiri" ujar Yerim penuh dengan keyakinan.

"Semenjak kau berpacaran dengan Seokjin Oppa, otakmu semakin encer ne?" Jisoo menepuk pelan kepala Yerim.

"Aish.. Eonni, aku serius..." Yerim berdecak kesal.

"Ne.. ne.. ne.."

"Baby, aakk.." Jisoo dengan senang hati membuka mulutnya saat Chaeyoung mengarahkan sepotong kimbab ke dalam mulut.

"Thank you, Baby.." Jisoo mencuri satu ciuman dibibir Chaeyoung.

"Yaa! Kalian berdua berhentilah bermesraan didepanku!!".

"Oops, aku lupa ada anak kecil disini" sahut Jisoo mengejek si bungsu.

"Aiisshhh.. menyebalkan!".

Jisoo dan Chaeyoung tertawa bersama merasa puas menggoda Yerim. Gadis mungil itu selalu disuguhi pemandangan tak terduga dari kedua kakaknya ini. Padahal ia sendiri pernah melakukannya pada sang kekasih. Namun semenjak Seokjin sibuk dengan bimbingan belajarnya, pria tampan itu tak memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan Yerim. Meskipun begitu, Seokjin selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah Yerim setelah urusannya selesai lalu mengajak gadisnya jalan-jalan.

Di lain sisi, sedari tadi Joohyun hanya diam memperhatikan ketiga adiknya. Meskipun pandangannya lurus ke depan tetapi pikirannya tidak kesana. Ia mencerna perkataan Yerim yang cukup membuatnya bingung. Selama ia dan Jennie dekat, tak pernah sekalipun Jennie sungkan untuk menceritakan segala sesuatu tentang privacy-nya. Tapi sekarang, apakah yang dikatakan Yerim itu benar kalau adik keduanya menyukai Lisa?.

Tapi, menyukai dalam hal apa??.

Joohyun menggeleng cepat, berusaha menolak ucapan Yerim. Selama ini yang ia tahu, Jennie tak pernah menyukai adik kelas. Tapi.. bagaimana jika itu benar? Itu berarti ia dan Jennie sama.

Sama-sama menyukai adik kelas yang notabennya baru mereka kenal.

Dammit!.

Jika benar-benar terjadi, maka......

Bibir Joohyun tertarik keatas, bolehkah ia bahagia saat ini?

Tapi.. Joohyun kembali mengingat ucapan Seulgi yang mengatakan bahwa dirinya sudah mempunyai kekasih.

Salahkah ia merebut Seulgi dari orang itu? Mungkin tidak, selagi keduanya belum memiliki ikatan yang serius. Benar 'kan?.

Senyuman Joohyun berubah menjadi sebuah seringai, dan aura dinginnya kembali terlihat. Joohyun, harus mendapatkan apa yang ia mau bahkan sampai ke ujung dunia pun tetap akan ia raih.

"I'll get you, Kang Seul Gi".



***

Pagi ini adalah jadwal latihan vokal kelas X-1 dengan Park Ji Hyo. Gadis muda berbakat itu sudah lama mengabdi di SOVPA semasa 2NE1 masih duduk dibangku kelas sepuluh. Jihyo tidak sendiri, ia juga memiliki teman seperjuangan bernama Han Eun Ji dan Wang Yi Ren. Jika Jihyo dan Eunji dikenal sebagai guru vokal, berbeda dengan Yiren yang dikenal sebagai guru khusus rapp.

Kali ini Lisa dan Seulgi harus berpisah setelah pembagian kelompok. Lisa lebih dulu berlatih rapp, sedangkan Seulgi berlatih vokal dengan teman kelompoknya.

Jika boleh jujur Lisa tak begitu semangat dengan jadwal sekarang. Ia hanya ingin segera berlatih menari karena tujuan awal Lisa bersekolah disini adalah memperdalam skill menarinya dengan salah satu koreografer terbaik di SOVPA. Meskipun begitu ia tetap harus menjalankan peraturan sekolah, bukan?.

"Oke guys, sebelum latihan vokal dimulai, lemme introduce my self" ucap gadis berambut pendek sebahu berdiri didepan kelompok Seulgi dengan senyuman merekah. "Namaku Park Ji Hyo, panggil saja aku Eonni karena kalau coach atau ssaem itu terlalu aneh ditelinga ku".

Seulgi dan kawan-kawan hanya terkekeh kecil menanggapi.

"Dan yang di sebelahku ini namanya Han Eun Ji, terserah kalian mau memanggilnya apa. Ssaem, Aunty atau Ahjumma. Senyaman kalian saja..."

"Yaa, Park Ji Hyo! Berhentilah becanda!".

Jihyo tertawa lepas diikuti murid-murid yang lain sedangkan gadis bernama Eunji itu mendengus kesal karena temannya kelewat bahagia jika sudah mengganggunya.

Keterlaluan.

Di ruangan lain, Lisa dan yang lainnya sudah memulai latihan setelah Yiren memperkenalkan diri. Lisa mendapat giliran terakhir karena mereka melakukan sistem cabut nomor.

Kali ini Lisa senang karena mendapatkan nomor terakhir.

Sembilan belas murid sudah menunjukkan kebolehan rapp-nya dan kini giliran Lisa. Gadis berponi itu berdiri didepan teman-temannya sedangkan Yiren duduk disudut memperhatikan Lisa dari kepala sampai kaki. Yiren bisa menilai seseorang hanya melihat dari penampilannya saja dan kini ia mendapati sesuatu pada diri Lisa jika gadis bermata hazel itu mempunyai kemampuan lebih selain menari.

"Oke cukup" ujar Yiren tiba-tiba. Lisa mengernyit menatap gurunya bingung. Padahal lirik yang ia nyanyikan belum sampai satu bait "Aku rasa kemampuan rapp mu cukup bagus" puji Yiren dengan bersungguh-sungguh.

"Khamsahabnida, ssaem" jawab Lisa sedikit menundukkan kepalanya.

"Jika kau menjadi trainee, aku sarankan kau harus diposisi ini".

"Ahm.. sejujurnya, saya sekolah disini bukan karena ingin menjadi seorang idol, ssaem" jawab Lisa dengan sopan.

"Kenapa?".

"Saya hanya ingin mengasah skill menari saya karena nantinya saya ingin mendirikan sebuah studio dance di negara kelahiran saya" jawab Lisa begitu mantap.

Yiren mengangguk-anggukkan kepala dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Baru kali ini ia menemukan murid yang tak tertarik menjadi idol ataupun artis.

"Well, setiap orang pasti memiliki pilihannya sendiri. Bukankah begitu, Lisa?".

"Ne, ssaem.."

"Tapi.. kemampuan yang kau miliki saat ini bisa mempengaruhi niatmu untuk mendirikan sebuah studio" sahutnya membuat Lisa mengernyit bingung. "Jika kau ingin mendirikan studio dance, apakah kau yakin kalau semua orang akan tertarik dengan menari? Sedangkan kau pasti belum tahu seberapa banyak orang yang berminat untuk mengikuti jejak sepertimu".

Mungkin ucapan Yiren terlampau pedas dan sangat menyakitkan bagi Lisa, tapi sejenak ia mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh gadis berambut panjang ini.

"Bagaimana jika studio yang akan kau dirikan nanti tidak hanya untuk kelas menari saja, tapi..." Yiren menghentikan ucapannya sejenak lalu berjalan mendekati Lisa. "...bisa juga untuk kelas vokal bahkan akting. Aku yakin studiomu akan cepat dikenal banyak orang dan kau bisa membuka studio baru di negara lain".

Lisa masih diam namun otaknya terus mencerna ucapan sang guru. Yiren memperhatikan wajah bingung Lisa, sungguh lucu menurutnya hingga ia menahan senyuman.

"Aku hanya menyarankan saja, Lisa-ssi.. dan aku sangat mendukung dengan niatmu yang ingin mendirikan studio dance nantinya" Yiren tersenyum lalu menepuk pelan bahu Lisa. "Hwaiting!"




TBC

©Copyright : bacagakbayarkok

Selasa, 11/08/2020



=====

THE CAST

PARK JI HYO

HAN EUN JI a.k.a MIA

WANG YI REN


Seguir leyendo

También te gustarán

535K 39.7K 56
If you ask, is this a story about JenLisa? I will answer sure, YES. Hanya saja, di awal cerita saya membuat plot pertemuan yang begitu lambat. Sehing...
2.9M 364K 59
❝Membully lo, itu cara gue mencintai lo.❝ HIGHEST RANK : # 1 in bully 15/5/2021 # 1 in leetaeyongnct 26/06/2020 # 1 in zera 01/06/2020 # 1 in oc 09/0...
189K 12.2K 22
❞but you're just my assistant❞ ⇥𝙟𝙚𝙣𝙨𝙤𝙤 𝙨𝙩𝙤𝙧𝙮⇤ ★𝙜𝙭𝙜★ ❖𝗰𝗼𝗺𝗽𝗹𝗲𝘁𝗲𝗱 𝘀𝘁𝗼𝗿𝘆❖ 𝙩𝙤𝙥𝙞𝙘: 𝙘𝙤𝙢𝙚𝙙𝙮, 𝙧𝙤𝙢𝙖𝙣𝙘𝙚, 🔞 𝗦𝘁...
129K 10.4K 33
[ Finish ] ;;; Ngeselin tapi sayang. ;;; []start : 28 Maret 2020 []finish : 04 Agustus 2020
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas