Bu Tika tersenyum dengan lebar sambil membawa selembar kertas pengumuman yang menyatakan kedua muridnya, Farel dan Fio berhasil menjadi juara pertama dan kedua di try out kota. Ia tahu dengan jelas kepintaran dua muridnya ini yang jauh diatas rata-rata. Karena itu tak henti-hentinya murid emas ini diberikan hadiah dan penghargaan.
Seperti hari ini, sekotak parcel berisi jajanan diberikan pada Farel dan Fio. Atas hal ini, Fio tersenyum lebar menerimanya. Kacamata bulat hitam besarnya tak menghalangi tatapannya yang terlihat bahagia. Dengan seragam rapi khas anak cupu, ia tak hanya mendapat tatapan bangga dari Bu Tika tapi juga tatapan sirik oleh beberapa temannya.
Sedangkan Farel, dengan tenang ia tidak masuk kelas hari ini. Kadang Bu Tika nampak kesal dengan perilaku Farel yang bolos kelas seenaknya. Tapi kejeniusan Farel membuat semua guru mati kutu jika harus menghukumnya. Sama seperti Fio, Farel juga dibenci karena sifat introvert dan aneh oleh teman-temannya.
“Fio, bisa Kau berikan ini pada Farel...” Fio membalasnya dengan anggukan dan tersenyum. “Anak-anak, coba kalian contoh Farel dan Fio yang mau belajar rajin hingga mendapat hasil yang begitu memuaskan.....”
Riuh tepuk tangan terdengar dikelas itu. Fio hanya tersenyum dan kembali ketempat duduknya dengan tenang. Setelah Bu Tika keluar, dan jam kosong dimulai anak-anak mulai pergi dari kelas untuk kekantin.
“Ups maaf....” kata Roni saat menjegal Fio hingga ia terjatuh.
“Iya tidak apa....” kata Fio lalu memaksakan tersenyum.
Jika Kau pikir Fio adalah anak cupu yang baik dan menerima semua perlakuan temannya maka itu hanyalah yang terlihat. Ia bukan malaikat yang memaafkan semua kesalahan orang disekitarnya. Tapi seperti yang Kau tahu, pintar tidak menjadi jaminan bahwa Kau mampu menangani situasi sosial bahkan meskipun itu hanya di lingkungan sekolah menengah pertama.
Bagaimana hasil try outmu? Kau tidak kalah lagikan?
Menyesal. Fio sangat menyesal membuka isi pesan dari Ibunya yang menanyakan hasil ujiannya yang selalu sama. Kalah dari Farel. Ia heran, dengan usahanya selama ini yang tidur hanya sejam dua jam tidak juga bisa mengalahkan nilai sempurna Farel yang notabenenya tidak pernah sekalipun membuka buku.
Tes Tes
Air mata itu terus keluar. Fio melihat jamnya dan melanjutkan menangis. Masih sepuluh menit, sebelum jam masuk kelas. Bagi pejuang seperti Fio, menangis ada tenggat waktunya. Ia bisa menghabiskan waktu untuk menangis meluapkan segala emosinya didalam bilik kamar mandi tanpa diketahui satupun teman yang mungkin akan menertawakannya jika mengetahui kesedihan Fio.