⚠️Warning⚠️
Part ini agak complicated. Perlu disikapi kembali.
Pembaca yang baik, jangan ditiru ya
***
Seperti biasanya Adelia menjalani rutinitas paginya untuk belajar di sekolah.
Pagi harinya terasa begitu berbeda. Wajahnya kelihatan tertekuk namun hal itu tidak menghilangkan rona kecantikannya.
Mood-nya untuk sekolah hilang sejak kemarin setelah marahan dengan Luna. Bahkan grup chat mereka bertiga yang biasanya ramai, sekarang terasa sepi. Hanya Caca yang masih gencar-gencarnya meramaikan grup pesan mereka.
Adelia tahu.
Caca sedang berusaha agar hubungannya dengan Luna kembali seperti semula.
Hari ini Adelia akan mengikuti perlombaan. Sesuai dengan rencana, Adelia dan Bhiyan akan belajar setengah hari karena kompetisi dimulai saat hari menjelang siang. Tentunya sedari kemarin, keduanya sudah meminta izin terlebih dahulu dari pihak sekolah dan karena alasan yang jelas, tentu mereka mengizinkan.
Adelia berlalu menuju kelasnya dengan tas yang masih tersampir di bahunya.
Adelia merasa kalau kedatangan masih sama seperti kemarin. Orang-orang begitu intens memperhatikannya, karena penampilannya mungkin. Tapi...
Entah kenapa Adelia merasa tatapan mereka terkesan berbeda dari yang sebelumnya.
Adelia memperhatikan sekitar dan benar pemikirannya itu tidak salah.
"Lo tahu enggak, Adel pacaran sama cowok tunanetra."
"Iya. Gue tahu dari anak-anak kelas 11. Langsung booming gitu aja di sekolah kita."
Adelia terkesiap. Ia langsung membuka ponselnya. Sudah lama sekali dia tidak memantau forum tersebut karena jarang adanya interaksi. Jikalau pun ada, forum tersebut hanya digunakan untuk hal yang kurang berfaedah seperti gosip-gosip yang barusan Adelia dengar.
Ia mengetuk ponselnya, melihat percakapan forum grup kelas 11 SMA Bharatayudha.
Di awal pesan, ia mendapati sebuah foto dirinya bersama dengan Bhiyan sedang berpelukan. Dilihat dari lokasinya, foto tersebut di ambil sebelum Bhiyan dan Ray berkelahi di acara konser waktu itu.
Wajahnya terlihat begitu jelas termasuk Bhiyan sekalipun.
Adelia kemudian membaca pesan satu persatu dari salah satu akun anonim.
Kelas 11 SMA Bharatayudha
Anonim: No hoax. Lima menit yang lalu, gue baru dapat kabar ini dan gue pribadi ingin share tentang ini. Gue sama sekali enggak tahu siapa pengirimnya dan tiba-tiba aja dia kontak pribadi gue, kasih tunjuk foto tersebut—juga beberapa foto lainnya yang sayangnya enggak bisa gue kasih tunjuk. Yah... beberapa dari kalian pasti mikir "bisa aja itu foto editan" atau "namanya juga sahabatan. Wajar aja sih. Lagian mereka berdua memang dekat beberapa waktu belakangan". Gue bakalan kasih bukti sebuah rekaman suara yang dikirim orang misterius itu.
Adelia langsung mendengarkan pesan suara tersebut dengan seksama.
"Ayo pacaran."
"Hah? Lo bilang apa?"
"Ayo pacaran."
"Pacaran? Maksudnya gimana?"
"Dari perjanjian kita, gue minta kita pacaran."
Adelia terkejut. Itu percakapannya dengan Bhiyan saat di Rumah Sakit. Bagaimana rekaman itu bisa ada? Padahal tidak ada orang lain selain mereka berdua waktu itu.
Adelia kembali menatap ponselnya. Selepas pesan suara tersebut, isi kolom chat mendadak ramai.
Kelas 11 SMA Bharatayudha
Wah parah sih. Wkwkwkw
Speechless sumpah! Enggak ngerti lagi sama otaknya itu anak.
Bisa aja itu rekaman orang lain. Jangan nyudutin Adel gitu aja dong. Entar dilabrak, abis muka lo pada. Lo liat coba, dia sama geng-nya ada di grup ini juga.
Takut amat sama mereka. Lo tahu enggak, geng-nya mereka lagi pecah. Enggak tahu gara-gara apa. Mungkin aja kabar ini penyebabnya.
Buat yang masih belum percaya...
Pesan terakhir tersebut menambahkan sebuah rekaman suara lagi. Adelia kembali mendengarkannya dengan seksama.
"Gue beneran suka sama Bhiyan. Dia selalu bisa bikin gue nyaman dan bahagia dengan cara dia. Gue sama sekali enggak peduli kalau dia tunanetra karena gue selalu anggap kita sama."
"Gue tahu, lo enggak bakalan suka dengan ini. Tapi, ini pilihan gue."
Adelia kembali terkejut dibuatnya. Rekaman itu diambil kemarin saat dimulainya pertengkarannya dengan Luna. Dan benar saja isi rekaman tersebut berlanjut hingga ke perkelahiannya dan berhenti di saat Luna meninggalkan dirinya dengan Caca.
Setelah itu, Adelia kemudian membaca pesan selanjutnya yang jumlahnya tidak kalah main banyaknya dari yang tadi. Dan isi percakapan mereka benar-benar diluar dugaan. Membuat Adelia menjadi marah.
Kelas 11 SMA Bharatayudha
Hahaha. Ya ampun Adel. Lo itu cantik dan bisa gue bilang mendekati sempurna. Tapi kenapa lo harus pacaran sama orang buta!? Hahaha. Enggak ngerti deh.
Dia lihat Bhiyan dari apanya sih? Karena jago main musik? Jujur Bhiyan itu memang ganteng tapi, dia yang masih sempurna kenapa harus pacaran sama yang buta sih? Jadi heran.
Bhiyan cuma dijadikan pelampiasannya doang kali. Kan habis putus dari Ray.
Ya masalahnya kenapa Adel harus milih Bhiyan yang buta jadi pelampiasannya?
Mungkin aja Adel sama Bhiyan pernah nganu makanya mereka berdua begitu.
Nganu apaan woy!? Wkwkwk.
You know lah. Hahaha.
Jangan gitu bro. Entar kalau Bhiyan baca pesan lo gimana?
Baca pakai apa? Pake kuping? Wkwkwk.
Wkwkwkw.
Dan ratusan pesan yang tidak kalah pedas lain setelahnya.
Adelia langsung menutup ponselnya. Ia sudah tidak kuat lagi membacanya. Wajahnya merah padam karena menahan amarahnya. Kedua tangannya terkepal. Saat ini ia ingin menghajar siapapun yang ikut dalam percakapan tersebut.
Ia tidak masalah kalau dirinya dihina. Tapi ia benar-benar tidak tahan kalau Bhiyan sampai ikut terlibat.
Ia melihat ke sekitar. Orang-orang masih berkumpul ramai, berbisik-bisik tentang dirinya. Entah itu adik kelas ataupun seniornya. Sama saja. Ia sudah benar-benar tidak tahan lagi.
"MENDINGAN LO SEMUA ENGGAK USAH BISIK-BISIK DEH!! GUE ADA DI DEPAN KALIAN SEMUA!! NGOMONG DI DEPAN GUE!! ENGGAK USAH BERANINYA CUMA DI SOSMED!!"
Amarah Adelia benar-benar meledak. Mereka yang berada di sekitarnya dibuat kaget dengan teriakannya. Bisikan-bisikan mereka barusan perlahan lenyap, digantikan suasana yang mendadak hening.
Beberapa orang-orang yang berlalu, langsung menghampiri tempat Adelia berada. Sontak saja dirinya menjadi bahan tontonan.
"ENGGAK USAH JADI BANCI!! NGOMONG SAMA GUE SEKARANG!!"
Mereka semua benar-benar dibuat diam oleh Adelia. Tidak ada satupun orang-orang yang berani menatapnya. Beberapa dari mereka bahkan memilih untuk pergi dalam diam.
"Gue sih ogah pacaran sama orang buta."
"Sama gue juga. Enggak tahu gue sama pemikirannya si Adel."
Dua mangsa.
Dua siswi yang baru datang tersebut langsung Adelia tarik, mendorong tubuh mereka keras di dinding. Tenaga Adelia benar-benar begitu besar sama dua siswi tersebut kesusahan untuk melepaskan jeratan satu tangan Adelia.
"Maksudnya apa—"
Belum selesai berucap, salah satu siswi tersebut mendadak diam dengan wajah menatap tidak percaya. Detik berikutnya raut keduanya berubah menjadi ketakutan yang menjadi-jadi. Adelia benar-benar terlihat menyeramkan. Tamat sudah riwayat mereka.
"Coba ulangi yang barusan kalian berdua bicarakan. Kuping gue mendadak tuli soalnya." Tanya Adelia dengan dingin.
Keduanya tidak menjawab. Yang satu memberontak untuk melepaskan cengkeramannya dan satu lagi hanya bisa menunduk dengan bibir yang bergetar. Tatapan Adelia benar-benar mengintimidasi.
Karena tidak tahan, salah satu siswi sampai menangis dibuatnya. Adelia meliriknya sekilas sebelum akhirnya tertawa sinis.
"Sebegitu takutnya lo sama gue? Padahal kita sama-sama makan nasi," Adelia diam sejenak mengambil nafas. "Gue cuma tanya, kalian berdua barusan barusan bicara SOAL APA!!"
Karena terlanjur emosi, Adelia melemparkan gadis tersebut begitu saja, layaknya sampah. Gadis itu tersedu-sedu sebelum akhirnya lari meninggalkan kerumunan.
Tinggal satu mangsa lagi yang masih memberontak.
Kedua tangan Adelia sepenuhnya mencengkeram tubuh gadis itu sehingga tidak bisa membuatnya bergerak lagi. Kepala gadis itu Adelia tegakkan, membuat tatapan keduanya bertemu.
"Lo bisa bicara sama gue sekarang." Tanya Adelia masih sama dengan nada dinginnya.
Gadis itu tidak menjawab. Dari raut wajahnya, ia sama sekali tidak takut dengan Adelia.
"Coba gue tanya," Adelia diam sejenak, semakin menyorot tajam gadis iru. "Apa lo merasa rugi kalau gue pacaran sama Bhiyan?"
Orang-orang yang berkerumun dibuat tercengang oleh Adelia. Mereka saling berbisik menceritakan kebenaran berita tersebut.
"Apa gue ngerugiin lo kalau gue pacaran sama Bhiyan?" Adelia diam beberapa saat menunggu respon gadis tersebut namun sama sekali tidak ada. Adelia berdecih. "JAWAB ANJING!!" Gadis itu kaget dengan teriakan Adelia. Ia benar-benar melampiaskan kemarahannya pada gadis tersebut.
"Gue merasa kasian aja sama lo," gadis itu akhirnya berucap walaupun terdengar bergetar.
"Tunggu disebut anjing, lo baru jawab. Atau lo memang anjing?" Adelia tertawa sesaat kemudian tersenyum sinis. "Sebab apa, lo kasihan sama gue? Keluarga enggak, kenal juga enggak."
"Heran aja kenapa lo yang sempurna begini bisa pacaran sama orang buta."
Gadis itu benar-benar berani. Adelia tertawa menanggapinya. Ia sedikit melunak. Ia melepaskan cengkeramannya walaupun Adelia tetap membatasi ruang geraknya.
"Maksudnya lo, kalau pacaran itu harus yang normal dengan yang normal? Buta dengan yang buta? Tuli dengan yang tuli? Cacat fisik dengan cacat fisik? Begitu? Kolot banget pemikiran lo."
Gadis itu dibuat diam oleh Adelia.
"Kita itu sama-sama manusia. Spesiesnya enggak akan berubah walau fisiknya berbeda." Adelia geleng-geleng kepala. "Main-mainnya lo kurang jauh kayaknya."
"Jadi, lo bangga pacaran sama orang buta?"
"Gue bangga." Adelia langsung menyambar. "Gue sama sekali enggak menyesal dengan keputusan yang gue ambil. Keinginan gue cuma satu, gue pengin terus barengan sama Bhiyan di manapun, kapanpun."
"Jadi, lo benar-benar pernah ngelakuin hal mesum sama Bhi—"
Belum selesai berucap, lengan Adelia langsung bergerak menghujam wajah gadis itu. Orang-orang di sekitarnya dibuat kaget dengan pemandangan yang ada di depannya.
Bhiyan tiba-tiba ada di sana dan saat ini sedang menahan lengan Adelia.
Gadis itu perlahan membuka matanya. Wajahnya benar-benar selamat dari pukulan Adelia.
Menatap Bhiyan, Adelia semakin menunjukkan taringnya. "Lepasin gue Bhi!" Adelia meronta. Namun Bhiyan menggeleng, tetap menahannya.
Gadis itu dibiarkan saja pergi oleh Bhiyan, wajar saja Adelia menjadi murka.
"LEPASIN!!" pekik Adelia sejadi-jadinya namun Bhiyan tetap kukuh menahannya. Matanya mulai berair. Kesabarannya untuk menghajar gadis itu benar-benar habis.
Ia benar-benar tidak terima dengan penghinaan ini.
Air matanya semakin banyak berkumpul di pelupuk matanya hingga akhirnya Adelia sama sekali tidak bisa menahannya. Ia menumpahkan air matanya. Kesal! Sangat kesal!
Bhiyan memeluknya dengan erat dan sampai saat ini, laki-laki itu sama sekali tidak membuka suara.
"Kenapa Bhi! Kenapa!" Adelia memukul-mukul dada Bhiyan. Isakannya terdengar begitu lirih.
"Apa gue salah suka sama lo. Apa gue salah cinta sama lo. Jawab Bhi!"
Bhiyan masih diam. Tak ayal mereka yang melihat sedari tadi. Raut wajah mereka benar-benar tidak bisa di deskripsikan. Menunduk, ataupun berlalu meninggalkan tempat kejadian.
"Gue benar-benar enggak ngerti dengan pemikiran kalian." Bhiyan akhirnya buka suara. Mereka-mereka yang masih menonton menatap Bhiyan sepenuhnya. Adelia masih menangis harus di pelukannya.
"Gue tahu semua pembicaraan kalian kemarin malam dan benar gue baca pesan itu dari telinga." Ucapnya dengan telak.
"Asal kalian tahu aja, gue enggak minta Tuhan ambil penglihatan gue sama sekali enggak minta. Jadi, maaf aja kalau gue menjadi salah satu manusia hina di mata lo semua."
"Yah... seenggaknya diri gue enggak sehina kalian yang bisanya cuma GOSIPIN ORANG DARI BELAKANG DAN DISAAT CEWEK INI MINTA KALIAN SEMUA JELASIN DI DEPANNYA KALIAN MALAH DIAM!! MENDADAK TULI!! JADI BATU!!" Bhiyan berhenti sesaat. Ia benar-benar menunjukkan kemarahannya.
"SAMPAH LO SEMUA!!" Bhiyan memekik. Urat-urat lehernya terlihat begitu jelas.
"GUE ENGGAK PERNAH MASALAH KALAU KALIAN SEBUT-SEBUT GUE BUTA, ENGGAK BISA APA-APA SEGALA MACAM. TAPI GUE ENGGAK PERNAH BISA TERIMA DENGAN KALIAN YANG SEENAKNYA MENYEBARKAN FITNAH-FITNAH AMPAS DARI MULUT KALIAN YANG HINA ITU!!"
"ANJING LO SEMUA!!"
"Sekali lagi gue dengar siapapun yang berani menghina Adelia, gue bikin MAMPUS! GUE BUNUH LO SATU-SATU!" Ancaman Bhiyan membuat mereka menelan salivanya. Beberapa ada yang menganggap serius, beberapa juga ada yang menganggapnya sebagai angin lalu saja.
Bhiyan sudah muak dengan semua ini. Ia membawa Adelia pergi dari sana namun beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ia berhenti.
"By the way, teman gue udah catat semua nomor, bukti pesan, juga identitas kalian yang ikut ngejelekin nama Adel. Jadi siap-siap aja satu persatu dari kalian masuk ke kantor kepala sekolah." Bhiyan diam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya dengan intonasi mengintimidasi.
"Dan kalau misalnya gue tahu, kalian masih ngelakuin hal yang sama ke Adel, bakalan gue bawa itu bukti ke jalur hukum."
Setelahnya Bhiyan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia benar-benar tidak peduli dengan reaksi mereka akan seperti apa. Saat ini ia hanya ingin menenangkan Adelia terlebih dahulu. Pagi harinya pasti terasa begitu berat.
"Maafin gue Del."
***
Bhiyan membawa Adelia ke Ruang Musik. Jam pembelajaran baru saja dimulai namun mood-nya sedang tidak bagus untuk menerima pelajaran.
Adelia sendirian di sana, masih terisak walaupun tidak sehisteris tadi. Ia menyeka air matanya, mencoba untuk melupakan kejadian barusan. Namun dirinya tidak kuasa. Ia tidak bisa melupakan kejadian tadi ataupun perkataan mereka di Media Sosial.
Begitu menyakitkan di hatinya.
Bhiyan memasuki ruang musik dengan membawa dua kotak susu yang baru saja ia beli dari kantin. Meraba jalan dengan tongkatnya, duduk di samping Adelia.
"Minum dulu," Bhiyan menyerahkan satu kotak susu pada Adelia sementara itu Bhiyan langsung meneguk habis punyanya.
"Kenapa lo halangi gue tadi?" Adelia berkata dengan terisak.
Bhiyan mengabaikannya. Memilih untuk memetik gitarnya, menyesuaikan nada senarnya.
"Gue enggak masalah kalau dihina sama mereka tapi, gue benar-benar enggak suka kalau ada yang hina lo Bhi." Adelia kembali menitikkan air matanya.
Bhiyan menarik nafas dalam.
"Enggak selamanya suatu masalah harus dibalas dengan kekerasan, Del." peringat Bhiyan berusaha dengan selembut mungkin.
"Tapi omongan mereka udah keterlaluan Bhi!" Adelia menaikkan nada bicaranya. "Sakit hati gue dengar mereka ngatain lo!"
"Enggak perlu dengerin ucapan mereka. Biar Tuhan aja yang balas."
Adelia mendesah kesal. Bhiyan benar-benar tidak mengerti apa yang dia rasakan. Adelia tahu kalau Bhiyan sengaja untuk bersikap acuh dengan hal ini.
"Gue juga pernah melawan, namun apa hasilnya? Orang-orang semakin membenci gue," Bhiyan menarik nafas.
"Gue tahu, lo perlahan mau berubah. Orang-orang udah di posisi dimana, mereka yakin kalau lo itu udah berubah Del. Menurut lo setelah kejadian ini, apakah pandangan mereka masih sama? Adelia yang sudah berubah atau Adelia yang masih sama seperti dulu?"
Adelia hanya bisa menundukkan kepalanya. Menitikkan air mata. Memikirkan apa yang dikatakan Bhiyan.
"Gue enggak mau lo jatuh di lubang yang sama."
"Gue lebih suka dengan lo yang sekarang." Bhiyan diam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. "Lo itu... segalanya buat gue."
Adelia sontak mengangkat wajahnya. Melihat wajah Bhiyan yang kini berwarna kemerahan. Bhiyan benar-benar terlihat salah tingkah.
Adelia yang masih menangis harus terpaksa dibuat tertawa karenanya. Bhiyan semakin salah tingkah mendengar tawanya yang diiringi sesenggukan kecil.
"Bego lo Bhi." Cibir Adelia.
Bhiyan tidak merespon. Ia masih malu dengan perkataan yang terlontar begitu saja dari mulutnya.
Beberapa menit setelahnya, Adelia akhirnya bisa mengontrol dirinya. Tangisannya sudah hilang walaupun masih meninggalkan jejak di matanya.
"Udah baikan?" Bhiyan bertanya.
Adelia diam sejenak, kemudian mengiyakannya.
"Mau latihan?"
"Ajarin gue main gitar aja. Gue pengin bisa mainin lagu genre jazz."
Bhiyan mengangguk. Ia memberikan senyum terbaiknya. Gitarnya ia serahkan pada Adelia sementara itu ia mengambil sebuah gitar di lemari penyimpanan.
Seperti biasanya Bhiyan memulai pembelajaran dengan teori terlebih dahulu. Menjelaskan beberapa teknik dan chord yang sering dipakai dalam genre jazz kemudian langsung memulai pembelajaran dengan lagu yang sederhana.
Bhiyan mengambil contoh lagu "Balonku."
Adelia secara seksama memperhatikan cara memetik di tangan kanan serta bentuk chord di tangan kiri. Ia menemukan teknik baru serta chord-chord asing baginya.
Bhiyan selesai memetik gitarnya.
"Susah?" Bhiyan menyeringai tipis.
"Enggak ada yang sulit buat gue." Jawab Adelia dengan percaya diri. Bhiyan tertawa mendengarnya.
Sebelum memulai pembelajaran, Bhiyan ingin memberi tahu suatu hal pada Adelia.
"Gue enggak bisa nemenin lo sampai pengumuman lomba. Gue harus ke Rumah Sakit buat check-up."
Adelia mengerutkan keningnya, "lo sakit apa?" Adelia mendadak cemas.
"Cuma cek tahunan aja. Enggak usah khawatir." Bhiyan menyentil kening Adelia sembari tertawa. Gadis itu menggembungkan pipinya. Ia sedikit kesal dengan perlakuan Bhiyan barusan.
Ia menatap Bhiyan cukup lama sebelum akhirnya membuang napas panjang.
Cuma check-up biasa Del, lo enggak usah khawatir, batin Adelia meyakinkan dirinya yang sedari tadi merasa risau.
***
Satu jam lebih waktu yang dilalui keduanya dalam berlatih gitar. Satu jam lagi, sekiranya lomba akan segera di mulai—Adelia baru saja dikontak salah satu panitia.
Bhiyan menyimpan gitarnya dan langsung bersiap-siap untuk mengganti pakaiannya dengan kemeja lengan panjang berwarna merah marun dan celana jeans hitam ke sebuah bilik.
Sama seperti Bhiyan, Adelia mengeluarkan pakaian dari dalam tasnya. Sebuah dress selutut yang nantinya akan ia kenakan untuk tampil di atas panggung.
Adelia berlari cicit ke tempat yang paling aman dari segala macam pantauan termasuk CCTV. Memantau sekitarnya dengan teliti. Setelah dirasa aman, Adelia langsung mengganti pakaiannya begitu saja.
Bhiyan keluar dari bilik. Ia telah selesai mengganti pakaiannya. Memasukkan seragam sekolahnya di dalam tas, tidak lupa menyemprotkan sedikit parfum ke beberapa bagian tubuhnya.
"Lo enggak ganti Del?" Tanya Bhiyan yang mendengar suara Adelia masih ada di ruangan ini.
"Ini gue lagi ganti!" Pekik Adelia di tempatnya, membuat Bhiyan sontak menoleh ke arahnya.
"BHIYAN BEGO!! NGINTIP LO YA!!"
Bhiyan lantas berteriak dan langsung memalingkan wajahnya. Semburat kemerahan muncul di wajahnya.
"LO NGAPAIN GANTI DI SITU HAH!? GILA LO YA!? DAN INGAT, GUE ITU BUTA!" Bhiyan berteriak dengan nada kesalnya.
Walaupun begitu, Adelia tetap tidak percaya dengan Bhiyan. Belakangan ia tahu dari Alissa kalau Bhiyan itu dulunya laki-laki yang mesum.
"Buktikan kalau lo enggak ngintip gue!" Adelia menarik napas sejenak. "BH gue warna apa?"
"Biru?"
"KAN!!! BENERAN NGINTIP LO KAN!!! DASAR MESUM!!!"
"WOI!! YANG BENAR AJA!!"
Setelah beberapa menit menunggu seperti tanpa kepastian, Adelia akhirnya muncul juga lengkap dengan riasan wajah yang membuatnya semakin terlihat cantik.
"Lama amat sih?" Bhiyan menggerutu sementara itu Adelia mencebik.
Adelia sedikit merapikan rambut Bhiyan yang lumayan berantakan. Mengambil kacamata hitam di saku kemejanya, kemudian memasangkannya.
"Gantengnya." Adelia sedikit bersiul.
"Enggak perlu ditanyakan lagi." Bhiyan menyibak rambutnya, membuatnya semakin terlihat keren.
Adelia tertawa. Keduanya kemudian segera beranjak pergi menuju Gedung Teater, tempat dimana diselenggarakannya perlombaan vokal yang Adelia ikuti.
Kurang dari lima belas menit waktu yang dibutuhkan keduanya dengan mengendarai motor untuk tiba di lokasi. Keduanya langsung berlari masuk kedalam gedung. Adelia memperlihatkan kalung peserta kepada salah satu panitia yang berjaga di depan pintu. Pintu terbuka. Adelia menggenggam erat tangan Bhiyan, segera masuk dan berkumpul di antara kerumunan peserta lainnya.
Begitu ramai dan berisik dikarenakan beberapa dari peserta memilih untuk melatih ulang lagu yang akan dibawakan.
"Gue jadi kangen sama suasana beginian," ujar Bhiyan sembari menunjukkan senyumnya. Ia melipat tongkatnya, menyembunyikan di balik kemejanya—ia sama sekali tidak ingin menarik perhatian orang-orang.
"Lo sering ke sini juga?" Tanya Adelia menanggapi. Ia sedikit merasa gugup.
"Lumayan sering. Kompetisi piano, biola, orkestra, simfoni, banyak deh."
Benar juga. Selain untuk penyelenggaraan Teater, gedung ini juga digunakan untuk berbagai macam pertunjukan terkhususnya di bidang Seni.
"Seenggaknya lo bersyukur," Bhiyan tersenyum tipis padanya.
"Kenapa?" Adelia mengerutkan keningnya.
"Lo bisa kenal dekat sama master musik macam gue."
"Maksudnya?"
"Lihat aja." Ujar Bhiyan mengarahkan Adelia pada orang-orang di sekitarnya.
Mereka sedang menatap kearah Bhiyan sembari berbisik, membicarakan tentang kehebatan bermusik yang dimiliki seorang Bhiyan.
Sesaat memperhatikan, ada seorang laki-laki yang membawa gitar di bahunya mendatangi Bhiyan dengan menggenggam ponsel di tangannya.
"Bhiyan Adiaksa bukan?" Tanya laki-laki itu sedikit gugup.
Bhiyan mengangguk sembari tersenyum.
"Wah beneran Bhiyan dong. Panutan nih," laki-laki itu terlihat begitu bahagia saat mengetahui orang yang ada di hadapannya saat ini memang Bhiyan yang dia maksud. "Boleh minta foto gak?"
Bhiyan mengangguk, "boleh."
Laki-laki itu langsung tersenyum sumringah. Ia langsung duduk di samping Bhiyan kemudian mulai mengambil gambar dengan kamera ponselnya. Adelia tidak diajak. Ia sedikit kesal jadinya.
Laki-laki itu kemudian berterima kasih, kembali ke tempatnya semula.
"Ciee.. yang mendadak artis." Cibir Adelia.
"Iri bilang bos." Bhiyan terkekeh geli.
Dua orang panitia muncul dari balik pintu. Ruangan yang tadinya ramai nan berisik, mendadak menjadi hening. Seluruh peserta menaruh perhatiannya pada keduanya.
Salah satu panitia mengangkat clipboard di atas dadanya. Mengabsen satu persatu nama peserta sekaligus pengiringnya.
"Reza Vian dan pengiring Raka Ibrahim."
"Hadir."
"Adelia Maudy Dinata dan pengiring Bhiyan Adiaksa." Panitia yang sudah berumur tersebut melambatkan suaranya ketika menyebut nama Bhiyan. Kepalanya perlahan terangkat, mencari-cari keberadaannya.
"Hadir." Adelia menjawab sembari mengangkat tangannya. Panitia tersebut kemudian menoleh, menoleh pada Bhiyan tentunya.
"Udah lama Om enggak ngeliat kamu." Ujar panitia tersebut dengan tersenyum hangat. Bhiyan hanya menyunggingkan senyumnya.
Panitia tersebut kemudian melanjutkan absensi.
"Kenal Bhi?" Tanya Adelia pelan. Matanya sesekali melirik pria yang dari wajahnya seperti keturunan orang India.
"Om Rajendra. Temannya Bunda, salah satu anggota orkestra juga. Pemain Cello."
(Selo/Cello, adalah sebuah alat musik gesek dan anggota dari keluarga biola. Orang yang memainkan selo disebut cellis. Selo adalah alat musik yang populer dalam banyak segi: sebagai instrumen tunggal, dalam musik kamar, dan juga sebagai fondasi dalam suara orkestra modern. Ukuran selo masih lebih kecil daripada kontrabas.) *Source: Wikipedia.
Adelia mengangguk mengerti. Bhiyan benar-benar terkenal di tempat ini.
Panitia akhirnya selesai dengan absensi. Ia memberitahukan sekitar sepuluh menit lagi perlombaan akan dimulai. Seluruh peserta diminta untuk bersiap-siap. Termasuk Adelia yang kali ini mendapatkan urutan nomor 3.
Perlombaan di mulai.
Adelia dan beberapa peserta lainnya masih menunggu di tempat yang sama, menyaksikan penampilan peserta yang tampil terlebih dahulu melalui TV dengan ukuran yang lumayan lebar.
Beberapa dari mereka ada yang masih berkutat dengan latihannya, ada yang panik setengah mati, ada yang biasa-biasa saja. Jikalau menanyakan Adelia saat ini, gadis itu masih menempel di samping Bhiyan. Jantungnya berdetak kencang, ia merasa gugup kaki ini.
Peserta pertama akhirnya selesai dengan penampilannya. Sesaat lagi mereka akan menyaksikan penampilan dari peserta kedua.
Panitia datang dari balik pintu bersamaan dengan peserta pertama juga pengiringnya.
"Adelia juga pengiringnya, silahkan bersiap-siap."
Adelia terperanjat. Segera ia menggandeng tangan Bhiyan untuk pergi.
Keduanya dan panitia tersebut menyelusuri lorong dengan minim penerangan. Sembari itu, Adelia memanjatkan doa dalam hati semoga kompetisinya kali ini berjalan dengan lancar.
Cahaya terang menyambut indera penglihatan. Keduanya tiba di back stage. Panitia kemudian mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Lo enggak lagi nervous kan?" Bhiyan memecah keheningan diantara keduanya.
"Sedikit. Tapi enggak apa-apa." Ujar Adelia dengan wajah yang meyakinkan. Sementara itu Bhiyan hanya menganggukkan kepalanya. Ia tahu Adelia tidak akan segugup kala itu.
Ponsel Adelia tiba-tiba bergetar. Notifikasi pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Ia melihat si pengirim pesan yang ternyata Mamanya, Kirana. Ia segera membaca pesan tersebut.
Mama Kirana
Mama ada di sini.
Adelia mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan maksud pesan yang Mamanya berikan. Di saat itu pula, Mamanya kembali muncul di notifikasi ponselnya. Kali ini ia mengirimkan sebuah foto pada Adelia. Ia membukanya dan betapa terkejutnya Adelia melihat foto panggung dimana nantinya ia akan tampil.
Itu artinya Mamanya datang untuk menonton.
Adelia berteriak kecil. Ingin sekali dirinya mengintip dari balik pintu hanya saja panitia tersebut menghalangi.
Adelia merasa senang sekali. Jarang-jarang sekali Mamanya bisa menyempatkan waktunya untuk menonton dirinya berlomba.
"Siapa?" Bhiyan bertanya.
"Mama gue nonton!" Ujar Adelia dengan wajah bahagianya. Bhiyan tersenyum tipis, kemudian menyentuh rambut Adelia.
"Bagus deh. Boleh dong sekalian gue minta dikenalin."
Kebahagiaan Adelia perlahan luntur. Ia menatap Bhiyan dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. "Bi-bisa. Entar, gue kenalin." Entah kenapa Adelia dengan terbata-bata saat mengucapkannya.
Ia merasa cemas dan panik secara bersamaan. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya semenjak Bhiyan meminta hal tersebut. Bhiyan cuma minta lo kenalin ke Mama, kenapa lo takut Del? Batinnya dalam hati.
"Tapi di lain waktu aja kenalinnya. Gue harus ke rumah sakit soalnya." Ujar Bhiyan lagi yang membuat Adelia sedikit merasa tenang.
"I-iya. Gue ngerti." Adelia menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
"Adelia, siap-siap." Panitia membalikkan badannya.
Adelia tersadar. Penampilan dari peserta kedua telah usai itu artinya ia akan tampil sekarang. Ia berdiri kemudian berhenti sejenak di ambang pintu. Mulutnya bergumam seraya berdoa kepada Tuhan untuk kelancaran perlombaannya.
"Yuk." Dengan menggenggam tangan Bhiyan, Adelia melangkah menuju panggung.
Suara tepuk tangan langsung menyambut indera penglihatannya. Sembari berjalan, matanya menyisir satu persatu deretan bangku penonton hingga matanya yang tajam melihat Mamanya duduk di antara penonton lainnya. Wanita itu melambaikan tangannya di udara. Adelia membalasnya dengan tersenyum begitu lebar.
Ia mengantar Bhiyan sampai di tempat duduknya selepasnya ia langsung memilih tempat di tengah, sembari menunggu Bhiyan selesai dengan gitarnya.
"Lo enggak boleh kecewain Mama, Del." Ucap Adelia pelan sembari tertuju pada wanita yang dimaksud.
Bhiyan mulai memetik gitarnya dan itu artinya, perlombaannya sudah dimulai.
***
Penampilannya sukses besar. Ia tidak melakukan kesalahan yang cukup fatal sekalipun. Ia benar-benar senang sekali. Kalau begini, ia semakin yakin kalau dirinya akan memenangkan perlombaan.
Adelia berlari pelan menyusuri koridor menuju aula gedung Teater. Ia tersenyum sumringah dan langsung memeluk Mamanya yang sudah menunggunya di sana.
Kirana langsung memeluk erat Adelia. Mencium lembut puncak kepala Adelia dengan penuh kasih sayang. Matanya sampai menitikkan air mata. Ia benar-benar terpukau dengan penampilan Adelia. Anaknya benar-benar luar biasa hebat.
"Yakin bisa juara, enggak?" Tanya Mamanya, menyudahi pelukan mereka.
"Yakin seratus persen!" Jawab Adelia dengan mantap.
Kirana tersenyum. Ia juga sepemikiran dengan Adelia. Sedari dulu ia memang tahu kalau Adelia memang berbakat di bidang tarik suara. Ia juga menyadari kalau penampilan Adelia bisa sebagus itu karena dukungan si pengiring. Kirana benar-benar terpesona dengan permainan gitar pengiringnya Adelia.
"Yang ngiringin kamu tadi siapa?" Tanya Kirana sembari menaik-turunkan alisnya. Ia tersenyum dengan penuh arti.
Adelia sedikit tersentak. Wajahnya langsung memerah begitu saja. Ia berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan Kirana.
"Pacarnya Adel." Adelia menjawab dengan begitu pelan namun Kirana dapat mendengarnya.
"Udah ganteng, jago main gitar lagi." Puji Kirana yang langsung membuat Adelia menoleh padanya.
"Enggak cuma gitar. Bhiyan jago main semua alat musik." Adelia menambahkan.
"Oh... namanya Bhiyan," Kirana tersenyum menggoda. "Tapi kenapa waktu di atas panggung, kamu gandeng tangan dia? Manja banget harus dianterin segala."
Raut bahagia Adelia perlahan pudar. Perasaannya sama seperti saat Bhiyan meminta dirinya untuk mengenalkannya pada Mamanya.
"Yah... namanya juga pacaran," Mamanya sepertinya tidak peduli. "Sambil nunggu pengumuman, kita makan siang dulu yuk." Ajak Mamanya yang mendapat anggukan pelan dari Adelia.
Ia merasa takut sekali. Takut kalau dengan reaksi Mamanya seperti apa jika mengetahui Bhiyan itu tunanetra.
Ia harus apa?
***
Di sisi lainnya...
Wanita dewasa membuka sebuah ruangan. Ia menariknya pelan, dengan jantung yang sedari berdetak begitu cepat. Ia menemukan seorang Pria dengan memakai pakaian serba putih, sedang duduk sembari memperhatikan dengan seksama kertas-kertas di tangannya.
Dokter itu menoleh pada wanita tersebut kemudian tersenyum tipis, mempersilahkannya untuk duduk.
Hati wanita itu semakin was-was tatkala kertas-kertas yang tadinya dipegang Dokter itu diserahkan kepada dirinya. Wanita itu tidak langsung membacanya, ia terfokus pada senyum Dokter tersebut. Sebuah senyuman yang begitu getir.
Dokter tersebut kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan dan didetik berikutnya wanita tersebut menangis dengan sejadi-jadinya.
Tidak mungkin!!
Bersambung...
Beberapa kalimat di atas agak "dark" buat Bhiyan.
Pokoknya jangan ditiru!
Part selanjutnya kayaknya bakalan update hari Kamis malam atau Jumat malam.
See ya