A Miracle In Your Eyes

By Randi-AD

13.5K 1K 56

(16+) Adelia Maudy Dinata, gadis cantik dengan suara teramat merdu ketika bernyanyi. Ia dicap sebagai trouble... More

1. Adelia Maudy Dinata
2. Bhiyan Adiaksa
3. Pertemuan
4. Rencana Balas Dendam
5. Suara
6. Kenyataan
7. Karma
8. Usaha Meminta Maaf
9. Rahasia Bhiyan
10. Kompetisi
11. Bad/Good News?
12. Kalahkan Rasa Takut!
13. Mengulang Sore
14. Ribuan Kebahagiaan
15. Titik terang
16. Untuk Lebih Dekat
17. Sebuah Fakta Pedih
18. Jalan-Jalan
19. Sehari Bersama Bhiyan dan Motor?
20. Pembalasan
21. Sebuah Permohonan
22. Tentang Bhiyan
24. Amarah dan Ketakutan
25. Minggu Punya Cerita
26. Sudut Pandang
27. Berbeda
28. Hal Baru
29. Dia yang Cemburu
30. Maaf
32. Keinginan
33. Pilihan Adelia
31. Ruangan Rahasia
34. Dia Kembali
35. Kencan dan Rahasia
36. Tentang Mereka Berempat
37. Selamat Ulang Tahun
38. Putus
39. Sebuah Resolusi dan Kebenaran
40. Farewell
Epilog

23. Perubahan dan Pertentangan

217 20 0
By Randi-AD

Di ruang tengah, Kirana terlihat sibuk dengan laptopnya. Sesekali dirinya menyesap teh kemudian melanjutkan ketikannya. Ia mendengus sebal.

"Adel? Masih lama? Mamah harus berangkat sekarang!"

Seharusnya sedari tadi dirinya sudah berada di perjalanan menuju kantor. Namun kemarin, Adelia meminta padanya untuk mengantarkannya terlebih dahulu. Kirana tidak bisa menolak permintaan anak angkatnya tersebut.

Tidak ada sahutan dari Adelia.

Kirana menatap ke arah lantai dua rumahnya sejenak. Belum ada tanda-tanda dari Adelia.

Ia menghela pelan. Kirana memilih untuk beranjak menuju kamar Adelia. Dirinya ingin sekali mengetahui penyebab mengapa Adelia bisa selama ini hanya untuk berpakaian.

Kirana tiba di depan kamar Adelia. Ia mengetuk pintu kemudian membukanya.

"Kamu masih lama—"

Kirana ternganga. Mengerjap-ngerjapkan  matanya beberapa kali, meyakinkan dirinya bahwa yang dilihat di hadapannya sekarang adalah benar-benar Adelia.

"Sudah siap kok Ma."

Adelia mematut dirinya di hadapan Kirana. Gadis itu terlihat berubah sekali, berbanding 180 derajat dari biasanya.

Adelia yang biasanya acuh dengan gaya berpakaiannya, kini terlihat begitu rapi sekali lengkap dengan memakai atribut juga rompi sekolahnya. Rok yang biasanya sedikit di atas lutut, kali ini Adelia memakai rok rempel panjang. Wajahnya dirias sedemikian rupa, serta rambut yang biasanya tergerai, Adelia memilih untuk mengikatnya ala ekor kuda. Tidak lupa dirinya menyematkan sebuah kep berbentuk pita berwarna biru. Adelia yang sekarang terlihat begitu feminim. Manis sekali.

"Ayo Ma." Ajak Adelia sekaligus menyadarkan Mamanya yang masih terperangah karenanya.

"I-iya."

***

Penampilan Adelia yang sekarang sukses menarik perhatian siswa-siswi sekolah. Melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat mereka saling bertanya-tanya dan meyakinkan dirinya kalau yang mereka lihat sekarang adalah Adelia. Bahkan ada beberapa siswa yang saling bertabrakan karena terlalu fokus menatap Adelia.

Adelia tidak menyangka kalau keinginannya untuk merubah penampilannya, mendapatkan respon seperti ini. Ia merasa kikuk jadinya karena ditatap seperti itu.

Di depan, Adelia melihat Bhiyan dan Alissa sedang berjalan beriringan. Senyum manis Adelia langsung terbit. Senang sekali melihat Bhiyan bisa bersekolah lagi. Ia segera pergi menyapa mereka berdua. Ia ingin sekali mengetahui respon Bhiyan tentang penampilannya seperti apa.

"Coba bayangin deh Bhi, kalau bumi bentuknya jajaran genjang."

"Hahaha. Ngaco lo. Kerucut kalau menurut gue."

"Coba kalian berdua bayangin deh, kalau semesta kita itu hanyalah sebuah titik kecil dan kita hanya menumpang hidup di salah satu organisme."

Alissa dan Bhiyan tercenung dengan pemikiran Adelia.

"Opini yang bagus. Lo tahu dari mana—eh? Si-siapa? Adel?"

Bahkan Alissa pun sampai kaget melihat penampilannya yang sekarang. Adelia tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya.

"Be-beneran Adel? Adelia Maudy Dinata?" Alissa bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.

"Iya Alissa."

"Cantik banget gilak! Gue sampai pangling loh Del." Alissa memperhatikan setiap sudut tubuh Adelia tanpa celah sedikitpun sembari berdecak takzim.

Bhiyan yang sedari tadi menyimak akhirnya membuka suara, ia tersenyum begitu mengetahui Adelia menemuinya.

"Ada apa sih? Adel kenapa?"

Alissa langsung berbisik di telinga Bhiyan, menyampaikan dengan detail apa yang saat ini dirinya lihat.

Dari belakang, Caca dan Luna baru saja tiba di sekolah dan keduanya langsung menganga ketika melihat Adelia dengan pemandangan yang berbeda. Respon keduanya benar-benar sama seperti Alissa maupun orang-orang yang melihatnya. Serasa seperti diinterogasi.

Adelia benar-benar sukses membuat seantero sekolah pangling.

Bel pertama berbunyi. Semua siswa sudah harus tiba di dalam kelas. Kelimanya harus berpisah saat ini juga.

"Pulang sekolah jangan lupa temuin gue di ruang musik." Ujar Bhiyan sebelum akhirnya melambaikan tangan, berjalan menuju kelasnya.

Adelia tersenyum tipis. Perlahan raut wajahnya terlihat luntur. Ia sedikit merasa kecewa. Bhiyan sama sekali tidak mengucapkan apa-apa tentang penampilannya saat ini. Namun detik berikutnya ia langsung menyadarkan pemikirannya itu.

Bhiyan itu tunanetra. Lo mikirin apa sih Del, batinnya dalam hati.

Ketiganya kemudian segera beranjak menuju kelasnya.

***

"Belakangan ini gue perhatiin, lo lebih sering nempel sama Bhiyan dibanding sama kita." Caca berujar disaat Adelia sedang menyalin apa yang ditulis sekertaris kelasnya sementara guru kimianya rimba entah ke mana.

Suasana kelas menjadi sedikit berisik karena tidak ada yang mengawasi.

"Ceritanya lo jelous karena gue udah diambil Bhiyan?" Adelia terkekeh. Luna di belakang menyimak, sembari tetap menyalin.

"Ya enggak lah Del," Caca mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Adelia. "Gue cuma pengin kita bisa kumpul-kumpul bareng lagi, kayak dulu. Enggak enak kalau cuma berdua."

"Oh... lo enggak suka ngumpul sama gue Ca?" Luna menyahut dari belakang, ia menatap Caca intens. "Cukup tau!" Ia menyodorkan telunjuknya di depan wajah Caca kemudian memalingkan wajahnya sembari memasang raut kesal.

Caca jadi panik sekaligus merasa bersalah. Biasanya kalau Luna sedang ngambek, selama seminggu penuh gadis itu tidak akan berbicara dengan mereka berdua.

"Gue sebenarnya juga mau kita bisa kumpul-kumpul lagi," Adelia menarik perhatian Caca dari Luna. "Tapi lo kan tahu sendiri, belakang gue harus jenguk Bhiyan di Rumah Sakit. Gue juga harus banyak-banyak latihan sama Bhiyan karena sebentar lagi kompetisi vokal gue dimulai."

Caca mengangguk mengerti, wajahnya terlihat cemberut selepas Adelia berujar. "Lain kali kalau lo enggak sibuk, ikut ngumpul bareng kita ya. Jangan asik nempel mulu sama Bhiyan. Kayak pacaran aja."

Adelia sedikit tersentak. Ia sama sekali belum cerita pada keduanya kalau dirinya dan Bhiyan sudah berpacaran.

"Atau jangan-jangan, lo berdua beneran pacaran?"

Telak. Caca menebaknya dengan benar. Adelia sampai mati kutu dibuatnya.

"Gu-gue sama Bhiyan—"

"Ya enggak mungkin lah Ca!" Seru Luna dengan tiba-tiba, membuat Caca sampai kaget. "Cewek normal mana coba, yang mau pacaran sama laki-laki tunanetra."

Adelia termangu. Perkataan Luna serasa begitu menusuk. Ia menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya kuat. Apa dirinya salah karena berpacaran dengan Bhiyan yang tuna netra?

"Jadi maksudnya lo, definisi pacaran itu harus yang normal dengan yang normal, difabel dengan difabel? Disabilitas dengan disabilitas? Begitu? Enggak bisa begitu dong, Luna."

Adelia mengangkat wajahnya, menatap Caca dengan terkesima. Caca ternyata benar-benar sepemikiran dengannya.

"Walaupun difabel, mereka tetap punya hak untuk mencintai dan dicintai. Kan pada dasarnya cinta itu percaya dan menerima. Enggak harus mengikuti pemikiran lo yang barusan."

"Sekarang gue tanya, lo mau enggak jadi pacarnya Bhiyan?" Luna kali ini bertanya dengan sorot mata serius.

"Bhiyan itu baik, ramah, penyayang, tinggi, bisa main musik, berprestasi, kenapa enggak?" Caca memberikan jawaban yang meyakinkan.

"Walaupun dia enggak pernah lihat wajah lo sekalipun?" Luna langsung menyambar. "Coba lo bayangin. Lo dandan sedemikian rupa agar kelihatan cantik di depan dia, tentunya lo pasti berharap pujian darinya. Dan menurut lo, dia bakalan respon seperti apa? 'wah kamu cantik banget pakai dress biru itu', padahal lo lagi pakai dress warna peach."

Tadi pagi Adelia baru saja merasakannya. Jujur, dirinya merasa kecewa.

"Jangan jauh-jauh dulu deh. Kita bahas orang tua. Menurut lo, respon orang tua lo gimana setelah tahu cowok lo itu tunanetra?"

Entah lah, pastinya Mamahnya akan marah besar pada Adelia jika mengetahui hal ini.

"B aja," jawab Caca dengan entengnya. Adelia yang sedang bimbang memikirkannya langsung menaruh penuh perhatiannya pada Caca. "Lo berdua kan tahu sendiri kalau beberapa keluarga gue ada yang difabel."

"Kakek gue tunarungu yang artinya tidak bisa mendengar, sementara nenek gue wanita normal. Tante gue tunawicara yang artinya tidak bisa berbicara, sementara Om gue laki-laki normal. Dan asal kalian berdua tahu aja, gue dulu pernah pacaran sama laki-laki tunanetra dan orang tua gue benar-benar tulus ngerestuin hubungan kita berdua."

Apa yang Caca sampaikan benar-benar membuat keduanya terkejut. Caca sama sekali tidak pernah memberi tahu kalau gadis itu pernah berpacaran dengan laki-laki tunanetra.

"Terus hubungan lo sama cowok itu gimana?" Adelia spontan bertanya.

Caca tersenyum tipis, "hubungan kita cuma sampai satu tahun. Dia sering sakit-sakitan. Harus bolak-balik masuk Rumah Sakit dan dia memilih menyerah dengan kanker otaknya."

Keduanya sampai merinding mendengarnya. Adelia mengelus punggung Caca yang saat ini terlihat berkaca-kaca. Namun Caca segera menghapus air matanya, menggantinya dengan senyuman.

"Kalau lo berdua bertanya, 'apakah gue bahagia selama berpacaran dengan dia', gue bakalan jawab: sangat-sangat bahagia."

"Seperti yang Luna bilang di awal tadi, gue juga sempat pesimis dengan hubungan kita. Dia sama sekali enggak pernah memuji dan gue sadar dengan posisi dia."

"Dan kalau kalian pikir pujian itu hanya datang dari penampilan, kalian salah besar. Pujian bisa didapatkan dari sikap dan perilaku. Intinya belajar menerima dan temukan sendiri arti kebahagiaan sebuah hubungan."

Belajar menemukan. Bhiyan juga pernah mengatakan hal seperti itu. Apa dirinya juga harus belajar menerima seperti Caca dan Bhiyan? Lalu dari mana ia harus memulainya?

Bel pulang sekolah berbunyi. Membuat Adelia, Caca, dan Luna langsung panik. Catatan mereka belum selesai!

***

"Gue mau jujur ke kalian kalau gue sebenarnya udah pacaran sama Bhiyan." Adelia menatap ke arah depan beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafasnya berat.

Ia sedang mematut diri di depan cermin toilet sekolah sementara itu Caca dan Luna masih berada di kelas—masih menyalin catatan.

Dirinya semakin bimbang setelah berbicara dengan mereka berdua. Bingung sekali rasanya, apakah ia harus memberitahukan hubungannya dengan Bhiyan pada mereka berdua, atau membiarkan waktu yang akan mengungkap.

Ia mengusap wajahnya, kemudian beranjak pergi.

"Lo pacaran sama Bhiyan?" Suara perempuan terdengar dari salah satu bilik, membuat Adelia membatalkan niatnya untuk pergi. Salah satu pintu terbuka, terlihat Alissa keluar dengan wajah tidak percaya. Berjalan mendekati Adelia yang terdiam, yang mendadak gagap karenanya.

"I-itu, ki-kita."

"Selamat deh, kalau gitu." Alissa tersenyum. Ia membasuh tangannya di wastafel samping Adelia. "Pantesan aja Bhiyan belakang ini rajin banget nanyain lo, Del."

Adelia cuma bisa tersenyum kikuk.

"Udah berapa lama?" Alissa masih tersenyum dengan khasnya.

"Seminggu."

Alissa mengangguk. Selepas mengeringkan tangannya, ia langsung melewati Adelia tanpa berkata apa-apa. Melangkah pergi dengan senyum yang masih sama.

Entah perasaannya saja kalau Alissa terkesan begitu berbeda.

Dirinya benar-benar bodoh. Bisa-bisanya bicara dengan sembarang tanpa mengecek lokasi dahulu. Padahal ia dan Bhiyan memilih untuk tidak mempublish hubungan mereka hingga waktu yang mereka tentukan. Kalau sudah seperti ini ... Akh!!

Sesaat ia berbalik badan, ia mendapati Caca dan Luna berdiri di ambang pintu. Wajah Luna menyorotnya dingin dengan kedua tangan terlipat sementara itu, Adelia mendapati Caca dengan wajah paniknya.

Adelia menelan ludahnya. Mereka berdua pasti mendengar obrolannya dengan Alissa barusan.

"Jelasin ke gue Del." Luna berbicara dengan dinginnya.

"Na—"

Luna mengangkat tangannya di depan wajah Caca, gadis itu langsung terdiam. Luna benar-benar marah sepertinya.

"Gue pacaran sama Bhiyan." Ucap Adelia ragu-ragu menatap Luna. Ia tahu, Luna tidak akan suka dengan ini.

"Gue beneran suka sama Bhiyan. Dia selalu bisa bikin gue nyaman dan bahagia dengan cara dia. Gue sama sekali enggak peduli kalau dia tunanetra karena gue selalu anggap kita sama," Adelia mengontrol napasnya. Semakin lama dadanya terasa sesak.

"Gue tahu, lo enggak bakalan suka dengan ini. Tapi, ini pilihan gue."

"Dan kenapa pilihan lo harus Bhiyan? Kenapa lo harus cari cowok yang sama sekali belum pernah ngeliat batang hidung lo?" Luna berjalan mendekati Adelia. Di belakangnya, Caca berusaha menenangkan Luna. "Masih banyak cowok normal diluaran sana yang baik! Yang bisa bikin lo bahagia! Yang bisa bikin lo nyaman! Tapi kenapa lo harus milih cowok yang buta!" Luna benar-benar marah padanya.

Adelia mengepalkan tangannya. Perkataan Luna semakin menusuk. Ia mulai kesal padanya.

"Lo enggak akan pernah ngerti." Kukuh Adelia.

"NGERTI APA!?" Luna sudah berada di puncak kemarahannya. Nafasnya begitu memburu. Ia sudah tidak tahu lagi dengan pemikiran sahabatnya ini.

Ia tersenyum sinis pada Adelia. "Yang gue takutkan ujung-ujungnya terjadi juga." Ia memberikan jeda sesaat. "Gue enggak ngerti lagi sama otak lo sekarang. Pacaran sama orang buta yang enggak bisa apa-apa."

"Sahabat gue jadi TOLOL sampai harus pacaran sama orang buta dengan alasan cinta!" Luna berteriak seraya mengejek. Suaranya sampai membuat toilet bergaung.

"Cukup!" Adelia menyorot tajam Luna dengan amarah yang sudah sampai di puncaknya. Luna sudah benar-benar kelewat batas.

"Sahabat gue jadi TOLOL sampai harus pacaran sama orang buta dengan alasan bisa membuat bahagia!"

"CUKUP!!" Adelia berteriak sembari meraih kerah seragam Luna. Matanya sampai merah berair. Nafasnya benar-benar memburu. Untuk pertama kalinya Adelia benar-benar marah pada Luna.

"Gue enggak masalah kalau lo ejek gue! Tapi, gue enggak akan pernah terima siapapun orangnya yang udah menghina Bhiyan! Termasuk lo!"

"Lo enggak ngerti apapun tentang Bhiyan. Lo enggak tahu apapun cerita yang udah gue tulis bersama Bhiyan. Lo enggak tahu apa-apa soal masa lalu dia! DERITA DIA! KESEDIHAN DIA! LO ENGGAK TAHU APA-APA! JADI LO ENGGAK ADA HAK UNTUK HINA DIA!"

Caca akhirnya berhasil melerai keduanya. Ia segera menjauhkan Adelia dari Luna, serta menahannya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Detik ini, siapapun orang yang berani menghina Bhiyan, bakalan gue bikin mampus. Termasuk lo sekalipun." Ancam Adelia. Telunjuknya terangkat ke arah Luna.

Luna menyeringai dalam. "Lo enggak akan pernah bahagia dengan Bhiyan. Sampai kapanpun, lo enggak akan pernah bahagia dengan Bhiyan."

Luna melenggang pergi setelah mengucapkan kata-kata itu pada Adelia.

"GUE BAKALAN CARI SENDIRI KEBAHAGIAAN GUE SAMA BHIYAN!!"

Adelia terlihat kacau sekali. Wajah sampai merah padam. Caca tidak pernah melihat Adelia sampai seperti ini. Gadis itu langsung mendekap Adelia dalam pelukannya untuk menenangkannya. Detik berikutnya tangisan Adelia langsung tumpah. Ia memeluk Caca begitu eratnya.

"Akan gue buktikan kalau kita berdua bisa bahagia. Gue akan cari kebahagiaan gue sama Bhiyan. Akan gue cari." Lirih Adelia dengan suara parau.

"Gue yakin, lo pasti bisa nemuin kebahagiaan lo sama Bhiyan. Gue yakin itu."

***

Denting piano memenuhi setiap sudut dari ruang musik. Tiap not-nya yang merdu hanya ditujukan untuk mengiringi nyanyian merdu gadisnya, gadis yang amat dicintainya. Duduk berdampingan, sembari mendengarkan suaranya yang merdu. Ia benar-benar jatuh hati pada keduanya.

Namun ia merasa ada yang salah dengan suaranya. Suaranya yang merdu terkesan begitu berat dan menyayat hati. Terkadang ia merasakan getaran di beberapa lirik. Hatinya pasti sedang bersedih.

Bhiyan menghentikan permainan pianonya, membuat Adelia ikut berhenti bernyanyi juga.

"Kenapa berhenti?" Tanya Adelia sedikit bingung.

Bhiyan melemaskan jari-jari tangannya, "gue capek."

Adelia berdecak kesal. Padahal ia berusaha untuk mengumpulkan kembali mood-nya selepas kejadian tadi.

Ia menghela pelan. Ia menutup ponselnya yang barusan menampilkan lirik lagu. Kepalanya bergerak menyandar di bahu kiri Bhiyan. Ia benar-benar letih.

"Are you okay?" Bhiyan bertanya.

"Lo pernah marah besar sama Alissa gak?" Adelia memilih untuk menceritakan kejadian tadi pada Bhiyan.

"Sometimes," jawab Bhiyan jujur. "Baru marahan?" Bhiyan balas bertanya.

Adelia mengangguk di bahu Bhiyan. Air matanya kembali meluncur jatuh. Dadanya benar-benar terasa sesak mengingat kejadian tadi. Ia benar-benar kecewa dengan Luna. Namun satu sisi ia merasa menyesal dengan apa yang ia perbuat.

Bhiyan mengangkat tangannya, jemarinya bergerak menekan tuts piano. Suara yang dihasilkan terdengar begitu bahagia.

"Aku temanmu, kita berteman. Jalinan persahabatan yang terbentuk lama. Senang sedih kita lalui bersama."

"Aku sakit melihatmu bersedih. Bersandar lah di pundakku, sayang. Aku akan mendengarkan ceritamu." Ia menekankan tuts panjang. Permainan pianonya yang singkat itu selesai.

"Karya Bhiyan Adiaksa." Bhiyan menyunggingkan senyumnya.

Walaupun sekedar improvisasi, lagu yang barusan Bhiyan mainkan terdengar begitu indah.

Adelia kemudian menghapus jejak air matanya.

"Gue marahan sama Luna."

Bhiyan tampak kaget, ia menelan ludahnya.

"Enggak sampai pukul-pukulan kan?" Tanya Bhiyan yang mendadak risau.

Adelia menggeleng lemah, "enggak." Namun sejurus kemudian ia menyorot Bhiyan tajam. "Kenapa lo sampai harus berpikiran kalau marahannya kami berdua sampai tonjok-tonjokan?"

Bhiyan terkekeh kecil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah... kan lo berdua itu cewek dengan jenis spesies yang berbeda dari cewek lain kebanyakan." Ucap Bhiyan dengan nada suara sekecil mungkin. Namun Adelia sedikit mendengar beberapa kata yang Bhiyan ucapkan.

"Apa!?"

"Yang namanya persahabatan, marahan itu wajar terjadi. Lo tahu enggak, terkadang kita butuh marahan sama sahabat sendiri." Bhiyan langsung memotongnya. Ia tidak ingin tubuhnya sampai menjadi bantalan samsak Adelia nantinya.

"Beberapa konflik pasti selalu terjadi dalam hubungan persahabatan. Wajarnya itu terjadi karena selisih pendapat. 'bagaimana kalau aku begini?' 'enggak bisa! Kamu enggak boleh. Itu bukan yang terbaik buat kamu!'."

"Lo tahu enggak, sahabat itu gue anggap sebagai pengganti orang tua." Bhiyan berhenti sejenak. "Layaknya orang tua, dia tahu mana sesuatu yang buruk, maupun yang terbaik untuk kita. Walaupun pendapat mereka berlawanan dengan pendapat kita. Tapi, itu sudah membuktikan kalau mereka benar-benar peduli dengan kita."

Adelia benar-benar tahu kalau Luna peduli dengan dirinya. Tapi ia sama sekali tidak suka dengan pemikirannya. Apa ia harus menyudahi hubungannya dengan Bhiyan?

Tidak bisa.

Adelia benar-benar menyukai Bhiyan. Ia tidak bisa hanya menuruti perkataan Luna maupun orang-orang di sekitarnya. Ia hanya ingin bisa mengambil keputusannya sendiri tanpa adanya halangan dari pihak manapun termasuk sahabatnya sendiri.

"Pesan gue cuma satu Del," Adelia menyimak perkataan Bhiyan. "Kalian mungkin berselisih dengan pendapat kalian masing-masing. Tapi, persahabatan kalian berdua harus tetap terjalin. Lo enggak akan pernah tahu rasanya hidup tanpa seorang sahabat."

Adelia mengangguk mengerti. Pastinya hidup akan terasa sepi tanpa adanya sahabat.

Jika kondisi sudah membaik, ia akan berbicara pada Luna.

"Gue tahu, lo itu akan membela mati-matian pendapat yang lo anggap benar. Dan gue tahu kalau pendapat lo itu bukan hasil dari pemikiran kurang satu hari. Optimis dengan pemikiranmu, kamu akan mendapatkan hasilnya di kemudian hari."

Adelia mengangguk dengan perkataan Bhiyan. Mulai saat ini, ia akan selalu berteguh dengan pemikiran yang ia anggap benar.

"By the way, Lo cantik Del."

Adelia terpaku sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

Bhiyan baru saja memujinya. Padahal hal itu yang paling Adelia inginkan darinya. Tujuan dirinya mengubah cara berpakaiannya karena ia ingin mendapatkan pujian dari Bhiyan. Namun, ia tidak merasa terkejut sama sekali dan justru menganggapnya biasa saja. Bhiyan pasti menyampaikan apa yang Alissa sampaikan padanya.

Bagaimana pun, Bhiyan sudah berusaha dengan caranya.

"Makasih Bhi."

Bersambung...

Maaf ya update-nya lama :(

Sebenarnya enggak tega bikin Adelia seperti ini. Pengennya bikin cerita mereka lempeng-lempeng aja. Enggak ada halang-rintang lagi. Tapi otak saya yang durjana ini selalu memberikan ide-ide seperti itu.

Harap maklum 😈

See ya

Continue Reading

You'll Also Like

156K 4K 43
[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Spiritual-Romance *** Kisah cinta dari Assyifa Humaira yang berusaha mengambil hati dari seorang Gibran Alfarizi yang tidak...
1.5M 134K 64
[Spiritual | Romance] Bagaimana rasanya di benci seseorang? Menyakitkan bukan? Itulah yang perempuan itu rasakan. Shafiya Aila Humaira yang menyimpan...
17K 2K 54
[SELESAI & REVISI] "ajari aku untuk menjadi perempuan yang baik, Ananta" ~Abelia Athallah "Ajari aku juga untuk menjadi lelaki yang sebenarnya, Abel...
2.7K 1.5K 14
SEBELUM BACA,UTAMAKAN VOTE TERLEBIH DAHULU YA, JANGAN LUPA FOLLOW JUGA ( UP CERITA SESUAI MOOD:( ) ============================= Dia yang sama...
Wattpad App - Unlock exclusive features