Nyanyian Rindu

By Ameniq

304 51 30

{ Estrella projects } "Lo ... suka sama Vista?" "Nggak." "Lalu kenapa lo pacaran sama dia?" "Karena pengen ja... More

Prakata
satu
Dua
Tiga
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Sepuluh
Sebelas
Dua belas
Tiga belas
Empat belas
Lima belas
Enam belas
Tujuh belas
Delapan belas
Sembilan belas
Dua puluh
Dua puluh satu
Dua puluh dua
Dua puluh tiga

Empat

14 3 0
By Ameniq


Cinta itu selain bikin senang, juga kenyang. Buktinya doi sering traktir makan, hohoho.












Niken mengembuskan napasnya sekali lagi. Melirik seseorang di sampingnya dengan malas. Cowok keras kepala alias tidak nurut. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya, sang ketua kelas paling kece badai se-Estrella high school, Sivel. "Vel, lo ke kantin dulu aja, gue belakangan," ucap Niken sekali lagi.

"Lo itu, kalo udah nugas gini pasti lupa makan! Gue nggak mau ngantin, biar kelaparan bareng," tolak Sivel lebih keras kepala. Sivel, pikir hanya Niken saja yang bisa keras kepala? Dirinya juga bisa, ck.

"Salah sendiri pilih gue jadi sekretaris!" ketus Niken. Jadi, sepuluh menit sebelum bel berbunyi Niken disuruh menulis di buku absensi kelas. Sebenarnya bisa dikumpulkan besok lalu minta tanda tangan wali kelas, tapi dasarnya Niken tidak suka menunda pekerjaan jadi, dia menulis sekarang.

"Oke, salah gue lagi. Hobi lo berubah ya, Ken?"

"Nggak. Gue tetep suka baca."

"Dan nyalahin gue!" ketus Sivel yang kemudian beranjak pergi keluar kelas.

Niken mengangkat kepalanya, menatap kepergian Sivel dengan sendu. Sivel, seseorang yang mampu membuat Niken nyaman karena keberadaannya. Membuat Niken tersenyum meski sedih menampar dirinya. Menggenggam tangan Niken memberi kekuatan dan berada di samping Niken memberi perlindungan.

Sebenarnya perut Niken sudah menyanyi dari tadi, tapi Niken malas ke kantin apalagi dengan Sivel. Tidak kenyang karena makanan, tapi karena ghibahan. Malas sekali bukan.

Siapa yang tidak kenal Sivel? Cowok dengan sejuta pesona. Diam aja udah keren, ganteng dan manis. Apalagi senyum? Rasanya kayak makan gulali deh. Namun sayang, Sivel tak sadar akan pesonanya. Dirinya terlalu sibuk dengan Niken, gadisnya. Membuat Niken merasa bersalah dan minder sendiri. Alasan lain Niken membawa bekal adalah dia tidak ingin mendengar obrolan apapun tentang dirinya dan Sivel. Jadi, bisa kenyang tanpa keluar kelas.

Pernah suatu hari ketika Niken dan Sivel berjalan beriringan saat akan ke kantin. Bisik-bisik terdengar jelas bahkan tanpa menguping, membuat Niken mendengus. Hobi yang menjadi kebiasaan di Estrella high school, yaitu membicarakan dirinya dan Sivel ketika terlihat bersama. Anehnya Sivel pun tak pernah menegur atau melabrak langsung. Sivel hanya menutup telinga Niken dan melanjutkan perjalanan.

"Sivel kena pelet kali, ya, kok bisa-bisanya dia deket sama Niken yang nggak ada manis-manisnya sama sekali. Bahkan levelnya jauh di atas Sivel."

"Kena guna-guna, tuh."

"Atau disantet."

"Hush ngawur! Kalian semua salah. Pasti Sivel dihipnotis."

Saat Niken menundukkan kepalanya, Sivel menggenggam erat dan berkata, "Mau makan apa?"

'Merusak suasana banget. Hibur kek, tanya keadaan gue atau bikin joke receh, ini malah tanya mau makan apa. Kesel. Pengen tak hihh,' batin Niken.

"Makan mereka," ketus Niken. Bukannya menjawab, Sivel malah tertawa terbahak. Memegang pundak Niken dan perutnya. "Ketawa lagi." Niken berjalan cepat meninggalkan Sivel. Hatinya sungguh dongkol. Tidak bisakah Sivel memberi sedikit pelajaran saja kepada mereka sang penghibah? Atau otak mereka blank makanya yang keluar omongan kotor aja.

"Kenapa gue ditinggalin?" tanya Sivel ketika dirinya berhasil menyamai langkah kaki Niken. Untung kakinya panjang jadi cepet ngejarnya. Coba sama pendeknya dengan Niken, bisa-bisa mereka kejar-kejaran dan telat makan.

"Lo rese, udah tau mereka ngomongin yang jelek-jelek tentang gue, bukannya belain ini malah nanyain makan apa? Nggak ada hati lo," sengit Niken.

Tersenyum, Sivel meraih kedua pundak Niken supaya menghadapnya. "Kenapa gue tanya itu dan nggak nenangin hati, lo? Itu karena gue tahu bahwa lo nggak gitu. Lo istimewa bagi gue dan itu alasan yang cukup buat lo tetap disamping gue."

"Jadi?"

"Biarkan mereka berbicara, tapi tutup telinga dan otak lo dari perkataan mereka. Oke?" Niken mengangguk. Simpel bukan? Tapi, mampu membuat hati Niken adem ayem. "Sekarang kita makan, gue laper dan lo yang bayarin."

"Kok gitu?"

"Karena lo udah bikin gue kelaparan."

"Mereka yang bikin kesel kenapa gue yang traktir?" tanya Niken yang tidak dipedulikan Sivel. "Sivel! Ihh, rese lo." Niken berlari kecil mengejarnya.

Niken tersenyum mengingat momen itu. Sivel tak pernah mendengar bisikan yang menurutnya tidak penting. Apalagi itu tentang Niken, Sivel tak pernah menghiraukannya. Sivel tipe cowok yang tak suka menghakimi seseorang. Apalagi tentang hati, bukan Sivel sama sekali.

"Makan," ucap Sivel tanpa bisa dibantah.

Lamunan Niken buyar ketika aroma mie ayam menyeruak, memasuki indera penciumannya. "Eh ...," ucap Niken kaget mendapati seporsi mie ayam ada di hadapannya.

"Makan, Ken. Bukan eh."

Mengambil sumpit, Niken bertanya, "Kok diijinin dibawa ke kelas?"

"Karena gue ganteng," ucap Sivel penuh percaya diri. Mengaduk mienya lalu memasukkan sedikit demi sedikit ke mulutnya. Perutnya sudah sangat kelaparan jadi dia tidak menunda untuk melahapnya.

"Iyain aja, biar kenyang perut gue."

Sivel makan sambil melirik Niken. Tak pernah dirinya secandu ini terhadap seorang cewek. Namun, Niken dapat memikatnya hanya satu minggu sejak keduanya berkenalan di awal masuk kelas dua. Saat itu Niken terpilih menjadi sekretaris kelas dan Sivel ketua kelasnya. Karena mereka sering bersama membuat Sivel mengenal Niken lebih banyak dan lebih dekat.

Kepribadian Niken yang berbeda dari cewek lain yang pernah dikenalnya membuat Sivel menaruh hati pada Niken. Memberikan ruang tersendiri di hati Sivel. Meski kadang keributan tak penting sering terjadi. Terlepas dari itu semua, Niken penuh perhatian.

"Enak banget bisa makan di kelas," ucap Nando saat akan duduk. Nando mengucapkan seperti itu ketika berhasil melirik kesibukan dua insan itu.

"Yang traktir anak sultan," jawab Niken disela suapannya. Sivel tertawa kecil mendengar penuturan Niken.

"Nggak ngantin, lo?" tanya Sivel pada Nando.

"Males. Rame banget."

Terlihat dari ujung mata Niken, Nando mengeluarkan kotak makan lalu membukanya. "Wah, lo bawa bekal?" tanya Niken dengan takjub.

"Yup."

"Lo nggak malu?"

"Malu?" Nando mengernyit bingung, pertanyaan yang aneh.

"Karena lo cowok, dan bawa bekal." Niken mengangkat alisnya sambil nyengir. Ia pikir pernyataan itu betul dan tidak salah sama sekali.

"Yang perasaannya belum terbalas aja nggak malu buat deketan terus. Jadi, alasan apa yang membuat gue malu?"

"Sialan, lo," maki Sivel pada Nando. Melempar kerupuk ke arah Nando. "Belum tau aja anak Estrella kalo kapten basket favorit mereka ini anak mama."

"Anak mama?" tanya Niken dengan kebingungan. Membuatnya berhenti sejenak dari kegiatannya.

"Yup. Kapten basket kebanggaan Estrella ini anak mama banget, buktinya dia bawa bekal dan ...."

"Bilang aja kalo pengen."

"Mie ayam gue lebih mengenyangkan."

"Ya udah, makan. Ngapain liatin gue."

Niken tertawa kecil. Ternyata Nando anak yang asyik, tapi memang perlu usaha untuk mengetuk hatinya. Dari sini Niken sadar bahwa semua yang terlihat tak seperti kenyataan. Keributan kecil di sampingnya membuat Niken memasuk area baru. Tak sadar mereka lah yang akan mengubah hidup Niken.

"Mau, Ken?" Nando menyodorkan sandwich di depan wajah Niken membuat lamunannya buyar.

"Niken aja yang ditawari?" protes Sivel.

"Lo kan udah makan mie."

"Niken juga!"

"Lo cemburu?"

"Nggak!"

"Berarti lo iri."

"Gue enggak!"

"Udah udah. Cepetan habisin. Bentar lagi bel. Nando, makasih ya, gue makan mie ayam aja. Kasian yang udah gotong mie ayam dari kantin sampe kelas," ucap Niken terkekeh. Melerai perdebatan mereka yang seperti anak kecil. Lagipula jam istirahat akan habis jadi, mereka harus cepat makan sebelum dapat hujatan netijen.

"Lo kira orang meninggal," sungut Sivel kesal.

"Makasih Sivel yang ganteng se-Estrella." Niken tersenyum sembari mengedipkan kedua matanya dan dihadiahi lemparan kerupuk oleh Sivel. "Kok dilempar sih?"

"Sok manis.  Abisin cepetan! Keburu yang lain lihat terus lapor."

"Siap, Bos!"


Continue Reading

You'll Also Like

2.4K 82 18
DEAMERS THE GENG
28K 779 51
"untung cewek gua lebih cantik daripada Angel, kalo enggak pasti udah gua duain del" sindir Nikol
2.6K 541 7
"Gue emang belum suka dia, tapi entah kenapa gue selalu pengen ngelindungin dia dari apapun" batin Agrastian.
42.6K 1.2K 29
"Emang Om ngga malu pacaran sama anak SMP?" "Berhenti panggil gue 'Om', gue masih SMA!"
Wattpad App - Unlock exclusive features