Another Love

By Gitacnd

207K 16.3K 1.2K

Rank #1-Haruno 01/07/2019 Rank #5-Hinata 16/07/2019 Tentang Sakura yang harus menerima kenyataan pahit bahwa... More

Another Love - 01
Another Love - 02
Another Love - 03
Another Love - 04
Another Love - 05
Another Love - 06
Another Love - 07
Another Love - 08
Another Love - 09
Another Love - 10
Another Love - 11
Another Love - 12
Another Love - 13
Another Love - 14
Another Love - 15
Another Love - 16
Another Love - 17
Another Love - 18
Another Love - 19
Another Love - 20
Another Love - 21
Another Love - 22
Another Love - 23
Another Love - 24
Another Love - 25
Another Love - 26
Another Love - 27
Another Love - 28
Another Love - 29
Another Love - 30
Another Love - 31
Another Love - 32
Another Love - 33
Another Love - 34
Another Love - 35
Another Love - 36
Another Love - 37
Another Love - 38
Another Love - 39
Another Love - 40
Another Love - 41
Another Love - 42
Another Love - 43
Another Love - 44
Another Love - 45
Info Penting

Another Love - 46

4.2K 217 42
By Gitacnd

"Apa kau menyukai Hinata?"

Naruto kembali menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia pun terkekeh pelan. "Aku? Menyukai Hinata? Apa aku terlihat menyukai Hinata? Bukankah aku hanya menjalankan rencana kita?"

"Aku mendekati Hinata agar ia tidak lagi mengganggu hubunganmu dengan Sakura, bukan? Agar ia dapat melupakanmu dan membatalkan pertunangan kalian. Dan satu lagi, aku tidak mempunyai rasa apa pun pada gadis itu." Naruto berbicara tanpa mengetahui kehadiran dua orang perempuan yang berada di ambang pintu kelas.

Siapa lagi kalau bukan Sakura dan Hinata?

Sakura membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan Naruto yang terdengar olehnya karena jarak meja pemuda itu dekat dengan pintu kelas. Sakura kemudian menatap ke samping, tepatnya ke arah Hinata.

Terlihat wajah cantik sahabatnya itu sama terkejutnya dengan wajah miliknya. Tak lama ia dapat melihat setitik air mata yang jatuh dari mata Hinata.

Hinata balas menatap Sakura lalu ia pun pergi berlari meninggalkan gadis berambut merah muda tersebut.

"Hinata!"

Sakura hendak mengejar Hinata, namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis yang menghampirinya.

"Ada apa, Sakura? Kenapa Hinata berlari?" tanya gadis tersebut. Ia bingung melihat Hinata berlari dengan lelehan air mata dan Sakura yang mencoba mengejarnya.

"Shion, aku harus menyusul Hinata." setelah mengucapkan hal itu, Sakura langsung berlari untuk menyusul Hinata.

"Tapi, Sakura- tunggu!" mengikuti langkah Sakura, Shion pun mengikuti Sakura hingga keduanya sampai di depan gerbang sekolah.

"Hinata!" teriak Sakura, ia masih bisa melihat Hinata yang berada tak jauh di depannya. Sakura terus berlari namun Hinata sudah terlebih dahulu menghentikan sebuah taksi dan pergi meninggalkan sekolah.

"Hinata! Tunggu!" Sakura menghentikan langkahnya disusul oleh Shion. Keduanya mencoba untuk mengatur napas sejenak setelah mereka berlari.

"Sial, ini benar-benar kacau." ucap Sakura.

"Sebenarnya ini ada apa, Sakura?" tanya Shion yang masih belum mengetahui ada hal apa yang terjadi diantara mereka berdua.

"Naruto! Ini semua karena dia!" balas Sakura dengan raut kesal karena ucapan Naruto yang masih bisa ia ingat jelas.

"Naruto? Kenapa dengannya?"

Sakura menghembuskan napasnya pelan, ia kemudian melihat ke sekitar sekolah. Sudah tidak ada murid yang berlalu lalang karena jam pelajaran pertama sudah dimulai. Ia lupa jika bel masuk sudah berbunyi.

"Aku akan menceritakannya nanti. Lebih baik kita kembali ke kelas sebelum guru datang." ucap Sakura.

Shion mengangguk menyetujui. Keduanya lalu berjalan kembali ke kelas. Mereka mendesah lega ketika melihat sang guru belum datang ke dalam kelas.

Sakura sempat melirik ke arah meja Sasuke dan Naruto. Kedua pemuda tersebut balik menatap dirinya. Namun gadis itu lebih memilih untuk membuang pandangannya.

***

Hinata membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali dengan kasar. Air mata masih mengalir di pipinya. Ia kemudian berbaring di atas kasur sambil memeluk sebuah bantal.

Aku mendekati Hinata agar ia tidak lagi mengganggu hubunganmu dengan Sakura, bukan?

Dan satu lagi, aku tidak mempunyai rasa apa pun pada gadis itu.

Ucapan Naruto masih tergiang jelas dipikirannya. Hinata kembali terisak mengingat hal itu. Ia tak menyangka jika Naruto mendekatinya hanya sebuah rencana agar dirinya tidak lagi mengganggu hubungan Sakura dan Sasuke.

Ia pikir Naruto tulus mendekati dirinya. Padahal Hinata sudah mencoba membuka hati untuk pemuda tersebut. Dan ketika ia telah membuka hati sepenuhnya, gadis itu malah mendapati hal yang tak pernah ia bayangkan sendiri.

Mata indahnya tak sengaja menatap sebuah boneka yang tersimpan di meja belajarnya. Itu adalah boneka pemberian Naruto ketika ia dan pemuda itu pergi bersama. Apakah itu bisa dikatakan berkencan? Hinata tersenyum kecut. Mungkin hanya ia yang menganggapnya sebagai kencan. Tapi tidak dengan Naruto, bukan?

Naruto tidak tahu bagaimana perasaan Hinata ketika itu. Jantungnya selalu berdebar keras karena gadis tersebut belum pernah diperlakukan manis seperti itu oleh seorang pemuda.

Hinata tak kunjung menghentikan tangisannya dan semakin erat memeluk bantal. Mengingat semua perlakuan manis Naruto pada dirinya hanya membuatnya semakin sakit hati karena semua itu hanyalah sandiwara untuknya. Karena terlalu lama menangis, gadis itu pun tertidur.

***

"Apa maksudmu mengatakan hal itu, bodoh?!" bentak gadis berambut merah muda pada pemuda di depannya.

"A-aku tidak bermaksud.."

"Jadi semua perlakuanmu pada Hinata hanya sandiwara?! Benar begitu?!" Sakura semakin menyudutkan Naruto.

"Sakura, sabarlah." Sasuke ikut untuk menenangkan kekasihnya. Pemuda itu benar-benar terkejut ketika bel istirahat berbunyi, Sakura dengan cepat menarik Naruto keluar dan berakhirlah mereka disini, di taman sekolah.

"Bagaimana aku bisa sabar, Sasuke-kun?" ucap Sakura. Ia menatap kedua pemuda di hadapannya dengan pandangan kecewa.

"Sebenarnya apa rencana kalian berdua? Kenapa kalian melakukan hal ini?" ucap gadis itu pelan namun masih bisa didengar.

Sasuke mengelus pelan punggung Sakura. "Kami akan menjelaskannya padamu." pemuda itu mengajak Sakura untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

Sementara Naruto dan Shion yang ikut menyaksikan hal tersebut hanya bisa terdiam tanpa berucap apa-apa.

Setelah beberapa menit Sasuke menjelaskan hal tersebut pada Sakura, gadis itu hanya terdiam dan mendengarkan ucapan kekasihnya dengan seksama. Sakura bingung haruskah ia menyalahkan keduanya atau tidak. Karena rencana itu pula, hubungannya dengan Sasuke kembali baik-baik saja. Namun sekarang Hinata yang sedang mendapat masalah.

Tak dapat dipungkiri walaupun Hinata pernah mencoba untuk merebut Sasuke darinya, tapi Sakura tahu jika sahabatnya itu sudah sepenuhnya berubah. Dan ia yakin Hinata sudah tidak mempunyai rasa cinta pada Sasuke, mengingat Hinata mencoba untuk membuka hati pada cinta pertamanya.

"Lalu bagaimana dengan Hinata? Ia pasti sakit hati telah dipermainkan oleh kalian berdua." ucap Sakura. Gadis itu kesal melihat Naruto hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Sakura beranjak dari duduknya menghampiri Naruto. "Naruto, aku ingin memberi tahu sesuatu padamu." ucapnya menatap Naruto dalam-dalam.

Naruto membalas tatapan Sakura.

"Hinata adalah cinta pertamamu yang kau cari."

Naruto membelalakkan matanya. Ketika ia ingin membuka mulut, Sakura malah berjalan meninggalkannya. "Tunggu, Sakura!"

"A-apa maksudmu?" Naruto mencoba menyusul Sakura namun Shion menghalanginya.

"Sudahlah, Sakura mungkin sedang butuh waktu sendiri. Aku akan menenangkannya. Kalian berdua jangan khawatir." ucap Shion yang diangguki oleh Sasuke. Lalu tak lama gadis itu pun pergi.

Kini hanya tersisa Naruto dan Sasuke di sana. Naruto menatap ke arah Sasuke. Sasuke yang mengerti tatapan sahabatnya itu pun langsung membuka mulut.

"Ya, Hinata adalah cinta pertamamu." ucap Sasuke.

"B-bagaimana bisa?" ucap Naruto yang belum yakin jika Hinata lah cinta pertamanya.

"Tentu saja bisa."

"Aku tidak yakin. Dari mana kau tahu?" ucapan Naruto membuat Sasuke mendengus kesal.

"Kau tahu apa yang membuat Hinata membatalkan pertunangan kami?" ucap Sasuke, Naruto menggelengkan kepalanya.

Sasuke kemudian menjelaskannya dari awal ketika Hinata menyetujui pertunangan hingga pembatalan karena kemauan gadis itu sendiri. Sementara Naruto hanya mendengarkan.

Naruto merasa menyesal kenapa dari awal ia sama sekali tidak mengingat apa-apa pada gadis itu. Ia baru menyadari jika rambut Hinata sama persis dengan gadis yang ditemuinya ketika mereka masih kecil.

Naruto hanya bisa menatap nanar pada sebuah gelang yang melingkar di tangannya.

***

Sakura lebih banyak terdiam hari ini. Ia sudah mencoba menghubungi Hinata, namun sahabatnya itu tidak mengangkatnya sama sekali. Pesan pun tak ada yang dibalas. Sakura sangat khawatir. Dipikirannya hanya ada Hinata, bahkan Sakura tidak bisa fokus pada pelajaran di depannya hingga waktu pulang sekolah pun tiba.

Sakura membereskan barang-barangnya dengan lesu. Ia hanya terdiam melihat Sasuke menghampiri mejanya. "Kita pulang." ucap kekasihnya itu.

"Tidak. Aku ingin menemui Hinata." balas Sakura.

"Hinata sedang butuh waktu untuk menyendiri. Percuma jika kau menemuinya, Sakura." Sasuke mencoba membujuk Sakura. Ia mengelus rambut merah muda milik kekasihnya itu.

Sakura menghela napasnya pelan. Mau tak mau ia harus mengikuti ucapan kekasihnya.

"Lebih baik kau pulang dan bilang pada orangtuamu. Bukankah kita akan mengadakan makan malam bersama?" ucap Sasuke membuat Sakura menepuk kepalanya pelan karena melupakan hal penting tersebut.

"Aku lupa Sasuke-kun!" Sasuke tersenyum kecil melihat gadisnya itu.

"Ini semua karena kau terus memikirkan Hinata. Apa Hinata lebih penting daripada makan malam bersamaku?" Sasuke mencoba menggoda Sakura. Pemuda itu gemas melihat Sakura yang cemberut.

"Bukan begitu Sasuke-kun. Kalian berdua tentu saja sama-sama penting. Hinata sahabatku dan kau kekasihku." balas gadis itu.

Sasuke hanya terkekeh kecil. "Ayo kita pulang."

***

"Orangtua Sasuke-kun mengajak Ayah dan Ibu untuk makan malam bersama." ucap Sakura membuat Mebuki dan Kizashi saling menatap satu sama lain.

"Bagaimana? Apakah kalian menyetujuinya?" ucap Sakura yang sangat berharap.

Mebuki tersenyum dan mengelus pelan lengan putrinya itu. "Tentu saja kami akan datang."

"Benarkah?"

"Tentu saja, putriku. Kalau begitu, sebaiknya kau segera bersiap. Ayah dan Ibu pun akan segera bersiap." ucap Kizashi.

"Baiklah Ayah, Ibu." balas Sakura. Ia beranjak menuju kamarnya dengan perasaan yang membuncah.

Sedangkan Mebuki dan Kizashi hanya menatap putrinya itu dalam diam.

"Sudah waktunya kita tahu."

TBC


Kira-kira apa yang bakal terjadi di chapter selanjutnya?

Jangan lupa vote dan comment ya, supaya aku semangat update, hehe.

Continue Reading

You'll Also Like

38K 2.3K 16
___________________________ Ikatan yang membelenggu takdirnya itu memang sudah hadir semenjak dirinya lahir. Ketika dirinya beranjak dewasa, Sasuke s...
82.9K 4.3K 18
Haruno sakura kekasih Uchiha sasuke namun bagaimana jika sasuke malah dijodohkan dengan karin kakaknya? # 1 - SasuSaku - (09/06/21) # 2 - UchihaSasuk...
130K 11.1K 19
"Sakura?" "Ya?" Sepasang onyx gelap itu membulat ketika seorang wanita bersurai merah muda membalikan tubuhnya dan tersenyum ke arahnya. "Maaf, anda...
203K 8.1K 25
[SLOW STORY] [SLOW UPDATE] Jangan katakan jika kau membencinya bahwa yang sebenarnya perasaan kau sesungguhnya adalah mencintainya. Dulunya kau meng...
Wattpad App - Unlock exclusive features