Avisha celingukan mencari keberadaan Anya yang entah di mana, sekolah lain sudah datang untuk mengikuti lomba hari ini, dan jadwal lomba hari ini adalah LCC, baca puisi, cipta cerpen, dan drama. Sedangkan Avisha tidak minat sama sekali untuk menyaksikan lomba tersebut, karena itu bukan passionnya.
"Dorrr!"
"Nggak kaget," ujar Avisha dengan malas, lalu ia memutar tubuhnya dan melihat seseorang yang telah menepuk pundaknya sangat keras.
"Pura-pura kaget gitu, bikin gue malu aja lu!" ujar Anya sembari menggaruk tengkuknya
Avisha menghela nafas panjang, kini ia melirik kelas sebelas IPA dua yang digunakan untuk lomba LCC Alano.
"Sabar kali Mbak, ngebet banget pengen ketemu!" ujar Anya seakan tahu apa pikiran Avisha
"Gue sabar kok, cuma kangen aja!"
"Sama aja!" lirih Anya, "udah yuk ah kita mejeng ke kantin."
Avisha mengangguk, mengikuti langkah Anya yang membawanya menuju kantin, sepanjang perjalanan mereka berbincang mengenai rencana liburan Anya yang bisa dibilang mengesankan.
Yah, Anya akan berangkat seminggu setelah lomba selesai, dan akan membelikan banyak oleh-oleh untuk Avisha, itu yang Avisha harapkan.
Kini langkah mereka melewati kamar mandi perempuan, namun langkah mereka terhenti ketika mendengar isakkan tangis yang sangat begitu jelas. Avisha begidik ngeri, banyak orang yang fokus dengan lomba dan melewati toilet begitu saja, tapi setan apa yang menangis begitu keras seperti ini.
Avisha menggenggam erat tangan kanan Anya, "jurik Nya, gue hitung sampe tiga nanti kita lari bareng-bareng ya!" lirihnya dengan wajah yang sangat cemas
Anya melepas tangan Avisha yang menggenggam erat, "lo nggak bisa bedain suara tangis setan sama manusia?"
"Lo bisa bedain?" tanya Avisha dengan lugu
Anya memutar bola matanya malas, kok bisa temannya jadi lurusan seperti ini, padahal bisa di bilang suara isakkan tangis itu sangat jelas suara manusia, "kita liat!"
"Nggak! Lo aja sana, gue nggak mau mati muda!"
"Siapa yang mati sih, ikut gue!" sergah Anya, bahkan kini ia menarik paksa lengan Avisha meski beberapa kali ia berontak
Laganya saja berani membunuh kecoa, tapi sama setan yang belum tentu benar saja takut.
Pintu kamar mandi tak terkunci, dengan mudah Anya membuka pintu tersebut, namun saat pintu di buka mereka menyaksikan seseorang perempuan yang duduk sembari memeluk lututnya, air matanya berderai.
"Aril?" seru Avisha, segera ia mendekat dan membantu Ariala berdiri
"Lo kenapa? Lo sakit? Lo abis di bully? Lo disakitin siapa Aril ko bibir lo berdarah?" tanya Avisha panjang lebar
Namun Anya mengambil alih tubuh Ariala yang berada dekat dengan Avisha, "kita bawa Aril ke UKS, Sa. baru nanti lo tanya ada apa!" tutur Anya
Avisha mengangguk ia mulai mengikuti langkah Anya dan Ariala menuju UKS.
***
Nafas Avisha tersenggal karena ia berlari dari kantin menuju UKS untuk membeli teh hangat sesuai permintaan Anya, sesampainya di depan pintu UKS Avisha menghela nafas sejenak lalu membuka knok pintu.
"Nihh," Avisha menyerahkan satu kantong plastik ke hadapan Anya
Anya dengan segera menuangkan teh hangat tersebut ke dalam gelas dan menyerahkannya ke Ariala, "diminum, Ril!"
Ariala mengangguk, ia meneguk teh hingga setengah gelas, lalu meletakkan gelas tersebut dia atas nakas.
"Sebenernya lo kenapa sih, Ril? Lo bisa minta tolong sama kita kalo lo ada masalah," ujar Avisha
"Tadi gue udah tanya, Sa. kata Aril ini masalah dia dan kita nggak perlu tau," jawab Anya
"Kenapa? Lo nggak percaya sama gue?" tanya Avisha sembari menatap Ariala, "gue tau ini urusan pribadi lo, tapi udah lama gue liat lo menderita kayak gini dan gue harus diem gitu? Sorry nih Ril bukannya apa-apa tapi gue rasa lo nggak bisa hadepin masalah lo!"
"Sa!" tegur Anya dengan pergerakan mulutnya
"Biarin, ini semua gue lakuin karena gue peduli Ril bukan kepo! tapi terserah kalo lo tolak tawaran gue!"
"Tapi dulu kamu sendiri yang ngasih tawaran, dan waktu itu aku pilih untuk cerita kalo masalah nya udah selesai kan?" lirih Ariala
"Iya, dan sampai sekarang lo nggak cerita jadi masalah lo belum selesai kan?"
"Tunggu! Sa lo ngajuin pilihan? Kok gue nggak tau?" sergah Anya
"Iya, pokoknya panjanglah ceritanya," ujar Avisha dengan malas, "Ril, sekarang lo boleh cerita!"
Ariala menghela nafas berat, kini tatapannya mengedar ke arah mereka berdua, "kalian janji bisa jaga rahasia ini?"
Pertanyaan Ariala sontak membuat mereka berdua mengangguk secara bersamaan, menatap serius seakan ingin sekali mendengar cerita Ariala.
"Aku abis di bully sama Farinka," lirih Ariala, tanpa sadar air matanya ikut mengalir bersamaan saat ia berkedip, "ini semua karena Reno!" teriak Ariala dibalik kedua telapak tangannya yang menutup wajah.
Anya mengelus pundak Ariala, mencoba menenangkan namun tatapan Avisha terus mengintimidasi seakan ingin tahu kelanjutannya.
"Bukannya lo sama Reno pacaran?" tanya Avisha
"Nggak, sama sekali enggak dia cuma manfaatin aku buat jatuhin Farinka! Aku cuma di peralat sama dia!" jelas Ariala dengan emosi yang sedikit reda
"Kalian tahu kan Farinka orangnya gimana? Reno itu berusaha jatuhin harga diri Farinka lewat aku," Ariala menjeda kalimatnya, "dia suruh aku buat jadi pacar pura-puranya."
"Kenapa lo mau?" tanya Avisha penuh emosi
"Karena kalo aku nggak mau gimana nanti sama perusahaan Papah? Perusahaan Papah aku sama perusahaan Reno bersaing ketat, terus kalo aku bantah semua kemauan Reno gimana nasib keluargaku?"
"Bokap lo tau?" tanya Anya
"Aku takut kalo Papah sampe tau, kalian nggak akan pernah tau kan posisi kaya gini?"
Avisha menghela nafas berat, ada banyak pertanyaan untuk Ariala, tapi mungkin pertanyaan ini lebih tepat, "gimana caranya jatuhin harga diri Farinka lewat lo? Dan apa untungnya Reno jatuhin harga diri Farinka?"
"Kalian tau Farinka sering buat ulah di sekolah ini, dan kalian tau nggak ada satu guru pun yang berani keluarin atau bahkan kasih skors ke Farinka, disini Reno bertindak dia mau jabatannya sebagai ketua OSIS lebih terpandang dan dipuji banyak orang!"
"Kalian ingat dimana Farinka nembak Reno terus aku ketahuan vidioin mereka?" tanya Ariala sembari menatap mereka
Mereka hanya mengangguk, dan terus menatap Ariala.
"Meskipun itu hp aku, tapi aku nggak ada niatan sama sekali buat ngrekam mereka, aku cuma diancam dan terus diancam sama Reno!" Ariala menjeda kalimatnya, "itu salah satu bahan buat rendahin harga diri Farinka."
"Farinka tahu lo pacar pura-puranya Reno?" tanya Anya
"Iya!" lirih Avisha
"Pantesan lo di bully sama Farinka and the gang!" sergah Avisha
"Yah, dan setiap aku di bully Reno nyuruh aku buat ambil vidio, tapi aku mana bisa, pernah aku coba justru hp aku di banting sampe retak!" jawab Ariala
"Buat apa vidio pembullyan lo kasih ke Reno?" tanya Anya
"Buat jatuhin harga diri Farinka, terus semua orang tahu kebusukan Farinka terus Farinka di keluarin dari sekolah terus semua orang berterimakasih sama Reno Karena dia udah jadi pahlawan buat lo dan buat kita semua!" tebak Avisha panjang lebar, ucapannya penuh emosi
Ariala mengangguk, "iya!"
"LICIK!" seru Avisha dan Anya bersamaan
Avisha emosi sendiri, ternyata ketua OSIS yang selama ini orang-orang banggakan memiliki jiwa kelicikan, entah bagaimana pola pikir Reno yang memperalat Ariala untuk menjunjung tinggi kedudukannya.
Otak Avisha berputar sesuatu, sesuatu yang dapat merubah keadaan, yah ini menurutnya.
"Aril!" panggil Avisha
Seketika tatapan Ariala mengadah, menatap Avisha yang tengah berdiri begitupun Anya.
"Gimana kalo kita buat rencana?" tawar Avisha
"Rencana apa?" lirih Ariala
"Ya rencana buat ungkap semua ini lah! Lo mau masa SMA lo buruk, tiap hari dibully dan di tekan Reno? Nggak mau dong?"
Ariala hanya menggeleng, benar apa kata Avisha masa putih abu-abu nya begitu suram, ia tak dapat tersenyum kembali seperti dulu.
"Udah deh to the point aja, Sa.ribet lu!" tekan Anya
"Oke, tapi syaratnya lo harus ikut Nya!"
"Gu- gue?"
"Iya dong, plis lah Nya ini demi temen lo, demi sahabat lo!" mohon Avisha dengan mata yang berkedip lucu
Anya seakan terhipnotis, meski sebenarnya ia tidak terlalu tertarik masuk ke permasalahan ini, tapi apa boleh buat.
"Oke!" pasrah Anya," terus gimana rencananya?"
Avisha menjentikkan jarinya ke udara, membungkuk untuk mengimbangi posisi mereka dan mulai menyusun rencana.
***
Next?
Biarin orang mau bilang apa, jadi judes tuh enak tau