Terakhir yang ia ingat adalah terjun bebas dari tembok sialan itu, tubuhnya mati rasa bahkan hanya bagian wajahnya saja yang dapat ia gerakan sedikit
'Aku sekarat' ujarnya sambil bermonolog
Ia kembali memejamkan matanya sambil menikmati bagaimana antara hidup dan mati
'Apakah kematian ku membayar mereka semua'
'Ah benar, selama ini pun aku tidak tau apa tujuanku terlahir'
'Apa seperti ini rasanya mati'
——-
Gadis itu membuka matanya perlahan , mata abu abu terbias biru itu dan raut wajah semi oriental nya terlihat begitu buruk saat ini. Ia mengadahkan matanya dan menatap tembok besar di depannya
'Aku .. masih hidup?'
"Apa kau baik baik saja?!" Ujar seseorang yang baru saja turun dari kudanya , rambut pirang dan bermata biru gadis itu berlari dan terduduk di sampingnya
'Wajahnya terlihat familiar' pikir gadis itu
"Kau, astaga lukamu parah sekali. Kenapa kau berada di luar tembok sendirian" ujarnya sambil mencoba menggendongku
"Ymir! Bantu aku !" Teriaknya pada seseorang yang juga baru saja tiba
'Ymir? Aku rasa pernah dengar nama itu'
"Nona! Bertahan lah!"
'Berisik, aku ingin mengistirahatkan otakku sebentar '
'Takdirku itu apa'
.
.
.
.
"Aree dia bangun !" Ujar seorang gadis yang sedang memakan roti di sampingnya
"Sasha tenanglah! Dia seorang veteran dari seragamnya!" Ujar gadis lain berambut pirang memperingati
"Apa dia berada di luar sana sendiri dengan 5 tubuh titan yang menguap?" ujar gadis berwajah oriental dan berambut hitam debahu
'Wajah itu!'
Gadis itu segera terbangun mengabaikan tulangnya yang berbunyi dan menatap mereka satu persatu. Otaknya bekerja keras memproses apa yang terjadi padanya sekarang
"Ano .. anda baik baik saja ?" Ujar gadis berambut pirang itu, ia menatapnya sebentar dan segera bertanya untuk memastikan
"Siapa nama mu?"
"N- nama ku Christa Lenz .." jawabnya sambil menatapku sedih.
"Aku sasha blouse .. salam kenal nona cantik " ujar gadis yang sibuk mengunyah rotinya
Sedangkan gadis berwajah oriental itu hanya menatap datar kepada mereka dan menyerap apa saja yang terjadi saat ini. Sialan otaknya bekerja sangat keras
"Aku mikasa ackermann .. " ucap gadis berambut pendek yang sedang menyender di pintu
'Aku berada di masa apa sebenarnya' gumamnya
"Ano .. kami memanggil Hanji san untuk kemari , anda seorang veteran jadi mungkin hanji san akan membawa anda ke markas veteran" ujar gadis yang bernama christa lenz itu
"Terima kasih" jawabnya singkat jelas dan padat
'BRAK'
Hanji zoe membuka pintu dengan kasar bersama moblit yang menemaninya di belakang
"Aku dengar ada veteran yang melawan 5 titan sendirian , dimana dia?" Tanya Hanji
"Hanji san ini ruang kesehatan " tegur mikasa
"Ah maaf maaf mikasa , aku terlalu bersemangat bertemu seseorang itu" jawab hanji
' waktu itu .. apa yang terjadi'gumam gadis itu menatap hanji
"Ah kau ternyata .. yaampun cantik sekali kau bahkan lebih cantik dari christa haha .." ujar hanji yang tiba tiba menepuk pundak ku
"H- hanji san pundaknya retak" tegur christa
"Prajurit terkuat ia pasti akan menangkap banyak titan untukku haha senang bertemu denganmu veteran , tapi aku baru saja melihat wajahmu saat ini .. rasanya aku tidak pernah melihatmu?" Tanya hanji
'Aku juga tak pernah melihat wajahmu' pikir gadis itu datar
"Tapi sepertinya ingatan ku saja yang buruk haha .. ayo kita akan menemui komandan erwin .." ujar hanji di susul tatapan heran gadis itu
'Komandan erwin?, bukannya dia'
"Dia masih hidup?" Tanya nya
"Hah tentu saja masih, selama dia belum memiliki pengganti dia tidak boleh mati!" Jawab hanji dengan berapi api
"Selain itu kenapa seragam mu berbeda ya , kemeja putih itu bukannya kekecilan?" Tanya hanji yang melihat seragam gadis itu tidak menutupi bagian perutnya tidak seperti kemeja putih biasanya hanji lihat
"Aku lebih leluasa seperti ini hanji san" jawabnya
Hanji menatap mata gadis itu dan berfikir sambil memegang dagunya
"Kenapa kau sekilas mirip levi ya? " tanya hanji
Seketika tubuh gadis itu menegang
'Levi? Apa tadi wanita itu mengatakan levi?' Pikir gadis itu dengan diam
"Hah dia lebih imut dari heichou .. benarkan mikasa?" Bantah sasha , sedangkan mikasa hanya memalingkan wajahnya lari dari tatapan mata sasha
"Haha .. benar juga , dia gadis yang cantik dan imut aku menyukainyaa" ujar hanji yang terlihat seperti melihat titan
"Ano .. hanji buntaichou, sebaiknya kita segera ke komandan erwin" moblit akhirnya membuka suara karena situasi yang tidak terkontrol
"Jaa .. kalau begitu ayo!" Ujar hanji yang agak menarik tangan gadis itu
Ia bersama hanji dan moblit meninggalkan ruangan kesehatan dan menuju ke kantor erwin smith
Mikasa melihat gadis itu dari belakang dan menangkap perasaan yang aneh saat melihat gadis itu
'Ah pasti lukanya sakit '
"Nee nee mikasa , tapi sebenarnya gadis itu mirip dengan heichou kan?" Ujar sasha
"Jangan berkata yang tidak tidak sasha .. tapi mungkin sedikit mirip" ujar Christa
"Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Jawab mikasa
"Gadis itu sangat terlihat seperti heichou!" Jawab keduanya bersamaan
'Hah?' Mikasa hanya menatap kedua rekannya datar
——-
Gadis itu menatap punggung hanji dengan gusar , apa alasan yang akan ia gunakan nanti. Bagaimana ia bisa berada di sini, ia hanya menunduk kan wajahnya lesu membiarkan poni didahinya memberi kesan suram
Hanji tiba di depan kantor Erwin smith dan menatap gadis itu yang terlihat seperti mayat hidup
"Moblit .. kau kembali mengurus cadet cadet baru itu, aku bersama gadis ini akan menghadap erwin" ujar hanji kepada moblit
"Di mengerti hanji san "
Hanji membuka pintu erwin dan terlihat erwin yang sedang mengerjakan beberapa tumpuk kertas dan seseorang yang sedang meminum teh di sofa kantornya
'Aku akan mati untuk kedua kalinya' runtuk gadis itu melihat sosok yang sedang minum teh di kantor erwin smith
"Yo levi kau ada di sini juga " sapa hanji kepada sang sosok yang sibuk meminum tehnya dengan memegang gelasnya aneh
"Gadis suram kedua " ucap levi kepada gadis itu
'Siapa yang pertama?' Gumam gadis tersebut
"Haha .. dia lebih cantik dari mikasa kan? " goda hanji
"Ck mata empat sialan" handik levi
Erwin hanya menatap ketiga orang yang berdebat di kantornya datar , lalu tatapannya beralih kepada gadis yang levi sebut berwajah suram. Seragamnya sedikit aneh, kemeja putihnya tidak menutupi perutnya yang ramping dan terlihat otot perutnya itu dan sepatu boots hitam semata kaki
"Kenapa seragam mu tidak memasuki aturan ?" Tanya erwin
"Aku nyaman seperti ini komandan , gerakan ku menjadi leluasa" jawab gadis itu dingin
"Baik .. siapa namamu?" Tanya erwin
Gadis itu terdiam dan terlihat ragu menjawab pertanyaan erwin
"Lascrea"jawabnya
"Teruskan .." ucap levi dengan menatap gadis itu sambil menyeruput tehnya
"Lascrea Ackermann"
Jawaban gadis itu membuat 3 makhluk tersebut diam seribu bahasa , bahkan levi menatapnya terkejut. Pasalnya ia hanya mengenal satu ackermann yaitu mikasa ackermann
Begitu mengejutkan mengetahui gadis di hadapannya adalah seorang ackermann , erwin masih sedikit ragu dengan gadis tersebut sehingga melontarkan beberapa pertanyaan kembali
"Pangkatmu terlihat tinggi , tapi aku tidak pernah melihatmu" tanya erwin
Gadis itu kembali terdiam dan menatap erwin datar
'Tatapan menusuk ini milik levi' gumam erwin
"Aku bekerja dari bayangan .. aku tidak tinggal di markas, hanya beberapa saat saja aku pulang" jawabnya
"Lalu komandan , aku akan memberitahu informasi mengenai titan hanya saja informasi ini milik anda sendiri"
"Bisakah kita berbicara secara private?" Lanjutnya
Erwin menatap gadis tersebut dan menghela nafas sambil melirik levi dan hanji untuk meninggalkan ruangan
"Cih.." levi meninggalkan ruangan begitu saja di tatap erwin
Sedangkan hanji mengikuti levi di belakang , padahal dia ingin tau sekali gadis ackermann ini
Lascrea duduk di sofa dengan erwin yang duduk di depannya sambil menatapnya serius
"Komandan erwin .. aku akan memberitahu tentang rahasia titan dan rahasia kehidupan yang berada di luar tembok" ujar Lascrea
Erwin agak sedikit terkejut dan tiba tiba tersenyum sadis
"T-tunggu .. kenapa anda tersenyum?" Tanya Lascrea keheranan
"Maafkan aku .. haha mari kita dengarkan informasi mu" jawab erwin dengan terkekeh pelan
"Tapi sebelum itu kau harus membuat janji seumur hidup dengan ku " lascrea agak menunduk dan siap menceritakan keadaannya kepada erwin smith