DO.NA [End]โœ“

Oleh sssnnn28

166K 15.7K 1.2K

Cinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam k... Lebih Banyak

1. DO.NA
2. DO.NA
3. DO.NA
4. DO.NA
5. DO.NA
6. DO.NA
7. DO.NA
8. DO.NA
9. DO.NA
10. DO.NA
11. DO.NA
12. DO.NA
13. DO.NA
14. DO.NA
15. DO.NA
16. DO.NA
17. DO.NA
18. DO.NA
19. DO.NA
20. DO.NA
21. DO.NA
22. DO.NA
23. DO.NA
24. DO.NA
26. DO.NA
25. DO.NA
27. DO.NA
28. DO.NA
29. DO.NA
30. DO.NA
31. DO.NA
32. DO.NA
33. DO.NA
34. DO.NA
35. DO.NA
36. DO.NA
37. DO.NA
38. DO.NA
39. DO.NA
40. DO.NA
41. DO.NA
42. DO.NA
43. DO.NA
45. DO.NA
44. DO.NA
47. DO.NA
48. DO.NA
49. DO.NA
50. DO.NA
51. DO.NA
52. DO.NA
53. DO.NA
54. DO.NA
55. DO.NA [END]

46. DO.NA

1.9K 255 56
Oleh sssnnn28


Pagi hari biasanya disibukkan dengan sekolah. Sakri dan Nais masuk ke kelasnya, sudah banyak orang disana. Sakri melemparkan tasnya ke meja lalu bersandar di meja.

"Kenapa?" Tanya Nais.

Sakri memasukkan tangannya ke saku celana "Gue bingung, kenapa Dita berubah"

"Ya mungkin dia lagi bete sama lo"

"Emang gue ngelakuin hal apa yang buat dia bete sama gue?"

"Bisa jadi saat kejadian lo di goda Wiesda sama Imel"

"Apa segitunya?"

"Perempuan itu susah di tebak. Kalau udah ngambek, di rayu aja salah. Di diemin salah, apalagi nggak ngasih kabar. Untung Salma nggak gitu"

"Kita ke kelas Dita" Sakri melenggang pergi ke kelas Dita.

Saat berada tepat di depan pintu kelas XII IPA 1, Sakri terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang.
Pertama kali melihat pemandangan dimana Dita tengah tertawa bersama Ervian. Mata Sakri merah padam menahan amarah, tangannya mengepal. Apalagi saat Ervian menyentuh pipi Dita.

Nais yang melihatnya pun ikutan panas. Nais mencegah Sakri untuk menghampiri mereka. Ditakutkan akan terjadi baku hantam. Toh, masalah ini bisa di selesaikan dengan cara baik dan tahu tempat.

"Gue makin benci sama si Kusuma. Dulu dia ngejar Yuna, sekarang dia goda pacar gue" umpat Sakri.

"Kita bisa bicara sama Dita pas istirahat. Kita mendingan balik ke kelas daripada hati lo tambah panas" Nais merangkul pundak Sakri lalu berjalan melewati kelas XII IPA 2.

Tidak di sangka sebelumnya, Salma tengah tersenyum ke arah Nais. Betapa senangnya hati Nais sekarang. Apa Salma sudah mencintainya.

Nais kini percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sakri kemarin. Nais tambah yakin jika Salma adalah jodohnya. Jodoh yang selalu dia nantikan.

"Sakir, gue ke Salma dulu yah. Lo ke kelas duluan"

Ingin sekali Sakri menghantam kepala Nais dengan pot bunga di hadapannya. Dia yang menyuruhnya untuk ke kelas daripada melihat Dita tengah bersenang-senang dengan Ervian. Lalu dirinya sendiri? Membuat Sakri tambah panas.

Sakri baru merasakan hal yang sama seperti Nais dulu. Menderita melihat keromantisan secara langsung. Sakri memilih masuk ke kelas dan memainkan ponsel agar mood nya kembali baik.

Nais dan Salma kini tengah berpandangan di depan kelas. Kali ini, penampilan Salma berubah total. Dia terlihat feminim. Rambutnya di gerai indah. Menampilkan wajah cantiknya.

Nais melihat Salma dari ujung rambut sampai ujung kaki merasa takjub dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.

"Gimana?" Tanya Salma.

Nais gelagapan saat Salma bertanya kepadanya. Nais terlalu pokus dengan wajah cantik Salma.

"Hey!" Salma kembali memukul lengan Nais sampai Nais terperanjat.

"I-iya?"

"Gimana penampilan baru gue?" Salma berputar bak Cinderella.

"Ca-cantik"

Pletak

"Yang bener?!"

"Ternyata tingkahnya masih sama" gumam Nais.

"Apa?"

"Oh nggak. Iya lo cantik. Btw, kemarin kemana?"

"Gue keluar kota. Ada urusan disana. Sekalian gue mencoba untuk mengubah diri"

Nais hanya mengangguk.

"Lo nggak mau ngomong apa-apa sama gue?" Tanya Salma.

"Hah?"

"Lo tuli atau emang sengaja nggak dengerin omongan gue sih!" Salma mulai marah dan kesal.

"Iya-iya. Maaf. Ya emang gue mau ngomong apa sama lo?" Tanya balik Nais.

"Ya mana gue tahu. Udah ah! Kalau nggak mau jadian mending gue masuk ke kelas"

Jantung Nais hampir copot saat sayup-sayup terdengar jika Salma berbicara pasal jadian. Please, telinga untuk saat ini tolong pokus.

Baru saja Salma melangkah, namun Nais mencegahnya dengan cara memegang tangan Salma.

"Tunggu"

Salma menoleh seraya menaikan alisnya "Apa?"

"Tadi lo bilang apa?"

"Nggak, gue nggak bilang apa-apa" bohong Salma.

"Gue kali ini nggak salah denger. Lo mau jadi pacar gue?" Nais dengan gampangnya to the point.

Salma terdiam dengan melihat mata Nais yang terlihat tulus. Salma mendekatkan wajahnya ke wajah Nais. Jantung Nais berdetak dengan kencang.

Kita bisa ngelakuin ini. Tapi jangan di sekolah juga

"Gue mau" bisik Salma lalu berlari kecil masuk ke kelas. Sepertinya dia malu-malu buaya.

Sontak saja Nais langsung mengucap syukur dan berteriak keras karena merasa bahagia. Cintanya di terima. Sama-sama lho! Akhirnya author mewujudkan impian kamu 🤗

Selamat Bang Nais dan Salma sudah resmi jadian. Walaupun terkesan dadakan ke tahu bulat.

Nais berlari menuju Sakri. Sakri di buat kaget dengan Nais yang melompat-lompat kegirangan di hadapan nya.

"Lo gila?"

"Iya gue gila! Lo nggak kepo tentang kejadian tadi?"

"Nggak, nggak mau tahu juga"

"Ck, gitu amat lo jadi sahabat. Gue sama Salma jadian!! Ihaaaaaa. Ya ampun gue masih nggak percaya"

"Alay lo!" Cibir Sakri.

"Sirik aja lo!" Balas Nais.

Nais kini tengah senyum-senyum sendiri, Sakri yang melihatnya pun ingin muntah. Mohon maaf berlebihan.

Pukul 11:45

Waktunya istirahat. Salma dan Nais bergandengan tangan. Sedangkan Sakri? Dia hanya terdiam sambil memakan ketoprak. Tidak henti-hentinya Nais menunjukkan keromantisannya di hadapan Sakri dan pengunjung kantin lainnya.

"Kalau mau suap-suapan jangan di hadapan publik. Nggak malu apa, ini kan sekolah" sindir Sakri.

"Iya iya. Oiya, Dita kemana?" Tanya Salma sambil mengedarkan pandangan.

Sakri hanya menggeleng tanpa berbicara.

"Tadi gue dapet kabar kalau Yuna kondisinya udah membaik. Malam tadi dia lolos dari koma nya" lanjut Salma.

"Ko dia nggak kasih tau gue?" Tanya Sakri.

"Dia udah kasih tahu lo. Tapi nggak ada jawaban"

Sakri langsung memeriksa ponselnya dan benar saja, pesan berantai dan panggilan tidak terjawab dari Redo. Sakri menaruh ponselnya di meja lalu menyudahi makannya.

"Lo kenapa?" Tanya Salma.

"Dia sedih, Dita udah berubah. Tadi aja dia sama Ervian becanda di kelas" Nais menjawabnya. 

"Bener?"

"Iya" jawab Sakri singkat.

Sakri melihat Dita jalan menuju kantin bersama Ervian. Langsung saja Sakri menghampirinya dan di ikuti oleh Nais dan Salma.

Dita terkejut saat Sakri yang menghampirinya dengan wajah yang datar.

"Sakir"

"Lo mendingan jauh-jauh dari Dita, pacar gue" kata Sakri dengan penuh penekanan.

Ervian meninggalkan mereka sesuai perintah Sakri. Dita terlihat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Sakri.

"Kamu apa-apaan sih!" kata Dita.

"Aku yang seharusnya bilang, kamu apa-apaan sih sama dia berduaan?" ucap Sakri.

Nais dan Salma hanya terdiam karena tidak mau ikut campur dengan urusan mereka.

"Maksud apa? Aku nggak berduaan sama dia. Ini banyak orang lho" bela Dita.

"Pagi tadi aku pergi ke kelas kamu. Aku liat kamu becanda sama si Kusuma itu. Sedangkan ke aku? Kamu sekarang cuek, Ta"

"Emang aku nggak boleh yah bahagia sama orang lain? Toh, aku sama Ervian nggak ada apa-apa. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh"

"Oke kalau gitu. Pulang sekolah kita tengok Yuna. Dia udah membaik"

Tubuh Dita menegang saat mendengar kondisi Yuna membaik. Seperti mendapatkan kabar buruk.

"Kenapa? Sahabat kamu udah pulih"

"Pulang sekolah, aku ada urusan" Dita beralasan.

"Aku nggak mau tahu alasan kamu. Kita ke sana bareng-bareng. Kalau kamu nggak mau, kita putus" ancam Sakri.

"Oke oke. Aku akan ikut"

Salma tidak henti-hentinya melihat luka di tangan Dita. Salma sangat mengenalinya jika luka itu bekas sayatan pisau.

"Eh, tangan lo kenapa?" Tanya Salma di tengah-tengah mereka bertengkar.

Dita langsung menyembunyikan lukanya ke belakang "Nggak pa-pa. Udah yah, aku mau makan. Laper" Dita pergi begitu saja dengan meninggalkan segudang pertanyaan.

Sakri melihat Dita menghampiri Ervian. Sakri memejamkan matanya menahan emosi yang bergejolak. Nais memberikan kekuatan kepada Sakri.

"Dita kenapa sih? Di cuci otaknya sama Ervian?" Salma mulai geram.

"Nggak tahu"

Nafsu makan Sakri hilang, mood nya hancur. Sakri memilih meninggalkan mereka daripada mendengar ucapan-ucapan 'Sabar yah'

Di pojokan sana terlihat Imel dan Wiesda tengah memandang keretakan hubungan Dita dan Sakri. Imel yang tengah menyeruput jus pun terhenti saat Dita dan Ervian tengah makan siang bersama.

"Ini ada drama apa lagi sih? Ko Dita bisa-bisanya makan bareng sama Ervian. Kenapa nggak sama Sakir?" ucap Wiesda.

"Iya, kasian babang Sakir. Pasti dia sedih" jawab Imel.

"Hm, Kila juga nggak ada kabar. Untung kita nggak kena masalah gara-gara drama ini"

"Gue masih kepo siapa pelaku penusukan Yuna"

"Gue juga"

----

Yuna tengah tertidur dengan menerima banyak perhatian dari Redo. Sedari tadi, Redo mengawasi dan merawat Yuna dengan penuh kasih sayang. Redo tidak henti-hentinya tersenyum melihat wajah Yuna yang tengah berada di alam mimpi.

"Kisah kita mungkin banyak rintangan. Tapi percayalah, kita akan melewatinya bersama-sama" Redo mengecup kening Yuna lembut.

Tiba-tiba sahabatnya datang dengan membawa parsel buah. Yuna pun terbangun saat mendengar jika Sakri dan semua sahabatnya datang.

Redo membantu Yuna untuk duduk "Hati-hati"

"Maaf nih udah ganggu kalian" ucap Sakri.

"Nggak ko" jawab Yuna pelan.

"Makasih kalian udah dateng kesini" kata Redo.

Redo dan Yuna melihat Nais memegang tangan Salma erat. Redo mengerutkan keningnya.

"Kalian udah jadian?"

"Hm. Kita udah jadian" Nais memperlihatkan genggamnya.

"Syukurlah"

"Sekarang kita udah punya pasangan masing-masing. Redo sama Yuna, Gue sama Salma, dan Sakir sama Dita"

Yuna melihat raut wajah Sakri dan Dita yang sama-sama di tekuk. Merasa aneh, tidak biasanya mereka seperti itu. Apalagi Dita. Biasanya dia menunjukkan rasa khawatirnya. Tetapi, ini tidak sama sekali. Malahan dia terlihat menjadi pendiam.

"Dita kamu berantem sama Sakir?" Yuna melihat Sakri dan Dita bergantian.

"Biasa, masalah kecil" jawab Sakri.

"Eh, Na. Gue penasaran sama pelakunya. Kira-kira lo tahu pelakunya siapa? Mungkin wajahnya atau suaranya" Salma mulai kepo.

Mereka mengerumuni Yuna menantikan jawabannya. Yuna memejamkan matanya kembali mengingat kejadian demi kejadian yang dia alami.

Terlihat Dita yang menunduk seperti tengah ketakutan. Mereka sama-sama penasaran berharap Yuna mengingatnya walaupun sedikit.

Yuna teringat saat dirinya tidak sengaja melukai pelaku. Yuna sedikit terkejut saat mengingatnya kembali.

"Gimana?" Tanya Redo.

"Saat itu, aku nggak ngeliat wajahnya, aku lupa sama suaranya. Tapi, ada satu hal yang aku lakuin ke dia" jawaban Yuna menggantung.

"Apa?" Tanya Sakri.

Dita terlihat gugup dan susah menelan ludahnya sendiri.

"Gue jamin, dia nggak bakalan lolos gitu aja" ancam Salma.

"Dia-"

Mereka semakin pokus dengan apa yang akan dikatakan oleh Yuna.

"Aku nggak sengaja buat tangan dia terluka. Aku nggak sengaja gores tangan dia pake pisau" ucapan Yuna berhasil membuat mereka terkejut.

Pasalnya, Dita mengalami hal itu. Langsung saja tatapan Salma, Sakri, dan Nais tertuju kepada Dita. Redo dan Yuna tidak mengerti dengan maksud mereka.

Dita menunduk lalu melihat ke mereka "Kenapa? Maksud kalian aku yang buat Yuna kayak gini? Aku nggak ngelakuin itu" Dita nampak sedikit ketakutan.

"Kita nggak bicara apa-apa. Kita juga nggak nuduh kamu lho" Sakri terlihat bingung.

"Gue yakin, itu bekas sayatan pisau" kata Salma kepada mereka.

"Bu-bukan. Ini-ini luka gara-gara aku nggak sengaja kepentok meja"

"Jujur sama aku, apa kamu pelakunya?" Tanya Sakri serius.

"Kamu lebih percaya sama mereka dari pada sama aku? Aku ini pacar kamu, Sakir"

"Tunggu-tunggu. Ini maksudnya gimana sih?" Redo mulai bingung.

"Iya, maksud Dita pelakunya apa? Dita orangnya baik" lanjut Yuna.

"Terkadang, orang jahat lebih baik" sahut Sakri.

"Dita, lo jujur aja sama kita. Apa lo yang ngelakuin ini semua?" Nais menatap tajam ke arah Dita.

Posisi Dita saat ini terpojokkan. Tidak ada waktu untuk membuat alasan. Alasan yang sudah di rancang sebelumnya pun pudar akibat tatapan mereka yang seolah membunuhnya.

"IYA! GUE PELAKUNYA!"








Penasaran? Tunggu part berikutnya doong!!!

Ayo berikan tanggapan dari part ini agar author semangat dan cepat up nya!!!

Lanjutkan Membaca

Kamu Akan Menyukai Ini

2M 213K 73
"Pengen mati aja Ya Allah!" Bukannya mencegah, Dean malah tersenyum kearah sahabatnya yang paling cantik itu sembari mengacungkan kedua jempolnya sem...
269K 10.5K 56
"Gue udah pernah bilang kan, jangan mainin bibir lo atau gue bener bener khilaf kali ini," bisik Lea tepat di telinga Rara. Dan boom wajah Rara seke...
16.1M 1.5M 70
"Papaaaaa!!" Sontak mata Damares membulat sempurna saat gadis kecil itu meneriaki nama 'Papa' menatap mata mungil itu. Ranayya menjadi mengingat apa...
1.6K 50 30
"Pameran seni, sedih banget" ucap Kenzo, kali ini dengan pandangan meremehkan. Anaya mengeram marah, mengumpat dalam hati atas mimik wajah Kenzo yang...
Aplikasi Wattpad - Akses fitur eksklusif