Kaharsa

Por Pitachynt

47.4K 4.9K 2.3K

"Semua tokoh utama kartun aja harus berjuang biar punya ending yang bahagia." Ada dua sisi yang bisa ditentuk... Más

Acquaint
Untuk Mereka: Alasan Mengapa
Untuk Julian & Akella: Terjebak
Untuk Elvino & Everina: Janji
Untuk Raven & Rilia: Jumpa
Untuk Adriel & Nediva: Satu Tahun
Untuk Ardhani & Hanesha: Arti
Dari Julian: Dia
Dari Elvino: Hati
Dari Raven: Termangu
Dari Adriel: Yang Orang Tahu
Dari Ardhani: Cacat
Dari Akella: Jari Kelingking
Dari Nediva: Segenggam Bahagia
Dari Hanesha: Sketsa
Dari Rilia: Pilihan
Dari Everina: Berbeda Jalan
Dari Elvino: Hujan Deras
Dari Ardhani: Wedang dan Bubur
Dari Adriel: Ketika Hujan
Dari Julian: Bersiap
Dari Raven: Sebuah Alasan
Untuk Mereka: Lantai Satu
Untuk Mereka: Lantai Dua
Dari Hanesha: Petunia
Untuk Raven & Hanesha: Di Bawah Kanopi
Untuk Raven & Hanesha: Pengakuan
Dari Rilia: Bimbang
Dari Hanesha: Rasa
Dari Akella: Mencoba Lupa
Dari Akella: Mencoba Memendam
Untuk Julian & Akella: Mencoba Berani
Dari Julian: Secercah Harapan
Dari Julian: Semesta
Untuk Julian & Akella: Melepas
Dari Mereka: Hari Libur
Dari Mereka: Kue Bolu
Dari Mereka: Berpikir
Ohana Pt. 1
Ohana Pt. 2
Dari Raven: Enggan Berharap
Dari Hanesha: Jujur
Untuk Raven & Hanesha: Akhirnya
Dari Nediva: Pergi
Dari Mereka: Berharap
Dari Elvino: Bertemu
Untuk Elvino & Nediva: Bicara
Untuk Elvino & Nediva: Baskara
Dari Adriel: Saat SMA
Dari Adriel: Good Old Days
Dari Mereka: Foto Bersama
Dari Adriel: Buket Bunga
Dari Everina: Merelakan
Dari Everina: Sama Rasa
Dari Julian: Usai
Dari Ardhani : Hanyut
Dari Ardhani: Kala Itu
Dari Ardhani : Berdamai
Dari Rilia: Berhenti
Untuk Mereka: Integrasi
Untuk Mereka: Teduh
Untuk Mereka: Meniti Asa

Dari Akella: Kenangan

389 47 25
Por Pitachynt

Selasa, 30 Januari 2018

Gue selalu bertanya-tanya bagaimana sebagian orang yang baru putus udah bisa punya pacar baru dua bulan kemudian bahkan satu bulan.

Atau sebagian orang yang bisa dengan mudah melupakan teman yang sudah lama bersamanya dan beberapa saat kemudian sudah memiliki teman baru.

Dan di tahap lebih tinggi adalah sebagian mereka yang berpisah dan memutuskan cerai. Kemudian dalam waktu singkat sudah bersama dengan pasangan hidup barunya.

Bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri tanpa memakan waktu yang lama, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu bertahun-tahun atau bahkan sepanjang hidupnya untuk bisa berhasil merealisasikan kata 'moving on'.

Sebagian orang yang kesulitan untuk memahami kata 'moving on' itu sendiri. Sebagian orang yang merasa bahwa kadang 'moving on' bukan sebuah penyelesaian masalah.

Gak ada yang bilang melupakan itu hal gampang. Ketika lo semakin berusaha keras melupakan sesuatu atau seseorang, lo malah berujung semakin mengingatnya tanpa henti. Karena untuk kebanyakan orang, hal yang ingin dilupakan adalah hal yang sebenarnya memiliki dampak penting untuk diri mereka.

Makanya Julian selalu bilang, "Bukan berusaha melupakan, tapi berusaha merelakan."

Karena ketika merelakan, kita enggak mati-matian untuk berusaha melupakan kenangan-kenangan yang sebelumnya selalu ingin kita ingat tanpa henti.

Karena ketika merelakan, kenangan itu akan tetap ada. Hanya artinya yang sekarang berbeda.

Dulu kenangan-kenangan itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan lo enggak mau melupakannya barang sehari pun. Namun, setelah lo merelakan, kenangan-kenangan itu menjadi bagian dari sesuatu yang pernah singgah.

Sesuatu yang pernah singgah dan punya artinya sendiri dalam hidup. Terlebih, enggak semua ingatan harus dilupakan.

Dan untuk berhasil membuatnya menjadi sesuatu yang pernah singgah, gue membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terbiasa.

Setiap Arza setel lagu secara acak dan yang terputar adalah lagu Sepatu milik Tulus, dia akan nyanyi kenceng banget.

"KITA ADALAH SEPASANG SEPATUUU. SELALU BERSAMA TAK BISA BERSATUUU."

Arza suka banget nyanyi dengan suara asal-asalannya yang berat. Padahal, suara dia bagus banget. Cuma kalau nyanyi apalagi depan gue, dia malah selalu dijelek-jelekin. Kayanya dia sengaja bikin gue bete denger suaranya dan gue akan berujung teriak berisik ke dia.

"Eh, kok tumben lo gak ngoceh?" Tuh kan, gue juga bilang apa.

Padahal gue udah siap-siap ngoceh ini.

"Tolong Za nyanyi pake suara bagus loh, ngapain sih dijelek-jelekin?!"

"Kan suara juga suara gue, Kel?!"

Tuh kan, kita akhirnya malah aduh bacot. Tapi sejak putus sama Julian, enggak ada lagi gue yang protes ketika Arza nyanyi lagu Sepatu. Adanya gue yang malah memperhatikan setiap lirik lagu itu dan juga Arza yang paham akan gue. Sehingga dia malah bernyanyi dengan suara merdunya.

Gue dan Julian terlalu punya banyak persamaan. Kita punya kebiasaan dan kesukaan yang hampir sama. Kita suka warna dan model untuk suatu barang yang setipe.

Kita punya kesukaan genre film yang sama. Enggak jarang kita nonton film horor dan berujung teriak enggak jelas. Teriak bukan karena kaget dengan setan yang tiba-tiba muncul di layar bioskop yang segede gaban itu, melainkan kaget karena denger orang-orang teriak kenceng banget. Bener-bener kenceng karena posisinya di samping gue atau Julian.

Kita punya selera musik yang sama. Kita juga punya selera makan yang sama selain fakta gue alergi udang dan Julian enggak bisa minum susu.

Sakin punya banyak persamaan, gue dan Julian jarang berdebat akan hal-hal kecil seperti pilih warna baju dan pilih film apa yang mau ditonton. Atau pun gue yang memaksa memajukan lagu di playlist Julian karena enggak suka lagunya, itu enggak pernah.

Sehingga ketika gue bermalam di Metta Karuna karena gue yang terlalu teledor dan sangat bersyukur bertemu Elvino, ingatan gue akan Arza yang menyanyikan lagu Sepatu muncul di kepala.

Sama seperti lirik lagunya, gue dan Julian terlalu sama sehingga enggak bisa sama-sama.

Yang membuat sepasang sepatu beda itu cuma sisinya aja. Walau bentuk sepatu mirip, tetap ada sisi kiri dan sisi kanan yang membuat pemilik sepatu bisa membedakan dan enggak kebalik pakai sepatunya.

Layaknya sepatu, gue sepatu bagian kiri dan Julian sepatu bagian kanan. Semirip apa pun kita, gue dan Julian tetap akan berada di sisi yang berbeda.

Selama waktu itu, gue berkali-kali bilang ke Diva dan Vino kalau gue itu egois. Gue membuat seseorang menunggu diri gue yang enggak pantas ditunggu.

"Just be honest with your feeling, Kel." Diva akan selalu bales gitu ketika gue merasa seharusnya Adriel enggak perlu nunggu gue.

"He is willing to wait you. Take your time, Kel." Dan Vino juga akan selalu jawab kaya gitu.

Hahahaha, kita berempat ini enggak jelas banget. Gue enggak pernah nyangka selama dua tahun kita berempat punya perasaan campur aduk. Kita berempat sama-sama saling tahu perasaan kita masing-masing, tapi enggak ada yang berani memulai.

Mungkin karena Adriel dan Vino anak kembar, jadi mereka merasa enggak akan saling tusuk dari belakang. Sehingga enggak jarang, gue malah lebih sering menghabiskan waktu dengan Vino. Begitu juga sebaliknya, Adriel lebih sering bersama Diva.

Banyak yang salah paham dan ketika tahu fakta sebenarnya, mereka anggap kita berempat aneh.

"Kalian itu berusaha jaga satu sama lain, cuma caranya aja yang beda banget dari kebanyakan orang."

Dan Ardhan adalah orang pertama yang mengerti kita berempat. Mungkin karena kita semua satu angkatan dan sering kumpul di kantin bareng, Ardhan adalah orang yang benar-benar paham dengan kita berempat.

"Mau makan dulu, gak?"

Suara Adriel membuat gue yang sedari tadi menatap keluar jendela langsung melirik ke arah dia yang sibuk menyetir.

"Ada tekwan deket stasiun Tangerang, enak deh. Lo mau coba gak?" tanya gue sambil sedikit memiringkan tubuh gue supaya bisa lihat wajahnya.

"Tapi stasiunnya masih jauh? Lo pasti belum makan apa-apa dari siang," ucapnya sambil menatap gue sekilas.

Ah iya juga. Gue terlalu deg-degan, pusing, stress, dan takut karena mau sidang sampai gue lupa kalau sejak siang tadi gue cuma sempet makan roti goreng sama susu kotak.

"Hehehehe, laper sih." Gue terkekeh pelan.

"Di depan ada Burger King, mampir dulu yuk."

Gue mengangguk patuh membiarkan Civic hitam itu berjalan lurus menghampiri palang Burger King yang terletak di sebelah kiri jalan.

"Tapi gue tetep kepengen tekwan deket stasiunnya, Yel."

Adriel langsung ngangguk. "Enggak usah pesen banyak-banyak kalau gitu. Biar bisa makan tekwannya juga."

Ketika mobil yang dibawa Adriel sudah masuk ke dalam area Burger King, dia sempat memberhentikan mobilnya sejenak. Karena pas lihat dine in-nya ramai banget, kita akhirnya memutuskan untuk drive thru.

"Lo kamaleman gak? Udah kabarin Mama lo belum?"

"Udah kok, gue udah bilang Mama kalau gue pergi sama lo."

Ketika Adriel bilang belinya enggak usah banyak-banyak, dia beneran enggak beli banyak. Behh, beda banget sama kembarannya. Enggak usah banyak-banyak sama beli banyak versi Vino tuh gak ada bedanya. Sama-sama menggunung porsinya.

Gue meraih burger milik Adriel dan membuka bungkusannya kemudian menyodorkan burger itu ke arah Adriel.

"Kalau lo jadi keribetan makannya, bilang gue aja."

"Kalau gue bilang ribet, lo mau ngapain?" tanyanya langsung.

"Gantian bawa mobilnya. Tapi suapin lo lebih gampang dibanding gantian bawa mobil?"

Gue langsung meraih burger yang ada di tangan kirinya. Kemudian menyodorkan roti dan daging itu ke mulutnya.

"Hahahahahaha." Setelah selesai mengunyah burger-nya, dia malah ketawa.

Wah, gue sendiri aja enggak sadar tengah gue lakukan sekarang.

"Jangan sering-sering pergi sama Rubah. Entar kalau lo ketularan sifat dia, gue yang kerepotan jadinya."

Gue mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Ini contohnya." Dia menunjuk tangan gue yang baru aja selesai nyodorin burger itu ke mulutnya.

"Ih, gue enggak pernah nyuapin Vino."

"Gue enggak bilang nyuapin Rubah loh?" ledek Adriel cepat.

Gue menatap Adriel kesal ketika dia hanya tertawa menatap gue.

"Dia itu suka melakukan hal yang bikin orang lain kaget dan gak nyangka dia bisa lakuin itu."

"Hahahahaha." Sekarang gue yang gantian ketawa ketika sadar maksud Adriel.

Selama dua tahun terakhir, gue cukup sering menghabiskan waktu bersama Vino. Sedangkan Adriel lebih sering ke mana-mana bareng Diva, seperti sejak awal kuliah. Emang bener kata Adriel, Vino suka melakukan hal-hal yang bikin orang lain kaget dan tentunya itu hal positif.

Kala itu, ketika gue bohong sama Julian dengan bilang bahwa gue ada janji sama Diva mau pergi pagi-pagi, gue sebenernya enggak tahu mau ke mana. Gue cuma berjalan tanpa arah setelah turun di stasiun Grogol. Gue enggak tahu apa jadinya gue kalau waktu itu enggak ketemu Vino. Gue bahkan enggak berani membayangkannya.

"Di sebelah mananya, Kel?"

Gue mengarahkan Adriel ke tempat tekwan yang posisinya enggak jauh dari stasiun Tangerang. Tempatnya pakai gerobak di pinggir jalan, di depan deretan-deretan toko. Cuma ada dua meja yang ukurannya enggak terlalu luas.

"Lo suka gak, Yel?"

"Suka kok. Lo sering makan di sini?"

Gue mengangguk cepat. "Biasanya pulang ngampus kalau pengen, gue mampir. Dia bukanya mulai sore."

"Kang, mau dua ya."

"Timunnya banyakan kan?"

Sakin sering makan di sini yang jual tekwan sampai hafal gue suka minta timun lebihan.

"Eh, tapi yang satunya jangan pake timun, Kang."

"Siap Teh."

Tekwan di sini bukan kaya tekwan yang pakai bangkuang sama kuah kaldu udang. Yang ini isinya ada tekwan ikan, soun, sama timun aja.

Kemudian dua mangkuk tekwan yang asepnya ngebul itu dateng. Akangnya naruh yang ada timun di tempat gue dan yang enggak ada timun di tempatnya Adriel.

"Kok lo bisa tahu gue enggak suka timun?" tanya Adriel sambil aduk tekwannya setelah dikasih jeruk nipis dan sambal.

"Vino pernah cerita kalian suka ribut cuma gara-gara timun."

Enggak jarang Vino menceritakan diri dia dan dia enggak akan pernah lupa untuk menceritakan Adriel juga ke gue. Sehingga gue cukup hafal beberapa kebiasaan Adriel dari Vino.

"Kok diliatin aja?" tanyanya setelah selesai doa kemudian menyeruput kuah tekwan.

Cara doanya, dia cuma memejamkan mata dan enggak lama dia buka mata. Sama seperti yang gue lakukan setiap kali sebelum makan.

Tiba-tiba gue jadi terdiam selama beberapa saat. Mikirin semua hal yang tiba-tiba berkumpul jadi satu di otak gue.

"Kel?" panggilnya pelan.

"Ah, iya. Enak gak?"

Gue mengaduk mangkuk gue yang udah dikasih sambal, jeruk nipis, dan kecap manis. Iya, yang buat bedanya lagi tekwan di sini sediain kecap manis.

Dia langsung menyunggingkan senyumnya. "Enak, enggak kaya tekwan biasanya."

Adriel itu ... baik banget, bahkan gue ngerasa terlalu baik. Sehingga gue selalu berpikir apakah gue pantas membuatnya menunggu selama bertahun-tahun. Membiarkan gue memiliki waktu yang gue butuhkan. Jadi gue suka mikir, gue takut kalau gue cuma buang-buang waktu dia. Gue juga mikir, gimana kalau udah menunggu gue, tetapi pada akhirnya enggak sesuai yang kita ekspektasikan.

Gue suka banget nethink dan kadang berpikir semisalnya sometimes, something too good is not good also.

Gue kembali termenung. Gue enggak pernah berpikir kaya tentang dia. Gue malah bersyukur bahwa seseorang yang nunggu gue adalah Adriel.

"Kel, benyek tuh bentar lagi tekwan lo."

Ucapannya membuat gue melihat mangkuknya yang tinggal setengah, sedangkan isi mangkuk gue masih penuh.

Tapi, lihat dia yang malah asik makan tekwan pakai kecap manis karena tadi gak percaya kalau pakai kecap manis jadi lebih enak, gue tersenyum lega.

"Yel," panggil gue.

I finally found my happy ending, Julian. Hope you also find yours soon.

Gue tersenyum sambil menatap Adriel lekat. "Makasih banyak, ya. Untuk semuanya, makasih banyak."

❁❁❁

Update cepat memang hanya wacana, hehe.

Semoga suka ya. Tetap semangat dan selalu bahagia 💛✨

18.07.20

Seguir leyendo

También te gustarán

10.8K 1.4K 25
"Ko, mau kemana?" "Keluar, kenapa?" "Temenin beli makan dulu, dong." "Enggak ah," Lima belas menit kemudian... "Lah, kenapa balik lagi, Ko?" "Nih," "...
1.3K 214 22
SOMEHOW (DAY6 Fanfiction) Cast: - Kang Younghyun (Brian Kang) - Hwang Gaeun (OC) - Other Day6 member and JYPN fam's _________________________________...
32.4K 2.1K 69
Sudah tamat, tapi jangan lupa untuk tetap vote dan comment setelah membaca yaaaaa💞😊 -Selalu ada hal yang tak terduga disetiap jalan hidup yang kita...
When We Met Por inda

Ficción General

215K 27.6K 67
[Completed] Kita bertemu untuk sebuah alasan. Entah itu berupa karunia atau hanya sebagai pelajaran. Ketika kita bertemu, kita saling tahu bahwa kit...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas