Truth Or Dare

Autorstwa nurserlia

4.5K 686 457

Balikan karena permainan bukan perasaan. Tentang mereka yang kembali bersama atas dasar permainan. Diberi tan... Więcej

prolog
Bagian 01 - Pertemuan dengan Mantan
Bagian 02 - Lukas Sayang Mantan
Bagian 03 - Menyebalkan
Bagian 04 - Raja Gombal
Bagian 05 - Pura-pura
Bagian 06 - Pacar Baru Lukas
Bagian 07 - Tukang Ngadu
Bagian 08 - Pemberian Arsha
Bagian 09 - Balikan?
Bagian 10 - Pulang Bareng Mantan
Bagian 11 - Ada yang Tersakiti
Bagian 12 - Tidak Dikenali
Bagian 14 - Biang Rusuh
Bagian 15 - Menjauh?
Bagian 16 - Arsha penolong Lukas
Bagian 17 - Ketika Lukas dan Sania Bersama
Bagian 18 - Tentang Sebelumnya
Bagian 19 - Kalimat Perpisahan
Bagian 20 - Pamit
Bagian 21

Bagian 13 - Dia

142 24 25
Autorstwa nurserlia

Typo Bertebaran
Selamat Membaca

BAGIAN 13

Sampai kapanpun kita takkan bisa bertahan lama jika kamu masih memiliki perasaan dengannya.

-ArkanDirgantara-

*
*
*

Dia melangkah menuju ruang kelas Sania. Tentu, Sania adalah orang yang dia cari selama ini. Bahkan dia sudah memiliki rencana yang tak biasa. Karena menurutnya Sania tak pantas bahagia di atas penderitaan temannya.

Namun, dia akan membuat Sania tersiksa dan ketakutan. Sebelum menjalankan rencanannya terlebih dahulu memberikan kejutan-kejutan istimewa untuk Sania. Jika dengan kejutan itu tidak membuat Sania sadar akan perbuatannya, barulah dia menjalankan rencananya.

Sebuah Rencana yang mungkin bisa mengakhiri nyawa seseorang.

Dia sudah memikirkan hal ini matang-matang. Dia juga sempat mengurungkan niatnya, tetapi sikap Sania sangat menyebalkan karena tetap bertindak demikian pada orang terdekatnya. Siapapun itu pasti akan marah jika ada yang berani meyakiti orang terdekatnya. Terlebih hal ini dilakukan Sania berulang kali. Dan jika orang terdekatnya sakit hati dia pun turut merasakan hal yang sama.

Semua ini murni karena sakit hati menjadi sebuah dendam dan berakhir pada rencana iblis.

Dia selalu membela dan melindungi orang-orang terdekatnya. Tak pandang martabat atau dari kalangan mana, siapapun orangnya yang berani menyakiti orang terdekatnya maka orang itu akan enyah di tangannya.

Dia bukan psikopat. Namun, dia tidak bisa membiarkan orang yang telah menyakiti sahabatnya bisa hidup bahagia begitu saja. Ada saatnya rasa sakit dibalas dengan kematian.

Ternyata benar jika rasa sakit di lutut akibat jatuh dari sepeda bisa diobati dan tak lama bisa sembuh. Namun, hati manusia siapa yang bisa mengobatinya? Jika hati sudah rusak atau dipatahkan maka pembalasan akan lebih kejam dari rasa sakit itu.

Mungkin dari sebagaian orang bisa menyembuhkan dengan tidak mengingat penyebabnya, tetapi ada juga yang tidak bisa seperti itu.

Setiap orang berbeda-beda dan setiap orang juga memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan masalahnya.

Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit Sania akan tersiksa oleh tangannya sendiri.

***

"Mantan lo lagi sama pacarnya, Kas," tunjuk Bana kepada dua insan yang sedang tertawa bebas. Lukas mengikuti arah pandang Bana, menyaksikan betapa bahagianya mantan dengan kekasih barunya. Hati Lukas pilu, seketika matanya layu menyiratkan kesedihan. Biar bagaimanapun Lukas masih sangat mencintai Sania, artinya tidak ada satupun yang boleh membahagiakan Sania selain dirinya.

Lukas kemudian beranjak hendak mengahmpiri Sania, namun tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Bana. "Lo kesana hanya akan ngerusak kebahagiaan Sania. Biarin dia memilih siapa saja asalkan yang bisa membahagiakannya. Gue tau lo masih sayang, tapi lo juga harus pikiran Arsha. Apa dia nggak sakit hati liat lo masih mengaharapkan masa lalu?"

Lukas menoleh sekilas, lalu tertawa kecil. "Lo kaya nggak tau gue aja."

"Tau. Lo suka ngoleksi cewek, kan? Tapi gue liat sikap lo dengan Arsha berbeda. Dari sekian banyaknya koleksi lo, Arsha satu-satunya cewek yang selali ada di samping lo. Kalian saling kasih perhatian dan support, dan saling melindungi. Bahkan, lo mau tunangan sama Arsha. Iya gue tau, itu karena perjanjian konyol tapi kalau suatu saat nanti perasaan lo berpaling ke Arsha, apa nanti nggak akan nyakitin Sania?" Bana menepuk-nepuk pundak Lukas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Pikirin baik-baik tentang perasaan lo sama Sania. Apa lo benar-benar mencintainya atau hanya terobsesi untuk memiliki."

"Gue nggak peduli dan nggak mikirin kedepannya kaya gimana. Yang terpenting sekarang adalah, gue harus mencegah siapapun yang berusha bahagiain Sania. Karena hanya gue satu-satunya orang yang boleh membahagiakannya."

"Tapi...."

"Pokoknya sekarang gue harus samperin mereka."

"Lo mau gangguin mereka lagi?"

"Yaiyalah. Dalam kamus besar bahasa Lukas, mengganggu mantan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Jadi buat lo dan lo... "Lukas menunjuk Bana dan Bintang satu persatu. "Jangan coba-coba halangin gue."

"Siapa juga yang halangin elo? Udah sana," cetus Bintang datar.

"Eh, temen gue ada yang marah. Kabar Bulan gimana? Lo sama dia masih berantem nggak? Atau--"

"Udah jangan pada ribut. Lukas lo jangan aneh-aneh lagi deh, gue sebagai temen lo malu tau nggak. Lihat aja, lo punya segalanya kenapa lo harus ngemis cinta ke dia? Lo nggak lihat Arsha yang bener-bener sayang sama lo tanpa memandang sisi harta? dia beda dari semua koleksi lo."

"Sama," tegas Lukas, "Dia nggak bener-bener sayang sama gue karena dia sendiri nggak ngelarang gue deket sama siapapun dan dia nggak terlihat cemburu tuh. Artinya, dia emang sama dari semua koleksi gue yang cuman ngincer harta gue."

"Giliran ada yang tulus, lo malah perjuangin yang nggak pasti. Lo gimana sih, Kas?

"Terserah gue lah. Lagian lo sadar diri dong, lo juga sama kayak gue."

Bana melipat tangannya lalu menaikkan satu alisnya. "Oh ya? Jadi menurut lo siapa cewek yang nggak pasti yang sedang gue perjuangkan itu?"

"Billa," jawab Lukas dengan santainya.

Bana terpelongo kaget. "Hah?"

"Hah hoh. Gak usah kaget gue udah tau."

"Tau dari mana lo, kampret!"

"Dari koran, beritanya udah kesebar sampe ke pelosok-pelosok. Paling bentar lagi viral terus followers lo bakalan naik drastis," canda Lukas.

"Ngawur. Ngomong apaan? Gajelas," cibir Bana.

Bana tak sadar disana juga ada Bintang yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Dan sekarang Bintang sudah tahu jika Bana menyimpan perasaan kepada Billa. Hanya saja sikap Billa yang selalu menjadi permen karet-nya Bintang membuat Bana tak bisa berbuat.

Bana tahu Billa begitu mencintai Bintang, maka dari itu dia memilih mencintai dalam diam.

"Jadi bener lo suka sama Billa?" tanya Bintang kepada Bana. Bana mengangguk pelan.

"Mau gue bantu?" tawar Bintang. Baik Bana ataupun Lukas kaget mendengar penawaran itu. Karena selama ini Billa sangat dekat dengan Bintang, bahkan mereka pernah pacaran meski sekarang telah berakhir. Mereka pikir Billa dan Bintang masih saling mencintai, dan hal itulah yang membuat Bana menyembunyikan perasaannya.

Karena Bana tahu, Bintanglah sumber kebahagiaan gadis itu.

"Bantu apaan?" tanya Bana bingung.

"Bantu lo jadian sama Billa."

"Bukannya lo lagi deket sama Billa? Buat apa lo bantuin Bana? Buset, lo mau bunuh perasaan sendiri?" cerocos Lukas.

"Siapa lo? Bukan temen gue," sahut Bintang sedikit kesal. "Kita perlu bicara empat mata." Bintang kemudian menarik tangan Bana dan langsung diikuti oleh Lukas.

Bintang menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Dia menatap Lukas dengan tatapan datar. "Apa? Empat mata bukan enam mata!"

"Anjirr. Gue beneran nggak dianggap temen? Oke fiks, kita musuhan."

"Oke." Bintang mengendikkan bahunya acuh, berlalu pergi sembari menarik tangan Bana.

"Tuhan, hanya satu pinta Lukas. Tolong sabarkan hati Lukas untuk menghadapi teman-teman Lukas yang aneh ini," ujar Lukas dramatis sambil menatap kepergian teman-temannya.

Pandangannya kini beralih pada dua sejoli yang semakin terlihat romantis. Ini adalah pemandangan yang sangat menyebalkan dalam hidupnya. Bagaimana bisa mantannya terlihat lebih bahagia setelah tak lagi dengannya.

Senyumnya mengembang. Membentuk smirk tipis yang menghiasi wajah tampannya.

Saatnya bermain-main dengan mantan, batinnya, kemudian menghampiri mantan terindahnya.

"Ehem." Lukas berdehem singkat. Sepertinya volume suara Lukas terlalu kecil, hingga Sania tidak sadar akan keberadaannya disana.

Percobaan kedua. Lukas kembali mengeluarkan suaranya dengan volume yang besar. Tetap sama, mereka masih tak mendengar. Bukan Lukas namanya jika menyerah dan kehabisan cara. Dia kemudian duduk di sebelah Arkan meskipun Arkan dan Sania tidak menoleh ke arahnya.

Sania dan Arkan sudah merencanakan ini dari pertama mereka melihat Lukas di kantin. Arkan meminta Sania untuk tidak menghiraukan apapun yang dilakukan oleh Lukas. Dan juga meminta agar mereka bersikap seromantis mungkin layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Arkan hanya ingin tahu bagaimama respons Lukas. Dan ternyata, Lukas cemburu padanya.

"Hallo man--"

"Ngapain lo disini? Sana pergi!" Sania membuka suaranya. Arkan menggenggam erat tangan Sania, mengisyaratkan agar Sania bisa bisa menahan emosinya.

"Ngapain?" Tawa Lukas kemudian hadir diikuti dengan smirk tipis. "Duduk. Gangguin orang yang lagi pacaran. Kalau udah putus lo bisa balikan sama gue.'

"Lo pikir gue mau balikan sama lo?"

"Yaiyalah. Secara lo masih sayang sama gue, kan?"

"Lo kehabisan cewek sampai harus gangguin pacar orang?" Arkan membuka suaranya. Sesabarnya Arkan pasti ada batasnya, apalagi berhadapam dengan manusia seperti Lukas. Hati Arkan juga bisa sakit melihat pacarnya selalu digoda orang lain terlebih orang itu mantan kekasihnya.

Lukas berpura-pura kaget akan sikap Arkan barusan. Senyumnya mengembang sempurna. "Apa lo bilang? Kehabisan cewek?" Dia kemudian berdecak sebal. "Asal lo tau stok gue banyak tapi--"

"Tapi kenapa lo tetap gangguin Sania?" tanya Arka memotong kalimat Lukas.

"Gangguin mantan maksud lo?" tanyanya meremehkan. "Karena dari sekian banyaknya cewek, cuman dia satu-satunya yang gue sayang. Ngerti lo? Lo udah ngerebut orang yang gue sayang. Lo ngerebut kebahagiaan gue."

"Terus kenapa waktu itu lo mutusin gue?" tanya Sania dengan suara meninggi.

Lukas tidak memerdulikan hal itu. Dia kini menatap lurus ke arah Arkan. "Sekarang gue yang tanya sama lo. Dari sekian banyaknya cewek, kenapa lo harus pacaran sama mantan gue?" tanyanya pada Arkan.

Arkan pikir dia tidak perlu repot mengurus hal seperti ini. Tujuannya hanya satu, tempat yang sepi untuk menenangkan pikirannya. Karena jujur, setiap dia bertemu dengan Lukas pikirannya selalu kacau. Lukas memang menyebalkan.

Arkan berdiri dari tempatnya kemudian pergi tanpa pamit.

"Arkan, tunggu!"

"Arkan."

"Arkan tunggu aku!"

Teriakan Sania tidak membuat Arkan berhenti, malah semakin mempercepat langkahnya. Entahlah, Sania tidak tahu bagaimana perasan Arkan saat ini. Karena yang dia tahu Arkan selalu sabar dan tidak begitu menanggapi ucapan Lukas.

Sesabar apapun orang itu, akan ada saatnya dia marah karena sikap Lukas yang demikian. Karena Arkan benat-benat menyayangi Sania. Siapa yang tidak kesal orang yang dia sayang digoda orang lain? Walaupun Arkan tidak terlalu bucin, tetapi perasaannya kepada Sania tak dapat diragukan lagi.

Sania berusaha mencari ke taman belakang sekolah, namun hasilnya nihil, Arkan tidak ada di sana. Lalu, dia melanjutkan langkahnya ke rooftop. Mungkin saja kekasihnya di sana, karena setahunya Arkan menyukai ketenangan.

Namun setelah sampai di rooftop, Arkan juga tidak ada di sana. Dia bingung harus mencari kemana lagi. Dua tempat itu adalah tempat favorit-nya Arkan tetapi keduanya pun tak kunjung menampakkan keberadaan Arkan.

Cari kemana lagi ya, batin Sania bingung.

Perpustakaan!

Ya, Sania baru mengingatnya. Meskipun bukan tempat favorite Arkan, tapi Arkan hobi membaca. Dan setiap ada masalah cowok berwajah datar itu menghabiskan waktunya dengan membaca. Mungkin saja kali ini Arkan memilih membaca buku di perpustakaan.

Sesampainya di perpus, Sania akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. Lega rasanya bisa melihat wajah kekasihnya itu.

"Lagi baca buku apa?" tanya Sania alibi, "Aku boleh duduk?"

Arkan hanya berdeham singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sania paham, dia kemudian duduk di sebelah Arkan.

"Aku temenin kamu baca ya. Nggak ganggu, kan?" Sania mencoba mencairkan suasana.

"Hm."

"Kok cuman hm?"

"Iya."

"Sekarang jadi cuek."

"Aku lagi baca."

Sania kikuk sendiri. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Diajak bicara pun percuma, jawaban Arkan hanya 'hm' dan 'iya' Lalu sekarang harus bagaimana? Ikut membaca juga? Ah, mana mungkin, itu bukan hobinya.

Lama dengan suasana awkward, Sania memberanikan diri merampas buku yang sedang dibaca oleh Arkan. Tentu, aksi Sania membuat Arkan bingung.

"Ada aku disini, kamu nggak liat?"

"Liat."

"Terus kenapa masih baca buku? Aku kesini mau ngobrol sama kamu."

"Perpus bukan tempat ngobrol."

"Kamu bisa ngertiin aku nggak, sih?" Sania mulai kesal.

"Kamu yang nggak ngertiin aku."

Sania membuang napas panjangnya. "Kamu marah gara-gara Lukas ngajak aku balikan? Kenapa hari ini kamu beda? Biasanya kamu nggak terlalu menanggapi apapun yang dibilang oleh Lukas, karena kamu tahu sendiri Lukas itu cuma pura-pura. Semua omongannya nggak ada yang bener. Inget, hubungan kita jangan sampai hancur hanya karena dia. Kalau sampai itu terjadi, aku jamin dia akan semakin bebas gangguin aku dan merasa menang. Dan kamu harus tau, perasaanku ke dia udah hilang, jadi kamu nggak perlu takut aku akan balik sama dia lagi."

"Aku nggak takut," ungkap Arkan secara spontan.

Tiga kata itu membuat Sania terperanga kaget. "Ma-maksudnya?"

"Aku siap kalau kamu milih dia."

"Nggak akan mungkin terjadi."

"Mungkin aja. Hati manusia siapa yang tau? Dan aku udah siap melepas kamu kalau kita memang nggak ditakdirkan bersama."

"Kamu ngomong apa, sih?" tanya Sania gelisah, "Apa kamu udah nggak sayang lagi sama aku?"

"Bukan gitu," elak Arkan, "Cuman aku nggak mau memiliki seseorang yang perasaannya masih ada di masa lalu."

"Maksud kamu aku jadiin kamu pelarian gitu?"

Arkan mengangguk-angguk. "Mungkin..."

"Arkan, mana mungkin aku mau sama kamu kalau aku masih sayang sama dia. Aku beda sama dia, cari pelarian setelah disakitin. Aku nggak akan membiarkan orang lain merasakan apa yanga ku rasakan, semuanya aku rasakan sendirian." Butiran bening Sania mulai menetes, sedikit demi sedikit mulai membanjiri wajahnya.

"Kamu harus tau satu hal, aku sangat bersyukur bisa ketemu sama kamu dan jadi pacar kamu. Walau terkadang aku masih inget yang dulu, tapi percayalah aku begitu mencintai kamu. Aku nggak tau apa yang membuat kamu kayak gini. Iya, iya, mungkin karena kamu udah cape dengan sikap Lukas. Tapi jangan buat aku jadi serba salah gini. Aku udah coba buat diemin dia tapi nggak bisa, dia selalu gangguin aku dan itu sangat menyebalkan. Dan aku--"

"Udah." Arkan memotong kalimat Sania, dia menatap lurus ke arah Sania. Tatapannya kali ini berbeda membuat Sania tak bisa menerka-nerka. "Kamu nggak perlu ngomong panjang lebar, aku udah tau. Mungkin karena kali ini aku kurang sabar menghadapinya. Aku juga nggak akan ngerusak hubungan kita, malah semakin berjuang biar Lukas cape dan nggak gangguin kamu lagi."

Sania tersenyum lega, Arkan benar-benar paham akan keadaannya. "Yakin nggak marah sama aku?"

"Marah sih enggak, cuman kesel aja. Itupun sama Lukas bukan kamu."

"Bener ni ya nggak marah?"

"Iya."

"Jangan cuek lagi."

Arkan mengangguk.

Sania menyodorkan jari kelingkingnya. "Damai."

Arkan tersenyum hangat sebelum menautkan jari kelingking mereka. "Of course."

***

Gadis berwajah lesu itu melemparkan tas nya ke atas kasur lalu menghempaskan tubuhnya. Hari yang melelahkan dari hari yang lain, dan kali ini Lukas terlihat sangat menyebalkan. Lukas pikir dengan cara seperti itu membuat Sania baper atau bahkan klepek-klepek, padahal tidak. Justru hal itu membuat Sania ilfeel padanya.

"Cape banget, huh..."

Benar-benar hari yang melelahkan dan sangat menguras tenaganya. Apalagi hari ini Arkan terlihat berbeda, yang biasanya hanya mendiamkan Lukas kini dia memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan yang sama sekali tidak penting.

Ponsel Sania tiba-tiba berdering. Sebuah telepon masuk, namun tidak tertera nama si penelepon. Sania mulai takut karena dia sama sekali tidak menberikan nomornya kepada orang yang tak dikenal. Dia mulai was-was.

"Angkat nggak ya?"

"Yaudah deh angkat aja siapa tahu penting."

Sania memberanikan diri mengangkat teleponnya. Tidak ada suara, sunyi, senyap dan tidak ada tanda-tanda orang.

"Hallo?

"Ini siapa ya?

"Ada urusan apa sama gue?"

"Mati!"

Tuttt

Sambungan terputus. Hanya kata 'mati' yang terdengar namun dia sendiri tak mengerti makna dibalik kata itu.

Apa semua ini kerjaan Lukas?

Ah, sepertinya tidak. Kalau memang Lukas ingin mengganggu ketenangan Sania dia pasti dari depan, blak-blakan dan tidak semisterius ini. Yang terdengar barusan juga suara perempuan bukan laki-laki.

Itu artinya, bukan Lukas pelakunya. Lalu, siapa? Selama ini Sania bukan tukang onar yang suka cari masalah, jadi kenapa si penelepon mengatakan seperti itu padanya?

Di tengah memikirkan siapa pelakunya, Sania dikagetkan dengan sebuah pesan masuk dari ponselnya. Dia kemudian membaca pesan itu.

+6283123××××××
Tambah    |    Block

Selamat memasuki permainan pertama, kawan!

***

Terima kasih sudah membaca :)

Vote

Komen

Share

Next?

Czytaj Dalej

To Też Polubisz

47.8K 2.6K 55
Kisah seorang gadis yang berjuang mengobati luka yang berasal dari masa lalu. Bayangan masa lalu kerap menghampirinya sehingga ia berubah menjadi sos...
397 88 32
❝Luka ini kembali basah hanya karena ku tahu kita saling mencintai❞ Luka yang selama ini ia lupakan kembali basah hanya karena satu laki-laki ya...
24.9K 1.3K 22
• 𝘔𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵𝘬𝘶 • ―ꦱꦏꦶꦪ [TAHAP REVISI, SABAR] ⚠️DILARANG KERAS MEMPLAGIAT KARYA INI DALAM BENT...
3K 361 43
Blurb : Vandra tak pernah menyangka jika ia akan menaruh hati pada Adiba. Taruhan konyol yang ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya justru berujung s...
Apka Wattpada - odblokuj wyjątkowe funkcje