DELORIA

By DEVIANA_MUF

989 350 127

Deloria Fellycia dan Rafanza Egidius adalah murid langganan ruang BK. Mereka berdua ke ruang BK bukan ada ses... More

2. Deloria Terluka
3. Minta Maaf
4. Belajar Bersama
5. Bersabar
6. Seblak
7. Sahabat

1. Perkenalan Singkat

257 63 26
By DEVIANA_MUF

Bu Tuti sudah bosan mengurus kenakalan Deloria dan Rafanza. Mereka berdua masuk ke ruang BK bukan ada sesuatu masalah keluarga atau persahabatan, tetapi karena kenakalannya. Sudah sebulan mereka bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Hari ini hanya mereka yang terlambat masuk sekolah, entah hanya kebetulan atau sebuah takdir. Di SMA Tunas Bangsa sedang melaksanakan upacara yang dilakukan setiap hari senin. Gerbang sekolah sengaja dikunci. Mereka harus menunggu di luar sampai upacara selesai.

"Lo, Deloria kan?" tanya Rafanza mengawali percakapan.

"Iya," jawab Deloria.

Rafanza sangat bosan di luar gerbang menunggu upacara selesai. Rafanza melampiaskan kebosanannya kepada Deloria. "Boleh kenalan?" tanya Rafanza dengan santai.

"Boleh," jawab Deloria singkat.

"Cuek amat. Kenalin gue..." Perkenalan Rafanza terpotong oleh Deloria.

"Gue Deloria Fellycia dan lo Egi," ucap Deloria.

"Heh, nama gue bukan..." Seperti tadi, ucapannya terpotong lagi.

"O, iya, nama panggilan gue Adel," ujar Deloria sambil mengulurkan tangan.

Rafanza menerima uluran tangan Deloria. "Dengerin yang baik ya Del, nama gue Rafanza Egidius. Nah, nama panggilan gue Egi."

Deloria tidak bisa melepas genggaman tangannya. "Oke, sekarang lepasin tangan gue!" bentaknya.

"Nggak, nanti gue lepas, tapi lo harus jawab satu pertanyaan gue!" Rafanza mengajukan syarat.

"Sok kenal lu. Lepasin nggak?" Amarah Deloria memuncak. Rasanya ingin mematahkan tangan Rafanza.

"Kenapa lo suka bulak-balik masuk BK? Lo banyak masalah keluarga atau emang lo bandel?" tanya Rafanza sedikit serius.

"Gue harus ngaku bandel apa gimana?" tanya Deloria sangat pasrah.

"Oh, berarti lo bandel. Gue suka cewek bandel. Tukeran nomor WA kuy." Rafanza melepas uluran tangan Deloria. Rafanza menyodorkan ponselnya kepada Deloria. "Maaf, gue nggak bisa ngasih nomor WA ke sembarang orang," tolak Deloria. Deloria berlari memasuki sekolah karena gerbang telah dibuka.

"Gila tuh cewek. Nggak liat muka gue yang paling cakep ini. Liat aja nanti, lo bakal ngejar-ngejar gue. Gue juga ogah sama lu, najis!" teriak Rafanza kesal.

Deloria langsung menuju lapangan untuk mendapatkan hukuman. Tidak seperti Rafanza yang masuk kelas tanpa merasa bersalah. Pak Asep masuk ke dalam kelas 10 IPS 3. Tanpa basa-basi Pak Asep langsung menyeret Rafanza ke lapangan sekolah.

"Aduh, Pak sakit nih telinga saya. Gimana kalau telinga saya copot? Bapak mau ganti?" omel Rafanza.

"Kamu jangan banyak tanya. Kamu lupa kalau murid yang terlambat harus dihukum?" tanya Pak Asep.

"Saya tau Pak, saya cuma mau menyimpan tas saya ke kelas terus ke lapangan deh buat dihukum," jawab Rafanza.

"Jangan banyak alasan kamu!"

"Iya, maaf Pak."

Deloria sama sekali tidak peduli dengan Rafanza yang dimarahi Pak Asep. "Aduh, Pak, Adel kepanasan nih. Hukumannya mana Pak? Lama banget sih," cibir Deloria.

"Punya mulut tuh dijaga Adel! Kamu sedang berbicara sama guru." Emosi Pak Asep meningkat.

"Maaf."

Rafanza tertawa jahil melihat Deloria dimarahi oleh Pak Asep. Hukuman yang diterima oleh Deloria dan Rafanza adalah berdiri tegak dengan kedua tangan memegang telinga dan salah satu kaki diangkat selama 30 menit. Biasanya hukuman seperti itu hanya 15 menit, namun Pak Asep ingin kedua muridnya jera untuk melanggar aturan sekolah.

15 menit berlalu. Pak Asep meninggalkan Deloria dan Rafanza di lapangan karena merasa kepanasan dan juga untuk minum. Hasan berlari menuju lapangan untuk memberikan botol minum miliknya kepada Deloria.

"Del, ini minum dulu, gue balik ke kelas, bye." Deloria menerima botol minum tersebut.

"Makasih!"

Deloria yang sedari tadi haus akhirnya bisa minum. Air di botolnya hanya tersisa untuk dua tegukan saja. Rafanza melirik botol itu yang berada di belakang kaki Deloria. Dengan cepat Rafanza mengambil botol tersebut lalu meneguk sisa airnya. Deloria emosi karena itu akan menjadi air yang berharga 15 menit ke depan.

"Ih, lo nyolong air minum berharga gue!" bentak Deloria kesal.

"Terus?" tanya Rafanza santai sambil melempar botol tersebut.

Deloria mengambil botol itu. Tanpa basa-basi ia memukul kepala Rafanza menggunakan botol minum Hasan.

"Sakit bego," rintih Rafanza kesakitan.

"Gue nggak bego!" teriak Deloria.

Deloria siap menendang, namun Rafanza sudah berlari untuk menghindar. Deloria langsung mengejar Rafanza. Mereka berdua berlari-lari di lapangan. Deloria yang ingin menendang Rafanza terus berlari mengejarnya. Pak Asep sudah ada di pinggir lapangan, ia sangat marah dan pasrah. "KALIAN BERDUA CEPAT KE SINI!" teriak Pak Asep. Mereka segera menghampiri Pak Asep. "KALIAN HARUSNYA BILANG KALAU HUKUMANNYA MAU LARI BERKELILING LAPANGAN!" Pak Asep langsung memberi hukuman lari 4 kali berkeliling lapangan. Akhirnya hukuman mereka selesai. Mereka masuk ke kelas masing-masing.

***

Deloria dan Hasan pergi ke cafe untuk belajar bersama. Senakal-nakalnya Deloria, ia tidak akan meninggalkan kewajibannya untuk belajar. Ia selalu masuk 10 besar setiap kenaikan kelas dari SD. Hasan selalu mendapat peringkat pertama dari TK. Sedikit informasi, Deloria dan Hasan sudah berteman sejak kelas 1 SD. Mereka selalu satu kelas dan tentunya duduk bersebelahan. Setiap ada ulangan sekolah, Deloria selalu mendapat sebagian jawaban soal dari Hasan. Hasan tidak marah karena memang keinginannya untuk memberi jawaban kepada Deloria. Ia juga siap menemani Deloria mengerjakan PR sejak kelas 2 SMP.

"Hasan Maulana Saputra, sekarang lo jelasin materi yang Bu Susi kasih waktu gue dihukum!" pinta Deloria.

Hasan bersemangat. "Siap bos, laksanakan!"

Hasan menjelaskan apa yang diajarkan Bu Susi di kelas kepada Deloria secara singkat, jelas, dan padat. Belajar Bersama sudah selesai. PR juga telah selesai. Mereka pulang ke rumah masing-masing.

Deloria langsung mandi, makan, dan mempersiapkan buku pelajaran untuk besok. Sebelum tidur Deloria selalu memainkan ponselnya. Saat membuka aplikasi WhatsApp ia melihat ada satu orang yang meminta add-back. Dari foto profilnya, Deloria tau bahwa itu Rafanza. Deloria merasa geli.

***

Deloria sudah berada di kelas sejak jam enam pagi. Ia tidak ingin dihukum lagi, namun ia datang terlalu cepat. Di kelas 10 IPS 1 hanya ada Deloria dan Hasan. Deloria tidur dan Hasan membaca buku novel. Devani dari kelas 10 IPS 3 melewati kelas Deloria. Devani mengintip lewat jendela dan ternyata ada Hasan, cowo idamannya sejak awal masuk sekolah SMA.

***

Kring, kring, kring

Bel istirahat berbunyi. Devani memberanikan diri untuk menghampiri Hasan. Devani menepuk pundak Hasan. "Ada apa?" tanya Hasan.

"Eh? Em, anu, itu, nanti ekskul fotografi boleh bareng nggak?" tanya Devani gugup.

Hasan bingung. "Kalau nggak mau, nggak apa-apa," ujar Devani lesu.

"Iya, boleh kok." Hasan tersenyum.

"Oke." Devani meninggalkan Hasan.

Deloria menghampiri Hasan. "Ngobrol sama siapa? Jangan bilang lo punya pacar! Itu bukan pacar lo kan? Iya kan?" tanya Deloria.

"Bukan, dia cuma ngajak ekskul bareng," jawab Hasan.

"Yah, nggak belajar bareng deh, huhu."

"Memang setiap hari Selasa sama Kamis kan kita nggak belajar bareng. Nanti kalau ada soal yang nggak tau jawabannya boleh tanyain ke gue, tapi kalau ada PR ya."

"Iya, gue ke kantin duluan ya."

"Iya."

***

Seketika heboh saat Friska and the geng masuk kantin. Deloria sedikit terganggu. Ia membawa mangkuk basonya menuju kelas, namun ditahan oleh Friska. 

"Minggir," usir Deloria. 

Friska sengaja menjatuhkan mangkuk baso yang dipegang Deloria. "Ups, sorry, gue nggak sengaja." Rok Deloria basah dan tangannya sedikit kepanasan. Kenapa Friska sengaja menjatuhkan mangkuk Deloria? Ia bingung. Deloria tidak ingin masuk BK lagi sehingga tidak membalas perbuatan Friska. 

"Oke," balas Deloria singkat.

Rafanza dan teman-temannya sedang bermain sepak bola di lapangan. Rafanza menendang bola dengan sangat keras dan mengenai punggung Deloria yang sedang berjalan di pinggir lapangan. "Aw!" Deloria melirik ke sana kemari untuk mencari pelaku sebenarnya. Rafanza berlari menghampiri Deloria.

"Kenapa rok lo basah?" tanya Rafanza santai.

"Cih, memang kita deket ya? Baru aja kenalan kemarin," sindir Deloria. 

Deloria memukul kepala Rafanza untuk kedua kalinya. "Rasain lo! Balasan buat orang yang nendang bola ke punggung gue," teriak Deloria sembari berlari menjauh dari Rafanza.

"Emang gila tuh anak! Jadi pengen gue pacarin," ucap Rafanza membuat Deloria berhenti berlari.

"Najis!" teriak Deloria.

Saat menuju kelas, Deloria melihat Devani bulak-balik melewati kelasnya. "Lo, sini deh," tunjuk Deloria.

"Aku?" tanya Devani tidak yakin.

"Iya, lo sini bentar deh."

Devani menghampirinya. "Kenapa?"

Deloria ingat wajah yang tadi menghampiri Hasan. "Lo mau ketemu Hasan?" 

Devani hanya diam.

"Lo suka sama Hasan? Gue bantuin lo jadian deh, gimana?" tawarnya.

Devani panik. Devani berbohong. "Hah? Nggak kok, aku nggak nyari Hasan," elaknya.

Deloria tahu bahwa Devani berbohong. "Besok pulang sekolah kita belajar bareng sama Hasan di cafe, oke?"

Devani mengangguk, namun ia ragu.

Deloria mengulurkan tangan. "Mana hp lo?"

Devani langsung berlari menuju kelasnya. Ia takut ponselnya diijak atau diambil oleh Deloria. Ia tahu bahwa Deloria langganan masuk ruang BK. Deloria bingung.

***

Bel pulang sekolah berbunyi. Devani menunggu di depan kelas 10 IPS 1. Ternyata Hasan lupa bahwa ia akan ekskul bareng bersama Devani. Hasan juga tidak tahu nama orang yang mengajak ekskul bareng tadi siang karena wajahnya sedikit asing. Devani menuju ruang ekskul dengan arah yang berbeda dengan Hasan karena ia malu. Devani berubah pikiran, ia akan bolos ekskul untuk hari ini saja.

Deloria menunggu mamang taksi online. Datangnya sangat lama. Deloria sudah membatalkan pesanannya sebanyak 3 kali.

"Lo duluan aja," pinta Rafanza.

"Kenapa Gi? Lo mau ke mana? Lo galau lagi?" tanya Guntur. Guntur satu-satunya teman yang paling dekat dengan Rafanza.

"Banyak omong lo, udah gue mau ngajak pulang bareng dia." Rafanza menunjuk Deloria.

"Udah punya pacar baru aye lu tong, akhirnya gue dilupakan kembali. Nggak jadi nyeblak nih? Gue pengen seblak!"

"Beli aja sendiri!"

Guntur sebenarnya tidak merelakan Rafanza untuk pulang bersama Deloria. Ia merasa seperti dimanfaatkan oleh Rafanza. Ia tidak mau membeli seblak sendirian. "Bye, gue mau rebahan."

Rafanza menghampiri Deloria lalu mengambil ponsel miliknya. "Pulang bareng kuy," ajak Rafanza.

"Siniin handphone gue!" bentaknya.

"Galak amat Del."

Taksinya sudah sampai. Dengan sangat terpaksa Deloria pulang bersama Rafanza naik taksi tersebut. "Lo udah pulang bareng gue dan gue sendiri yang bayar taksi. Sekarang mana handphone gue?" tanya Deloria.

"O, ini rumah lo. Gue nggak jadi gebet ah, terlalu miskin guenya. Makasih atas tumpangannya Del, bye." Rafanza memberikan ponsel milik Deloria. Ia langsung pergi. Deloria tidak peduli dengan ucapan Rafanza.

.
.
.
.
.

◉ Terima kasih!
◉ Jangan lupa vote.
◉ Koreksi aja nggak papa.

Continue Reading

You'll Also Like

16.2K 2.3K 61
[Sebelum baca, follow Setiga dulu sabi kali, ya.😎] Bayangkan jika saat ini kamu memiliki geng persahabatan yang terdiri dari dua cewek dan tiga cowo...
RENO By linaa

Teen Fiction

947 50 9
"Bilang aja lo takut kalau di gudang" "Enggak, gue berani" "Beneran?" "Hihh iya gue takut" "Bad boy macam apa lo cuma kaya gitu aja takut" ucap Della...
26.1K 2K 49
Empat gadis dengan karakter yang berbeda, dengan sifat kepribadian yang berbeda pula, di satukan dengan ikatan persahabatan. persahabatan yang mewarn...
331 65 23
DON'T COPY PASTE MY STORY!!! Rangking #4 in baperstory (05 Juni 2020) #4 in wattpadindonesia (05 Juni 2020) #10 in rekomended (14 Juni 2020) #10 i...
Wattpad App - Unlock exclusive features