Seseorang tengah melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Dia tersenyum tengil sambil berkeliling memutari tubuh Yuna yang di ikat di kursi.
Sembari membawa pisau lipat, dia bersiul dan bersikap santai. Wajah Yuna penuh dengan luka. Tangannya berapa kali di gores oleh pisau itu.
Sungguh kejam orang yang melakukan hal tersebut. Dua minggu sudah Yuna berada di tempat kumuh dan jauh dari pemukiman penduduk. Yuna benar-benar menjadi orang yang menderita.
Dengan kasarnya, pelaku itu memukul bahu Yuna. Tetapi, Yuna tidak bangun. Dia melakukan pukulan lebih keras lagi. Akhirnya, Yuna pun terbangun dengan kondisinya yang sungguh lemah.
Cahaya lampu membuat Yuna sulit untuk membuka matanya. Tulangnya terasa remuk. Tidak bisa memberontak bahkan teriak.
Yuna tidak tahu sekarang pagi, siang atau malam hari. Tempat ini sangat tertutup, jam pun tidak ada. Hanya ada satu lampu yang menerangi tempat itu.
Pelaku meraih dagu Yuna dan menatap tajam. Pelaku tersebut sulit untuk di kenali. Karena dirinya memakai pakaian serba hitam, memakai topeng dan memakai sebuah gelang berwarna hitam.
"Nih makan!" Pelaku memberikan nasi kotak yang terdapat kentang dan nasi. Nasinya pun sudah keras. Air minum hanya segelas dan pelaku terkadang membuangnya karena senang jika Yuna menderita.
"Tangannya?" kata Yuna sambil menatap pelaku dengan mata teduh. Yuna tidak mampu mengambilnya karena tangan di ikat.
Dengan kejamnya, pelaku malah sengaja menumpahkan makanan dan berhasil membuat makanan tersebut berserakan.
"Tuh makan" titah pelaku.
Yuna menggeleng pelan menatap datar pelaku karena Yuna sudah muak dengan pelaku misterius itu. Suaranya tidak bisa dia kenali. Bahkan menatap wajahnya saja sangat buram. Yuna sama sekali tidak memakai kacamata bahkan soflens. Itu membuat penglihatannya kabur.
"Saya lebih baik tidak makan dari pada makan bareng tikus" jawab Yuna.
Pelaku malah menyodorkan pisau ke leher Yuna yang menyebabkan Yuna ketakutan. Bernafas saja susah karena nyawa Yuna terancam.
"Kamu jangan berani macem-macem. Kalo kamu berani, goresan pisau ini akan menghiasi leher dan wajah cantik kamu" dengan gerakan sensual, jantung Yuna hampir copot. Dinginnya pisau yang menempel di pipi kiri membuat nafas Yuna terhenti.
"Mau sampai kapan kamu membuat saya seperti ini? Apa kamu nggak bisa berfikir positif?" Yuna bertanya dengan hati-hati karena takut ke gores pisau.
Pelaku menggaruk lehernya sendiri dan menaruh pisau itu di pinggangnya.
"Sampai kapan yah? Mungkin sampai mati juga kamu akan tetap disini"
Yuna malah tersenyum kecil dan menunduk "Dan kamu akan bertanggung jawab atas kematian saya"
Pelaku melipat kedua tangannya di dada "Nggak akan ada yang bisa. Tempat ini jauh dari warga"
"Iya saya tahu, tapi kesengsaraan kamu dekat"
Plak
Pelaku dengan keras menampar pipi kiri Yuna sampai sudut bibirnya berdarah. Bukannya meringis, Yuna malah tertawa kecil.
"Saya sudah kebal dengan kekerasan. Sepertinya kamu sangat amatir menjadi penjahat apalagi pembunuh" kata Yuna karena dirinya sudah pasrah.
Yuna berani mengatakan hal itu karena teringat dengan seseorang, lelaki yang selalu melindunginya dari kejahatan dan kekerasan. Iya, Redo. Yuna butuh Redo. Apalagi kehadiran Redo. Mengingat Redo saja sudah membuat Yuna menjadi kuat.
Tolong aku, Do. Aku butuh kamu. Aku nggak bisa sendiri disini.
Yuna memejamkan matanya seraya memohon agar Redo cepat menemukannya. Yuna tidak tahu keberadaan Revi dan Kila. Disini, Yuna benar-benar menderita sendiri.
-----
"YUNAAAAA!" Keringat membasahi pelipis Redo. Redo langsung terbangun dari tidurnya saat memimpikan Yuna.
Tengah malam, Redo bermimpi, tetapi mimpi itu nampak jelas. Redo menarik rambutnya sendiri merasakan hatinya yang bersedih.
Redo mendengar Yuna meminta tolong dalam keadaan yang tidak baik.
"Na, aku datang. Aku akan menemukan kamu" Dengan cepat, Redo menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
Redo langsung meraih kunci mobil dan memakai jaket. Sedikit berlari menuruni tangga. Saat Redo hampir mencapai pintu rumah.
"Redo, tunggu"
Redo menoleh ke belakang dan mendapati Irpan dan Maya. Mereka berjalan mendekati Redo. Menampilkan wajah datar membuat Redo memalingkan wajahnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Irpan.
"Redo mau nyari Yuna, Yah"
"Ini udah malem, Do" ucap Maya.
"Redo tahu ini malem. Tapi Redo harus cari Yuna. Yuna butuh Redo, Yah, Bun"
"Ayah dan Bunda tidak mengizinkan kamu mencari Yuna. Ini sudah malam. Kamu boleh sepuasnya mencari Yuna tapi besok. Bahaya kalo malem ke luar, apalagi sendirian" perkataan Irpan membuat Redo malas. Redo kekeh, dia membuka pintu untuk keluar.
Dengan cepat, Irpan mengambil kunci mobil dari tangan Redo. Redo terkejut atas perlakuan orangtuanya ini.
"Ayah, nyawa Yuna dalam bahaya. Apa Ayah nggak kasian? Yuna nggak ada kabar sampai saat ini. Yuna pacar Redo dan Redo pacar Yuna. Redo mencintai Yuna begitu juga Yuna. Untuk apa Redo mencintai Yuna kalo nggak bisa menyelamatkan dia, Yah. Buat apa Redo di ciptakan kalo bukan membuat Yuna bahagia. Yuna itu adalah perempuan yang Redo cintai" penjelasan Redo membuat mereka terdiam.
"Apa Ayah sama Bunda nggak kasian liat Redo kayak gini? Redo hilang semangat bahkan hidup Redo nggak jelas dan sia-sia" lanjutnya.
"Apa kamu nggak sayang sama Bunda, Do? Sampai-sampai kamu lebih mementingkan Yuna?" Tanya Maya.
"Bukan gitu, Bun. Dulu Bunda sama Ayah dukung Redo pacaran sama Yuna. Tapi kenapa Bunda sikapnya kayak gini?" Redo merasa heran.
"Ayah sama Bunda mengizinkan kamu nyari Yuna besok. Bukan sekarang. Kalo kamu kekeh mau nyari Yuna sekarang, kamu akan kena musibah karena nggak nurut sama orangtua dan akibatnya kamu nggak bisa menemukan Yuna" jelas Irpan.
"Oke" Redo langsung lari menuju kamarnya lagi. Terpaksa Redo melakukan ini. Redo menggebrak pintu dan duduk di tepi kasur.
Redo mengambil poto yang Yuna berikan sebagai hadiah romantisnya di cafe saat itu. Tidak terasa, Redo menitikkan air matanya.
"Na, kamu dimana sekarang? Maafin aku karena nggak bisa cari kamu. Aku janji, dalam waktu dekat, aku akan memelukmu lagi" Redo menunduk sambil menangis.
Jika laki-laki sudah menangisi perempuan maka laki-laki itu sangat mencintai kamu. Cintanya besar, bahkan kekuatan dia sebagai laki-laki akan melemah di hadapan kamu. Jadi, pertahankan ya!
---
"Sebenarnya kamu itu siapa? Kenapa kamu tega siksa saya? Apa tujuan kamu?" Tanya Yuna dengan lengkap.
Pelaku malah menyeringai "Kamu tidak perlu siapa saya. Tujuan saya itu cuma satu, buat kamu menderita"
"Kenapa kamu nggak langsung membunuh saya? Sudah cukup saya mendapatkan perlakuan keji dari kamu"
Pelaku meraih dagu Yuna "Nggak segampang itu cantik. Udah ya, saya mau keluar dulu. Kalo laper, tahan dulu sampe mampus!" Tandasnya sambil menekan dagu Yuna lalu menepisnya.
Yuna menatap mata pelaku dengan intens. Siapa tahu Yuna mengenalinya. Tetapi, Yuna tidak bisa melihat mata pelakunya dengan jelas. Oh tuhan sulit sekali.
Pelaku melambaikan tangan mengejek dan pergi meninggalkan Yuna sendiri. Yuna tengok kanan kiri dan melihat ponselnya tergeletak di meja.
Dengan kegigihannya, Yuna mencoba untuk mengambil ponsel itu. Duduk dengan di ikat tangannya memang sulit apalagi mencapai meja di ujung sana.
Goresan luka akibat gesekan tali membuat Yuna tidak getir mencoba. Ini demi keselamatannya dan Yuna harus keluar dari neraka ini.
Yuna akhirnya berhasil meraih ponsel di meja. Yuna berusaha untuk menyalakannya tetapi tidak bisa. Yuna terus menyalakan ponselnya dan akhirnya bisa. Tinggal 2 persen lagi. Yuna harus memanfaatkan kesempatan itu.
Dengan menoleh ke belakang berusaha melihat ponsel, Yuna mencari nama Redo disana.
Yuna menemukannya dan langsung menghubungi Redo.
---
Tiba-tiba ponsel Redo berdering. Alangkah terkejutnya Redo. Di ponselnya nama Yuna tertera. Redo langsung mengangkat telpon dengan perasaan bahagia.
----
"Redo" panggil Yuna dengan suara lemah. Yuna tidak bisa berkata apa-apa.
"Yuna. Na, kamu dimana?"
Bukannya menjawab, Yuna malah tersenyum karena bahagia mendengar suara Redo lagi.
"Na, jawab aku"
"Do, aku di rumah kosong, aku di hutan. Tolong aku, aku sendiri. Do, Redo" panggil Yuna karena Redo tidak menjawab.
Ternyata ponselnya mati. Ingin rasanya Yuna berteriak tetapi tidak punya tenaga. Yuna menangis, menjatuhkan ponselnya.
Yuna merasa lelah, dirinya menatap bekas luka akibat sayatan pisau di tangannya. Hembusan nafas beratnya bertanda dirinya hanya bisa pasrah.
Yuna mendongakkan kepalanya, tetesan air mata keluar dari ujung mata indahnya "Do, selamat kan aku jika kamu masih mau melihat aku"
"Aku berpikir, Tuhan mentakdirkan kamu untuk melindungi nyawa aku. Tuhan mentakdirkan kamu untuk melengkapi hidupku dan Tuhan lah yang mengirimkan kamu untuk membahagiakan aku"
"Tapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan semua yang aku pikirkan tentang kamu selama ini? Apa kamu hanya sebatas angin lalu dengan arah berbeda? Do, aku butuh kamu. Tolong cepat datang" setelah mengatakan itu, Yuna langsung tidak sadarkan diri.
---
Betapa bahagianya Redo saat mendengar suara Yuna disana.
"Redo"
Tangan Redo gemetar karena Yuna mengabarinya.
"Yuna. Na, kamu dimana?" Tanya Redo dengan cepat.
Tetapi, Redo tidak mendapati jawaban bahkan suara Yuna. Redo melihat ponselnya yang masih tersambung.
"Na, jawab aku"
"Do, aku di-"
Tut tut tut
"Hallo, Na, Yuna!" Sial. Terputus.
Redo kembali menghubunginya.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi"
Redo melempar ponsel ke kasur. Baru saja Redo bahagia tetapi mudah terjatuh seperti ini.
"Na, jangan buat teka-teki kayak gini. Aku nggak paham" kata Redo.
Apakah kalian penasaran siapa pelakunya?
Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu DO.NA update lagi.
See you!!
Jangan lupa vote and comment oke 😉😍