"Cantik jangan nangis dong, nanti cantiknya hilang lho. Ayo senyum, senyum kamu itu sangat berarti buat kelangsungan makhluk hidup di dunia ini. Aku contohnya.
-Arta🐊-
Happy Reading<3
[Jangan lupa dengerin mulmed yang udah disediain]
Bulan berlari sangat kencang saat melihat dari kejauhan satpam sudah akan menutup gerbangnya. Nafas Bulan terengah-engah, ia lalu berhenti meminum air lalu melanjutkan berlarinya lagi.
Telat, kini pintu gerbang sudah tertutup sempurna.
Bulan menghela nafas panjang, andai saja tadi malam ia tidak menangis semalaman pasti ia tidak akan telat hari ini. Bulan berkaca sebentar menggunakan handphone nya, matanya masih terlihat sangat sembab.
Bulan kini mondar-mandir tak tentu arah, bagaimana caranya masuk ke sekolah sekarang? Bulan mulai berpikir keras hingga suatu aroma yang sangat ia benci menusuk hidungnya.
Asap rokok.
Bulan menoleh ke arah siapa yang merokok, pandangan Bulan kini melihat seseorang yang memakai seragam sepertinya tetapi seragamnya tampak tak rapi dan berantakan. Lelaki itu tampak santai dan tak menghiraukan Bulan.
"Ehemm." Bulan mulai berdehem.
Lelaki itu masih saja tak menggubrisnya. Bulan kini terbatuk-batuk. Tak selang lama kini lelaki itu menoleh ke arah bulan.
"Rokoknya matiin boleh?" ucap Bulan masih menutupi hidungnya dengan kedua tangannya.
"Gak boleh." ucap lelaki itu.
"Kamu tau gak? Merokok itu bahaya buat kesehatan kamu, terlebih asap rokok juga bahaya untuk orang yang ada disekitar kamu." ucap Bulan bernasihat pada lelaki itu.
"Terus gue harus gimana?" tanya lelaki itu lalu mendekat ke arah Bulan.
Bulan mendongak, lelaki itu sangat tinggi. Ia lalu mengambil paksa rokok yang sedang lelaki itu hisap. Lalu dengan cepat Bulan menginjak rokok tersebut.
Lelaki itu kaget dengan apa yang dilakukan Bulan. Ia lalu mencengkram bahu Bulan dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bulan.
"Nyari mati lo?" ucap lelaki itu menatap tajam ke arah Bulan.
Bulan menggeleng cepat, "Maaf, tapi beneran deh ngerokok itu gak baik." jawab Bulan pada lelaki itu.
Lelaki itu berdecih pelan dan mengarahkan wajahnya mendekati wajah Bulan. Kini jarak mereka hanya sepersekian. Bulan mencoba menahan nafas, bau rokok masih tercium dengan sangat kuat di mulut lelaki itu.
"Gue bau ya?" tanya lelaki itu pada Bulan.
Bulan mengangguk cepat, "Iya, sangat bau." ujarnya, emosi lelaki itu langsung naik pitam.
Lelaki itu lalu mendelik tajam ke arah Bulan, "Seriusan gue bau?" tanya lelaki itu pada Bulan.
Bulan mengangguk lagi, "Iya bau banget!"
Lelaki itu lalu mengambil paksa tas Bulan yang dominan berwarna merah muda itu. Lelaki itu tampak mencari sesuatu. Setelah berhasil menemukan apa yang ia inginkan ia lalu tersenyum senang.
Lelaki itu langsung menyemprotkan minyak wangi Bulan ke seluruh tubuhnya.
Bulan melotot melihat minyak wanginya oleh-oleh dari papahnya kini habis tak tersisa. Bulan langsung menangis melihat botol minyak wanginya yang sudah kosong.
Lelaki itu seketika gelagapan. Memangnya ia salah apa sehingga membuat gadis cantik dihadapannya menangis?
"Lo kenapa nangis? Gue masih bau ya?" tanya lelaki itu, khawatir.
Bulan langsung memukuli lelaki itu tapi masih dengan tangisnya.
"Kamu bau banget, aku benci sama kamu." ucap Bulan disela-sela tangisnya.
"Astagfirullah, baru sekali ini seriusan ada orang yang giniin gue."
Bulan langsung menghapus air matanya dan menatap lamat-lamat ekor mata lelaki itu. "Pokoknya gantiin parfum aku!"
Lelaki itu tertawa sebentar. "Mau gue beliin berapa? Ayo bilang! Bahkan sepabrik nya aja gue beliin!" ujarnya, sombong.
Bulan memutar matanya malas, "Sombong kalo harta milik orang tua buat apa?" balasnya. Lelaki itu langsung diam.
"Omongan lo kayak omongan tetangga gue." ucapnya tampak syok. "Pedes amat!!!" ucapnya lagi pada Bulan.
"Asal kamu tahu ya, yang bau itu bukan badan kamu tapi nafas kamu."
Bulan langsung mengeluarkan sesuatu di saku roknya. Ia mengeluarkan beberapa permen untuk diberikan kepada lelaki dihadapannya itu.
"Makan." perintah Bulan pada lelaki itu.
Lelaki itu langsung memakan permen tersebut.
"Lo telat?" tanya lelaki itu pada Bulan.
"Iya." jawab Bulan lesu.
Tanpa aba-aba lelaki itu langsung menarik tangan Bulan dan membawanya ke suatu tempat.
"Ini kan dibelakang kantin."
"Jangan berisik, nanti guru bisa tau."
Bulan mengiyakan dan mulai mengekori lelaki itu dari belakang.
Bulan bernafas lega saat sudah masuk ke lingkungan sekolah tanpa terkena hukuman. Ia lalu langsung berlari menuju kelasnya dan meninggalkan lelaki itu yang notabenenya adalah kakak kelasnya.
Lelaki itu tersenyum samar melihat kepergian Bulan yang sudah berlari jauh meninggalkannya.
"Calon istri gue udah ketemu."
*****
Bulan benar-benar bersyukur ternyata gurunya tidak datang karena ada keperluan maka dari itu guru tersebut hanya menitipkan tugas saja. Bulan lalu berjalan riang menuju bangkunya dan melambaikan tangan ke arah Rara.
"Kok lo telat sih Lan? Gue kan mau cerita panjang lebar sama lo!" seru Rara, heboh.
Bulan mengulum senyum, "Ayo mau cerita apa? Aku siap dengerin kok." ucapnya pada Rara.
Seketika tatapan Rara berubah sendu, "Lo udah tau kabar kalo Bintang sama Melody tunangan?" tanya Rara pada Bulan.
Bulan langsung bungkam. Bukan apa-apa, ia hanya ingin melupakan waktu itu dan menghapusnya dari ingatannya.
Bulan mengangguk, "Udah kok." ujarnya sambil tersenyum.
Rara menatap Bulan lekat dan mulai mengelusi punggung gadis itu. "Gue tau ini pasti berat, lo pasti bisa dapet yang lebih baik daripada Bintang."
Bulan kembali mengulas senyum, "Iya, berat banget. Memang awalnya sulit ngelupain tapi semoga di akhir bisa sukses ngelupainnya." jawab Bulan mantap.
Rara mengacungkan kedua jempol ke arah Bulan.
Bintang melirik Bulan sekilas yang tengah mengukir sebuah senyuman penuh kepalsuan. Bintang kini menjadi sangat merasa bersalah.
Berapa banyak topeng lagi yang harus gadis itu pakai untuk menutupi segala masalahnya dan kesedihannya? Gadis itu kini tengah merintih menahan sakit yang begitu dalam, padahal dunia selalu saja memaksa dia untuk terus mengukir senyuman dan bertingkah seolah-olah ia sedang baik-baik saja. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Gadis itu mungkin ceria dihadapan para orang namun saat sedang sendiri wujud aslinya akan terbuka, kesunyian dan kesedihan telah menjadi makan sehari-harinya.
Sungguh, dia gadis yang sangat hebat. Aku bangga padanya.
"Gue kecewa sama lo, Bin." ujar Edo tiba-tiba.
"Gue juga kecewa." ujar Denis ikut-ikut.
"Tapi gue bahagia, kok." ujar Fiki tampak bahagia. Edo dan Denis langsung menjitak bersamaan jidat Fiki.
"Bercanda sahabat." ucap Fiki sambil memegangi jidatnya.
Bintang menghela nafas panjang. "Gue tunangan sama dia karna suatu alasan, jadi tolong kalian jangan mojokin gue terus." jawabnya sambil menatap bergantian ketiga sahabtnya itu.
"Kayaknya kita gak mojokin lo deh, liat, lo itu ada ditengah-tengah gak dipojokan." sahut Edo kesal.
Kini giliran Edo yang mendapatkan jitakan dari Denis dan Fiki.
"Bercanda sahabat." Edo kini memegangi jidatnya yang tampak sedikit merah.
"Alasan apa? Lo bilang lo gak cinta sama dia, lo gak sayang sama dia, tapi kenapa lo tunangan sama dia? Gue kadang bingung sama jalan pikiran lo, Bin. Lo nerima orang yang baik rupa tapi dalamnya buruk rupa." ucap Denis panjang lebar pada Bintang. Edo dan Fiki tampak mengiyakan ucapan Bintang.
Denis masih menatap Bintang tak percaya, "Sementara dia? Cewek itu? Lo bego seriusan deh lo bego, Bin. Dia itu kurang apa coba? Cantik udah, pinter udah, baik udah, tulus udah, dia itu tipe gue banget bro. Tapi sayang dia malah milih lo yang brengseknya nauzubillah." ucap Denis lagi kali ini sambil menunjuk ke arah Bulan.
"Bener tuh, kalo aja Bulan gak bucin sama lo pasti udah gue embat." sahut Edo ikut berkomentar.
"Andai dulu Bulan nerima gue, pasti dia sekarang bahagia sama ketawa terus." seru Fiki, sedih ala sadboy.
Bintang berdecih sebentar, "Gue tunangan sama dia karena terpaksa."
ujarnya sambil sesekali menunduk.
Ah, ketiga sahabatnya itu kini tampak memikirkan sesuatu hal. Mereka tahu Melody adalah gadis licik yang dapat mendapatkan suatu hal dengan cara yang teramat mudah dan tentunya licik.
Denis beralih menatap Fiki, lelaki manis itu tampak sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Lo gak ada niatan buat dapetin Bulan lagi, kan?" tanya Denis intens pada Fiki.
Fiki menggaruk kepalanya yang tak gatal dan sedikit kemudian ia tertawa renyah. "Ya nggaklah, gue sekarang sama Rara." ujarnya sambil menatap Rara yang sedang berbincang ria dengan Bulan.
"Rara, gadis itu yang udah bikin gue sadar bahwa lebih baik dicintai daripada mencintai yang tak pasti."
*****
Bel istirahat berbunyi membuat Bintang langsung melangkahkan kaki ke arah Bulan untuk mengajak gadis itu berbicara. Bintang menampilkan senyumnya dihadapan Bulan saat ini.
Bulan mengalihkan pandangannya, ia tak ingin memiliki kontak apapun pada Bintang. Bahkan kontak Bintang sudah dihapus, Bulan hanya ingin ia melupakan Bintang secara total.
Kalian kalo move on biasanya ngelakuin apa? Tips dong, aku lagi susah move on nih.
"Bulan, ayo ke kantin." ajak Bintang pada Bulan.
Bulan hanya diam.
Bintang menghela nafas, "Maaf, gue gak bermaksud bikin lo kecewa lagi." ujarnya sambil menatap lembut Bulan.
Bulan berdecih pelan mendengar penuturan Bintang yang sangat lucu dihadapannya saat ini.
"Gak usah minta maaf kalo akhirnya ngelakuin kesalahan yang sama berulang-ulang." cibir Bulan. "Aku udah capek sama kamu. Aku gak pengen kamu bodoh-bodohin lagi, sekarang mending kita gak usah Deket lagi." ucap Bulan lagi.
Belum sempat Bintang membalas ucapan Bulan, ia sudah ditarik paksa oleh Melody.
"Kamu apa-apaan sih? Jangan mentang-mentang aku gak ada kamu bisa seenaknya deketin dia ya!" sentaj Melody geram sambil menunjukkan telunjukkan ke arah Bulan.
Bintang langsung menepis tangan Melody yang berani-beraninya menunjuk Bulan.
Bintang menatap Melody tajam, "Gue mungkin milik lo sekarang, tapi hati gue tetep milik Bulan. Cuma Bulan." ujar Bintang masih menatap Bulan lembut.
"Kamu itu tunangan aku Bintang!" ucap Melody dengan emosi yang menggebu.
"Tunangan terpaksa, garis bawahi TERPAKSA." balas Bintang pada Melody.
Melody dengan emosi yang tersulut kini menghampiri Bulan dan menjambak rambut Bulan. Bulan merasa yang tak bersalah pun juga membalas apa yang dilakukan Melody padanya.
Bintang langsung saja melerai mereka, tetapi mereka berdua terlalu mempertahankan pertengkaran tersebut. Hingga seorang lelaki dengan seragam yang awut-awutan ikut melerai mereka berdua.
Laki-laki tersebut langsung membawa Bulan pergi. Bintang melihat betapa dekatnya Bulan bersama lelaki tersebut.
"Apa gue udah gak ada harapan buat dapetin lo lagi Lan?" gumam Bintang pada dirinya sendiri.
*****
"Gak nyangka gue lo bisa kayak gitu tadi, ngeri oi gue aja sampe takut."
Bulan memutar matanya malas pada lelaki yang kini tengah menatapnya.
"Kamu siapa sih sebenarnya? Sok kenal banget." jawabnya pada lelaki itu.
"Lo gak kenal gue? Main lo kurang jauh sih." ucap lelaki itu pada Bulan.
"Idih."
Lelaki itu tertawa dan mulai mengulurkan tangannya.
"Kenalin gue Arta, cowok terganteng dan terkece di SMA Pelita Garuda." ucap lelaki itu bangga.
"Oh."
"Oh doang?"
"Terus aku harus gimana?"
"Ya apa kek, terkejut gitu, kejang-kejang gitu, atau nangis darah gitu."
"Harus banget?"
"Haruslah. Banyak banget cewek yang mau gue ajakin kenalan dan orang yang terpilih itu lo, seharusnya lo sujud syukur."
Bulan berdecak. Lelaki disebelahnya sangat menjengkelkan dan juga cerewet.
"Tata, kamu alay juga ya." ucap Bulan pada Arta.
"Arta oi bukan Tata!" protes Arta pada Bulan.
"Iya iya, Tata itu banyak protes ya." jawab Bulan malas.
"Lo SD kagak lulus yak?" tanya Arta pada Bulan.
"Lulus lah!"
"Lah itu lulus kok eja Arta aja gak bisa. Mau gue ajarin eja nama gue dengan bener?"
"Kamu ngeremehin aku?"
"Kok lo sewot sih! Sekarang coba panggil nama gue dengan bener."
"Tata."
"Arta oi!"
"Suka-suka aku lah."
Arta mencak-mencak melihat kelakuan Bulan terhadapnya. Ia pura-pura bersedih untuk melihat respon gadis itu terhadap dirinya.
"Tata kenapa sedih?" tanya Bulan pada Arta.
Arta menghela pelan dan mengukir sebuah senyuman. "Gini ya cebol, nama gue itu Arta dieja A-R-T-A. Bukan T-A-T-A."
"Enak aja dipanggil cebol, nama aku itu Bulan." ucap Bulan tak terima bahwa dirinya dipanggil cebol, padahal tinggi badannya 160cm.
"Cepet eja nama gue dengan bener!"
"A-R-T-A, tata."
Arta ingin sekali mencekik gadis disebelahnya itu.
"Salah lagi lo gue cium."
Bulan menelan ludahnya. Ia lalu melirik lelaki yang tampak kesal disebelahnya itu.
"A-R-T-A, Arta."
Arta mengerjapkan matanya berkali-kali. "Lah itu bener kok tadi salah mulu?" tanyanya pada Bulan.
"Ya suka-suka aku lah, aku ke kelas dulu ya Tata!"
Sekali lagi Arta menatap kepergian Bulan dengan sunggingan kecil di seulas bibirnya. Gadis itu sangat menarik untuknya.
"Gue semakin yakin kalo dia itu calon istri gue."
*****
Bulan berjalan tergesa-gesa, ia ingin cepat pulang untuk menghindari ajakan pulang bersama Bintang. Lelaki itu selalu saja menyuruh Bulan untuk pulang bersamanya. Tetapi Bulan tentu saja menolak dengan cepat karena ia tidak ingin dianggap sebagai perusak hubungan orang.
"Kita harus bicara Bulan." ucap Bintang menarik pergelangan tangan Bulan.
"Aku sibuk." ucap Bulan menunduk tak mampu menatap Bintang.
"Alasan."
"Aku beneran sibuk."
"Pasti lo mau main boneka-bonekaan lagi kan? Yaudah ayo gue ikut!" ujar Bintang, semangat.
Bulan langsung menepis tangan Bintang dan berlari cepat. Bintang tentu saja mengejar Bulan dan tak membiarkan gadis itu pergi darinya.
Tapi Bintang melihat suatu keganjalan. Bulan, gadis itu kini tengah pulang bersama lelaki yang tadi melerai pertengkaran Bulan dan Melody.
Bintang menerka-nerka, sebenarnya ada hubungan apa antara mereka?
"Arta anak kelas XI IPS 2, dia cowok buaya sama kayak gue. Tapi dia masih dibawah gue." ucap Denis tiba-tiba membuat Bintang menoleh.
"Lo tau mereka punya hubungan apaan?" tanya Bintang pada Denis.
Denis menggeleng, "Gue rasa mereka belum punya hubungan apa-apa. Tapi gak tau kalo besok." jawab Denis.
Bintang mengepalkan kedua tangannya, "Gue gak akan biarin Bulan sama cowok lain."
Denis tertawa mendengar ucapan Bulan, "Dia berhak bahagia. Udahlah lo gak usah ikut campur dalam hidupnya lagi dan lo urus aja tuh tunangan lo." sindir Denis lalu ia pergi meninggalkan Bintang sendirian.
"Apa iya gue harus ngerelain dia?"
*****
"Tata, kamu gak ada niatan buat nyulik aku kan?" tanya Bulan was-was pada Arta yang tengah fokus menyetir.
"Apa untungnya gue nyulik cewek pendek kayak lo." balas Arta.
"Aku gak pendek, kamu aja yang ketinggian. Jadi aku kan kelihatan pendek di mata kamu." cibik Bulan kesal pada Arta.
Tangan kiri Arta mengacak lembut rambut Bulan. "Cebol, lo kalo kesel lucu juga ya."
Bulan tak menghiraukan ucapan Arta, ia kini melihat sekeliling. Arta membawanya ke kompleks perumahan elit. Rumah disana bahkan seperti istana dalam negeri dongeng.
Bulan dibuat takjub sekali lagi setelah Arta membawanya di sebuah rumah yang sangat besar.
Setelah memarkirkan mobilnya, Arta membawa Bulan di dalam kediamannya.
"Mom, Arta pulang." ucap Arta lalu menaruh tas nya asal-asalan.
"Anak mommy udah pulang ya." ucap seorang wanita dewasa yang kemudian mencium kedua pipi anaknya itu.
"Mommy kebiasaan deh, Arta jadi malu kan." ucap Arta sembari melirik ke arah Bulan.
Kania--Mommy Arta hanya terkekeh dan kemudian ia melirik seorang gadis yang berada di sebelah Arta.
Dengan sopan lalu Bulan menyalimi tangan Kania dan mencium punggung wanita tangan tersebut.
"Kenalin Tante, saya Bulan." sapa Bulan sopan.
Kania lalu mengukir senyuman ke arah Bulan. "Akhirnya Arta bawa pacarnya juga." ujar Kania senang.
Bulan langsung terbatuk-batuk. Bulan lalu melirik Arta yang tampak mesem-mesem tak jelas.
"APA?! ARTA BAWA PACARNYA MOM?!" seru seorang gadis ikut heboh.
"Gendang telinga gue pecah nih dengerin omongan lo." sindir Arta pada gadis itu.
Gadis itu terkekeh melihat kelakuan adiknya. Ia lalu tersenyum manis ke arah Bulan. "Kenalin gue Nesi, calon kakak ipar lo." sapa Nesi pada Bulan.
Bulan lalu langsung menunduk hormat pada Kania dan Nesi, "Mohon maaf sebelumnya. Saya ingin mengklarifikasi bahwa saya itu cuma temannya Tata, eh maksud saya Arta tidak lebih." ucap Bulan sopan pada kedua wanita tersebut.
Nesi menyenggol lengan mommy dan tertawa. "Liat tuh Mom, pacar Arta masih malu-malu." ucapnya pada Kania.
Kania ikut tertawa dan mengajak Bulan untuk ikut serta makan bersama. "Anggap aja rumah sendiri, toh kalo kamu udah nikah sama Arta nanti ini juga jadi rumah kamu." ujarnya pada Bulan sembari tersenyum.
Sungguh, Bulan saat ini tengah dikelilingi keluarga yang sangat-sangat, argh sudahlah. Bulan hanya bisa pasrah dan menyumpah serapahi Arta didalam lubuk hatinya.
"Arta, pacar lo makannya anggun amat yak, gue jadi iri." ucap Nesi pada Arta.
"Pilihan Arta gak pernah salah." ucap Arta bangga.
Sementara itu Bulan kini melotot pada Arta dan menginjak kaki lelaki tersebut. Ia sangat kesal sekali saat ini.
Setelah makan bersama, kini Bulan pamit pulang pada Kania dan Nesi. Sebenarnya Bulan ingin pulang sendiri tapi Kania selalu memaksa agar Arta mengantarkannya pulang.
Bulan pasrah.
Pertemuannya tadi pagi dengan Arta langsung seketika membuat hidupnya merasa sangat menjengkelkan. Baru sehari saja sudah dikenalkan keluarganya, bagaimana kalo kenal lama?
"Keluarga gue ngarep amat kan lo jadi istri gue."
"Hm."
"Lo gak mau wujudin impian mereka?"
"Gak."
"Gue kurang apaan coba? Ganteng udah, mapan udah, baik dan sopan udah. Coba bilang gue kurang apaan?"
"Kurang akhlak."
*****
BINTANG AKSARA PRIMA, KENAPA SE KASEP INI OI (ಥ_ಥ)
IKHLAS LAHIR BATIN BANGET SIH AKU KALO DIA NTAR JODOH AKU, EHE.
KENALIN NIH ARTA SI BUAYA. GAK KALAH KASEP YEKAN (╥﹏╥)
UNTUK KALI INI LEBIH NGESHIP KE BULAN-ARTA DULU, SOALNYA LAGI NGAMBEK SAMA SIKAPNYA BINTANG, HUHU.
TETAP TENANG, NTAR DI PART SELANJUTNYA KALIAN AKAN LIAT SEBERAPA GREGETNYA KALO BINTANG LAGI CEMBURU, HAHA.
JANGAN LUPA VOTE AND COMENTS<3