Kami Sahabat Sejati [COMPLETE...

By Hanyfazhr

16.9K 2.8K 410

"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina... More

Prolog
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 56
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
END
Epilog
KAMI SAHABAT SEJATI 2

Chapter 55

116 32 2
By Hanyfazhr

Mobil berhenti tepat di depan halaman rumah yang lumayan luas. Alfia pun turun turun dari mobil Bundanya terlebih dahulu lalu ia cepat-cepat menunggu di depan pintu, baru kemudian Sinta menyusul dan wanita itu menggeleng melihat anaknya yang sangat semangat. Padahal pertamanya Sinta mengira Alfia akan marah-marah atau ngambek akibat Sinta yang tidak memberi respon apa-apa.

Sinta mengambil kunci yang diselipkan di dalam dompetnya. Kunci rumah itu diarahkan ke lobang pintu lalu wanita itu memegang gagang pintu dan membukanya perlahan-lahan.

Alfia melepas sendalnya dan menaruh di rak, lalu ia berjalan mengekori Bundanya. Alfia pikir sepertinya Sinta akan segera memberitahunya kalau dilihat dari ekspresi wajahnya itu.

Tepat seperti dugaan Sinta duduk di sofa ruang tengah, lalu menepuk sofa sebelahnya bertanda Alfia disuruh duduk disitu. Alfia menurutnya.

"Maaf kalo selama ini Bunda punya satu rahasia yang belum Bunda ungkap sampai saat ini." Ujar Sinta dengan memasang wajah lesu dan menghela napas, berkali-kali Alfia lihat seperti itu. Mungkinkah benar?

Alfia memilih diam menunggu Sinta melanjutkan omongannya. "Bahkan Ayahmu saja, Bunda tak beritahu."

"Maksud, Bunda?" Alfia langsung membelalakkan matanya.

"Sebenarnya Ayah kandung kamu--bukan Ayah Adi, Tapi...." Sinta menggantung omongannya dan menunduk. "Ayah kandung kamu adalah Ayah Faiz."

BOOM!

Seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa kepala Alfia, kenapa-- kenapa Bundanya merahasiakan ini? Sebenarnya sakit memang, Ayah yang sudah sangat ia sayang, ternyata bukan ayah kandungnya. Bunda, kenapa jahat banget sama aku, nutupin rahasia ini? Kenapa aku tidak diberi tau?

"Apakah Papanya Clarissa itu Ayah kandungku?"

"Ya."

Alfia terkejut. Ia melanggar janjinya yang akan menerima keputusan apapun dengan hati lapang dada. Tetaplah Alfia tidak terima dengan kenyataan ini dengan semudah itu. Dan kenapa bisa begini?

Tanpa sadar keluarlah cairan merah dari hidung Alfia karena ia terlalu banyak berpikir. Sinta menaikkan kepala dan langsung tersadar, "Kamu..." Kemudian dengan cepat Sinta mengambil tisu lalu wanita itu membersihkan darah di hidung Alfia.

Alfia hanya diam dan memperhatikan Bundanya.

"Kamu jangan terlalu banyak berpikir, Al. Bunda khawatir kamu terjadi apa-apa. Bunda sayang kamu. Bunda gak mau kalo kamu sakit." Ucap Sinta cerewet lalu ia berdiri dan membuang tisu itu ke tempat sampah. Tak lama Sinta kembali dan duduk di tempat semula. "Apa akhir-akhir ini kamu terlalu banyak berpikir?"

"Bunda kepo banget sih!" Jawab Alfia yang tiba-tiba saja nadanya langsung ketus.

Hati Sinta langsung merasakan nyeri mendengar jawaban anaknya.

"Kamu harus jaga kesehatan kamu, Al. Tubuh kamu sangat lemah."

Alfia menjawab sambil mendesis, "Aku gak peduli dengan kesehatan aku!" Lalu ia berkata kembali, "Bunda jangan ngalihin topik napa! Jelasin kenapa Ayah Adi bukan Ayah kandungku!" Biar saja hilang kesopanan Alfia karena jujur Alfia sangat emosi sekarang.

Sinta menghela napas kembali, sebenarnya Alfia tak tega karena sudah membentak, tapi mau gimana lagi? Alfia sangat malas karena Bundanya itu telah berbohong bertahun-tahun lamanya.

"Sebelum Bunda menikah sama Ayah Adi, Bunda udah menikah duluan sama Ayah Faiz. Dan lahirlah kamu."

"Kenapa aku gak inget sama sekali, Bun?"

"Shtt. Kamu jangan memotong ucapan Bunda.” Perintah Sinta kepada Alfia agar tidak banyak bertanya disaat wanita itu sedang menjelaskan.

Alfia langsung mengatupkan bibirnya. Memang mulutnya gatal sekali ingin bertanya.

Sinta mengalihkan pandangannya ke foto keluarga berukuran besar yang terpasang di dinding. "Setelah usiamu 8 bulan, Bunda mengajukan surat cerai karena Bunda menciduk Ayah kandungmu yang ternyata diam-diam punya istri lain dan sudah mempunyai satu anak yang usianya satu tahun di atasmu. Anak itu, Clarissa."

"Bunda emang bodoh salah mencintai orang yang nyatanya udah punya istri. Bunda emang bodoh banget nerima lamaran dia, tanpa cari tau dulu!" Jerit Sinta penuh sesal dan akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Namun dengan cepat ia tepis begitu saja.

"Bunda." Lirih Alfia merasa kasihan dan menyesal tadi membentak Bundanya.

Sinta memejamkan matanya sejenak lalu melanjutkan omongannya, "Lalu satu tahun berikutnya, Bunda ketemu Ayah tiri kamu, Adi. Bunda dan Ayah tirimu saling mencintai, dan tak lama kami menikah. Ayah tiri kamu mau menerima kamu sebagai anaknya, yang saat itu usianya kalo gak salah umur kamu mau 2 tahun. Ayah tirimu gak pernah nanya siapa nama ayah kandungmu sampai sekarang."

"Bunda seneng kalo kamu begitu disayang sama Ayah tirimu."

Alfia seakan tersihir dan masuk ke dalam cerita masa lalu Bundanya. Begitukah?

"Waktu umur kamu 5 tahun. Ayah kandungmu diam-diam menemui Bunda dan kamu. Dia datang untuk minta maaf dan penuh sesal, tapi--Bunda berusaha memaafkan walaupun hati Bunda sangat sakit waktu itu."

"Walaupun Bunda udah memaafkan dia, tapi Bunda enggak terima kalo kamu harus tinggal sama dia! Padahal hak asuh kamu jatuh ke tangan Bunda."

Alfia memberanikan diri bertanya, "Kenapa aku gak inget sama kejadian itu, Bun?"

"Huh. Daya ingatmu sangat lemah waktu itu, jadi kamu tidak bisa mengingat apa-apa." Jawab Sinta.

Ohh jadi begitu.

"Dan kenapa Bunda ngebolehin aku temenan sama Clarissa?" Alfia bertanya kembali. Nah,  pertanyaan ini yang membuat Alfia penasaran.

"Karena..." Sinta menaikkan kepalanya dan menatap Alfia penuh arti. "Bagaimanapun juga kamu dan Clarissa masih punya hubungan darah. Bisa dianggap Clarissa kakakmu dan kamu adiknya." Lalu Sinta menghela napas lagi. "Sebenarnya Bunda tau, kalo Clarissa itu dulunya baikkkk banget. Dan juga dia merasa gak enak, kamu mengajak berteman sama dia. Karena dia tau kamu itu dianggap musuh oleh Mamanya Clarissa, padahal sebenarnya dia sering memerhatikan kamu dari kejauhan, dia ingin memberitahu kalo dia dan kamu saudaraan beda ibu. Tapi dia gengsi."

"Bunda kenapa bisa tau?" Alfia terlonjak terkejut. Kenapa ceritanya beda sekali dengan apa yang diceritakan oleh Clarissa waktu dulu pertama kali bertemu?

Sinta menjawab, "Bunda memang sudah tau baru-baru ini karena diberitahu oleh seseorang yang seumuran sama kamu."

Alfia reflek membuka mulutnya lebar-lebar. "Siapa?" Tanyanya.

"Bunda juga enggak tau, siapa. Orang itu sangat pintar sekali menutup identitasnya." Jawaban Sinta membuat Alfia kecewa. "Ada yang mau kamu tanyakan lagi? Soalnya Bunda mau beres-beres, buat besok kita ke Jerman secepatnya."

Alfia berpikir dulu lalu ia ingat sesuatu. "Kenapa Bunda terlihat baik-baik saja di depan Mamanya Clarissa? Dan kenapa Bunda biarin Ayah tiriku kerja sama perusahaan sama ayah kandungku?"

Sebelum menjawab, Sinta tersenyum tipis. Entahlah apa arti senyuman itu. "Bunda enggak mau terjadi keributan, biarlah itu sebuah masalalu yang gak perlu Bunda inget. Dan masalah perusahaan? Bunda ngebolehin aja, karena kayaknya Ayah kandungmu nggak tau kalo Bunda istri Ayah tiri mu. Enggak tau juga ah, Bunda jadi bingung sendiri." Katanya, yang lama-lama kepalanya pening menjawab satu persatu pernyataan anaknya.

Alfia hanya mengangguk saja. Huh! Padahal Bundanya sudah menjelaskan panjang lebar.

"Janji ya kamu jangan pernah cerita sama Ayah tirimu. Biarin aja ini jadi rahasia selamanya." Pinta Sinta dengan wajah memohon.

"Siap, Bun. Aku terima siapapun Ayah kandungku. Maaf, Bun, tadi sempet ngebentak." Alfia tersenyum dan menghormati Bundanya, persis seperti sedang melakukan upacara bendera. "Oh iya, Bun, kata Clarissa Papanya dia meninggal, yang berarti juga Ayah kandungku." Beritahunya.

"Apa!?" Kaget Sinta dan reflek berteriak. "Sepertinya besok kita menunda dulu ke Jerman. Kita harus ke Lampung untuk menjenguk tempat peristirahatan Ayah kandungmu. Maafin Bunda, nak, Bunda gak ngijinin kamu untuk menemui Ayah kandungmu terakhir kalinya." Sinta menggenggam tangan kanan Alfia dengan raut wajah sedih.

"Gak apa-apa, Bun. Bunda gak usah merasa bersalah." Jawab Alfia sambil tersenyum.

Kemudian Sinta melepas genggaman tangannya lalu berdiri. Namun dicegat oleh Alfia. "Tunggu dulu, Bun, aku punya satu permintaan."

Sinta kembali duduk. "Permintaan apa?"

"Aku mau gak mau pindah sekolah ke Jerman tahun ini. Aku masih mau Sekolah di SMP Winanta, kata Bu Mira aku masih dibolehin disana karena aku bukan pelakunya. Boleh ya, Bun, Boleh ya?... Soalnya aku masih punya satu janji yang harus aku tepati." Pinta Alfia dengan wajah memelas. Ia teringat perkataan Iva, Kakak punya satu pesan buat kamu, carilah dan temui adik kakak yang seumuran kamu. Kakak ingin kamu berteman baik dengan dia sama seperti kakak. Kakak mohon. Pesan itu Alfia masih sangat jelas mengingatnya. Alfia harus tetap berada di Indonesia.

"Baik, Bunda turuti permintaanmu." Jawab Sinta membuat hati Alfia langsung tenang seketika. "Karena kamu masih punya janji, tepatilah. Setelah itu baru kita akan pergi ke Jerman."

"Makasih, Bunda."

Akhirnya Sinta dapat mengabulkan permintaannya. Entahlah respon apa yang Alfia berikan. Sedih? Terharu? Senang?

Hany, gue seneng banget bisa dibolehin Sekolah lagi di SMP Winanta. Respon Lo bakalan terkejut atau biasa aja kalo gue balik lagi ke Sekolah?

Yess, Disekolah gue bisa tenang, tanpa ada masalah lagi.

Selamat tinggal Clarissa. Lo dikeluarin dari sekolah. Gue sih sebenarnya sedih, tapi gue seneng juga sih, hehe.

Makasih Clarissa Lo dulu pernah berbuat jahat ke gue.

Kerena itu gue bisa tau, siapa jati diri gue dan Lo yang sebenarnya.

***

"Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan. Tanpa pengorbanan. Indonesia Jaya." Semua murid yang mengikuti eskul padus mengakhiri lagi 'Indonesia Jaya' secara bersama-sama.
Kemudian guru yang mengajar juga mengakhiri eskul kali ini karena sudah menunjukkan jam 9.

Para murid mulai berdoa menurut kepercayaannya masing-masing. Setelah selesai berdoa, mereka di persilahkan mengambil tas dan pulang.

Ajeng melihat Hany yang lebih dulu keluar dari ruangan ini. Ya, Hany sama mengikuti eskul padus sama sepertinya. Sebenarnya Ajeng ingin menghampiri Hany, namun ia gengsi.

Sebelum Ajeng pulang, ia ingin menemui Felina, Gifta  dan Luna yang sepertinya sudah menunggu di Lobi sekolah. Bertujuan untuk memberitahu tentang video tersebut. Ajeng yakin mereka akan sama-sama terkejut.

"AJENG!" Teriakan yang sangat Ajeng kenal, siapa lagi kalau bukan Luna. Ajeng segera menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk di kursi loby,

"Apaan sih!?" Kesal Ajeng.

"Lo gak ikut eskul melukis jam setengah sepuluh nanti?" Tanya Felina.

Ajeng menggeleng, "Enggak, gue izin dulu."

"Tumben?" Gifta menyahut, mengernyit alisnya.

”Gue males." Jawab Ajeng cepat. Sekali-kali lah izin enggak masuk.

Tak butuh waktu lama, Ajeng mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Lalu tanpa berbicara ia memberikan kepada Felina.

"Apaan nih? Lo mau ngasih hp ke gue? Yaampun, Jeng, gak usah. Gue juga punya hp sendiri." Jawab Felina tidak nyambung dan menolak ponsel Ajeng.

"Yeeuu, siapa juga yang mau ngasih hp gue ke Lo? Gue mau nunjukin video Clarissa dan Alfia waktu di jurang. Gue beri tau, Lo semua salah paham!" Jawab Ajeng sok-sokan, padahal dulunya ia juga sama, salah paham.

Gifta langsung terbatuk-batuk mendengar itu. "Hah? Salah paham!?" Pikirnya bertanya-tanya. "Enggak mungkin lah!" Ucapnya sewot.

"Makanya nih lihat dulu. Ada satu video di galeri ponsel gue." Ujar Ajeng memutar bola matanya malas dan kembali menyerahkan ponselnya sampai tangannya pegal.

Felina mengambil ponsel Ajeng, lalu mengotak-atik sendiri ponsel tersebut. Luna dan Gifta fokus memerhatikan.

"Mana? Enggak ada?" Felina mempertanyakannya.

"Hah? Masa sih? Ada di galeri gue pokoknya! Gak mungkin ah nggak ada." Ujar Ajeng ngeyel.

"Beneran, Jeng, gak ada satupun video di galeri Lo, cuman ada gambar lukis sama poto-poto Lo doang." Ucap Felina menunjukkan isi galeri Ajeng, yang hampir semuanya tentang lukisan dan Foto-foto Ajeng yang masih bisa dihitung dengan jari.

"Lah---kok?" Ajeng merebut ponselnya dari tangan Felina lalu ia memeriksa galerinya. Memang betul yang dibilang oleh Felina, video tadi sudah tidak ada di galeri bahkan ia mencoba memeriksa WhatsApp, namun nomor orang asing itu tidak ada. Kenapa bisa nggak ada? Padahal sama sekali gue gak ngehapus videonya.

"Kayaknya Lo ngigo, Jeng! Kayaknya otak Lo abis dicuci sama Hany, makanya jadi ngelantur kemana-mana! gue bilang juga apa, kalo pas eskul, Lo jangan deket-deket sama Hany!" Pesan Gifta yang tidak ada faedahnya sama sekali. Hati Gifta masih sekeras batu, hingga dia tidak percaya.

"Makanya Lo minum baygon dulu, Jeng! Biar sehat wal afiat. Dan gue doain semoga amal ibadah Lo di terima." Celetuk Luna asal yang sepenuhnya hanya bercanda.

Namun Ajeng tidak mendengar candaannya Luna, pikirannya sudah terfokus ke masalah lain. Gue yakin ada yang ngapus video gue pada saat gue ke toilet. Tapi siapa? Argh! Lo bodoh, Jeng? Kenapa Lo ninggalin ponsel Lo di kelas!

Permainan apa lagi ini?

***

Kabar Clarissa di keluarkan dari sekolah tersebar begitu cepat membuat sebagian murid bertanya-tanya, namun tidak ada yang berhasil menemukan jawaban yang tepat. Sehabis upacara para murid memasuki kelasnya masing-masing.

Dan kini suasana kelas 7-2 sangat gaduh. Semuanya memperkirakan kenapa Clarissa bisa dikeluarkan dari sekolah. Namun ada dua orang yang diam. Yang pertama, Ajeng karena ia mengetahui video itu langsung dan jika ia memberitahu isi video itu ke semu orang, mustahil mereka dapat percaya.

Yang kedua, Hany karena ia tak terlalu memusingkan itu dan lebih memilih menutup telinga, dan anteng di kursinya saja. Lebih tepatnya mencari kesibukan tersendiri.

"Clarissa kenapa dia dikeluarin dari sekolah?" Felina yang pertama bertanya duluan, namun Ajeng hanya diam dan melamun.

"Gue gak tau. Padahal biasanya kalo dia ada apa-apa, dia pasti bakal cerita ke gue." Ungkap Davina yang juga sama halnya tidak mengetahui informasi terkait Clarissa.

"Iya bener, kayaknya ada orang yang benci sama Clarissa dan dia bikin bukti palsu lalu dilaporin ke kepsek. Dan akhirnya dikeluarin dari sekolah. Begitu kalo kata gue." Sambung Destria sesuai perkiraannya.

"Emangnya gak ada yang tau rumahnya Clarissa dimana gitu? Kalo tau pulang sekolah nanti kita ke rumahnya dia aja." Datang-datang Luna langsung heboh kemudian ia duduk di atas meja.

"Gue tau--sih. Tapi, kemaren gue ke rumahnya Clarissa, tapi gak ada siapa-siapa." Cerita Davina,

"Coba aja Lo tanya sama kepsek. Bilang gini, Bapak kenapa keluarin Clarissa dari sekolah? Emangnya Clarissa punya masalah apa disini? IRI BILANG BOS! Gitu, ada yang berani?" Usul Felina.

"Gifta." Destria menunjuk Gifta. Kan Gifta yang paling pemberani dari yang lainnya.

Gifta menjawab, "Ihh ogah!"

"Aku bukan bonekamu, bisa kau suruh-suruh. Dengan seenak maumu." Luna bernyanyi sambil memukul-mukul meja asal dengan wajah yang sok diimutkan.

"HWUEK!" Semuanya auto ingin muntah berjamaah.

"Gifta bukan boneka, jadi jangan disuruh-suruh." Ucap Luna yang udah dalam mode paling gawat!

Pletak! Dibela bukannya senang, justru ia menjitak Luna. "Banyak omong ah Lo! Lagi serius-serius begini juga!" Omel Gifta dengan wajah paling judes. Kemudian ia memasang wajah serius kembali, "Gue rasa ini kayaknya ulah Hany, deh." Bisik Gifta yang pasti terdengar oleh Hany, tapi Hany hanya cuek saja.

Brak!

Ajeng menggebrak mejanya secara mendadak membuat mereka terlonjak terkejut. "Lo kenapa suka nyalah-nyalahin Hany sama Alfia, Gif!? Tuh mulut kayaknya gunanya buat menghina ya!?" Tiba-tiba Ajeng nge-gas gitu aja.

"Maksud Lo apa sih, Jeng!? Bukannya dulu Lo juga ikut-ikutan nyalahin Hany sama Alfia!? Sadar, Jeng, sadar! Seharusnya Lo kasihan sama Clarissa, bukan sama dua iblis itu!" Ujar Gifta penuh emosi hingga kata-katanya sangat menusuk.

Ajeng menampar pipi Gifta membuat yang lainnya terkejut. "Mereka berdua manusia, bukan iblis!" Balasanya.

Sebenarnya yang lain ingin menghentikan, tapi mereka takut dengan amukan Gifta, makanya memilih diam. Apalagi Luna yang duduk santai, nontonin orang lagi ribut. Kan lumayan bisa lihat adegan film-film sinetron langsung.

Gifta memegang pipinya yang sedikit merah. Tamparan Ajeng memang lumayan sakit. "Kenapa Lo berubah, Jeng!? Inget, posisi Lo yang dulu! Lo gak boleh ngebantah, Lo harus percaya sama Clarissa!! APAPUN ITU!" Ujarnya yang semakin lama semakin panas.

"Stop. Lo berdua." Destria ingin menghentikan aksi Gifta dan Ajeng, namun ia ditampar oleh Luna.

"Diem! Ini makin seru tau! Popcorn mana, popcorn? Popcorn number one nih. pokoknya gak boleh sampe ketinggalan!” Luna balik ke mejanya untuk mengambil cemilan sambil menyaksikan aksi mereka.

"

Gue berubah?" Ajeng menunjuk dirinya sendiri lalu ia tertawa kecil. "Gapapa gue berubah, yang penting gue udah gak termakan omongan hoax dari Clarissa dan lo-lo pada!"

"Jawab jujur, Lo di pengaruhin siapa!?"

"Nggak ada yang pengaruhin gue." Ajeng mengangkat kedua tangannya dan menaikkan bahu acuh. "Gue hanya ingin bilang, gue mau keluar dari Angel!" Ujar Ajeng penuh penekanan.

"Jika itu mau Lo, yaudah ter-se-rah! Selamat anda telah menjadi pengkhiat!" Sindir Gifta habis-habisan.

"Yaudah sana! Lo semua pergi dari bangku gue, SEKARANG! Disini gak nerima lapak!" Kata Ajeng, Finally. Semuanya langsung pergi, kecuali Davina. Yaiyalah Davina kan duduk disampingnya Ajeng.

Sang ketua kelas yang menyadari keributan langsung datang dengan wajah kebingungan. "Guys, guys, Lo pada bisa gak sih kalo punya masalah diselesain, jangan pake emosi! Lo tau gak sih, semuanya pada lihatin Lo. Emang Lo ada masalah apa? Ada beban hidup apa? Cerita ayo sini sama gue? Gue pasti bisa ban---" Ucapan Sastra langsung dipotong begitu saja.

"UDAH SANA LO DUDUK AJA! Gak usah ikut campur!" Ajeng kalau lagi marah beneran, bawaannya kesel, emosi dan ingin bentak. Ya, sulit bagi Ajeng mengontrol emosinya.

"Ampun, mbak. Ampun. Kok jadi galakan Lo sih? Kan gue ketua kelasnya." Sastra langsung kembali ke tempat duduknya daripada kena omelan Ajeng lagi.

"Yahhh gak seru. Lagi dong, lagi. Masa cuman segitu doang? Ah, payah." Sorak Rayfan mengompori, dan langsung disoraki balik oleh sebagian temannya.

Ajeng berusaha meredamkan emosinya yang sudah mendarah daging. Lalu diam-diam ia melirik Hany yang nampaknya tak peduli dengan adegan barusan. Ajeng yakin kalau Hany tadi mendengarnya.

Namun ternyata ada orang yang diam-diam tersenyum sinis menatap ke arah mereka dengan tatapan kebencian. "Lo semua harus terima balasan dari gue! Karena gara-gara Lo semua, sepupu gue dikeluarin dari sekolah ini! Dan gue gak terima itu!"

Tbc

Rabu, 17 Juni 2020

***

Dah lah segini dulu aja:)
Voment please!

Alright, that's all, next?

Continue Reading

You'll Also Like

1.3K 160 14
Ainia hidayah adalah seorang siswi pindahan dari
132 15 7
Pertunangan yang diatur, rencana yang disusun, dan perasaan yang disembunyikan. Anaya dan Rama berpikir mereka bisa mengendalikan keadaan, tapi cint...
Mine By

Teen Fiction

682 16 8
"Anton, denger baik baik.. Gue bukan lagi Gista yang dulu. Kita udah dewasa dan banyak hal berubah. Gak ada lagi yang bisa lo lakuin buat gue. Gak ad...
93 0 23
Naya tidak pernah pandai berbicara. Ia mencintai dalam diam, mengagumi dari kejauhan, dan menyimpan rindu dalam barisan kata yang ia tempelkan di mad...
Wattpad App - Unlock exclusive features