Suasana kafe tempat Lily bekerja saat ini terlihat sangat ramai. Lily bersyukur setidaknya hari ini pasti penghasilannya bisa di atas dari biasanya.
Hari ini dia tidak menjadi pelayan, perannya saat ini adalah kasir tapi biarpun seperti itu Lily tetap kewalahan melayani setiap uang yang masuk. Namun kurva indah tidak pernah luntur, membuat wajahnya nampak manis.
"Hei, kau lelah?" Tanya seorang gadis yang langsung di balas Lily dengan gelengan.
"Tidak, justru aku yang harus bertanya seperti itu-- kau lelah?" Gadis tersebut menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Lily.
"Tidak ada kata lelah Lily, kalau begitu aku ingin kembali bekerja. Ada pelanggan yang baru masuk-- semangat" Ucapnya sambil mengepalkan tangan ke depan.
Lily mengangguk lalu tersenyum, "Semangat!"
Setelah gadis itu pergi, Lily kembali pada rutinitasnya. Melayani para pelanggan yang ingin membayar, tersenyum, mengucapkan terima kasih dan berbagai tindakan ramah yang sudah mendarah daging padanya.
Di tengah kesibukannya, entah kenapa perkataan Sorania beberapa jam yang lalu kembali mengambang. Tentang Taufan, apa iya pemuda itu jahat, apa iya Taufan itu munafik. Rasanya kepala Lily ingin meledak saja, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang kebenarannya belum terlalu pasti.
"Permisi aku ingin membayar," Tubuh Lily menegang ketika mendengar suara tersebut. Suara yang begitu membuat Lily ketakutan. Baru ingin beranjak, namun gadis itu kembali berbicara.
"Oh kau! Apa kabar?" Tanyanya dan Lily langsung berbalik berhadapan dengan gadis itu. Dapat dia lihat senyum iblis, yang tak pernah absen tersungging di bibirnya.
Lily tersenyum kaku, rasanya sungguh canggung dan takut. "H--hai Juri, a-aku baik. K-kau sendiri?"
Gadis itu Juri, gadis yang di skors beberapa minggu kemarin usai merundung Lily. Namun tidak ada yang berbeda, Juri tetap menampilkan raut tidak suka dan penuh dendam. Lily tentu tahu, tipe sepertinya Juri tidak akan lengah hanya karena di skors.
"Kau yakin akan itu?" Tanya Juri menatap Lily lekat seperti ingin memakan gadis itu hidup-hidup.
Tubuh Lily bergetar, dia ketakutan. Meskipun ini tempat ramai, namun aura Juri sungguh terasa menakutkan.
"Tak perlu di jawab, karena jawabannya tidak. Meskipun itu bukan aku, kau akan tetap hancur!" Sarkasnya lalu memilih meninggalkan Lily yang sudah berkeringat di tempat.
Jujur saja selama setahun merundungnya, ini adalah kali pertama Juri di hukum. Bisa bayangkan selama itu Lily merasa kesakitan tanpa adanya suatu pembelaan, tidak ada yang perduli akan dirinya. Se akan-akan dirinya adalah sampah, semua memilih menutup telinga.
Lily menghela nafas kasar, perkataan Juri membuatnya kepikiran. Namun Lily berusaha untuk fokus, saat ini pekerjaannya adalah yang paling penting.
Semoga itu semua tidak terbukti.
••••
Sorania menatap keluar melalu kaca apartemennya. Di luar sana masih terlihat ramai, kendaraan-kendaraan masih lalu lalang di atas aspal jalanan.
Sorania menyesap sebatang nikotin, menghembuskannya melalui mulut dan juga hidung-- membuat kepulan asapnya mengudara. Melakukan hal tersebut terus berulang, hingga batang nikotin tersebut berakhir hancur karena selanjutnya Sorania membuangnya secara kasar dan menginjaknya.
Gadis itu membuang nafas kasar, nyatanya dia tidak baik-baik saja. Berbagai macam kejadian yang memuakkan membuatnya kepalang kesal bukan main. Bukan tanpa alasan dia memilih untuk berdiam diri di apartemen di bandingkan rumah mewah bak istana disney.
Baginya rumah besar, harta, kekuasaan bukanlah alasan untuk bahagia. Jika situasinya seperti ini, untuk Sorania dia tidak memerlukan semua itu. Semuanya hanyalah material yang membuat orang buta.
Terkadang Sorania ingin hidup seperti Lily, hidup bebas, mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan. Semua yang ada pada Lily adalah kehidupan yang Sorania dambakan. Dia mengerti kehidupan tidak akan berjalan lancar, pasti ada suka dan duka. Tapi jika pergumulannya seperti ini, masih pantaskah dia bersyukur.
Hidup di peralat, di perlakukan layaknya boneka, di cintai hanya karena harta, di sanjung hanya karena pangkat dan di dekati hanya karena kekuasaan.
Munafik. Orang-orang yang berada di sekitarnya, hanyalah segelintir orang amatir. Jauh sebelum dia mengenal Lily, Sorania bukanlah gadis yang mau bergaul dan berteman. Dia terkesan menutup diri dari orang-orang. Tidak ada yang tulus, manusia-manusia di luar sana menatapnya memuju hanya karena orang tuanya yang memiliki segalanya.
Namun bagi Sorania, sosok Lily itu berbeda. Gadis itu sederhana, tenang, baik hati, tidak mendendam bahkan pada orang yang sudah menyakitinya. Sorania tertarik untuk mendekati gadis itu, hingga pada saat Lily menatapnya-- Sorania terenyuh binar tulus yang Lily berikan langsung membuatnya menghapus spekulasi kalimat 'Tidak ada yang tulus di dunia ini'.
Kali ini untuk Sorania, Lily adalah bentuk ketulusan. Sorania tersenyum, Lily adalah sosok yang pantas di jaga dan di cintai bukan di perlakukan tidak adil.
Drrttt.
Lamunan Sorania terhenti ketika ponsel yang dia letakan di atas meja bergetar. Dengan ogah-ogahan gadis itu meraih benda pipih tersebut. Mendengus kala mengetahui siapa yang menghubunginya. Ingin rasanya untuk tidak mengangkatnya.
Sorania jamin, pasti ada apa-apa yang melibatkan dirinya. Mengingat sudah hampir beberapa minggu ini, Ayahnya tidak menghubungi.
Dengan malas Sorania mengangkatnya. "Tho the point saja,"
Terdengar kekehan di seberang sana, Sorania memutar bola matanya malas. Sudah terduga, pergerakan Ayahnya yang seperti ini sudah menjadi makanan untuknya. Kali ini apalagi.
Kau sungguh anak gadisku yang pintar.
"Jangan bertele-tele," Jawab Sorania, rahangnya mengeras menahan emosi.
Sekarang, datang ke rumah. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jangan mencoba untuk kabur, putri kecilku.
Gigi Sorania bergelatuk. Ayahnya sungguh membuatnya emosi. "Di sini saja apa susahnya,"
Jangan membangkang, cepat kemari atau gadis yang bekerja di kafe yang tidak jauh dari apartemenmu menjadi jaminannya.
Mata Sorania membulat, dia tidak bodoh untuk tidak tahu siapa gadis yang di maksud oleh keparat yang sialnya adalah Ayah kandungnya.
Sorania menutup matanya sebentar untuk menetralisir sesuatu yang sedikit lagi akan meledak.
"Aku kesana,"
Tutt..tutt
Sorania memutuskan sambungannya sepihak. Meraih tas selempang dan kunci mobilnya lalu keluar dari apartnya. Dia tidak bisa membiarkan si tua bangka itu untuk menyeret Lily ke dalam masalah pribadi mereka.
Mata Sorania memicing, menatap dua orang pemuda berjas yang ada di depan sana. Sorania mendengus, pantas saja dia tidak bisa untuk kabur. Fikiran ular memang berbeda.
"Nona kami ditugas--"
"Aku bisa sendiri,"
"Tapi nona--"
Sorania melayangkan tatapan tajamnya ke arah dua bodyguard Ayahnya. "Aku bisa sendiri! Kau paham singkirkan mobil ini, aku ingin naik mobilku."
Pria berjas tersebut membungkuk lalu memasuki mobil mereka dan menyingkir membiarkan mobil putri majikannya untuk keluar.
Sorania menatap tajam ke arah mobil yang baru saja menyingkir dari belakang mobilnya. Dia kira mereka akan langsung pergi, namun nyatanya masih setia menungguinya di depan sana.
Gadis itu memilih untuk memasuki mobilnya, menghidupkannya lalu mengendarainya menuju kediaman sang Ayah dan melewati mobil bodyguard tersebut. Merepotkan.
Karena kehandalannya dalam mengemudi, Sorania tiba di rumah besar tersebut cepat. Bahkan mobil yang mengikutinya tadi belum terlihat. Peduli setan, siapa suruh lambat.
Dengan langkah gontai Sorania memasuki rumah mewah tersebut. Gadis itu berjalan lurus ke arah ruang tamu, mengabaikan tundukan-tundukan para maid yang dia lewati. Dia manusia bukan Tuhan yang pantas di perlakukan seperti itu.
Ketika sampai, dan benar Ayahnya ada di sana sambil menatapnya lurus. Sorania memutuskan untuk duduk, saling berhadapan.
"Ku kira kau akan kabur," Ucapnya di sertai tatapan jenakanya.
"Jangan bertele-tele, langsung pada intinya. Kenapa aku di ajak kemari?" Jawab Sorania sarkas sambil memandang datar Ayahnya di depan sana.
Kekehan keluar dari mulut Ayahnya yang langsung membuat Sorania memicing.
"Kau bukannya berubah, malah tambah kurang ajar!"
Sorania sama sekali tidak memperdulikan ucapan Ayahnya barusan. "Aku malas berbasa-basi. Katakan lalu aku pergi dari sini!"
Wajah jenaka tadi terganti dengan wajah datar. "Baiklah jika itu mau-mu. Ayah memutuskan untuk menjodohkan-mu."
Mata Sorania membola mendengar kalimat yang terucap santai keluar dari mulut pria paruh baya tersebut. "Omong kosong!"
Sorania berdiri, ingin pergi dari sana. Namun ucapan selanjutnya dari Ayahnya membuat, tulang-tulang Sorania mendadak kaku.
"Besok jam tujuh malam, atau nyawa gadis itu menjadi taruhannya!"
Rahang Sorania mengeras, dia bukan Ayahnya, dia itu iblis yang menyerupai Ayahnya.
Sialan!!
________________________