Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
Alternate Universe Love Story Of Naruto and Hinata
"Jika tak pernah ada cinta untukku, lalu untuk apa Naruto-kun mendekatiku....?" Suara lemahnya mencicit pelan, hatinya terasa bagai dihujam sembilu tajam, namun tak sedikitpun kata-kata kasar atau nada tinggi ia layangkan pada pemuda itu. Pemuda yang ia gantungkan harapan tingginya.
"Ck..." Naruto membuang wajahnya sekilas, ia berdecak remeh mengejek Hinata secara tak langsung, membuat gadis itu tertunduk, ia tak sanggup melihat ekspresi Naruto yang seolah memandangnya dan keluarganya bagai seonggok sampah. "Kau pikir hanya kau yang aku dekati?" Ucapnya pongah seolah tak menganggap seisi rumah itu yang juga memiliki perasaan. "Aku mendekati banyak gadis, lalu apa bisa dikatakan aku mencintai mereka? Haruskah aku menikahi mereka semua? Khe..."
"Kau benar-benar keparat!!!"
Bugh
Satu bogem mentah Neji hadiahkan tepat di rahang tegas Naruto. Wajahnya tertoleh paksa, dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Neji-nii....!!!" Hinata berlari memeluk Neji dari belakang, bukan lagi untuk melindungi Naruto, ia tak ingin kakaknya itu kembali berurusan dengan hukum.
"Hhhhh....." Neji terengah hebat, ia tak mampu lagi menahan amarahnya, bukan hanya harga dirinya yang kini tengah Naruto injak-injak, keluarga, bahkan Hinata adik yang paling ia jaga dan ia sayangi
"Kau sudah dapat jawabannya Hinata..." Naruto membenarkan posisi wajahnya, ia menggerak-gerakkan mulutnya membenarkan posisi rahangnya yang mungkin sedikit bergeser akibat tonjolkan Neji. "Aku memang pernah menaruh hati padamu." Ia tersenyum getir. "Tapi kakakmu, kau tentu belum lupa saat dia memukuliku di kencan pertama kita, sejak itulah perasaanku berubah padamu..."
"Kau masih belum melupakan hal itu Naruto-kun..." Mutiara Hinata berkaca-kaca, ia melepaskan pelukannya pada Neji dan berjalan menghampiri Naruto. "Kau dendam pada Neji-nii atas perlakuannya...."
"Jika saja aku yang menjadi lumpuh tertabrak bus way setelah dia mendorongku ke tengah jalan." Telunjuk lurus Naruto mengarah pada wajah Neji. "Kau tahu!!" Kini Naruto yang meninggikan nada bicaranya. "Kau mendorongku ke tengah jalan, lalu meninggalkanku disana, kau tidak berpikir bahwa aku bisa ditabrak sesuatu, bodoh!!!"
Hinata menggeleng dengan air mata berderai, ia menutup mulutnya menahan isakan yang menyesakkan dadanya. Kenapa harus aku yang menjadi korban dari perselisihan kalian... Apa salahku... Aku hanya mencintai Naruto-kun dengan setulus hati....
"Kau tahu, setelah kau pergi bersama adikmu, ada bus way yang melaju kencang!! Dan kau tahu siapa yang menolongku!!!! Sakura-chan, dia yang menolongku, dia mendorongku ke pinggir jalan, dan kalian tahu, apa yang terjadi padanya?!!!!" Naruto menjeda ucapannya, ia menarik nafas dalam, "sekarang, dia lumpuh, karena bus itu menabraknya."
Neji mundur beberapa langkah, ia tak menyangka amarahnya saat itu tak hanya berdampak pada dirinya dan Naruto, Hinata dan Sakura yang tak bersalah apa-apa kini harus menanggung akibat sikap tempramentalnya.
Hinata tersentak, ia mendongak dengan lelehan air mata yang memenuhi kelopak matanya. Jadi selama ini apa yang kami lalui bersama tak berarti apapun bagi Naruto-kun....
Naruto menghela nafasnya puas, bisa mempermalukan keluarga ini menjadi kebanggaan tersendiri baginya. "Baiklah, aku rasa cukup menjawab pertanyaan kalian, dan terimakasih sudah memuluskan jalan balas dendamku, Hime..." Naruto tersenyum penuh kemenangan di hadapan Hinata, ia mengusap ujung hidungnya. "Dan terimakasih untuk semuanya selama ini..." Tambah Naruto sambil menjilat bibirnya.
Hinata membuang wajahnya, tatapannya tertuju pada ubin di bawah kakinya, harga dirinya hancur. Dari cara Naruto menatapnya tadi, cara Naruto menjilat lidahnya sendiri, seolah tengah mengingatkan betapa hinanya dia. Hal yang paling berharga bagi dirinya telah ia serahkan dengan suka rela.
"Senang, bisa menghabiskan waktu yang cukup panjang bersamamu, ku harap kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari pada aku.."
Naruto melenggang pergi meninggalkan kediaman keluarga Hyuuga. Sementara Neji dan Hiashi, walau sempat merasa terhina dan dipermalukan setidaknya mereka merasa lega sekarang. Hinata sudah tahu belang Naruto, dan tak mungkin ada celah lagi untuk mereka.
"Hinata..." Hiashi menepuk pelan bahu bergetar putrinya, ia menarik Puteri kesayangannya itu dalam dekapannya. "Kami-sama menunjukkan siapa Naruto sebenarnya hari ini, kau harus bersyukur, sebelum semuanya terlambat. Masih ada banyak pria baik untukmu...."
Bahu Hinata bertambah bergetar, wajahnya semakin ia sembunyikan dalam dekapan cinta pertamanya yang sebenarnya, ayahnya. 'Tidak, Tou-sama semuanya sudah terlambat, kehormatanku sudah hancur... Tidak ada lagi pria baik yang menginginkanku....'
"Hinata..." Neji akhirnya buka suara, batinnya diliputi rasa bersalah, bagaimanapun sakit hati Hinata malam ini, ia juga turut andil. "Kau tak perlu sedih seperti itu, kau ingat keluarga jauh kita, Ootsutsuki...., smester depan putra mereka akan melanjutkan gelar master di University Tokyo.... Keluarganya sudah lama menginkanmu sebagai menantunya...."
Hinata mendongak lelehan air matanya kian deras, ia menggeleng kuat. 'Aku sudah rusak, Nii-san. Tak ada lagi pria baik yang menginkanmu...'
"Hei, kenapa kau menggeleng..." Hiashi mengusap pipi pualam Puteri kesayangannya. Bagi keluarga ini lepasnya hubungan Naruto dan Hinata adalah sebuah anugerah. Mereka tak pernah tahu, sebelum hubungan ini berakhir Naruto telah merenggut harta paling berharga bagi mereka. Kegadisan Hinata, harga diri keluarga Hyuuga.
"Buka hatimu untuk Toneri, Hinata... Moralnya beribu kali lebih baik dari pada si brengsek itu...." Neji tak pernah tahu, bahwa tidak semudah itu bagi mereka untuk lepas dari bayang-bayang Naruto dan keluarganya, masih banyak kotoran yang akan Naruto dan keluarganya lempar di wajah mereka.
Masih banyak beban yang harus Hinata tanggung akibat sikap tempramental Neji, yang telah menghancurkan masa depan Sakura.
...
"Hinata... Kau tidak kuliah hari ini..." Pintu geser itu terbuka bersamaan dengan senyum hangat Hiashi yang menyapanya.
Dari balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, Hinata menyembulkan kepalanya. "Hinata sedang kurang enak badan... Tou-sama," Ucapnya lemah, kepalanya berdenyut dan tubuhnya lemas.
Hiashi mengangguk, ia mengerti apa yang dialami sang Puteri, semalaman ia menangis tanpa henti, dan Naruto baru saja memutuskan hubungan mereka. Ia mengerti putrinya itu perlu istirahat setelah semua kejadian memilukan yang menimpanya.
Hinata kembali membenamkan kepalanya dalam gumpalan selimut itu, namun...
Srakkk
Pintu geser itu kembali terbuka, tapi kali ini sedikit kasar. "Nee-sama...." Hanabi masuk dengan tergopoh-gopoh. "Aku minta pembalutmu..." Gadis remaja itu tanpa permisi langsung membuka laci Hinata. "Heh, kau tidak menyimpan pembalut satupun...." Hanabi berkacak pinggang di hadapan laci Hinata. "Memangnya kau tidak datang bulan, bulan ini." Tambah Hanabi seraya keluar dari kamarnya.
Hinata tertegun dengan ucapan Hanabi. 'Kapan aku terakhir datang bulan....? Dua bulan lalu, dan sepuluh hari kemudian Naruto-kun menyentuhku....' Hinata mulai kalut, ia menjambak poni ratanya kasar. Hampir dua pekan... Kami melakukannya setiap hari dan itu mendekati tanggal datang bulanku bulan kemarin, dan aku melewatkan satu bulan haidku...'
Ia keluar dari selimutnya, meraih ponsel berwarna rose gold-nya. Inilah, inilah yang selama ini menjadi momok baginya. Sebelumnya ia merasa semuanya akan baik-baik saja, Naruto yang terlihat begitu mencintainya dan seolah akan selalu bersamanya dalam keadaan tersulit sekalipun. Tapi hari ini, hari ini mungkin mimpi buruknya akan benar-benar menjadi kenyataan.
...
"Sakit kepala dan pusing berlebihan, mudah lelah, punggung terasa pegal...." Hinata membaca ulang satu persatu kalimat di artikel digital yang berjudul 'Tanda Awal Kehamilan' hampir semua ia alami beberapa pekan belakangan ini, dan yang paling mengarah adalah. "Terlambat datang bulan." Tangan Hinata bergetar hebat, hingga ponsel itu hampir saja terjatuh.
Hinata tahu betul dengan kondisi tubuhnya, ia selalu menjaga pola makan, dan asupan gizinya. Sejak pertama kali tamu bulanan itu datang, Hinata sangat jarang mengalami keterlambatan, jika pun ia sakit atau dalam keadaan stress malah tamu bulannanya itu akan datang lebih awal, bahkan ia bisa mengalami masa menstruasi selama 14 hari. Jika pun ia mengalami keadaan terlambat datang bulan, itu hanya terjadi selama satu pekan.
Ia menutup mulutnya, tubuhnya menggigil, rasa ketakutan hebat menyerangnya. Jika ia seorang perawan yang tak pernah melakukan hubungan seksual mungkin ia akan pergi ke klinik untuk memeriksakan kelainannya, rasa takutnya akan tertuju pada penyakit mematikan kanker rahim atau kista yang akan membinasakan dirinya sendiri.
Tapi ia bukan lagi gadis suci, dan beberapa pekan terakhir ia terus berhubungan intim bersama mantan kekasihnya. Keringat dingin bercucuran dari keningnya, ia menyentuh perut ratanya. Mungkinkah di dalam sana tengah tubuh benih cinta mereka. Khe benih cinta, Hinata tersenyum getir. Ia baru saja dicampakkan oleh Naruto, dan masih saja menganggap bahwa yang terjadi diantara mereka adalah cinta.
"Aku harus tahu kebenarannya..." Hinata meraih jaket berwarna lavendernya yang tergantung di sudut kamar, dan melangkah pergi.
...
"Hinata, kau sedang sakit, mau pergi kemana?" Hiashi menghentikan sejenak kegiatannya menyiram tanaman, saat melihat Puteri kesayangannya keluar dari rumah. Wajah Hinata yang begitu pucat membuatnya agak khawatir.
"Hinata hanya pergi ke apotik Tou-sama..." Hinata tak berbohong pada ayahnya, ia memang akan pergi ke apotik, 'untuk membeli testpack.' Sambungnya dalam hati.
Hiashi tersenyum tipis, menurutnya puterinya itu akan pergi membeli obat. "Hati-hati, nak kau begitu pucat..."
...
Mutiara lavender itu beralih pandang dari apa yang terpampang di hadapannya, ia mencoba untuk sama sekali tidak peduli, apa lagi akan bertindak hilang akan dengan memukuli pemuda yang tengah bermesraan bersama seorang gadis di hadapannya. Neji, ia membiarkan begitu saja Naruto duduk di kantinnya bersama seorang gadis bersurai hijau yang ia tahu bernama Fuu, padahal baru saja semalam pria itu mencampakkan adik kesayangannya.
"Neji, aku akan mengantarkan pesanan ke meja 10, bisa tolong kau antarkan espresso ini ke meja 9."
Neji sedikit tersadar dari lamunannya, ia menerima nampan dari Tenten. 'Sial.' Ia mengumpat dalam hati saat menyadari meja nomor 9 itu adalah tempat Naruto dan Fuu. Ia tak ingin lagi membiarkan emosi menguasi akal sehatnya. Terlalu banyak orang-orang tak bersalah yang terlibat dalam perseteruannya bersama dengan Naruto.
...
Senyum keangkuhan itu terpatri dari bibir merah kecokelatannya, Naruto seolah menikmati pemandangan saat ini, bagaimana Neji terdiam di hadapannya sambil menyajikan pesanannya. "Tumben kau tidak mengusirku?" Tanyanya angkuh seraya melingkarkan tangannya di leher Fuu.
"Bukankah urusan diantara kita, hanya sebatas penjual dan pembeli." Neji meletakkan satu cangkir espresso dan dua roti panggang di atas meja Naruto. Ia sangat yakin setelah kejadian semalam, Hinata tak akan lagi mencoba mendekat pada Naruto.
Naruto tersenyum remeh membiarkan Neji kembali ke meja kasirnya. 'Sebentar lagi kau akan, merengek di hadapanku, Neji.'
...
Tangannya bergetar hebat, air mata bening mengalir deras dari mutiara lavendernya, "tidak mungkin..., hiks...." Benda panjang serupa stick es krim itu terlepas dari tangannya yang bergetar, pandangan nanarnya tertuju pada dua garis biru yang tertera disana.
Hal yang selama ini ia takutkan benar-benar terjadi, ia hamil, dan Naruto meninggalkannya. "Tidak...., Ini tidak mungkin terjadi, hiks...." Tubuhnya melemas, hingga punggungnya bersandar tak berdaya pada dinding dingin, "tidak... Ini tidak mungkin...." Tangannya meremas perut ratanya yang tertutup t-shirt berwarna peach itu, mengingkari nyawa kecil yang mulai bersemayam dalam rahimnya. "Tidak ada yang menginkannya... Tidak...."
Kepalanya mulai terasa pening, dan racauan itu mulai melemah seiring dengan hilangnya kesadarannya.
...
"Kau suka...." Senyum bahagia itu mengembang dari bibir merah kecokelatannya, tangannya terulur menyeka sisa es krim di hidung mancung gadis musim semi itu.
Sakura tersenyum riang, ia kembali menikmati es krim stroberry dari cone di tangannya, hingga suara dari ponselnya, membuat suasana diantara mereka sedikit canggung. "Video call, dari Sasuke-kun..." Emeraldnya beradu pandang dengan safir biru di hadapannya. Lucu, tak ada sesuatu yang khusus antara dia dan Naruto, tapi setiap kali kekasihnya menghubungi, rasa ketakutan dan bersalah muncul dalam benaknya.
'Apa ada yang salah antara aku dan Naruto?' Tanyanya dalam hati.
Naruto bangkit dari posisinya di hadapan Sakura, ia mengusak sekilas surai sewarna permen kapas itu. "Kau angkat dulu, aku akan keluar." Senyum getir itu terpatri di bibir Naruto, kehadiran Sasuke, meski hanya lewat virtual, seolah menyadarkan posisi dirinya yang sebenarnya di kehidupan Sakura.
...
Tok tok tok
"Hinata-nee....!!! Buka pintunya!!!!!" Ketukan keras itu terus bergema, namun tak ada sahutan dari dalam. Hanabi mulai merasa panik, sejak ia pulang sekolah kamar mandi itu terkunci dari dalam, dan ia tahu hanya kakak perempuannya yang berada di dalam rumah. Saat ia keluar dari gerbang sekolah ia menerima pesan dari Tenten, bahwa calon kakak iparnya itu membawa sang ayah untuk periksa rutin ke rumah sakit, dan Hinata sedang istirahat di rumah karena kurang enak badan.
Suara ketukan pintu yang hampir mirip dengan gedoran itu membuat Hinata kembali memperoleh kesadarannya, ia menyentuh kepalanya masih berdenyut, "akh...," Ia sedikit meringis, perut bagian bawahnya terasa keram, seketika ingatannya kembali pada alasan mengapa ia terkapar tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.
Test pack yang tergeletak di ubin kamar mandi itu menjadi fokusnya, ia mengabaikan kepalanya yang masih berdenyut dan perut ratanya yang masih terasa keram, ia sedikit merangkak meraih benda panjang itu, dan buru-buru memasukkan ke dalam saku celana training-nya.
"Hinata-nee!!!" Teriakan Hanabi dari luar kamar mandi, membuatnya semakin gelagapan, asal memasukkan test pack itu ke dalam sakunya, Hinata tak menyadari bahwa benda panjang yang menjadi bukti kehamilannya itu tak sempat masuk ke dalam sakunya dan kembali tergeletak di ubin kamar mandi. Ia buru-buru berdiri menggapai pintu kamar mandi.
"Kau baik-baik saja?" Hanabi meletakkan telapak tangannya di dahi Hinata, begitu pintu kamar mandi terbuka, dan Hinata berdiri di hadapannya.
"Aku sedang tidak enak badan..." Jawabnya singkat seraya menghindari kontak mata dengan Hanabi.
Gadis remaja itu melihat kantung mata membengkak dan wajah pucat kakaknya, ia yang tak mengetahui kejadian semalam saat Naruto menghina keluarganya, sontak bertanya. "Hinata-nee, ayo kita ke dokter..."
Hinata tersentak mendengar ajakan Hanabi, 'tidak, jika Hanabi membawaku ke dokter, semuanya akan tahu...' Buru-buru ia menggeleng kuat. "Aku hanya butuh istirahat...." Hinata melewati Hanabi yang berdiri di hadapannya, dan berjalan cepat menuju kamarnya.
...
Naruto menatap pintu kamar Sakura, dari dalam sana ia mendengar gelak tawa renyah gadis pujaannya, video call antara Sakura dan Sasuke masih berlangsung, hampir dua jam, dan tampaknya masih akan lama terjadi. Senyum getir terukir di bibirnya, 'Kapan aku bisa memiliki posisi seperti Teme, di hatimu, Sakura-chan...'
Fokus Naruto pecah, suara pesan dari ponselnya berbunyi. Ia tersenyum puas, sebuah pesan dari Hinata ia terima.
Naruto-kun... Maaf mengganggu, boleh aku meneleponmu sebentar, ada hal penting yang inginku sampaikan.
"Khe..." Ia mendengus remeh, ada banyak pesan dari Hinata yang ia abaikan seharian ini, ini baru satu yang ia baca.
Naruto-kun, mohon balas pesanku jika sudah tidak sibuk lagi.
...
"Ia harus tahu tentang hal ini, bagaimanapun ini adalah anaknya, dia boleh tidak mencintaiku, tapi anak ini, dia harus bertanggung jawab, dia sudah berjanji untuk hal ini..." Hinata mulai meracau tidak karuan, ia sudah mengirimkan banyak pesan pada Naruto, pemuda itu membacanya tapi tidak membalasnya. Bahkan telepon darinya pun ditolak oleh pemuda itu.
Hinata kembali meraih ponselnya, belum ada tanda bahwa Naruto membalas pesannya. "Mungkin aku akan langsung sampaikan saja."
...
Senyum penuh kepuasan terukir jelas di bibir Naruto, ia membaca pesan-pesan yang Hinata kirimkan, tapi diabaikan olehnya. Ada kepuasan tersendiri, saat melihat Hinata mengemis padanya, dendamnya pada Neji seolah tengah ia balaskan.
Naruto-kun, aku hamil...
Dahi Naruto berkerut, ada perasaan aneh di dalam hatinya, rasa gelisah, rasa takut, dan rasa bahagia, pembalasan dendamnya berada di puncak. 'Level terakhir permainan ini dimulai.'
Dengan cepat ia mengetik sebuah pesan.
Temui aku di Tokyo Tower Garden.
...
Mata bulan Hinata berkaca-kaca haru, saat pesan itu ia terima. "Aku tahu... Naruto-kun, kau tidak sejahat itu...." Hinata mengusap pelan perut ratanya, "dengar nak, Ayahmu mau menemui kita, dia akan bertanggung jawab atas dirimu..."
Ia tak pernah tahu, bahwa inilah gerbang sesungguhnya dari penderitaannya.
...
Matanya menatap penuh harap ke segala arah, menantikan kehadiran seseorang, dan senyum mengembang itu tersirat dari bibir merah mudanya. Sesosok pria dengan surai kuning yang mencolok datang dari kejauhan.
"Naruto-kun... Aku tahu kau tak seperti yang mereka ucapkan..." Hinata langsung meraih tangan Naruto, meletakkan telapak tangan lebar itu pada perut ratanya yang berlapis jaket ungu muda itu. "Kau akan bertanggung jawab, bukan?"
Naruto tersenyum iblis, ia menarik tangannya kasar dari perut berisi benihnya itu. "Aku tak yakin itu anakku."
"Bagaimana Naruto-kun bisa bicara seperti itu....?" Mata bulan yang tadinya dipenuhi dengan banyak harapan itu, kini berganti dengan buliran air mata penuh luka. "Naruto-kun lah satu-satunya orang yang pernah, dan akan aku izinkan untuk menyentuhku..." Ia mencoba meraih lagi tangan tan berurat itu, namun kembali ditepis.
Tak ada sedikitpun iba pada benak pria yang menyandang marga Namikaze itu, Hinata bahkan hampir menunduk untuk menggapai tangannya. "Mana aku tahu dengan siapa kau menghabiskan waktu saat kau tak bersamaku." Sangkal Naruto, ia tentu kenal betul seperti apa gadis polos ini. Hinata sangat percaya dan setia padanya, ia tahu itu. Namun cintanya pada Sakura membuatnya membuang gadis yang paling mencintainya itu.
Hinata menggeleng cepat, ia kembali mencoba menyentuh lengan kekar pria itu, namun Naruto menangkis, seolah jijik karena tangannya dipenuhi dengan kotoran. "Naruto-kun aku tak pernah menghabiskan waktu dengan pria lain...."
Bibir merah kecokelatan itu tertarik, sunggingan penuh kelicikan itu muncul di bibirnya. "Bagaimana dengan pria dengan tato taring anjing di pipinya itu, kau sering memintanya mengantarkanmu, bukan?"
Bagai disambar petir, Hinata tersentak mendengar tuduhan itu. Bisa-bisanya Naruto mengkambing hitamkan Kiba, padahal sahabatnya itu dengan suka rela memberi tumpangan dan membantunya bertemu dengan Naruto. "Naruto-kun... Kiba yang membantu kita..."
"Ssstttt.... Aku tak mau mendengarmu bicara lagi." Naruto menjambak surai di bagian belakang kepala Hinata, membuat gadis itu meringis kesakitan, kepalanya masih berdenyut karena terbentur dinding kamar mandi, dan Naruto menambah rasa sakitnya. Mutiara lavendernya memandang memelas, ia tak pernah sedikitpun menyangka Naruto berani menyakitinya secara fisik.
Suasana taman di bawah Tokyo Tower itu memang nampak sepi, udara mendung dan matahari yang terbenam membuat tempat itu tak banyak dilalui dan disinggahi oleh banyak orang.
"Sudah banyak gadis sepertimu yang datang padaku dan mengaku mengandung benihku..." Jambakan itu kian menguat, membuat rigisan Hinata semakin menjadi, gadis itu memegang tangan Naruto yang menjambaknya, berharap jambakan itu sedikit melonggar, namun tidak sama sekali. "Dan sudah ku katakan aku tak mungkin menikahi mereka semua...."
"Hhhh...." Hinata menarik nafas lega, akhirnya Naruto melepaskan jambakannya.
Pria itu meraih sesuatu di saku celananya dan mengeluarkan dompet kulit dari sana, mengambil satu buah kartu, dan memaksa Hinata untuk memegang kartu itu. "Ini kartu kredit infinite ku, dengan limit ¥ 1.000.000. Ini yang kau incar dariku, bukan?"
Hinata menggeleng cepat, ia tolak kartu itu, dan kembali menyerahkannya di telapak tangan Naruto. "Naruto-kun... Kumohon..." Hinata berlutut di hadapan pria itu, ia bahkan memeluk erat betis Naruto. "Bukankah, kau berjanji akan bertanggung jawab atas anak kita..."
Naruto kembali tersenyum penuh kemenangan. Ia sama sekali tak menginginkan bayi itu, tapi bermain-main sebentar dengan Hinata, baginya sama saja dengan menginjak-injak harga diri Neji secara tidak langsung. "Dengar...." Dengan sangat kasar Naruto menarik lengan Hinata, hingga wanita yang tengah hamil muda itu berdiri paksa.
"Kau ingin aku bertanggung jawab, bukan. Ikut aku!" Naruto tanpa belas kasihan sama sekali menyeret Hinata menuju mobilnya. Dan gadis polos itu tak punya pilihan selain mengikuti.
Hinata tak pernah tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir ia mencintai seorang Namikaze Naruto.
"Maternity Tokyo Hospital...." Hinata membaca ulang tulisan besar di hadapannya.
Lamborgini itu terparkir tepat di halaman lobi rumah sakit ibu dan anak ternama di Tokyo itu. Hinata tersenyum lega, ia sangat takut Naruto akan membunuh dan membuang jasadnya di jalanan, ia tahu sejahat apapun Naruto tak akan tega melakukan hal kejih seperti itu. 'Naruto-kun mengajakku untuk memeriksakan kandungan....' Ia mengelus lembut perutnya. "Aku tahu Naruto-kun tak seperti yang mereka katakan..." Kembali tatapan penuh damba itu ia hadiahkan pada pria di yang duduk di kursi kemudi.
"Tak usah banyak bicara, cepat turun!" Ia melepaskan sabuk pengamannya dan keluar terlebih dahulu dari mobil, meninggalkan Hinata sendiri.
Bibir merah mudanya tersenyum getir, beberapa hari yang lalu Naruto selalu membukakan pintu mobil untuknya, tapi hari ini, pria itu seolah lupa pernah meminta pernyataan cinta padanya.
...
"Ruang operasi?" Hinata kembali membaca tulisan di depannya, sejak tadi ia mengikuti Naruto yang berjalan terlebih dahulu di depannya. Pria itu lebih dahulu tiba di depan pintu ini, dan nampak tengah menelepon seseorang..
"Masuklah, semuanya sudah siap." Ucapnya setelah mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ke... Kenapa aku harus masuk ruang operasi?" Hinata mulai ketakutan, beberapa perawat keluar dari ruangan itu dengan pakaian medis lengkap.
"Namikaze-sama, kami mendapat perintah dari Dr. Orochimaru untuk mempersiapkan, kuretase. Apa ini pasiennya?" Tanya perawat itu sopan.
"Kuretase, siapa yang akan-" Hinata mulai ketakutan ia menatap pada perawat itu dan Naruto secara bergantian.
"Ya dia orangnya, kalian bisa membawanya masuk..." Potong Naruto sebelum Hinata melanjutkan perkataannya.
Mengikuti perkataan orang yang telah membayarnya, dua perawat itu langsung memegang lengan Hinata.
"Naruto-kun apa maksudnya ini....?"
"Dengar Hime, aku berjanji untuk bertanggung jawab bukan," ia menyentuh sekilas perut rata Hinata. "Bertanggung jawab, bukan berarti harus menikahimu..., Aku mengenal salah satu dokter kandungan yang bisa melenyapkannya." Ia bahkan mengelus perut yang menampung benihnya. "Tidak akan sakit, dia akan memakai tehnik laser...."
"Nona sudah waktunya untuk operasi dimulai." Perawat itu menariknya masuk ke dalam ruangan operasi.
"Naruto-kun, kumohon jangan lenyapkan bayi kita...." Hinata mulai berderai air mata, ia mempertahankan pijakannya agar para perawat itu kesulitan menyeretnya.
Naruto tersenyum tipis, penuh makna dan menusuk. "Dengar Hime...." Ia menepuk pelan pucuk kepala Hinata. "Baik kau dan aku tak menginginkan bayi ini... Jadi jangan munafik dengan mempertahankan anak ini, kecuali kau mempunyai rencana menjadikannya alat untuk menguasai harta warisanku..."
"Naruto-kun... Ku mohon!!!!!" Ia melengking kuat, namun perawat itu tetap menariknya. "Jangan bunuh anakku, Naruto-kun!!!!" Tenaganya kalah kuat, ia tetap diseret oleh para perawat itu untuk masuk ke dalam ruangan operasi. "AKU MOHON NARUTO-KUN, AKU TAK AKAN MENYUSAHKAN MU, LAGI, KU MOHON JANGAN BUNUH ANAKKU!!!"
"KU MOHON JANGAN BUNUH BAYIKU!!!!!" Lengkingan Hinata masih terdengar kendati pintu ruangan operasi itu sudah ditutup. Dan tanpa perasaan sama sekali Naruto melenggang pergi meninggalkan Hinata sendirian di ruangan itu, membiarkan benih cinta mereka ditarik paksa.
...
"Moshi-moshi Sakura-chan..." Tanpa beban atau rasa bersalah sedikitpun ia menerima panggilan dari gadis pujaannya.
"Ah aku ada urusan sebentar, anjingku menggonggong minta makan, jadi aku harus pulang dan memberikan dia daging busuk." Sungguh kejam, Naruto mengibaratkan gadis yang mencintainya bagai seekor anjing. "Aku akan kembali kerumahmu... Aku tahu kau kesepian saat orang tuamu memiliki jadwal di rumah sakit... Tunggulah sebentar aku akan datang."
Naruto tak sadar, bahwa hari ini ia tengah menaburkan bibit berduri di hati gadis polos yang begitu memujanya. Ia tak tahu bahwa kelak bibit berduri itulah yang akan menyakiti dan menghalangi jalannya.
つづく
Tsudzuku