Hari ini kamu melakukannya lagi.
Membuatku menunggu di bawah guyuran hujan lebat dengan harapan yang sama.
Yaitu, kedatanganmu, harusnya aku tidak perlu percaya bukan?
Tapi kamu terlalu sulit untuk ku lewat kan.
"Wae?"
"Ini terlalu menyedihkan untukku."
Hanya itu yang terus aku ucapkan di dalam hati, entah di tujukan untuk siapa.
Kamu selalu mengatakan jika tidak akan ada yang mampu mengalahkan aku dalam segi apa pun.
Aku terkekeh.
'Lalu sekarang apa?!' batinku berontak.
Tanganku tergerak untuk memukul-mukul dadaku yang terasa sesak, dan berharap sesak yang aku rasakan dapat berkurang.
"Oppa!" teriakan samar seseorang mampu membuatku yang sangat mengigil berbalik.
"Jeong—jeongyeon.." mulutku rasanya sangat bergetar hanya untuk menyebut nama gadis yang sekarang sudah ada di hadapanku dengan payung yang di bawanya.
"Ayo pulang!" teriaknya padaku.
"Ani, bagaimana jika Mina—"
"Dia tidak akan datang lagi, jangan menunggunya!"
"Ta—tapi dia berjanji padaku.." lirihku.
Tapi anehnya Jeongyeon masih bisa mendengarnya walau pun hujan sangat lebat.
"Sudah berapa kali dia berjanji dan berakhir tidak datang?! Kau sangat kedinginan sekarang, ayo kita pulang!"
Kata-kata menusuk Jeongyeon membuatku sadar. Aku sudah membuang waktu untuk menunggumu datang, tapi nyatanya kamu tak akan datang meskipun aku menunggumu sampai besok dan besoknya lagi.
Dengan gontai aku berdiri dan mengikutin Jeongyeon untuk pulang.
Aku ingin menangis, rasanya sangat sakit. Dan aku bersyukur dengan hujan ini air mataku bisa di samarkan.
"Minari.. Kenapa kamu seperti ini?"
Sepanjang perjalanan aku terus diam dan membiarkan Jeongyeon yang menyetir mobil membawaku kemana pun dia mau.
"Kau belum makan dari siang kan?" tanya Jeongyeon tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Hm." aku tak mampu membalas lebih dari deheman.
Jeongyeon membelokan mobil ke jalan menuju Restaurant keluarganya.
"Oppa bisa mengganti baju di Restaurant nanti, dan aku akan meminta Appa masakan sup hangat agar kau tidak menggigil lagi." ujarnya tanpa menatap ke arahku.
"Jeongyeonnie.." lirihku memanggilnya.
"Nde?"
"Gumawo.."
"Oppa, jangan berterima kasih seperti ini. Justru aku yang harus berterima kasih karna kau sudah begitu baik dengan Mina dan member yang lain. Aku juga ingin meminta maaf atas nama Mina, aku sangat menyesal atas nama Mina yang sudah berkali-kali menyakitimu.." jawab Jeongyeon dengan suara bergetar.
"Ani, kau tidak perlu meminta maaf atas nama orang lain, apalagi tidak ada sangkut pautnya denganmu. Jangan menangis Jeongie, ini hanya antara aku dan dia." jawabku tulus.
Jeongyeon selalu baik, lebih tepatnya sangat baik.
Siapa pun lelaki yang mendapatkannya pasti sangat beruntung.
Setiap diriku terjatuh karna di bohongi lagi dan lagi Jeongyeon pasti datang di saat yang tepat.
Kadang aku berpikir,
"Kenapa bukan dirimu saja yang aku cintai Jeong?"
Hanya itu yang selalu aku pertanyakan setiap kejadian seperti ini terjadi padaku dan Jeongyeon yang berada disana.
Sesampainya aku dan Jeongyeon di Restaurant keluarganya kami di sambut begitu hangat.
Sangat hangat, sampai rasanya aku paham dari mana sifat hangat Jeongyeon berasal.
"Annyeonghaseo Imo." salamku pada Ibu Jeongyeon.
"Sehun-ah.. Aigooo~ kau basah kuyup!" kaget Ibu Jeongyeon melihatku dengan keadaan basah.
"Nde Imo, tadi aku sedikit kehujanan." jawabku seadanya.
"Sedikit apanya.." gumam Jeongyeon yang berdiri disampingku, sepertinya dia kesal.
"Ayo masuk, kau bisa masuk angin." kata Appa Jeongyeon.
"Ne somchon." jawabku sambil mengikutinya.
Saat sudah sampai di rungan pribadi keluarga Jeongyeon aku bertemu Seungyeon Noona.
"Kalian datang? Tadi Mina juga datang."
Mendengar ucapan Seungyeon Noona membuatku terpaku.
"Kapan?" tanya Jeongyeon, sepertinya dia peka dengan kebisuanku ini.
"Sekitar setengah jam yang lalu."
"Tapi ada yang aneh." sambungnya.
"Aneh apanya?"
"Dia terlihat buru-buru, sepertinya dia juga ditunggu seseorang di dalam mobil yang di naikinya."
"Kau melihat tipe mobilnya?"
"Tentu saja, itu mobil BMW X6 bewarna gelap."
Deg!
'Ternyata kamu bersamanya ya? Pantas saja kamu tidak datang.'
Jeongyeon melirikku yang tersenyum kecut.
"Oppa, gwencana?" tanyanya sambil menyentuh pundakku lembut.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." jawabku sambil terkekeh untuk menutupi perasaanku.
"Hun-ah.. Jangan di paksakan jika memang sudah menyakitkan untukmu." ujar Seungyeon Noona padaku.
Ya.. Dia juga tau tentang hubunganku dan Mina.
Mendengar ucapannya membuatku tersenyum kecut. "Tenang saja Noona, aku masih bisa menahannya."
"Tapi sampai kapan? Mina sangat keterlaluan padamu." jawabnya jengkel juga.
"Sampai aku sendiri yang ingin berhenti, aku akan berhenti jika memang aku tidak bisa menahannya lagi. Jangan khawatir Noona."
"Baiklah, aku percaya padamu." ujarnya mengelus pundakku.
'Minari, apa kamu akan membiarkan aku berhenti?'
tbc.