Phoenix

By servis_kipas_angin

45 10 18

Ryou detektif jenius yang akhirnya menemukan titik terang atas perburuannya menangkap pusat dari organisasi p... More

si pelayan

war

28 5 15
By servis_kipas_angin

Mata coklat itu membulat, sebuah seringaian terpatri di bibirnya,
"Kena kau"
Ucap seorang detektif jenius bernama Akabane Ryou, yang sudah dua tahun menyelidiki organisasi penjual senjata ilegal bernama Phoenix,

Segera ia menyusun strategi untuk penggrebekan besar-besaran di markas itu.

......................

"Aku butuh 54 pasukan, Yuuji-san"
Ryou menuturkan strateginya pada kepala polisi, yang bisa di sebut sebagai atasannya, Nakagawa Yuuji.

"Ah.. kau benar-benar jenius Ryou, tak ku sangka kerja kerasmu selama ini membuahkan hasil"
Ucap Yuuji memberi tepukan bangga pada kepala merah Ryou,

Ryou tertawa ringan,
"Peluang kemenangan kita besar, aku yakin itu"

"Akan ku siapkan pasukannya untukmu..
Ngomong-ngomong Ryou, mau merayakannya?? Ke bar misalnya, Kau butuh hiburan kurasa"

"Terimakasih Yuuji-san, tapi cafe di ujung jalan kurasa cukup"

Suara tawa geli terdengar " Kau ini, padahal suka sekali dengan menu di cafe kecil itu, tapi kau tidak pernah akur dengan pelayannya.. hahaha.."

Fakta itu ditanggapi helaan lelah dari Ryou, dan sedikit protes
"Ui benar-benar tidak punya saringan di mulutnya"

..................

Keesokan harinya, saat ia masuk ke ruang kerjanya, Ryou disambut dengan sapaan asing dari seseorang yang sudah duluan ada di ruangan itu,

"Halo Akabane-san, aku Akashi Yuta, seorang polisi yang ditugaskan menjadi partnermu dalam misi ini"

"Eh.. Aku tidak tahu akan dapat partner, kau dari divisi apa?"

"Divisi 4, yang menangani kasus kriminal dan kekerasan, Yuuji-san menyampaikan permintaan maaf atas keputusan mendadak ini"

Mata Ryou memincing, namun dia mengangguk sebagai balasannya,

................

Hari penyergapan tiba, pukul 3 dini hari, para personel sudah mengepung sebuah gudang tua di dekat pelabuhan, terlihat terbengkalai dan sepi,
"apa disana sudah siap?"
Ucap Ryou melalui walkie-talkie, yang dibalas kata siap dari para pemimpin pasukannya,

Mata coklat itu menghujam tajam, menanti dengan begitu sabar gerak-gerik dari musuhnya. Bagaikan seekor leopard yang siap menerkam mangsanya.

"Dalam hitungan ketiga."

Pengaman pistol sudah diturunkan.

"Tiga."

Napas saling memburu dan adrenalin semakin meningkat.

"Dua."

Hening, sunyi tanpa suara sedikitpun. Diselimuti dingin dan kelam, bulan masih berdiri dengan agung sebagai saksi.

"Satu."

Saksi atas pertarungan hidup dan mati.
.

.............

"POLISI! ANGKAT TANGAN SEMUANYA!"

Seruan-seruan serupa terdengar menggema dalam gudang kargo yang besar dan kosong tersebut. Bunyi derap kaki dan senjata dikokang menjadi pengiring atas penyergapan di kala malam itu. Dalam hitungan detik, gudang usang itu sudah terkepung oleh para polisi bersenjata lengkap dengan rompi anti peluru untuk melindungi tubuh masing-masing.

Sayangnya gudang tersebut kosong melompong.

"Apa-apaan ini!" seru seorang personel polisi.

Seorang pemuda berambut abu-abu keperakan. "Akabane-san, kau yakin mereka ada disini? Benar-benar kosong?"

"Aku yakin, sialan!" bentak si rambut merah frustrasi.

"Ini aneh, tapi kargo-kargo disini sebaiknya ku periksa" lanjut Ryou, ia berjalan mendekati kargo tersebut, membukanya, dan benar saja dugaannya, dihadapannya tersusun airsoftgun dalam jumlah besar.

Ia mengerutkan keningnya, berpikir keras sebelum suara salah satu pemimpin pasukan lari menuju dirinya sambil berteriak,

"Kapten, ada boom!! kita harus segera pergi dari sini"
Yang tak lebih dari 3 detik sebuah ledakan beruntun terdengar.

Saat itu, hampir separuh dari seluruh pasukannya menjadi korban.

..............

"Argggg!!!!"
Sebuah erangan yang diikuti gebrakan meja membuat teman sekantornya terkejut,

Sang detektif, Akabane Ryou dalam kejadian itu berhasil keluar, dengan  luka ringan, di tubuhnya. Yang selang tiga hari ia sudah bisa bekerja seperti biasanya,

Tapi naas, masih banyak anak buahnya yang belum keluar, dan itu sudah menjadi penghinaan luar biasa bagi dirinya,

"Tenanglah Ryou, ini bukan salahmu, kau lihat kan, mereka belum sempat membawa dagangan mereka kabur, itu sudah menjadi kerugian besar bagi mereka"
Yuuji-san menyodorkan segelas teh untuknya,

"Dan lagi, sepertinya terjadi spionase disini"
Lanjut kepala polisi itu setengah berbisik,

Ryou menyipitkan matanya,
"Yuuji-san, aku ingin mengintrogasi orang-orang yang ada disekitar sana saat terjadi ledakan"

"Oh baiklah, ku serahkan padamu"

Setelahnya ditetapkan tiga orang yang terlihat di sekitar pelabuhan dini hari,

.............

"Jadi apa yang kau lakukan saat itu, tuan"

Yang ditanya menatap malas,
"Serius kau mencurigaiku?"

Ryou masih mempertahankan wajah dinginnya, tekanan itu membuat lawan bicara angkat suara,

"Oke baiklah, aku menyetok bahan yang akan ku buat sebagai menu cafe, kalau kau tidak percaya kau bisa menggeledah tasku yang berisi sayuran, kopi, terigu, dan masih banyak lagi, oh.. kalau masih tidak puas, kau bisa melihat kuitansi pembayarannya, dasar polisi sialan"
Terang lelaki bernama Huibert, yang pukul tiga dini hari terekam kamera jalanan berada disekitar pelabuhan,

Ryou mengangguk, menulis sesuatu dicatatannya, lalu mempersilahkan pelayan cafe itu keluar,

Selanjutnya, di depan Ryou duduk seorang saudagar berambut navy blue cepak,

"Pak, saya hanya pedagang yang setiap Minggu datang ke pelabuhan membawa dagangan dari sebrang lautan"

Ryou menanggapi dengan anggukan kecil, "baiklah tuan Aomine Leo, kalau begitu, saya akan bertanya satu hal lagi, apa orang yang baru keluar dari sini itu pelanggan tetapmu?"

Sang pedagang menjengit kecil mendengar pertanyaan itu,

"Sebenarnya bisa dibilang pelanggan tetap tapi bisa dibilang tidak, Ummn... Bagaimana ya, toko tempat kerja ui-san memang selalu membeli bahan dari saya, tetapi biasanya yang mengambil barangnya adalah orang lain"
Jelas pedagang itu

"Baiklah, kau boleh pulang"

Dan orang terakhir dipanggil, seorang wanita cantik berambut cokelat panjang,

"Maaf mengganggu waktu anda, Nana-san, langsung saja apa yang kau lakukan saat terjadi ledakan?"

"....."

"Nana-san?? "

"Bukan urusanmu polisi sialan"

"... Jika anda seperti ini, anda bisa dianggap tersangka"

"........ Baiklah baiklah, aku seorang pekerja seks komersial, okay? Biasa melayani pedagang kaya yang singgah di pelabuhan, puas?"
Ucap wanita itu kesal, ia memandang marah sang polisi

Kemudian sesi interograsi selesai,
Beberapa hari kemudian, setelah ditelusuri ketiga orang tersebut memang tidak berbohong,

namun ada satu yang mengganjal di hatinya, membuat detektif muda itu melanjutkan penyelidikan

................

"Kau mencurigai seorang pelayan yang sedang berbelanja hanya karena dia menggantikan tugas pelayan lain?"
Tanya polisi berambut abu-abu yang kini tengah terbaring di rumah sakit,

"Ada hal lain yang membuatku berpikir seperti itu Akashi"

"Lalu apa?"
Tanya Akashi Yuta, ia yang baru rencananya hari ini boleh pulang setelah sebelumnya dirawat karena luka bakar yang cukup serius dipunggungnya,

"Aku akan memberitahumu setelah menemukan buktinya"
Ucap Ryou menghela nafas panjang.

..............

"Wah.. wah.. benar-benar jenius"
Seringai serigala terlihat di wajahnya,

"Hanya tidak cukup jenius untuk menyadari bahwa ada alat penyadap di bolpoin kesayangannya"

Lalu tawa menggema terdengar di lantai gedung yang bersebrangan persis dengan rumah sakit dimana dua orang polisi itu berada.

Continue Reading

You'll Also Like

831 104 9
Seorang mantan tentara terhebat yang di dipindahkan ke dalam game genshin impact dengan sistem.
5.6K 407 42
Sebuah cerita dimana seorang anak yang menemukan sebuah pedang yang ternyata sebuah Senjata Suci, dan takdir mereka untuk mengalahkan Dewa Iblis yang...
13.1K 1K 11
Perkara lu ngejar kucing lalu tertabrak truk-kun dan akhirnya masuk isekai
Wattpad App - Unlock exclusive features