7 PRINCE [END]

By dilaici

2M 177K 17.2K

Kara syazerra seorang siswi yang mendapatkan beasiswa di sekolah Arsen International High School (AIHS) Sekol... More

CAST.
(1) MAMA
(2) Surat Dari Mama
(3)Kehidupan Baru
(4) About AIHS
(5) The King of PlayboyπŸ‘‘
(6) Ponsel rusak!
(7) Sial!
(8) Percuma
(9)Nyusahin
(10)Nyebeliiiiiiin
(11) Batal
(12)Entar kotor
(13) Kejepit
(14) Siapa gibran?
(15) Sekotak donat
(16)Hilang
(17) Baku hantam
(18)Balkon
(19) Dijebak
(20)Lari pagi
(21)Kobam
(22) Gausah mepetΒ²!
(23)Troli
(24) Matahari
(25) Pesta menyebalkan
(26)Harta, Tahta, dan Kara Syazerra
(27) Serangan Dua Bersaudara
(28) Bingung
(30) Keripik
(31) Mantan pertama
(32) Kita bukan siapa siapa!
(33)Beti
(34)Dihukum
(35) Foto
(36)Senyum
(37) Alergi
(38) Payung
(39)Gagal kencan
(40) Endorse masker
(41) Aneh
(42) Lose
(43) Topeng
(44) Kilasan masa lalu
(45) Nyerah?
(46) Menghindar
(47) Pergi?
(48)Berangkat
(49) talk
(50) Si kembar yang sangat akur
(51) Setelah tiga minggu
(52) Dua
(53) Darrel gila!!
(54) Tiga
(55) official
(56) Kenapa?
(57) Berakhir?
(58) Gara gara tato
(59) Ini Awal (END)
EXTRA PART

(29) Kangen

29.5K 2.7K 344
By dilaici

Alland menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tangannya meraba raba nakas mencari keberadaan jam berisik yang berhasil mengganggu tidur siangnya

Geram karena tak kunjung menemukan tombol untuk menonaktifkan alarm tersebut, alland yang kesal  melemparnya hingga jam itu sudah tak bersuara lagi.

Bertepatan dengan itu seorang pemuda membuka pintu kamar alland sambil menggelengkan kepalanya.

"Gini nih kelakuan babi pas tidur"

Mulut siapa lagi kalau bukan darrel ryan, putra kelima dari keluarga ini yang tidak memiliki filter mulut di hidupnya.

Darrel naik diranjang alland, membangunkan alland dengan cara menendang tubuh alland menggunakan kakinya "Kuliah woy su. Sekolahin dulu otak lo biar lo gak bego lagi"

Alland berdecak masih menutup matanya, ikut menendang darrel yang mengganggunya "Adik gaada akhlak" katanya dengan suara serak khas bangun tidur.

Darrel mendesis "kayak lo punya akhlak aja setan"

Tangan alland menarik bantalnya dan menutup kepalanya agar tak mendengar ocehan darrel yang tidak berfaedah.

"Lo mau gue kenalin cewe gak lan?" Tawar darrel duduk bersila diatas ranjang sambil memainkan ponselnya.

Alland tak menjawab, memejamkan matanya dibalik bantal, berusaha agar tak mendengar ocehan darrel.

Kesal karena alland tak menjawab perkataannya, darrel menendang pinggang alland dengan keras.

Alland sedikit terkejut, melempar bantalnya kearah darrel dengan mata yang terpejam namun tepat sasaran "Gue gak tertarik. Udah sono ganggu ae"

"Kenapa? Karena lo udah suka sama kara?" Darrel memasukkan ponselnya, menaikkan sebelah alisnya menatap alland yang kini perlahan membuka matanya.

"Terus kenapa?" Bukannya menjawab, alland malah balik bertanya.

"Jangan kara lan. Sean--"

"Juga suka sama kara"Kata alland melanjutkan perkataan darrel. Alland mengangkat tubuhnya, terduduk bersandar pada pembatas ranjang "Jadi lo nyuruh gue ngalah wahai manusia bermuka penuh dengan plester?"

"Iya. Biarin kara sama sean"

Alland mendesis "Kenapa?"

Alland menatap darrel tak menyangka, dari kecil darrel selalu mendukung apapun yang ia lakukan, tapi kenapa sekarang?

"Lo tau sendiri masa lalu sean. Gue gak mau--"

"Terus gimana dengan hati gue? Ada jaminan kalo hati gue bakalan baik baik aja setelah ngalah?" Potong alland cepat.

"Lan" Darrel menatap alland frustasi.

"Makanya jatuh cinta bangsat! Biar lo tau rasanya jadi gue" Tekan alland.

"Kara dibully disekolah sama gibran"

Alland diam. Ekspresinya berubah, tangannya bergerak terkepal kuat.

"Gue telat dan gak bisa nolong banyak---"

Belum sempat menyelesaikan omongannya, darrel melihat alland yang langsung berdiri dan melesat kearah kamar kara.

"Si asu. Belom juga kelar. Padahal kan gue mau ngedrama dikit biar dipinjemin kartunya" Darrel berdecak, mengangkat bahunya dan keluar dari kamar alland.

Sementara ditempat lain alland membuka pintu kamar kara dengan tergesa, menemukan si pemilik kamar sedang ditengah tengah pintu balkon yang tertutup sedang menyemprot parfum strawberry.

Entah penyemprotan untuk yang keberapa kalinya, gadis itu masih merasakan bau amis yang belum kunjung hilang.

Ketika mendengar pintu kamarnya terbuka kasar, kara langsung berbalik melihat alland yang berjalan cepat kearahnya.

Rambut pemuda itu acak acakan, berdiri sana sini khas seseorang yang baru saja bangun tidur. Wajahnya pun masih memamerkan wajah khas orang bangun tidur hingga kara bisa memastikan bahwa pemuda ini baru bangun tidur dari tidur siangnya.

Alland bergerak membolak balik badan kara yang membuat kara menyeringit bingung. Apa yang dilakukan pemuda ini?

"Buka mulut aaaaaa" Suruh alland

"Aaaaaaa" kara membuka mulutnya sesuai perintah. Alland sedang pemeriksaan kesehatan gigi kah?

Sepersekian detik selanjutnya, alland memeluk tubuh kara, dagu alland menyentuh pucuk kepala kara.

Kara tak tau harus bereaksi seperti apa. Jantungnya berdebar, tangannya perlahan terangkat membalas pelukan alland.

"Kak, lo mimpi buruk?" Tanya kara lembut.

Alland mundur, memberikan sedikit jarak diantara mereka, menatap kara dengan khawatir "Maaf gue gak bisa jagain lo disekolah"

Oke sekarang kara mengerti, pasti darrel sudah menceritakan kejadian tak mengenakkan disekolah tadi.

Kara mencoba memaksakan senyumnya. Gadis ini hanya manusia biasa, jika luarnya keliatan tegar, dalam hatinya ia sakit karena baru mendapatkan hal yang tak mengenakkan seperti itu.

Ternyata memang gibran serius dengan perkataannya. Kara menyesal waktu itu kenapa ia harus diam dan menerima lemparan lemparan dari gibran dan teman temannya, seharusnya ia melawan. Tapi entahlah, kenapa tadi ia hanya diam dan menerima semua yang dilakukan gibran terhadapnya.

Kara ingin sekali membuat gibran mengerti, bahwa balas dendam tidak akan membuat keadaannya semakin membaik. Balas dendam hanya akan membuat salah satu dari kedua belah pihak tersakiti.

Tangan alland bergerak menggenggam tangan kara "Maaf gara gara masalah keluarga gue, lo yang gak tau apa apa ikut terseret. Maaf karena--"

"Gue gak papa kak" Kara menyela sambil tersenyum gemas "Berenti minta maaf karena ini bukan salah lo"

"Emang bukan salah gue, tapi gue yang merasa gak enak" Alland menghela napas "Gibran itu nekat, ra. Gue gak mau lo kenapa napa" Alland menggelengkan kepalanya "Gue gak mau masalalu itu keulang" Ucapnya pelan yang bisa didengar oleh kara.

Kara membuang napasnya "Gak ada masalalu apapun yang bakalan keulang kak. Gak ada hal buruk yang bakalan terjadi"

Seorang pemuda tiba tiba muncul dibalik tembok, tangan kanannya menggenggam ponsel sambil menyengir tidak jelas.

Kara memiringkan kepalanya, melihat darrel yang berjalan kearah mereka berdua.

"Lan, telpon dari mama" Kata darrel menydorkan ponsel dengan menaik turun kan alisnya.

Alland menatap darrel curiga, perasaannya sedikit tak enak melihat ekspresi darrel.

Perlahan tangan alland mengambil ponsel yang berada ditangan darrel dan menempelkannya ditelinganya "Hal--"

"KULIAH KAMU ALLAND!"

Alland sedikit meringis mendengar teriakan melengking dari riana "Alland denger ma, gausah diteriakin"

"Sana kuliah! Kayak orang udah banyak ilmu aja gaya gayaan"

Pip!

Darrel mengangkat tangannya, meminta ponselnya kembali.

Alland mengangkat ponsel darrel, bukannya menaruhnya diatas tangan darrel, pemuda itu malah melempar ponsel darrel. Beruntung saja ponsel darrel jatuh di ranjang kara.

Darrel memutar tubuhnya, melihat ponselnya yang mendarat diatas ranjang. Sepersekian detik selanjutnya, darrel memelototi alland "Asu lo babi! Gak ngotak"

***

Kara menopang dagunya diatas meja belajar, memikirkan cara untuk membuat gibran tersadar.

Gadis itu menghela napas, menggerakkan tubuhnya lalu bersandar dikursi dan memutar mutar kursinya, sudah mirip seperti seorang penulis yang kehabisan ide untuk kelanjutan ceritanya.

Ting!

Ting!

Ting!

Ting!

Kara berhenti memutar kursinya, tangannya menggapai ponselnya yang berada diatas meja.

Kavinaxa : Kara
Kavinaxa : ini saya kavin sekretaris sean
Kavinaxa : Bisa ke perusahaan gak?
Kavinaxa : Sean gak mau makan. Bisa bantu saya bujuk dia?

Kara mengulas senyum konyol. Memangnya sean itu anak kecil yang harus dibujuk makan, baru ia ingin makan? Ada ada saja.

Tangan kara bergerak membalas pesan dari kavin.

Karasya : ok

Kara berjalan kearah cermin, menyisir rambutnya menggunakan jarinya. Hidung kara mengendus bau badannya, memastikan bahwa tubuhnya tak berbau telur busuk lagi.

Setelah memastikan tubuhnya tak memiliki tanda tanda bau telur busuk, kara meraih ponselnya dan memasukkannya kedalam slingbagnya dan mulai berjalan keluar kamarnya.

Kara berjalan menuruni anak tangga, melihat kenan yang berjalan naik tangga dengan seragamnya.

"Loh kok kak kara udah pulang? Sakit?" Kenan menarik tangan kara, menaiki satu tangga lagi agar ia lebih tinggi dari kara. Tangan kanan kenal terangkat memegang dahi kara dan tangan kirinya memegang dahinya sendiri "Gak panas"

Kara diam, enggan untuk menceritakan kejadian pembullyan itu.

Kenan melebarkan matanya, menunjuk kara menggunakan jari telunjuknya "Kak kara bolos ya?"

Kara menggeleng, ia tidak membolos, hanya pulang dari sekolahnya tanpa keterangan. Sama saja kah?

Alis kenan terangkat sebelah melihat jam yang menunjukkan pukul tiga. Seharusnya anak SMA belum pulang sekarang "Gak sakit, gak bolos. Terus ngapain?"

"Kenan ngapain pulang jam segini? Bukannya seharusnya pulang lebih awal?" Tanya kara mengalihkan pembicaraan.

Kenan menipiskan bibirnya, matanya bergerak kekiri berusaha untuk tidak tersenyum "Abis main kerumah sella"

Kara mengangguk, bingung melihat ekspresi kenan yang tiba tiba berubah. Wajah kenan lebih terlihat memerah sekarang.

Tangan kenan bergerak mengelus pucuk kepalanya sambil tersenyum konyol.

"Kenan?"

"Kak kara mau pergi kan?" Kenan menepuk bahu kara beberapa kali.

Kara sedikit meringis karena yang ditepuk oleh kenan adalah bekas dari tendangan dari gibran.

"Kenan naik dulu. Dahh kak kara" Kenan tersenyum kemudian melanjutkan menaiki tangga dengan perasaannya yang sedang bahagia.

Kara hanya tersenyum singkat, mencoba menggerakkan bahunya yang terasa nyeri perlahan.

***

Kara keluar dari lift ditemani dengan kavin, sekretaris sean yang berada disampingnya.

"Masuk sendiri ya, saya ada urusan" Ucap kavin yang diangguki kara.

Kara berjalan pelan kearah ruangan sean, kedua tangannya menggenggam erat tali slingbagnya.

Pada saat pintu ruangan sean terbuka, kara bisa melihat sang pemilik ruangan sedang bersandar disofa sambil memijat pelipisnya.

"Kara?" Sean menurunkan tangannya berhenti bersandar, bingung dengan kedatangan kara ke kantornya.

Kara tersenyum simpul memandangi wajah sean yang terlihat sangat lelah "Eummm... Mau temenin kara makan gak?"

Sean melirik jam tangannya, sepersekian detik selanjutnya mengangguk "Tapi tunggu fino datang dulu. Gak papa kan?"

Kara mengangguk, berdiri mengulum bibirnya canggung.

"Gak capek berdiri?" Tanya sean yang melihat kara diam berdiri saja sejak tadi.

"Capek"

"Terus kenapa gak duduk?"

"Gak ditawarin"

Sean menghela napas, berdiri kemudian menarik tangan gadis itu untuk duduk disofa.

"Mau minum?" Tawar sean

Kara memajukan bibir bawahnya kemudin mengangguk, kebetulan tenggorokannya terasa kering.

Sean berdiri, berjalan menuju kulkas kecil dan mengambil dua buah jus jeruk.

Sean kembali berjalan dan duduk disofa, menyodorkan kara botol jus jeruk yang diterima kara sambil tersenyum singkat.

Kara membuka tutup botol itu dan meneguknya hingga tersisa setengah botol.

Setelah beberapa menit, akhirnya fino yang sean tunggu datang dengan beberapa orang yang terlihat asing dimata kara.

Kara memperhatikan fino yang berbincang bincang dengan orang yang tadi bersamanya.

Kara sekarang sangat jarang melihat pemuda itu dirumah. Kara akan melihat fino ketika mereka sarapan pagi, itupun kadang fino tak ikut dan jarang pulang kerumah.

Merasa diperhatikan, fino menoleh kearah kara. Kara yang tertangkap basah mengalihkan pandangannya, mengambil jus jeruk yang berada dimeja.

Mata kara kembali melihat fino, kara tersenyum dan sedikit menunduk ketika fino masih melihatnya.

Sarimi dok dok derr!- Batin kara.

Fino semakin lama tak terlihat ternyata visualnya semakin bercahaya terang.

Sean memperhatikan kara yang memperhatikan fino. Alis sean berkerut, ingin rasanya mengusir fino dari kantornya sekarang juga.

Setelah berbincang bincang dengan orang bawaannya, fino berjalan dan duduk disofa seberang sean dan kara dengan membawa beberapa dokumen.

"Gue gak lama disini" ucap fino membuka kancing jasnya

Sean mengangguk "Bagus"

"Kara ngapain disini?" Tanya fino, tangannya bergerak ingin mengambil botol jus kara yang tersisa setengah. Sebelum tangan pemuda itu sampai, tangan fino ditepis oleh sean dengan kasar.

Sean melemparkan botol jus jeruknya yang masih belum ia buka kearah fino.

Fino dengan sigap menangkap botol yang dilempar oleh sean.

"Kita mau pergi makan. Mau bareng?"

"Gak deh" Fino berdiri, tangan kirinya dimasukkan kedalam saku sementara tangan kanannya memegang botol jus "Gue mau balik. Banyak urusan"

"Oke" Sean ikut berdiri, berjalan mengantar fino sampai depan pintu ruangannya.

Sebelum benar benar pergi, fino menoleh kearah kara "Hati hati ya ra, dia mantan buaya!"

Kara tersenyum canggung kearah fino sementara fino tertawa geli.

Sean menendang kaki pemuda itu. Buaya katanya? Buaya apanya! Sean hanya memiliki satu mantan, hanya satu. Hanya saja yang mengejar sean tak hanya satu, beberapa diantaranya ada yang bekerja diperusahaan milik sean dan anak anak dari perusahaan raksasa lainnya.

Kara melirik kearah meja sean dan baru menyadari bahwa ada sebuah koper berwarna silver disana. Pemuda ini mau berpergian?

"Hmm besok gue pergi ke singapura, ada bisnis yang harus diselesain. Jadi kita gak bisa ketemu sehari, gak papa kan?"

Kara menoleh kearah sean yang sudah berdiri disampingnya itu, kemudian mengangguk saja. Kara tidak merasa keberatan apapun saat sean pergi untuk perjalanan bisnis atau apapun.

"Tapi gue yang kenapa napa" Lanjut pemuda itu dengan suara yang sedikit dikecilkan namun bisa didengar oleh kara.

"Hah? Maksudnya?"

"Gak bisa ketemu sehari"

Kara menghela napas "Cuma sehari doang kan kak, itu kan gak lama"

"Gak bisa. Nanti kangen. Makanya tadi gue frustasi banget"

Kara mengerjap ngerjap melihat perubahan sikap sean yang entah sejak kapan berubah. Power rangers pink kah dia?

Kara sedang menghadapi bocah umuran lima tahun kah sekarang?

Kara mendekat kearah sean, menatap sean dengan ekspresi penuh selidik. Takut takut jika sean kerasukan makhluk bucin diperusahaannya.

"Yuk cari tempat makan" Ajak kara dengan ekspresi canggung dan berjalan duluan keluar.

Kara masuk kedalam lift diikuti oleh sean. Ekor matanya melirik sean yang berdiri disampingnya.

"Kita makan di apart"

"Hah?" Untuk kesekian kalinya kara bingung tak mengerti dan berekspresi seperti orang dongo sekarang.

"Mau makan masakan kamu" Kata sean menoleh dengan mata yang mengerjap ngerjap.

Tapi tunggu! Bukan ekspresi sean yang membuat kara tercengang. Sean menyebutkan kata 'kamu' tadi. Waktu zaman sean sekolah, sean mengalami remidi dipelajaran bahasa indonesia kah? Bahasanya terus terusan berubah. Berawal dari saya, gue, lo, dan sekarang pemuda ini menggunakan kata kamu?!!

"Boleh gak?" Tanya sean. Ia serius dengan perkataannya ingin mencoba masakan buatan kara.

Kara mengangguk cepat, bingung dengan situasinya sekarang. Mengapa ia selalu bingung saat berurusan dengan pemuda yang satu ini?!

Otak kara tidak bisa berfikir cepat, tidak seperti saat menjawab soal soal fisika. Kondisi seperti ini lebih rumit dari pada berbagai tumpukan soal fisika menurut kara.

----

Kapal siapa ya yang bakalan karam duluan?🌚

Ceritanya mau dilanjutin gak sahabat? Aku dulu suka bgt unpublish ceritaku gara gara gak pd wkwk:v

Ini aja gak nyangka kalo yang baca sebanyak ini heuhuuu:) tengkiuu bgt lah pokoknya♡ paypay gaissseuuu

TBC

Continue Reading

You'll Also Like

110K 18.7K 92
Bangchan Areshta Derren harus kelimpungan mengurus ketiga adik nakalnya. Ia harus berperan sebagai kangmas, ayah sekaligus ibu untuk mereka setelah o...
1.1K 177 19
Mempunyai riwayat gangguan kepercayaan diri membuat aza sangat membatasi diri terhadap orang luar. Hal itu membuatnya harus home schooling selama ber...
3.4K 1.2K 58
Sebuah kisah cinta rumit di masa sekolah yang dialami oleh kedua insan tersebut. Melawan berbagai masalah besar hingga mereka menemukan pintu kebahag...
27.5K 2.7K 34
[🩰 CERITA INI MASIH ON GOING πŸ€] CERITA INI MURNI HASIL KARANGAN SAYA SENDIRI πŸ’― πš‚πšŽπš‘πš’πš›πšŠ π™ΊπšŠπš’πš•πš’πš—πšŽ π™΄πš•πš•πšŠπš›πšŠ. "Juara satu Sehira! Kamu...
Wattpad App - Unlock exclusive features