Bulan ini atmosfer kampus terasa lebih padat dari biasanya. Perpustakaan selalu penuh, kafe kampus tak pernah sepi, dan mahasiswa terlihat sibuk menatap laptop atau setumpuk buku. Ujian Tengah Semester sudah semakin dekat. Alana, Leon, Kayla, Riko, dan David yang biasanya terlihat santai pun kini mulai terseret dalam kesibukan akademik. Bahkan David dan Riko yang biasanya hanya titip absen, kini tampak lebih sering muncul di kampus.
Siang itu, suasana di perpustakaan cukup tenang. Cahaya matahari menyusup lembut dari jendela tinggi, menciptakan bayangan lembut di atas meja kayu tempat Alana duduk. Alana terlihat fokus membaca buku referensi untuk tugas esainya. Namun, wajahnya tampak sedikit pucat, dan matanya terlihat sayu.
Tak lama kemudian, Leon datang menghampiri. Ia langsung menarik kursi di sebelah Alana dan duduk tanpa bicara, hanya menatap lekat kekasihnya dengan dahi mengernyit.
"Al, kamu udah makan?" tanyanya pelan, nada khawatir terdengar jelas di suaranya.
Alana menoleh. Ia tersenyum tipis, senyum yang berusaha menenangkan Leon meski tubuhnya sendiri terasa begitu lelah.
"Udah kok, Le," jawabnya singkat. Berbohong. Ia belum makan apapun sejak pagi. Tadi dia bangun kesiangan dan langsung terburu-buru ke kampus karena ada kelas pagi. Bahkan, segelas air pun belum sempat ia minum.
Mata Leon menyipit. Ia mengenal Alana terlalu baik. Dia tahu betul senyum itu bukan senyum yang meyakinkan.
Tapi Leon menahan diri, tidak ingin membuat Alana merasa bersalah. Ia mengalihkan pembicaraan.
"Kamu udah selesai ngerjain tugasnya?" tanyanya sambil melirik laptop dan buku-buku di hadapan Alana.
Alana mengangguk. "Udah kok. Yuk pulang," ujarnya sambil mulai merapikan bukunya ke dalam tas.
Leon ikut berdiri, siap berjalan keluar dari perpustakaan. Namun, langkah Alana terhenti bahkan sebelum benar-benar mulai melangkah.
Gadis itu mendadak memegang kepalanya, matanya terpejam erat. Dunia di sekelilingnya terasa seperti berputar cepat.
"Al?" Leon segera menangkap tubuh Alana yang tampak goyah. Tangannya melingkar di pinggang gadis itu, menahan agar tidak jatuh.
Namun terlambat. Seketika tubuh Alana melemas di pelukannya, tak sadarkan diri.
"Alana!" Leon berseru, panik. Ia langsung membungkuk dan mengangkat tubuh kekasihnya dalam gendongan. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar perpustakaan, menuju parkiran mobilnya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Leon mengemudi nyaris membabi buta. Hatinya berpacu tak kalah cepat dengan kecepatan mobilnya. Tangannya menggenggam kemudi erat, sementara matanya terus-menerus melirik ke arah Alana yang tak bergerak di kursi penumpang.
Sesampainya di rumah sakit, Leon menggendong Alana masuk ke UGD, terengah-engah.
"Dokter! Tolong! Pacar saya pingsan!" serunya keras.
Beberapa perawat segera membantu membawa Alana masuk ke ruang pemeriksaan. Leon berjalan bolak-balik di depan ruangan, jantungnya seperti ingin lepas dari dadanya. Sesekali ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan diri.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam hingga akhirnya seorang dokter keluar. Leon langsung menghampiri, bahkan hampir berlari.
"Gimana keadaannya, dok?" tanya Leon cepat.
"Dia mengalami gejala tifus, kemungkinan besar karena kelelahan dan kurang makan," jelas dokter itu. "Kami sarankan untuk rawat inap agar bisa diberikan infus dan pengawasan. Anda bisa urus administrasinya dulu ya."
Leon hanya mengangguk cepat dan segera bergerak mengurus semua yang dibutuhkan. Tak lama kemudian, Alana dibawa ke kamar rawat VIP dengan Leon berjalan di samping ranjang, tak melepaskan pandangannya sedikitpun.
Sesampainya di kamar, Alana perlahan membuka matanya. Tubuhnya lemah, tapi melihat Leon di sampingnya membuat dadanya hangat.
Leon mendekat, menggenggam tangannya. "Kamu butuh apa, sayang?" bisiknya lembut, nada khawatir masih melekat.
Alana tersenyum kecil, suaranya pelan hampir seperti bisikan. "Aku cuma butuh kamu di sini."
Leon membungkuk, mengecup kening Alana dengan lembut, lalu mengusap rambutnya pelan. "Aku di sini, dan nggak akan ke mana-mana."
Sesaat hening.
"Jangan kasih tahu Mami, Papi, atau Kak Gio ya. Aku gamau mereka panik dan repot pulang dari London," ujar Alana lirih.
Leon menatap Alana dalam-dalam, lalu mengangguk. "Oke. Ini jadi rahasia kita."
Alana kembali memejamkan matanya, tertidur karena efek obat dan kelelahan. Tapi tangannya tetap menggenggam tangan Leon erat, seolah tidak ingin kehilangan satu-satunya kekuatan yang membuatnya merasa aman.
Leon duduk di samping ranjang, tidak berniat pergi. Hatinya masih berat, tapi ia tahu satu hal dengan pasti, ia akan selalu ada di sana untuk Alana. Dalam sehat, atau bahkan saat jatuh sepertinya hari ini.
***
Malam perlahan turun, membawa keheningan ke lorong-lorong rumah sakit. Lampu-lampu temaram menyala lembut di sepanjang ruangan, memberi kesan tenang tapi sedikit sendu. Di dalam kamar rawat VIP yang tenang itu, suara detak monitor infus terdengar pelan dan teratur, bersaing lembut dengan suara napas Alana yang mulai membaik.
Leon masih duduk di sisi ranjang Alana. Tangannya masih menggenggam tangan gadis itu seolah tidak pernah melepasnya sejak siang. Di pangkuannya terletak sebuah buku bacaan ringan yang tadi sempat ia baca untuk mengisi waktu, namun pikirannya tak pernah benar-benar lepas dari Alana.
Sesekali, Leon memperhatikan wajah Alana yang tertidur. Wajah itu terlihat lebih segar, meski masih pucat. Rambutnya tergerai acak, sebagian menutupi keningnya. Leon menyibakkan helai-helai rambut itu dengan lembut, lalu membungkuk sedikit untuk mencium ubun-ubun kekasihnya.
Alana perlahan membuka matanya. Tatapannya masih berat, tapi senyum kecil muncul di wajahnya ketika menyadari Leon masih di sana.
"Kamu belum pulang?" gumam Alana pelan.
Leon tersenyum lembut. "Mau ninggalin kamu sendirian? No way."
Alana terkekeh pelan, lalu mencoba menggeser sedikit tubuhnya agar Leon bisa duduk lebih dekat di tepi ranjang. Leon mengerti isyarat itu, lalu duduk di ujung ranjang sambil tetap menggenggam tangan Alana.
"Aku lapar," ucap Alana tiba-tiba dengan mata mengerjap pelan, ekspresi sedikit malu.
Leon tertawa kecil. "Akhirnya nafsu makan kamu balik juga."
Ia mengambil kantong kertas berisi bubur hangat dan minuman teh tawar dari meja kecil di pojok ruangan. "Tadi aku turun ke kantin rumah sakit, siapa tahu kamu bangun dan lapar. Ternyata feeling-ku bener."
Leon membuka bungkus bubur itu, lalu menyuapi Alana dengan sabar. Suasana terasa begitu damai, seperti waktu berjalan lebih lambat.
"Aku suka deh kamu yang kayak gini," ucap Alana setelah beberapa suapan.
"Kayak gimana?" tanya Leon sambil meniup sendok sebelum menyuapkan lagi.
"Lembut, sabar, perhatian... romantis."
Leon tertawa pelan. "Tapi kamu tahu aku kayak gini cuma buat kamu, kan?"
Alana tersenyum. "Berarti aku istimewa banget ya."
Leon mengangguk mantap. "Banget. Paling istimewa. Paling aku jaga."
Setelah Alana selesai makan, Leon merapikan sisa makanan ke meja dan kembali duduk di sisi ranjang. Alana menggenggam tangan Leon lagi, kali ini lebih erat.
"Aku takut tadi," ucap Alana pelan. "Takut kalau kenapa-kenapa... dan aku sendirian."
Leon menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mata Alana.
"Kamu nggak akan pernah sendirian, Al," ucapnya mantap. "Selama aku masih bisa jalan, masih bisa napas, aku bakal selalu ada buat kamu. Beneran."
Alana terdiam sesaat, lalu matanya berkaca-kaca. Ia menahan air mata haru yang hampir jatuh, lalu menggeleng pelan dan menarik Leon lebih dekat.
"Boleh nggak kamu temenin aku tidur malam ini?" bisik Alana.
Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk dan menggeser posisi duduknya agar bisa merebahkan kepala di sisi ranjang, di dekat Alana. Ia tidak benar-benar naik ke ranjang, tapi cukup dekat untuk menggenggam tangan gadis itu dan merasakan detak tenangnya.
Alana pun tertidur lagi tak lama kemudian, kali ini dengan senyum tenang di bibirnya. Sementara Leon tetap di sana, menatap wajah gadis yang ia cintai dengan penuh syukur.
Di malam yang sunyi itu, di kamar rumah sakit yang dingin, ada kehangatan yang begitu nyata, dari cinta yang sederhana, setia, dan tulus.
***
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui tirai tipis jendela ruang rawat VIP Alana. Suasana kamar yang semalam sunyi kini berubah menjadi ceria dan ramai. Tawa riang dan suara obrolan memenuhi ruangan. Alana yang masih mengenakan baju pasien duduk bersandar dengan nyaman di tempat tidurnya, bantal tebal menopang punggungnya. Di sekelilingnya, duduk Leon di sisi ranjang, sementara Kayla, Riko, dan David duduk di sofa dan kursi tambahan.
Kayla sibuk mengupas jeruk di tangan, Riko sedang mencemil keripik dari toples oleh-oleh milik Alana, dan David tampak asyik bermain game di ponselnya, namun ikut menyimak pembicaraan.
"Gue pengennya sih ke Lombok," celetuk Riko sambil mengunyah, tangan masih merogoh isi toples. "Pantainya cakep, makanan enak, dan... bisa sekalian healing abis UTS, bro."
Leon yang duduk di sebelah Alana langsung menoleh. Ia menyentuh pelan kepala Alana dan mengusap rambutnya penuh perhatian. "Puncak aja, yang deket. Kita nginep di villa keluarga gue. Alana belum boleh pergi jauh dulu, nanti drop lagi," ucap Leon tegas, tapi nadanya lembut.
Kayla melirik Alana yang terlihat canggung. Riko dan David langsung serempak mengeluh, "Yaaaah..." dengan nada kecewa yang tidak bisa disembunyikan.
Alana langsung merasa bersalah melihat reaksi teman-temannya. Ia menggenggam tangan Leon pelan lalu menoleh padanya.
"Aku udah baikan kok, Le," ujar Alana dengan nada lembut, mencoba meyakinkan. "Ke Lombok juga nggak terlalu jauh. Aku bisa jaga kondisi di sana..."
Leon menghela napas pelan dan menatap gadisnya itu. "Al, kamu baru semalam bisa duduk lebih lama. Jangan maksain diri, ya?"
Kayla yang sedari tadi mendengarkan langsung angkat suara, mencoba menjadi penengah. "Gimana kalau ke Puncak dulu? Nggak kalah adem, bisa seru-seruan juga. Nggak perlu naik pesawat, jadi Alana juga bisa istirahat di jalan."
Riko mengangguk sambil menyodorkan sisa cemilannya ke David. "Hmm, masuk akal juga sih. Gue juga udah lama nggak ke Puncak."
David menimpali, "Yaudah, Puncak aja deh. Yang penting kita ngumpul, nggak harus jauh-jauh juga."
Alana tersenyum lebar mendengar semua teman-temannya akhirnya sepakat. "Thank you, guys," ucapnya tulus, merasa hangat di hatinya.
"Kita mau berapa hari di Puncak?" tanya Riko, kali ini dengan nada lebih bersemangat.
"Seminggu!" celetuk David tanpa pikir panjang, sambil mengangkat tangan seolah menyuarakan keputusan mutlak.
"Boleh," jawab Alana sambil tertawa kecil. "Mumpung libur panjang, kan?"
Leon tersenyum melihat kekasihnya begitu ceria. "Oke, nanti gue hubungin Pak Budi di sana. Suruh kosongin villa seminggu buat kita."
"Yasss!" seru Kayla dan Riko bersamaan.
Suasana kembali ramai, tawa terdengar menyelingi obrolan yang kini beralih ke rencana selama di Puncak, dari barbeque-an di malam tahun baru, main board game, sampai ide membuat konten bareng untuk vlog Kayla.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Alana menatap sekelilingnya. Di ruang rumah sakit yang tadinya dingin dan sepi, kini penuh tawa hangat orang-orang terdekatnya. Dan ia tahu, ini adalah obat terbaik untuk kesembuhannya.
***
Setelah lima hari menjalani perawatan di rumah sakit, Alana akhirnya diperbolehkan pulang. Meski dokter menyarankan istirahat total di rumah, Alana bersikeras pulang hari itu juga, tentu dengan sedikit bujukan dan tatapan memohon pada Leon yang sejak awal terlihat sangat protektif. Dan karena mereka akan berangkat ke Puncak lusa, malam ini Alana bertekad mulai menyicil barang-barang yang akan dibawanya.
Setibanya di rumah, Alana langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah besarnya. Tak menghiraukan kelelahan, ia naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya dengan langkah mantap. Leon, yang sejak tadi mengawasi dari belakang, hanya bisa menggelengkan kepala sambil menarik napas pelan. Ia menutup pintu kamar dan ikut masuk, memutuskan tetap menemani Alana sampai orangtua dan kakaknya kembali dari London.
Begitu masuk kamar, Alana langsung menuju walk-in closet miliknya. Suara gesekan hanger, laci terbuka, dan deretan baju yang berpindah tempat jadi irama tersendiri malam itu. Alana lalu keluar sambil membawa beberapa pakaian dan mulai melipatnya rapi ke dalam koper kecil di lantai kamar.
Leon duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Ia menatap Alana yang berjalan kesana-kemari tanpa henti, ekspresinya campur aduk antara takjub dan lelah.
"Baby, kamu baru banget keluar dari rumah sakit, loh," ucap Leon, suaranya tenang namun jelas terdengar nada khawatir. "Istirahat dulu aja, ya?"
Alana tidak menjawab langsung. Tangannya sibuk memasukkan baju tidur, jaket, dan beberapa aksesori kecil ke koper. "Sebentar lagi, Le. Aku cuma takut ada yang ketinggalan," sahutnya, bahkan tanpa menoleh.
Leon memijat pelipisnya pelan. Ia tahu, jika Alana sudah sibuk dan fokus pada sesuatu, perempuan itu susah dihentikan. Tapi kali ini, ia tetap mencoba.
"Kalau sampai ada yang ketinggalan, ya tinggal beli di sana, sayang," ujarnya sambil bangkit berdiri dan berjalan menghampiri koper Alana. "Yang penting sekarang kamu istirahat dulu. Badan kamu belum pulih banget, Al."
Alana tetap bergeming. Setelah menutup koper, ia berbalik dan kembali melangkah ke walk-in closet. Leon menatapnya lelah, lalu menarik napas panjang sebelum menyusul masuk ke ruangan itu.
Di dalam closet, Alana berdiri mematung di depan rak sepatu. Rak yang memenuhi satu sisi dinding itu penuh dengan deretan heels, sneakers, hingga sandal dari berbagai merek. Matanya menyapu dari atas ke bawah, lalu mengerut kecil. Tangannya refleks menggaruk pipi kirinya, kebiasaannya saat sedang bingung.
Leon berdiri di belakangnya dan meletakkan dagunya di bahu Alana. "Bawa sepatu yang nggak ribet aja ya, sayang. Kita mau liburan, bukan photoshoot," godanya setengah serius.
"Iya, tapi aku bingung mau bawa yang mana..." gumam Alana pelan, masih menatap rak sepatu seakan sepatu-sepatu itu akan tiba-tiba menyapa dan memilihkan diri mereka sendiri.
Leon terkekeh. Ia mengulurkan tangan dan mengambil sepasang Nike Cortez putih yang bersih dan terlihat nyaman.
"Yang ini aja. Netral, cocok buat semua outfit, dan kamu kelihatan imut banget kalau pake ini," katanya sambil menyodorkannya ke Alana.
Alana langsung tersenyum cerah. Ia menoleh, wajahnya merona ringan. "Okay," ucapnya manis, lalu mengecup bibir Leon singkat sebagai tanda terima kasih.
Leon tak membalas dengan kata-kata, melainkan menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya dari belakang. Ia memeluk erat gadis itu, dagunya bersandar di atas kepala Alana.
"Ayo tidur. Ini udah hampir tengah malam," bisik Leon lembut di dekat telinga Alana.
Alana mengangguk pelan dalam pelukannya. "Iya deh, ngikut," katanya sambil tersenyum kecil, tangannya membelai lengan Leon yang melingkari pinggangnya.
Leon menggandeng tangan Alana, menuntunnya keluar dari closet menuju tempat tidur. Ia menarik selimut, menepuk pelan sisi ranjang sebagai isyarat untuk Alana naik lebih dulu. Begitu mereka sama-sama berbaring, Leon memeluk Alana dari belakang, memastikan gadis itu nyaman dan hangat.
"Thanks for staying," bisik Alana pelan sebelum menutup matanya.
Leon mengecup pelipis Alana lembut, "Always, baby."
Dan malam pun berlalu dalam kehangatan yang tenang.