Love is Healing

By Lvieviani

127K 3K 179

Takdir cinta tidak pernah salah. Berkali-kali pun kau terjatuh karena cinta, takdir cintamu akan tetap datang... More

Thea Stacy
Jose Marillo
Talitha Leandro
First Meeting
Past Trauma
Be Grateful
Escort Him
Beautiful Hill and Him
Want to Know Him Better
A/N - Not an Update
Him (1)
Offer Accepted
To Be His Submissive (1)
To Be His Submissive (2)
Share a Story
Him (2)
Try to Accepted His Other Side
Face Problem (1)
Face Problem (2)
Forgive the Past
Papa
Announcement
A Long Night
Hans Horrison
After a Week
Thea's Request
Proviso
My Punishment
His Submissive (1)
His Submissive (2)
His Choice
The Broken Angel
What A Mess
It's Over
Grace's Wedding
Explanation
Rewrite Our Story
Our's
Epilog

First Punishment

6.3K 92 12
By Lvieviani

ALERT!! 21+

"Tidurlah sayang, kau pasti lelah." ujarnya sambil mengecup keningku. Akupun menyandarkan kepalaku pada dadanya yang bidang dan membiarkannya mengelus kepalaku sampai aku terlelap dalam tidurku.

***

Sudah hampir sebulan aku menjalani hubungan semi BDSM dan semi Vanilla dengan Jose. Tidak jarang Jose mengajakku kencang dengan dibumbui macam-macam cara, seperti memintaku tidak menggunakan dalaman dan menggunakan rok yang sangat pendek. Atau ia akan menyelipkan egg vibrator pada vaginaku dan akan ia mainkan sesuka hatinya saat kita sedang berada di mall atau sedang makan di luar. Aku mulai menerima bentuk vibrator atas permintaan Jose dan aku tahu bahwa itu tidak buruk, hanya mungkin waktu itu digunakan oleh orang yang salah. Aku menikmati segala bentuk hubunganku dengan Jose.

Saat ini aku tengah fokus untuk persiapan meeting nanti sore dengan klienku. Projek yang sedang digarap oleh timku akan ditentukan nasibnya hari ini. Ketika aku sedang mempersiapkan diri untuk presentasi ponselku bergetar. Nama Tata tertera dilayar. Tanpa menunggu lama aku menggunakan airpodku dan mengangkat telpon Tata sambil aku berjalan menuju ruang meeting.

"Hai Ta, ada apa?" tanyaku begitu aku mengangkat telepon.

"Aku hanya ingin memastikan, kau akan datang atau tidak ke acara ulang tahun papa akhir minggu ini Thea. Sejak kejadian di rumahku, kau benar-benar tidak membahasnya." perkataan Tata sedikit merusak moodku yang sedang menggebu-gebu untuk meeting. Aku bahkan lupa bahwa kami pernah membahas hal ini dan aku lupa bahwa acara itu akan diadakan akhir pekan ini. Aku belum siap, bahkan aku melupakannya.

"Aku janji akan menghubungimu lagi Ta, tapi sekarang aku harus mempersiapkan meeting penting." jelasku. Aku tidak berbohong aku memang akan meeting dengan klien penting.

"Baiklah. Hubungi aku jika urusanmu sudah selesai." ujarnya lalu mematikan sambungan telepon. Aku masih tidak habis pikir mengapa Tata sangat ingin aku menghadiri acara ulang tahun seorang moster yang tidak memberikaku kenangan manis ketika kecil. Aku menghela nafas kasar.

Aku melanjutkan langkahku ke ruang meeting yang sudah di pesan oleh timku. Seluruh timku sudah siap di posisinya masing-masing. Aku memberikan arahan kepada timku agar meeting ini berjalan dengan lancar.

***

Setelah meeting yang melelahkan aku kembali ke mejaku. Meeting tadi berjalan lancar namun ada beberapa proposal penawaran yang harus aku revisi. Aku menyandarkan tubuhku pada senderan bangku kerjaku. Aku beranjak meninggalkan meja menuju pantry untuk membuat segelas susu cokelat hangat. Aku jadi terbiasa meminum susu cokelat karena Jose melarangku minum kopi tanpa ijinnya. Aku pecinta kopi dan awal berhubungan dengan Jose penyakit lambungku kumat. Jose memanggil dokter dan mengatakan pantanganku termasuk kopi. Sejak saat itu aku harus meninggalkan kebiasaan minum kopi.

Aku kembali dan mengecek ponselku, berniat menghubungi Tata sesuai janjiku. Namun ketika aku memeriksa ponselku aku menemukan dua panggilan tak terjawab dari Jose. Dengan panik aku menghubunginya kembali. Jose sangat tidak suka aku sulit dihubungi apalagi sampai aku tidak mengangkat panggilannya.

"Darimana saja kau?" tanyanya begitu teleponku diangkat olehnya. Suara dominannya yang tegas terdengar jelas ditelingaku.

"Hai sir. Sorry not answering your call. Aku habis membuat susu cokelat setelah meeting yang melelahkan." jawabku. Hal yang paling tepat adalah meminta maaf sebelum memberi alasan. "Ada apa, sir?" tanyaku lagi.

"Not a big deal. just miss you." balasnya. Aku menghela nafas lega karena suaranya sudah kembali lembut. Alasanku diterima olehnya. Mungkin suasana hatinya sedang baik. "Miss you too sir, so much!" balasku.

"Apakah kau sudah bersiap pulang?" tanyanya lagi, Aku melirik jam tanganku dan menyadari bahwa sekitar 10 menit lagi Jose akan tiba di lobi kantorku sedangkan aku bahkan belum bersiap-siap untuk pulang. Di tambah aku masih memiliki revisi proposal penawaran yang harus aku selesaikan. Mungkin aku harus membawa pekerjaan ini pulang.

"Maaf, sir aku lupa waktu. Aku akan bersiap-siap sekarang." jawabku cepat. Jose tidak suka aku terlambat. "Baiklah. Aku akan tiba 10 menit lagi." ujarnya mematikan telepon. Dengan cepat aku merapikan barang bawaanku dan pekerjaan yang harus aku bawa pulang. Aku segera beranjak dari mejaku dan menuju ke lobi, sudah menjadi rahasia umum kalau lift di kantorku sangat tidak bersahabat di jam-jamn tertentu terutama jam pulang kantor.

Jose sudah berada di lobi ketika aku melirik jam tanganku mungkin sudah sekitar 20 menit Jose munungguku. Aku meruntuki kebodohanku dan meruntuki lift kantorku yang sangat sulit ketika jam pulang kantor. Aku memasuki mobil dengan perasaan takut. Jose pasti tidak akan senang. Ketika aku masuk ia tidak mengatakan apapun. Ia melajukan mobilnya dan aku tahu ia pasti akan membawaku ke rumahnya. Ini pertama kalinya Jose marah dan tidak menyapa ketika menjemputku. Aku semakin berdebar membayangkan apakah ia akan menghukumku.

"Tunggu aku di kamar." ujarnya begitu ia selesai memarkirkan mobilnya dan membukkan pintu mobil untukku. Aku melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Aku melepas pakaianku hanya menyisakan stoking hitam, bra dan celana dalamku lalu aku berlutut di pinggir tempat tidur dan memandang lantai. Jose mengajarkan ini ketika ia memintaku menunggunya. Hatiku semakin dag dig dug karena tidak tahu apa yang akan Jose lakukan kepadaku. Aku mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dan suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali. Jose berjalan kearahku dan duduk dipinggir tempat tidur. Aku hanya diam tidak berani melakukan pergerakan bahkan gerakan pada mataku. "Berdiri, dan aku mau kamu telanjang, Thea." aku melakukan instruksinya, aku melepaskan sisa pakaian yang melekat pada tubuhku. Ketika aku akan melepaskan stokingku, Jose menghentikanku. "Sisakan stokingnya." aku menghentikan pergerakanku melepaskan stokingku. Saat ini aku hanya menggunakan stoking yang menutupi kakiku dari bawah sampai sebatas bawah pahaku. Sisanya aku tidak terbungkus apapun.

Aku berdiri menghadap Jose namun pandanganku menatap ke bawah. "On my lap, baby." instruksi lain. Aku menempatkan diriku diatas pahanya, dengan posisi tengkurap, tanganku menopang tubuhku agar aku tidak terjatuh. Jose semakin menurunkan tubuhku hingga perut bagian bawahku tertopang oleh satu kakinya, kakinya yang lain mengunci pergerakan kakiku. "Why I should punish you, baby?" tanyanya. "I'm late sir, don't give attention to my office hours and leave my phone when I'm left my desk, so I didn't answer your call, sir." aku menjabarkan kesalahan yang kulakukan. Jose menelponku untuk mengabari kalau ia sudah menuju kantorku. Ia pernah memintaku untuk tidak meninggalkan ponselku kemanapun aku pergi agar dia mudah menghubungiku, dan aku terlambat karena aku tidak aware dengan jam kerjaku, jika aku harus lembur setidaknya aku harus mengabarinya agar ia tidak perlu menungguku. "I'll spank your bare ass till is red like a cherry." ujarnya memberiku peringatan.

Jose mengelus pantatku perlahan secara melingkar lalu aku merasakan elusan itu menghilang dan merasakan tamparan yang sangat keras di pipi pantatku, aku tersentak namun tidak dapat bergerak karena Jose menahan pergerakanku. Jose terus memukul pantatku, aku mulai merasakan panas menjalar disekitar pantatku. Pukulan Jose cukup kencang walau hanya menggunakan tangannya. Aku menghitung setiap pukulan tanpa suara. Sampai pukulan ke 30 aku mulai menangis karena pantatku terasa seperti terbakar. Jose tidak menghetikan pukulannya, aku sudah menangis pipiku sudah sangat basah. Aku tidak berhenti memohon agar Jose menghetikan pukulannya. "Please sir, I'm sorry, I'm really sorry. I promise I won't do it again sir." ujarku bercampur dengan tangisan yang semakin tidak bisa kutahan. Jose menulikan pendengarannya dan terus memukul pipi pantatku kanan, kiri, tengah. Aku coba menghadang dengan tanganku namun Jose meraih tanganku dan menahan dengan tangannya yang bebas."Please, sir. Please stop. It's hurt. I'm sorry." Aku terus memohon agar ia berhenti tapi Jose benar-benar mengabaikanku. Setelah hampir 10 menit Jose memukul pantatku, ia menghentikkannya. "Berdiri." perintahnya. Ia beranjak meninggalkanku, aku berdiri pada tempatku, tidak berani melakukan pergerakan apapun.

Aku masih sesenggukkan karena sakit dipantatku. Jose kembali dengan membawa sesuatu ditangannya. "Lay on your stomach." perintahnya lagi. "Please, sir. I'm sorry." ujarku, aku takut hukumaku berlanjut. "It's over baby, I already forgive you. Sekarang telungkuplah, aku akan mengobati pantatmu." aku melakukan sesuai yang Jose perintahkan. Ia memoleskan lotion agar pantatku tidak terasa terlalu sakit. "Aku menyukai pantatmu yang merah." ujarnya membuat wajahku memanas karena malu mendengar ucapannya. "Sudah selesai." Jose menepuk nepuk pelan pantatku, refleks aku menghindari tepukkannya, walaupun pelan itu membuat rasa sakit sebelumnya kembali terasa.

Jose merebahkan tubuhnya disebelahku, aku tidak membalik posisiku. Aku tidak ingin ada gesekan dengan pantatku karena aku tahu rasanya akan sangat menyiksa. "What's you feel?" tanyanya sambil memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arahku. "My butt feels burn, sir. Awalnya aku takut, tapi tidak setelah aftercare yang kau berikan." jawabku, semasa aku bersama mantan suamiku, setelah menyiksaku ia akan meninggalkanku begitu saja. Aku harus berusaha mengobatinya sendiri. Jose hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi jawabanku. "Efek punishment memang akan memberikan rasa sakit Thea, punishment diberikan sebagai efek jera. Aku harap kamu harus bisa aware sama sekitarmu, aku tidak melarang jika perkerjaanmu belum selesai dan kau harus lembur, hanyanya beritahu aku agar aku tidak perlu menunggumu." Aku hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Jose. Kita sudah sepakat sebelumnya mengenai ini, jadi ketika ia marah aku tahu bahwa aku salah. "Oke kita lupakan soal ini. don't do that again! So, how's your day?" tambahnya lagi.

"Hari ini cukup melelahkan, sir. Meeting untuk projek yang tengah digarap oleh timku. Namun semuanya berjalan lancar, aku hanya perlu melakukan beberapa revisi proposal penawaran karena akan ada perubahan pada harga dan strateginya, jadi aku membawa beberapa pekerjaan pulang." aku menceritakan hariku. "How bout you, sir?" tanyaku balik. Ini rutinitas yang Jose biasakan. Jika aku akan menghabiskan malamn dengannya ada baiknya aku dan Jose sama-sama tau mood dan hari yang kita lalui.

"Hariku baik. Ada beberapa kendala dengan anak perusahaan yang di pegang oleh sepupuku namun semua normal. Ini pertama dan terakhir kau membawa pekerjaanmu pulang Thea." ujarnya setelah selesai menceritakan kejadian dikantornya.

"Yes, sir." jawabku. "Sir, tapi apa aku boleh mengerjakannya disini? Aku yakin pantatku akan sangat sakit jika aku harus duduk di meja kerja." tanyaku untuk meminta ijin padanya agar aku bisa bekerja dengan posisi seperti ini. Jose tidak menyukai melakukan pekerjaan diatas tempat tidur karena menurutnya itu bukan tempatnya dan itu akan mengganggu konsentrasi.

"Tidak. Gunakan ruanganku dibawah, you know the rules." ujarnya. Aku tidak mau menerima hukuman dua kali dalam satu malam, aku berdiri dan mengambil kaos lalu mengenakannya. Jose hanya mengijinkan aku menggunakan kaosnya dan tanpa dalaman. Aku mengambil berkasku di ruang tamu dan membawanya ke ruang kerja Jose.

Ketika aku sudah hampir menyelesaikan revisi proposalku, aku teringat akann menghubungi Tata ketika aku selesai dengan meetingku, aku menatap jam di ruangan, sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Aku mengambil ponselku dan menekan nomor telepon Tata. Aku menunggu panggalanku terjawab. Cukup lama aku menunggu namun akhirnya Tata menjawab teleponku.

"Halo Ta." Sapaku ketika ia sudah mengangkatnya.

"Apa meeting pentingmu sampai semalan ini Thea?" ujarnya. Perkataannya cukup sarkas di telingaku.

"Maaf Ta, aku bahkan masih menyelesaikan revisiku sekarang. Jawabanku tetap tidak Ta. Aku belum siap."

"Ayolah Thea, papa sangat menyesali perbuatannya padamu. Temui dia sakali ini saja." suara Tata terdengar sangat memelas.

"Aku sudah memaafkannya Ta, tapi untuk menemuinya aku rasa belum saatnya, aku masih takut." jelasku. Aku memaafkan papaku dengan tulus, namun menyembuhkan luka selama 20 tahun lebih itukan tidak mudah. "Maaf Ta tapi tidak." jawabku tetap pada kemauanku. Tata menghela nafas kasar.

"Aku bingung bagaimana bisa membujukmu. Dia sakit Thea, mungkin umurnya ga panjang itu sebabnya dia ingin menemuimu." penjelasan Tata membuatku terkejut.

"Sakit apa?" tanyaku lirih.

"Cancer. Tapi dia masih cukup sehat untuk pesat ulang tahunnya nanti. Jika kau nanti datang tolong jangan katakan apapun mengenai sakitnya." aku tidak membalas perkataan Tata. "Aku matikan dulu Thea, Al sudah menungguku untuk tidur. Selamat malam." Tata memutuskan panggilannya. Aku masih terdiam dengan ponsel yang masih yang masih menempel di telingaku.

"Siapa yang sakit?" suara itu menyadarkanku. Jose sudah duduk di sofa ruang kerjanya. Aku bahkan tidak menyadari kehadirannya. Sudah berapa lama dia disana?

"Sejak kapan kau disini, sir?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin menceritakan ini. Bagiku papa sudah tidak ada. Jose tahu apa yang papa lakukan padaku dan aku tidak ingin dia memaksaku juga.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau tau aku tidak suka kau tidak menjawab pertanyaanku." ujarnya menatapku tajam.

"Papa." jawabku tertahan, dan tanpa kusadari aku menangis.

---------------------------------------------------------

Hi guys,

jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberikan vote dan comment yaaa

Thank you

With love,

Vie

Continue Reading

You'll Also Like

1.9M 167K 149
[MATURE 21+] Semua cerita hanyalah karangan penulis saja. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau kejadian, itu hanyalah ketidaksengajaan. Harap bi...
184K 4K 49
Veen, menyiksa Clara semata-mata hanya untuk membalaskan dendam sang paman dan keluarganya atas perbuatan dari keluarga Clara. Pria itu juga menikahi...
5.3M 391K 137
[MATURE 21+] Semua cerita hanyalah karangan penulis saja. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau kejadian, itu hanyalah ketidaksengajaan. Harap bi...
190K 4.5K 29
WARNING CERITA DEWASA 21++ Dia Matthias Van Grasswall, jika menyebut nama pria itu hanya ada kesan yang baik tersemat untuk nya. Pria kharismatik, t...
Wattpad App - Unlock exclusive features