Jill bukanlah seorang yang suka bertualang atau hobi melakukan olahraga outdoor. Salah satu latihan fisik yang biasa dia lakukan adalah bermain anggar yang juga dilakukan di dalam ruangan. Jill jelas bukan penikmat alam yang merasa kalau acara naik gunung atau semacamnya adalah kegiatan yang menyenangkan. Maksudnya, bagaimana caranya dia mencari toilet di tengah gunung? Belum lagi kalau hujan dan harus berteduh di tenda. Apalagi Jill adalah perempuan yang resik dan mewajibkan dirinya untuk mandi dua kali sehari.
Secara mengejutkan; semua itu sudah tidak menjadi masalah baginya sejak tiba di jaman Yunani Kuno ini. Mendaki jalan setapak yang menanjak di pegunungan Olympus, menembus rimbunan pohon dan semak yang membuat kulitnya gatal, makan hewan buruan yang dibumbui hambar bahkan membunuh makanannya sendiri sudah pernah dia lakukan.
Jill bahkan ragu petualang terkenal bernama Bear Grylls sendiri sudah pernah mengalami itu semua. Jill ingat pernah diundang sebagai bintang tamu acaranya dan Jill secara santun menolaknya. Jill benci memperlihatkan kelemahannya di depan kamera. Dia terbiasa tampil sempurna. Jill tidak senang membayangkan kalau acara reality show itu menyorot dirinya yang kesulitan melangkah di atas lumpur atau berteriak ketakutan ketika melakukan panjat tebing.
Tapi kali ini, kalau Bear Grylls mengundangnya sekali lagi; Jill secara percaya diri akan menerimanya. Manusia modern mana yang punya pengalaman mengeroyok Cyclops serta menjinakkan Cerberus? Jill mungkin bisa membuat semua orang melongo kalau dia bisa mengalahkan seekor beruang grizzly di depan kamera. Kelihatannya keren juga. Jill berkhayal .
"Hati-hati Jill!" Ares berseru memperingatkannya. Jill terpana melihat seekor ular derik bergelantungan di dahan pohon yang hampir menyenggol kepalanya. Tidak usah jauh-jauh membayangkan hidup abadi. Bisa bertahan hidup di hutan berbahaya ini saja sudah beruntung. Fajar sudah tiba; dan mereka bertiga kembali ke pegunungan Olympus. Kendati sinar matahari pagi sudah memberi pencahayaan yang cukup untuk memandu langkah mereka, kadang mata mereka masih luput terhadap binatang buas yang tersebar di sana sini.
Ares bisa dibilang sedang menjaga dua orang saat ini. Yaitu Hermes dan Jill, dua orang amatiran yang terpaksa harus menerobos hutan berbahaya. Lebih runyam lagi, salah satu dari mereka adalah manusia yang bau darahnya bisa memantik sinyal di otak para monster untuk mendekatinya.
Jill tidak bisa terlalu percaya diri. Ini adalah realita. Bukan reality show. Tidak ada kru medis di sekitarnya yang siap dengan obat, penawar bisa dan perban. Dia bisa mati kapan saja di tengah hutan pegunungan Olympus ini.
"Kita beristirahat dulu untuk minum," Ares memberitahu.
Mereka mengikat tali kekang Herion dan Raven pada sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai dangkal berbatu.
"Aku mau berjalan-jalan sebentar, terlalu lama berkuda membuatku pegal." Hermes pun berlalu pergi.
Jill memandangi punggung Hermes yang mulai menjauh. Walau dia bukan Dewa petarung tapi pernah ada kisah dimana dia menyelamatkan Ares dari para Cyclops. Artinya Jill dan Ares tidak perlu terlalu menkhawatirkannya. Ares juga sudah membekalinya dengan beberapa senjata modern untuknya.
"Aku tidak ingin melihatmu mati Ares." Jill berujar sungguh-sungguh. Kisah yang dituturkan Hermes berhasil membuatnya cemas semalaman.
"Aku juga tidak mau mati. Aku tidak akan membiarkan peristiwa itu terjadi Jill," kata Ares menanggapi.
"Bagaimana kalau Jacinda berhasil menghipnotismu? Mungkinkah kalau kita urungkan ke istanamu dan minta bantuan Hades saja?" tukas Jill.
"Aku tidak bisa melakukannya, Aku sudah memberikan pesan pada Alastair dan merencanakan serangan balik." Ares menggeleng.
Ares masih mendapati sorot mata keraguan pada tatapan istrinya terhadapnya.
"Kau tidak percaya?"
Jill menggeleng tegas.
"Hermes sudah berusaha mencegahnya berkali-kali namun kejadian itu tetap saja terjadi Ares. Maksudku bagaimana kalau kali ini kau melarikan diri saja? Jauhi istanamu dan jauhi peperangan mereka." Jill mengusulkan.
"Kali ini semua akan baik-baik saja. Hermes sudah menceritakan semuanya dan aku bisa mencegahnya Jill. Aku tidak akan lari dari peperangan. reputasiku tidak mengizinkannya." Ares bersikukuh.
"Bagaimana kalau ini semua memang sudah ditakdirkan? Tuhan atau Dewa yang mengaturnya serta memastikannya terjadi, tidak peduli apapun yang kita usahakan." Jill masih keras kepala.
"Hermes juga seorang dewa. Lagipula Oracle kuil Athena itu mengatakan kalau kau akan memberikan keberuntungan padaku. Aku akan mempercayainya." Ares tersenyum mengatakannya.
"Kau tahu kalau dia bukan dewa sungguhan dan Oracle itu pasti dalam pengaruh hipnosis Hermes untuk mengatakan segala omong kosong ramalan itu kepadamu. Agar kau menikahiku," Jill mengatakannya sambil cemberut.
"Jill, percayalah kepadaku. Semua akan baik-baik saja." Ares merengkuh pinggang ramping Jill dan membawanya ke pelukannya. Jill pun balas memeluk suaminya dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Jill mendekatkan telinganya ke dada Ares dan mendengarkan detak jantungnya yang riuh, menandakan dia masih hidup dan utuh. Rasanya Jill tidak ingin melepasnya. Jill sungguh tidak ingin Ares pergi berperang.
"Aku sudah lama tidak mengalami perasaan seperti ini. Aku harus berterima kasih pada Hermes untuk itu," Ares menggumam ke telinganya.
"Apa maksudmu?"
"Perasaan takut kehilangan, kesepian jika tidak bersamamu dan selalu ingin menyentuhmu," ujar Ares mengungkapkan perasaannya dengan lugu. Jill tahu kalau rona merah lagi-lagi menjalar di area wajahnya. Gadis itu pun membenamkan wajahnya lebih dalam lagi ke pelukan Ares agar pria itu tidak memergoki rasa canggungnya.
"Bagaimana denganmu Jill?" Ares bertanya.
"Apanya?" tanggap Jill pelan.
"Apa kau merasakan hal yang sama? Aku ingin tahu." Ares kini membelai rambut Jill.
"Apakah ini waktu yang tepat untuk bicara dari hati ke hati?" Sergah Jill sedikit panik dengan muka memerah.
"Jawab saja pertanyaanku." Ares tampak tidak sabar.
"Aku tidak tahu," jawab Jill.
"Apa?" Ares tampak gusar
"Maksudku, kamu adalah pria pertamaku dan kekasih pertamaku. Orang pertama yang mungkin aku cintai." Jill jujur akan perasaannya. Dia mengatakannya sambil memandang mata Ares dengan tulus.
"Itu terdengar menyenangkan." Ares tersenyum sambil masih memeluk Jill. Dewa Perang itu merasa menang karena ternyata bahkan di kehidupan asli Jill, dia tetap adalah pria pertama yang menaklukkan hatinya.
"Jadi kamu pertama kali melakukan semuanya bersamaku?" Ares memastikan dengan perasaan senang.
"Tidak juga, aku mencium banyak pria selain dirimu." Jill menyeringai kecil.
"Apa?" Ares seketika merasa buruk.
"Itu memang pekerjaanku, kalau sutradara memintaku untuk mencium aku akan melakukannya," kata Jill lagi.
"Pekerjaan macam apa itu? Apakah di kehidupan aslimu kamu seorang budak atau semacamnya? Aku akan meminta Hermes untuk membunuh siapapun yang kau sebut sutradara itu," ujar Ares geram merasa tidak rela.
Jill tertawa kecil melihat reaksi Ares. Pria itu selalu jujur dengan segala ekspresinya dan cukup mudah dibaca.
"Tidak, Ares, ada banyak hal yang kamu tidak mengerti tentang masa depan. Aku akan menjelaskannya di waktu yang lain," kata Jill tenang.
Jill mendongakkan kepalanya dan dengan sedikit berjinjit dia pun menempelkan bibirnya yang dingin ke wajah Ares. Jill memejamkan matanya, menghayati setiap menit yang berlalu selama mereka berciuman. Jill merasakan sensasi yang sulit dilukiskan ketika melakukannya bersama Ares. Pria itu memiliki aroma tubuh yang memikat dan membuatnya mabuk.
"Ares ..." gumam Jill.
"Ya?"
"Kalau kau berhasil selamat dari perang ini, aku akan meminum Ambrosia untukmu," kata Jill serius. Jill berniat untuk mempelajari Astral projection dengan Hermes. Agar dia bisa sesekali kembali ke masa depan namun tetap tidak meninggalkan Ares.
"Aku tahu, kau akan melakukannya untukku," Ares tersenyum menanggapi.
Sang Dewa Perang pun meningkatkan level intimasi mereka. Membalas inisiatif ciuman Jill dengan lebih intens.
"Tunggu, Ares, aku belum mandi. Dan ini di tengah hutan! Apa kau pikir kita ini semacam primata??" Jill mendorong badan Ares menjauh darinya ketika pria itu mencoba menyentuhnya.
"Kalau masalah mandi, kita bisa berendam di sungai itu saja kan?" Ares menyeringai antara serius dan bercanda. Dirinya menikmati ekspresi wajah Jill yang kini berubah pucat.
"Halo ... hei! Jangan lupa ada Dewa Hermes di sini yang bisa melihat semuanya."
Hermes muncul di waktu yang pas untuk merusak suasana.