KAZANTA (SELESAI)

By Hindhiastinaaa

1.1M 88.6K 7.8K

[GENORAZORS SERIES 1] Kazanta Ellardio Dawana, sosok jenius yang menyembunyikan segala keburukannya dibalik p... More

PROLOG
1. INI ADALAH DAWANA
2. PENYUSUP
3. MANGSA SELANJUTNYA
4. LAWAN KATA
5. PROKLAMASI
6. BE CAREFUL
7. NILAI HANYA ANGKA
8. HINGAR - BINGAR
10. INSIDEN PENYERANGAN
11. TENTANG LUKA
12. MERUSAK
13. MAKE
14. ANCAMAN SEKITAR (1)
15. ANCAMAN SEKITAR (2)
16.MISSION
17. TERJERAT KASUS
18. BOLEH?
19. PEDULI
20. BAPER
21. FISIK YEPPEO AKHLAK OBSEO
22. THE BEGINNING (1)
23. THE BEGINNING (2)
24. SUKA DUKA
25. YOU WILL BE
26. PRIORITAS
27. GENORAZORS
28. THE GAME
29. MAU YA?
30. FLASHBACK
31. PANDANGAN YANG BERBEDA
32. SISI LAIN ANZELLA
33. AKHIR?
34. PLEASE DON'T CRY
35. SEPERCIK HARAPAN
36. APA ITU CINTA?
37. KEMBALI DIPATAHKAN
38. TANTANGAN
39. SUNDAY MORNING
40. UNDANGAN
41. BIRTHDAY PARTY
42. TERBALASKAN
OPEN RP!!!
43. ANZELLA BUCINNYA KAZAN
44. CEMBURU
45. PASAR MALAM
PEMENUHAN MEMBER GC!
46. HARI PERINGATAN
47. MANIPULASI
48. MENGAMBIL PERAN
49. DIA BERUBAH
50. PUTUS?
51. PETUNJUK
52. KECURIGAAN
53. THE POISON
54. SHOT
55. ANGEL OR EVIL?
56. DEWA & DEWI PERJUDIAN
57. AKHIR PANGGUNG SANDIWARA
58. PEMBUNUHAN
59. JEJAK INFORMASI
60. LABIRIN
61. DEATH INJECTION
62. SPEKULASI
63. I WANT YOUR BREATH
64. PLAYGROUND
65. HAPPY BIRTH DIE?
66. CALL 110
67. WAR ZONE
68. HOW FAR YOU GO?
69. 20 SEPTEMBER
70. IN LOVING MEMORY
EPILOG
The Dark Outside
EXTRA PART 1
PENGUMUMAN!
GENORAZORS SERIES
BANTU VOTE YUK!
INFO PRE ORDER!

9. PEMILIK NETRA INDAH

19.3K 1.4K 47
By Hindhiastinaaa

[JANGAN LUPA FOLLOW, DAN VOTEMENT KALIAN UNTUK CERITA INI YAA❤️]

Happy Reading!

•••

9. PEMILIK NETRA INDAH

 
           "ANJIR JAKUNNYA MEMPESONA!"

          "WALAUPUN KAMU TIDAK CINTA AKU, TAPI AKU TETAP PADAMU BANG!"

         "DIA NATEP GUE! FIX MALEM INI GUE NGGAK BISA TIDUR!"

         "ADUH BAHUNYA LEBAR, JADI PENGEN SENDERAN AMPE SUBUH!"

        "BULU KAKINYA LEBIH BADAI DARI PADA RAMBUT GUE DONG WOI, YATUHAN!"

        "ITU MUKA KENAPA MULUS BANGET SIH! SKINCARENAN PAKE AMPLAS?! GUE MERASA GAGAL JADI CEWEK!"

        Seruan itu datang sebagian para perempuan yang sudah memadati tribun Dawana, sebagai pendukung seorang Kazan yang merupakan kapten futsal. Karena mereka membawa sebuah spanduk bertuliskan Kazaners yang diangkat tinggi - tinggi.

      Tepat sekali, kini tim futsal dari Dawana dan Senopati sedang melakukan pemanasan, sebelum dimulainya pertandingan. Yang merupakan pemandangan paling menyegarkan mata bagi para kaum hawa.

     Anzella dan teman - temannya baru saja memasuki area tersebut dan merebut posisi di bagian terdepan karena ajakan teman - temannya. Kemunculannya tersebut membuat Satria dan Kazan secara bersamaan memusatkan perhatian mereka pada Anzella dengan tatapan yang sama - sama tajam dan dingin.

      Glek! Anzella dibuat menegang ditempatnya.

      Mayra menyenggol lengan Anzella,"Kazan sama Satria sama - sama keren, bingung nggak lo mau dukung yang mana?" Ujar Mayra dengan kekehan pelan.

       Sementara Anzella hanya diam. Tak mengatakan siapa yang akan ia dukung. Karena ia sendiri juga merasa bimbang harus mendukung yang mana. Mungkin saja dua - duanya?

     Mohon perhatian semuanya, bahwa pertandingan akan segara dimulai. Dihimbau para penonton untuk tetap tertib selama berlangsungnya pertandingan.

     Suara itu menggema seisi stadion in door tersebut. Semua nampak antusias menyambutnya pertandingan yang akan segera dimulai tersebut. Kecuali Anzella yang nampak biasa - biasa saja.

     "Mana suara dari pendukung SMA Senopati?"

     Kubu Senopati pun berteriak dengan kencang dan kompak, membuat kubu Dawana tak mau kalah setelahnya.

    "Mana suara dari pendukung SMA Dawana?"

     Kubu Dawana berteriak lebih heboh, sangat pecah dan menggelegar. Semangat supporter Dawana lebih berkobar dari supporter Senopati. Selain karena jumlahnya yang lebih banyak, juga karena pemimpin dari supporter Dawana tidak lain adalah Fajar, Bima, Dewa dan Pradipta. Para pencipta kehebohan yang tak ada tandinganya. Mereka sudah mengangkat tinggi - tinggi bendera Dawana, meniup trompet dan siulan tangan yang nyaring.

     "Lebih semangat lagi woi! Pada belum sarapan apa gimana? Tenang, kalau tim Dawana menang, kita semua bakalan ditraktir Kazan dikantin!" Ujar Pradipta seenaknya. Membuat semua kegirangan.

    "Emang beneran?" Tanya Dewa antusias.

    "Nggak sih." Balas Pradipta terkekeh.

    "Anjir lo main janjiin seenaknya! Gue nggak ikut - ikutan kalau Kazan ngamuk!"

    "Lo pikirin aja kalau Kazan memang beneran menang. Bukanya dia bakal seneng? Kalau udah seneng pasti dia berbaik hati. Jangankan traktir anak - anak dikantin, traktir kita mobil ferari satu - satu pun uangnya tetep nggak mampus mampus!" Pradipta berucak yakin. Iyain aja deh.

•••

         Kazan bersalam dengan Satria, kemudian memeluk dan menepuk pundak lawannya itu. Kemudian sebuah senyuman ia paksakan muncul, sekedar sambutan yang hangat sebagai tuan rumah turnament futsal tahun ini. Ketika peluit berbunyi, eskpresi wajah Kazan berubah tak bersahabat, dan terpancar hawa yang dingin. Masing - masing tim pun bergerak untuk membentuk formasi.

          Kazan berdiri dibarisan terdepan sebagai pivot dengan ban futsal berwarna kuning yang melingkarar di lengan kanannya menandakan bahwa ia adalah seorang kapten yang memimpin timnya. Sebagai privot, ia merupakan pemain bertahan paling pertama. Yang berperan sebagai penyerang utama tim serta memiliki tugas untuk menjebol gawang lawan dan membuka peluang rekan timnya mencetak gol.

         Sedangkan di sayap kanan dan kiri lapangan berdiri dua timnya yang lain sebagai Flank, yaitu pemain kunci karena kepiawaiannya dalam penyerangan menyisir dari sayap dan memberikan umpan.

         Kemudian di bagian belakang, lebih tepatnya di depan kiper, berdiri salah seorang timnya yang lain dalam posisi Anchor. Karena kepiawaian dalam bertahan dan mengatur tempo pertandingan.

          Yang terakhir adalah Sapran Gaco yang berdiri sebagai kiper andalan tim Dawana yang gesit. Gawang ibarat perempuan yang dicintainya yang harus dia jaga dengan sebaik - baiknya. Itulah prinsipnya.

          Tendangan permulaan atau kick off dibabak pertama ini dilakukan oleh tim Senopati. Tim Dawana pun telah siap memasang kuda - kuda pertahanan dan penyerangan. Pertandingan babak pertama berlangsung begitu sengit. Masing - masing tim sama - sama tak memberikan celah sedikitpun bagi lawan untuk mencetak gol. Senopati unggul dalam penyerangan dengan strategi operan yang keras namun terarah. Sedangkan Dawana unggul dalam pertahanan dengan strategi gerakan tipuan atau mengecoh lawan.

Berkali - kali bola keluar dari garis lapangan atau out karena semangat mereka yang menggebu - gebu. Tak jarang juga terjadinya hands ball atau pelanggaran yang terjadi ketika bola mengenai tangan pemain, karena terlalu semangat dalam menyambut datangnya bola.

         Para supporter dibuat gregetan karena beberapa kali bola nyaris memasuki gawang lawan. Umpatan, seruan, teriakan, sorakan pun jadi satu kesatuan yang menghiasi suasana siang ini di stadion.

         Babak pertama satu kali dua puluh menit ditutup oleh tim Dawana yang berakhir mencetak gol dengan umpan serangan balik cepat yang memanfaatkan kelengahan lawan yang asyik menyerang. Dengan teknik melewati lawan dengan menggulirkan bola melewati kedua kaki lawan. Yang baru saja mencetak gol tidak lain adalah Kazan Dawana, yang langsung mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari supporter-nya.

         Sebelum melakukan pertandingan di babak kedua, masing - masing tim diberikan waktu untuk istirahat selama sepuluh menit.

Di babak kedua, masing - masih tim berpindah tempat atau yang sering disebut bench. Tendangan permulaan atau kick off kini giliran dilakukan oleh tim Dawana. Tim Dawana maupun tim Senopati kini sudah membentuk formasi, dengan beberapa pemain yang memang digantikan oleh pemain cadangan.

         Pertandingan di babak kedua ini lebih menegangkan dari sebelumnya. Tim Dawana berusaha untuk menjaga dan mempertahankan gawang mereka. Sementara tim Senopati kehabisan akal untuk mengejar skor mereka yang tertinggal. Hingga, mereka terpaksa melakukan stratergi power play yang merupakan skema di mana penjaga gawang maju membantu serangan. Di sisi kiri gawang Dawana, berdiri Satria yang siap menerima operan bola dari kiper timnya untuk membobol gawang Dawana. Dan strike! Senopati mampu mencetak gol hingga skor antara Dawana dan Senopati menjadi satu sama.

           Waktu dua kali dua puluh menit itu berahir dengan skor seri. Membuat waktu pertandingan harus ditambah beberapa menit untuk menemukan  pemenanganya. Siapa sangka, diwaktu yang singkat itu, Satria menjebak timnya sendiri dalam
pelanggaran yang ia lakukan. Yaitu pelanggaran berupa upaya mencelakai salah satu tim Dawana dengan mendorongnya hingga terjatuh. Sehingga sebuah tendangan bebas langsung diberikan kepada tim Dawana.

         Ini adalah kesempatan emas bagi Dawana yang tak boleh disepelekan. Tim Dawana menunjuk dan mempercayakan Kazan untuk melakukan tendangan bebas itu. Tendangan bebas langsung itu dilakukan ditempat pelanggaran terjadi. Tidak jauh dan juga tidak dekat dari arah gawang lawan. Setelah mengambil ancang - ancang untuk menendang bola, and strike! Bola berhasil membobol gawang Senopati dengan begitu mulus.

        Satu skor untuk Senopati dan dua skor untuk Dawana. Maka pemenang dari turnament futsal tahun ini dalam pesta olahraga yang ke dua belas pada tahun dua ribu dua puluh, tidak lain adalah Dawana.

        "Bangsat!" Umpat Satria dengan nafas gusar dan kedua tangan yang terkepal kuat.

          Kazan tersenyum penuh kemenangan. Tatapanya begitu puas menatap Satria yang terlihat kecewa ditempatnya berdiri.

         Sorakan dari supporter pun pecah, mereka ikut merasa bangga karena dalam turnament tahun ini Dawana kembali berakhir sebagai pemenang.

        "HIDUP DAWANA!"

        "DAWANA JAYA!!!"

        "WE ARE THE CHAMPION!"

"TRAKTIRAN I'M COOMING YUHU!"

•••

        Setelah dilakukannya acara penerimaan piala bergilir, Satria menghampiri Kazan dipinggir lapangan. Tetap dengan gayanya yang angkuh dan juga gengsinya yang tinggi. Kekalahan tak membuatnya merasa malu ketika berhadapan langsung dengan Kazan.

       "Gimana rasanya menang dikandang sendiri, bangga?" Tanya Satria dengan dagu yang sedikit diangkat.

       "Gimana, udah bisa nerima kenyataan kalau Dawana selalu lebih unggul dari Senopati?" Kazan balik bertanya dengan salah satu bibir yang terangakat.

       Satria mengangguk santai,"Gue merasa terhormat bisa jadi lawan seorang Kazan Dawana." Ujar Satria kemudian menatap Kazan sembari terkekeh,"Lo masih sama seperti Kazan yang dulu gue kenal. Orang pendendam yang tidak akan pernah puas jika belum menghancurkan. Right?"

"Lo tau apa tentang gue?" Tanya Kazan dengan tatapan yang menajam.

"Tentang lo yang merupakan anak dari seorang pembunuh?"

Kazan tiba - tiba berteriak di depan wajahnya dengan urat tipis yang tercetak jelas dilehernya,"Lo nyari mati sama gue?!"

Senyuman menjijikan itu muncul, membuat Kazan ingin membunuh Satria hidup - hidup, jika saja tidak ada undang - undang yang mengatur tentang pembunuhan.

"Jangan lupa kalau tangan gue bisa habisin lo kapan aja!"

"Nggak salah, sifat lo emang turunan dari ayah kandung lo." Ujar Satria dengan tawa menyeringai. Sementara Kazan tak henti - hentinya menatap Satria layaknya sampah.

Kedatangan Anzella, membuat Kazan berusaha menetralkan emosinya untuk tetap terlihat tenang. Satria tersenyum sinis, kemudian tangan kanannya begitu saja merangkul bahu Anzella. Kazan bisa melihat kecemasan berlebih yang terpancar nyata dari sorot mata gadis itu.

"Mana salam lo buat temen gue?" Ujar Satria dengan mendorong tubuh Anzella cukup kasar. Anzella tak melawan, ia hanya menunduk dengan memainkan jari - jari tanggannya yang cukup bergetar.

"G-ue————-"

Satria kembali mendorong tubuh Anzella lebih kasar, hingga kepala gadis itu membentur dada bidang milik Kazan. Saat itu juga Kazan menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Satria. Sikapnya kasar, kebersamaan antara keduanya yang ia lihat belakangan ini ternyata tidak sesuai dengan kenyataanya yang ia lihat sekarang.

"Kalau nggak bisa kasih salam, setidaknya ucapin selamat. Nggak bisa juga?" Ujar Satria dengan masam.

"Selamat ya atas kemenangan lo." Ujar Anzella dengan senyuman yang dipaksa mengembang namun tetap berhasil membuat perasaan Kazan kacau. Sial, hal itu membuat Kazan merasa sangat ingin melindunginya.

       Suara dering panggilan, baru saja menyambut Satria. Sepertinya panggilan penting, karena laki - laki itu langsung mengangkatnya dengan cepat. Perbincangan yang mungkin privasi, membawa langkahnya keluar dari stadion tersebut.

Ketika Anzella hendak melangkah mundur untuk memberi ruang, tangan kiri Kazan dengan cepat menahan pinggang Anzella dari belakang. Anzella mendongkak, mata mereka berdua pun bertemu dan beradu satu sama lain. Kazan tak sedikitpun memiliki niat untuk memutuskan tatapannya dari Anzella. Itu merupakan bentuk dari sebuah perlindungan.

       "Lepasin." Ujar Anzella melemah.

      "Kalau nggak?" Tanya Kazan menantang.

      "Lo bisa diamukin sama Satria. Dihajar sampai berdarah - darah, sampai muka lo bonyok, mungkin bisa aja sampe lo berakhir di ruang ICU?" Ucap Anzella berusaha menakut - nakuti. Keluguannya tersebut membuat Kazan tersenyum kecil.

        "Gue nggak takut. Karena dia yang bakal gue hajar duluan sampai berakhir di liang kubur." Kazan berucap keras kepala.

        Anzella menatap Kazan malas, "Lepasin, nggak?!" Ujarnya sambil berusaha membebaskan dirinya dari kungkungan Kazan. Sialnya, Kazan semakin erat menahan pinggangnya.

        "Lo kelihatan nggak nyaman sama perlakuan Satria, tapi kenapa lo diam aja?" Tanya Kazan lembut. Membuat hati Anzella ingin menyuarakan yang sebenarnya, namun ego dan hatinya tidaklah sejalan. Karena mungkin Kazan memang tidak perlu tau.

      "Nggak usah ikut campur urusan gue." Balas Anzella. Seketika membuat tangan Kazan yang semula menahan pinggang Anzella itu meregang begitu saja. "Dan nggak usah peduliin gue." Lanjut Anzella dengan air wajah yang muram.

Kazan tertawa menyeringai, dengan pandangan yang teralihkan kearah lain. Jadi kenapa juga dia harus repot - repot peduli pada Anzella yang sama sekali tidak mengharapkan perlindungannya? Seorang Kazan tak pernah peduli pada siapapun, dan seharusnya ia tak pernah lupa tentang itu.

       "Peduli?" Tanya Kazan dengan terkekeh,"Lo nggak sadar kalau gue cuma kasian? Karena gue lihat hidup lo sepertinya penuh masalah, iyakan?"

Perkataan Kazan sungguh menyayat hati Anzella. Tetapi ia tetap bersikap tenang. Senyuman pun tetap mengembang sempurna menghiasi wajahnya,"Iya, hidup gue penuh masalah. Nggak kayak hidup lo dan anak - anak Dawan lainya yang selalu makmur. Terus kenapa?" Kata Anzella dengan lirih.

"Lo terlihat menyedihkan." Balas Kazan secara terang - terangan seperti seseorang yang tak mempunyai perasaan.

       Kemudian Kazan beranjak pergi menjauh, meninggalkan Anzella yang mematung ditempatnya karena perkataanya yang menyangkitkan itu.

     

•••

        "Di pertandingan tadi lo bener - bener keren banget, Zan!"

       "Tadi gue berdiri di paling depan, lo pasti liat gue kan? Secara gue yang paling semangat dukung lo, Zan."

      "Tadi juga gue videoin lo waktu penerimaan piala, terus gue kirim deh ke Ayah lo. Lo tau nggak Ayah lo bilang apa? Katanya dia bangga karena lo bisa jadi pemenangnya, Zan!" Ujar Jelita lagi dengan begitu gembira. Kazan menghentikan langkahnya dan menoleh malas pada Jelita.

       "Ayah gue nggak pernah suka gue ikutan futsal, terus lo berharap gue bakalan seneng dengerin omong kosong lo itu?" Tukas Kazan dingin. Ia kembali melangkah tanpa mau memperdulikan Jelita yang terus mengikutinya dengan melangkah disampingnya.

       "Gue cuma pengen hibur lo, Zan."

       "Sayangnya gue nggak butuh," Balas Kazan dengan tatapan yang tetap mengarah lurus kedepan.

       "Apa sih yang bisa gue lakuin untuk buat lo seneng barangkali sekali aja, Zan?" Tanya Jelita kehabisan kesabaran.

      "Apapun yang lo lakuin buat gue, tetap enggak merubah kenyataan kalau lo bukan alasan dibalik rasa senang gue. Jadi jangan buang - buang waktu lo untuk itu." Kata Kazan diikuti dengan rahangnya yang menengas.

      "Jelita!"

       Suara itu membuat Kazan dan Jelita menoleh secara bersamaan keasal suara. Tak jauh dari mereka, terlihat sosok Samudra yang tengah melambaikan tanganya pada Jelita. Seketika raut wajah Jelita berubah masam. Siapa yang tidak tahu bahwa sosok Samudra menyukai seorang Jelita yang merupakan Primadona SMA Dawana. Anak model yang diidolakan oleh para kaum adam.

      "Dipanggil tuh." Goda Kazan.

      "Biarin aja dia manggil - manggil terus. Gue udah capek ngeladenin dia, orangnya nggak ngerti - ngerti gue bilangin kalau gue nggak pernah tertarik sama dia." Balas Jelita sambil melirik sesekali kearah Samudra.

      "Gimana perasaan lo ketika menghadapi orang kayak dia?"

      "Risih banget. Gue bener - bener keganggu sama kehadiran dia, dimanapun gue berada pasti ada dia."

      Salah satu bibir Kazan terangkat keatas, Jelita tanpa sadar sudah mengatakan hal yang akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri,"Begitulah yang juga gue rasakan selama ini ketika menghadapi lo, Jel."

      "Itu jelas beda, Zan!" Ujar Jelita merasa tidak terima.

      "Dimana letak perbedaanya? Lo bisa bilang kalau Samudra bikin lo risih, tanpa sadar kalau diri lo sendiri juga udah buat gue risih?" Tekan Kazan dengan nada yang menegas.

Jelita menatap Kazan tak percaya. Kedua bahunya turun, menandakan bahwa semangat gadis itu telah memudar.

"Inget perjanjian awal kita, Jel. Kalau kita hanya perlu terlihat seperti sepasang tunangan yang serasi didepan orang tua kita dan didepan khalayak umum. Diluar itu, gue minta lo untuk memberikan gue ruang sendiri." Ujar Kazan sekedar mengingatkan. Jelita diam, kedua matanya mulai berkaca - kaca. Bertahun - tahun lamanya ia selalu dicampakkan, selama itu juga ia selalu bertahan.

•••

           Langkah Kazan terhenti ketika melihat suasana kantin yang sangat padat, pasalnya baru kali ini ia melihat semua kursi terisi dengan penuh. Belum lagi seisi kantin yang kompak menatap kearahnya dengan begitu antusias, membuat Kazan semakin bertanya - tanya.

         "Tumben rame, ada launching menu baru?" Tanya Kazan tidak tahu apa - apa.

         Radya, Bima, Fajar, Dewa saling menatap satu sama lain. Sebelum mereka menarik paksa Pradipta yang bersembunyi dibalik punggung Dewa, untuk membawanya berhadapan langsung dengan Kazan.

        "Lo ngajakin main petak umpet? Pakai acara sembunyi segala. Lo kira nggak bakal kelihatan? Semut kecil juga bisa liat kalik!" Ujar Fajar ngegas.

        "Ada apaan?" Tanya Kazan.

        "Gue nggak ikut - ikutan, Ndan. Ini kerjaan Pradipta." Ujar Bima angkat tangan.

        "Tentang kantin rame - rame," Pradipta berucap dengan sengaja digantung.

        "Kelamaan lo, sini biar gue aja yang wakilin!" Kesal Dewa gerimutan.

        "Pradipta janjiin satu sekolah traktiran dikantin kalau tim Dawana menang."

        "Terus?"

        "Atas nama lo," lanjut Dewa berhati - hati, membuat Pradipta kemudian menjadi sasaran dari sorot mata tajam Kazan yang membunuh. Pradipta hanya bisa mengacungkan kedua jarinya dengan tersenyum tanpa dosa.

        Kazan menaikan tanganya yang terkepal kuat di depan wajah Pradipta,"Lo belum tau rasanya tangan gue? Mau lo cobain sekarang?" Tanya Kazan dengan nada mengancam.

       "Ampun, sahabat. Ampunilah kesalahan dan dosa sahabatmu ini. Jangan aniaya sahabat, perjalanan hidup sahabat masih panjang, berkelana mencari jodoh yang entah ada dimana." Ujar Pradipta begitu mendramatis. Membuat teman - temannya menjerit jijik.

      "Jodoh lo ada disurga, disuruh mati dulu baru bisa susulin." Sahut Radya.

"Kayaknya neraka lebih siap nampung orang macem lo deh." Ledek Fajar.

"Yaallah, berikanlah sahabat saya sebuah hidayah. Jangan biarkan sahabat saya menanggung dosa karena harus memukul hambamu yang sholeh ini." Ujar Pradipta dengan meringis pelan.

       Keberadaan Anzella disalah satu meja yang berada disudut kantin membuat Kazan menghela nafas gusar. Walaupun gadis itu hanya duduk dan tersenyum, tapi membuat dunia Kazan terguncang hebat.

      Kazan menepuk pundak Pradipta, kemudian melangkah memasuki kantin umum,"Serahin total biaya semuanya sama gue, biar nanti bisa gue transfer. Sekali - sekali gue pengen makan di kantin umum. Yang mau bareng, ikut gue."

      "Demi apa lo mau makan disini?! Kesambet apaan lo? Bertahun - tahun kita sekolah di Dawana nggak pernah tuh sekalipun lo mau nginjakin kaki di kantin umum."Fajar nampak terkejut mendengar perkataan Kazan.

      "Sekali - sekali kantong merakyat." Ujar Radya yang memutuskan untuk mengikuti Kazan.

      "Gue alergi makanan murah. Gue harus gimana?" Sahut Bima sombong.

     "Abis makan makanan murah memangnya lo bakalan mati? Enggak kan?" Kesal Dewa.

"Bakal kesurupan kalik." Sahut Fajar.

     "Lo doain gue biar mati?" Tanya Bima tak terima.

    "Kata siapa? Gue cuma ngaminin aja." Balas Dewa santai.

    "Sini, mulut lo biar gue ratain supaya nggak banyak omong lagi lo njing." Balas Bima gregetan, namun tetap memperlihatkan sisi tenangnya.

•••

Suasana kantin yang semula riuh itu mendadak hening ketika geng Pedawa, terkhusus Kazan yang melangkah menyusuri beberapa meja dengan sebuah nampan ditangannya. Ekspresinya yang dingin dan tatapannya yang selalu membunuh itu membuat hampir sebagian orang yang memadati kantin bergelidik ngeri.

Kazan yang pergi makan di kantin umum adalah monen paling langka. Wajar semua orang nampak terkejut dengan kehadiran Kazan. Kantin umum yang ramai, semua stand yang selalu mengantri, menu yang biasa saja dan membosankan seharusnya tak akan pernah cocok untuk seorang Kazan Dawana.

Sebagian pengunjung kantin dibuat menahan napas ketika Kazan meletakan nampannya dengan cukup kasar disebuah meja yang terdapat sebuah kursi kosong yang kemudian ia tempati. Dimana dihadapannya duduk sosok Anzella yang nampak terkejut dengan kehadiran Kazan.

        Kazan mengaduk mie ayam miliknya dengan begitu santai. Sementara Anzella mematung ditempatnya dengan kegiatan makannya yang ikut terhenti. Kedua matanya terus mengamati setiap pergerakan yang dilakukan oleh Kazan. Cowok ini mau apa lagi sih?

       "Ngapain tegang? Bukannya lo udah pernah makan berdua sama gue?" Ujar Kazan begitu tenang.

       "Harus banget ya lo duduk didepan gue?" Balas Anzella dengan setengah berbisik.

"Mata lo nggak bisa liat kalau cuma kursi didepan lo yang kosong?" Kata Kazan dengan sinis.

Anzella menghela nafas panjang. Iya, ia lihat, bahwa kursi satu - satunya kosong adalah kursi yang berada dihadapannya. Sial sekali, kenapa juga harus seorang Kazan yang menempati kursi itu, dan kenapa bukan orang lain saja?

"Lo sebenarnya nggak nyaman kan duduk dihadapan gue?" Tebak Anzella dengan yakin.

"Kalau iya, lo bakalan pindah tempat?" Tanya Kazan seakan - akan menyiratkan perintah. Membuat Anzella tak punya pilihan lain, selain pindah tempat duduk. Saat Anzella hendak bangkit dari duduknya, Kazan dengan cepat menahan pergelangan tangan Anzella, membuat gadis itu terpaksa harus kembali duduk.

"Kenapa gue harus nggak nyaman kalau yang duduk dihadapan gue adalah seseorang yang selalu menarik perhatian seperti lo, Zella?" Ucap Kazan dalam dan serius.

Deg!

Perasaan Anzella hari ini sudah dipermainkan oleh Kazan. Tadi Kazan sudah menghancurkan hatinya. Lalu sekarang, Kazan malah membuat dunianya seakan berhenti bergerak. Tatapan Kazan yang menyorot lekat pada netra miliknya, membuat ia terjebak dalam ruang yang tidak ia ketahui namanya.

"Fajar! Kenapa bisa ada belut goreng diatas meja gue?!" Seru Alya sembari meringis ketakutan. Membuat semua pasang mata menoleh kearahnya. Pasalnya Alya paling phobia terhadap belut.

      "Itu hadiah dari gue buat lo. Inget dihabisin, gue nggak mau tau pokoknya harus habis!"

      "Lo belum tau rasanya disengat belut listrik ya?!"

"Belum, Fajar mah taunya rasa disengat cintamu. Asique." Sahut Bima dengan berteriak. Membuat seisi kantin mendadak ramai dengan sorak - sorakan kecil yang saling bersautan.

•••

A/N : Tolong votenya untuk cerita ini. Jangan jadi siders aja:(

Ditulis dengan 3151 words.

Ini Jelita Anova


Ini Kazan Dawana




KAZAN DAWANA
FAJAR ADI WIGUNA
RADYA SURYANATA
BIMA ADITYA
PRADIPTA TENGGARA
BASUDEWA PRAJA

ANZELLA GAURY
DEVYRA ANGSUYA
MAYRA RASYAH
ALYA WULANDARI
DYAN SARASWATI

JELITA ANOVA
NORRA ADIANTARI

FOLLOW INSTGRAM :
@Hindhiastinaaa

Continue Reading

You'll Also Like

4.8M 258K 91
[tersedia di gramedia dan tbo] wattys2021. #1 ceritafiksi #1 fiksiremaja "LO SERANG, KAMI HADANG. LO MAJU, KAMI HABISKAN!" Bara Alvero Januar - ALEXI...
421K 20.3K 20
⚠️FOLLOW DULU SEBELUM BACA⚠️ [BELUM TAMAT] PROSES REVISI . . . . . Bukan menceritakan tentang kisah ketua geng motor yang bertemu dengan gadis polos...
441K 27K 54
Ini kisah Maula Aruna Bara, ketua geng yang sombong dan pemarah. Mars adalah panggilannya Diawali dari pertemuanannya dengan perempuan bernama Alin...
9.4M 491K 32
"Ketika musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. " Aurora Athalla Collins, 16 tahun. Trauma masa lalu membuatnya didiagnosis mengidap DID. Seluruh kel...
Wattpad App - Unlock exclusive features