Heartbeat
Pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah wajar, artinya mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari pasangan, baik itu persahabatan atau hubungan romansa.
•••
"Lalisa, kau tidak sarapan?" tanya Jeon Jihyun pada anak menantunya yang berjalan melewatinya begitu saja.
Wanita itu tersenyum kecil dan menepuk kepalanya, bodoh sangking terburu-buru ia tidak melihat keluarganya yang tengah menikmati sarapan pagi. Lalisa mendekat dan membungkukkan badannya tersenyum ramah pada ibu dan kakak iparnya.
"Good morning," sapa Lalisa dengan mencium pipi kanan suaminya, tentu saja hal itu membuat Jihyun dan Jisoo tersenyum.
"Aku sedang buru-buru."
"Sepertinya Auntie terlihat bahagia sekali," kata Giyeon yang tengah menguyah rotinya.
Lalisa tersenyum membalas bocah kecil itu. "Jjinja?"
"Jisoo, hari ini kau bertemu dengan doktermu, bukan? Ayo berangkat bersamaku."
"Kau selalu berkunjung ke rumah sakit, memangnya kau sakit apa Jisoo?" tanya Jihyun.
Wanita pemilik nama itu tersenyum kecil dan membalas. "Hanya sakit biasa." Ya, Jisoo tidak ingin orang-orang semakin banyak mengetahui penyakitnya, itu hanya membuat mereka kasihan padanya.
"Kau tidak mengajak suamimu?" Kali ini Jungkook bersuara.
"Sebaiknya kau temani Jung Jaehyun, bukankah besok dia akan menikah."
Ah, Jungkook mengangguk. Iya, baru ingat sepupunya itu akan segera menikah, kenapa ia bisa melupakan hal itu.
"Eomma, bagaimana siang nanti kita ke rumah bibi?" tanya Jungkook pada ibunya.
Jihyun mengangguk, lalu beralih pada Seungwan yang sejak tadi hanya diam. "Kau bisa datang?"
Son Seungwan mengangguk dengan senyum kecil. "Nde, Eomma."
Di dalam mobil Jisoo tersenyum kecil sendiri, wanita itu menyandarkan kepalanya pada samdaran bahu. Berapa lama lagi ia bisa bertahan dari rasa sakit yang semakin lama menggrogoti hidupnya ini.
"Jangan khawatir, aku yakin kau akan segera sembuh."
Jisoo menoleh pada Lalisa dan tersenyum kecil. "Aku harap."
Baru sampai pada ruangannya Lalisa sudah disambut dengan sebuah pelukan dari sahabatnya. Tampak wanita itu yang sangat kacau sekali, tidak biasanya.
"Ada apa?"
Mengerti dengan situasi, Kim Jisoo memilih untuk pergi dan memberikan ruang pribadi untuk keduanya.
"Aku ingin mengakhiri semua ini, aku tidak tahan dengan semua ini. Rasanya sakit harus berpura-pura baik-baik saja. Ada sesuatu yang kau harus tahu." Seulgi menghela napasnya terlebih dahulu, mungkin Rose belum menceritakan perihal hubungannya dengan sahabatnya itu.
Lalisa tertawa kecil setelah mendengar cerita dari Seulgi. Bodoh, bertahun-tahun kedua sahabatnya bermusuhan di depan matanya, namun ia tidak menyadari akan hal itu. Tentu saja ia tidak bisa memilih satu di antara mereka.
"Aku tahu kau akan terkejut, aku sendiri pun baru mengetahui bahwa teman yang kau selalu ceritakan padaku adalah wanita di masa lalunya." Seulgi tersenyum menyungging, ia sendiri bahkan tidak tahu harus bagaimana.
"Kau tidak perlu memihakku, dan jangan memihak di antara kita berdua atau hubunganmu dengan kedua sahabatmu akan hancur."
Sebuah senyum kecil terukir pada sudut bibir Lalisa, megangguk kecil. Setelah ini ia akan menemui Rose, temannya itu benar-benar keterlaluan karena tidak pernah bercerita padanya.
•••
Sudah satu jam Jaewon dan Rose berada dalam satu ruangan, namun keduanya tidak ada pembicaraan sama sekali. Rose seolah sibuk dengan gitarnya, padahal dengan jelas Jaewon dapat melihat sahabatnya itu tengah melamun.
"Kau memikirkan Jaehyun?"
"Ha?"
Jung Jaewon menghela napasnya, lalu mendekat pada Rose. Mengambil gitar dari tangan temannya itu, lalu menatap dengan serius.
"Kenapa tidak menjadi artis saja? Kau pintar dalam bersandiwara."
"Rose, dengarkan aku. Kau tahu aku menyukaimu." Pria itu tersenyum sebentar dan menghela napasnya dalam-dalam, ia benci harus melakukan ini sebenarnya, namun ia lebih benci melihat Rose yang tampak kacau.
"Masih ada waktu sebelum pernikahan Jaehyun, aku bisa membantumu."
"Tidak perlu, aku sudah berjanji dengan Seulgi." Rose melepas pandangannya dari Jaewon, lalu beralih seolah dirinya tengah sibuk pada sesuatu.
"Lalu kau akan menyakiti dirimu sendiri?"
Kedua orang itu mengalihkan pandangannya pada suara seseorang yang tiba-tiba datang. Tampak Lalisa yang berdiri dengan menatap tajam Rose.
"Kau bilang aku sahabatmu, tapi kau selalu menyembunyikan masalahmu padaku, jika Jennie mengetahui ini aku yakin dia juga akan kecewa padamu. Kau benar-benar berubah, Rose. Aku seperti tidak mengenalmu sekarang."
"Aku sudah mengetahui masalahmu dengan Seulgi, kalian berdua benar-benar membuatku gila. Asal kau tahu, aku selalu benci saat Seulgi mengadu lukanya padaku, aku selalu ingin membunuh orang itu, dan ternyata orang itu adalah sahabatku sendiri. Aku harus apa?"
Rose mengangguk dengan tersenyum kecil. "Aku tahu aku salah."
Lalisa menggelengkan kepalanya melihat Rose yang tidak berniat untuk menjelaskan. Sungguh ia ingin meluapkan semua amarahnya.
"Kau tidak ingin menjelaskan padaku, Rose?"
Rose tersenyum kecil dan berjalan ke arah lain seolah tidak menghiraukan sahabatnya itu, tentu saja sikap acuh Rose membuat Lalisa jengkel. Hingga dengan keras terdengar suara bantingan.
"Sialan, kau bahkan tidak berniat menjelaskan padaku! Kau ini kesurupan setan mana hingga berubah seperti setan sekarang!" teriak Lalisa frustasi, akhirnya wanita itu menjatuhkan tubuhnya pada kursi panjang di depannya.
Jaewon yang melihat pertengkaran kedua sahabat itu hanya bisa diam. Keduanya sama-sama memiliki sifat mengumpat saat tengah emosi.
Wanita bermarga Park itu menghela napasnya terlebih dahulu. "Kau sudah mengenalku sejak kita masih SMA, tapi kau sama sekali tidak paham dengan sifatku. Jika aku diam artinya aku tidak ingin mengungkit masalah ini."
"Jadi kau mau aku membela Seulgi dan membiarkanmu, begitu?"
"Kau cemburu dengan Seulgi, Rose?"
Rose kembali tertawa kecil, tangannya menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. Menatap sahabatnya dengan intens. "Aku benci saat seseorang datang dan merebut kebahagiaanku."
"Kau bilang aku berubah? Saat aku jatuh dua tahun yang lalu, kalian kemana? Kau tahu hidupku hancur saat itu, semua orang yang aku sayangi direbut olehnya termasuk dirimu."
Jung Jaewon mendekat pada Rose dan memeluk sahabatnya itu yang tengah kalut. Melihat hal itu membuat Lalisa tertawa kecil dan beranjak dari duduknya meninggalkan rumah Rose.
"Pulanglah, aku ingin sendiri."
"Membiarkanmu sendiri di sini? Tidak, aku tahu kau bisa melakukan hal gila saat kalut seperti ini."
Bibir Rose menggerutu, tangannya mengepal keras, kedua bola matanya membesar memberikan tatapan tajam. "Kau pulang sekarang atau kubunuh dirimu."
"One!" teriak Rose dengan keras.
Jung Jaewon mengangguk mengalah. "Aku akan pulang setelah melihatmu tidur, sekarang makan dulu setelah itu tidur."
Rose menghela napasnya dengan kasar, lalu melangkah ke dapur untuk mencari makanan. Baru Jaewon ingin melangkah tidak jadi saat melihat ponsel sahabatnya yang berbunyi, dilihatnya layar tersebut yang menampilkan nama seseorang yang menjadi akar dari permasalahan ini.
"Jangan pernah hubungi Rose lagi, atau aku akan melupakan bahwa kau adikku."
"Biarkan aku berbicara dengannya sebentar, aku mohon Hyung."
Jaewon memilih untuk memutus panggilan tersebut.
•••
Kepulangan Lalisa yang terlihat sangat murka membuat semua pelayan langsung menunduk ke bawah. Wanita itu berjalan cepat menuju ke kamarnya, membanting keras tasnya itu.
Berniat untuk menghubungi Jennie untuk memberi tahu tentang Rose, tapi ia urungkan saat mengingat kondisi Jennie sekarang. Tidak ada yang bisa ia lakukan, masalahnya dengan suaminya bahkan belum usai, lalu Rose dan Seulgi membuatnya gila.
"Persetan!" teriak Lalisa dengan melempar semua benda-benda yang berada di atas nakas, wanita itu menggeram kesal.
"Kau ada masalah?" tanya Jisoo dengan hati-hati.
"Tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin melampiaskan emosiku padamu."
"Aku hanya khawatir, kau tampak kacau setelah pulang dari rumah Rose tadi, apa terjadi sesuatu?"
"Rose tadi menelponku, dia bilang jangan membiarkan dirimu sendiri. Kau juga hampir bunuh diri, bukan saat anakmu meninggal, bagaimana jika aku meninggalkanmu sekarang. Kau akan melakukan hal gila," lanjut Jisoo dengan polosnya mengatakan apa yang ia ketahui.
"Aku memang tidak terlalu dekat dengan kalian, tapi aku benar-benar salut dengan Jennie yang berteman dengan kalian berdua."
"Keluarlah atau kubunuh kau di sini!" teriak Lalisa dengan kedua tangannya mengepal. Ia memang paling benci saat seseorang banyak bicara di saat kondisinya seperti ini.
Kim Jisoo mengangguk dan menahan tawanya. Pantas Jungkook sangat takut berhubungan dengan wanita lain, ternyata Lalisa benar-benar gila saat tengah emosi.
Lalu berjalan keluar dari kamar Lalisa, langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Jungkook.
"Jisoo, sedang apa?" tanya pria itu heran.
"Tidak tahu, dia tengah emosi. Aku pikir dia bertengkar dengan temannya," jawab Jisoo.
Jungkook mengangguk, lalu berjalan menuju ke dalam. Dilihatnya Lalisa yang sudah membungkus dirinya dengan selimut tebal.
"Sudah makan?"
"Ini masih sore, kenapa kau tidur. Ayo cepat bangun temani suamimu ini," lanjut Jungkook, namun diacuhkan oleh Lalisa.
"Aku lelah, aku ingin tidur."
Jungkook menghela napasnya, lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya itu dan tersenyum saat melihat Lalisa yang pura-pura tidur, lalu pria itu ikut-ikutan tidur dan memeluk Lalisa begitu erat dari belakang.
"Lepaskan aku, kau membuatku sulit bernapas."
"Cuci tangan dulu, sana."
"Aku ingin memeluk istriku, apa itu salah?"
Lalisa membalikkan badannya dengan kesal, baru ingin berbicara Jungkook sudah menyumpel mulutnya dengan sebuah ciuman.
"Bibirmu kering, kau belum makan sejak tadi?"
"Ah sudahlah, aku ingin tidur."
"Ya sudah, biarkan aku memelukmu seperti ini," kata Jungkook dengan kembali membekap Lalisa dari belakang.
Kali ini Lalisa tidak menolak, wanita itu tersenyum dan tangannya menggegam erat tangan Jungkook yang melingkar di perutnya.
"Aku benar-benar lelah hari ini," kata Lalisa dengan pelan. Lalu membalikkan badannya hingga kini menghadap sang suami, menatap begitu dekat.
"Jangan bertanya ada apa hari ini, aku tidak ingin membahasnya."
Jungkook mengangguk dengan senyum kecil, lalu membiarkan Lalisa menenggelamkan kepalanya pada dada bidagnya.
"Oppa."
"Ha?"
"Aku mencintaimu," kata Lalisa yang sudah menutup matanya.
"Aku tahu itu."
Lalu Lalisa kembali membuka matanya, wajahnya begitu dekat dengan Jungkook hingga membuat dirinya kembali mencium bibir suaminya.
"Kenapa kau begitu tampan?"
Jungkook tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum melihat sang istri yang tengah meracau sendiri.
•••
Jeon Jihyun (Jungkook Eomma)
So, guys jadi kita fokus dulu sama masalah Rose dan Lalisa, so untuk masalah Jisoo setelah ini.
Pernah gak kalian di posisi Rose dan Lalisa? Yang kalian rasain gimana?
Spam vote dan komentarnya...
Selamat siang semua....