terima kasih nafas ku (se...

By Neny_2008

4.9K 225 2

kisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak... More

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
🙏

12

114 8 0
By Neny_2008

Badai ada untuk memberi coba,

Acara 1 tahun peringatan meninggalnya alm.papa sudah terlaksana dengan pengajian beberapa hari lalu. Pengajian yang di hadiri warga sekitar kompleks dan juga kerabat dan karyawan saja.

Rencana hari ini aku akan ada pertemuan dengan Bu Mila, istri menteri yang memang berasal dari kota ini. Yang sudah memesan desain gaun padaku dua bulan yang lalu.
Desain kasar sudah sempat aku kirimkan melalui pesan gambar juga email.
Putrinya sangat suka katanya. Dan meminta detail pembuatan dengan bertemu jam makan siang ini.

Aku sudah berada di lounge hotel berbintang lima daerah tengah kota Yogya.

Bu Mila menyambut ku dengan sangat baik. Karena ternyata dia memang sudah lama menjadi pelanggan di cinta butik.

Desain buatanku di setujui dengan mulus. Dan siap naik proses pembuatan. Yang pastinya aku serahkan pihak butik milik Mama.

Bu Mila juga berpesan agar aku hadir di acara pernikahan putrinya nanti.

Di sisi lain proses pengerjaan proyek masjid itu sudah hampir selesai.
Hari ini mas Yoga mengajak aku bersama mas Attar juga untuk mengecek langsung ke lokasi.
Sesekali jalan jalan menurut mas Yoga.

"Iyalah Na, masa hidup kerja terus. Ayo kita berangkat?"

Jawaban mas Yoga saat pagi pagi dia sudah berada di rumah untuk menjemputku.

"Iya boss sebentar. Aku ambil tas dulu. Kita samperin mas Attar nih?"

"Iya. Sarah juga jadi ikut kok."

"Gak jadi ada jadwal jaga dia, baguslah."

Kami berempat pun kini dalam perjalanan ke daerah Gunung Kidul, Yogyakarta dengan camry hitam milik mas Yoga.

Hampir dua jam perjalan, mas Attar memarkirkan mobil di depan lokasi. Bangunan sudah berdiri sempurna. Hanya tinggal proses finishing saja sepertinya.

Terlihat seorang berpakaian muslim rapi menghampiri. Aku dan Sarah memang belum turun karena aku sedang merapikan hijabku.

"Assalamualaikum Pak Attar dan Pak Yoga. Waduh senang sekali bapak berdua berkenan tetap mengunjungi pembangunan walau hari libur seperti sekarang."

"Waalaikumsalam ustad Ali...

...kami hanya sekedar ingin melihat progresnya. Karena kebetulan mas Yoga ingin mengajak pimpinan H corp langsung."

"Suatu kebanggaan pastinya. Kapan beliau akan datang?"

Aku pun lalu keluar dari pintu belakang, setelah Sarah lebih dulu turun.

"Ustad Ali, perkenalkan, ini adik dari pak Yoga. Kebetulan dialah owner langsung H corp."

"Assalamualaikum ustad." Sapa ku menangkupkan kedua tanganku.

"Perkenalkan saya Hasna. Dan ini sahabat sekaligus calon kakak ipar saya, Sarah."

"Masyaa Allah, saya fikir donatur dari pembangunan masjid adalah sudah sepuh, karena mengingat seorang pemilik perusahaan yang sudah besar. Namun ternyata masih sangat muda. Dan adik dari pak Yoga rupanya."

"Betul ustad. Bu Hasna lah atasan saya. Oh ya bagaimana dengan rencana peresmian masjidnya? Kalo say prediksi, 2 atau 3 minggu lagi ini sudah selesai sempurna kok."

"Iya pak Attar. Kemarin ada saran dari pak Kadus agar mengadakan baksos atau pengobatan gratis. Tapi kami masih memikirkan anggaran dan mencari sponsor ini."

"Kami sponsori untuk pengobatan gratis. Kebetulan calon istri saya adalah seorang dokter muda ini." Sahut mas Yoga cepat.

"Masyaa Allah. Alhamdulillah. Banyak sekali bantuan yang diberikan. Baiklah saya mewakili panitia pembangunan mengucapkan banyak terima kasih. Akan saya sampaikan pada seluruh pengurus."

"Saya juga mau bantu ustad, nanti biar mas Yoga yang atur secara detailnya. Karena saya memang banyak bergantung pada kakak saya juga sahabatnya ini, mas Attar."

"Terima kasih Bu Hasna. Wah enaknya saya panggil mba saja gimana, kok kesannya jadi tua sekali kalo saya panggil Bu."

"Silakan ustad. Tidak masalah. Saya tidak keberatan. Ya udah Mas. Kita jalan sekarang aja?"

"Baiklah ustad Ali, kami mohon diri dulu. Nanti bisa hubungi saya via handphone ya. Kami pamit dulu."

Sedari aku bergabung, tak terhitung sudah berapa kali ustad berusaha mencuri kesempatan melihat arahku.
Itu yang membuatku sedikit risih, dan memilih mengajak segera pamit.

Kami sekalian refreshing. Kami jalan jalan ke pantai yang ada di Gunung Kidul.

Aku sangat bahagia.
Mas Yoga ikut bahagia melihat aku bahagia.
Aku pun ikut bahagia melihat mas Yoga berjalan berduaan dengan Sarah, sahabatku.

"Kalian kapan mau nikah sih?"

"Pake nanya Na. Jelas jelas aku nunggu nikahin kamu dulu baru aku nikah." Jawab kesal bercanda mas Yoga.

"Kalian boleh kok nikah duluan. Aku masih nikmati karir aku. Ya empat sampe lima tahun lagi lah. Kalian mau nunggu emangnya?"

"Kamu gak bercanda kan Na?"

"Nahhh ya, kamu udah gak sabar kan Sar? Udah Mas, buruan halalin aja."

Aku lalu melanjutkan langkah menyusuri tepian pantai indrayanti.

"Na, kamu serius dengan kata kata kamu tadi?"

"Kenapa mas Attar gak sanggup juga nungguin sampe lima tahun?"

"Enggak. Bukan aku Na. Tapi kasian Yoga. Dia beneran lho gak akan mau nikah sebelum kamu nikah dulu."

Sepertinya, mas Attar juga tahu banyak tentang janji mas Yoga.

"Hehehe, tenang aja Mas. Aku gak segila itu kok sama kerjaan. Aku cuma seneng aja godain mereka."

"Aku harap, kamu mau terima lamaranku, setelah seribu hari kepergian papa Na. Aku juga pengen jaga kamu seutuhnya seperti permintaan alm.papa kamu ke papiku."

"In shaa Allah Mas, iya."


Tak sampai 3 minggu, proses finishing masjid selesai. Dan sesuai janji, aku memberi support untuk acara pengobatan gratis dalam rangka peresmian masjid. Tak hanya aku. Banyak juga donatur tergabung dalam kegiatan tersebut.

Pagi pagi tadi mas Yoga sudah menuju lokasi lebih dulu bersama tim medis yang di koordinasikan oleh Sarah pastinya.

Mas Attar pun sudah berangkat bersama team dari kantor. Yang memang ingin ikut partisipasi.

Aku meski sebetulnya bisa saja berangkat sendiri, namun karena Mama ingin ikut aku akhirnya memutuskan ikut mobil Mama dan Didi saja.
Toh nanti bisa pindah ikut mobil mas Yoga atau mas Attar saat pulang.

"Hasna, Attar kapan mau lamar kamu?"

"Udah deh Ma. Udah sering ya kita bicarain ini. So, gak usah mulai lagi."

"Bukan gitu, mama cuma kasian Yoga."

"I know Ma. Tunggu aja waktu yang pas okey. Tuh lokasinya di depan sana. Kita bisa parkir disini dan turun jalan."

Aku berjalan lebih dulu beberapa langkah dari Mama yang beriringan dengan suami sirinya.

Aku langsung di sambut ustad yang beberapa hari lalu menghubungiku secara pribadi. Dengan alasan mengundangku ke acara ini.

"Assalamulaikum mba Hasna."

"Waalaikumsalam ustad. Maaf saya datang terakhir ini, karena ada pekerjaan dulu tadi. Oh iya perkenalkan beliau ibu Rima dan beliau juga salah satu donatur kegiatan ini."

"Terima kasih Bu Rima saya mewakili seluruh pengurus. Mari silakan duduk bersama tamu yang lain."

"Terima kasih ustad."

Kami di perkenalkan juga dengan para perangkat desa setempat. Mereka sudah duduk berbincang dengan mas Yoga, mas Attar juga beberapa dokter senior yang berhasil di ajak Sarah.

"Bu Hasna, dulu pembangunan gedung serbaguna di dusun sebelah itu juga atas bantuan pak Hanan. Saya kaget tadi ketika mendengar bahwa bu Hasna adalah putri beliau. Dan beliau sudah meninggal."

"Iya pak Lurah. Sudah hampir 2 tahun yang lalu. Dan saya meneruskan usaha alm.papa saya. Mohon di maafkan Pak bila selama mengenal papa saya punya salah."

"Sama sama Bu. Tapi beliau orang yang baik. Suka membantu. Dulu saya banyak di bantu sewaktu mencalonkan diri jadi lurah. Maklum, saya masih bocah juga."

Aku hanya tersenyum, menanggapi senyum pak Lurah yang terkesan menggoda.
Bahkan dengan santai pak Lurah itu langsung pindah duduk di sebelahku.

Aku sesekali mengarahkan pandangan ke mas Yoga. Berharap dia mengerti dan segera membawaku pergi dari tempat ini.

Setelah solat dzuhur berjamaah, acara di selingi makan siang. Nasi box yang sudah di sediakan pihak desa setempat.

Mama dan Didi sudah pulang lebih dulu. Setelah aku bilang aku akan ikut mas Yoga saja.

"Bu Hasna sudah menikah? Kok suaminya tidak ikut.''

"Belum Pak Lurah."

"Maaf kalau saya lancang. Kalau bu Hasna tidak keberatan, boleh saya ingin mengenal lebih pribadi."

Aku juga gak polos polos banget untuk menerima maksud pak Lurah itu.
Dan lebih berani ternyata jika di banding ustad yang masih selalu terus mencuri pandang itu.

"Maksud Bapak apa ya?"

"Saya tertarik dengan Bu Hasna, saya ingin berhubungan secara personal dengan Bu Hasna jika berkenan."

"Terima kasih sebelumnya Pak. Tapi mohon maaf saya tidak bisa memberikan kesempatan dan harapan lebih. Saya sudah punya calon."

"Oh begitu, maaf kalau gitu. Kok gak ikut Bu, atau sibuk ya?"

"Alhamdulillah beliau juga banyak kontribusi dalam pembangunan masjid ini sampai dengan acara baksos ini Pak."

"Wah kalau begitu sampaikan ucapan terima kasih pada beliau."

Tanpa pak Lurah itu tahu, orang yang aku maksud ada di belakang dia tepat.
Duduk dan mendengar obrolan sejak tadi.
Dan dia hanya senyum senyum saja.

Aku jadi ingat waktu aku cerita, aku merasa ada yang aneh sama ustad Ali.

"Aku tau Na banyak laki laki yang ingin mendekati kamu. Tapi aku yakin kok kamu cuma milih aku. Karena pasti satpam kamu sudah kontrak seumur hidup sama calon suamimu ini."

Dan betapa menyebalkannya dia.....
Untung aja aku cinta sama kamu Attarsyah Malik...

🙏


Selamat hari raya idul fitri
1 syawal 1441 H / 24 Mei 2020
Minal aidzin wal faidzin
Taqobbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin

Continue Reading

You'll Also Like

54.4K 1.6K 29
langsung aja baca prolognya siapa tau kepincut dengan alur ceritanya. hayukkk merapat yaa yang mau punya suami kaya raya namun tidak sombong merapat...
1.5K 97 13
yg pertama namun di jadikan yg kedua,kehadirannya yg tak di inginkan oleh suami itu lah yg di alami tharn pria cantik.namun nasib tak berpihak padany...
7.4K 120 8
Kisah dua kakak adik yang terlibat cinta segita dengan seorang gadis, yang ternyata adalah anak dari bekas pembantunya. dua kakak adik itu tidak ada...
Wattpad App - Unlock exclusive features