Poignant Friendship

By KantongKresek

8.6K 1K 162

[SELESAI] Mereka diabaikan oleh orang tua mereka, atau mungkin orang tua mereka telah tiada. Satu-persatu dar... More

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
READ PLEASE!

Chapter 4

363 40 4
By KantongKresek

Seorang anak bermata biru dan berambut coklat, berdiri di depan anak-anak panti asuhan. Dia berdiri mematung, hanya matanya yang berkedip dan bergerak melihat semua arah. Semua orang juga sedang diam memandangnya.

"Namanya Niall Horan. Umurnya 5 tahun, dia berasal dari Mullingar," kata Laura sambil mengelus puncak kepala anak lelaki itu.

"Kenapa anak itu tidak memperkenalkan dirinya sendiri?" bisik Louis pada Samantha. Samantha hanya mengangkat bahunya.

"Anak baru. Wajar jika begitu," kata Zayn.

"Hah~ kau juga anak baru, kau baru masuk kemarin," sahut Samantha.

"Iya, kau saja yang terlalu percara diri. Tidak seperti Niall," sambung Louis dengan nada menyindir yang dibuatnya.

"Salah lagi..." keluh Zayn.

"Baik kalau begitu. Kau boleh bergabung dengan yang lain." Laura tersenyum. Liam tersenyum singkat. Lalu anak-anak bubar dan berkumpul bersama kelompok bermain mereka sendiri. Kebanyakan dari mereka ada di halaman belakang, termasuk Samantha, Louis, dengan Zayn. Sedangkan Niall duduk sendiri di ayunan sambil menatap sepatunya terus menerus.

"Kau tidak akan bisa!" Louis menjulurkan lidahnya ke Samantha yang sedang kesusahan mengambil sepatunya dari Louis. Ya, dia memang usil. "Aku akan membuangnya ke sungai nanti! Hihi!"

"Kembalikan sepatuku!" Samantha hampir menangis, itu sepatu kesayangannya dan ia mengira Louis serius dengan perkataannya. Zayn hanya tertawa di dekat jungkat-jungkit melihat Samantha yang kewalahan dengan Louis.

"Aduhh, ada apa ini ribut-ribut? Louis, ayo kembalikan sepatu Sam!" pinta Laura dengan wajah galak.

"Laura, kau tak ada bedanya dengan Louis..." Samantha memegang kedua pipinya dramatis.

Laura menghela napas, "Louis, kembalikan sepatu Sa-man-tha."

"Aku tak mau~" kata Louis menjulurkan lidah dan berlari berputar-putar sendiri.

"Hah, hanya mengambil darinya saja susah sekali." Zayn berlari lalu merebut sepatu itu saat Louis sedang lengah.

"Ini, Samantha," kata Zayn.

"Eh? Zayn salah makan, ya? Biasanya dia usil dan tak bisa diam. Kenapa sekarang dia jadi penolong?" batin Samantha.

"Terimakasih ya, Zayn!" kata Samantha.

Zayn tersenyum.

Saat Zayn dengan Louis bermain berdua, Samantha memperhatikan Niall yang duduk di bangku taman, sambil terus menunduk. Ia menepi dari keramaian disaat semua anak sedang asyik bermain.

"Kenapa ia menunduk terus, ya? Apa yang menarik dari sepatunya?" gumam Samantha. "Lebih baik kupanggil dia saja! Siapa tahu, ia mau bergabung denganku."

"HEI, NIALL!" teriak Samantha dari tempatnya berpijak.

Tapi yang dipanggil tidak menoleh. Kenapa makhluk itu? Beberapa lama kemudian, Samantha mencoba memanggilnya lagi.

"NIALL!!" panggil Samantha dengan kencang. Kenapa ia tidak menghampiri Niall saja? Entah. Ada sesuatu yang ia rasa-'menahannya' untuk menghampiri Niall.

"HEI, NIALL!"

Ya, aku dengar ada seseorang yang memanggilku. Tapi aku tidak mau menoleh, lagipula caranya mengucap namaku sangat tidak enak didengar.

Aku masih bingung dengan keadaan ini. Aku masih bingung kenapa aku ada di panti asuhan? Maksudku, rasanya terakhir kali aku berada di rumah.

"NIALL!!!"

Aku menghela napas dan memutar bola mataku dengan kesal. Anak itu lagi. Kenapa dia memanggilku terus? Aku sedang ingin mengingat apa yang terjadi. Aku memilih untuk mengabaikannya. Aku benar-benar belum-tidak mau untuk diganggu.

Seingatku, aku sedang di rumah. Menyaksikan kedua orang tuaku sedang bertengkar. Ya, mereka memang sangat sering bertengkar. Aku tidak suka pada Ayahku yang selalu pulang dalam keadaan mabuk. Dan juga dengan Ibuku yang berselingkuh. Mereka berdua sama-sama jahat.

Aku sedang berada di kamarku, di lantai atas. Kedua orang tuaku belum pulang. Jadi, aku menunggu mereka disini. Aku mendengar pintu utama rumah kami di gedor-gedor, aku berlari ke bawah. Sesuai dugaanku, Ayahku pulang. Dengan satu botol minuman keras di tangan kirinya. Dia mabuk lagi.

"Heii, Niall~" Ayahku berjalan sempoyongan. Aku membopongnya ke sofa ruang tamu. Astaga dia sangat besar sedangkan aku kecil. Berat...

Tiba-tiba saja tangannya melayang di udara dan mendarat tepat di pipi kananku. Ia berkata, "Aku tidak suka punya anak sepertimu! Kau begitu lemah!"

Aku tak menyangka Ayahku dapat berkata seperti itu. Dia sering memarahiku dan memukulku, dia bilang, semua yang aku lakukan selalu salah. Aku anak pembawa sial baginya.

Lalu aku mendengar bunyi mobil datang. Lekas aku membuka pintuku sedikit, melihat siapa yang datang dari celah pintu. Kulihat Ibuku keluar dari mobil tersebut, disusul oleh seorang lelaki-yang-tidak-kukenal. Lalu mereka berbincang sebentar dan mereka berciuman sebentar. Aku melihat semuanya, dengan mataku sendiri. Aku tak menyangka Ibuku yang begitu lembut padaku dan menyayangiku, selingkuh dengan lelaki lain. Mungkin dia jenuh dengan Ayahku yang tidak berguna itu. Tapi tetap saja aku tidak terima.

Ternyata Ayahku melihat juga di balik jendela. Saat Ibuku masuk, Ayahku langsung membanting vas bunga di dekatnya. "MAURA!!" teriak Ayahku. "SIAPA LELAKI ITU, HUH? Kau selingkuh dariku?!" Ayahku menjambak rambut Ibuku.

Saat itu aku hanya bisa menangis. Aku bingung harus membela siapa. Aku benci Ayahku yang kasar dan suka berbuat seenaknya. Tapi aku juga sangat kecewa melihat Ibuku selingkuh. "Lepaskan, Bobby! Sakit.." Ibuku menangis.

"HAH!" Ayah menjambak lebih keras. "LEBIH SAKIT SIAPA? Aku atau kau?! Aku!!! Aku, Laura, aku! Kau kira aku tidak lihat apa yang kau lakukan dengan dia tadi?!"

"Kau tidak berguna, Bobby! Aku berusaha mencari nafkah dan kau mempergunakan uang itu untuk mabuk-mabukan. WHERE IS YOUR BRAIN? Huh? Aku jenuh dengan semua ini. Kau kasar! Kau memukuli aku dan Niall!" Ibuku berteriak.

Aku makin menangis melihat mereka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya anak kecil, tidak mungkin aku bisa memisahkan mereka. Yang ada aku akan kena pukul juga.

Ibuku mendekatiku. "Ayo kita pergi dari sini, Niall! Kita tinggalkan makhluk neraka ini!" kata Ibuku dengan acuhnya. Aku memeluk kaki Ibuku dengan cemas. Tanpa ku sadar Ayahku melemparkan pecahan vas bunga ke arahku dan Ibuku. Tapi ternyata, aku yang kena. Aku melihat darah menetes dari keningku. Lalu, semuanya menjadi gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.

Saat aku membuka mataku, aku berada di salah satu kamar yang ada disini. Sepertinya itu kamar pengelola panti ini. Tapi tidak mungkin, bukan, kalau tiba-tiba aku berada disini? Bagaimana bisa? Ah, aku tidak ingat.

Masa aku pelupa? Aku baru 5 tahun. Dan aku tidak insomnia, eh amensia, eh apa itu jika kita lupa segala-galanya? Persetan dengan nama itu. Aku pusing. Lain kali akan kutanyakan segalanya pada pengelola panti ini.

-------
Dan Liam kurubah jadi Niall :)
-26/12/15-

Continue Reading

You'll Also Like

20.5K 1.3K 21
Fanfiction tentang One Direction. Ketika kelima cowok tampan namun sedikit gila di persatukan dalam satu grup. (Cerita ini hanya fiktif belaka,namun...
17K 794 41
Persahabatan, kisah cinta, dan perjuangan mencapai cita-cita menjadi bagian dari kisah ini. Kadang kehidupan menawarkan kisah yang indah, namun kadan...
5.8K 300 9
Seseorang yang tidak pernah mengenalnya, tetapi Ia mengenal seseorang itu. Hingga pada akhirnya mereka bertemu, dam menjadi teman dekat. Ia mulai men...
28.2K 2.5K 51
"Just because you love someone, doesn't mean you're supposed to be with them." [Written in Bahasa]
Wattpad App - Unlock exclusive features