INFINITY LOVE - #3 [COMPLETED]

By Shee_aquila

137K 11.8K 592

--Seri Ketiga 'The Way of Love: Destiny'-- Ragata Adya Dinata seorang pria kaya, tampan, dan rupawan. Pria ya... More

PROLOG
SATU
DUA
TIGA
EMPAT
LIMA
ENAM
TUJUH
DELAPAN
SEMBILAN
SEPULUH
SEBELAS
DUA BELAS
TIGA BELAS
EMPAT BELAS
LIMA BELAS
ENAM BELAS
TUJUH BELAS
DELAPAN BELAS
SEMBILAN BELAS
DUA PULUH
DUA PULUH SATU
DUA PULUH DUA
DUA PULUH TIGA
DUA PULUH EMPAT
DUA PULUH LIMA
DUA PULUH ENAM
DUA PULUH TUJUH
DUA PULUH DELAPAN
DUA PULUH SEMBILAN
TIGA PULUH
TIGA PULUH SATU
TIGA PULUH DUA
TIGA PULUH TIGA
TIGA PULUH EMPAT
TIGA PULUH LIMA
TIGA PULUH ENAM
TIGA PULUH TUJUH
TIGA PULUH DELAPAN
TIGA PULUH SEMBILAN
EMPAT PULUH
EMPAT PULUH SATU
EMPAT PULUH DUA
EMPAT PULUH TIGA
EMPAT PULUH EMPAT
EMPAT PULUH LIMA
EMPAT PULUH ENAM
EMPAT PULUH DELAPAN
MY CAST
EMPAT PULUH SEMBILAN
LIMA PULUH
LIMA PULUH SATU
LIMA PULUH DUA
LIMA PULUH TIGA
LIMA PULUH EMPAT
LIMA PULUH LIMA
LIMA PULUH ENAM
LIMA PULUH TUJUH
LIMA PULUH DELAPAN
LIMA PULUH SEMBILAN
ENAM PULUH
ENAM PULUH SATU
ENAM PULUH DUA
ENAM PULUH TIGA
ENAM PULUH EMPAT
ENAM PULUH LIMA
NEW STORY
ENAM PULUH ENAM
ENAM PULUH TUJUH
ENAM PULUH DELAPAN
ENAM PULUH SEMBILAN
TUJUH PULUH
TUJUH PULUH SATU
TUJUH PULUH DUA
TUJUH PULUH TIGA
TUJUH PULUH EMPAT
TUJUH PULUH LIMA
TUJUH PULUH ENAM
TUJUH PULUH TUJUH
TUJUH PULUH DELAPAN
TUJUH PULUH SEMBILAN
DELAPAN PULUH
DELAPAN PULUH SATU
DELAPAN PULUH DUA
DELAPAN PULUH TIGA
DELAPAN PULUH EMPAT
DELAPAN PULUH LIMA
DELAPAN PULUH ENAM
DELAPAN PULUH TUJUH
NEW STORY
DELAPAN PULUH DELAPAN
DELAPAN PULUH SEMBILAN
SEMBILAN PULUH
SEMBILAN PULUH SATU
SEMBILAN PULUH DUA
SEMBILAN PULUH TIGA
SEMBILAN PULUH EMPAT
EPILOG
SIDE EFFECT

EMPAT PULUH TUJUH

1.2K 119 3
By Shee_aquila

Don't forget for vote and comment..

Enjoy the story :)

_________________________________

"Ini enak sekali, nek." Aleta berdecak puas dengan rasa yang baru saja di cecapnya.

Maharani tertawa pelan sambil kembali memberikan kue dengan jenis berbeda pada Aleta dan Renata. "Coba yang ini juga." katanya bersemangat. Aleta dan Renata memakan kue tersebut dalam sekali suap.

"Ini juga sangat enak." kata Aleta lagi, menatap Renata yang mengangguk setuju.

"Nenek memang sangat hebat membuat kue. Berbagai macam kue nenek bisa membuatnya." Renata tersenyum bangga untuk kehebatan neneknya. Maharani hanya tersenyum malu mendengar pujian cucunya.

Aleta kemudian beralih menatap meja hidangan yang penuh berisi berbagai macam kue. Matanya berhenti pada piring berisi muffin coklat yang terlihat sangat menggiurkan. "Apa itu juga buatan nenek?" tunjuknya.

Maharani menatap arah tangan Aleta dan mengangguk, "Ragata sangat suka muffin coklat, jadi nenek membuatnya meskipun anak itu pasti akan banyak berkomentar."

"Ragata memang selalu mengomentari banyak hal." Aleta tertawa pelan bersama Maharani.

"Tapi untuk muffin coklat itu dia akan mengomentarinya lebih banyak lagi." keluh wanita tua itu sambil berdecak. "Dan dia baru akan berhenti jika rasa muffin coklat buatanku sama seperti buatan ibunya."

Maharani menghela nafas panjang. Jelas ada kernyitan tak nyaman di wajahnya saat memandang Ragata. Aleta ikut memandang ke arah yang sama, memperhatikan Ragata yang tengah serius berbicara dengan seorang pria. Sesekali mereka melirik ke arahnya dan kembali berbisik. Aleta mengernyit samar saat menangkap raut penuh amarah di wajah Ragata meskipun pria itu menutupinya dengan sangat baik di balik senyum tampannya. Pria di hadapan Ragata pun menyiratkan permusuhan yang tak kasat mata dari cara berbicara santainya.

"Nenek harus kesana dulu, Aleta." Aleta kembali menatap Maharani dan tersenyum saat Maharani melangkah pergi bersama Renata menuju podium kecil. Sepertinya acara akan segera dimulai, dan para tamu pun sudah mulai berdatangan.

Aleta memilih diam di tempatnya sambil menikmati segelas jus buah. Matanya menatap sekitar, memperhatikan orang-orang hilir mudik di hadapannya. Mereka jelas para orang kaya yang hadir bukan hanya sekedar memenuhi undangan tapi juga untuk saling menyombongkan diri. Beberapa obrolan yang masuk ke telinganya hanya berisi ungkapan merendah namun dengan tujuan untuk meroket. Saling mengejek dan menjatuhkan satu sama lain dengan cara sehalus mungkin.

"Kau juga datang?"

Aleta berbalik dan menatap Alvin dengan sedikit terkejut. Dia kemudian tersenyum kecil saat Alvin tersenyum lembut menatapnya. "Kau juga datang?" tanyanya balik.

Alvin mengedikkan bahunya, "Aku tidak punya pilihan lain." balasnya, membuat Aleta sedikit tertawa.

"Kalau begitu kita senasib." sahutnya, dan Alvin ikut tertawa.

Alvin meraih segelas wine dari seorang pelan, menenggaknya perlahan dengan mata tertuju pada Aleta. "Kau terlihat cantik malam ini, Aleta. Terakhir kali aku melihatmu seperti ini sekitar beberapa tahun lalu saat ulang tahun Violence."

"Aku bahkan sudah lupa kapan itu." Aleta menatap Alvin. "Tapi terima kasih atas pujiannya. Kau datang bersama keluargamu?"

Alvin mengangguk, lalu menunjuk keberadaan keluarganya dengan gelas di tangannya. Aleta memandang arah yang ditunjuk Alvin. Di sisi lain ruangan, Iris Stephenson -ibu Alvin- tengah mengobrol dengan wanita-wanita sosialita. Di samping wanita itu, Elva ikut mengobrol bersama teman ibunya. Aleta beralih menatap pria berwajah Korea yang tak jauh dari posisi Iris. Dari interaksinya dengan Iris, Aleta bisa menebak jika mereka saling berhubungan.

"Itu ayah tiriku." kata Alvin, menjawab pertanyaan Aleta. "Namanya Go Ha Joon." katanya lagi.

Aleta menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu tatapan matanya jatuh pada pria yang sempat dilihatnya tadi tengah berbicara dengan Ragata. "Kalau itu?"

Alvin menatap pria yang dimaksud Aleta, "Dia putra ayah tiriku, saudara tiriku. Namanya Go Ji Hoon." sekali lagi Aleta mengangguk dan menghentikan rasa penasaran.

Suara bising terdengar di pintu masuk, membuat perhatian semua orang tertuju pada arah tersebut. Aleta dan Alvin ikut menatap satu rombongan keluarga yang baru memasuki ruangan. Aleta menatap lekat pada sosok wanita cantik yang pernah ditunjukan Ragata padanya melalui foto. Wanita itu terlihat begitu anggun dan menawan dengan gaun hijau emerald, membuatnya seketika menjadi pusat perhatian di tempat tersebut.

"Dia Isabell Galluccio, putri satu-satunya Marsilio Galluccio, pemilik Galluccio Company." Alvin berkata pelan di samping Aleta. "Galluccio Company sudah lama bekerja sama dengan Dinata Corp, itulah sebabnya pertunangan antara Isabell dan Ragata dibuat." katanya lagi.

Aleta menganggukkan kepalanya, "Dia sangat cantik dan menawan." sebagai seorang wanita pun dia sangat mengakui kecantikan alami yang dimiliki Isabell. Kulit wanita itu terlihat begitu halus dengan warna seputih susu, membuat gaun hijau emerald tersebut semakin memancarkan dirinya. Tapi anehnya, kenapa Ragata tidak menyukai Isabell jika dalam segi tubuh, wanita itu begitu menggoda iman setiap pria?

Tidak mungkin kan Ragata berhenti menyukai wanita?

"Bagaimana menurutmu, Vin?" Aleta mengalihkan pandangannya pada Alvin yang memandangnya bingung. "Maksudku, dari sudut pandang pria, apa pendapatmu tentangnya?" jelasnya.

"Cantik dan seksi." balas Alvin jujur. "Apa kau bertanya-tanya apa yang pak Raga sukai dari wanita itu?" kini matanya menatap Aleta penuh tanda tanya.

Aleta menggeleng, "Aku hanya bertanya saja." balasnya.

"Isabell pastinya disukai oleh banyak pria dan menjadi primadona dimana pun wanita itu berada. Bahkan kakak tiriku pernah menaruh hati pada Isabell."

"Go Ji Hoon?"

Alvin mengangguk, "Sebelum Jihoon kembali ke Korea dua tahun lalu, dia pernah menyatakan perasaannya pada Isabell. Hanya saja Isabell menolaknya dan lebih memilih mengejar pak Raga." jelasnya.

Aleta mengangguk mengerti. Mungkin saja itulah alasan kenapa Ragata dan Jihoon terlihat begitu bermusuhan tadi. Jihoon mungkin tidak suka wanita yang dicintainya bertunangan dengan pria lain. Mengingat sifat Ragata yang percaya diri, pria itu pastinya sengaja membuat Jihoon merasa kalah darinya. Jihoon dan Ragata sama-sama tampan, dan memiliki aura juga pesonanya tersendiri. Jika Ragata terlihat mempesona dengan sikap ramah dan mudah bergaulnya, Jihoon mempesona dengan sikap dingin dan cueknya.

Jihoon memiliki wajah Korea sama seperti Ragata, dengan hidung mancung dan bibir tipis kemerahan. Meskipun terlihat dingin, namun mata Jihoon terlihat sedikit lebih hangat karena tidak setajam mata milik Ragata.

Terlalu sibuk memperhatikan Jihoon, membuat Aleta tanpa sengaja bertatapan dengan mata hangat itu. Jihoon menatapnya begitu intens, dan entah mengapa Aleta merasa terlarut dalam tatapan itu. Mata itu begitu hitam dan kelam, namun terasa hangat dan lembut. Aleta sebenarnya tidak mengerti maksud tatapan Jihoon kepadanya, yang dia tahu saat ini Jihoon tengah menilainya.

"Apa yang kau lihat?" Aleta menatap Ragata setengah terkejut saat tiba-tiba saja pria itu berdiri di hadapannya, dan memutus tatapannya pada Jihoon. Dengan cepat dia mengedarkan pandangannya, merasa tak nyaman saat suara bisik-bisik terdengar memenuhi ruangan karena Ragata menghampiri.

"Kenapa kau disini?" tanyanya setelah menatap Alvin sekilas. Alvin seolah mengatakan jika sejak tadi Ragata berdiri di dekatnya.

Ragata mendengus, "Kau asisten pribadiku, seharusnya kau selalu berada di sampingku." katanya.

Aleta mengernyit. Sejak kapan peraturan itu ada? Dari novel-novel yang pernah dibacanya, asisten pribadi dan seorang sekretaris tidak harus ada tepat di samping atasan mereka. Belum sempat Aleta membalas, seorang wanita yang beberapa saat lalu menjadi pusat perhatian melangkah mendekat. Isabell tersenyum lembut menatap Ragata, sikapnya begitu anggun dan lemah lembut.

"Raga," bahkan suara Isabell terdengar begitu lembut dan menenangkan. "Terjadi sesuatu?" tanyanya, lalu menatap Aleta.

"Tidak ada. Aku hanya menghampirinya saja." balas Ragata, tanpa menatap Isabell sedikitpun. Mau tak mau Aleta harus menahan kekesalannya dalam hati ketika mendapati tatapan tajam Ragata yang tanpa sebab. Dia tidak tahu apa kesalahannya sehingga membuat Ragata seperti itu.

Aleta mengulurkan tangannya terlebih dahulu saat Isabell menatapnya penuh tanda tanya. "Saya Aleta, asisten pribadi pak Ragata." katanya.

Isabell menjulurkan tangannya dan balas menyalami Aleta. Tangan halusnya menggenggam tangan Aleta lembut. "Isabell Galluccio." balasnya ramah. "Kita akan banyak bertemu di masa depan, Aleta." katanya penuh arti.

"Tentu saja, miss. Senang berkenalan dengan Anda."

Isabell kemudian menatap Ragata yang hanya diam di tempatnya. "Kita harus kembali kesana karena acaranya sebentar lagi dimulai."

Ragata hanya menatap Isabell dan mengangguk pelan. Pria itu menatap Aleta sekali lagi dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum melangkah pergi ke tempat seluruh keluarga Dinata berkumpul. Aleta kini memfokuskan dirinya pada acara yang baru saja dimulai, memilih mengabaikan sikap tak masuk akal Ragata. Dia sudah terlalu sering mendapati sikap aneh pria itu, jadi mendapati hal itu lagi tidak membuatnya terkejut.

Ragata dan keanehan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Namun Alvin menangkap maksud berbeda dari Ragata. Tatapan Ragata pada Aleta tadi tentu saja tatapan kekesalan seorang pria yang ketakutan. Mata Ragata seolah mengatakan jika pria itu takut hal buruk terjadi pada Aleta. Hanya saja, kenapa Ragata melakukan semua itu disaat Aleta lebih banyak memperhatikan Jihoon beberapa saat lalu? Dia tahu jika kedua pria itu memang memiliki hubungan tak baik, tapi dia tidak tahu kenapa Ragata harus melakukan hal itu. Bahkan dia yakin alasan utama Ragata tiba-tiba menghampiri Aleta karena Aleta tanpa sengaja melakukan kontak mata dengan kakak tirinya.

"Bagaimana menurutmu tentang mereka berdua?" tanyanya setelah cukup lama terdiam. Acara dimulai dengan cukup meriah, dan sekarang para tamu tengah mendengarkan pengumuman pertunangan Ragata dan Isabell.

Aleta melirik Alvin dengan senyum, "Mereka berdua sangat cocok. Hanya saja aku merasa kasihan karena Isabell harus mendapatkan pria seperti Ragata." keluhnya. Dia memang benar-benar prihatin pada Isabell karena harus memiliki pasangan sebrengsek Ragata, disaat ada pria setenang Jihoon di dunia ini.

Alvin tertawa pelan mendengar keluhan Aleta, "Aku tidak menyangka kau akan mengasihani Isabell, disaat banyak wanita disini yang iri padanya."

"Aku BARTIPARTA." balas Aleta.

"BARTIPARTA?" Alvin bertanya geli.

"Barisan Anti Rupa Rayu Ragata." balas Aleta lagi, membuat Alvin tertawa seketika. Pria itu menutup mulutnya saat beberapa tamu memandang ke arahnya.

"Kau ada-ada saja." kata Alvin setelah meredakan tawanya. "Tapi aku senang mendengarnya." katanya lagi. Setidaknya dia tahu jika Aleta tidak memiliki perasaan lebih terhadap Ragata.

Suara musik di ruangan tersebut kini berganti menjadi musik dansa lembut. Setiap pria dan wanita secara berpasangan melangkah ke tengah ruangan. Mereka saling tersenyum dan menari bersama mengikuti iringan musik. Alvin hendak mengajak Aleta jika saja kakaknya tidak tiba-tiba datang dan menariknya ke tengah ruangan. Mengajaknya berdansa.

Aleta diam di tempatnya dan tersenyum kecil menyaksikan puluhan pasangan yang tengah berdansa penuh romansa. Aleta suka menari, namun dansa tidak termasuk ke dalam kegemarannya. Dia cenderung menyukai tarian energik yang membuat gerakannya lebih bersemangat, dan mengeluarkan banyak tenaga. Tapi melihat tarian lembut di depannya cukup membuatnya tertarik, bukan untuk menari tapi untuk melihatnya saja.

Beberapa saat dia menatap Alvin yang berdansa dengan kakaknya, kemudian beralih pada Ragata yang juga tengah berdansa dengan Isabell. Dia tertawa kecil menyaksikan Maharani dan Handoko tengah berdansa di pinggir keramaian. Senyumnya berubah kaku saat matanya kembali bersitatap dengan mata milik Jihoon. Jantungnya entah mengapa berdetak kencang ketika Jihoon melangkah ke arahnya sambil tersenyum begitu tampan.

"Halo." sapa pria itu saat berdiri di hadapan Aleta.

Aleta tersenyum kaku, bingung harus menanggapi Jihoon seperti apa. "Eh, halo." balasnya gugup.

Jihoon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tak menghilangkan sedikit pun senyum di wajahnya saat menatap Aleta. "Kau menatapku sejak tadi. Apa ada sesuatu yang salah pada diriku?"

Aleta menggeleng cepat, sedikit malu karena pertanyaan Jihoon. Pria itu tentu saja menyadari tatapannya tadi mengingat mereka sempat melakukan kontak mata. "Maaf untuk itu. Alvin hanya memperkenalkan Anda sebagai kakaknya, jadi saya memperhatikan Anda." balasnya cepat.

"Tidak masalah." Jihoon tertawa kecil, kemudian mengulurkan tangannya pada Aleta. "Namaku Go Ji Hoon, kau bisa memanggilku Jihoon."

Aleta meraih tangan Jihoon, dan seketika rasa dingin memenuhi telapak tangannya. "Aleta Revania Gemilang." saking gugupnya dia tidak sadar menyebutkan nama lengkapnya. Benar-benar bodoh. "Panggil saja Aleta."

Jihoon tak melepaskan tangannya, menahan tangan Aleta untuk terus berada pada genggamannya. "Nama yang bagus, Aleta." katanya.

"Terima kasih. Nama Anda juga bagus, mirip nama personil Wanna One." Aleta menarik tangannya dengan paksa saat Jihoon tertawa.

"Namaku memang terlalu pasaran sepertinya." balas Jihoon, menatap Aleta dengan tatapan sulit di artikan oleh Aleta. "Kau mau menari bersamaku?" tanyanya sopan.

Aleta menatap terkejut, tak menyangka jika Jihoon mengajaknya berdansa. Setelah berpikir beberapa saat, dia menganggukkan kepalanya, menyambut tangan Jihoon dan melangkah ke tengah ruangan. Jantungnya kembali berdebar saat tangan dingin Jihoon menyentuh pinggangnya lembut, membuatnya semakin gugup saat menempatkan kedua tangannya di pundak pria itu. Pundak Jihoon terasa kokoh dan kuat, tentunya membuat wanita manapun ingin bersandar di sana.

Jihoon menuntun kaki Aleta untuk bergerak perlahan, tahu jika gadis itu tidak pernah berdansa sebelumnya. Matanya menatap Aleta yang tertunduk gugup, memperhatikan wajah memerah yang terlihat begitu menggemaskan di matanya. Aleta tiba-tiba saja mendongak, membuat tatapan matanya terkunci pada mata Jihoon.

"Kau gugup." kata Jihoon tenang, berbanding terbalik dengan Aleta yang semakin berdebar karena takut kakinya menginjak kaki Jihoon. Bisa gawat jika tanpa sengaja dia menginjak Jihoon.

"Ini pertama kalinya saya berdansa, saya takut menginjak kaki Anda." balasnya, membuat tawa Jihoon terdengar di telinganya.

Jihoon memegang pinggang Aleta erat dan lembut, menunjukan jika langkah mereka sudah sangat pas. "Aku tidak keberatan jika kau menginjak kakiku sekali dua kali. Jika lebih, sepertinya aku harus ke rumah sakit setelah ini." guraunya, menenangkan Aleta.

Aleta tertawa pelan, "Kalau begitu saya akan menggunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya." balasnya. Seiring berjalannya musik, Aleta kini mulai terbiasa dengan gerakan kakinya. Untungnya dansa kali ini lebih banyak menggunakan kaki, sehingga dia tidak terlalu kesulitan menyesuaikannya.

Aleta sesekali tertawa mendengar lontaran-lontaran kalimat Jihoon, membuat keduanya akrab dalam waktu singkat. Tak menyadari tatapan meradang dari mata tajam di belakang mereka. 

Continue Reading

You'll Also Like

81K 4.2K 58
~ Vektor cover by Akbar ~ Regan itu badboy tapi goodboy. Bagaimana jadinya jika seorang pemuda dingin dan cuek, bertemu dengan seorang gadis yang mem...
177K 4.3K 55
Seri ke III dari trilogi Best Part (Liam McLachlan) Marcus Torenzo (27th) Banyak orang yang mengira bahwa dia adalah seorang pria berwibawa dengan ke...
150 12 6
[FOLLOW DULU SEBELUM BACA] Menceritakan kisah tentang seorang Raditya Nathan Wijaya anak dari Aarav wijaya dan Latasha Mauren. cowok tampan dingin+cu...
11.3K 4.2K 21
⚠KALO MAU PRO JANGAN JADI PLAGIAT!⚠ [ Usahakan untuk memfollow terlebih dahulu lalu, vote juga komennya ] 🔥Revisi berjalan 🔥 Siap membaca cerita y...
Wattpad App - Unlock exclusive features