AtinyRyesa24 presents My Aurora
"Hortensia"
.
.
.
Kita kembali lagi dengan si gadis kepang penyuka warna kuning dengan gadis penyuka unicorn.
"Kenapa dipotong? Bunga itu kan mahal sekali. Kalau Pak Eden tahu, kamu bisa di keluarkan dari sekolah." Cicit Neyla. Neyla sangat terkejut saat tahu kesibukan yang dilakukan Stefanny. Apa lagi saat melihat kenyataan jika gadis itu tengah memotong asal bunga berwarna biru yang harga jualnya sangat mahal.
"Oh.. tidak! Bagaimana ini? Aku tidak sengaja memotongnya sambil melamun!" Stefanny pura-pura terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan. Sedangkan Neyla masih mengamati bunga yang Stefanny potong.
Bukankah itu bunga kesayangan Ocha? Ocha merawatnya mulai masih berbentuk bibit. Jika tahu bunganya menjadi serpihan tidak berharga, Ocha pasti akan sedih sekali.
Neyla masih ingat sekali. Harga bunga yang sudah tumbuh cantik itu berkisar antara delapan puluh sampai seratus ribu. Harga yang tidak main-main. Bibitnya pun juga mahal. Harganya dapat membuat Pak Eden menimbang-nimbang untuk membeli bibit bunga berwarna biru itu.
"Bagaimana ini?" Stefanny memasang wajah memelasnya.
"Hayo, bagaimana hayo?" Neyla malah menakut-nakuti Stefanny.
Ocha tidak pernah merasa seterkejut ini. Dia menatap lembaran hasil pemeriksaan kesehatan sambil berkedip beberapa kali. Dia tidak ingin bersikap berlebihan menanggapi ini. Tapi, dunia ini memang mengejutkan. Hanya karena kebab kesukaannya, dia jadi sakit perut.
"Hahaha, lucu sekali." Ocha tertawa sumbang. Lalu kemudian dia melipat lembaran itu kembali dan memasukkannya pada amplopnya. Menyimpannya di loker meja belajar miliknya.
Wajar saja, tadi Ocha merasa perutnya sakit bahkan hampir muntah. Jadi dia langsung saja pergi ke UKS dan meminta obat pada Pak Jin. Tapi bukan obat yang didapatnya. Ocha malah mendapati dirinya dibawa ke rumah sakit oleh Pak Jin.
Tapi mendapati dirinya didiagnosis, Ocha tetap santai seperti biasa. Karena dia sudah terbiasa seperti ini, tapi bukankah ini aneh. Bagaimana bisa kebab yang dia makan mengandung kacang?
Ocha menepis pikirannya, dia lalu keluar dari asrama dan pergi menuju bangunan sekolah. Ini masih belum terlalu sore untuk memulai ekstrakulikuler. Jadi Ocha berencana untuk pergi ke ruang klub lukis. Di sana Neyla pasti sedang kesepian tanpanya.
Ocha menyunggingkan senyumnya. Langkahnya mulai melambung begitu saja. kini dia sudah berada di lorong ruang klub. Melintas di depan ruang klub musik yang tampaknya tidak berisik. Ocha mencoba menengok. Ternyata para anggota klub musik sedang duduk-duduk di tengah ruangan.
Seperti saat Erian menari tempo hari.
Hanya saja yang membedakan, Erian saat ini duduk di kotak yang ditabuh Toshiro tempo hari. Dia tampak memakan sesuatu. Ocha menajamkan inderanya. Ternyata itu es krim. Bau manisnya membuat Ocha ingin memakan es krim juga.
Ocha langsung saja bergegas ke ruang klub lukis. Pikirannya sudah diambil alih oleh makanan yang bernama es krim. Dia berniat mengajak Neyla untuk membeli es krim saat sudah sampai di ruang klub. Dan Ocha pun sampai, dia membuka pintu dengan semangat. Tapi..
Neyla tidak ada di dalam pemirsa. Di manakah dia?
Ocha langsung menutup kembali pintu ruang klub dan pergi mencari Neyla ke rumah kaca. Dia masih ingat persis perkataan Neyla. Dia tadi berkata bahwa dia akan menyiram bunga-bunga miliknya lagi. katanya agar bunga-bunga itu tetap cantik.
Jika Neyla masih menyiram bunga miliknya, Ocha berencana menyirami bunga miliknya juga. Akhir-akhir ini dia jarang sekali menyiram bunga miliknya. Dia takut jika bunganya kering dan mati karena kekurangan air.
Ocha sudah sampai. Dia menengok ke dalam. Dinding rumah kaca yang amat sangat transparan cukup jelas untuk mengintip apa yang ada di dalamnya. Di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Ocha tetap masuk ke dalam rumah kaca. Mungkin saja Neyla sedang berjongkok memungut ulat bulu yang ada di bunganya.
Aroma harum dan manis bunga memenuhi indera penciuman gadis berjepit biru itu.
Hmm? Aneh sekali. Tidak ada keberadaan siapapun. Ocha semakin masuk ke dalam rumah kaca. Dia berjalan pelan menuju ke tempat di mana bunga birunya berada. Hingga dia membatu mendapati kondisi bunganya.
Matanya menjadi berkilauan. Bibirnya melengkung ke bawah. Pastinya. Ocha mengira satu hari yang dilaluinya ini hanyalah mimpi. Ocha menatap sedih bunga bokornya yang rusak. Di sebelah bunganya itu ada gunting besar yang biasa digunakan untuk memotong rerumputan. Ocha langsung saja berjongkok dan mengais serpihan bunga Hortensia biru miliknya.
"Bunga bokorku.." Cicit Ocha dengan parau. Ocha masih saja mengais serpihan bunga miliknya. Hingga dia menemukan satu tangkai bunganya yang masih utuh. Ocha langsung saja mengambil bunga yang masih utuh itu dan mengamankannya dari TKP.
Ocha mengucek matanya. Membersihkan air mata yang sempat menggenang. Mencoba menguatkan dirinya atas wafatnya bunga bokor miliknya. Setelah dirasa mampu melihat dan menyentuh bunga bokornya yang hancur, Ocha langsung saja membersihkan bunga yang sudah dirawat dan dididiknya selama beberapa bulan ini.
Lalu, ke mana perginya Neyla dan Stefanny?..
Di lain tempat..
Ya, di sinilah Stefanny. Dia terengah-engah. Bulir keringat meluncur dari dahi melewati keningnya. Rambutnya terasa lengket terkena keringat. Dia berdecak kesal. Bagaimana bisa dia tidak dapat memperkirakan kedatangan Neyla. Bodoh memang. Harusnya dia tidak melakukan itu sekarang. Harusnya, sedikit sore. Saat Neyla sudah pergi dari rumah kaca dan berada di ruang klubnya.
Stefanny benci sekali berkeringat. Berkeringat memperburuk penampilannya. Ditambah lagi, bau keringat juga memperparah performanya. Maka dari itu ketimbang mengikuti klub banyak gerak seperti cheerleader dan tenis, Stefanny lebih memilih klub biasa seperti klub drama. Meski biasa namun dapat membuat namanya tenar karena terkenal dengan anggotanya yang kebanyakan setampan pangeran dan secantik puteri.
Intinya, Stefanny benci berkeringat.
Dia lebih benci lagi kondisinya saat ini. Terperangkap di dalam ruangan besar berisi anak klub basket yang sedang latihan dan anak klub cheerleader yang pastinya juga sedang latihan. Stefanny bersembunyi di belakang kerumunan anak cheer.
Jauh di sana, ada Neyla yang tengah mengedarkan pandangannya. Mengintai penghuni gedung olahraga satu-persatu. Mencari keberadaan Stefanny. Satu putaran bola mata. Tapi, sosok Stefanny tidak tampak. Kenapa dia menjadi transparan? Apa dia mempelajari ilmu transparan? Kalau iya Neyla juga ingin mempelajarinya. Untuk bekal pelariannya dari kejahilan yang biasa dia lakukan.
Coba Neyla ingat sesuatu. Penampilan keseluruhan Stefanny. Stefanny selalu memakai kaus kaki sepanjang lutut. Roknya sepanjang atas lutut. Dia memakai kalung dengan liontin unicorn kesukaannya. Lalu, seingat Neyla, Stefanny selalu memakai bando pita berwarna merah muda untuk mempermanis penampilannya.
Neyla langsung saja meneliti kepala-kepala gadis cheerleader yang bergerombol di sebelah lapangan. Bando pita, bando pita, bando pita. Ah! Bando pita! Tapi warnanya bukan merah muda. itu merah! Kurang muda. Bando pita, mana bando pita.
"AH!" Neyla berseru sambil mengacungkan telunjuknya ke arah gadis berbando pita warna merah muda. Si gadis rupanya tidak mendengar seruan Neyla. Mungkin karena kanan dan kiri si gadis diramaikan sorak-sorak anak klub cheer. Neyla langsung saja pergi mendekat ke arah Stefanny secepat kilat. Apapun yang terjadi, dia harus membuat Stefanny meminta maaf pada Ocha.
Meski dia harus menerobos anak klub basket yang sedang latihan pertandingan.
"Hei! Apa yang kau lakukan?"
"Gadis yang di sana, berhenti!"
"Itu siapa sih?!"
'Prrrrriiiiiittttttt!!' Bunyi peluit ditiup wasit.
Pertandingan basket jadi kacau.
Stefanny langsung saja menyadari keberadaan Neyla berkat kegaduhan yang diciptakan Neyla sendiri. Neyla memasang tampang garangnya sambil mencoba menerobos dua pemain basket yang kini menghalanginya. Neyla loncat-loncat. Bergerak ke kanan dan kiri. Lalu, Stefanny memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari Neyla.
"Hei! Kau ini, kami sedang serius bertanding tapi kau malah mengacau!" Kata pemuda bermata tajam yang menghalangi Neyla.
"Agh! Dia jadi kabur kan!" Neyla memarahi balik pemuda bermata tajam itu. Lalu Neyla pergi menghindar dari dua pemuda yang menghalanginya untuk keluar dari gedung olahraga menuju ke lorong ruang klub.
Stefanny lari begitu saja. Kemudian dia berhenti di depan pintu ruang klub lukis. Bersandar di wastafel kran yang ada di sana. Mengatur napasnya yang memburu. Hingga suara geseran pintu membuatnya mendongak. Aren muncul dari balik pintu ruang klub musik.
"Aren!" Stefanny mendekat ke arah Aren. Dia menghalangi Aren yang akan pergi dari ruang klubnya. Aren langsung saja memasang wajah datar dan dinginnya.
"Aku masih menunggu permintaan maafmu." Stefanny menyunggingkan senyum lugunya.
"Minggir, kau menghalangi jalan."
"Kamu pasti menyesal bukan? Aku tahu, tadi pagi kamu-"
"FAANNYY!" Neyla datang dengan suara berisiknya.
"Aduh.. pokoknya aku menunggu permintaan maafmu." Stefanny langsung saja lari menjauh dari hadapan Aren.
"Drum! Jangan biarkan Fanny lari!" Neyla berteriak marah pada Aren.
"Dasar drum payah!" Neyla mengatai Aren lalu berlalu begitu saja dari depan Aren. Aren hanya menatap Neyla yang berlalu mengejar Stefanny dengan tatapan heran.
Keesokannya..
Stefanny kemarin malam sudah meminta maaf pada Ocha. Neyla yang mengejar-ngejar Stefanny itu merasa perjuangannya tidak sia-sia. Dia puas teman-teman. Tapi.. Neyla masih tidak percaya pada Stefanny.
Alasan yang dipakainya. Dia berkata bahwa tidak sengaja memotong bunga Hortensia milik Ocha karena melamun. Katanya, di dekat bunga milik Ocha itu ada rumput liar yang tumbuh. Jadi, Stefanny berniat memotong rumput. Tapi dia malah melamun.
Aneh sekali bukan?
Maka dari itu hari ini Neyla mengawasi setiap gerak-gerik Stefanny. Neyla mengawasi dari bawah. Di dalam kolam renang. Pagi ini ada mata pelajaran olahraga. Pak guru sudah memberi tugas agar muridnya mempelajari gaya berenang. Neyla yang bersemangat itu sudah menceburkan diri ke dalam kolam.
Tapi karena saat ini dia mencebur ke kolam yang dalam jadi Neyla berpegangan pada besi yang terpasang di pinggiran kolam.
"Neyla, apa di situ menyenangkan?" Ocha duduk membungkuk bertumpu pada lututnya. Mencoba menengok dasar kolam yang jernih dan dalam. Ocha menelan ludahnya. Wajahnya sedikit memucat.
"Tentu saja! Di sini dingin, enak."
Benar kata Neyla. Musim panas seperti ini memang paling nikmat berendam dalam air dingin. Apalagi jika kolam renangnya berada di dalam ruangan seperti kolam renang yang ada di sekolah KQ ini.
"Aku di sini saja." Ocha masih tetap mencondongkan badannya.
"Oke. Aku akan berenang ke sana. Hati-hati ya Ocha." Neyla berpesan pada Ocha. Kemudian dia berenang meluncur menjauh dari Ocha.
Ocha menatap kepergian Neyla dengan tatapan kagum. Suhu udara yang menghangat dan mulai sedikit panas membuat Ocha tergoda untuk menyentuh air kolam yang bersih. Bau khas air kolam merasuk dalam indera penciuman Ocha. Ocha memejamkan matanya menikmati bau segar air. Hingga..
"Aaa!" Jeritan khas Ocha terdengar. Beberapa anak langsung memusatkan perhatiannya pada Ocha. Termasuk si mata elang, Aren. Kebetulan sekali dia menyaksikan kejadian Ocha yang terjatuh dari awal. Karena dari tadi dia memang memperhatikan gadis penyuka makanan itu.
'Byuurr!'
Ada yang membentur punggungnya dan membuat Ocha jatuh ke dalam kolam begitu saja. Ocha panik. Kilasan-kilasan di masa lampau terputar begitu saja di benaknya. Tubuh Ocha kaku. Dia tidak dapat mengontrol tubuhnya dengan benar. Alhasil, tubuhnya tenggelam begitu saja. Ocha hanya bisa menahan napas selama dan sebisa mungkin.
"Ocha! Aku akan menyelamatkanmu!" Neyla segera berenang meluncur ke arah Ocha yang mulai tenggelam.
Namun, Neyla merasa kakinya menjadi kaku dan sulit digerakkan.
"Aaaggbrrrrrpppppp.."
Pada akhirnya Neyla ikutan tenggelam karena kesalahan teknis. Tepatnya dia kurang serius saat melakukan pemanasan tadi. Jadi, kakinya menjadi kram. Dengan kedalaman dua ratus, Neyla hanyalah bebek anakan yang tenggelam. Eh.. memangnya bebek bisa tenggelam?
Toshiro yang memiliki kepekaan tinggi itu langsung saja berlari dan terjun ke kolam untuk menyelamatkan Ocha. Lalu, bagaimana dengan nasib si gadis bebek? Tentu saja dia selamat kok. Kebetulan ada Erian yang posisinya paling dekat dengan Neyla. Dia juga langsung terjun untuk menyelamatkan Neyla.
"Hahaha! Lucu sekali! Ada yang nggak bisa renang."
"Dia anak SD ya?"
"Padahal mudah banget."
Kampret memang. Ada orang trauma tapi malah dikira tidak bisa berenang. Andai saja mereka tahu bagaimana rasa menderita dan menyesakkan karena trauma yang diderita. Mereka pasti menyesal mengatakan hal-hal mencemooh seperti itu.
"Uhuk! Uhuk!" Neyla terbatuk-batuk. Ada air yang sempat tertelan olehnya. Dia sudah ada di bibir kolam berkat pertolongan pangerannya. Neyla tidak bucin seperti biasanya. Dia malah berlari ke arah Ocha yang batuk-batuk. Syukurlah dia tidak pingsan.
"Ocha!" Neyla memekik panik. Dia sudah ada di sebelah Ocha yang kini memeluk tubuhnya. Raut wajahnya tampak ketakutan.
"Ada apa ini?" Guru olahraga yang tadinya keluar sebentar karena ada urusan itu tiba-tiba saja muncul.
Neyla langsung saja menatap Stefanny yang kini terkikik kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangannya. Dia percaya sekali tadi dirinya melihat Stefanny yang menendang punggung Ocha. Neyla yakin sekali.
Stefanny menghentikan tawa kecilnya. Dia merasakan ada yang tengah menatapnya dengan tajam. Stefanny kemudian mencari siapa yang menatapnya. Hingga kedua matanya bertemu dengan mata elang Aren. Aren menatapnya tajam.
Stefanny langsung saja menunduk. Dia berbalik untuk menyembunyikan wajahnya. Ternyata di sini ada saksi mata. Stefanny langsung saja merutuki apa yang telah dilakukannya.
"Dia kenapa? Apa dia kedinginan? Antarkan dia ke UKS." Guru olahraga yang mendapati Ocha tampak menggigil sambil memeluk tubuhnya sendiri itu memberi instruksi. Neyla yang ada di sebelah Ocha itu langsung saja memapah Ocha untuk berjalan pergi ke UKS.
"Ocha, tidak apa-apa. Kamu aman bersamaku." Neyla mengelus punggung Ocha untuk menenangkannya.
Ocha masih saja menggigil. Kenangan buruknya muncul begitu saja. Semua terjadi saat dia masih berusia lima tahun. Saat itu keluarganya, Neyla, dan Toshiro pergi ke pantai bersama. Sayang sekali saat itu merupakan kesialan bagi Ocha. Dia tertelan ombak dan tenggelam. Tapi merupakan keberuntungan Ocha dapat ditemukan dan segera di selamatkan.
Tapi tetap saja.. itu menimbulkan trauma mendalam pada diri Ocha.
Sabtu, 17/12/2022